Chapter Text
Ada sebuah bayangan yang berlari dalam memori.
Sebuah bayangan yang memberi suara samar seperti jeritan dan tangisan.
Sebuah bayangan yang tak memberi sebuah jawaban.
Ia terus menerawang, tapi bayangan itu tak mau mendekat. Hitam itu semakin pekat, menolak untuk dibuka.
Sampai akhirnya kedua mata berbeda warna itu terbuka.
Pria itu mengusap dahi dengan frustasi. Helaan nafas melesat keluar dari bibir.
Lagi-lagi mimpi buruk itu.
Jika kamu bisa menyebutnya sebagai sebuah mimpi.
Hugo sudah pernah datangi beberapa dokter, terutama spesialis saraf dan spesialis kesehatan tidur. Namun mereka semua mengatakan satu hal yang sama.
Amnesia disosiatif.
Jika memang benar, maka Hugo sedang mengalami gejala PTSD.
Tapi yang mana?
Ia masih mengingat wajah amarah sang ibunda.
Ia masih mengingat wajah Serena yang penuh dengan kematian.
Ia masih mengingat semua pandangan penuh ejekan serta pukulan yang mengikuti.
Ia masih mengingat pengkhianatan sahabat terdekatnya.
Lantas, kejadian trauma mana yang menghancurkannya?
Ketukan pintu kamar membangunkannya dari lamunan.
“Hugo? Kamu sudah bangun?”
Hugo segera mengumpulkan ketenangannya kembali. Seutas senyum terlintas pada permukaan wajahnya lagi.
“Aku harap kamu sudah siap karena pertemuan kita dengan informan sudah mau tiba.”
“Beri aku waktu beberapa belas menit, Vivian.” Hugo menjawab dengan lantang, “Aku akan menemuimu di ruang tamu.”
Sepuluh tahun diganggu oleh sebuah bayangan memang menyebalkan, tapi hidup Hugo masih berjalan dengan lancar.
Lebih baik dia meninggalkan bayangan itu saja.
“Terus terang, jika aku tahu kalau pertemuannya akan sesingkat ini, lebih baik aku pergi ke tempat tuan Phaeton saja.”
Hugo hanya tertawa kecil. Jari jemari kanannya memainkan sebuah koin, memindahkannya dari sela jari ke jari yang lain.
“Ya, setidaknya aku bisa mendapat kopi gratis.” Vivian menyesap secangkir kopi. Angin sepoi laut menyapu helaian surai ungunya dengan lembut.
“Jangan terburu-buru.” Senyum Hugo mengembang, “Kudengar ada toko minuman yang sangat enak di sekitar sini. Pegawainya juga sangat ramah dan antusias dalam menjelaskan menu.”
“...terus kenapa?”
“Siapa tahu kamu bisa bertemu dengan Phaeton di sana.”
Kening Vivian berkerut. Tatapan merahnya menetap pada wajah Hugo dengan saksama, seperti tengah mempertanyakan maksud tak jelas itu. Namun, ketika ia akhirnya mengerti, ia terkesiap.
“Jangan-jangan-!”
“Tidak usah habiskan kopi itu. Nanti kamu akan tertinggal oleh mereka.”
Gadis itu seketika melompat dari kursinya. Wajahnya memerah. “Hugo, aku akan mentraktirmu makanan sebagai tanda terima kasih!” Dalam sekejap, gadis itu sudah berlari menuruni tangga, meninggalkan rekannya di area cafe dengan dua cangkir kopi.
Imut sekali. Gadis yang selalu memasang wajah datar itu akan berubah menjadi orang yang berbeda sepenuhnya jika sudah bersangkutan dengan sang idola. Kadang kala, ia selalu suka meledek Vivian dengan menggoda sang Phaeton hanya untuk melihat reaksi geramnya yang lucu, meski pada akhirnya ia akan mendapatkan balas dendam berupa menghilangnya cokelat dalam rak penyimpanan ruang makan keesokan hari.
Hugo menyesap kopinya sekali lagi. Ia nikmati nuansa santai yang hanya bisa datang sesekali, ditemani oleh pemandangan laut di seberang sana dengan suara camar di mana-mana.
Dimana lagi ia bisa melewati pagi sedamai ini?
Namun, ketenangan itu tak lama di rusak oleh sebuah riak.
