Work Text:
Jooyeon simpan rasa untuk Junhan pada setiap inti tubuhnya; Ada di ujung lidah yang selalu kelu setiap kali berbicara dengan Junhan, memohon sebuah pengakuan yang sukar tersampaikan. Ada di balik pupilnya yang membesar setiap kali Junhan menatapnya dengan gerlip lugu, bulu matanya menyapu lipatan hasil begadang dengan cara yang paling menakjubkan, kedipan yang terlihat begitu pelan dan segala hal yang buat Junhan jadi kelewat menewan. Ada di sela-sela kuku yang digigit setiap kali perangai Junhan membuatnya salah tingkah, juga bekas penyatuan antara kelingkingnya dengan kelingking Junhan yang disatukan sebagai perjanjian asal-asalan. Ada di ujung kepala yang terasa pening atas setiap senyum kecil Junhan yang terukir karena ulah konyolnya,
atau ketika raga Junhan menjadi lebih dekat sewaktu rumus matematika di atas buku itu gak bertumbuh besar wujudnya.
“Yang ini tulisannya apasih? udah coba kamu itung?” Teknikalnya kepala Junhan sekarang gak punya jarak lebih dari sejengkal dari kepala Jooyeon yang simpan kalut. Selain soal matematika yang susah payah Ia pahami, wangi helai rambut Junhan jadi perdebatan panas di dalam sana.
“ini kalau gue cium sekarang boleh gasih?”
“persetan ngerjain latsol, nan, gue mau pingsan sekarang.”
“Jo? Hei?” Sibuk dengan isi kepala yang bersahutan sana sini, Junhan sampai harus menyadari Jooyeon yang termenung. Yang waktu tersadar, matanya kian membulat sebab sekarang figur Junhan tepat berada di depan wajah Jooyeon.
Dengan kesadaran sekurang-kurangnya, Jooyeon menarik kepalanya menjauh dengan raut kesetanan. “EH!”
Junhan melihatnya heran, bingung dengan reaksi temannya yang barusan menggeser duduk, menciptakan jarak yang cukup jauh. “Kenapa sih?”
Jooyeon menggeleng.
“Aku bau?”
Jooyeon masih menggeleng.
“Mukaku ada yang aneh?”
Jooyeon menggeleng lagi.
“Terus kamu kenapa?”
Barangkali Junhan memang gak punya kadar kepekaan sedikitpun di aliran darahnya setelah kembali mengikis jarak dan menodongkan wajahnya ke paras panik Jooyeon, lebih dekat daripada sebelumnya.
Hingga Jooyeon melarikan diri.
Meninggalkan Junhan sendirian dengan soal matematika yang belum sempat mereka selesaikan.
Ini sudah hari ketiga setelah kejadian memalukan dengan Junhan di sela mereka belajar bersama. Tugas matematika miliknya gak jauh beda kondisinya dengan Jooyeon yang simpan rasa malu tanpa kenal kata selesai.
Jooyeon sekarat setelah tiga hari menghindari Junhan, namun meskipun begitu, Ia yakin akan lebih sekarat kalau harus kembali bertatap muka dan berbicara pada sahabatnya itu.
Melarikan diri gak pernah jadi semenyebalkan ini selama enam belas tahun hidupnya.
Tiga hari belakangan tempat wisata Jooyeon di jam istirahat sedikit banyak berubah, biasanya yang pertama kali Ia datangi adalah kelas Junhan yang dipisah tiga kelas dari miliknya, lalu kantin menjadi sebuah opsi tergantung pada mood Junhan hari itu (yang jelas Jooyeon akan selalu turuti.)
Namun sekarang kantin menjadi satu-satunya pilihan Jooyeon sebab hanya di keramaian Ia bisa bersembunyi dari Junhan sebagai pembenci nomor satu bising manusia.
Jooyeon bisa aja menggaet sekawanan baru dengan wataknya yang mudah berbaur, siapa saja akan dengan senang hati menerima Jooyeon dengan tingkahnya yang terkenal jenaka. Kini, di antara banyaknya perkumpulan yang memanggilnya untuk datang, Jooyeon memilih menghampiri meja Jiseok, teman sekelas Junhan yang selalu bergaul dengan para kakak kelas.
