Actions

Work Header

The Orion

Summary:

Narumi Gen dan Hoshina Soshiro, dua murid kebanggaan Hogwarts yang sejak awal tak pernah akur. Pertengkaran membawa mereka pada pertemanan, lalu perlahan tumbuh menjadi rasa. Namun tak seorang pun yang berani memulai, dan tak seorang pun yang benar-benar mengakhiri.

Work Text:

Narumi Gen benci Hoshina Soshiro.

Bukan benci yang ringan, melainkan benci yang mendidihkan darahnya setiap kali Ravenclaw itu membuka mulut, atau sekadar berdiri di sekitarnya.

 

Sejak tahun pertama, mereka sudah saling bertolak belakang. Narumi, dengan rambut acak-acakan dan suara lantangnya, selalu menjadi pusat perhatian Gryffindor—apalagi ketika bakatnya di Quidditch mulai bersinar. Sementara Hoshina, dengan senyum tipis dan tutur kata tenang, membuat murid lain merasa bodoh setiap kali ia mengoreksi mereka.

 

“Kalau kau terus salah ucap, Narumi, kau akan berubah jadi kucing, bukan cangkir,” komentar Hoshina pada kelas Transfigurasi di tahun kedua. “Ve-ra Ver-to,” lanjutnya dengan nada khas yang membuat murid lain menahan tawa.

 

Narumi mengetukkan tongkat sihirnya ke meja. “Kalau kau terus sok pintar, aku bakal melemparmu ke kandang kucing!”

 

Kelas pun pecah dengan gelak tawa. Sejak hari itu, semua orang tahu: Narumi dan Hoshina adalah api dan air. Mustahil bersatu.

 

Bertahun-tahun berlalu, pola itu tak pernah berubah. Narumi selalu mencari cara untuk menjauhkan Hoshina dari pandangannya, sementara Hoshina selalu punya kalimat untuk membalikkan perkataan Narumi. Hingga tanpa terasa, mereka sudah duduk di tahun keenam.

 

Suatu pagi, di lorong menuju menara astronomi, Narumi kembali beradu mulut.

“Minggir, Hoshina!” serunya.

“Memangnya Hogwarts punya nenekmu? Semua orang bebas lewat. Oh—atau kau masih dendam karena nilai O.W.L.-ku lebih tinggi?” balas Hoshina, tepat sasaran.

 

Urat emosi jelas terlihat di dahi Narumi. “Hah?! Tapi piala Quidditch dan piala asrama tetap milik Gryffindor. Jadi jelas aku jauh lebih baik darimu, Kepala Mangkok!” bentaknya sambil menunjuk tepat di depan wajah Hoshina, lalu bergegas pergi sebelum Hoshina sempat membalas.

 

Hidup selalu punya cara aneh mempermainkan orang.

 

Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, Profesor Sinistra membacakan pembagian kelompok untuk proyek astronomi semester ini.

“Untuk pengamatan rasi Orion: Narumi Gen dari Gryffindor dan Hoshina Soshiro dari Ravenclaw.”

 

Narumi hampir berteriak.

“Aku keberatan, Profesor!”

“Dengan segala hormat, saya juga keberatan. Saya yakin kalau tugas ini hanya saya yang akan mengerjakan,” timpal Hoshina, mengangkat tangan dengan tenang.

 

“Oi! Jangan sok jenius!” sahut Narumi cepat.

 

Profesor Sinistra hanya menghela napas. “Sayang sekali, tidak ada perubahan. Kalian sudah mendapat pasangan masing-masing. Tugas ini wajib dikerjakan bersama. Terima kasih.”

 

Begitulah, dimulailah malam-malam panjang di menara astronomi. Awalnya penuh pertengkaran—bahkan jadwal pengamatan pun mereka debatkan, hingga akhirnya Profesor Sinistra memutuskan hari Rabu untuk mereka.

 

Narumi menggambar rasi bintang yang mirip kucing gemuk.

“Itu Orion, bukan kucing,” desis Hoshina.

Narumi bersikeras. “Di mataku itu jelas bentuk Orion.”

 

“Lihat tiga bintang itu—itu sabuk Orion. Dari situ tarik garis ke panahnya,” jelas Hoshina sambil menggambar.

“Hah! Langit penuh jutaan bintang, dan kau suruh aku memperhatikan tiga saja? Tiga bintang yang mana?” protes Narumi keras kepala.

