Chapter Text
Pertama kali Jeonghan bertemu Joshua adalah di dalam lift apartemen yang akan membawa Jeonghan ke basement floor. Jeonghan yang saat itu akan pergi menemui orang tuanya, yang kebetulan datang dari kota asalnya, menahan pintu lift saat ada satu suara yang meminta untuk menunggu.
Kesan pertama yang Jeonghan pikirkan tentang Joshua adalah bahwa, Joshua adalah seseorang yang ramah dan baik. Mengingat bagaimana ia mengucapkan terima kasih dengan senyum ramah yang memiliki kesan hangat bagi yang menerima. Tidak banyak percakapan yang mereka ucapkan, karena memang ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Jeonghan yang baru saja pindah unit apartemen, hanya berpikir bahwa Joshua adalah tetangga apartemen yang tinggal di satu lantai yang sama dengannya. Mereka berpisah ketika Joshua harus turun di lobby floor, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan menghilang dari pandangan Jeonghan.
Pertemuan kedua mereka, ketika Joshua sedang memilah sampah sesuai dengan kategori yang ada di bank sampah di lingkungan unit apartemen. Hari itu hari Sabtu, pagi yang cukup cerah dengan matahari yang mulai menyebarkan kehangatannya untuk mereka yang sedang ingin beraktivitas diluar ruangan. Terutama untuk Joshua yang berniat untuk jogging di area lari yang tersedia. Jeonghan yang menyapa Joshua lebih dulu, dan balasan dari Joshua membuat mereka berdua berakhir jalan pagi bersama.
Pertemuan ketiga dan selanjutnya tidak ada yang berbeda. Selalu Jeonghan yang lebih dahulu untuk menyapa Joshua. Baik ketika mereka bertemu di supermarket yang ada di lantai bawah gedung apartemen mereka, bertemu di lift, atau di tempat-tempat lain yang tidak terduga bahwa mereka akan atau bisa bertemu. Mereka berdua menjadi sedikit lebih akrab setelah pertemuan keenam.
Pertemuan keenam mereka bertempat di cafe yang ada di seberang kompleks apartemen. Sore itu, Jeonghan bisa pulang lebih cepat daripada hari-hari sebelumnya karena pekerjaan yang tidak begitu padat dan ia memilih untuk bersantai menikmati segelas kopi susu panas di hari Jumat yang mendung. Lonceng pintu berbunyi, membuat perhatian Jeonghan beralih dari jalur lalu lintas yang cukup padat di jam pulang kerja. Dari tempatnya duduk, Jeonghan bisa melihat rambut agak panjang berwarna coklat yang familiar, sedang mengantri di depan meja pemesanan sembari memainkan ponselnya. Jeonghan bisa saja langsung memanggil Joshua, namun urung karena laki-laki dengan senyum manis itu terlihat sibuk membalas pesan, disusul dengan menerima telepon.
Jeonghan melambaikan tangannya ke arah Joshua dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Ajakan darinya agar Joshua yang membawa nampan kecil berisikan kopi, untuk duduk di depannya. Sedang yang dipanggil sempat diam sebentar, sebelum balas tersenyum, menganggukkan kepala dan duduk di depan Jeonghan. Mereka baru mengetahui pekerjaan masing-masing setelah kopi di gelas Jeonghan hampir habis.
Jeonghan bekerja sebagai seorang model yang dinaungi sebuah agensi, walaupun skalanya masih belum sebesar model internasional dan/atau sebagai profesional model, tapi nama Jeonghan cukup dikenal di kota metropolitan ini, juga di kalangan model. Kalian bisa melihat wajah Jeonghan di beberapa papan iklan atau di beberapa brand yang memilih Jeonghan untuk menjadi representatif brand mereka.
