Actions

Work Header

Sangat Lugu Baby

Summary:

Zayne hanya mau menjemput MC di fakultasnya seperti biasa, tetapi entahlah, hari itu terasa aneh ....

(a self-indulgent local applesnow fic written in bahasa indonesia bcs im bored)

Notes:

judul asli fic ini --> "sangat lugu baby, tapi entah lazy t'lah menjadi daya pikatmu" alias lirik Dear J-nya Feni JKT48.

tolong gue juga gak paham kenapa nulis ini ... apa karena stres nguli, mau topup tapi belum gajian ....

Btw MC calls Caleb with "Abang" karena gimana ya dia emang sangat ABANG.

Work Text:

 

Keinginan Zayne saat memasuki kuliah hanyalah hal-hal yang sederhana; menuntut ilmu, membangun koneksi, dan lulus tepat waktu. Jejeran piagam penghargaan dari banyak lomba yang ia ikuti menurutnya hanya bagus–balasan dari betapa tersiksanya ia selama pendidikan, meskipun ia sebenarnya sangat menikmati tiap prosesnya. Teman-temannya tidak banyak dan ia juga tidak terlalu peduli. Setidaknya, ia hidup dengan baik.

 

Hidupnya monoton dan konstan, bahkan MC–sahabat baiknya sejak sekolah menengah yang kini terdaftar sebagai mahasiswi fakultas teknik jurusan arsitektur–selalu mencemoohnya (tentunya secara ringan) kalau Zayne itu sangat membosankan.

 

I take it as a compliment.” Zayne selalu menjawab demikian ketika MC mengeluh kesehariannya sebagai mahasiswa kedokteran itu terlihat hambar.

 

“Aku sedang tidak memuji kamu!”

 

Di tahun ketiganya sebagai mahasiswa, Zayne baru menyadari bahwa ia … sedikit memiliki reputasi di kampusnya. Selama ini, hidupnya berjalan seperti kuda yang dipasang kacamata–hanya memandang lurus ke depan dan tidak melihat ke sekeliling. Ia tidak begitu memperhatikan sekitar.

 

Maka ketika seorang gadis menyatakan perasaannya di kantin teknik–ketika Zayne sedang menunggu MC untuk pulang bersama dengan Tara dan Greyson yang pilih menunggu di parkiran.

 

“Kak Zayne dari kedokteran, kan?”

 

Zayne, yang sedari tadi memandang ke arah taman milik FT yang ramai dengan mahasiswa, pun menoleh. Ia menemukan seorang gadis berambut pendek berdiri di depannya.

 

Zayne tidak suka mengeneralisir, tetapi ia harus mengakui kalau anak teknik memiliki gaya berpakaian mereka sendiri dan semuanya hampir terlihat sama. Kemeja, seringnya kemeja kotak-kotak, yang membalut kaus santai di dalamnya dan celana jins. MC selalu seperti itu pakaiannya, gadis di hadapannya pun sama.

 

“Iya.” Zayne menjawab sambil memperbaiki postur tubuhnya. “Ada apa?”

 

Pipi gadis di hadapannya memerah dan Zayne berpikir apakah mungkin cara menjawabnya yang salah sehingga menyinggung lawan bicaranya saat ini. 

 

“Um … aku El dari arsi dan juga sering satu kelas dengan MC.” Gadis itu mulai berbicara. Ada sedikit nada yang aneh didengar Zayne, tetapi Zayne sendiri juga tidak bisa menilai itu apa. “Aku sering lihat Kakak di FT untuk jemput MC. Umm …”

Oh, Zayne tidak menyangka bahwa akan ada orang yang menyadari kehadirannya di lingkungan FT.

 

(Greyson sendiri sering bilang kalau banyak anak teknik yang sering memperhatikan Zayne, tetapi ia selama ini berpikir kalau Greyson hanya berlebihan. Mungkin Zayne sempat melupakan fakta bahwa dirinya lebih tinggi dari kebanyakan anak laki-laki sehingga ia menjadi lebih mudah terlihat.)

