Actions

Work Header

Wonwoo Juru Tusuk (Soonyoung Approved)

Summary:

Katanya Wonwoo seniman tato, jelas saja jago menusuk. Belum saja Soonyoung tahu fakta lainnya.

Notes:

Commissioned by — Donna ♥︎

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sehari setelah penampilannya sudah pasti media sosial Soonyoung akan dipenuhi dengan pujian tentang performa band-nya yang sedang naik daun, Brush Section. Atau pujian pada wajahnya yang cantik—kata orang-orang, dan juga badannya yang seringkali ia pamerkan.

 

Bukannya pamer badan, tapi Soonyoung memamerkan beberapa gambar kecil di badannya—berbagai macam tato kesukaannya. Yang ia buat dengan sengaja seolah badannya adalah kanvas bersih untuknya. Yang tentu saja harus dihias secantik mungkin, karena memang hidup hanya sekali, kan?

 

Karena prinsip hidup hanya sekali yang ditanamkan di pikirannya itu Soonyoung sempat jadi buah bibir di banyak seniman tato. Terutama karena Soonyoung yang sudah terkenal sebagai anggota band indie yang dipanggil manggung sana-sini tiap minggunya itu. Dan juga karena wajah rupawan Soonyoung yang memerah tiap kali dipuji secara langsung.

 

“Nyong, pinjem baju lo,” pinta Mingyu, matanya tidak lepas dari layar ponselnya—seperti biasanya mengabari kekasihnya yang entah keberapa itu. Entah yang mana lagi Soonyoung juga tidak peduli, ia hanya memanyunkan bibirnya.

 

“Nanti melar lagi! Gamau!” seru Soonyoung menggelengkan kepalanya, suara kerasnya membuat anggota grupnya yang lain ikut menoleh.

 

“Lo biasanya juga pamer badan. Nggak ada masalah melar dikit juga,” balas Jihoon yang masih sibuk dengan alat-alat instrumennya. Sesekali melirik Mingyu yang masih sibuk dengan merayu Soonyoung untuk meminjamkan bajunya—yang rata-rata memang baju tanpa lengan dengan ukuran yang lebih besar dari badannya.

 

Hal itu yang membuat Mingyu bisa meminjam bajunya kapan saja—kalau Soonyoung mengizinkannya.

 

“Nggak pamer badan! Gue cuma mau kasih liat tato!” seru Soonyoung membela diri, membuat kekehan kecil terdengar dari bibir Seokmin.

 

“Viral lagi, tuh, di sosmed. Seksi katanya,” puji Seokmin, jelas tahu kelemahan Soonyoung kalau sudah dipuji. Pipi tembamnya terangkat karena senyumnya dan makin merona merah.

 

“Tato baru, ya, Bang?” tanya Seungkwan, akhirnya buka suara setelah sibuk dengan ponselnya.

 

“Iya, kan, gue pamit waktu mau bikin. 3 hari lalu,” balas Soonyoung, matanya hampir menghilang karena senyuman lebarnya. Ia jadi ingat tato barunya di dekat tulang selangka beberapa hari lalu, yang sedang jadi buah bibir di media sosial.

 

“Lama-lama penuh tuh, badan,” tukas Mingyu, suaranya terdengar meskipun ia sudah di pojok ruangan membongkar kopernya.

 

“Tapi gue pengen nambah lagi,” cicit Soonyoung.

 

“Udah, Bang. Bulan depan masih bisa,” balas Seokmin, meskipun ia tertawa kecil, mengerti Soonyoung tidak akan bisa ditahan. Kan, benar saja ia sudah melihat lelaki gemini itu berpikir keras menatap sekelilingnya.

 

“Di mana lagi yang masih kosong?” tanya Jihoon, makin menambahi beban pikiran Soonyoung.

 

“Pengen di bagian bawah perut sini. Seksi, gak, sih?” tanya Soonyoung, tangan kanannya menyentuh bagian bawah perutnya, seolah berkacak pinggang dan lebih turun lagi. Menunjukkan tempat di mana bagian tubuhnya masih bersih.

