Actions

Work Header

Kayla, Stop Merokok!

Summary:

Yessa memperbolehkan Kayla menggunakan strap on yang dipasang dildo saat mereka ‘bermain’. Asal, Kayla bisa libur merokok selama dua minggu penuh.

Notes:

Hit me up on twt: @lesbioneriku

Work Text:

Yessa bukan tipe perempuan yang mudah mengutarakan hal-hal yang tidak ia sukai. Terlebih, jika menyangkut kebiasaan pacarnya, Kayla, yang jelas membuatnya khawatir. Merokok.

 

Ia tahu jelas, pekerjaan Kayla yang penuh dengan tuntutan sering membuatnya merasa stress dan perlu pelampiasan. Batang demi batang bisa Kayla habiskan saat ia lembur, atau sekedar saat meeting di luar bersama klien.

 

Setiap kali melihat Kayla menyalakan sebatang rokok kretek, Yessa hanya melirik sekilas, lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya. Bukan karena tidak peduli, melainkan ia bingung harus memulai teguran dari mana.

 

Lalu, Yessa sudah berusaha belum?

 

Jawabannya, sudah. Meski usahanya konyol.

 

Diam-diam ia menyembunyikan rokok Kayla di brankas kantor.

 

“Rokok aku mana, ya? Kayaknya tadi udah aku masukin tas, deh.” Ucap Kayla sambil merogoh tas Kate Spade berwarna cokelat.

 

Yessa hanya menyaksikan itu dari ujung matanya. “Ketinggalan kali, Mbak?” Jawab Yessa singkat.

 

Sore harinya? Kayla datang membawa sebungkus baru yang ia beli di FamilyMart.

 

Usaha kedua, Yessa membelikan permen mint, berharap setiap kali muncul keinginan untuk merokok, Kayla akan mengunyah permen tersebut.

 

“Mbak, kalo lagi pengen ngerokok coba ganti pake permen mint.”

 

Strategi itu hanya bertahan tiga hari. Pada hari keempat, suara gesekan korek api kembali terdengar waktu mereka makan siang di warteg langganan.

 

Yang membuat Yessa semakin resah bukan hanya aroma rokok yang menempel di bibir pacarnya, tetapi juga batuk Kayla yang belakangan semakin sering.

 

Yessa kerap melihat Kayla duduk sambil memegangi dada, batuk kecil namun berulang.

 

Rasanya perih di hati.

 

“Mbak, pernah mikir mau berhenti, nggak?” Tanya Yessa. “Aku dulu juga perokok, tapi aku berhenti.”

 

Kayla tersenyum tipis. “Iya, tapi kamu kan kuat. Kalo aku…”

 

“Kamu juga kuat.”

 

Namun Kayla memang keras kepala. Nasihat masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri.

 

Hingga akhirnya, Yessa mendapatkan ide yang membuat pipinya memanas sendiri. Ia tahu Kayla sudah lama menginginkan satu hal—sesuatu yang selalu ia tolak. Strap. Kayla bahkan sudah membelinya berbulan-bulan lalu, tetapi Yessa terlalu takut untuk mencoba.

 

Ide itu Yessa utarakan melalui pesan WhatsApp saat Kayla sedang melakukan meeting di luar bersama klien.

 

Ya, betul. Yessa memperbolehkan Kayla menggunakan strap on yang dipasang dildo saat mereka ‘bermain’. Asal, Kayla bisa libur merokok selama dua minggu penuh.

 

Dua minggu. Kedengarannya singkat, tetapi bagi Kayla, rasanya seperti mendaki gunung tanpa membawa oksigen.

 

Hari pertama, semangatnya masih penuh. Pagi-pagi ia sudah bertekad, “Hari ini gue bebas rokok. Saatnya hidup sehat.” Yessa hanya tersenyum kecil, pura-pura tidak terpengaruh, padahal wajahnya sudah terasa panas sendiri.

 

Hari ketiga, gejalanya mulai tampak. Lidahnya terus berdecak tanpa henti. Terutama saat setelah makan siang, di mana biasanya Kayla merokok sekitar dua sampai tiga batang.

