Work Text:
[Step 1 : Permasalahan]
Hades itu... agak protektif. Terlalu protektif, malah.
Brocon mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kakaknya itu. Sejak kecil Hades selalu memastikan Poseidon tidak pernah lepas dari pandangan. Usia mereka yang terpaut tidak cukup jauh memungkinkan Hades menginvasi tiap momen dalam kehidupan Poseidon.
Mereka satu sekolah dari TK sampai SMA. Teman Poseidon adalah teman Hades juga. Kemanapun Poseidon pergi, Hades selalu ada mengitil. Apapun yang Poseidon lakukan Hades harus tau.
Pokoknya, sang adik tersayang tidak boleh lecet sedikit pun.
Poseidon sebenarnya cuek dan bodo amatan, meski nggak dipungkiri ia banyak kehilangan masa muda karena sang kakak yang agak berlebihan. Tapi yah, balik lagi, Poseidon cuek aja. Selama nggak mengganggu hidupnya, terserah Hades mau melakukan apa.
Tapi mindset itu rupanya hanya bertahan sampai masuk kuliah.
Pertama kali ia melihat wajah kakaknya sekaget itu adalah saat Poseidon nggak tidak sengaja membentaknya saat perihal jurusan kuliah.
"Kalau gue maunya kelautan, ya kelautan! Lu nggak usah ikut campur!"
Hades langsung terdiam, tidak lanjut memaksa sang adik mengambil jurusan yang sama dengannya. Menyadari air muka Hades yang berubah, Poseidon merasa tidak punya pilihan kecuali masuk kamar dan membanting pintu.
Besoknya, mereka hubungan mereka kembali seperti sedia kala. Keduanya tak pernah membicarakan masalah itu lagi, tapi Hades membiarkan Poseidon memilih prodi keinginannya.
Tapi, Poseidon ketagihan.
Seumur hidup segala pilihannya sudah ditentukan oleh Hades. Dan sekali ia mendapat kesempatan untuk memilih sendiri, Poseidon merasa tidak bisa setop.
Ia ingin lagi, lagi, dan lagi. Kenakalan remaja yang telat beberapa tahun itu resmi dimulai.
Poseidon mulai sering menghiraukan omongan kakaknya. Dia keluar malam, pergi bersama teman-temannya, bahkan sering tidak pulang. Dia melupakan semua nasihat Hades untuk belajar dan menjaga nilainya tetap bagus. Dia bahkan tidak repot-repot menjaga sikap di depan Hades seperti dulu.
Semua itu membuahkan pertengkaran yang tak berujung. Kadang, Poseidon mendapat satu dua memar yang serasi dengan milik Hades.
Tapi, Poseidon ketagihan.
Jadi begini rasanya hidup. Begini rasanya menjadi normal seperti orang kebanyakan. Begini rasanya melakukan apa yang ia suka dan apa yang ia mau.
Poseidon ketagihan. Dan meski itu berarti membuat hubungannya dengan Hades renggang, ia tidak masalah. Semua ini terasa begitu nikmat.
Tapi, bukan berarti Poseidon tidak jengah atau Hades menyerah.
"Siapa?"
Cowok blonde itu melirik sekilas sosok pria yang menghampirinya sebelum me-reject panggilan whatsapp yang masuk. "Biasa," Poseidon menghembuskan asap rokok ke udara. "Abang gue."
"Ooooh." Apollo nggak banyak komentar, cuma menaruh sepiring indomie goreng overpriced di meja mereka. "Emang udah jam segini sih, pantes aja lu ditelponin."
"Gue udah kuliah." Ada kekesalan di suara Poseidon. "Cowok lagi, dia gak perlu segitunya juga kali. Gue gak bakal hamil dan pulang-pulang bawain dia keponakan."
"Ya siapa tau dia khawatir lu mati atau kenapa-napa." Apollo tertawa, membuka laptop dan mencari kabel colokan. Malam semakin larut tapi kafe yang mereka tongkrongi malah semakin ramai. "Emang dia gak punya pacar apa? Gabut bener nyepam lu."
Poseidon lantas menggeleng, melirik sinis. "Menurut lu dengan sifat dia yang begitu ke gue, dia mau pacaran?"
"Cariin pacar lah!" Seringai di wajah Apollo melebar, ia menyikut rusuk sohibnya itu pelan. "Kalau lu mau, ntar gue bantuin deh. Gue banyak stok kok, tinggal pilih aja tipe abang lu yang kayak gimana."
"Gue aja jomblo, gimana mau nyariin dia pacar?"
"Yaudah, lu sekalian gue cariin pacar juga!"
Awalnya, Poseidon cuma menganggap saran Apollo itu sekedar asbun. Tapi lama kelamaan, ia mulai kepikiran juga.
