Actions

Work Header

Bertamu Malah Ngentot

Summary:

Rencana awal Awan bertamu ke rumah Chandra cuman karena dia mau ngajak main, tapi malah ditinggal sendirian berdua di rumah sama mama Chandra.

Guess what happen next.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Gimana, ya, reaksi tante kalau tau kue yang disuguhin buat tamu—buat aku, malah dibuat lubrikan sama anaknya?"

Jari-jemari Awan menyapa telinga Chandra, merayap ke helai-helai rambutnya bikin Chandra geli hingga tubuhnya bergetar. Sembari membenarkan kacamatanya yang melorot, Awan menikmati deru nafas panas Chandra yang meninggalkan uap di kacanya. Mau seburam apapun pengelihatannya, yang pasti pacar kecilnya itu selalu cantik.

"Ya, dek? Hm?" Awan bersiul gemas melihat air liur Chandra menetes ke bajunya. "Masa udah tolol, dek?"

Pundaknya dipukul pelan, Awan malah ketawa ketika diberi tatapan kesal dari pacar kecilnya.

"Aku juga suguhannya mama, kok...." rengek Chandra, tangan kanannya masih mencengkram erat bagian pundak kaos partai Awan, sementara yang kiri sibuk longgarin lubang analnya pakai krim kue mama.

Digituin sama pacar kecilnya, Awan jadi malu sendiri. Kedua tangannya yang awalnya berada di kedua paha Chandra diangkat buat nutupin mukanya.

"Lucu banget, dek...." gerutu Awan.

"Aahh....mas jangan gituu," Chandra merengek sekali lagi, satu tangannya menyingkirkan tangan Awan dari wajahnya. "Daritadi aku yang kerja, mas Awan cuma bisa bacot! Aku juga mau dimanjaaa!!"

"Loh, salahku? Siapa tadi yang bilang mau foreplay sendiri?" Yang lebih tua terkekeh, itu saja yang dilakukannya sedari Chandra mempersiapkan diri. Ngeledek memang niatnya.

Telapak tangannya meraih pipi kanan Chandra lalu dielus dengan lembut, reflek Chandra memiringkan kepalanya dan ngedusel-dusel pipinya ke telapak tangan Awan, seperti kucing birahi. "Mas awan, sihhh, kalau foreplay bikin gabisa diem!"

Awan menarik kedua paha Chandra mendekat, bokongnya jatuh ke pangkuannya bikin krim kue putih yang dipakai Chandra sebagai lubrikan menodai kontolnya yang masih dikurung. Kedua tangannya kembali meraih pipi Chandra lalu dikecup pacar kecilnya di kening, menghirup aroma sampo yang ia kenal.

"Enak, ya, foreplayku?"

Chandra mengangguk.

"Sampai gabisa nahan desah?"

Chandra menangguk lagi.

"Sampai pipis-pipis, ya?"

"Dirty talk apa ngatain ini maksudnya?!" Tangan Chandra langsung menutup rapat mulut Awan bahkan sebelum Awan menyelesaikan nada bicaranya. Alisnya menekuk kesal, tidak menakutkan karena keningnya berubah merah. Awan sendiri malah makin tergoda. Sinting.

"Terserah kamu," bisik Awan, menyingkirkan tangan Chandra dari mulutnya sebelum mendorong tubuh Chandra tiduran di kasurnya, kepalanya berada di ujung kasur yang tak seberapa besar untuk dua orang. Kedua tangan Awan mengurung Chandra di bawahnya. "Tinggal milih kamu lebih sange kalau dikatain atau digodain."

Bibir keduanya bertemu, yang lebih muda membuka mulutnya ketika merasakan lidah yang lebih tua mencoba masuk. Ah, bolunya mama enak, apalagi kalau dirasa dari lidah mas Awan langsung, pikir Chandra.

Lenguhannya tertahan, ditelan oleh Awan ketika lidah mereka saling bertaut, bertarung untuk dominasi. Entah sudah berapa ribu kuman yang mereka bagi ke satu sama lain, yang penting sekarang cuman ciuman sampe sesek. Memikirkan kehilangan nyawa karena sesak dicium Awan membuat bokong Chandra naik, mencoba mengontrol kedutan di bawah sana yang sudah tak sabar diterobos. Lengannya mengalung di leher Awan dan Awan semakin memperdalam ciuman mereka. Liur entah milik siapa turun ke dagu Chandra dari ciuman mereka, kini kamar Chandra ramai akan kecipak basah pergelutan dua mulut laki-laki sok dewasa.