Senyumnya masih menetap, bahkan ketika seorang asing menarik kursi tempat Vivian barusan duduki.
“Kursi ini kosong, kan?”
Pria itu tak membutuhkan sebuah jawaban, sebab ia telah menetapkan dominasi pada awal percakapan itu. Namun, Hugo tak mau bergertir. Ia kembali menyesap kopinya hingga habis.
“Dan anda?”
“Mikhail.” Pria asing itu tampak menawan. Jas yang dikenakannya tampak mewah. Rambut emasnya disemir rapi. Serta dua mata merah yang mencolok itu tampak tak berbeda jauh dari warna darah.
“Oh? Tuan Mikhail ada urusan apa dengan saya?”
Pria bernama Mikhail itu tersenyum tenang. “Hanya ingin mengobrol. Penampilan anda tampak… mengesankan untuk saya.”
“Saya tidak merasa pakaian yang saya kenakan begitu mencolok.” Dibandingkan sehari-harinya, pagi itu Hugo hanya memakai sebuah kemeja biru polos biasa serta celana panjang hitam.
“Bukan.” Mikhail tertawa kecil, “Saya bukan membicarakan pakaian anda.”
Kemudian, pandangan merahnya menelaah, terus menatap pada dua buah netra yang berbeda warna itu. Seperti sedang menyelidiki isi otaknya yang sukar dipahami.
“Saya sedang membicarakan kedua mata anda.” Senyumnya mengembang, menambah kesan kelicikannya, bahkan bagi seseorang seperti Hugo.
“...oh?” Menarik. Dari banyak orang yang pernah berinteraksi dengannya, baru pertama kali ada seorang asing yang langsung mengenali keunikan khas pada wajahnya. Sejak bencana hollow kian membesar, efek samping dari corruption juga ikut beragam. Ada mata yang menjadi buta, ada mata pula yang berganti warna. Singkatnya, kondisi Hugo sekarang tak begitu menarik perhatian dibandingkan masa lampau.
“Memangnya ada apa dengan mata saya? Apakah terlihat aneh?” Hugo menunjuk pada bola matanya, “Banyak orang tidak menyukai mereka jika anda ingin tahu lebih banyak.”
“Benarkah? Tapi saya malah sangat menyukai mereka.” Dua mata merah itu kian memekat, “Menawan. Memukau. Penuh dengan ribuan pesona. Mengingatkan saya pada beberapa memori yang menggairahkan.”
Pundak Hugo sedikit menegang kala mendengar kalimat terakhir, tapi ia enggan untuk menunjukkannya. Bayangan hitam itu datang kembali dalam bentuk tak pasti, memutar kepalanya hingga menjadi pusing.
“...saya tersanjung mendengar pujian anda meski saya tidak menganggap mereka seindah itu.” Ia berusaha tersenyum sebaik mungkin.
Senyum pria asing itu tetap bergeming. Tangan kanannya meraih sebuah ponsel sebelum ia beranjak dari kursi. “Sepertinya saya harus pergi sekarang. Senang bisa mengobrol denganmu meskipun waktunya terlalu singkat.”
“Sebelum anda pergi, bolehkah saya tahu nama lengkap anda?” Hugo segera melempar pertanyaannya. Sebuah kecurigaan telah tertanam dalam benaknya, tapi ia masih membutuhkan sebuah kepastian.
Mikhail melempar sebuah senyum, yang mengingatkannya pada ribuan seringai keji dalam masa kecil. Kemudian dengan tenang ia menjawab,
“Namaku Mikhail Ivanov. Mikhail Ivanov Ravenlock. Aku harap kita bisa bertemu lagi, Hugo.”
Setelah kepergiannya telah pasti, Hugo sandarkan kepalanya ke belakang hingga matanya bertemu dengan langit. Helaan nafas berat lepas dari bibir.
Sungguh. Kutukan keluarga tak pernah mau lepas darinya.
Hugo tahu bahwa keluarga Ravenlock tidak akan hancur semudah itu. Kejatuhan Hartman tak akan langsung bisa menjatuhkan fondasi yang telah tertanam rapi selama beberapa dekade itu. Bahkan setelah pamor mereka perlahan menghilang, apalagi sejak ‘kematian’ heboh sang Hugo Vlad, beberapa anggota keluarganya mati-matian akan tetap bertahan.