 

“Aduh, sayang banget makan di sini nggak ngerokok.” Ucap Kayla sambil melihat kiri-kanan pelanggan warteg langganan yang sedang menghisap rokok.

 

“Kalo ngerokok tawaranku hangus ya, Mbak.” Jawab Yessa tenang sambil menyeruput teh.

 

“Kalo aku nyalain aja tapi nggak aku isep, boleh?” Kayla menyeringai nakal, berusaha menggoda Yessa yang sekarang wajahnya semakin serius.

 

“Nggak!”

 

Hari kelima, godaannya semakin berat. Kayla dan Yessa pergi bersama Samuel dan Dion untuk makan siang.

 

“Tumben nggak, Kay?” Tanya Samuel sambil menghisap vape berwarna hijau tua.

 

“Iya nih. Gue lagi ikut taruhan.” Kata Kayla sambil melirik ke arah Yessa.

 

Yessa hampir tersenyum bangga, namun buru-buru menyembunyikan wajahnya.

 

Hari kesembilan. Malamnya, saat Yessa sedang main ke apartment Kayla, dapat tercium aroma yang mencurigakan pada hoodie Kayla.

 

“Mbak, kamu ngerokok?!” Tanya Yessa sedikit berteriak.

 

“Eh nggak,” Jawab Kayla dengan cepat, namun dibalas tatapan penuh tanya dari Yessa. “Sumpah nggak, Sa. Kayanya tadi karena aku lewatin warung di bawah yang banyak orang merokok.”

 

Yessa terdiam, berusaha membeli argumen Kayla. Dalam hatinya hanya bisa berkata, awas aja kalo bohong.

 

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sudah lebih dari empat belas hari Kayla bebas dari rokok. Yessa menginap di apartment Kayla sejak Jumat malam sepulang kantor. Sesuai perjanjian, karena Kayla sudah berhasil menyelesaikan tantangan, maka Kayla bisa menggunakan strap on saat melakukan hal di ranjang bersama Yessa.

 

Tentu ada rasa senang di dalam diri Yessa karena sudah berhasil membuat kekasihnya mengurangi konsumsi rokok perlahan-lahan. Hitung-hitung ini adalah langkah awal.

 

Setelah mereka berdua selesai makan malam dan membersihkan diri, Yessa duduk terdiam di atas kasur. Wajahnya datar, bibirnya tidak berucap satu katapun, tapi degup jantungnya berdebar begitu kencang, seolah ia merasa Kayla bisa ikut mendengarnya.

 

Kayla sendiri sedang sibuk mengambil barang-barang di laci yang terletak di sebelah kasur. Senyum Kayla tidak memudar sejak sore tadi. Ada rona puas, dan ada antusiasme yang sebenarnya membuat Yessa sedikit gelisah. Tapi apa boleh buat, Yessa sudah berjanji.

 

Sebuah strap yang sudah dipasangkan dildo hitam ada di genggaman tangan Kayla. Sebotol pelumas sudah ada di tangan satunya. Semua sudah disiapkan dengan baik. “Dua minggu udah selesai,” ucap Kayla membuka percakapan. “Aku udah berhasil lewatin challenge kamu.”

 

Yessa tersenyum lebar, barisan gigi rapinya terpampang dengan jelas. Kedua tangannya bertepuk tangan dengan pelan. “Aku tahu, Mbak pasti bisa.” Tidak bisa dipungkiri Yessa merasa bangga karena kekasihnya bisa menyelesaikan tantangan bebas rokok dengan lancar. Paling tidak itu yang ia ketahui. Perasaan bangga yang besar sampai bisa mengalahkan rasa khawatirnya terhadap benda jahanam itu.

 

Sebenarnya yang Yessa takuti bukan hanya sekedar benda itu, melainkan pada kemungkinan dirinya tidak siap menghadapi pengalaman yang sama sekali baru. Namun, setiap kali ia teringat pada Kayla yang berusaha keras menahan diri, menepis godaan rokok yang sudah bertahun-tahun menempel dalam hidupnya, hatinya menghangat.