Sedangkan Joshua, ia bekerja sebagai salah satu game developer di perusahaan game yang ada di pusat ibukota. Jam kerjanya cukup fleksibel, ia hanya perlu ke kantor jika ia ingin, karena kenyamanan tempatnya bekerja adalah yang utama. Joshua tidak bisa bekerja jika berada di lingkungan kerja yang bisa membuatnya stres. Jadilah, kadang ia berada di kantornya di lantai sepuluh, atau di unit apartemennya yang ia sulap menjadi tempat ternyamannya.
“Berarti sering ke luar kota dan luar negeri, ya?” Tanya Joshua sembari tangan kanannya memotong carrot cake menggunakan garpu kue. Melahapnya tanpa melepaskan pandang dari Jeonghan yang juga sedang memfokuskan pandangnya ke Joshua.
Jeonghan menyandarkan punggungnya ke punggung kursi berwarna coklat tersebut. Wajahnya sedikit terlihat lelah, namun ia menikmati semua proses ini. “Belum sesering itu. Mungkin cuma 2-3 kali dalam sebulan. Bukan yang setiap hari harus mobile back to back. Aku belum sebesar itu, Shua.” Jeonghan mengamati bagaimana cara Joshua makan, pipinya akan menggembung dan kedua alisnya akan mengkerut untuk bertemu di garis tengah tiap kali indera perasanya merasakan rasa enak. Sangat lucu di mata Jeonghan.
“Semoga nanti bisa lihat kamu jadi ambassador luxury brand ya, Jeonghan.” Jeonghan mengaminkan harapan Joshua. Menutup hari Jumat sore dengan menghabiskan waktu dengan tetangga unit apartemennya, bukanlah suatu hal yang buruk bagi Jeonghan.
Joshua hari ini mengenakan kaos putih, celana pendek dan cardigan berwarna hitam. Tangan kirinya membawa tas jinjing yang berisikan laptop dan tangan kanannya membawa ponsel pintar. Jari-jarinya menari di atas layar dengan lincah, membalas beberapa pesan dari teman-temannya yang berisikan ajakan untuk menghabiskan waktu akhir pekan mereka di salah satu bar tempat langganan mereka untuk bersenang-senang. Joshua menolak ajakan tersebut dengan alasan bahwa ia memiliki pekerjaan tenggat waktu yang harus ia selesaikan besok malam.
Pintu lift yang ia naiki terbuka. Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, Joshua melangkah keluar, meyakini bahwa ia sudah sampai di parkiran apartemennya. Hingga satu suara membuat fokus Joshua teralih dan mencari sumber suara. Di depannya ada seseorang dengan rambut berwarna pirang cerah berjalan menghampirinya dengan senyum yang sangat lebar.
Joshua bergeming. Ia tidak melepaskan pandangnya pada sosok yang berjalan menghampirinya. Alisnya berkerut, sedang otaknya berusaha mencari-cari file yang sekiranya bisa ia gunakan untuk memberikan sapaan balasan pada orang di depannya. Rasa panik yang sedari tadi Joshua tahan, mulai muncul dan sedikit demi sedikit membuat Joshua ingin berlari pergi. Debaran jantungnya menjadi sangat cepat, tangannya tiba-tiba berkeringat seiring laki-laki dengan rambut pirang itu mendekatinya.
“Shua?” Joshua berusaha mengingat-ingat suara yang terasa familiar, namun tidak sepenuhnya familiar seperti suara Mamanya atau salah satu sahabatnya. Tetapi nihil. Kepalanya tidak berhasil mengingat siapapun orang itu. Joshua mengerjap-ngerjapkan matanya cepat, kedua tangannya kini menangkup menjadi satu, berharap-harap cemas bahwa itu adalah salah satu orang yang mengenalnya. Kepalanya masih berusaha mencari-cari kemungkinan siapa orang yang ada di depannya saat ini.