“Oi, Jiseok!” Yang tentu disambut baik oleh Jiseok juga para tertua di meja.
Jooyeon berakhir bergabung dengan mereka, memulai canda tawa, bergabung dengan riuhnya seisi kantin. Untuk sementara melupakan bahan pikiran yang kian mengekorinya selama tiga hari belakangan.
“Eh! Lo gak main sama Junhan lagi?” Kak Jungsu, anak kelas sebelas itu tiba-tiba saja bertanya yang membuat cerocos Jooyeon secara ironi langsung berhenti.
“Nggak, kak.”
Jungsu mengangguk-angguk, disusul dengan yang lain, yang mungkin menyimpan pertanyaan yang sama.
“Pantes sohib lu cuma ngeliatin aja, noh.”
Kalau ada yang lebih cepat dari per sekon, itu adalah waktu Jooyeon untuk memalingkan kepala mengikuti petunjuk dagu Kak Seungmin.
Ada Junhan di ujung sana. Ada punggung Junhan di sana, menjauh dari kerumunan kantin dengan cara yang paling membuat Jooyeon sesak di dada.
Jooyeon punya perdebatan babak kedua yang isunya masih berisi nama yang sama. Apakah Ia harus mengejar Junhan, atau membiarkannya melarikan diri seperti tingkah Jooyeon tiga hari lalu.
“Jangan berantem lama-lama lah, nanti nyesel.” Adalah bentuk hakim dadakan yang bertugas mengetuk palu soal keputusan di kepala Jooyeon.
Dengan sekonyong-konyongnya beranjak dari meja, meninggalkan para penghuninya tanpa sepatah kata. Membiarkan Jungsu memukul lengan Gunil asal dengan kalimatnya yang terdengar manja, “makin keliatan deh kamu yang tertua di sini.” Yang cuma dihadiahi cengiran Gunil dan lontaran mual dari lainnya.
Langkah Jooyeon terdengar gusar di sepanjang lorong, gak jarang membuat siswa siswi jadi menengok ke arahnya. Kelas Junhan ada di bagian ujung dan panjang ukuran lorong sekolahan gak pernah terasa sejauh ini. Rasanya tiap langkah Jooyeon tidak lebih cepat dari rombongan semut yang menopang makanan mereka.
Pintu kelas jadi korban telapak Jooyeon yang mendarat dengan keras, berhasil membuat sedikitnya sisa penghuni di kelas terperanjat, tetapi netranya gagal temukan orang yang dicari, “J-junhan? Dimana?”
Salah satu wanita berkacamata di bangku belakang mengangkat telunjuk, mengisyaratkan lantai atas yang berarti sebuah hamparan kosong atap sekolah.
Setelah mengucapkan terima kasih, buru-buru Jooyeon lari menuju tangga yang akan membawanya pada teman tercinta, teman yang ia cinta.
Anak tangga bergiliran terinjak tanpa kenal jeda, kebas paha bukan jadi masalah dan Jooyeon cuma perlu mendobrak pintu rapat di depan sana dengan sisa tenaga yang dipunya.
Pintu didorong, terbuka lebar menunjukan punggung Junhan yang tengah duduk menghadap depan. dengan kaki yang memangku sebuah kertas bergambar dan kuas beserta cat warna-warni.
“Melukis lagi?” Mungkin gila bagaimana itu menjadi pemecah keheningan yang telah berangsur berhari-hari. Tapi siapa peduli, Jooyeon tetap harus menghampiri Junhan yang masih sibuk menoreh warna pada gambar di pangkuan. “Itu aku?”
Jooyeon mungkin terdengar kelewat narsis barusan, namun Ia kenal betul pada siluet dirinya sendiri yang selalu Ia puja di depan kaca.
“Iya.”
Jooyeon berjongkok di depan Junhan, menjadikan tubuhnya lebih rendah hingga dapat mengamati wajah murung Junhan dari bawah. “Kenapa gambar aku?”
“Buat kenang-kenangan.”
“Memang aku mau kemana?”
“Dibawa pergi teman baru.”
Itu harusnya terdengar menyedihkan, harusnya Jooyeon meratapi kalimat teman dekatnya barusan, tapi yang Ia rasakan kini justru rasa gemas dengan raut wajah polos Junhan dan bibirnya yang sedikit dimanyunkan.