"Kadang aku bersyukur tante sepolos itu," Awan melepas ciuman mereka, terkekeh sambil mengangkat tubuhnya dari Chandra. Tangannya meregang, menggapai kue bolu di nakas yang sudah tak berbentuk, berantakan bukan karena dimakan. Krim putih itu dicolek menggunakan dua jarinya, mengambil sebanyak yang ia mampu tampung lalu menjilatnya, tak ditelan.

"Anaknya ditinggal sendirian di rumah, sama pacarnya, for the whole day and thought we won't do anything. Aku lebih cinta ke mamanya daripada ke anaknya, deh," lanjutnya. Sebelum Chandra bisa protes, pahanya ditarik dan bokongnya diangkat tinggi sejajar dengan wajah yang lebih tua. Hidung Awan menggesek samar pintu lubang Chandra sebelum lidahnya-yang masih menyimpan krim-secara brutal ciuman sama lubangnya Chandra.

Chandra memekik kaget, tangannya reflek meraih ke bawah mencari kepala Awan untuk didorong menjauh darinya. Kepalanya pening tak karuan, ia bisa rasakan bagaimana lidah Awan makin jauh masuk, colek-colek dinding analnya sama seperti saat lidah Awan mengabsen deret giginya. Terkadang Awan berhenti, mengeluarkan lidahnya lalu gigit-gigit kecil pintu lubang Chandra, dicium-cium beberapa kali sebelum memasukkan lidahnya lagi. Gaada lagi yang bisa Chandra lakukan kecuali mendesah, memekik 'mas mas mas' tiap benda tak bertulang itu menggelitik dindingnya. Kontolnya yang udah berdiri tegak diserang juga, dikocok pelan-pelan sampai mengeluarkan pre-cum, mengolam di perut sampai turun ke dadanya.

Pantas saja Chandra lebih suka foreplay sendiri, pikir Awan. Lihat bagaimana Chandra mati-matian nahan suaranya supaya tak membangunkan satu RT.

"Anjing...," Awan menggeram, kacamatanya dilempar ke nakas karena mengganggu. Mulutnya basah, lengket karena liurnya sendiri dan krim kue. Dia pandang lama lubang Chandra yang udah merah bengkak, kedutan ga karuan, basah kayak memek. Awan malah tertawa lagi, sial.

"Tadi foreplay sendiri karena gamau rame, sekarang gimana mau ngentotnya?" Bisik Awan. Pacar kecilnya ia tindih lagi, kepalanya turun ke leher Chandra untuk memberi kecupan-kecupan kecil di bawah telinganya. Dicium, dijilat, digigit, bikin tanda merah banyak karena Awan ingin dimarahi Chandra nantinya ketika tanda itu dicurigai ayah Chandra.

"Adek mau dimentokin sampai sini—" nafas Chandra berderu ketika bajunya diangkat setengah. Bulu kuduknya naik ketika angin dari kipas menerpa kulitnya, pinggang kecilnya terkespos sambil jari telunjuk Awan menekan titik di perutnya. "Atau pakai cara adek sendiri, terserah adek."

Sial, pikir Chandra. Kalau sudah dipanggil 'adek' rasanya kayak dia bisa nambang nikel sendirian pakai tenaga dari pejunya Awan. Sebenarnya Chandra sendiri gak tahu kenapa bisa sesange ini kalau dipanggil adek, entah karena capek jadi anak pertama yang jarang dimanja atau memang Awan yang bikin panggilan adek terdengar seperti kalimat jorok.

Chandra merengek akan sesuatu yang belum Awan lakukan sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Awan lagi. Keinginannya buat dipanggil adek lagi makin besar, bikin pingin dimanja, disayang-sayang sampai tolol. Kontolnya digesek-gesek ke kontol milik Awan yang masih terbalut celana, ndesah-ndesah sendiri bikin Awan makin ga tahan sama pacar kecilnya yang gemes ini.

"Adek mau dimentokinnn sambil disayang-sayang, ya mas," matanya menatap sayu pacarnya, nada bicaranya terdengar seperti memerintah daripada meminta. Dan Awan, sang mantan danton di SMAnya, harus mematuhi apa kata ketua.