“Maaf, aku harus pergi.” akhirnya Joshua menyerah. Ia menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata atau apapun itu dengan orang di depannya. Kakinya dibawa berlari secepat detak jantungnya. Menghindari tatapan bingung atau mungkin yang sarat dengan hujatan jika ia masih berada disana untuk waktu yang lama.
Jeonghan berteriak memanggil Joshua yang berlari meninggalkan dirinya di lobby apartemen. Tanpa melepaskan pandangnya yang sarat dengan kebingungan, kekhawatiran juga cemas tentang apa yang terjadi pada Joshua. Jeonghan hanya ingin menyapal Joshua, saat ia melihat si rambut kecoklatan keluar dari lift. Namun, respon yang diberikan Joshua sangat bertolak belakang dengan apa yang Jeonghan bayangkan. Jeonghan kira, tetangga unit apartemennya itu akan balas menyapa dan menanyakan beberapa kalimat basa-basi, karena sudah hampir satu minggu mereka tidak saling berpapasan, sebab Jeonghan harus pergi ke luar kota untuk pekerjaan modelnya.
Alih-alih balasan sapaan, justru Jeonghan malah mendapatkan penolakan dari Joshua. Seolah Jeonghan adalah orang asing yang belum pernah Joshua temui. Seolah Jeonghan bukan tetangga apartemen yang sudah menjadi teman bagi Joshua. Ekspresi takut dan panik Joshua, masih Jeonghan ingat. Ia tidak pernah melihat teman apartemennya itu sepanik dan setakut itu sebelumnya. Biasanya, Joshua akan tersenyum kepadanya.
Apakah karena Jeonghan mengganti warna rambutnya menjadi pirang?
Jika memang itu penyebabnya, bukankah seharusnya Joshua tetap masih bisa mengenalinya? Apakah penampilan barunya ini benar-benar membuat Jeonghan tampak asing di mata Joshua? Tapi, menurut Jeonghan, tidak ada perubahan yang signifikan pada dirinya kecuali warna rambutnya yang berubah karena tuntutan pekerjaan. Wajahnya masih sama, mungkin sedikit lebih kurus dibandingkan pekan lalu, karena diet singkat yang harus ia lakukan sebagai salah satu bentuk profesionalitasnya, sebelum Jeonghan membawa dirinya sendiri berjalan di atas catwalk memamerkan detail dan indah dari jajaran pakaian yang menjadi koleksi berdasarkan musim yang akan datang.
“Kenapa? Kok kayak lihat hantu?” tanya Vernon, teman satu pemodelan Jeonghan, melihat Jeonghan berdiri mematung melihat pintu putar apartemen. Jeonghan menggeleng, masih dengan wajah bingungnya yang sudah tidak lagi melihat punggung Joshua.
“There is someone I know, tapi pas gue sapa dia lari kayak orang ketakutan.” Jeonghan mengimbangi langkah Vernon yang membawa mereka kedua ke cafe yang ada di deretan unit apartemen Jeonghan.
“Nggak kenal sama lo kali.”
“Kenal kok. Udah sering ketemu dan beberapa kali juga kami ngopi atau ngobrol juga.” Jeonghan menggeleng tidak setuju dengan tuduhan Vernon. “Apa karena rambut gue berubah jadi warna terang benderang gini ya?” lanjut Jeonghan sembari mengeluarkan dompet dan kartunya. Menyebutkan pesanan mereka dan membayarnya. “Gue terlalu ganteng sampai bikin shock kali ya?”
Vernon mengangkat alis kirinya, menggambarkan ketidak setujuan dari pernyataan Jeonghan. “Tau gue kenapa direktur milih lo buat ambil job yang kemarin.”
“Kenapa?”
“Soalnya tingkat percaya diri lo tinggi bener.”
Jeonghan tertawa. Tidak menolak atau menerima pujian atau mungkin sarkasme dari Vernon. Mengesampingkan pikirannya tentang Joshua yang berlari saat melihatnya tadi. Ia akan bertanya pada Joshua dilain waktu saat mereka berdua bertemu lagi. Setelah rangkaian fashion week milik Jeonghan selesai.