 

Karena perkataan Soonyoung, anggota grupnya jadi menghentikan kegiatan mereka masing-masing hanya untuk melihat si gemini dengan gesturnya. Seperti biasa, Seokmin hanya tertawa kecil dan Mingyu membalas dengan cengiran lebar. Jihoon menganggukkan kepala seadanya dan Seungkwan yang langsung menyatukan alisnya.

 

“Serius lo?” tanya Seungkwan. Tentu saja Soonyoung menganggukkan kepalanya mantap.

 

“Kasih tau gue tattoo artist yang bagus, dong. Agak geli-geli, nih, gue,” pinta Soonyoung, Seungkwan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat salah satu anggota tertuanya itu.

 

“Temen gue kemaren bilang temennya bisa ngetato, bagus,” kata Jihoon singkat, matanya masih sibuk tanpa melirik Soonyoung yang sudah tersenyum lebar.

 

“Katanya dia underrated gitu. Sosmednya sepi tapi direkomen banyak,” lanjut Jihoon.

 

“Kasih ke gue, dong, kontaknya. Mau…”

 

***

 

Soonyoung tidak menyadari kalau kehadirannya adalah salah satu keajaiban dunia yang ditunggu seniman tato yang didatanginya. Seperti sekarang seorang lelaki jangkung yang membeku di tempat,  melihat Soonyoung memasuki studionya.

 

“Mmm… aku yang tadi namanya Sunny di ig, Kak. Aku Soonyoung,” akhirnya Soonyoung buka suara lebih dulu. Sebelum beberapa detik kemudian lelaki jangkung itu berdeham dan bertingkah seperti semula.

 

“Eh, iya, maaf, Kak. Silakan. Aku Wonwoo, apa ada referensinya, ya?” tanya lelaki itu, menunjuk bangku tinggi di hadapannya dengan sopan. Berusaha menyembunyikan senyuman canggungnya karena tingkah anehnya yang sempat membeku karena mengenali Soonyoung yang selama ini hanya ia bisa lihat di sosial media, dan ia dengar dari percakapan teman-temannya sesama seniman tato.

 

Soonyoung memang salah satu anggota band terkenal, juga karena ia sering melukis badannya dengan banyak tato di berbagai seniman berbeda. Membuat banyak tato di badannya memiliki karakter yang berbeda, sesuai dengan arti yang ingin disampaikan.

 

“Ini, mau yang tulisan quote gitu, terus ada gambar ombak kecilnya,” kata Soonyoung, menunjukkan foto di layar ponselnya.

 

“Oke, untuk posisinya di mana, Kak?” tanya Wonwoo. Ia sempat melihat Soonyoung menarik napasnya sebelum menggeser layar ponselnya, menunjukkan foto tato di bagian bawah perut seseorang.

 

Left iliac region, Kak.”

 

Napas Wonwoo tercekat, membuat dirinya kembali membeku beberapa detik mendengar jawaban Soonyoung.

 

“Oke, Kak, bisa. Coba kita sketch dulu, ya.”

 

***

 

Wonwoo bukan sekali dua kali mendengar kabar burung itu. Yang katanya Soonyoung tidak memiliki batang kemaluan seperti lelaki kebanyakan.

 

Wonwoo juga tidak tahu kebenaran kabar burung itu—tentu saja. Ini kali pertamanya ia bertemu langsung dengan Soonyoung. Dan ini juga pertama kalinya ia menyentuh kulit Soonyoung—dengan izin yang bersangkutan, setelah Wonwoo bertanya lebih dari 3 kali setiap akan menyentuh kulit Soonyoung.

 

Padahal memang tugasnya untuk menyentuh kulit kliennya secara langsung. Tetapi senyuman lebar Soonyoung yang menyembunyikan kecanggungannya membuat Wonwoo gemas sendiri. Kulitnya lembut, perutnya rata dan kencang, beberapa tato kecil tersebar di badannya—beberapa pernah Wonwoo lihat fotonya di media sosial.

