Actions

Work Header

Agenda Hari Minggu

Summary:

Agenda dadakan di hari Minggu. Anak-anak bahagia, kedua orang tua pun senang.

Notes:

PERHATIKAN TAGS DENGAN SAKSAMA SEBELUM MEMBACA. IF YOU ARE UNCOMFORTABLE WITH THEM, PLEASE LEAVE THIS WORK, EXIT DOOR IS ON THE LEFT.

JOROK BANGET. PORNO. JOROK PORNO DAN INCEST.

 

selamat membaca. pls lower your expectations. semoga suka cerita bajingan ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dua bocah kecil bersenandung riang di dalam mobil yang bergerak menuju adventure park yang terletak jauh dari pusat kota. Butuh satu setengah jam sampai akhirnya keluarga kecil itu tiba di lokasi tujuan. Tiket yang dipesan Sungchan secara dadakan semalam—walau harus mengeluarkan ekstra beberapa ratus ribu—diserahkan ke petugas yang menanti di loket penukaran. Keempatnya bergerak ke tempat pemasangan safety equipments ditemani guide yang sibuk menjelaskan tentang instruksi keselamatan dan wahana apa saja yang bisa dicoba di area terbuka luas yang dikelilingi pepohonan tinggi besar.

 

Usai memasang peralatan keselamatan, dua bocah kecil segera menuju ke sirkuit pertama yang tingkat kesulitannya paling rendah. Tali tebal dengan pijakan berupa papan kayu sempit terpasang erat di dua pohon besar yang berseberangan—jarak antar pohon begitu dekat, pun ketinggiannya masih tergolong rendah. Eunseok dan Anton melewati sirkuit pertama dengan mudah. Wonbin dan Sungchan menyusul di belakang sambil mengabadikan momen kedua anak dengan kamera ponsel. Kedua anak mereka tampak riang dan tidak sabar mencoba sirkuit lainnya yang semakin lama semakin bertambah tingkat kesulitan dan ketinggiannya. Kegiatan memacu adrenalin itu mereka hentikan sejenak untuk istirahat makan siang di lounge semi terbuka yang tersedia di sana. Mereka berempat menghabiskan dua jam pertama untuk bermain sebelum break, tapi Eunseok dan Anton masih tampak bersemangat. Si bungsu bahkan berceloteh ingin mencoba flying-fox dan spider net yang lebih tinggi dan panjang jaraknya dari yang mereka coba tadi. Sungchan tersenyum menanggapi. Dua bocah polos tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya mengajak mereka bermain yang agak menguras tenaga dengan intensi buruk.

 

Iya.

 

Sungchan sengaja memilih outdoor activity yang sudah dipastikan akan membuat dua anaknya kelelahan usai bermain seharian, dan berujung keduanya tertidur pulas. Ia ingin rasakan lagi tangan lembut Eunseok, ingin cicipi tangan mungil Anton yang belum sempat ia pakai. Nikmat onani semalam buat dirinya ingin merasakannya lagi. Wonbin ikutan menyetujui rencana bejat suaminya, karena ia juga sama mendamba.

 

Setelah makan siang, mereka menaiki perahu bebek kayuh yang muat dinaiki empat orang. Danau yang tidak terlalu luas buat perjalanan mereka singkat saja. Selepasnya, keempat orang itu kembali ke area sirkuit. Mereka melanjutkan agenda naik wahana zipline yang tertunda tadi. Hampir semua rintangan sudah dilewati, kecuali sirkuit yang hanya bisa diakses pengunjung dewasa. Sudah nyaris jam tiga sore, senyum sisa-sisa antusias dari kedua bocah masih terpatri walau mereka sudah kembali ke mobil untuk bergerak ke tujuan selanjutnya.

 

“Papa, kita langsung pulang?” tanya Anton.

Sungchan melirik putranya sekilas dari spion sebelum menjawab “Nggak dong, masih sore gini, Dek. Adek mau pulang aja emangnya?”