Tidak butuh waktu lama untuk Jeonghan melihat Joshua lagi. Jarak dua hari setelah peristiwa Joshua berlari saat Jeonghan menyapanya, hari ini Jeonghan bertemu dengan Joshua di area olahraga apartemen mereka yang berada di lantai sebelas.
Awalnya Jeonghan berniat untuk memanggil Joshua seperti yang ia lakukan tempo hari. Tetapi ia urung lakukan karena mengingat reaksi dan respon yang diberikan Joshua hari itu. Jadilah Jeonghan memilih menghampiri Joshua yang sedang duduk di pinggir kolam renang. Mengeringkan rambutnya yang basah setelah berenang.
Salah satu alasan Jeonghan memilih apartemen ini menjadi tempat tinggalnya, adalah karena fasilitas yang dimiliki juga lengkap. Ada gym, kolam renang, lapangan futsal indoor yang bisa ia gunakan kapanpun ia mau. Selain, karena lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota. Dan sekarang karena ia memiliki tetangga dan/atau ‘teman’ satu apartemen yang seusia dengannya, yang tampan dan ada kesan cantik menurut Jeonghan. Ya benar, Jeonghan merasa tertarik dengan Joshua yang sudah hampir tiga bulan ini menjadi tetangga apartemennya.
“Shua.” panggil Jeonghan pelan. Manik keduanya berinteraksi dan sekali lagi Jeonghan bisa melihat raut kaget dari wajah Joshua yang berada di depannya. Alis yang berkerut, tenggorokan yang menelan ludah seolah Joshua merasa terpojok oleh sesuatu yang menyeramkan dan membuatnya berada dalam keadaan yang menyesakkan.
“Shua, are you okay?” Jeonghan terkejut saat Joshua menghindar dari tangannya saat ia akan menyentuh bahu Joshua. Jeonghan menarik tangannya dan berdiri di depan Joshua yang kembali menunduk dengan mata terpejam. “Shua, it’s me, Jeonghan.”
Mendengar nama seseorang yang ia kenal, Joshua mengangkat kepalanya dan maniknya langsung bersirobok dengan milik Jeonghan yang menatapnya penuh kekhawatiran. Joshua mengamati dengan seksama wajah orang yang menyebutnya sebagai Jeonghan di depannya ini. Mencari ‘tanda’ bahwa Jeonghan yang ia kenal selama ini memang orang yang ada di depannya saat ini. Membutuhkan beberapa menit untuk Joshua mengenali Jeonghan di depannya, setelah ia berhasil menemukan tahi lalat di pipi Jeonghan. Seketika rasa bersalah disusul dengan rasa sesak memenuhi rongga dada Joshua.
“O-oh.. maaf, Han. Aku kira kamu orang lain.” Joshua menggigit bibirnya sebagai bentuk rasa bersalahnya. Ia menggeser tempatnya duduk, mengusap bekas basah dari celananya menggunakan handuk yang ia pegang. Meminta Jeonghan untuk duduk disebelahnya. Walaupun sebenarnya, Joshua masih merasa sedikit ragu karena warna rambut Jeonghan yang ia tahu bukanlah warna pirang seperti ini, harusnya hitam sampai minggu lalu.
Jeonghan duduk di sebelah Joshua setelah si rambut coklat memastikan kursi disebelahnya kering. “Kenapa bisa kepikiran orang lain, Shua?” Jeonghan tidak bisa menahan rasa penasaran yang menggerogoti dirinya sejak gestur penolakan yang diberikan Joshua tadi. Pikirnya, pasti ada sesuatu yang membuat Joshua tampak sangat takut dengan Jeonghan. Menunggu alasan yang masuk akal yang bisa diterima oleh Jeonghan.