 

“Permisi, ya, Kak. Aku izin mulai tato,” kata Wonwoo, mendekatkan jarum di mesin tatonya pada area kulit Soonyoung yang sudah dibersihkan. Kaus kebesarannya dibuka hingga bawah dada, sebetulnya terlalu lebar untuk area kulit yang terlihat—malah membuat Wonwoo salah fokus. Tapi mereka berdua memilih untuk sama-sama diam.

 

“Iya, Kak. Tolong yang bagus, yah,” balas Soonyoung, meskipun ia tahu hasil karya Wonwoo memang bagus. Rekomendasi teman Jihoon yang pernah memakai jasa Wonwoo juga, yang mengatakan kalau hasilnya tidak perlu sentuhan ulang dalam beberapa tahun. Cocok dengan apa yang Soonyoung inginkan.

 

Ia masih memikirkan tentang apa yang harus ia lukis di tubuhnya dua minggu lagi, ditambah sentuhan tangan Wonwoo yang dilapisi sarung tangan nitril. Ia bisa merasakan kulitnya meremang karena Wonwoo mengelusnya lembut sebelum memegang kulitnya, mencoba mengalihkan pikirannya dari berpikir kalau Wonwoo sengaja.

 

Soonyoung meringis kecil merasakan tusukan-tusukan kecil mulai dikenai kulitnya, ia sering ditato dan perasaan ini sudah dihafal luar kepala. Tetapi sentuhan tangan Wonwoo dan area badannya yang mudah geli membuatnya gigit bibir.

 

“Kalau sakit bilang, ya, Kak,” kata Wonwoo, tentu saja ia bisa merasakan badan Soonyoung menegang. Kulitnya tepat di bawah tangannya, begitu juga tangan Wonwoo yang membuat badan Soonyoung menjadi tumpuan tangannya agar stabil. Tapi ia bisa melihat si gemini gelengkan kepalanya.

 

“Nghh… gak sakit, Kak,” elak Soonyoung, gigitan bibirnya malah menjadi sumber suara yang asing didengar Wonwoo.

 

Lelaki itu melanjutkan pekerjaannya, bagaimanapun juga Soonyoung akan membayar karena jasanya dan ia harus lakukan yang terbaik. Kembali menempelkan jarum tatonya dengan kulit sensitif Soonyoung, ia bisa lihat kulitnya memerah dan badan Soonyoung sesekali menggeliat tidak nyaman. Jemari Wonwoo refleks mengelus kulitnya perlahan, mencoba memberi reasuransi bagi kliennya—yang tentu saja makin merinding bulu kuduknya.

 

“Aaahh… g-geli, Kak…” cicit Soonyoung, terdengar seperti desahan tidak tertahan dan rintihan. Wonwoo jadi bingung sendiri, telinganya naik mendengar erangan Soonyoung.

 

“Maaf, ya, Soonyoung. Aku pelan-pelan aja, oke?” ibu jari Wonwoo mengelus kulit perut rata Soonyoung, sebelum kembali menempelkan jarum tatonya mengikuti sketsa.

 

Tetap saja Soonyoung banting kepala pada bantalnya dengan menggigit bibir bawah menahan suara penuh dosa keluar dari bibirnya. Usaha yang sia-sia karena Wonwoo bisa rasakan anggota badan di antara kakinya perlahan menegang—ia hanya laki-laki biasa.

 

“Hhhh… sebentar, Kak,” pinta Soonyoung, tangan halusnya menahan lengan Wonwoo yang membeku. Jemari Soonyoung halus, lebih halus dari selimutnya. Ia bisa lihat dada Soonyoung naik-turun mencoba mengatur napasnya yang memberat, keringatnya mulai bermunculan di sekitar wajah cantiknya. Aduh, Wonwoo jadi ingin usapkan keringat mengganggu itu.