Sepengetahuannya dari silsilah keluarga, Mikhail seharusnya berdiri pada sisi kerabat, lebih tepatnya adalah seorang sepupu. Ia tak ingat pria itu pernah tinggal bersamanya dalam kediaman lama. Ia pasti tengah bersembunyi ketika Hartman, ayahnya sedang mengacau karena Vivian pun tak mengenalinya (gadis itu berkata bahwa semua anggota Ravenlock tampak sama baginya).
Tetap saja…
Meski ia tidak merasakan hawa membunuh, tapi Hugo masih merasa terganggu.
Tidak banyak orang bahkan dari garis kerabat mengenalinya sebagai Hugo Ravenlock.
Anak itu sudah menghilang, terkubur bersama dengan saudara dan ayahnya dalam malam itu.
Apa ia sedang mengirimkan sebuah sinyal?
Rasa penasaran ini akhirnya mendorong Hugo untuk mencari informannya kembali, kali ini dengan pekerjaan lain.
“Mikhail Ivanov Ravenlock. Anak pertama dari Hartman sekaligus pemegang garis pewaris ke-sekian. Keberadaannya sempat menghilang di tengah kekacauan Ravenlock, tapi baru-baru ini muncul setelah ayahnya dipenjara. Saat ini ia sedang menggantikan posisi ayahnya sekaligus sedang bekerja untuk memulihkan reputasi keluarganya kembali.”
Hugo tak mampu menahan dengusan sarkasme-nya. “Mereka tidak pernah akan sadar, ya? Bahkan setelah semua kejahatan mereka telah terungkap.”
“Mau seribu rumput liar itu sudah dicabut, tapi selama akarnya masih ada, mereka akan tumbuh lagi.”
“Mati satu, tumbuh seribu. Kukira akarnya sudah ditumpas, tapi ternyata masih ada yang lebih dalam.” Hugo mendorong sebuah amplop pada genggaman sang informan. “Kerja bagus. Aku akan menghubungimu lagi jika ada sesuatu.”
“Hei, jangan terlalu dipikirkan ancamannya.” Sebelum pergi, informan itu menyarankan, “Saat ini kekuatan Ravenlock tak ada bedanya dengan seekor semut. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dalam pengawasan berat public security.”
Hugo membentuk sebuah sengirai, “Siapa bilang kalau aku sedang terusik? Aku hanya memastikan kalau hama lain tidak sedang tumbuh.”
Lalu ia melambaikan tangannya, memberi salam perpisahan tanpa berbalik ke belakang.
Larut malam tak mampu melenyapkan hiruk pikuk di jalanan Lumina. Malam minggu menambah semangat banyak pemuda-pemudi untuk menghabiskan tengah malam dengan berpesta. Hugo memandangi beberapa pejalan kaki penuh keceriaan melewatinya. Setelah melewati persimpangan, ia melangkahkan kakinya menuju apotek.
Hanya untuk berpapasan dengan seorang berbadan besar yang familiar.
“...”
“...”
Keduanya hanya bertatapan dalam diam, terlalu terkejut untuk bertukar sapa. Tidak, dengan hubungan mereka saat ini, menyapa saja membutuhkan usaha begitu besar.
“Hugo…” Tiren serigala berpakaian butler itu memanggil namanya dengan penuh penekanan.
“Sebuah kebetulan sekali untuk bisa bertemu denganmu di depan apotek sebanyak dua kali kecuali kalau kau memang sedang mengikutiku.” Hugo menjawab dengan nada penuh sarkastik. “Sayang sekali aku tidak sedang ingin membuat keributan saat ini. Tapi jika kau sangat ingin bertarung, kita bisa mencari tempat yang lebih sepi.”
“Tidak.” Lycaon menggeleng kepalanya, “Aku tidak sedang ingin bertarung denganmu.”
“Jadi, ada perkara apa lagi sampai kau menghadang pintu masuk?”
Menyadari posisinya yang canggung, Lycaon segera menggeser tubuhnya. Tapi satu matanya tak mau lepas dari gerak-gerik Hugo, sampai ia ikuti pria berambut pirang itu ke dalam toko obat.
“Efek samping dari racun kemarin masih tersisa?”