Apollo adalah tipe cowok yang nggak bisa jomblo. Meski mereka kurang dari setahun berteman tapi dia udah ganti pacar dua kali. Maklum, dia memang ganteng dan charming, siapa sih yang nggak mau?
Saking pusingnya punya kakak brocon, Poseidon hampir nggak pernah kepikiran punya pacar. Padahal dari segi tampang, dia nggak kalah cakep dari Apollo. Dia juga sering mendapat pengakuan cinta di DM instagram yang biasa cuma dia read.
Padahal, apa salahnya nyoba punya pacar. Dia sudah dewasa, lagian kalau nggak cocok tinggal putus, kan?
Tapi Apollo benar. Kalau Hades punya pacar, dia bakal lebih perhatian ke pacarnya dan berhenti mengganggu hidup Poseidon.
Ia bakal berhenti menge-spam ponsel Poseidon dengan chat dan misscall setiap ia pulang diatas jam 11. Ia bakal berhenti menegur bau asap rokok dari kamar Poseidon. Ia bakal berhenti peduli dengan nilai-nilai kuliah Poseidon dan hanya berucap "oh" dengan anggukan singkat kalau saja pemuda itu harus mengulang dua matkul.
Brocon-nya Hades yang membandel bisa sembuh kalau dia punya pacar.
Maka disini lah Poseidon—mendobrak kamar kos Apollo sampai si empunya buru-buru memakai celana sambil berusaha mematikan video yang terputar di laptopnya.
"KETOK DULU ANYING GUE LAGI COL—"
"Apollo," Jika saja harga diri Poseidon tidak setinggi Burj Khalifa, dia bakal mencium kaki Apollo saking desperate-nya ia. "Plis, bantuin abang gue cari pacar."
—
[Step 2 : Solusi]
"Tipe abang gue ... gak tau. Tapi kalau bisa sih orangnya harus prideful dan songong, terus mesti agak sinting juga biar gak kalah adu mekanik sama abang gue. Abang gue udah gak ketolong soalnya."
Pilihan mereka—bukan, pilihan Apollo—jatuh pada Qin Shi Huang, mahasiswa sastra China semester 8 mantan ketua BEM fakultas yang terkenal dimana-mana.
Kadang, Poseidon kagum sama koneksi Apollo. Jangan-jangan dia juga kenal sama anak Ibu kantin.
"Apollo, lu yakin?" Setelah beberapa kali interaksi sama Qin, Poseidon mulai merasa cowok ini adalah abangnya versi asbun dan lebih berisik. Satu Hades saja dia nggak sanggup, apalagi kalau punya dua di rumah. Bisa-bisa Poseidon mati muda.
Sambil menepuk bahu sohibnya, Apollo tersenyum meyakinkan. "Sei, kapan pilihan gue pernah salah?"
Sering. Tapi Poseidon memilih diam dan mengangguk.
Maka, rencana mereka jalankan—rencana Apollo, lebih tepatnya, tapi Poseidon harus ikut andil agar ia bisa memastikan hasilnya sempurna.
Bagian Apollo adalah menghampiri Qin yang lagi mumet tujuh keliling dengan skripsinya, lalu mengatakan kalimat keramat: "Eh, Qin, kayaknya gue tau deh subjek yang pas buat skripsi lu."
Bagi Qin yang hampir nyerah mencari subjek, Apollo adalah penyelamat yang diturunkan langsung dari langit.
Bagian Poseidon adalah sarapan bersama Hades setelah sekian lama, lalu dengan tatapan seperti anak anjing minta dipungut berkata: "Bang, Abang sabtu mau gak bantuin temen adek? Kasian dia kesusahan sama skripsinya... mau ya Bang?"
Bagi Hades yang terakhir dipanggil Abang saat Poseidon SMP, apasih yang nggak buat adeknya?
Bagian Apollo dan Poseidon adalah melakukan reservasi meja VIP di sebuah kafe dan memesan menu ala makan malam romantis untuk mendukung suasana.
Sekarang tinggal tunggu hasilnya sambil bermain PS di kos Apollo dan, damn, seberapa tak ingin pun Poseidon mengakuinya, rencana Apollo ini super duper jenius!
—
[Step 3 : Hasil (???)]
"Eh?"
".... ah."
Qin tahu matanya minus parah sejak bocil, tapi nggak mungkin kan rabunnya separah itu sampai berhalusinasi ada Hades sedang duduk di depannya?
Pemuda berhelai segelap malam itu mematung, kemudian celingak-celinguk di sekitar mencari keberadaan orang lain. Dia dijanjikan oleh Apollo bertemu dengan subjek skripsinya di cafe ini pukul sepuluh pagi. Tapi kenyataannya, di sini cuma ada Hades yang pasang ekspresi tak kalah terkejut.