 

“Nooo. Masih mau jalan-jalan lagi, hehe kita mau ke mana, Pa?”

“Ke taman safari, mumpung dekat kan dari sini. Kakak sama Adek katanya mau main sama gajah dan jerapah, kan?”

“Yeayyy!! Makasih, Papa..” kedua anaknya kompak membalas dengan senyuman lebar nan polos.

Sungchan membawa mobilnya menuju taman safari yang tidak begitu jauh lokasinya dari adventure park. Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan melihat hewan-hewan liar yang tinggal di sana. Keempatnya akhirnya pulang lima belas menit sebelum taman safari tutup. Perjalanan yang cukup jauh ditambah aktivitas seharian buat Eunseok dan Anton terlelap di kursi penumpang. Wonbin melirik kedua anaknya, lalu menatap sang suami yang sedang menyetir. Bibir bawahnya ia gigit pelan, lalu berujar lirih.

 

“Berhasil kayaknya, Pa. Udah bobo duluan, tuh, mereka. Mama nggak sabar.”

Sungchan mengambil telapak tangan istrinya untuk diremas dan dikecup pelan.
“Papa juga, sayang.”

Kemacetan saat akhir pekan buat mereka tiba di rumah saat hari sudah malam. Sungchan bolak-balik menggendong kedua anaknya ke kamar tidur utama, kamarnya dan Wonbin. Ia menolak saat Wonbin ingin membantu menggendong tubuh pulas Anton. Istrinya diminta untuk memandikan kedua anaknya saja. Agar nyaman katanya.

 

Iya. Agar dua anak kecil tidur dengan nyaman, dan dua orang tua brengsek bisa melecehkan keduanya tanpa hambatan.

 

Anton dan Eunseok tidak protes saat dibangunkan untuk mandi kilat. Keduanya kembali melanjutkan tidur yang terinterupsi, kali ini lebih pulas. Tubuh-tubuh mungil itu benar-benar kelelahan setelah bermain seharian. Mereka terlampau masuk dalam alam mimpi hingga tidak sadar tengah ditelanjangi Papa dan Mama, yang juga sama telanjangnya.

 

****

Dua orang dewasa duduk berhadapan dan saling berpagutan liar di atas ranjang. Lidah saling membelit, liur menetes ke dagu dan leher, tangan keduanya menggerayangi satu sama lain. Tangan lebar Sungchan meremas sebelah payudara montok Wonbin, hasilkan lenguhan nikmat dari bibir istrinya.

 

“Gede banget shh, susu yang netekin aku dan anak-anak emang paling enak digrepe gini..”

“Pengen nyedot air susu kamu, Ma. Papa buntingin lagi, ya?”

“Nggh.. Kakak aja yang kamu buntingin, biar susunya moncrot terus kamu sedot tiap hari. Nih, udah gede susunya Kakak,” Wonbin berujar tidak senonoh. Satu tangannya merambat meraba susu mengkal Eunseok.

 

Istri laknat.

 

Mata Sungchan turut mengikuti arah tangan sang istri, pemandangan Eunseok yang telanjang bulat dengan payudara diremas buat birahinya naik. Di sebelah putrinya, Anton juga bugil. Tubuh kecil nan mulus putranya juga sebabkan gairahnya meletup-letup. Dengan tergesa ia menarik Wonbin dalam dekapan dan menciumnya dalam, tangan istrinya ia arahkan ke batang yang sudah setengah konak.

 

“Kocokin sampe keras, Ma. Papa mau coli pake badan anak-anak kita malam ini.”

 

Wonbin patuh, tangan ramping dan lihainya mengocok dan meremas kejantanan Sungchan. Perlahan batang itu mulai berdenyut membesar, urat-urat kasar timbul, cairan bening keluar dari pucuk kontol suaminya. Wonbin menunduk dan menjilat cairan pra-ejakulasi yang mengucur, lalu lidahnya menusuk lubang uretra hingga keluar desisan nikmat dari mulut Sungchan.