 

“Tapi, Sa? Kamu yakin beneran nggak apa-apa?” Kayla duduk di samping Yessa, matanya berusaha mencari tatap dengan perempuan yang duduk di sampingnya. Yessa membalas dengan anggukan singkat. “Kalo Mbak bisa pantang nggak ngerokok dua minggu, berarti aku juga bisa lawan rasa takut aku.”

 

Sebuah kecup didaratkan di bibir Kayla. Mata Yessa terpejam merasakan hangat permukaan bibir Kayla. Ciuman ini yang selalu mengingatkan mereka berdua akan satu sama lain, betapa mereka saling menginginkan.

 

Yessa semakin berani mengecup bibir Kayla, sekarang dia yang lebih mengambil alih. Ciuman itu seakan memberi sinyal kalau Yessa sudah siap dan membiarkan Kayla memiliki tubuhnya seutuhnya. Sedangkan Kayla membalas ciumannya dengan sabar, dengan lembut. Ia memberi ruang untuk Yessa agar sebisa mungkin mengeksplor apapun yang diinginkannya.

 

Perlahan tapi pasti, Yessa bergerak lebih dekat agar ia bisa duduk di atas pangkuan Kayla. Ukuran tubuh mereka tidak berbeda jauh, tapi kali ini Yessa terasa mengecil. Apalagi setelah Kayla menggunakkan kedua tangannya untuk merengkuh pinggang ramping Yessa.

 

Mereka terus bercumbu tanpa terputus. Sebuah senyuman dan gumaman kecil lolos dari bibir Yessa. “Aku suka banget cium Mbak tanpa ada bau rokok gini.” Ada nada kemenangan terdengar dari suara Yessa. Si perempuan berambut cokelat itu mengistirahatkan dahinya pada dahi Kayla yang sekarang tertawa lembut.

 

“Kalo bukan karena kamu, aku nggak bakal mau ikut tantangan kayak begitu.” Sebuah ciuman singkat dibubuhkan di atas bibir Yessa. “Jangan-jangan aku dipelet ya?” Kayla berucap sembarangan sembari jarinya mencubit ujung hidung Yessa.

 

Yessa hanya melepaskan tawa kecil sebelum mendorong Kayla untuk tertidur di atas kasur, menjadikan dirinya saat ini berada di atasnya. “Harusnya aku yang heran, kok bisa ya aku berani nantangin Mbak Kayla yang udah terkenal ambis.” Kalimat itu diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di ujung hidung Kayla.

 

Empat mata bertemu satu sama lain, memandangnya dengan dalam penuh makna. Saat-saat intim seperti ini yang selalu mereka rindukan. Memiliki satu sama lain dalam dekapan, tidak banyak lisan namun bisa saling mengerti. Tanpa tekanan pekerjaan, tanpa kekhawatiran akan hari esok, they just be here, be present.

 

Strap on yang sedari tadi menganggur di atas kasur diraih oleh Yessa. Tanpa sepatah kata, Kayla sudah paham apa yang ia inginkan. Pagutan mereka terlepas sementara, agar Kayla bisa berdiri untuk mengenakan alat itu di tubuhnya.

 

Satu per satu pakaian Kayla ditanggalkan, dari kaos oversizednya hingga celananya. Yessa yang sedari tadi duduk di atas kasur memperhatikan dengan seksama setiap gerakan Kayla. Matanya terpaku pada lekuk tubuh perempuan di hadapannya. Buah dada yang berbentuk tegas, besar namun tetap terlihat indah dan kencang. Kulit sawo matang yang terlihat manis bagaikan madu. Yessa ingin menjilati inci demi inci untuk merasakan manis itu di lidahnya. Tidak lupa rambut hitam legam Kayla yang tergerai indah, sedikit ikal di bawahnya meski tanpa riasan profesional. Paras Kayla bagaikan dewi, dan hanya Yessa saja yang bisa memujanya.

 

Tanpa Yessa sadari, ia sudah menggigit bibir bawahnya, terutama saat strap hitam tersebut sudah terpasang sempurna di bagian selatan.

