Actions

Work Header

Different path

Summary:

Bagaimana jika Naruto dilahirkan kembali menjadi bayi perempuan yang terdampar di reruntuhan Uzushio. Tampaknya ibu Naruto sudah meninggal akibat luka pendarahan yang disebabkan shinobi hingga Naruto ditinggalkan sendiri. Tetapi makhluk misterius tiba tiba datang dan berkata, “Pada dasarnya kamu adalah anak dari reinkarnasi ibuku yang juga mengalami nasib sama sepertiku. Seorang ibu yang mengorbankan nyawa untuk melindungi anaknya. Ironis sekali bukan?”

Naruto tidak tahu bagaimana ceritanya seseorang dari dimensi lain yang merangkap jadi dewa kematian, memilih membesarkannya.

Notes:

Harry Potter dan Naruto bukanlah milikku. Aku hanya memiliki OC ku yang akan ditampilkan dan cerita ini adalah milikku.

Chapter Text

Naruto membuka matanya, dia merasa ada angin menghembus tubuhnya. Naruto terkejut mendapati dia berada di dalam tubuh bayi perempuan berusia 8 bulan dengan seorang perempuan berambut merah yang tergeletak di samping. Tangan perempuan itu melingkari tubuh mungilnya kemudian dia bisa melihat segel dengan darah yang dia yakini merupakan segel pemanggilan dewa kematian. 

Tampaknya perempuan tersebut mengorbankan nyawa demi melindungi anaknya. Sayangnya, nyawa anak tersebut telah hilang dan digantikan oleh Naruto. Naruto tidak tahu bagaimana caranya bisa kembali ke masa lalu yang tampak berbeda. Naruto bertanya-tanya apakah dia meninggal akibat kelelahan dalam melakukan eksperimen segel yang berlebihan sehingga kami-sama mengirimkan jiwanya untuk bereinkarnasi ke masa lalu. Naruto tidak tahu apa tujuannya dia kembali ke masa lalu menjadi bayi di dalam tubuh orang lain, tetapi kesempatan ini tidak bisa dilewati karena bisa memperbaiki masa lalu menjadi (agak) lebih baik.

Naruto melirik tempat dia berada, di sebuah tanah lapang yang menghadap desa Uzushio. Dia bisa melihat rumah-rumah yang tidak terlalu tua, hanya bangunan hancur di beberapa tempat dan belum ditumbuhi oleh lumut atau tanaman. Dulu Naruto pernah ke Uzushio setelah perang dunia keempat selesai, dimana bangunan-bangunan telah dimakan usia, dipenuhi oleh lumut dan rumput liar yang tinggi dan banyak sekali puing-puing bangunan yang rapuh. Tampaknya melihat kondisi yang masih bagus, dia berada di pertengahan perang shinobi kedua dan ketiga. Naruto ingin berjalan-jalan melihat lebih jauh Uzushio tetapi dengan tubuh mungilnya yang hanya bisa merangkak, dia tidak bisa memenuhi keinginannya.

Tidak mungkin dia mengelilingi Uzushio dengan merangkak?!

Naruto menggerutu kesal dan berteriak frustasi, dengan tubuh yang hanya bisa duduk dan merangkak, dia tidak bisa bertahan hidup. Tidak ada manusia disini, hanya ada hewan liar dan tanaman. Naruto ingin sekali mengumpat seperti pelaut pada Kami-sama mengenai kondisinya saat dia terlahir kembali. Lebih mudah menggunakan tubuh yang bisa berjalan daripada tubuh bayi yang hanya bisa merangkak dan duduk. 

Saat dia ingin menangis keras, sebuah suara menenangkan terdengar di depannya.

“Astaga, Morsh. Sepertinya aku terlambat.” Naruto memiringkan kepalanya melihat sosok perempuan bersurai merah dengan mata hijau yang indah dan sosok berjubah dengan wajah menyeramkan berdiri di depannya. Naruto tidak bisa mengerti apa yang diucapkan oleh mereka jadi dia hanya duduk terdiam sembari menunggu mereka melakukan hal yang tidak pantas.

Naruto waspada melihat wajah perempuan tersebut tersenyum kepadanya kemudian melirik tubuh ibunya dengan sedih. Sosok berjubah tersebut menempelkan tangannya di bahu, seolah-olah memberi isyarat untuk tenang.

Perempuan tersebut tampak mengucapkan sesuatu. Setelah perempuan itu mengucapkan sesuatu, Naruto bisa mengerti apa yang diucapkan oleh mereka. Hal ini membuatnya merasa aneh dan sedikit takut, apakah mereka berasal dari luar planet atau luar dimensi? Naruto sudah muak dengan Kaguya yang menghancurkan dunia shinobi.

