Actions

Work Header

It is. Nothing.

Summary:

pi n yah having a good time alias bercinta hebat dan berantakan (DI KANTOR)

Notes:

based on this

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Satu tegukan terakhir air mineral dari botol ketiganya rupanya belum mampu buat menuntaskan dahaga Seungcheol. Pria itu sih tahu dahaganya nggak akan hilang walau satu galon air habis dia tenggak sendiri, pasalnya yang menjadi sebab kehausan dan kegerahannya bukan dari acara luar ruangan yang mengharuskan dia menggunakan tiga lapis pakaian. Tapi dari Mingyu. 

 

Segala cairan yang ada di tubuh Seungcheol rasanya menguap begitu saja, membuat konsentrasinya buyar dan lututnya lemas waktu menerima pesan dari Mingyu di tengah tengah acara. Membuat Seungcheol harus menghela nafas kasar beberapa kali dan membuat Soonyoung khawatir lalu membawa Seungcheol balik ke kantor bahkan sebelum acara benar benar berakhir.

 

“It is. Nothing.” 

 

Pipinya memerah bukan dari belasan teguk anggur yang masuk secara bertahap ke tenggorokannya selama tiga jam acara berlangsung, melainkan dari sentuhan ringan telapak tangan Mingyu di kedua sisi wajahnya. Satu kekehan keluar dari bibir Mingyu sesaat sebelum kedua bibir mereka bertemu.

 

Nafas Seungcheol kerasa panas, berhembus langsung di tebing antara hidung dan pipinya. Sementara matanya bersorot tajam, mengunci manik Mingyu seolah dirinya mangsa yang bisa Seungcheol lahap kapan saja. 

 

Tapi Mingyu adalah Mingyu. Wajahnya mundur sekian senti, berkebalikan dengan pinggangnya yang ditarik makin mendekat. Membiarkannya menabrak gundukan di balik celana Seungcheol sementara tangan Seungcheol dibiarin bergerak bebas di bokong sekal hasil nge-gym seminggu tujuh kalinya itu.

 

Geraman Seungcheol tertahan ngerasain lidah Mingyu jilat kecil bibir bawahnya. Tangan yang tadinya di pinggang udah naik, gantian narik tengkuk Mingyu buat segera nyatuin pergumulan bibir mereka. 

 

Tangan satunya yang tadinya cuma sesekali ngeremes meleset turun ke batas jahitan rok mini yang sedari tadi bikin Seungcheol kehausan. Nggak perlu menyibak terlalu tinggi buat buktiin kebenaran omongan Mingyu. 

 

“Nghh–” Seringai Mingyu muncul ditengah desah dan basah ciuman mereka. Pantatnya yang dari tadi kerasa sejuk kena pendingin udara tiba tiba panas dikasih tamparan pakai telapak Seungcheol yang tebal. Nggak cuma panas, tapi perih juga kena cincin yang masih menempel di beberapa jari Seungcheol. 

 

Seungcheol nggak peduli lagi tentang pakaiannya sekarang yang merupakan pinjaman dari sponsor. Dan membiarkan salah satu kakinya dipakai buat mengusak selangkangan Mingyu yang udah banjir tentu saja bukan hal yang begitu disukai tim wardrobe kantornya. 

 

Apalagi coat ribuan dollar itu udah jatuh tergeletak di lantai dingin dan beberapa kali kena injek hak sepatu kulitnya. 

 

Mingyu kewalahan nerima ciuman yang bertubi tubi di mata, hidung, pipi, di setiap tahi lalat di wajahnya, di jilat dan dibisikin kata kata sayang di telinga terus balik lagi lidahnya disesap sesap dan bikin liur, yang entah milik siapa netes kemana mana. Sampai-sampai Mingyu nggak sadar kalau dia udah dipepetin ke meja luas yang isinya tumpukan kerjaan Seungcheol. 

 

“Kamu seneng ya jalan dari lobby ke lantai 27 nggak pakai daleman gini, terus diliatin karyawan karyawan aku?”

 

Mingyu meringis, bokong polosnya kena tekstur kayu dan kertas yang nggak sengaja dia dudukin waktu Seungcheol angkat badannya ke meja. Dia bersumpah nggak akan lagi iseng nyamperin Seungcheol ke kantor. Gimana kalau dokumen penting kena rembesan cairan yang keluar dari lubangnya. 

 

“N–nggak.. tadi aku pakai celana panjang” Mingyu menunjuk celana abu-abu senada dengan hoodienya yang tersampir di sofa. Sementara ‘rok mini’ yang dia pakai sekarang sebenarnya adalah celana training super pendek dan longgar yang dia pake buat nge-gym, dipadukan sama hoodie kebesaran jadinya kelihatan seperti sebuah rok yang super mini. Dalamannya sih baru dia lepas waktu Seungcheol bilang kalau dia sudah sampai parkiran dan sekarang tersimpan rapi di tas bareng handuk dan baju ganti lain.

 

“Tetep aja, siapapun kan bisa masuk kesini–” Seungcheol berujar manja, tangannya ngunci Mingyu di meja. “Atau emang sengaja, mau buat aku cemburu?” Lanjutnya setengah berbisik.

 

Mata Mingyu terpejam rapat, dari sini dia bisa melihat beberapa bayangan yang berlalu lalang dari balik kaca yang memisahkan ruangan Seungcheol dengan meja Soonyoung yang sekarang kosong. “Hh– pintunya udah dikunci atau belum?” Tanya Mingyu sambil ngerintih, Seungcheol gigit kecil lehernya yang pasti bakal ninggalin bekas ungu dan jadi bahan pertanyaan buat Raya besok pagi.

 

“Why did you suddenly care about the door?”

 

Wajah Mingyu langsung dibuat menengadah, dibikin lupa sama pintu yang kemungkinan bisa dibuka siapa saja dan maksa buat ngelihatin langit langit ruangan Seungcheol yang dibuat megah. 

 

“Mnhhh…..” Batas tipis di celana Mingyu disingkap buat jalan masuk ibu jari Seungcheol mengusak klitoris yang bersembunyi di balik lipatannya. Sementara jari lain berkelana cari jalan sendiri buat menelusup ke lubang hangat nan basah. 

 

Seungcheol gigit bibir bawahnya ngelihatin pemandangan punggung Mingyu yang melengkung, satu tangan menopang badannya ke belakang dan yang satunya megangin pergelangan tangan Seungcheol yang lagi asik mengorek titik enak di dalam lubang Mingyu. Kakinya bergerak gelisah seperti minta udahan tapi pinggulnya bergerak maju menelan jari Seungcheol semakin dalam. 

 

Mejanya berdecit, beberapa lembaran udah jatuh berserakan. Tapi kalau sudah begini siapa yang peduli. 

 

Mingyu menghela nafas lega waktu dia sampai di pelepasannya, masih mendongak buat memproses tingginya dan belum selesai mengatur nafas. Di saat itu Mingyu dibawa turun dan berbalik.

 

Sekarang bukan bayangan meja Soonyoung yang terlihat di matanya namun sebuah komputer yang nggak menyala. Satu sisi pipinya dingin nempel ke meja. Mingyu melirik ke arah Seungcheol waktu denger suara gemerincing gesper dan resleting dibuka kemudian dijatuhkan begitu aja di atas sepatu kulitnya. 

 

Seungcheol juga nurunin ‘rok mini’ Mingyu, tapi karena karet kencangnya ‘rok mini' itu jadi cuma menggantung di antara paha dan lutut Mingyu. 

 

Mingyu meringis lagi, mulutnya terbuka merapal kata yang nggak koheren maknanya. Dengan kedua lengannya sekarang diikat dengan entah apa di belakang punggung dan badan yang sepenuhnya melengkung ke meja, Mingyu tak ubahnya kriminal yang baru ditangkap petugas saat sedang melancarkan aksi.

 

Bedanya bukan pistol yang menodong kepalanya, tapi benda lain yang sama sama bisa untuk menembak dan mengirim Mingyu ke surga. Sekarang benda panjang dan keras itu kegesek di pantatnya seiring hembusan nafas hangat yang sampai di tengkuk Mingyu. 

 

“Aku nggak pernah tahu pemandangan dari kantorku bisa secantik ini, Mingyu” Bisik Seungcheol lagi, sambil kasih lumayan di telinga lagi. Mingyu senyum tipis masih konsisten dengan rapalan mantra yang cukup membuat Seungcheol kepayang walau yang sebenarnya kedengaran di telinganya cuma desah manja.

 

“But still you're the prettiest–” 

 

Ah, dibisikinnya di telinga tapi yang jawab malah lubangnya. Nggak cuma berkedut sekali, tapi berkali kali seperti sebuah kode yang minta dipecahkan maksudnya. 

 

Tangan Seungcheol membelai peluh yang jatuh di kening Mingyu. Bahan halus kemeja Seungcheol bertumpuk sama hangat hoodie Mingyu ngasih efek gerah yang luar biasa. 

 

“Shh- shit. Ngh–” Lenguhan keduanya kedengaran berirama waktu Seungcheol berhasil menelusupkan penis tegangnya. Tangannya megangin kedua sisi pinggul Mingyu bersiap buat ngasih dorongan. Mingyu ngerintih pasrah, dia nggak suka banget posisi kaya gini soalnya nggak bisa lihat wajah Seungcheol yang keenakan pas dia sengaja ngetatin dan ngelonggarin lubangnya. 

 

Seungcheol mulai memompa maju dan mundur, ngelus kaitan gesper di pergelangan Mingyu yang nggak dia tarik kencang dan biarin longgar. Suara tepukan kulit paha dan pantat Mingyu beradu menuhin ruangan yang biasanya dipakai buat mengesahkan kontrak dengan macam-macam nominal. 

 

Kini Seungcheol yang meringis, nggak bisa membedakan antara sperma atau tiga botol air mineral dan belasan teguk anggur yang sedang berkumpul di ujung tegang penisnya. “Mingyu–hh. I really want to pee” 

 

“Huh?” Mingyu nggak begitu dengar jelas omongan Seungcheol barusan, yang dia rasain cuma nggak ada lagi dorongan hanya ada hangat cairan yang memenuhi lubangnya. Selama beberapa detik cairan itu nggak berhenti keluar dan Mingyu baru sadar kalau Seungcheol kencing di dalam lubangnya. Sialnya lagi lubang Mingyu ngerespon pake kode kedut kedutnya sebelum otak Mingyu bisa mikir. 

 

Keduanya melenguh lagi. 

 

Seungcheol cabut batangnya yang udah separuh lemas dan suara gemericik air kedengeran turun melewati ‘rok mini’ Mingyu, meleber turun dari pahanya dan menetes ke celana dan sepatu kulit yang seingat Seungcheol masih milik sponsor. Nggak lama Mingyu melenguh lagi. Lubangnya nyemburin cairan bening yang langsung terciprat ke meja. 

 

Keduanya kemudian ketawa, Seungcheol melepas gesper di pergelangan tangan Mingyu dan bawa Mingyu berdiri lalu cium cium lagi wajahnya. Mengabaikan genangan yang mengandung oplosan berbagai macam cairan mereka berdua. 

 

“Mandi dulu atau beresin dulu?” Tanya Mingyu, dia paling nggak betah kalau ada yang berantakan tapi waktu mau narik naik lagi ‘rok mini’nya, tangan Seungcheol menahan. 

 

“Selesain dulu” Balas Seungcheol. Dia bawa tangan Mingyu buat nangkup vaginanya sendiri yang masih netesin cairan yang tertinggal di bulu bulu halusnya. Diarahin maju mundur, menggesek dan sesekali ngasih pijatan sampai Mingyu kebawa sama ritme dan ngebiarin dia ngejar enaknya sendiri. Sementara Seungcheol mundur, ngeraih ponsel yang tergeletak di meja dan mengabadikan pemandangan paling cantik yang terlihat dari ruangannya. 

Notes:

minum yg banyak dear🌹