 

Yessa harus berkata jujur, ini tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Malah pemandangan ini membuatnya lebih terangsang.

 

How could someone have a sexual attraction towards men when we have a gorgeous looking woman wearing a silicon dick? Pikiran Yessa saat ini benar-benar berisik, ia tidak bisa berhenti mengagumi betapa indahnya Mbak Kayla saat ini.

 

“Aneh, nggak ya?” Kayla tiba-tiba membuka suara, sambil terkikik geli sekwatu ia memandang dirinya di pantulan kaca. Ini juga merupakan kali pertama bagi Kayla menggunakan strap seperti ini, sehingga ini juga merupakan hal yang asing baginya.

 

“Cantik banget, Mbak.” Balas Yessa, sambil senyuman lebar tidak bisa lepas dari wajahnya.

 

Kayla menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam karena mendengar pujian singkat Yessa. Bukan pertama kalinya Kayla mendengarnya, tapi saat mereka hendak mencoba melakukan hal baru untuk pertama kalinya ini terasa berbeda.

 

Tangan Yessa terulur untuk meraih benda panjang silikon, kemudian digenggam erat. Membayangkan bagaimana rasanya saat benda karet ini memasuki lubangnya? Selain jari, Yessa belum pernah merasakan benda asing lain memasuki dirinya. Tentu sedikit mengkhawatirkan.

 

“Sa? Kalo kamu berubah pikiran juga nggak masalah kok.”

 

Suara Kayla terdengar melembut. Kepala Yessa dielus dengan rasa sayang, sebelum telapak tangannya menangkup pipi kanan Yessa yang juga ikut memanas.

 

“Ini aku yang mau, Mbak.” Kedua bola mata Yessa yang bercahaya bertemu dengan Kayla. Seolah mengirimkan pesan kalau ia benar-benar menginginkan ini, berusaha meyakinkan Kayla.

 

Entah Yessa mendapat keberanian dari mana, ia mendekatkan kepalanya untuk menciumi dan menjilati dildo yang terpasang pada Kayla. Pemandangan ini cukup membuat si yang lebih tua terkejut. Yessa yang tadinya ketakutan, sekarang malah memberikan kecupan bertubi-tubi pada sekujur permukaan dildo seakan ia memujanya. Beberapa kecupan selesai dibubuhkan, saat sudah dirasa benda itu basah dengan salivanya, ia bergerak dengan pasti memasukkan seluruh dildo itu ke dalam mulutnya.

 

Sepasang mata Yessa bertemu dengan Kayla yang memandangnya dari atas. Pandangan Yessa berkabut karena air mata sudah memenuhi matanya.

 

“You're taking me so good, baby.” Suara Kayla terdengar rendah, matanya menggelap menatap nanar ke arah Yessa yang sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada yang lebih tinggi.

 

Rambut Yessa sekarang digenggam erat—sedikit ditarik, membuat si empunya meringis kecil, agar gerakan kepalanya bisa berada dalam kuasa Kayla sepenuhnya. Gumaman Yessa terdengar seperti sebuah permohonan, bukan meminta berhenti melainkan ingin merasakan ujung dildo menyentuh tenggorokannya. Mata Yessa sedikit memerah karena napasnya tersenggal, diambil penuh untuk menelan sebanyak mungkin ukuran yang terlalu besar untuk mulutnya.

 

Kayla sudah benar-benar bisa lepas kendali saat menyaksikan wanitanya berserah penuh kepadanya. “Sayang, aku gerakin sedikit boleh, ya?” Kayla meminta izin sebelum pinggulnya ia gerakkan untuk menyiksa tenggorokan Yessa.

 

“Hmmmpphh—” suara tangis Yessa bisa terdengar dengan jelas. Pasrah pada apapun yang diberikan, ia akan menerimanya seperti anak baik untuk kekasihnya seorang.

 

“Pinter banget, Yessa anak pinter.”

 

Perkataan lembut Kayla sangat bertolak belakang dengan perlakuannya yang semakin cepat menyetubuhi mulutnya. Yessa mengambil oksigen sebanyak-banyaknya saat Kayla menarik dildo itu keluar dari mulutnya. Bibir Yessa bengkak, dibanjiri saliva.