 

“Soonyoung gampang geli, ya?” tanya Wonwoo, tangan kirinya yang bebas masih mengelus kulit perutnya. Ia tersenyum kecil melihat Soonyoung menganggukkan kepalanya, perlahan kembali membawa alat tatonya melukis kulit bersih di bawahnya. Soonyoung meringis lagi, tapi sudah tidak menahan tangan Wonwoo yang tanpa sengaja bertumpu tepat di atas selangkangan Soonyoung yang rata.

 

Kabar burung yang tersebar di antara seniman tato itu benar, Soonyoung tidak seperti laki-laki biasanya. Tanpa sadar tangan Wonwoo malah menumpukan beban pada selangkangan Soonyoung yang dibalas dengan desahan tertahan—yang membuat Wonwoo sadar dan angkat tangannya.

 

“Kak Wonwoo, aku juga mau tato satu lagi sebenernya,” cicit Soonyoung.

 

“Mau satu lagi, hmm? Mau di mana, Soonyoung?”

 

“Mau di atas memek aku, biar makin cantik.”

 

Darah Wonwoo rasanya mengalir deras pada satu titik, ujung kejantanannya yang sudah menegang.

 

***

 

Napas Wonwoo sudah tercekat melihat Soonyoung menunjukkan foto referensi yang ia inginkan, jelas itu foto seorang perempuan. Tepat di atas tulang kemaluan, dengan 3 kata kecil yang menggambarkan Soonyoung.

 

“Tapi pronouns-nya diganti jadi ‘he is art’,” cicit Soonyoung, Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya. Mencoba kembali fokus dengan tato Soonyoung di perutnya sebelum menggambar tato keduanya di tempat yang lebih berbahaya.

 

“Kita selesaikan yang ini dulu, ya? Terus nanti aku gambar Soonyoung biar makin cantik.”

 

Proses menyelesaikan tato pertamanya tidak terlalu lama, karena hanya tulisan kecil dan gambar ombak sederhana sesuai yang diminta Soonyoung. Wonwoo kini dihadapkan dengan tato kedua Soonyoung, ia melihat lelaki gemini itu menurunkan celana pendeknya perlahan. Termasuk dengan celana dalam hitam yang dikenakannya, membuat badannya terlihat makin seksi.

 

Soonyoung tidak menurunkannya hingga terlepas, hanya membiarkan Wonwoo melihat area yang ia gambar. Masih malu-malu, wajahnya memerah merasakan sentuhan Wonwoo di sana.

 

“Kalo tato di sini, tangannya harus masuk buat bertumpu, Soonyoung,” kata Wonwoo, tangan kirinya perlahan mendorong kaki Soonyoung agar lebih melebar memberikannya ruang untuk bergerak. Soonyoung menganggukkan kepalanya, seolah pasrah membiarkan Wonwoo melakukan apapun padanya—sesuai dengan yang diinginkan si seniman.

 

Wonwoo mengulum senyumnya melihat Soonyoung menurunkan celananya lagi, menunjukkan lipatan vaginanya yang memerah kontras dengan kulitnya. Izin yang sudah diterima Wonwoo membuat lelaki itu tidak sungkan menyelipkan jemarinya yang sudah diberi pelumas pada lipatan Soonyoung, telunjuknya terlebih dahulu sebelum disusul dengan jari tengahnya.

 

“Aaaahh! P-pelan-pelan, Kak!” rintih Soonyoung, Wonwoo mengangkat alatnya menjauhi kulit Soonyoung. Tangan kirinya mengelus kulit pubisnya perlahan—memancing desahan dari si gemini, mencoba menenangkan kliennya yang kembali menegang.

 

“Iya, maaf, ya? Kita pelan-pelan soalnya kulit area pubis lebih sensitif, ya, Soonyoung,” Wonwoo mulai mendekatkan alat tatonya pada pubis Soonyoung, dengan jemari tangan kirinya yang sudah di dalam si gemini merasakan basah dan hangatnya.

 

Getaran dan tusukan samar dari alat tato Wonwoo sama sekali tidak menolong, belum lagi jemari lelaki itu beberapa kali bergerak samar di dalam Soonyoung. Menyesuaikan dengan jepitan saraf bagian intim Soonyoung yang makin basah.