 

“Geser ke sini, Pa,” Wonbin mengarahkan sang suami agar berpindah tempat. Sungchan berlutut di antara kepala Anton dan Eunseok, punggungnya membelakangi si bungsu. Wonbin menungging di sebelah kanan Eunseok, tangannya tetap setia mengenggam kontol keras prianya. Kepala kontol ia sesap, lalu dikulum sebentar, kemudian dikeluarkan. Pucuk ileran itu ia gosok dan tepuk pelan ke lengan atas, perlahan menuju bongkahan payudara anaknya, badan Eunseok jadi mengilat karena dipeperi cairan laknat Papa kandung. Lubang kencing suaminya ia arahkan ke pentil si muda yang agak kuncup, masih tersembunyi malu-malu. Ia melirik ke atas dan bersirobok dengan mata suaminya yang memperhatikan tingkah bejatnya. Bukannya melindungi anaknya dari predator berbahaya seperti sang suami, Wonbin malah ikutan mengumpankan anaknya. Karena mereka berdua adalah sesama predator buas.

 

“Enak, Pa? Pentil Kakak kecil banget, cocok buat enakin lobang kencingmu.”

 

Pucuk susu Eunseok dan pucuk kontol Sungchan ia paksa bercumbu. Ia menjilat bibir melihat suaminya kelojotan dan mendesah karena lubang uretranya diberi rangsangan dari pentil kecil yang mulai merekah karena gesekan. Wonbin ikutan gemas, bibirnya ia bawa untuk menyesap puting kanan Eunseok yang menganggur.

 

“Mhh.. gemes banget pentil Kakak, Pa. Kita harus sering-sering netek biar makin gede pentilnya..”

 

“Anjing kamu, Ma. Ngeduluin Papa buat ngeyot susu Kakak. Ahh.. sumpelin lubang kencingku pake pentil Eunseok, Ma.”

 

Bulatan pentil Eunsok dipaksa masuk ke lubang kencing Sungchan, buat jerit keenakan lolos dari bibir si Papa. Eunseok hanya menggeliat pelan dalam tidurnya, tapi tidak terbangun sama sekali.

 

“Hahhh ngentot, biji pentil lonte nhh..”

 

Sungchan bergidik geli, ia biarkan istrinya yang kian semangat memerkosa lubang kencingnya dengan puting tegang Eunseok. Saat merasa sudah cukup dengan pentil anaknya, istrinya ia perintahkan untuk berhenti.

 

“Sshh.. udah, Ma. Copotin, aku mau make tangan Adek. Kasian dianggurin badan mulusnya.”

 

Badan bongsornya berbalik menghadap putra kecilnya yang terlelap. Ia menunduk dan mengecup ringan dari pipi, leher, hingga bahu sempit Anton. Tangannya menggengam dan menciumi tangan gempal anaknya, kemudian ia arahkan telapak mungil itu ke batang kontol kerasnya.

 

“Papa pinjem tangannya ya, Dek. Bantu kocokin kontol Papa, Nak. Adek juga mau kan dipejuin Papa? Iya, kan?” ia bertanya pada udara kosong. Anton jelas saja tidak bisa menjawab.

 

Dan, brengsek—sensasi coli pakai tangan kecil anak kandung memang adiktif. Batang kontol Sungchan berdenyut hebat di dalam telapak hangat Anton. Ia mengeratkan genggaman tangan lebarnya yang melingkupi tangan mungil itu, buat sensasi diremas tangan anak kecil makin terasa. Lendir kontolnya mengucur banyak dan melumasi tangan keduanya.