"Qin." Hades lekas bangkit dan berdiri, merapikan kemejanya yang sudah rapi. "Kenapa disini?"
"Lah lu," jemari pria itu menunjuk hidung Hades, "ngapain disini?"
Bahkan orang bodoh pun tahu kalau mereka berdua kena tipu.
Nggak mungkin seorang Hades berubah jadi akademisi yang menjadikan nilai Konfusianisme sebagai bagian dari kehidupan seperti kriteria subjek skripsi Qin. Nggak mungkin juga seorang Qin Shi Huang berteman dengan Poseidon yang notabene adalah adik Hades, mantan yang katanya sangat ia benci sampai ke liang lahat.
Iya, Hades dan Qin Shi Huang adalah mantan kekasih.
Mereka pacaran cukup lama, backstreet, mulai dari maba dan berakhir di semester empat. Alasan putus? Karena kesibukan keduanya sebagai ketua BEM fakultas masing-masing.
Sebenarnya lebih dari itu. Qin merasa Hades nggak serius menjalin hubungan meski Hades yang nembak duluan. Sudah diomongi berkali-kali dan tetap tidak ada jalan keluar. Entah itu cowok avoidant mampus atau bagaimana, bahkan sampai akhir Qin nggak dapat closure.
Nggak pernah ada kata putus di antara mereka berdua. Suatu pagi, mereka bangun tidur dan memilih untuk nggak saling mengirim pesan selamat pagi, dan semuanya berakhir seperti itu.
Yah, Qin jujur cukup kesal.
Pride-nya yang tinggi membuat ia tidak terima dapat perlakuan seperti itu. Ia sampai pernah memaki-maki Hades di cf instagram-nya dan menyebut kalau ia benci setengah mati dengan cowok itu.
Tapi, perasaan manusia itu dinamis dan berubah-ubah. Buktinya, meski is bisa langsung meninggalkan Hades disana sendirian, Qin memilih menarik kursi dan duduk di seberangnya.
Lagipula, udah setahun dia tidak melihat wajah flat yang menyebalkan ini.
"Capek banget skripsian, hadeh." Sembari menyesap kopi yang waitressnya bilang sudah dibayar—entah dibayar siapa, mungkin Hades, ora urus—Qin mengeluh. "Lu mah enak, ikut penelitian dosen. Gue juga mau gak usah capek-capek mikir subjek."
Ekspresi Hades masih sedatar biasa, tapi tatapannya tidak lepas dari wajah sang lawan bicara. "Emang... subjek kamu nyari yang gimana?"
Masih aja aku-kamu padahal udah setaun putus, tapi Qin pura-pura nggak dengar demi kesehatan mental dan hatinya. "Akademisi, harus pernah baca Analek Konfisius atau lebih bagus penganut konfisiusme. Lu ada kenalan nggak?"
Setelah beberapa detik terdiam, Hades menggeleng pelan. "Aku bahkan nggak tau apa itu konfisiusme."
"Oon banget." Hina Qin tanpa pikir panjang, menciptakan sebuah kerutan di dahi Hades. "Emang brengsek si Apollo. Gue kira dia beneran punya subjek buat gue."
"Apollo?" Kerutan dahi Hades bertambah dalam. "Temen Poseidon?"
"Adek lu? Tapi ya dia suka nyamperin gue bareng temennya sih, pirang, mata biru, mukanya datar 11 12 lu—oh." Qin merasa gigi geligi otaknya baru berfungsi. "Jadi cowok bau amis itu Poseidon adek lu? Pantes mirip."
"Iya, dan Poseidon nggak bau amis." Hades menghela nafas, menumpukan dagunya di lipatan tangan. Meski kelihatan stress cowok itu tetap setia dengan raut muka sedatar triplek. Sungguh Impresif. "Aku kesini soalnya disuruh Poseidon. Dia bilang temennya perlu bantuan buat tugas kuliah."
"Oalah."Fix, mereka beneran kena tipu. "Gue sering liat adek lu sih bareng Apollo, nggak nyangka aja itu adek lu. Tapi gue udah curiga."
"Curiga?"
"Mirip banget." Tanpa diduga Qin memajukan tubuh, salahkan penglihatannya yang jelek. Hidung mereka nyaris bersentuhan kalau saja Hades tidak reflek menarik kepala dari meja. "Kalau sekilas sih, nggak begitu. Tapi setelah diliat bener-bener kalian berdua sama-sama freak bermuka datar."
Hades harusnya marah dipanggil freak bermuka datar, tapi jarak yang minim diantara mereka malah membuat jantungnya tidak karuan.
Qin masih sama seperti yang ia ingat. Songong, annoying, tapi juga menawan. Tampan. Hidung bangir dan bibir tipis itu menggoda untuk dilahap; Hades ingin menggigitnya sampai ia berteriak kesakitan seperti dulu.
