Work Text:
“Ahh, kenyang bangettt…” seru Mingyu sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, setelah menelan suapan terakhir dari makan malam itu.
“Enak kan masakan gua?” tanya Seungcheol dengan senyum puas, jelas bangga melihat Mingyu yang kelihatan begitu menikmati.
“Alah, orang gua bantuin juga,” Mingyu mendengus kecil, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan.
Seungcheol terkekeh, lalu mulai menumpuk piring dan mangkok kotor di meja sebelum meneguk habis sodanya. “Pengen dessert deh gua. Lu mau nggak, Gyu?” tanyanya sambil berjalan ke arah dapur.
“Ah, gua udah kenyang banget. Nggak sanggup kalo harus makan dessert lagi,” jawab Mingyu, ikut berdiri dan mengikuti Seungcheol. “Emang lu punya apa?”
“Bentar, gua cek dulu,” gumam pria leo itu sambil membuka kulkas. Tangannya menggeser beberapa kotak susu dan buah, sampai matanya menangkap sebuah botol whipped cream spray. Ia meraihnya cepat, lalu menoleh pada Mingyu dengan senyum penuh arti. “Nah, ini ada.”
“Dih, whipped cream? Ada kuenya emang?” Mingyu mengernyit bingung, menatap botol itu.
Seungcheol malah tersenyum makin lebar, ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca. “Nggak ada,” jawabnya santai, “tapi gua tau sesuatu yang lebih enak dimakan pake ini daripada kue.”
Mingyu mengangkat alis, matanya menyipit curiga melihat senyum licik yang terpasang di wajah Seungcheol. “Apaan lagi, Cheol…” suaranya meninggi sedikit, setengah penasaran setengah waspada.
Seungcheol melangkah mendekat, botol whipped cream itu tergenggam erat di tangannya. Ia mencondongkan tubuh, membuat Mingyu sedikit mundur hingga punggungnya menyentuh pinggiran meja dapur. “Gua bilang kan, gua tau yang lebih enak,” bisiknya, sebelum jari telunjuknya menekan ujung botol.
Pssst— suara spray terdengar, dan seketika whipped cream mendarat manis di ujung hidung Mingyu.
“YAA!” Mingyu langsung terbelalak, tangannya refleks menutupi wajah, tapi Seungcheol malah terkekeh puas.
“Lucu banget sih lu,” katanya sambil menyapukan jempolnya ke hidung Mingyu, membersihkan sedikit cream… lalu tanpa ragu menjilatnya. Tatapannya sengaja nggak lepas dari mata Mingyu.
Mingyu terdiam, tenggorokannya bergerak menelan ludah, dan wajahnya memerah seketika. “Lu—lu apaan sih…” suaranya melemah, tapi tangannya nggak benar-benar menyingkirkan Seungcheol.
“Dessert gua, ya elu,” balas Seungcheol pelan, senyum penuh arti terulas di bibirnya.
Sebelum Mingyu sempat membalas, Seungcheol sudah menunduk, mencium bibirnya perlahan, masih ada rasa manis whipped cream yang tertinggal. Ciumannya singkat, tapi cukup bikin Mingyu terdiam tak berkutik, jantungnya berdegup kacau.
Botol whipped cream di tangan Seungcheol kembali terangkat, siap menyemprotkan lagi entah ke mana. “Kayaknya gua masih laper deh…” gumamnya nakal,
Mingyu masih mendorong dada Seungcheol sambil setengah menunduk, pipinya memerah sekali. Tapi tatapannya tetap mengikuti botol whipped cream di tangan pria itu.
“Cheol… jangan aneh-aneh deh,” gumamnya, suara rendah tapi jelas bergetar.
Seungcheol malah tersenyum makin nakal. Ia menaruh botol itu di meja sebentar, lalu jemarinya dengan mudah menarik kaos Mingyu ke atas, memperlihatkan kulit mulus dan dada bidangnya. “Lu pikir gua bakal diem aja setelah liat ini?” bisiknya, wajahnya mendekat ke leher Mingyu.
Mingyu menggeliat kecil saat ciuman lembut mendarat di bawah rahangnya, lalu turun perlahan ke bahu. “Cheol…” suaranya terdengar setengah protes, tapi tubuhnya sama sekali tidak menolak.
Seungcheol mengambil lagi botol whipped cream, jari telunjuknya menekan tuasnya. Pssst—garis putih manis itu mendarat tepat di atas salah satu puting Mingyu.
“A-astaga…” Mingyu menahan napas saat dingin dari whipped cream itu menyapa permukaan kulitnya, matanya membulat. Tapi sebelum sempat berkata lebih, Seungcheol sudah menunduk, bibirnya menempel, menjilat whipped cream itu dengan lembut.