 

“Bangsat. Babi. Enak banget tanganmu, Dek. Masih kecil udah jago ngenakin kontol Papa.. Ahhh asu,” Sungchan mendesau berat. Ia melirik dari balik bahu, didapatinya Wonbin sedang mencolok lubang pepeknya sendiri, mulutnya tersumpal pentil Eunseok, sebelah tangannya mengelus belahan memek putrinya. Matanya menatap liar dan menggoda Sungchan. Istrinya lagi-lagi mendahuluinya dalam bertingkah biadab.

 

“Memek kecil punya kamu ini, Pa. Ughh, pasti ancur kalo dijebolin kontolmu, Sayang..”

 

Sungchan memaku pandangannya pada jari-jari Wonbin yang menyibak labia anaknya hingga terbuka, lubang merah nan kecil itu berdenyut sedikit—padahal yang punya sedang tertidur nyenyak. Pinggulnya tidak berhenti maju mundur mengawini lubang buatan dari tangan kecil Anton.

 

“Pengen kujejelin kontol sekarang rasanya. Mmhh, Adek enak banget tangannya, Ma. Anak-anak bangsat, bisanya bikin sange aja ughhh..”

 

Ia menarik lepas kontolnya dari tangan Anton, dua tubuh mungil ia posisikan berdempetan di tengah ranjang. Sungchan memulai aksi gilanya dari tubuh si Kakak. Lidahnya menjilat dari pipi hingga bibir mungil Eunseok, bibirnya ia tanamkan ke belahan pink itu. Ia menyusuri rahang hingga toket Eunseok dengan tangan kekarnya.

 

Akhirnya payudara yang mengusik warasnya beberapa waktu belakangan, kini berada dalam sentuhan. Bongkahan mengkal itu ia remas, kemudian dipilin ujung-ujungnya. Putri kandungnya yang dilecehkan hanya mengernyit sebentar, lalu kembali ke alam mimpi.
“Papa icip susumu, Kak. Susu yang bikin Papa napsu pengen merkosa kamu tiap detik.”

 

Mulut biadabnya menyambar puting tegang Eunseok. Wonbin yang masih mencolok lubang kawinnya sendiri, ia tarik untuk ikutan mengenyoti buah dada Eunseok. Dua pasangan suami istri itu menyusu, melecehkan payudara anaknya dengan isapan, gigitan, dan remasan. Lidah keduanya menjalar berirama menyusuri perut rata sampai pangkal paha si anak. Kaki-kaki ramping si sulung dilebarkan, buat memeknya merekah di hadapan tatapan buas kedua orang tuanya. Sungchan yang kepalang sange meludahi lubang yang minta diperkosa itu sekali. Lalu sekali lagi. Dan sekali lagi. Dan lubang memek Eunseok menelan liur Papanya, benar-benar mengundang nafsu binatang sang Papa untuk mengawininya saat itu juga.

 

Bajingan.

 

“Anjing, lubang pecun kecil. Rapet banget, suka ya nelen ludahnya Papa, hm? Mancing banget buat diperkosa, Nak.”

 

Lidahnya menjilat belahan memek, lalu menoel-noel itil si kecil. Wonbin mengangkang di sebelah pertemuan mulut laknat Sungchan dan memek Eunseok, itil merahnya ia gosok kasar, pucuk susunya ditarik-tarik kencang.

 

“Memek aku sange. Bangsat nggh… iya, Pa jilatin sampe meler memek anakmu. Suami bajingan, demennya lamotin memek anak kecil. Brengsek, anak kandungmu kamu lecehin ahhh—”

Daging tidak bertulang itu naik turun dengan cepat, bibirnya menyeruput memek anak kandungnya dengan semangat hingga bunyi laknat memenuhi kamar luas itu. Lendir kawin mulai mengucur dari memek bocahnya Eunseok, anak lacurnya juga terangsang meski dalam tidur.