 

Tangan kanan Wonwoo masih bisa mengerjakan tato di atas pubis Soonyoung dengan tenang, tangan kirinya yang ikut terdorong basah Soonyoung makin menusuk Soonyoung. Menolak untuk terdorong keluar, Wonwoo masih betah di sana.

 

Sedangkan kaki Soonyoung makin lebar. Memang dasarnya Wonwoo, malah menganggap hal ini sebagai lampu hijau. Sesekali menggerakkan jemarinya samar keluar-masuk di dalam lubang lelaki cantik itu, membasahi jemarinya sendiri dengan cairannya.

 

“Aaahhh… Kak–nghhh!” desahan Soonyoung ditahan dengan tangannya sendiri, yang kini lebih memilih untuk menutupi mulutnya sendiri daripada memegangi sisi-sisi kursi tato di bawahnya.

 

“Kenapa, Soonyoung? Sakit, hm?” tanya Wonwoo, masih meneruskan pekerjaannya—dengan tangan kirinya di dalam Soonyoung. Ia bisa merasakan lubang si gemini memijat jemarinya saat mendengarkan suara beratnya.

 

“P-perih—hnngg… pelan-pelan…” rengek Soonyoung, air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.

 

Melihat Soonyoung yang hampir menangis, Wonwoo jadi punya ide baru yang menurutnya bisa membantu Soonyoung. Yang ia katakan setelah tanpa sengaja menggaruk dinding lubang Soonyoung yang merapat.

 

“Kalo perih, obatnya cuma satu, Soonyoung,” kata Wonwoo, ia menahan senyumannya melihat Soonyoung menatap cepat ke arahnya. Wajahnya hampir berantakan, mungkin akan bisa lebih dari ini beberapa saat lagi.

 

“Hahhh… diapain, Kak??”

 

“Dimasukin kontol biar nggak perih. Soalnya obatnya biar nggak perih, tuh, cuma peju,” kata Wonwoo, ibu jarinya bahkan sudah sengaja mengelus klitoris Soonyoung yang menegang. gemas sendiri melihat buntalan saraf itu belum tersentuh tangannya.

 

“Aaahh… m-masukin aja, Kak. Biar nggak perih–nghhh!” desahan Soonyoung gagal tertahan karena tingkah Wonwoo, kepalanya jadi tidak bisa diajak berpikir jernih. Hanya bisa mengiyakan perkataan Wonwoo yang terdengar meyakinkan.

 

Soonyoung masih memejamkan mata saat merasakan selangkangannya sudah dingin terkena pendingin udara, ia ditarik Wonwoo hingga duduk di pinggir kursi tatonya. Kalau ia lebih maju lagi sudah menggesek badan Wonwoo—ia bisa lihat cetakan tegang Wonwoo di balik celananya.

 

“Disembuhin dulu biar nggak perih, ya. Nanti lanjut ditato lagi,” kata Wonwoo, suara resleting terdengar jelas di telinga Soonyoung. Saat ia membuka matanya malah terlihat Wonwoo yang sedang memberikan pelumas di kejantanannya, tebal dan kemerahan ujungnya. Sepertinya sama dengan Soonyoung, lelaki itu sudah menunggu sejak tadi.

 

“Nghhh… m-masukin, Kak…” rengekan Soonyoung malah membuat Wonwoo makin menegang. Ia jadi bersemangat sendiri, menyodorkan kejantanannya hingga ikut mengoleskan pelumas pada lipatan labia Soonyoung. Sebelum akhirnya mendorong pinggangnya memasuki lubang Soonyoung.

 

Wonwoo menggeram merasakan hangatnya lubang Soonyoung melingkupinya, memberikan pijatan pada tegangnya. Sedangkan Soonyoung sudah terpejam dengan desahan tertahan, membuat pijatan pada tegang Wonwoo makin kuat.