Hades baru sadar kalau ia ... kangen.
Hades nggak pernah jatuh cinta, atau naksir orang. Seluruh hidupnya ia rasa ia abdikan buat sang adik tersayang. Hades rasa, asal Poseidon masih sehat, masih bisa makan tiga kali sehari, ia juga akan turut bahagia.
Tapi ternyata tidak. Hades mulai ingin merasakan bahagia versinya sendiri. Ia jatuh cinta.
Hari pertama ospek, maba itu sudah ditandai kating perihal orasinya tentang senioritas yang kena notis rektor. Meski banyak yang kesal tentangnya, banyak juga yang menyimpan kagum. Hades salah satunya.
Maba itu bernama Qin Shi Huang.
Hades nggak tahu bagaimana caranya PDKT dan dia mending terjun ke sumur daripada bertanya pada Zeus, sepupunya, cara mendekati orang lain.
Hades nggak tahu caranya PDKT, jadi ia langsung menembak Qin yang ajaibnya, diterima begitu saja.
Sayangnya, dia juga gak tahu gimana caranya pacaran. Dia nggak tahu kenapa Qin bisa kesal saat Hades mengabaikannya di kampus atau saat chatnya tidak dibalas berhari-hari. Dis nggak paham kenapa Qin mendiaminya ketika Hades meninggalkan kencan mereka untuk menjemput adiknya dari sekolah. Dia nggak ngerti kenapa Qin benar-benar terlihat kecewa ketika Hades naik menjadi ketua BEM tanpa memberi tahunya.
Semua emosi ini terlalu baru bagi Hades. Cinta ini masih terlalu asing baginya yang seumur hidup cuma mengenal kasih sayang untuk sang adik.
Hades tidak menyangka kalau cinta akan membuat dadanya terasa begitu sesak saat melihat Qin pertama kalinya setelah setahun berpisah. Ia tidak suka bagaimana lidahnya terasa kelu saat ia berbicara. Debaran jantungnya saat wangi Qin terendus indera penciuman sungguh mengganggu.
Cinta benar-benar membuat Hades bertekuk lutut di detik saat pemuda itu menyadari, dia rindu.
Ia rindu sekali pada Qin yang mengatainya oon karena tidak paham sesuatu yang bukan dari jurusannya. Ia rindu Qin yang mengeluhkan tugas kuliah yang susah. Ia rindu Qin dan segala gebrakannya yang selalu membuat hari Hades jauh lebih berwarna.
Ia rindu Qin. Rindu sekali.
"Lah bengong? Kesambet lu ya?"
Suara Qin bukan cuma memenuhi seisi ruangan, tetapi juga kepala Hades.
Seluruh hal bernama cinta ini masih terlalu baru untuk Hades, tetapi Hades tetap lah Hades. Dan dia nggak berubah, seperti saat ia tiba-tiba menembak Qin di ospek hari ketiga, Hades meraih tangan pemuda itu yang membuatnya tersentak kaget.
"Qin, aku rindu berat." Tatapan matanya menusuk. "Aku nggak paham cinta-cintaan ini kayak gimana, aku nggak paham aku harus ngapain kalau pacaran. Aku bener-bener nggak tau, tapi hatiku selalu pengen kamu, Qin. I want you and only you. I miss you so bad my heart ache the first time I see you. Please, start over with me, again."
Sepersekian detik berikutnya diwarnai hening yang mencengkram leher Hades. Untuk pertama kalinya, Hades merasa ia gugup. Ia merasa jantungnya bertalu begitu keras dan tangannya berkeringat terlalu basah. Untuk pertama kalinya, Ia merasa tak bisa menatap langsung pada Qin.
Namun, seluruh gusar itu seolah luruh begitu saja ketika suara tawa terdengar.
"Sinting." Qin menunjuk hidung Hades, lagi. "Lu masih aja sinting ya? Lu pikir gue gila mau balikan sama orang kayak lu? Ngimpi."
Hades menyeringai tipis, tipis saja, karena sebelum Qin berdiri dan melangkah kearah pintu keluar, ia menyempatkan diri untuk menoleh pada Hades.
"Padahal instagram lu udah gue unblock dari dua bulan yang lalu."
—
[Step 3 : Hasil]
"Apollo, gue capek asli. Abang sama Qin tiap hari kerjaannya pacaran mulu. Mana di rumah lagi. Bangun tidur gue ngeliat mereka, pas tidur ngeliat mereka juga. Ya gue bersyukur sih Hades udah sembuh dari brocon, tapi gak ngebucin segitunya juga kali. Bukannya apa-apa, tapi PDA mereka itu loh, ganggu banget. Mana suka gak tau tempat—ARGGHHHH SIAPA YANG SURUH KALIAN CIUMAN DI DAPUR!"