 

“Masih mau lanjut, Sa?”

 

Yessa mengangguk cepat seraya bibirnya tidak berhenti menjilati batang silikon itu. “Iya, Mbak… iya,” suaranya terengah, berbicara terburu-buru. “Masukin ke Yessa ya? Mau dienakin pake kontol gedenya Mbak.”

 

For the love of God, Yessa. Where did you learn that?

 

Bibir Yessa jarang berucap, namun kali ini lisannya mematikan. “Nakal. Yessa mulutnya nakal. Diajarin siapa ngomong kayak gitu, hm?”

 

Sebuah tamparan dilayangkan ke pipi Yessa yang sudah merah padam sejak tadi, menghasilkan rengekan kecil dari sang penerima. Sakit. Tapi Yessa mau dikasarin lagi sama mbak cantik.

 

“Hngghh— Yessa pernah nonton di film-film. Mau coba dikasarin sama Mbak.”

 

Kayla berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol dirinya. Sebisa mungkin menjalankan permainannya dengan lembut. Tapi ternyata ia memandang lawannya dengan sebelah mata. Yessa is into kinky shits actually.

 

Manik Yessa masih terkunci pada Kayla, tapi tangannya sibuk menanggalkan kain yang masih terpakai sempurna di tubuhnya. Putingnya sudah mencuat sempurna. Lipatannya di bagian selatan sudah basah tidak terkendali. “Please… do me, Mbak.”

 

Satu kalimat singkat, diikuti dengan satu gerakan cepat dari Kayla mendorong Yessa untuk tengkurap di atas kasur. Kakinya terlipat sempurna, bersimpuh. Kepalanya tertahan menempel sempurna di atas kasur yang empuk. Lubang basahnya sudah tersaji sempurna di hadapan Kayla.

 

Ibu jari Kayla didaratkan di permukaan vagina Yessa, diusapnya dengan gerakan memutar yang sedikit kencang. Berhasil membuat si empunya menangis kencang.

 

“Baru diusap dikit doang, kok udah nangis?”

 

Yessa merasa malu. Tapi ia tidak peduli karena ia lebih perlu diisi. “Mbak… tolongin Yessa.”

 

Beberapa detik kemudian Yessa akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Kayla mendorong dildo itu agar masuk ke dalam liang Yessa perlahan-lahan. “Kalo sakit bilang ya, sayang.” Punggung Yessa dicumbu pelan oleh Kayla. Mengingatkan bahwa Kayla masih di sini, bersamanya dan peduli akan apa yang Yessa rasakan.

 

Yessa mengangguk, sambil meringis karena berusaha menyesuaikan benda asing yang masuk ke dalam lubangnya.

 

“Yessa is a big girl, right? Pinter banget you're taking it so well, sayang.”

 

Tanpa Yessa sadari, Kayla sudah menggerakan benda itu keluar masuk. Melonggarkan dindingnya dengan sempurna. “Mbak— enak banget ternyata ahhh…”

 

Dari atas, Kayla bisa menyaksikan tubuh Yessa pasrah akan apapun yang ia berikan. Bagaimana sekarang Yessa sudah mulai berani menggerakan pinggulnya berlawanan dengannya, meminta agar benda itu masuk semakin dalam, menyiksa titiknya lebih intens.

 

“Hmmmm enak, Mbak… hnggg mau lihat muka cantik Mbak pas entotin aku.”

 

Sewaktu kalimat Yessa terhenti, tamparan keras dilayangkan di atas bokong sintalnya. Tidak bisa dipungkiri kalau Kayla sudah kepalang gemas dengan semua yang Yessa ucap dan perbuat.

 

It's just too much to take. Jika bersetubuh dengan Yessa-nya bisa seindah ini, Kayla bersumpah ia tidak akan pernah bisa merasakan hal yang sama dengan orang lain. Ia akan memuja Yessa sampai penghujung napasnya, jika kekasihnya seindah ini.