 

“Aaaahng… Kak…” desahan Soonyoung membuat Wonwoo membiarkan tegangnya beberapa detik di dalam Soonyoung, sebelum perlahan gerakkan pinggangnya keluar-masukkan tegangnya.

 

“Kalo mau keluar pejunya harus dipompa dulu, Soonyoung,” bisik Wonwoo, tidak lupa memberikan ciuman kecil di telinga Soonyoung yang menggeliat geli. Wonwoo jadi ingin menggodanya lagi merasakan himpitan lubang Soonyoung tiap ia menyentuh lelaki di bawah kungkungannya itu.

 

“Nghhh… c-cepet, Kak… gamau perih,” erang Soonyoung, Wonwoo membalasnya dengan anggukan kepala. Malah mempercepat gerakannya, mengundang desahan heboh dari si gemini yang kakinya terbuka makin lebar. Wonwoo bisa lihat kulit sekitar lubangnya makin kemerahan,  terkena gesekan cepat dari kejantanan Wonwoo—meskipun sudah diberi pelumas yang lebih dari cukup.

 

Tentu saja Wonwoo akan menggunakan kesempatan itu dengan bersemangat kalau diberikan lampu hijau secara terang-terangan oleh si gemini. Dengan semangat menumbuk titik manis Soonyoung yang membuat desahannya berantakan, bahkan ia tidak menyadari air liurnya sudah membasahi pipi tembamnya sendiri.

 

Wonwoo menemukan satu hal baru yang ia sukai dari Soonyoung. Ia suka lihat lelaki itu berantakan, ditambah fakta Soonyoung berantakan karena ulahnya. Tegang Wonwoo rasanya makin kuat.

 

“Cantik banget, Soonyoung,” puji Wonwoo, sengaja meluapkan apa yang mengganggu pikirannya. Bersamaan dengan tumbukan pinggangnya yang makin dalam pada Soonyoung yang sibuk mendesah. Ia hanya bisa memegangi tangan Wonwoo merasakan lubangnya diobrak-abrik lelaki jangkung itu.

 

“Nghhhh! Kakak—aaaahh…” kaki Soonyoung terkulai lemas, beberapa kali badannya bergetar hampir mencapai tingginya. Dan tangan Wonwoo malah membawa kaki Soonyoung melingkari pinggangnya, membuat penyatuan tubuh mereka makin rapat. Dan tentunya desahan Soonyoung menjadi makin keras juga.

 

“Ini dikasih peju dulu biar nggak perih, ya?” Wonwoo menggerakkan pinggangnya makin bersemangat, seolab menanamkan cairannya dalam-dalam di lubang Soonyoung. Badannya bergetar samar merasakan pijatan Soonyoung pada tegangnya makin kuat, lelaki itu juga capai tingginya.

 

Pinggang Wonwoo makin maju merasakan dorongan cairan Soonyoung yang sama kuatnya, badan lelaki itu bergetar di bawahnya dengan kaki terkulai di sisi-sisi badan Wonwoo. Cairan kental Wonwoo yang terlampau memenuhi lubang Soonyoung bocor dari sela-sela penyatuan tubuh mereka, membuat labia Soonyoung mengkilap berantakan. Dan juga karena Wonwoo yang masih keluar-masukkan tegangnya di dalam sana, cairan yang terlalu banyak jadi terdorong keluar.

 

Hal yang dijadikan kesempatan oleh Wonwoo, tangannya malah mengoleskan cairan—yang entah milik siapa itu, pada selangkangan Soonyoung. Di labianya, di atas lubangnya, di klitoris Soonyoung, di bagian pusat tubuhnya hingga dilapisi cairan kental. Yang mungkin dalam beberapa menit akan mengering dan lengket.

 

“Aaahhhnn…” desahan Soonyoung masih keras, terutama saat merasakan klitorisnya diraba lembut dengan jemari basah Wonwoo. Membawa cairan mereka berdua yang sudah tercampur hingga Soonyoung makin berantakan.