“Kenapa kau mau tahu?” Hugo tidak bisa mendatangi apoteker dengan keberadaan sang serigala yang terus melekat di sampingnya. “Lagipula, seharusnya aku yang bertanya mengenai kehadiranmu. Ada gerangan apa sampai pemimpin Victoria Housekeeping mendatangi apotek?”
“...Aku sedang mencari obat diare untuk Ellen setelah ia salah memakan masakan Rina.”
“Untuk kedua kalinya?” Hugo melepas sebuah gelak penuh ejekan. “Kalau begitu kenapa kau masih mengikutiku? Cepatlah cari obat untuk pegawai barumu itu.”
“Aku tak akan pergi sampai kau memberitahuku penyakitmu.”
Oh. Seperti ada tarikan yang melepas simpul talinya, Hugo menghadap Lycaon dengan amarah yang tak mampu tertahan lagi.
“Aku tidak tahu apa yang tengah berputar dalam pikiran bodohmu itu, tapi aku tegaskan sekali lagi. Kamu. Tidak. Punya. Hak. Untuk. Mengkhawatirkanku.” Jari telunjuknya menekan pada sisi dada Lycaon. Seandainya ujung jari itu memiliki sebuah belati, rompi itu pasti sudah tertusuk begitu dalam.
“Hugo, aku-”
“Jangan lupa bahwa status kita masih sebagai musuh. Hanya karena kita sempat bekerja sama lantas semua kesalahanmu terampuni. Kau masih menyandang gelar pengkhianat, dan tak akan pernah aku maafkan kelakuanmu.”
Wajah sedih serigala itu malah menambah kekesalannya. Dengan gusar, ia berjalan melewati Lycaon, mengacuhkan gerakan ekor dan telinganya yang menekuk lemas seperti seekor anjing setelah ditolak majikannya.
Hari yang sial sekali. Pertemuan sekali itu sukses membuat nuansa hati Hugo runyam selama setengah hari. Bahkan sebelum tidur, ia sempatkan harapan agar serigala itu tersandung kulit pisang dan jatuh sampai salah satu kaki palsunya rusak.
Tidak. Sepertinya doa itu terlalu jahat.
Jika ingin berkata sejujurnya, Hugo tidak begitu membenci Lycaon sedalam dulu. Bahkan, setelah pembicaraan panjang beberapa hari yang lalu, semua perselisihan dan kesalahpahaman mereka mereda.
Hanya saja, Hugo bisa merasa masih ada sesuatu yang ditutupi oleh mantan rekannya itu.
Padahal ia telah membuka diri, mengungkapkan seluruh isi hati tapi Lycaon tetap bungkam. Tidak mengatakan alasan sesungguhnya ia bisa bekerja sama dengan Mayflower bertahun-tahun yang lalu. Hanya ada ucapan maaf tanpa ada penjelasan.
ia masih ingat ketika pertama kalinya mengetahui rahasia kelam bahwa diam-diam, partnernya menjalin hubungan kerja sama.
“Bukankah dia adalah musuh kita?! Kenapa kamu malah berhubungan erat dengannya?!”
“Hugo, ini-”
“Apa? Apa karena kamu sudah berpikir kalau sekarang aku menjadi sejahat yang Jack pernah omongkan sehingga kau membenciku?!”
Dan pemuda itu tak menjawab. Tak bisa menjawab. Bungkamnya membuktikan semua.
Pada akhirnya, tidak ada orang yang percaya dengannya.
Bahkan keluarga dan sahabatnya sendiri.
Hugo memejamkan matanya, berharap setidaknya kegusaran hatinya akan lenyap begitu dia bangun keesokan pagi.
“Benarkah? Tapi saya malah sangat menyukai mereka. Menawan. Memukau. Penuh dengan ribuan pesona. Mengingatkan saya pada beberapa memori yang menggairahkan.”
Perkataan Mikhail terus terulang dalam benak seperti tamu tak diundang.
Hugo jelas tahu bahwa tak ada sirat baik sedikit pun dari pujian itu.
Semua saudara tirinya sangat membenci kedua matanya yang berbeda warna, menyebut mereka sebagai ‘pencemaran’ darah bersih milih Ravenlock.
Semua, kecuali Serena.
“Aku malah suka kedua matamu!”
Tidak ada lagi yang memuji netra setelah dia.