Rasanya manis bercampur hangat kulit Mingyu, dan suara desahan halus lolos dari bibir pria yang lebih muda itu. Tangannya otomatis mencengkeram rambut Seungcheol.
“Cheol… itu—” Mingyu tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Seungcheol menegakkan badan, menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum puas. “Gua bilang kan, lebih enak daripada kue.”
Ia menyemprotkan sedikit lagi whipped cream ke sisi dada lainnya, kali ini dengan tatapan penuh tantangan. “Siap jadi dessert gua, Gyu?”
Mingyu menutup wajahnya dengan satu tangan, tapi senyum malu-malu dan napas tersengal jelas mengkhianati dirinya. “Lu gila, Cheol…” bisiknya—namun tubuhnya tetap diam di tempat, menunggu apa yang akan dilakukan berikutnya.
Seungcheol menunduk lagi, bibirnya menelusuri whipped cream yang menempel di dada Mingyu. Lidahnya bergerak pelan tapi dalam, bikin Mingyu tak bisa menahan desahan rendah yang lolos dari tenggorokannya. Jemari panjang Mingyu bahkan ikut mencengkeram tepi meja dapur, seolah itu satu-satunya penopang saat kakinya mulai terasa lemas.
“Cheol… ah—” suaranya pecah, membuat Seungcheol semakin bersemangat.
Tanpa peringatan, Seungcheol melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Mingyu, lalu dengan sekali gerakan mengangkat tubuh tinggi pria itu, mendudukannya di atas meja dapur. Botol whipped cream sempat terguling ke samping, tapi dibiarkan begitu saja.
Mingyu terbelalak, tangannya otomatis melingkar di bahu Seungcheol. “Gila, kuat banget lu,” gumamnya dengan napas terengah.
Seungcheol hanya terkekeh, tangannya dengan susah payah berusaha menurukan celana Mingyu, dan membiarkannya menggantung di ujung kakinya, lalu mengusap paha Mingyu yang kini terbuka lebar di tepi meja. “Gua udah bilang, gua masih laper kan?” bisiknya. Ia kembali mengambil botol whipped cream, kali ini menyemprotkan garis manis memanjang dari perut Mingyu ke bawah.
Mingyu langsung menggigit bibirnya, wajahnya merah padam. “Cheol, jangan—”
Tapi Seungcheol sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menelusuri jalur manis itu, lidahnya menjilat habis whipped cream sedikit demi sedikit. Mingyu nyaris roboh ke belakang, tangannya menahan di permukaan meja, kepalanya menengadah saat tubuhnya dipenuhi sensasi manis bercampur panas.
Setiap kali Seungcheol berhenti untuk menatapnya, tatapan matanya tajam sekaligus penuh kasih, membuat Mingyu makin tak bisa mengelak.
“Lu emang dessert paling enak, Gyu,” gumam Seungcheol sebelum melanjutkan, semakin turun, semakin dalam, hingga desahan Mingyu makin tak terkendali.
—
Mingyu masih terengah, tubuhnya nyaris roboh di meja saat Seungcheol belum juga berhenti. Bibir pria Leo itu basah oleh whipped cream dan napasnya kasar, tapi matanya masih berkilat penuh nafsu.
Tangan besar Seungcheol turun ke paha dalam Mingyu, jemarinya mengusap lembut lalu menekan. Mingyu langsung menggeliat, tubuhnya tegang seketika. “C-Cheol… jangan—” suaranya lemah, lebih terdengar seperti rintihan manja ketimbang penolakan.
Seungcheol mengambil botol whipped cream yang tergeletak di samping mereka. Dengan senyum nakal, ia menyemprotkan sedikit tepat di antara paha Mingyu. *Pssst—* suara kecil itu diikuti cairan putih kental yang langsung dingin di kulit hangat Mingyu.
“Cheol!” Mingyu memekik, tubuhnya melenting kecil.
“Shh… relax, Gyu,” bisik Seungcheol, tangannya mulai menyebarkan whipped cream itu dengan jemari. Sensasinya licin, manis, dan panas sekaligus.
Jari Seungcheol lalu menekan masuk perlahan. Mingyu terisak, tangannya otomatis mencengkeram tepi meja, matanya terpejam rapat. “Ahhh—Cheol… gila…” desahnya, suaranya pecah.
Seungcheol mencium lehernya sambil terus menggerakkan jari di dalam, pelan tapi mantap, sementara tangan satunya kembali memutar dan mencubit puting Mingyu yang sudah basah. Setiap gerakan terasa ganda—di dada, di bawah—membuat Mingyu benar-benar tak berdaya.