 

“Ah, iya.” Zayne mengangguk singkat. Dia menunggu lanjutan dari gadis bernama El di hadapannya.

 

“Aku … tertarik sama Kakak. Apa Kakak ada waktu untuk pergi berkencan denganku?”

 

Oh?

 

Zayne mengerjapkan matanya.

 

Gadis ini menatap Zayne dengan kilat di matanya. Ia terlihat menunggu jawaban dari Zayne ketika Zayne sendiri merasa pikirannya kosong di balik ekspresinya yang tetap datar.

 

‘Pernyataan cinta? Apa yang bisa kujawab?’

 

Zayne pernah jatuh cinta, yaitu kepada MC. Akan tetapi, itu sudah lama sekali dan Zayne merasa bodoh saat mengingatnya lagi; ia butuh waktu untuk menyadari bahwa ia menyayangi MC seperti menyayangi seorang sahabat baik dan adik kandung sendiri. Saat ia mengaku ke MC soal rasa yang pernah ada itu pun MC terbahak keras dan malah merundungnya habis-habisan.

 

“Kak Zayne …”

 

Rasanya Zayne tidak pernah punya masalah dalam berkomunikasi dengan orang, sekalipun masih terbilang kaku bagi beberapa temannya, namun saat ini Zayne sendiri kebingungan dalam memberi balasan.

 

‘Kenapa di saat-saat seperti ini malah MC tidak segera datang?’

 

“Saya–”

 

Belum sempat Zayne menyelesaikan kalimatnya, dia merasakan lengannya digapai oleh seseorang–itu membuatnya berjengit kaget.

 

“Ah, kamu di sini rupanya! Dari tadi aku dan MC mencari kamu!”

 

Suara tambahan dan kontak mendadak itu sontak membuat Zayne menoleh cepat.

Seorang pemuda berambut kecokelatan dengan netra sewarna lavender kini menatap tepat ke iris hazel Zayne–salah satu tangannya meremas lembut bisep Zayne.

 

“Kamu tahu, aku sudah tidak tahan mendengar MC ribut mencarimu. Aku sudah teriak, “Pipsqueak, Zayne gak mungkin hilang!”, tetapi aku tahu MC tidak akan percaya dan akhirnya aku putuskan untuk mencarimu–” Pemuda itu menoleh ke satu-satunya perempuan di antara mereka itu dan alisnya terangkat. “--siapa ini, Zayne? Kamu kenal?”

 

‘Siapa ini?’

 

‘Harusnya aku yang bertanya, kamu siapa? Kenapa kamu tahu nama aku? Kamu kenal aku dan MC?’

 

“Ah, Kak Caleb! Aku El! Kakak sudah lupa?”

 

‘Caleb … tidak asing. Benar-benar tidak asing, aku sepertinya pernah mendengar nama itu di suatu tempat …’

 

Pemuda itu mengerutkan keningnya. “El … El … Oh, anak perempuan bodoh yang membuntuti aku setahun lalu, ya?!”

 

‘Hah?’

 

Wajah gadis itu memerah padam seketika. “Aku sudah tidak suka sama Kakak, kok! Aku sudah move on begitu Kakak tolak aku!”

 

Pemuda ini–Caleb–bergumam singkat sebelum menarik pelan Zayne ke sisinya. Bila ia mengenal MC dan juga tahu nama Zayne, seharusnya dia orang baik, kan? Zayne masih tidak yakin harus merespon seperti apa keadaan ini.

 

Pemuda itu menggeleng ringan lalu tangannya berpindah untuk merangkul Zayne. Zayne tidak suka kontak fisik, tangannya bergerak untuk mengusir tangan orang asing ini. “Urgh, aku tolak kamu karena kubilang aku sudah punya pacar. Sekarang malah kamu pilih untuk suka sama pacar aku? Nu-uh.”

 

Tangan Zayne berhenti di udara. Raut tenang di wajah Zayne hampir retak.

 

‘Apa?!’

 

.

 

.

 

Namanya Caleb, jurusan teknik dirgantara. Seangkatan dengan Zayne yang berarti terpaut setahun lebih tua dari MC. Teman kecil MC, kenal baik dengan Nenek, rumahnya dulu bahkan berada di samping rumah MC sebelum dia masuk ke sekolah asrama.

 

Pantas namanya terdengar tidak asing bagi Zayne.

 

“Cewek tadi itu memang agak gila. Aku curiga dia punya masalah pribadi dengan MC sehingga dia selalu menarget laki-laki yang dekat dengan MC, dia juga pernah bicara buruk tentang MC! My pipsqueak!

 

Masih dengan lengan yang terkalung di pundak Zayne dan jarak tubuh yang seolah menggambarkan mereka adalah kawan lama, Caleb membawa Zayne pergi dari FT sambil berusaha menjelaskan kejadian aneh yang baru saja Zayne alami.

 

“MC tidak pernah cerita …”

 

“Oh, MC gak akan terpikir untuk menceritakan ke orang tentang masalah yang menurutnya konyol seperti itu.” Caleb berdecak. “Aku tidak suka saat gadis itu mengikutiku tahun lalu. Dia tampak senang saat tahu aku tidak berpacaran dengan MC, tetapi aku kehabisan ide untuk menghindarinya. Aku bilang saja aku punya pacar.”

 

“Oh, terdengar merepotkan,” gumam Zayne menanggapi. “Dan sekarang, aku harus berpura menjadi pacarmu ketika aku baru saja mengenalmu hari ini …”

 

Caleb menghentikan langkahnya.

 

Tatapannya lurus ke mata Zayne, di situlah Zayne menyadari bahwa ada sedikit perbedaan tinggi di antara mereka, sebelum ia menyeringai kecil.

 

“MC sering cerita tentangmu, kok. Zayne si calon dokter, Zayne yang begitu baik budi, Nenek juga pernah sesekali menyebut namamu … Wah, aku sempat cemburu sekali karena mereka seolah menyombongkan tentangmu!”

 

Pujian adalah hal yang biasa Zayne dengar dan dia tidak pernah begitu memikirkannya, biasanya ia hanya tersenyum dan mengatakan terima kasih. Akan tetapi, saat ini ia merasakan ujung telinganya sedikit memanas.

 

“Namun setelah melihatmu secara langsung, aku rasa pujian dari mereka itu kurang.”

 

“Hm?” Zayne rasa ia sudah cukup dipuji. “Maksudnya?”

 

Seringai Caleb melebar. Satu tangannya yang tidak merangkul Zayne kini mengambil sejumput poni Zayne dan menyingkirkannya perlahan.

 

You are insanely attractive.”

 

.

 

.

 

(MC hampir jantungan ketika keesokan harinya ia datang ke kampus dan mendengar kabar dari berbagai arah; kedua sahabat kecilnya berpacaran sejak setahun lalu dan baru go public kemarin.

 

“APA YANG KAMU PERBUAT KEMARIN?!” MC berteriak keras dari seberang panggilan. 

 

Mata Caleb baru terbuka setengah saat menerimanya. “Selamat pagi, Pipsqueak.” Dia menguap lebar. “Aku berbuat apa?”

 

SATU TEKNIK BILANG KAMU DAN KAK ZAYNE BERPACARAN?!”

 

“Oh, itu …” Caleb teringat bagaimana mahasiswa kedokteran itu memerah dalam rangkulannya setelah Caleb puji dan langsung kehilangan kemampuan berbahasanya. Lucu sekali, mirip MC ketika dipuji. “Iya? Kemarin ada sedikit masalah, jadi harus bohong sedikit.”

 

“ABANG–”

 

“Apa aku benar-benar pacari Zayne saja ya? Bagaimana menurutmu, Pipsqueak?”

 

Ketika erangan keras terdengar, Caleb pun tertawa sama kerasnya dengan suara frustasi dari teman masa kecilnya itu.

 

Ini menyenangkan sekali.

 

Ah, Caleb jadi ingin melihat mata hazel itu lagi.)