 

Kayla menarik dildo keluar dengan perlahan, dan dengan cepat Yessa membalikkan tubuhnya sembari melebarkan kedua kakinya. What a view. Kayla merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena dialah satu-satunya yang bisa menyantap ini.

 

Tubuh Kayla dicondongkan agar bisa melumat bibir Yessa dengan lembut. Satu tangannya menggenggam dildonya untuk mengarahkannya kembali ke dalam liang Yessa yang masih basah.

 

Ciuman yang intens. Memabukkan. Pikiran keduanya sudah dipenuhi oleh satu sama lain. Kayla tidak membuang waktu, ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme pelan tapi pasti. ‘Penis’ itu kembali menumbuk titik Yessa dengan keras, menghasilkan desahan-desahan manis dari bibirnya.

 

“Aahhh— Mbak dalem banget…”

 

Tempo Kayla perlahan ditambahkan, membuat kasur yang menjadi saksi penyatuan mereka berdecit lembut. Kayla melihat Yessa menutup matanya rapat-rapat.

 

“Yessa? Kok Mbak Kayla-nya nggak dilihat?”

 

Betul juga. Ini permintaan Yessa, agar ia bisa menatap wajah rupawan Kayla saat lubangnya ditumbuk habis-habisan. Tapi rupanya ia tidak begitu sanggup menahan nikmat. Yessa bisa klimaks saat ini juga jika menatap wajah Kayla yang hanya berada beberapa senti saja di depan matanya.

 

“Ye-Yessa ahhh— nggak kuat,” suara yang lebih muda terbata-bata, berusaha merangkai kalimat dengan sisa pemikirannya yang masih ada. “Mbak cantik ahhh—”

 

Kayla menyadari kalau sebentar lagi Yessa akan mencapai puncaknya. Perlahan ia tarik tubuh Yessa agar duduk di atas pangkuannya—masih saling menatap satu sama lain. Penyatuannya terasa semakin dalam dengan posisi ini. Desahan Yessa melengking hebat, tapi gerakannya semakin brutal di atas pangkuan Kayla.

 

“Lucu, deh kamu. Katanya takut, tapi sekarang keenakan, ya?”

 

Sepasang tangan Yessa menggenggam erat pundak Kayla agar tubuhnya bisa menjaga keseimbangan sambil lubangnya masih digempur dengan dildo besar itu. Bibir Yessa tidak bisa mengucap satu katapun, hanya napas dan desahan saja yang keluar. Tatapan matanya memelas, memohon ampun pada Kayla yang sekarang mengelus pelan rambut dan punggung telanjangnya.

 

“M-Mbak…” ucap Yessa dengan lirih, menggunakan sisa-sisa tenaganya yang ada.

 

Kayla tidak kuasa memandangi tubuh molek Yessa yang bergerak naik turun di atasnya. Payudara Yessa dengan cantik berayun seirama dengan gerakannya yang mulai tidak beraturan. Kedua tangan Kayla meraih gundukan kembar itu, kemudian salah satunya dilahap dengan bibirnya. Menghisap putingnya tanpa ampun.

 

“Aaaahh— Mbak jangan… hhhh… nggak kuat,”

 

Sudah dua minggu Kayla tidak menghisap batang rokok. Bibirnya seakan rindu menghisap sesuatu. Ketika bertemu dengan payudara Yessa, Kayla tidak kuasa untuk menahan agar tidak memberikan hisapan-hisapan kencang di sana. Tidak peduli desahan Yessa perlahan berubah menjadi teriakan, ia membutuhkan ini.

 

Beberapa saat kemudian, tubuh Yessa menegang, diikuti dengan punggungnya yang melengkung ke belakang. Mulutnya terbuka lebar, tapi sudah tidak kuat untuk bersuara. Matanya terpejam erat. Punggungnya jatuh begitu saja di atas matras yang empuk.

 

Kayla mengeluarkan dildo itu dari dalam liang Yessa dan segera melepaskan strap itu dari pinggangnya. Ia merangkak sedikit untuk memandang wajah Yessa yang masih dilanda nikmat. Rambut cokelatnya yang berantakan, sedikit menutupi dahinya. Kayla mengelus wajah cantik itu perlahan sebelum membubuhi banyak kecup lembut di sana.