___________________

Jam 16.43, bisik Awan. Langit sudah berubah oranye dari tiga jam yang lalu namun pinggangnya daritadi tidak berhenti menghentak-hentak Chandra. Kasur springbed Chandra yang pernya sudah berkarat Awan siksa tanpa ampun, membuat suara decit yang membuat tuli seiring Awan makin semangat ngisi Chandra. Suaranya saja sudah bikin Chandra hampir gabisa nikmatin kontol Awan, ditambah spreinya yang baru ganti malah kebanjiran peju, keringat, dan cairan-cairan manusia lainnya yang bisa Chandra pikirkan, bikin lengket sebadan-badan. Ah, kayaknya ada campuran pipis juga.

"Ahh.......udah, mas, udahhh," Chandra susah payah menggunakan pita suaranya yang hampir menyerah, protesnya berubah menjadi rengekan. "Adek udah penuhh.......ga cukup lagiii," bangsat, pikir Chandra. Rasanya pingin muntah peju gara-gara diisi daritadi sama Awan.

"Dikit lagi, ya, dek. 'Kan rencananya bikin adek hamil."

"Sejak kapan?! Aku gapernah setuju, tuh!"

"Sejak barusan mas pingin lihat adek kebobolan, terus kita diarak telanjang sama warga gara-gara ngentot diluar nikah—" belum selesai Awan menceritakan seluruh fantasinya, Chandra lebih dulu menjambak poni Awan yang sudah tumbuh melewati alisnya.

"Kalau ga berguna buat bangsa gausah ngomong! Malu sama kaos partai mas Awan!" Wajah Chandra lebih merah dari sebelumnya karena marah, air matanya malah makin banjir mikir kalau beneran diarak warga. "Mas Awan bercandanya ga lucu!"

Awan tertawa, pura-pura kesakitan dengan jambakan Chandra yang gak menyakitkan sama sekali, lemah malahan. Wajahnya membusung mendekati Chandra lalu dikecup pacar kecilnya di bawah mata, meminum air mata Chandra yang akan jatuh. "Adek gabisa ngomong gitu, berharap mas minta maaf kalau kontol mas makin dijepit gini. Longgarin dikit, dek, mas mau keluar."

Chandra mengedip waktu Awan kecupin semua bagian wajahnya; pelipis mata; kening; hidung; pipi; bibir, sambil lanjut menggenjot kontolnya di dalam Chandra. Peju yang ada di dalam Chandra dipaksa keluar netes ke kasur seiring Awan makin nusuk ke dalem. Kepala Chandra rasanya terbang ke langit waktu Awan nyusu di putingnya yang masih bengkak dari kemarin lusa.

Suara tamparan kulit ke kulit makin keras, tempo Awan mengencang merasakan kontolnya siap-siap ngisi Chandra lagi. Entah ditusukan ke berapa Chandra gatau, yang dia tahu adalah dia ikutan nyemprotin pejunya ke perut Awan—keras, sakit—saat analnya diisi lagi oleh peju Awan, bikin perutnya perih, anget ga karuan. Keduanya ngos-ngosan, memeluk satu sama lain tanpa mau melepas penyatuan mereka.

"Mas......udah, ya......"

"Hahaha iya, dek, udah. Mas juga capek."

Dengan sisa tenaga, Chandra meraih kedua pipi Awan yang menempel di dadanya mendekati wajahnya. Mengundang Awan ciuman, basah dan jorok banget bikin cicak di kamar Chandra yang daritadi dengerin mereka ngentot akhirnya pergi darisana. Mereka ketawa disela-sela ciuman mereka, entah karena apa, tak lama mereka dikagetkan dengan suara tangisan anak kecil dari luar kamar.

"Mas, adekku!"

Buru-buru Awan nyopot kontolnya dari Chandra yang sudah panik duluan. Susah payah dia paksa kakinya yang gemetaran lemas berlari ke kamar adiknya yang menangis makin keras, dan di belakangnya Awan ngikutin sambil bawa selimut buat nutupin badan telanjang Chandra.

 

"Bersihin yang bener, mas, masih ada yang netes."

"Dek, serius kamu nyuruh aku bersihin kamu sambil kamu nimang adekmu?"

Notes:

I'm open for commision! hit me up on bisquejihoon