Perlahan, kantuk mulai bertamu. Pikirannya mulai melesat ke sembarang arah.
“Saya malah sangat menyukai mereka.”
“Menawan. Memukau.”
“Mengingatkan saya pada beberapa memori yang menggairahkan.”
“Bagaimana jika kita kotori saja dua mata aneh ini?”
Sontak Hugo terbangun. Tubuhnya berguncang hebat seperti ada yang menjatuhkannya dari atap gedung tertinggi. Nafasnya tersengal.
Barusan itu… apa?
Ia mencengkram sebelah sisi kepalanya dengan kuat, tapi sial sekali. Bayangan hitam itu sudah pergi.
Dimana ia pernah mendengar kalimat itu?
Apakah salah satu memori penuh penyiksaan yang tak ia ingat lagi sebelum melarikan diri?
Namun, mengapa deru jantungnya tak mau mereda?
“Vivian, apakah kamu bisa mencari informasi seputar orang ini?”
Vivian menerima sepucuk foto yang kelihatan diambil dari jauh secara diam-diam. Keningnya berkerut.
“Namanya Mikhail Ravenlock.”
Begitu mendengar nama keluarga tersebut, sontak kedua mata gadis itu melebar.
“Apa dia mengganggumu lagi?”
“Bisa dibilang demikian.” Hugo memutar koin di antara sela-sela jarinya. “Tapi jangan khawatir. Aku hanya ingin memastikan dia tidak berbuat macam-macam setelah ayahnya ditangkap.”
Vivian menghela nafas. “Aku akan memberi kabar jika berhasil menemukan informasi penting.”
“Vivian…” sebelum gadis itu pergi, Hugo dengan cepat memanggilnya kembali, “Ravenlock mungkin sedang kehilangan sebagian besar kekuatannya sekarang, tapi aku ingin kamu tetap berhati-hati. Jika merasakan ada bahaya, segera mundur.”
“Iya, iya. Kamu pikir aku masih pemula?” Gadis itu berucap sebelum akhirnya meninggalkan rumah aman mereka.
Barulah Hugo bisa melepas nafas terberat yang ia tahan sedari awal.
Sejujurnya, ia tak mau melibatkan Vivian jika berhubungan dengan Ravenlock, tapi berhubung wajahnya sudah dikenali, ia tidak bisa mengambil risiko. Satu-satunya informan terhandal yang bisa ia percayai saat ini adalah Vivian, gadis yang ia adopsi beberapa tahun lalu.
Di antara semua informan yang ia kenal, Vivian masihlah seorang informan yang paling pintar. Ia pintar dalam menyusup dan menyamar, menyelinap di antara kerumunan tanpa bisa dilacak. Kemampuannya bisa disandingkan dengan sang pemimpin Mockingbird yang terkenal, alasan mengapa Hugo memberanikan diri untuk menjadikan gadis muda itu sebagai rekan seperjuangannya.
Meski kasih sayangnya mencegalnya untuk melibatkan Vivian ke dalam misi lebih berbahaya, seperti kasus inti Sacrifice beberapa waktu lalu.
Karena wajah Hugo sudah dikenali oleh Mikhail, maka mustahil ia bisa memantaunya dengan mudah.
Semoga saja misi ini tidak menghantarkan Vivian ke dalam bencana. Pengaruh Ravenlock seharusnya tidak seberbahaya dulu, sehingga mereka tidak akan berani untuk melakukan hal yang gegabah. Tetap saja, ia menanamkan pelacak ke dalam HP-nya untuk berjaga-jaga.
Mikhail… Mikhail…
Ia tidak pernah ingat dengan orang ini sepanjang hidup penuh nerakanya di kediaman gelap itu. Saudara tirinya memang banyak, tapi ia tidak akan pernah bisa melupakan wajah beringas mereka. Hanya wajah Serena lah yang tetap bercahaya di dalam memorinya.
Lantas, mengapa pria itu mengenalinya dengan begitu baik sampai memandangnya tersirat penuh makna? Seakan ada sesuatu yang terhubung di antara mereka yang Hugo lupakan?
Tidak. Semua itu tidaklah penting.
Saat ini, ia harus memastikan bahwa sisa keluarga Ravenlock tak akan berani membangkitkan dari kuburan.