 

Hari-hari berjalan. Meski masih sering berdebat, perlahan suasana berubah. Narumi mulai serius bertanya tentang bintang, walau jawabannya sering meleset. Hoshina, meski tampak kesal, diam-diam kagum pada rasa ingin tahu Narumi. Sementara Narumi—walau terus menyangkal—menyadari kalau Hoshina benar-benar hidup ketika berbicara tentang bintang.

 

Pertengahan Oktober, hujan meteor melintasi langit. Narumi sulit tidur, memanjat menara astronomi. Ia menemukan Hoshina sudah di sana, berdiri sendiri menatap langit.

“Apa kau selalu begini? Sendirian?” tanya Narumi pelan.

“Bintang lebih mudah dimengerti daripada manusia,” jawab Hoshina tanpa menoleh.

 

Narumi terdiam, lalu berdiri di sampingnya. Cahaya bulan purnama menyorot wajah Hoshina. Untuk pertama kalinya, Narumi menyadari betapa indahnya sorot mata scarlet itu.

 

The moon is beautiful, isn’t it?” bisik Hoshina lembut. Tatapannya tetap pada bulan.

 

Narumi hanya bergumam, mengangguk singkat. Keduanya terjebak dalam keheningan. Malam itu mereka duduk berdampingan hingga fajar, tanpa kata lain.

 

Setelahnya, hubungan mereka kembali seperti semula. Masih saling sindir, saling ejek, saling beradu mulut. Namun tatapan mereka berubah—lebih lama, lebih dalam. Sesuatu menggantung di udara, tak pernah benar-benar terucap.

 

Suatu malam, hampir ketahuan Mrs Norris di perpustakaan, mereka berlari keluar, terengah, tertawa kecil di lorong gelap.

“Aku benci kamu, Hoshina,” bisik Narumi tanpa sadar. “Tapi aku lebih benci kalau kamu jauh dariku.”

Hoshina hanya menunduk, tersenyum samar, tanpa memberi jawaban.

 

Hari-hari terus berjalan. Hingga akhirnya, tiba saat kelulusan. Great Hall dipenuhi cahaya lilin melayang, sorak, dan isak perpisahan. Narumi menerima penghargaan sebagai kapten Quidditch, namun matanya hanya mencari satu sosok.

 

Ia menemukannya—Hoshina, berdiri bersama Ravenclaw, senyum tenangnya tetap sama. Narumi ingin melangkah, ingin mengungkapkan semua yang dipendam tentang bintang, tentang hujan meteor, tentang perasaan yang tak pernah padam. Namun langkahnya terhenti beberapa meter darinya.

 

Hoshina menoleh sekilas, hanya sebentar, lalu berpaling lagi. Tanpa senyum, tanpa salam.

Narumi terdiam, membiarkan Hoshina berlalu. Mereka berpisah tanpa kata.

 

 


 

Tahun-tahun berlalu. Narumi sering menatap langit malam, mencari Orion yang pernah mereka gambar bersama. Setiap kali melihatnya, dadanya terasa penuh—kerinduan tanpa alamat. Ia tak tahu di mana Hoshina kini berada. Mungkin sibuk meneliti bintang di tempat jauh, mungkin tak pernah lagi mengingatnya.

 

Narumi menjadi Auror sekaligus pemain Quidditch profesional. Namun, bahkan di kementerian sihir, ia tak pernah menemukan Hoshina. Usahanya menelusuri silsilah keluarga Hoshina tak banyak membantu—keluarganya hanya berkata bahwa Hoshina sedang mengejar apa yang ia inginkan.

 

Malam itu, sehari sebelum Piala Dunia Quidditch di Jepang, Narumi duduk di tepi sungai, menatap bulan purnama.

 

“Hey, kau tahu arti tsuki ga kirei desu ne?” tanya seorang anak pada temannya.

The moon is beautiful, isn’t it. Itu artinya ‘aku mencintaimu’ kalau di Jepang,” jawab anak satunya.

 

Seperti tersiram air es, tubuh Narumi merinding. Jantungnya berdegup liar. Hoshina pernah mengucapkan itu—malam ketika bulan purnama bersinar paling indah. Dan ia… sama sekali tak mengerti maksudnya.

 

‘Hoshina juga menyukaiku,’ batinnya bergetar. Penyesalan menghantam dirinya.

 

Tanpa menunggu, Narumi berlari kembali ke penginapan timnya. Ia bersumpah, setelah pertandingan selesai, ia akan mencari Hoshina ke mana pun ia pergi. Kali ini, ia akan mengucapkan segalanya—tanpa menyisakan satu pun kata.