Work Text:
"Kau menghianati ku..." Udara terasa menyesakkan, terasa sakit. Charles menatap Max bimbang. Hatinya seperti diremuk perlahan-seperti ledakan, menghantam nya begitu keras tanpa peringatan. Menghancurkan pria yang terkenal akan kekuatannya, tenang, yang lantang pun akan memilih diam. Kehadirannya menuntut hormat, bukan karena ia memaksanya, tetapi karena dunia tahu ia pantas mendapatkannya.
Detik jam terasa semakin berat, jarum detik yang ramping itu bergerak. Setiap gerakan menandakan kesengsaraan, keputusan yang akan mengubah segalanya.
"Kenapa harus kau," gertakan halus cukup untuk membuat lawan bicaranya terdiam. Ia hanya diam, menatap Charles. Bahunya merosot, kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya. Berusaha ia raih walau tak mampu. Mata seindah lautan menatap tak percaya, biru yang biasanya jernih tergantikan oleh nanar tak percaya dan kehancuran.
"Dari semua orang, kenapa harus kau, Max," harapan yang mereka bangun, hancur dalam hembusan angin semalam. Hening. Hanya terdengar detak jantung berdetak keras, memekakkan telinga. Ia hanya diam, tak ada tangis. Hanya kebingungan.
Amarah jelas memakan sesosok pria yang dicintai Max.
Max mencoba mendekati pria yang tiba-tiba terasa sangat asing baginya. Perlahan.
"Cha-charlie..." bisiknya, hampir tak terdengar.
Pistol di tangannya gemetar, mengarahkan tepat ke arah Max. "Jangan dekati aku..." Suaranya nyaris pecah, ia memandang Max tanpa fokus, seolah dunia tak memiliki arti lagi. Hancur. Berkeping-keping, sunyi menertawakan mereka, aula sebagai saksi bisu mereka.
Apakah Max pantas mendapatkannya?
"A-aku bisa menjelaskan ini semua, a-aku terlalu takut Charlie..," napas tersenggal, Max menyelesaikan ucapannya. Ketakutan, cintanya tidak mempercayainya.
"Tolong aku..."
Itu sakit.
Sedikit saja tekanan, pelatuk itu akan menghancurkan segalanya. Cinta, kepercayaan, kasih sayang. Max adalah segalanya untuk Charles, tetapi apakah dendam keluarga yang sangat amat besar mengalahkan kepercayaan mereka.
Charles dibutakan oleh sebuah fakta, menjerumuskannya ke dalam lubang hitam tak terhingga. Membuat ia buta, tuli untuk kekasihnya. Kemarahan, kesedihan mengambil alih.
Kekasihnya. Max, orang itu menjadi salah satu alasan keluarganya sengsara, hancur, tidak bisa diselamatkan. Keluarga Max menjadi dalang dari kesengsaraannya. Ia tidak mau percaya, tetapi fakta berkata lain.
"Kau membunuh mereka! Kau salah satu dari keluarga Verstappen, kau membunuh mereka, Max! Dan dengan tak berdosanya kau berusaha memasuki keluarga ini, kau-" Charles tidak bisa menyelesaikan ucapannya, seperti ada batu yang sangat besar di tenggorokannya, menghalangi ia untuk berbicara.
"Kau membuatku mencintaimu..." Bisik Charles.
"Aku tidak membiarkan penghianat," untuk terakhir kali Charles menatap ke arah Omega itu, matanya menatap Charles tak percaya, penuh dengan air mata, napasnya memburu, Charles sekilas melihat tangan Omega itu mengelus perutnya gemetar, berjaga bila ia melakukan perlawanan, sebelum dengan sekuat tenaga berdiri, lari, menghindari-
Suara tembakan memekakkan telinga. Menggelegar di seluruh aula. Peluru menembus tepat ke jantung Max yang sekarang tidak lagi berdetak.
Charles menatap kosong ke arah mayat di depannya. Tak bergeming. Tangannya bergetar tak terkendali. Tanpa ia sadari, ia meneteskan air mata. Apakah itu rasa penyesalan?
Charles pun tidak tahu.
Terdengar langkah kaki menggema di belakang, pelan tapi pasti, dengan kehati-hatian, layaknya berjalan menuju hewan buas yang tersakiti, tidak stabil penuh amarah serta kesedihan.
"Tuan," ucap Carlos memberi hormat.
"Bersihkan, aku tidak ingin melihatnya lagi," perintahnya, pergi meninggalkan Max seorang diri. Mati tanpa penghormatan, ditinggalkan hingga akhir khayatnya.
___________
Charles berlari ke toilet, mengeluarkan cairan empedunya. Air mata tidak bisa berhenti mengalir, membasahi wajahnya, frustasi, mual terus menghantamnya, ingatan tentang Max tergeletak tak berdaya dengan kubangan darahnya sendiri di tengah aula menghantui. Bagaimana mata penuh harap dan ketakutan itu mengharapkan Charles untuk mendengarkannya, Bagaimana mata itu kehilangan cahayanya, setelah pelatuk ditarik tanpa ragu.
Charles, suaranya parau memenuhi kamarnya. Menghancurkan segala yang ia lihat. Menangis sampai air matanya mengering. Ia berusaha meyakinkan diri, bahwa keputusannya adalah hal yang tepat, sebanding dengan apa yang Max lakukan.
"Kau tidak akan meninggalkanku seperti yang lainnya kan, Charles?" tanya Max memegang tangan Charles. Kepala nya bersandar nyaman di bahu Charles, seperti hanya dialah sandaran dunia Max.
Mungkin, di dunia lain itu terjadi.