Joshua mengalihkan pandang dari Jeonghan, menuju sekitar, kemanapun asalkan tidak ke Jeonghan. Memilih kolam yang berisikan buih-buih air yang muncul karena percikan gerak penghuni lain yang sedang berenang. Ragu dan tidak yakin apakah ia harus menjelaskan alasan utama mengapa ia seolah tidak bisa mengenali Jeonghan. “Karena rambut kamu nggak lagi hitam.” memilih untuk mengungkapkan separuh dari alasan sebenarnya.
“Hah? Gimana?” Jeonghan antara tidak mempercayai telinganya atau alasan yang diberikan Joshua. Namun, ia cenderung pada opsi kedua begitu mendengar jawaban Joshua setelah Joshua mengulang ucapannya lagi perihal alasan ia tidak mengenali Jeonghan dua hari lalu dan hari ini. “Serius karena rambut aku?”
Joshua mengangguk pelan. Tidak berani membalas tatapan dari Jeonghan yang dari nadanya saja, Joshua bisa menangkap bahwa Jeonghan sangat terkejut dengan jawabannya. Jujur saja, Joshua sudah terbiasa dengan respon yang diberikan oleh orang-orang yang mendengar alasan tidak masuk akal darinya jika ia tidak bisa mengenali orang lain hanya karena perubahan kecil dari mereka. Tetapi, entah, begitu ia mencoba memberikan penjelasan pada Jeonghan, rasanya Joshua takut jika Jeonghan menghakiminya.
“Emang rambut aku kenapa– no, maksudnya, emang aku ganti rambut bener-bener berdampak kamu nggak bisa ngenalin aku sejak dua hari lalu?” Jeonghan berusaha mencari perhatian Joshua, salah satu caranya dengan ia membawa wajahnya ke depan Joshua yang masih menghindari tatapannya. “Maksudnya, wajah aku kan tetep sama, Shua, yang berubah cuma–”
“Aku nggak bisa ngenalin wajah orang lain Jeonghan. Aku buta wajah..” Joshua berucap lirih. Ia menghela nafas panjang. Untuk pertama kalinya sejak lima belas menit lalu ia bertemu Jeonghan di area kolam renang, Joshua menatap ke dalam mata Jeonghan.
Jeonghan menelan ludahnya kelu. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Jawaban dari Joshua membuat Jeonghan merasa bersalah karena dugaan yang ia miliki sepenuhnya tidak benar. Bukan karena Joshua sombong, bukan karena Joshua tidak menganggap Jeonghan sebagai seseorang yang penting. Melainkan karena sesuatu yang bernama buta wajah yang bahkan Jeonghan tidak bisa membayangkan kondisi yang seperti apa.
‘Jadi, selama ini.. Joshua nggak bisa lihat wajah gue? Dia nggak ngenalin wajah gue?’
Hening. Tidak ada yang berbicara lagi setelah Joshua mengucapkan kalimat terakhir tadi. Jeonghan tidak memberikan respon. Laki-laki dengan rambut pirangnya yang pendek hanya mengerjapkan matanya sembari kepalanya masih berusaha memproses ucapan Joshua barusan.
Joshua memalingkan wajahnya dari Jeonghan yang diam. Matanya memancarkan kesedihan yang sedari tadi ia tahan untuk tidak ia tampakkan di depan Jeonghan. Joshua tahu, Jeonghan akan lebih mudah mengenali jenis ekspresi yang ada di wajah Joshua, tetapi itu tidak bisa Joshua lakukan dengan mudah, semudah Jeonghan mengenali ekspresi wajahnya. Joshua bisa mengenali ekspresi, ia bisa mengenali emosi yang ditampilkan lawan bicaranya. Tapi ia tidak bisa menggambarkan wajah lawan bicaranya dan itu sangat amat menyebalkan untuk Joshua. Ia hanya bisa mengandalkan ciri khusus atau karakter khusus yang dimiliki orang lain.
Joshua menelan ludahnya kelu. Harusnya menjadi hal biasa bagi Joshua, karena ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan tatapan menghakimi dan penuh keingintahuan dari orang lain, setelah mengetahui bahwa Joshua mengidap suatu penyakit yang langka. Yang bahkan Joshua sendiri saat menyadari bahwa ia tidak bisa mengingat wajah Mamanya sendiri, ia butuh waktu satu minggu untuk memahami penyakitnya, dan bertahun-tahun untuk menerima keadaannya. Apalagi bagi orang lain yang tidak mengalami sendiri, pasti membutuhkan waktu lebih lama.
“Shua, maaf, aku bingung harus kasih reaksi gimana.” Jeonghan menahan tangan Joshua yang beranjak dari duduknya. Menarik tangan Joshua untuk meminta menjelaskan lebih banyak tentang kebutaan wajah atau apapun itu. Jeonghan bisa melihat sirat kecewa dan sedih dari mata Joshua. Mungkin, Joshua tidak menyangka Jeonghan akan bereaksi seperti ini. Namun, jujur saja, Jeonghan sendiri masih bingung mendengar informasi yang masih sangat baru untuknya.
Joshua melihat tangan Jeonghan yang menggenggam pergelangan tangannya. Beralih ke wajah Jeonghan, yang bagi Joshua, mungkin wajah Jeonghan sama saja dengan orang lain. Joshua tidak mengetahui bagaimana rupa Jeonghan. Ia tidak mengetahui bagaimana bentuk mata, hidung, bibir dan fitur wajah lain milik Jeonghan. Yang dia tahu, hanyalah Jeonghan yang memiliki rambut warna hitam dan suaranya yang agak sedikit lebih ringan dibandingkan suara miliknya. Joshua tahu Jeonghan memiliki mata dengan warna sedikit kecoklatan, juga Joshua tahu Jeonghan memiliki hidung yang mancung. Hanya saja Joshua tidak bisa menggambarkan bagaimana rupa Jeonghan dalam suatu kesatuan. Membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk Joshua dapat menghafal atau membuat gambaran tentang rupa seseorang dengan metode yang selama ini pelajari dan lakukan. Dan Joshua tidak tahu apakah Jeonghan akan menjadi orang lain yang harus dihafalkan dan termasuk ke dalam daftar orang yang bisa ia gambarkan di kepalanya tentang bagaimana tampan atau menariknya rupa Jeonghan.
“Gapapa Jeonghan. Itu wajar kok. Semua orang yang aku tahu juga kurang lebih kasih reaksi yang sama kayak kamu.” Joshua berucap dengan tenang. Berusaha tidak menampakkan emosi sedih yang ia rasakan, walaupun dadanya rasanya seperti terhimpit benda berat.
Jeonghan tidak melepaskan genggamannya di lengan Joshua. Lebih memilih untuk mengeratkan daripada melepaskan. Matanya masih menatap Joshua dengan tatapan bersalah, juga sedih dan kecewa menyadari bahwa selama ini Joshua tidak bisa mengenali dirinya. Apakah ini artinya bahwa rasa tertarik dan mungkin rasa suka yang ia miliki tidak akan mendapatkan balasan dari Joshua?
“Shua,” panggil Jeonghan.
“Ya?”
“Aku mau tahu lebih banyak soal hal yang kamu bilang tadi. Boleh kalau aku minta waktu kamu buat jelasin ke aku lebih lengkap?”
Atau mungkin, bentuk cinta yang akan Jeonghan rasakan kali ini, berbeda dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Juga mungkin, ini adalah salah satu bentuk kerja sama dari semesta dan cupid untuk membuat dua insan yang masih sama-sama gamang dengan perasaannya untuk mengenal lebih jauh satu sama lain. Menemukan dan menyambungkan benang merah yang ujungnya akan saling terikat di ujung jari mereka secara imajinatif.