Dia tidak ingin melawan alien lebih awal, tidak terima kasih. 

“Namaku Harriet Potter dan orang di sampingku yang mempunyai wajah menakutkan adalah Mors.” Perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan senyum lembut, tangannya menepuk bahu sosok berjubah tersebut.

“Aku adalah entitas yang biasa kamu sebut dewa kematian.” 

Naruto melebarkan matanya mendengar ucapan Harriet, dia mengedipkan matanya, masih memproses ucapan tersebut. Harriet tidak mempermasalahkan bayi di depannya yang memandangi seolah-olah dia adalah orang gila. 

“Aku tahu kamu bukan jiwa yang ada di dalam tubuh bayi ini. Jiwanya sudah meninggalkan tubuh sebelum ibunya bisa memanggil dewa kematian.” Harriet berkata sembari melirik tubuh perempuan di samping bayi tersebut. 

“Aku disini karena tertarik dengan orang yang memanggil dewa kematian. Orang yang aku cintai bereinkarnasi ke dunia ini sehingga membuatku senang. Tampaknya aku terlambat datang dan tidak bisa menghentikannya untuk mengorbankan nyawa.” Harriet menutup matanya, tidak ingin memperlihatkan emosi kepada bayi di depannya. Hatinya merana melihat dia tidak bisa bertemu dengan ibunya untuk sekali saja.

“Pada dasarnya kamu adalah anak dari reinkarnasi ibuku yang juga mengalami nasib sama sepertiku. Seorang ibu yang mengorbankan nyawa untuk melindungi anaknya. Ironis sekali bukan?” Harriet tertawa getir membuat Naruto merasa kasihan. Di kehidupan pertama Naruto, orang tuanya juga mengorbankan nyawa untuk melindungi penduduk desa dan melindunginya dari serangan Kyuubi dan Obito. Dia bisa merasakan perasaan yang dialami oleh Harriet, pasti sangat sedih tidak bisa melihat ibumu untuk sekali saja. 

“Tampaknya kamu mempunyai sihir di dalam tubuhmu dan energi yang aku tidak ketahui. Mungkin aku bisa mengajarkanmu tentang sihir. Ngomong-ngomong apakah kamu mau menjadi anak adopsiku?”  

Wajah Naruto melongo tidak percaya mendengar ucapan Harriet. Harriet mendengus kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ibumu membuat permintaan untuk menjagamu, dia mengatakan bahwa kamu adalah orang penting di dalam desa Konoha dan merupakan keturunan kerajaan Uzumaki. Aku tidak tahu dimana Konoha, tetapi sepertinya kita bisa membangun kembali kota ini menjadi lebih baik, bukan?” 

Mata Naruto berbinar senang mendengar ucapan Harriet. Dengan begini dia bisa bebas untuk merekrut Uzumaki dan ketiga anak yatim piatu Amegakure. Tidak ada kecurigaan Danzo si tua bangka, lalu dia bisa menyelamatkan Obito dan Kakashi. Mungkin dia bisa membuat kekacauan dengan menyebarkan kebusukan Danzo kepada kepala keluarga klan dan Hokage ketiga. Tentunya dia mempunyai segel yang bisa menyembunyikan keberadaannya.

“Aku melihat wajahmu senang. Tampaknya kamu sudah memiliki ide licik untuk berbuat kenakalan bukan?” Harriet menggerutu melihat Naruto berceloteh, seolah-olah menyetujui perkataan Harriet. Mors mencibir melihat Harriet yang mendesah pasrah. 

Seolah-olah dia melupakan kenakalan di masa remajanya.

“Ah iya, sepertinya ibumu memberitahukan namamu. Mungkin kamu tidak tahu nama bayi ini, tetapi namanya adalah Naruko.” Harriet melirik wajah bayi yang tertegun. 

“Apakah namanya familiar dengan nama sebelumnya?” Dia bisa melihat bayi tersebut mengangguk kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya.

 Harriet mengelus dagunya, tampaknya dia bisa beristirahat sejenak dari tugas di atas. Mors juga telah setuju bahwa Harriet perlu beristirahat dan bersantai di dunia ini sehingga dia bisa membesarkan bayi di depannya. 

‘Beruntungnya bayi Naruko bukanlah anak di ramalkan,’ pikir Harriet senang. Jika Mors membaca pikiran nyonya kematian, dia akan tertawa terbahak-bahak karena anak di depannya merupakan anak ramalan di kehidupan pertamanya.

Sungguh ironis.