“Manis banget… dan basah banget gara-gara cream ini,” gumam Seungcheol di telinganya, nadanya rendah dan penuh kuasa.
Mingyu hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya berguncang hebat. “Cheol… gue—nggak kuat…” suaranya nyaris terisak, tapi bokongnya malah reflek menekan ke arah jemari Seungcheol, mencari lebih.
Seungcheol terkekeh, lalu menambahkan satu jari lagi. Mingyu menjerit pendek, kepalanya terlempar ke belakang. Sensasi licin whipped cream yang melumuri gerakan itu bikin semuanya makin intens, makin kotor, tapi juga tak tertahankan nikmatnya.
“Bagus… Malam ini gua nggak akan berhenti sampai lu bener-bener habis buat gua,” ucap Seungcheol, napasnya berat tapi penuh kendali.
Jari-jari Seungcheol bergerak makin dalam, makin cepat, membuat Mingyu benar-benar tak berdaya di atas meja dapur. Suaranya terpecah jadi desahan panjang yang memenuhi ruangan, keringat menetes di pelipisnya.
“Cheol—ahh, gua… gua nggak tahan lagi…” Mingyu merintih, tubuhnya gemetar hebat.
Seungcheol menunduk, mencium bibirnya keras, lidahnya masuk rakus sambil tetap menggerakkan jemari di bawah. Setelah menarik diri, ia berbisik parau di telinga Mingyu, “boleh gua masukin punya gua ga, Gyu?”
Mingyu hanya mengangguk lemah.
Seungcheol dengan cepat, ia menyingkirkan celananya sendiri. Napasnya berat, tatapannya liar penuh hasrat. Tangannya kembali meraih botol whipped cream, menyemprotkan garis manis ke pangkal dirinya sendiri, membuat Mingyu langsung menutup wajah dengan kedua tangan karena malu bercampur ngeri.
“Lu gila, Cheol…” Mingyu hampir menangis frustasi, tapi kakinya justru makin erat melingkar di pinggang pria itu.
Seungcheol mengusap whipped cream itu, memastikan semuanya licin. “gara-gara lu, Gyu” jawabnya tegas, sebelum menekan perlahan, masuk ke dalam Mingyu.
Mingyu langsung terpekik keras, punggungnya melengkung, kuku-kuku tangannya mencengkeram permukaan meja. Sensasi manis, dingin, panas bercampur jadi satu, membuat tubuhnya bergetar. “A-aaaahhh… Cheol!”
Seungcheol menunduk, mencium pipinya, mencoba menenangkan sambil tetap mendorong perlahan. “Sabar, Gyu… biar gua isi pelan-pelan.”
Begitu semuanya masuk, ia berhenti sebentar, memberi waktu pada tubuh Mingyu yang megap-megap menerima semuanya. Tangannya mengusap dada Mingyu, memelintir putingnya lagi hingga pria muda itu mendesah keras, tubuhnya tak kuasa melawan.
Lalu ia mulai bergerak, tarikan dan dorongan pertama terasa dalam dan penuh. Meja dapur berderit pelan tiap kali tubuh mereka bertubrukan. Mingyu sudah kehilangan kata-kata, hanya mampu merintih dan memohon, “Cheol… ahh, lebih… lebih dalem…”
Seungcheol menurut, gerakannya makin kuat, makin cepat, hingga whipped cream yang melumuri mereka jadi berantakan, meleleh di kulit dan meja. Setiap dorongan disertai cubitan atau remasan di dada Mingyu, membuat sensasi berlipat-lipat.
“Lu ketat banget… manis banget… a-ahh enak banget fuck” desah Seungcheol, suaranya parau.
Suara basah, desahan, dan napas berat memenuhi ruangan.
“Lu dessert paling enak… dan gua nggak bakal bagi sama siapa pun,” bisik Seungcheol keras di telinga Mingyu, sebelum menekan lagi lebih dalam, membawa mereka berdua ke ujung yang sama-sama tak terelakkan.
Mingyu meneriakkan namanya, tubuhnya melenting, seluruh sarafnya meledak bersamaan. Dan beberapa detik setelahnya, Seungcheol ikut jatuh, menghantam klimaksnya dalam tubuh Mingyu, menahan erat pinggang pria itu seolah takut ia lepas.
Hening sesaat, hanya tersisa suara napas terengah-engah mereka, tubuh lengket oleh keringat dan whipped cream, tapi hangat saling menempel.
Seungcheol menunduk, mencium bibir Mingyu lembut kali ini. “Dessert gua… selamanya,” gumamnya.