 

“Masih perih, hmm?” tanya Wonwoo, pertanyaannya hanya bisa dibalas gelengan kepala lemah oleh si gemini. Badannya masih bergetar samar tiap merasakan pergerakan kecil dari Wonwoo yang masih betah di dalamnya.

 

“Kayaknya kamu capek banget gitu, Soonyoung. Tatonya dilanjut minggu depan aja, ya? Sambil nungguin yang ombak recovery,” tangan Wonwoo yang masih terasa basah meraba perut rata Soonyoung perlahan, membuat bulu kuduknya merinding. Soonyoung hanya bisa menganggukkan kepalanya lembut menyetujui tawaran—yang lebih seperti perintah, dari Wonwoo.

 

“I-iya, minggu depan aja, Kak,” balas Soonyoung. Tidak menyadari tawarannya adalah kegiatan yang sama di lain kali.

 

***

 

Minggu depannya Soonyoung sudah siap di atas kursi tato di studio Wonwoo dengan celana dalam hitam dengan renda-rendanya, menurut Wonwoo lucu dan seksi. Tangannya jadi salah fokus mengelus tepat di atas labia Soonyoung, bukannya di atas pubisnya di mana tatonya awalnya digambar—tato yang tidak selesai minggu lalu.

 

“Kalo ditato di sini—”

 

“Iya, masukin aja jarinya Kakak. Satu dulu, ya,” potong Soonyoung, membuat Wonwoo tersenyum miring dan menganggukkan kepalanya. Perlahan tangannya menurunkan celana dalam Soonyoung hingga ke lututnya, sebetulnya tidak perlu sejauh itu. Tetapi celana dalamnya yang lembap dan terlihat juntaian transparan di antara lubang Soonyoung dan kain celana dalam.

 

Ibu jari Wonwoo mengelus ujung lubangnya, meratakan basahnya membuat desahan Soonyoung terdengar manja. Bahkan lelaki itu tidak lagi berusaha menahan desahannya dengan menggigit bibir atau menutupinya dengan tangan. Ia membiarkan Wonwoo melakukan apapun yang diinginkan—sesuai dengan keinginan si cancer.

 

“Kok, udah basah gini memek cantiknya? Jadinya ditato atau dimakan?” tanya Wonwoo, Soonyoung yang hendak menutup kakinya mendadak tertahan tangan Wonwoo—jelas melarang Soonyoung mengatupkan kakinya. Agar terus memberikan Wonwoo ruang untuk menyentuhnya.

 

“Aaahnn… ditato… mau ditato,” erang Soonyoung. Bahkan belum apa-apa ia sudah mendesah heboh, padahal ujung jemari Wonwoo baru mengelusnya lembut. Belum saja memasukkan jemarinya ke dalam lubang Soonyoung.

 

“Kalo ditato diem dulu,” jemari Wonwoo berhasil memasuki lubang Soonyoung lagi. Sekarang sudah lebih berani mengelus sekitar lubangnya dan menggaruk dinding lubang Soonyoung dengan kuku pendeknya, hanya untuk mendengarkan rengekan manja si gemini.

 

Tangan kanan Wonwoo yang membawa alatnya perlahan menempelkan ujung jarumnya pada kulit sensitif Soonyoung. Seringkali ibu jarinya mengelus labia Soonyoung, mencoba menenangkan badan laki-laki di bawahnya yang menegang—tidak banyak membantu, badan Soonyoung makin tegang merasakan sentuhan Wonwoo.

 

Tato yang diminta Soonyoung hanya kata-kata, dan itu berukuran kecil. Tetapi butuh waktu agak lama bagi Wonwoo untuk menyelesaikannya, semuanya karena ia malah fokus pada lipatan labia Soonyoung yang menyembunyikan lubang enaknya.

 

Kabar buruknya, Wonwoo mau lagi merasakan hangatnya lubang Soonyoung. Sedangkan kabar baiknya, Wonwoo tahu Soonyoung akan membiarkannya melakukan apapun kalau sudah begini.

 

Semuanya bisa ia simpulkan dari kaki Soonyoung yang terus membuka dan pinggangnya yang mengejar tangan Wonwoo. meskipun tangan kiri Wonwoo terus menahan pinggangnya tetap di tempat, agar tato yang akan ia gambar tidak berantakan. Tapi tetap saja menurutnya reaksi Soonyoung menggemaskan, mata sipitnya menutup dan bibir tipisnya terus membuka mengeluarkan suara-suara yang bisa jadi kesukaan Wonwoo.

 

Sedangkan tangannya terus menyerang lubang hangat Soonyoung yang memijatnya, seolah ingin menelan jemari Wonwoo lebih jauh lagi.

 

“Kak… minggu depan mau tato baru lagi,” kata Soonyoung setengah mengerang. Tangan Wonwoo kembali menyenggol titik manisnya mendengar permintaannya—tandanya Soonyoung akan ke sini lagi.

 

“Iya? Mau di mana?” tanya Wonwoo, tangannya mengelus kulit halus Soonyoung.

 

“Mau di belakang telinga, love kecil gitu. Lucu,” pinta Soonyoung, napasnya tercekat dengan desahan tertahan karena tangan Wonwoo mendadak masuk makin dalam. Rasa perih dan geli dari tusukan jarum kecil membuat Soonyoung menggeliat, ditambah dengan jemari tebal Wonwoo di dalamnya. Rasanya ia mau pipis sekarang juga.

 

“Di belakang telinga? Lucu, dong. Seksi telinganya, kalo dilihat dari belakang pas ngentot,” balas Wonwoo enteng, kata-kata joroknya membuat pipi Soonyoung memerah hingga ke telinga.

 

“Kak Wonwoo, ih!”

 

***

 

Kata-kata rayuan Wonwoo dan segala tipu muslihatnya memang berhasil menipu Soonyoung—yang jadi langganan tiap minggu datang ke studio Wonwoo. Ditambah dengan sesi senggama yang mereka lakukan di atas kursi tato Wonwoo yang kokoh, dan terkadang di sudut ruangan kalau kaki Soonyoung tidak seperti jeli.

 

Tangan Wonwoo mengelus hasil karyanya di belakang telinga Soonyoung, tato berbentuk hati sesuai yang ia minta. Sebelum makin turun mengelus bekas ciumannya yang beberapa menit lalu ia berikan, Wonwoo tidak yakin bekas itu bisa hilang dalam hitungan jari.

 

“Cantik,” puji Wonwoo, telinga Soonyoung memerah, kuluman senyumnya membuktikan kalau ia salah tingkah. Sebelum Soonyoung bisa keluarkan protes, Wonwoo sudah menariknya ke dalam ciuman dalamnya. Bibirnya menyesap bibir Soonyoung dalam seolah bayi kehausan, tangannya memijat sisi-sisi badan si gemini yang sensitif.

 

Perlahan ia memutuskan kontak bibir mereka, hanya menjauhkan wajahnya beberapa milimeter. Wonwoo tersenyum kecil masih merasakan napas berat Soonyoung di bibirnya, ia sudah bilang kalau ia suka melihat Soonyoung berantakan karenanya, kan? Mata tajam Wonwoo mencari tatapan Soonyoung yang menyayu, hanya karena ciuman ia sudah kehilangan kata-kata selain rengekan minta lebih dan desahan.

 

“Cantik, jadi pacarku, ya? Kamu udah kayak karya seniku, aku pengen jaga kamu biar nggak ada yang bisa lukis lagi. Selain aku,” bisik Wonwoo, mengakhiri kalimatnya dengan ciuman kecil di ujung bibir Soonyoung.

 

Senyumannya mengembang melihat Soonyoung menganggukkan kepalanya, tangannya dikalungkan di leher Wonwoo—menarik lelaki itu untuk sesi ciuman panas lainnya.

 

Tanpa tunggu waktu lama Wonwoo membalas ciuman Soonyoung bersemangat. Untung saja Wonwoo sudah mengunci pintu studionya.

Notes:

thank youuu for the prompt hehe, please let me know what you think ;;)