Jooyeon mengambil alih kertas juga kuas cat dari tangan Junhan, menaruhnya perlahan di lantai. Lalu tangannya menggenggam milik Junhan yang terkepal di atas paha, “aku gamau teman baru.” Jelasnya, kelewat halus.
“Sudah tiga hari menghindar, apalagi yang kamu mau selain teman baru?”
“Kamu.”
Anggap saja Jooyeon kesurupan setelah melepas landaskan pengakuan yang selama ini terikat erat di ujung lidahnya. “Aku mau kamu, tapi aku takut. Jadi aku kabur-kaburan.”
“Kenapa takut?”
“Takut pingsan? Atau takut kamu ga suka aku juga?” Dielusnya tangan Junhan secara lembut, “Pas terakhir kali kita ngerjain latsol bareng, aku rasanya mau cium kamu waktu muka kita kelewat deket, tapi itu ga sopan, dan aku gamau dipukul teman sendiri. Jadi aku lari.”
“Larinya perlu tiga hari?”
Jooyeon terkekeh mendengarnya, kemudian sedikit membenarkan posisi jongkoknya, “Ngga, sisanya aku malu karena ninggalin kamu waktu itu.”
Junhan gak langsung menanggapi dengan pertanyaan lain, kepalanya justru diturunkan, mendekat ke wajah Jooyeon yang sudah semerah tomat. “Sekarang mau lari lagi?”
“E-engga, kok.” Jawab Jooyeon terbata-bata.
“Kalau gitu mana?”
“Apa?”
“Ciumnya. Katamu kalau wajah kita sedekat ini, kamu mau cium aku.” Jooyeon terperangah, kepalanya mendadak kosong dengan pernyataan Junhan barusan, maksudnya, apa-apaan? Apa ini cara temannya membalas dendam? “Kamu gak akan dapat pukulan, Jo.”
Benarkah? Haruskah Jooyeon memajukan wajahnya lalu menempelkan bibir keduanya? melaksanakan tindak yang selama ini cuma jadi angan-angan sebelum tidurnya?
cup
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian buyar sewaktu Junhan yang malah lebih duu mengambil aksi. Mengecup bibir Jooyeon sejenak sebelum kembali menarik diri, “Juni..”
“Iya, Jo? Kamu mau pukul aku?”
Jooyeon menggeleng cepat. Lebih baik Ia melompat dari rooftop tinggi ini daripada memukul orang yang baru saja mengecupnya.
Atau lebih baik Ia melakukan hal lain.
Misalnya, memajukan kepala lalu menempelkan bibirnya dengan basah milik Junhan, membiarkannya menyatu, menggigitnya kecil sebelum dengan berani memulai lumatan, membiarkan Junhan menutup mata dan Ia yang menjadi nahkoda di ciuman pertama mereka.
Sejatinya Jooyeon tidak percaya ini. Rasa manis bibir Junhan, bulu mata Junhan yang dapat diamati lebih dekat, wajah cantik Junhan yang begitu lembut hingga Ia percaya lalat akan terpeleset di atasnya. Semuanya terasa begitu nyata, seperti apa yang selama ini Jooyeon bayangkan diam-diam.
Pagutan bibir disudahi dengan tangan Junhan yang mendorong bahu Jooyeon menjauh, mencoba menghirup udara dengan bibir basah yang masih terbuka sedikit, menyimpan bekas campuran saliva.
Jooyeon memperhatikan wajah Junhan, menarik punggung telapak Junhan untuk kemudian Ia kecupi berkali-kali. “Juni suka juga?”
“Ciumannya?”
“Aku, tapi ciumannya juga boleh kalau mau dijawab.”
Dibanding langsung menanggapi, Junhan dengan sengaja kembali mengecup bibir Jooyeon, kali ini bertahan lebih lama sebelum sedikit menarik dagunya, membiarkan nafas keduanya saling beradu,
“Suka. Juni suka semuanya.”
Siang itu Jooyeon tidak lagi malu unjuk rasa lewat sesi pengakuan besar-besaran juga bibir Junhan yang kembali Ia nikmati sampai bel masuk berbunyi.