 

“Lihat, Ma. Becek gini memeknya. Pecun kamu, Kak. Memeknya langsung meler, padahal baru disedot sebentar.” Tangannya menampar gemas memek Eunseok, lalu kembali memakan habis memek remaja yang menggoda iman. Mulutnya dibawa untuk menjilati lubang anal si sulung, lubang rapat itu ia sentil pelan dengan lidah kakunya. Ia kembali naik ke memek yang menguarkan aroma khas yang bikin mabuk kepayang. Istrinya ia ajak untuk turut mencicipi liang senggama si sulung. Lidah keduanya bertarung mencari celah agar masuk ke lubang kecil Eunseok, kadang berciuman dan membelit satu sama lain di atas liang kawin putri sulung. Puas melamoti, Sungchan berlutut dan menyelipkan batang beruratnya di lipatan vagina Eunseok. Urat-urat kontolnya bergesekan dengan lipatan lembut dan berlendir. Lendir kontol dan memek menyatu dan melumasi pergesekan kelamin yang tidak wajar itu. Sungchan mengumpat kasar, batang kontolnya memberat, biji pelernya berkedut ribut.

 

“Hhah.. baru digesek aja udah seenak ini.. apalagi disumpel kontol pepek kecilmu, Sayang. Kontol Papa bisa-bisa muncrat duluan.. Anjing memek anak kecil emang paling sedep, bangsat..”

 

“AHH—gesekin sampe lecet, Pa…”

 

“Memek lonte, suka banget bikin napsu Papanya sendiri. Jadi sarung kontol Papa mau, ya? Mamamu juga pecun soalnya, Kak. Anak-anaknya disodorin buat diperkosa sama Papa. Papa pake kalian ganti-gantian..” Sungchan meracau penuh nafsu, sebelah tangannya menggerayangi tubuh mungil Anton. Dia rasanya ingin muncrat sekarang, tapi tubuh si bungsu belum ia cicipi sepenuhnya. Maka batang kontolnya ia remas kencang agar tidak ejakulasi, badannya ia geser ke hadapan putra bungsunya.

Paha si bungsu ia lebarkan, memperlihatkan itil kecil dan lubang pantat mulus. Badan bocah belum puber itu benar-benar memantik gairahnya hingga terbakar habis, otaknya ikutan korslet. Ia mengisap belalai kecil yang hanya seukuran jempol, mulutnya kemudian menyedot bola-bola kecil yang belum bisa mengeluarkan mani. Anaknya gelisah dalam tidur, tapi Sungchan kepalang tidak peduli. Nafsunya sudah di ujung. Tangannya makin melebarkan belahan pantat montok itu, ia langsung disambut kerutan plontos yang berdenyut-denyut karena terpaan udara dingin AC. Tangan kekarnya mengadoni bantalan gendut Anton. Lidahnya yang sudah gatal ia kakukan dan lecehkan lubang mungil anak kandungnya. Dadanya bergemuruh karena geraman penuh nafsu, lubang pantat Anton benar-benar menggoda untuk dirogol. Jari telunjuknya mengusap pelan dan langsung diberi kedutan antusias dari liang senggama anaknya. Tidak tahan lagi, ia gasak batang kontol kerasnya di bukaan anal si kecil. Urat-urat kontolnya menggesek naik turun hingga lubang kecil itu terlihat memerah. Paha Anton kemudian ia rapatkan, kontolnya ia jepit dan tusukkan dengan kasar dan serampangan dengan gerakan maju mundur, jarinya mempermainkan kerutan merah muda yang ingin sekali ia genjot sampai melar.

 

“Brengsek.. ngempot banget memekmu, Dek. Padahal Papa lagi make pahanya Adek, tapi memek kamu yang kedutan minta diperkosa. Sengaja banget ngegodain Papa biar dilecehin gini, iya? Hm?”

 

“Sabar ya, Nak. Ada saatnya Papa entotin memekmu sampe meler, Papa perkosa kamu, bareng sama si Kakak sekalian.”

 

“Lihat kelakuan pecun Mamamu, Nak. Anaknya diperkosa, tapi dia malah kelojotan colok pepek pake jari Kakakmu. Lonte-lonte enaknya Papa. Lobang onani paling enak, ohhh..”

 

Paha Anton ia remas hingga timbul ruam merah. Di sampingnya, Wonbin sedang memakai jemari Eunseok untuk melecehkan lubang pepeknya, tangannya memilin puting Eunseok dan putingnya sendiri.

 

“Entotin memek jalangmu pake jarinya Kakak, abis ini Papa kontolin kamu sampe pingsan, Ma.”

 

Dua manusia bajingan memenuhi ruang kamar dengan riuh desahan, umpatan, dan kecipak lendir. Sungchan bergerak makin kesetanan, begitu pun Wonbin yang kini masukkan kepalan tangan mungil Eunseok dalam lubang memeknya sambil meliuk-liuk liar.

 

“Papahh.. mau muncrat ngghh…”

 

“Basahin badan anakmu pake kencing, biar dia tau kelakuan Mamanya persis perek tolol doyan di-fisting Ahhh…”

 

“ANGHH—” Cairan bening dari yang lengket hingga yang seperti kencing menyembur basahi badannya sendiri juga badan polos Eunseok.

 

Sungchan yang juga sudah di ujung, menggeser tubuhnya ke kepala si anak. Kontolnya ia kocok dengan gerakan cepat. “Ohhh ohh.. Anjing! Papa siramin muka kamu pake mani, Dek. Agggh anak lonte kerjaannya bikin sange. Makan nih peju gue, pecun!” Semburan maninya muncrat ke wajah mungil nan polos si bungsu.

 

Perutnya masih mengejan kecil saat mata si mungil mengerjap pelan, lalu terbuka dengan pendar sayu.

 

“Papa… ngapain? Kok gak pake baju?”

 

Tangan gempal itu lalu naik dan menyentuh wajahnya sendiri. Cairan lengket itu buat ia mengernyit heran. “Adek ngiler ya, Pa? Tapi aneh baunya, Pa..”

 

Sungchan yang jelas belum surut gelombang gairahnya malah menjulurkan tangan dan mengelus rambut legam putranya. “Bukan ngiler, Nak. Ini namanya cairan cintanya Papa. Papa ngasih ke Adek karena Papa sayang dan cinta sama Adek. Kemarin Kakak udah dikasih, hari ini gilirannya Adek,” ucapnya ngawur.

 

Anton mengerjap pelan. Masih setengah mengantuk ditambah penjelasan Papa yang aneh, buat otak kecilnya merespon dengan lambat. Matanya melihat ke sekeliling, tatkala mendapati Mama dan Kakak yang juga dalam keadaan bugil, ia melihat ke tubuhnya sendiri.

 

Lho, kok, dia juga nggak pake baju? Kenapa semuanya nggak pake baju?

 

Wonbin yang sama masih dalam keadaan tinggi, hanya bisa tersenyum kecil. Geliatan dan gumaman parau dari Eunseok mengisi ruangan. Ia berjengit kaget dan buru-buru bangun saat merasakan basah di liang senggama juga pelapis kasur di bawahnya.

 

“Ma, Pa. Kakak ngompol, maafin… T-tapi kenapa kita semua telanjang, Ma?’’ Eunseok bertanya sambil bolak-balik melihat kedua orang tuanya.

 

Sungchan menggigit bibirnya gemas. Sebenarnya masih terlalu dini untuk mengajarkan nikmat tabu bagi anak-anaknya, ia ingin memuaskan diri melecehi dua bocah ini diam-diam. Tapi sepertinya semesta mendukung kelakuan biadabnya dan Wonbin. Jadi, kesempatan ini akan ia manfaatkan sebaik mungkin.

***

Notes:

oke, cut di situ. mohon komentarnya, warga.

sampai ketemu lagi, ya. maybe sooner, maybe later, maybe never wkwkwkwk. byeee

Series this work belongs to: