Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-09-21
Words:
1,572
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
1
Hits:
14

"Oh, Maryam"

Summary:

Apakah pernah menyesal ketika suatu hari, kamu telah bertemu dengan manusia yang mungkin merupakan bidadari yang telah jatuh dari langit? Seolah Tuhan sendiri memastikan untuk meluangkan waktu-Nya agar manusia satu ini merupakan manusia yang paling sempurna di seluruh dunia. Namun, sepanjang waktu yang dihabiskan bersama, bukannya mengagumi dan menghargai orang tersebut apa adanya, malah membencinya. Sampai kebencian itulah yang membuat seorang itu menghilang dari dunia ini.

Notes:

ini tuh original work dari gue anjay buat tugas sekolah anyways feel free to read

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Penyesalan, atau menyesali, adalah perasaan tidak senang karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik. Kita semua pasti pernah merasakan hal seperti ini. Mungkin menyesal bahwa tidak belajar sebelum hari-H ulangan, sehingga mendapat skor yang kurang bagus. Atau, menyesal bahwa dalam seluruh tahun sekolah di SMA, tidak pernah berusaha untuk meraih prestasi untuk masa depannya nanti, sehingga kelihatannya hanya menganggur dan tidak akan bisa bersaing dengan teman-teman sekelas.

Tetapi, apakah pernah menyesal ketika suatu hari, kamu telah bertemu dengan manusia yang mungkin merupakan bidadari yang telah jatuh dari langit? Seolah Tuhan sendiri memastikan untuk meluangkan waktu-Nya agar manusia satu ini merupakan manusia yang paling sempurna di seluruh dunia. Namun, sepanjang waktu yang dihabiskan bersama, bukannya mengagumi dan menghargai orang tersebut apa adanya, malah membencinya. Sampai kebencian itulah yang membuat seorang itu menghilang dari dunia ini.

Maryam, namanya. Melambangkan kesucian dan pengabdian, serta diharapkan memberikan keutamaan-keutamaan takwa dan suci, yap, persis sekali sama orangnya. Maryam adalah murid baru yang telah datang di sekolahku saat kami memasuki tahun ketiga di SMP. Ia merupakan seorang yang sangat baik hati, suka menolong, peduli, dan tampaknya hanya memikirkan orang lain dan tidak pernah egois. Maryam disukai oleh semuanya di sekolah kami. Dia kadang-kadang membantu siswa lain ketika mereka memiliki masalah dengan tugas mereka. Atau langsung mengambil setengah dari apa yang dibawa guru ke ruang guru sehingga tidak terlalu berat. Sekarang, kamu pasti berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang tidak suka dengan gadis ini? Kedengarannya seperti hal yang sangat bodoh. Nah, "seorang" itu tidak lain adalah aku.

Maryam adalah gadis yang sangat cerdas dan selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi, dia adalah siswa terbaik di hampir semua ujian. Awalnya, aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, aku pun juga sering berbincang dengan dia tentang hal-hal yang ada di kepala kita. Tetapi, seiring waktu, amarahku mulai muncul setiap kali aku lihat namanya yang terpentang jelas di atas namaku. Kenapa tiba-tiba aku merasakan hal ini? Aku kan temannya, seharusnya aku bangga, bukan? Kenapa aku gak senang saat kita berdua bisa sampai di titik puncak itu? Kenapa bukan aku yang ada di paling atas? Kenapa selalu dia yang dipanggil ke depan setiap ada pengumuman siswa dengan nilai tertinggi? Kenapa bukan aku? Kenapa dia? Kenapa dia?!

Sebelum Maryam menjadi pusat perhatian, ada aku. Ya, aku adalah yang terpintar sebelum dia. Aku adalah orang yang berada di atas sebelum dia. Aku adalah orang yang dipuji para guru karena nilai-nilaiku yang luar biasa sebelum dia. Kedatangannya menanamkan kebencian yang mendalam di dalam diriku yang tidak pernah aku sadari sebelumnya. Sehingga, rasa kebencian itu berubah menjadi tindakan yang tidak akan pernah bisa aku maafkan selamanya.

***

Suatu hari, aku benar-benar tak tahan lagi. Keputusanku impulsif, ‘bawa dia ke tempat yang tenang, tempat yang tak seorang pun berani pergi, aku akan membawanya ke atap’, hanya itu yang terpikirkan di kepalaku. Seharusnya itu hanya obrolan singkat tentang bagaimana dia harus menyingkir dari jalanku. Tentang betapa lebih baik jika dia tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah ini sejak awal. Tapi aku tak pernah merasakan penyesalan yang lebih besar daripada apa yang telah kulakukan hari itu.

Kata-kata pahit terlontar dari lidahku bahkan sebelum aku sempat memahami apa yang telah kuucapkan. Kukatakan padanya betapa aku membencinya begitu parah. Namun tidak kuceritakan betapa aku membenci setiap kali dia tersenyum padaku, seperti mercusuar cahaya yang menerangi jalanku. Tidak kukatakan betapa aku membenci setiap kali bulan bersinar memantulkan cahaya matahari, dia juga bersinar dengan cara rambutnya yang berkilauan saat diterangkan oleh sinar bulan. Tidak kuberi tahu betapa aku benci setiap kali dia melihat nama kami berdua diatas nama-nama ranking tertinggi di kelas, dia akan dengan bersemangat menunjuknya seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat dia banggakan.

Ketika aku bilang aku tidak bisa menghentikan apa yang sedang kulakukan, aku bersungguh-sungguh. Rasanya seperti badai amarah terakhir yang kumiliki untuknya, menyerang kami berdua. Dia tidak siap, aku bisa melihat tatapan matanya. Matanya yang dulu tampak mampu menahan tatapan ribuan bintang yang bersinar begitu terang. Berkilauan saat dia menyerap setiap kata-kata terakhir yang terucap dari mulutku. Wajahnya yang dulu tampak seperti lukisan yang dibuat dengan begitu sempurna seolah-olah tidak ada satu kesalahan pun yang dibuat. Jatuh saat dia melirik wajahku dan melihat bahwa aku bersungguh-sungguh dengan setiap kata-kata terakhir.

Hanya napas terengah-engah yang bisa kudengar ketika tenggorokanku terasa kering. Maryam tidak bersuara. Bahkan suara kecil yang sesekali dia buat ketika dia pikir tidak ada yang memperhatikan pun tidak terdengar. Sampai,

"Mungkin kalau kamu terjun bebas dari atap sekarang, aku nggak akan sesedih ini."

Saat itu, Maryam sudah tidak tahan lagi. Mendengar langkah kaki tergesa-gesa keluar dari pintu atap, aku baru sadar apa yang telah kulakukan.

***

"Oh, Maryam"

Hanya itu yang kudengar di lorong-lorong sekolah, minggu berikutnya. Mendengar namanya berulang-ulang bagaikan melodi yang diramu dengan cermat hingga sempurna. Namanya sederhana namun begitu elegan, sesuai dengan kepribadiannya secara keseluruhan.

"Oh Maryam"

Itu dia lagi, rasanya ke mana pun aku pergi, alam semesta takkan berpihak padaku, seperti biasa. Telinga ku berdenyut setiap kali mendengar namanya seolah-olah sudah biasa orang-orang membicarakannya setiap hari. Membuatku bertanya-tanya apa yang istimewa tentang dirinya sehingga kapanpun dan kemanapun aku pergi, ia akan selalu ada seperti serangga yang tak mudah disingkirkan. Tidak, lebih seperti kupu-kupu yang akan melayang di atas bunga-bunga cantik sambil mencoba menjalin hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Namun, perbedaan antara aku dan bunga-bunga itu adalah hubungan itu lebih mirip parasit, dengan kupu-kupu cantik itu tak bergerak saat hinggap di daunku.

"Oh Maryam"

Sebenarnya, tidak terlalu mengejutkan untuk memulai topik hari ini dengan siswa paling terkenal dan sempurna yang pernah ada di sekolah ini. Yang mengejutkan adalah sepertinya hanya dialah yang dibicarakan semua orang saat ini. Namun, mendengar topik orang-orang hari ini adalah dia, membuatku mengingat kembali apa yang kukatakan padanya 'hari itu'.

"Oh Maryam"

Seperti cacing parasit yang merasuki pikiranku, karena yang bisa kupikirkan hanyalah dia. Matanya yang suka menyipit setiap kali dia fokus pada sesuatu. Rambutnya yang selalu berkilau memantulkan cahaya, kapan pun waktunya. Mulutnya yang melengkung membentuk senyuman, apapun situasinya. Kehadirannya yang utuh membuatmu merasa semuanya akan baik-baik saja selama dia ada di sisimu. Namun, pikiran-pikiran itu lenyap karena kabar terakhir tentangnya hari itu adalah yang membuatku hancur.

***

Ternyata sehari setelah 'insiden' itu, adalah hari di mana dia bunuh diri. Semua orang terlihat sengsara ketika berita itu tersebar. Para siswa dan guru sudah merencanakan bagaimana mereka akan menghadiri pemakaman nanti sore. Mereka jelas patah hati dan bertanya-tanya apa yang mendorongnya untuk melakukan ‘itu’ pada dirinya sendiri. Betapa egoisnya dia meninggalkan keluarganya yang jelas-jelas mencintainya sambil memendam semua masalahnya sendirian. Betapa sedihnya orang tuanya ketika mereka mendengar apa yang dilakukan putri mereka.

Sedangkan aku, aku dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawabannya. Mengapa dia melakukan itu? Dia jelas memiliki hal-hal baik yang akan terjadi padanya, jadi mengapa harus meninggalkan dunia ini untuk selamanya? Apakah ada sesuatu yang telah aku lakukan? Tidak, apakah beberapa kata terakhir yang kukatakan kepadanya yang telah menghantuiku selama beberapa hari terakhir sesaat aku tidak bisa melihatnya? Apakah itu yang membuat Maryam mencapai titik puncaknya?..

Empedu mengalir deras ke tenggorokanku saat aku bergegas ke toilet setelah memikirkan hal buruk itu. Hanya suara denging yang terdengar di telingaku saat aku memuntahkan apa pun yang kumakan pagi itu. Hanya napas terengah-engah yang tersisa saat aku terisak-isak di tengah kekalutanku. Air mata mengalir deras di wajahku karena yang bisa kupikirkan hanyalah gema kata-kataku yang terakhir kukatakan padanya.

"Mungkin kalau kamu terjun bebas dari atap sekarang, aku nggak akan sesedih ini."

Aku tak tahan lagi. Aku meninggalkan harga diriku di toilet dan bergegas keluar gedung secepat mungkin. Aku berlari dan berlari keluar dari area sekolah sampai kakiku tak sanggup lagi. Aku tertatih-tatih melewati rerumputan dan menatap langit dengan mataharinya yang begitu bersinar di cakrawala seolah tak sabar untuk memulai hari baru. Tangisanku yang tak pernah berhenti sejak aku kabur dari sekolah entah bagaimana semakin deras saat pikiranku kembali pada apa yang selalu ada di benakku. Maryam.

Maryam, yang merupakan lambang kesempurnaan yang tertanam dan membuat dirinya dikenal dalam hidupku. Maryam, yang selalu ada untuk orang lain, yang tidak pernah menganggap dirinya remeh, dan akan selalu bersimpati kepada semua makhluk hidup. Maryam, yang selalu tersenyum ketika duduk bersama teman-temannya, yang selalu membuatku bertanya-tanya bagaimana dia bisa duduk di sana dan tertawa dan terlihat begitu cantik. Maryam, seorang gadis yang meninggalkan dunia ini terlalu cepat.

***

Tik, tik, tik

Hujan turun dari langit saat aku berdiri di samping makamnya. Buket bunga yang kubeli untuknya, seharusnya tak seindah ini di tengah basahnya hujan. Namun, bunga itu tetap berdiri kokoh seolah telah beresonansi dengan jiwa Maryam di balik liang lahat. Rasanya setelah bertahun-tahun, aku masih tak bisa melepaskannya. Seandainya saja dia bisa melihatku seperti sekarang, akankah dia tetap menatapku seperti saat melihat nama kami berdua di peringkat teratas kelas? Tatapan bangganya saat dia menunjuk ke atas dan berkata kepadaku, betapa dia tak sabar untuk menjalani perjalanan sulit ini bersama, mengakhiri tahun ajaran ini berdampingan. Jadi kenapa, Maryam? Kenapa kau memutuskan untuk pergi? Kenapa kau memutuskan untuk meninggalkanku?

"Oh, Maryam" adalah kalimat yang selalu terngiang di telingaku selama bertahun-tahun setelah kematiannya. Sebagian diriku bersyukur aku tak pernah bisa melupakannya, seakan-akan itu adalah konsekuensi yang harus kubayar setelah mengucapkan kata-kata penuh kebencian yang membuatnya mengakhiri hidupnya. Sebagian diriku yang lain, selalu meyakinkan sendiri bahwa Maryam selalu kesakitan, bahwa ia berterima kasih padaku atas kata-kata yang kuucapkan padanya agar ia terbebas dari penderitaannya. Namun tentu saja, semua itu adalah keegoisan yang pada akhirnya harus kulupakan. Namun, yang tak berani kulupakan adalah penyesalan yang selalu membebaniku selama bertahun-tahun.

Dan untuk Maryam, aku kini menyadari bahwa aku akan melakukan apa pun untuk memastikan bahwa ia setidaknya bisa beristirahat dengan tenang.

Notes:

kritikin pls