 

“Mbak? Kamu belum…”

 

Suara lemah itu membuat Kayla menghentikan cumbuannya dan kembali menatap mata wanitanya.

 

“Sini,” tangan Yessa meraih pinggang perempuan yang ada di atasnya, memberi kode untuk mendekatkan selangkangannya. “Aku bisa bikin Mbak enak juga.”

 

Yessa sedikit merajuk. Bibirnya dimajukan sedikit, berusaha agar Kayla mengerti apa yang ia inginkan. Sebenarnya Yessa ingin berucap, tapi ia terlalu malu.

 

“Pake jari kamu, Sa?” Tanya Kayla berusaha mengkonfirmasi. Sayangnya dibalas gelengan kecil dari Yessa.

 

“Itu… Mbak dudukin aku.”

 

Pipi Yessa merona merah seiring dengan suaranya yang semakin mengecil karena menahan malu. Kayla hanya tertawa geli melihat tingkah Yessa, namun tidak segera menuruti apa yang kekasihnya inginkan.

 

“Ayo, Mbak. Remember I'm a big girl, right?” Yessa berucap dengan bangga sampai akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

Kedua tangan Kayla memegang kayu sandaran kasur sambil mendekatkan bagian intimnya pada bibir Yessa.

 

Desahan kecil mulai terdengar. “Yessa… ahh fuck—”

 

Ini pertama kalinya Kayla merasakan bibir Yessa melumat habis pusatnya. Bunyi decakan saliva dan cairan Kayla beradu mengisi sudut ruangan. Terdengar jelas di indera pendengarannya.

 

Pinggul Kayla sesekali digerakkan untuk mengejar nikmatnya. Tangan Yessa juga dikaitkan pada pangkal paha Kayla, memastikan ia tetap dapat melumat pada titik nikmatnya.

 

“I-iyaaahh aahh disitu, Sa.”

 

Kedua tangan Kayla beristirahat di atas gundukan dadanya sendiri, sambil memainkannya perlahan—memberikan sensasi nikmat untuk dirinya sendiri.

 

Beberapa kali hidung mancung Yessa bertemu dengan klitoris Kayla, menyentuh titik sensitif itu dan berhasil membuat Kayla memekik geli. “Sensitif disitu.. ahh— hnngghh,”

 

Alis Kayla berkerut berusaha menahan nikmatnya. Sampai akhirnya desahan panjang lolos, menandakan ia sudah mencapai putihnya. Tubuh Kayla sedikit bergidik karena pelepasannya yang cukup intens.

 

Yessa memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada paha Kayla, sekaligus menciumi kulit sekitar selangkangannya, menimbulkan rasa geli pada sang pemilik.

 

Tidak perlu waktu yang lama, Kayla sudah kembali merebahkan tubuhnya di samping Yessa. Menatap sisi kiri wajah belahan jiwanya.

 

Ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak memberikan ciuman-ciuman kecil di sana.

 

Yessa-nya terlalu indah.

 

“Makasih ya, Yessa. Tadi itu indah banget.” Senyum manis tidak bisa lepas dari wajah Kayla, yang hanya dibalas sebuah pelukan dari Yessa.

 

“Aku yang makasih. Mbak udah mau coba berhenti merokok demi aku.” Tangan Yessa didaratkan ke atas perut rata Kayla. Jari telunjuknya menggambar asal di atas kulit cokelat manis milik Kayla.

 

“Iya lagian apa enaknya juga sih rokok?” Kalimat Kayla terpotong, untuk menoleh ke arah Yessa. “Orang lebih enak nenen sama kamu.”

 

Jari Yessa yang tadi mengusap lembut perut Kayla, malah sekarang mendaratkan cubitan kecil di sana.

 

Mbak Kayla ini cantik cantik mesum ya.

 

Tapi nggak apa-apa deh, daripada ngerokok kayaknya mending dia nenen aja. 

Series this work belongs to: