Actions

Work Header

Tiga Hari Menyatu

Summary:

Hanya tentang keseharian Heeseung dan Sunghoon di rumah ketika ditinggal Papa dan Mama keluar negeri selama tiga hari. Dan selama tiga hari juga keduanya menyatu.

Work Text:

Day 1

"Kak, Mama titip Adek ya? Jagain Adeknya selama Mama sama Papa tinggal. Tiga hari aja, Kak."

Adalah kalimat terakhir Mama sebelum pergi meninggalkan kediaman beserta dua putra kesayangannya yang hanya memiliki jarak umur satu tahun, Heeseung dan sang adik Sunghoon.

Sudah menjadi kewajiban bagi Heeseung untuk menjaga adiknya selama Papa dan Mama pergi dinas ke luar negeri, bukan malah merusak adik kesayangannya seperti saat ini. Apa boleh buat, tapi Heeseung benar-benar sudah tak tahan. Sudah di ujung sekali.

"Hoon! Sunghoon!" panggilnya sedikit berseru, mengingat Sunghoon tengah berada di kamarnya yang ada di lantai dua saat ini.

"Iya, Kak?" balas Sunghoon berseru.

"Sini dulu, Hoon. Kakak udah gak tahan, mau pipis."

Sunghoon tahu ini salah, tapi tak mengurungkan niatnya untuk tetap melangkah turun menghampiri Heeseung yang tengah duduk di sofa, sudah bersiap. "Kakak kebelet Sayang," seperti sudah paham apa tugasnya, langsung saja Sunghoon melorotkan celana pendek beserta dalamannya.

Tanpa pikir panjang lagi, Sunghoon bergegas naik ke atas pangkuan Heeseung, memposisikan lubang memek merekahnya yang masih kering di atas kontol Heeseung yang baru dikeluarkan dari celana.

"Masih kering, Kak. Bentar ya,"

Sunghoon ludahi telapak tangannya sendiri lalu ia arahkan ke lubang memeknya, membasahi memek miliknya. Setelah dirasa sudah cukup, Sunghoon meraih batang yang sudah setengah tegang itu untuk dimasukkan ke dalam memeknya.

"Ughh... Kakak..."

"Jangan ngedesah, Dek. Bikin Kakak mau ngecrit aja jadinya mmhh... lega banget rasanya..."

Ucap Heeseung setelah kontolnya berhasil menerobos memek Sunghoon. Sunghoon merasakan basah di dalamnya, banjir, hangat, bertanda air seni milik Heeseung sudah bersemayam di perutnya yang jadi sedikit membuncit.

"Kakak,"

"Iya Sayang..."

"Nghh... banjir..."

"Tahan dulu ya, pipis Kakak masih keluar dikit-dikit. Jangan sampai ada yang kebuang, kalau emang ada yang kebuang, harus lewat memek Adek dulu," kata Heeseung sembari mengelus perut Sunghoon.

Sunghoon hanya mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang seringkali ingin keluar. Walau sebenarnya sejak dikeluarkan tadi, cairan bening itu tetap merembes dari memek Sunghoon, membasahi paha dan sofa yang mereka duduki.

"Kakak," panggil Sunghoon lagi ketika merasakan batang yang tadinya hanya setengah tegang itu kini mulai tegang sempurna hingga menyundul titik manisnya. Kontol Heeseung begitu mentok di memeknya, buatnya melayang tinggi.

"Kakak mau ngecrit dikit, Dek."

"Ahh!"

Tanpa bisa ditahan, Heeseung memang sudah tidak tahan sejak tadi. Tak hanya air kencing yang keluar, namun spermanya juga ikut sedikit menyembur membasahi di dalam. "Anget Kakak, Adek anget banget nghh..."

"Sunghoon suka ya Kakak bikin anget?"

Sunghoon hanya kembali mengangguk sebagai balasan seraya menggigit bibir bawahnya. "Ngh... Kakak udah belum? Tugas Adek belum selesai di kamar,"

"Kakak keluarin sekarang ya," Heeseung mengangkat sedikit pinggul mulus Sunghoon hingga kontolnya benar-benar terlepas lalu disusul derasnya air kencing miliknya yang berlomba-lomba keluar.

"Banjir ahh memek Adek banjir..."

"Gih sana kelarin tugasnya dulu. Celananya gak usah dipakai ya? Kakak tadi minum banyak pasti nanti dikit-dikit pengen pipis."

Sunghoon mengangguk patuh, hanya segera berlari kembali ke kamarnya dengan keadaan bawah yang telanjang. Meninggalkan Heeseung yang tengah mengurut kontolnya sendiri sembari menghirup wangi celana dalam Sunghoon.

Tiga hari tanpa orang tua di rumah, rasanya seperti surga bagi Heeseung untuk memperlakukan adiknya sesuka hati. Ini baru permulaan, bahkan orang tuanya baru pergi ke bandara sekitar satu jam yang lalu tapi Sunghoon sudah dibuatnya becek sampai banjir. Sudah seperti toilet pribadinya yang dibutuhkan saat ia merasa ingin buang air kecil dan sperma saja.

Pemuda itu masih tampak fokus di depan meja belajarnya dengan satu tangan yang tak alih dari memek beceknya sendiri hingga panggilan itu kembali terdengar setelah tiga puluh menit lamanya.

"Dek, Kakak mau pipis."

Tanpa basa-basi Sunghoon segera berlari menuruni tangga. "Nungging, Dek. Sambil Kakak bikinin kamu makan," Sunghoon menurut, langsung menungging di depan Heeseung mengingat ia sudah tak mengenakan celana sejak tadi.

Jadi begitu posisinya sudah tepat, Heeseung masukkan kontolnya kembali ke dalam memek Sunghoon, licin, lapar dan masih becek. Lagi dan lagi Heeseung keluarkan air seninya seraya fokus memotong wortel.

"Jangan gerak-gerak dong, Dek! Wortelnya jadi gak simetris nih!" dengusnya ketika merasakan Sunghoon sedikit menggerakkan pinggulnya maju mundur.

"Kakak, mau digenjot dikit..."

Mendengar rengekan Sunghoon barusan membuat senyum di bibir Heeseung terukir. Memang sudah gatal, tegang, dan menunggu momen ini diminta langsung oleh adik kesayangannya. "Dua kali aja ya? Kan belum malam. Nanti malam Kakak setubuhi Adek sampai Adek pipis-pipis..."

Sunghoon merinding mendengarnya, sudah membayangkan betapa enaknya.

Heeseung memulai sodokannya, menarik kontolnya hingga hanya menyisakan kepalanya saja lalu menghentak masuk lagi ke dalam. Hanya sebanyak dua kali tapi sudah berhasil membuat sepasang lutut Sunghoon gemetaran. "Ahh Kak! Airnya keluar nghh... Kak Hee katanya dua kali?" rengek Sunghoon.

"Iyaa dua kali. Ini udah kok habis ini..."

Terkadang ucapan tak sesuai dengan perilaku. Mulut Heeseung memang mengatakan sudah ingin mengakhiri tapi yang dilakukan pemuda itu justru terus menggenjot adiknya seperti tiada hari esok sampai Sunghoon harus berpegangan dengan kursi di depannya agar tak tersungkur. Bohong jika hanya dua kali.

"Ahh..."

Tepat setelah kontol itu ditarik keluar, Sunghoon mendesah keras yang buat Heeseung hanya menyunggingkan senyum miringnya. "Sana belajar lagi, Kakak mau selesaiin masaknya dulu." Bagaimana pun juga ia harus sabar untuk menunggu sampai malam nanti.

Sunghoon sendiri merasa belajarnya kurang efektif sebab seringkali dalam jangka waktu singkat Heeseung memanggilnya untuk kembali buang air kecil. Seperti saat ia baru saja selesai mandi, Heeseung yang juga tengah mandi memintanya untuk membuka memek, meminta memeknya untuk menampung kencingnya lagi.

Atau saat Sunghoon harus zoom meeting dengan dosen dan teman-temannya, Heeseung tak lupa memasukkan kontolnya yang ingin pipis kembali ke dalam memek Sunghoon. Tak peduli dengan wajah Sunghoon di depan layar yang menahan desah mati-matian. Adiknya tak menolak walau seringkali protes. Sebab Heeseung tahu Sunghoon menikmatinya, menginginkannya.

Sunghoon tak tahu saja jika Heeseung, kakaknya itu sengaja minum banyak untuk mengerjainya hari ini, untuk membuat memeknya selalu lapar, longgar dan terus menginginkan kontol Heeseung di dalamnya.

Hari mulai padam, lampu-lampu dihidupkan, bulan bertenger dengan terang walau sedikit tertutupi oleh kabut pembawa hujan. Mendung, sepertinya hujan akan turun dalam waktu dekat. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, Heeseung dan Sunghoon masih berkutat di depan televisi. Menikmati tayangan yang ada dengan keadaan sama-sama telanjang di bagian bawah.

Sebab setelah mandi, keduanya sama-sama sudah tak mengenakan celana. Agar mudah masuk kapan saja, kalau kata Heeseung.

Sunghoon duduk bersila di atas sofa, matanya fokus menatap layar lebar televisi di depan yang menampilkan animasi upin ipin kesukaannya. Tak melupakan Heeseung yang saat ini tengah berbaring di depannya, menggunakan pahanya sebagai bantal. Sesekali tangan nakalnya mencolek memek Sunghoon yang tak tertutupi apapun.

Sementara tangan satunya ia gunakan mengurut kontolnya sendiri. Sunghoon sudah biasa dengan pemandangan itu, jadi tak terlalu peduli jika saat ini Heeseung tengah coli di depannya. "Dek, lihat!" pekik Heeseung.

Sunghoon hanya melirik sekilas. Sunghoon lebih tertarik dengan tayangan upin ipin kalau saja Heeseung tidak dengan sengaja memasukkan satu jari ke dalam memeknya. "Kak Hee..." rengeknya sedikit terganggu.

"Mau kontol Kakak di memek Adek, boleh ya? Lihat kontol Kakak udah ngaceng gini,"

"Kontol Kak Hee tuh emang dikit-dikit ngaceng! Tapi memekku yang harus tanggung jawab. Apalah!" dengus Sunghoon kesal.

"Dimasukin ya, Hoon?"

"Sakit Kak, memekku. Masih kering. Jari Kak Hee di dalam aja sakit apalagi kalau kontol Kakak yang gede itu nghh..."

Dengan jahilnya Heeseung menggerakan jarinya keluar masuk pelan, membuat Sunghoon berjengit kaget. Perih bercampur nafsu tapi Sunghoon tak menolak. "Itu udah desah, udah enak ya?"

Sunghoon kesal, sudah tahu apa jawabannya tapi Heeseung tetap bertanya, sengaja menggodanya. Jari telunjuk Heeseung masih keluar masuk memek Sunghoon, sementara ibu jarinya Heeseung bawa untuk mengucek itil adiknya itu. Total becek. Memek Sunghoon ngucur keluarkan lendir alami, becek, basahi sofa di bawah.

Heeseung bawa tangan kanan Sunghoon yang menganggur untuk memegang batang kontolnya yang sudah tegang sempurna, sangat pas sekali digenggaman Sunghoon. Kontol Heeseung itu panjang, penuh urat, sedikit bengkok ke kanan dengan kepala jamur super cantik berwarna merah jambu. Besarnya jangan ditanya, itulah mengapa Sunghoon sangat suka menggenggamnya.

"Kakak... keras banget, gede..."

"Kamu suka, hm?"

"Suka. Panjang banget... udah setegang ini ternyata."

"Kalau suka Adek mau diapain? Ya ampun itilnya udah bengkak gini, ngowoh banget memekmu Hoon padahal belum Kakak masukin. Ini sih dimasukin dua kontol juga bisa, mau Hoon? Dimasukin dua kontol sekaligus, mau? Kalau mau Kakak telepon Jongseong atau nggak Riki, hm?"

"Kakak..."

"Nghh... iya? Shh..." tangan Sunghoon begitu terampil mengocok kontol kesukaannya.

"Mau disetubuhi. Mau digagahi. Mau dimentokin. Tapi sama Kak Hee aja, kan memek Adek cuman punya Kak Hee, gak mau kontol yang lain. Memek Adek mau dimasukin kontol Kak Hee sampai mentok. Sampai Adek pipis pipis ahh becek banget, gatel..."

Sunghoon gila, Heeseung gila, Heeseung bisa gila, tapi sepertinya Sunghoon lebih gila. Dengan sadar dan sengaja, Sunghoon baru saja membangunkan macan yang tengah tertidur. Kocokan Heeseung di memek Sunghoon terdengar kotor, jorok dan bisa membangkitkan nafsu siapa pun yang mendengarnya.

Apalagi wajah tolol Sunghoon yang kini gigit bibir bawahnya, berhasil buat Heeseung melenguh tanpa sadar. Dengan tangan yang masih mengurut pelan kontol Heeseung, Sunghoon merunduk untuk mempertemukan bibir mereka, sedikit lebih lama, dalam dan menuntut. Tak lupa Sunghoon mainkan bola kembar milik kakaknya itu.

"Mau pindah ke kamar?"

Sunghoon mengangguk, tak ada lagi suara yang bisa keluar setelah ciuman hebat, Sunghoon sudah kepalang ingin segera dipuaskan. Televisi dibiarkan menyala, tubuh Sunghoon digendong bagai koala, belum dimulai tapi Sunghoon sudah tolol dibuat Heeseung sang kakak apalagi ketika dibawa menaiki tangga, kontol Heeseung terus menerus menggesek memek beceknya buatnya melenguh sepanjang perjalanan ke kamar. Sunghoon hanya menginginkan kontol Heeseung segera memenuhinya, mengisinya.

Gila. Kakak Adik macam apa mereka?

Bagaimana jika Papa dan Mama tahu kelakuan dua anak bujangnya saat ditinggal sendirian di rumah.

"Buka kakinya sayang, Kakak udah gak tahan shhh..."

Seperti diburu waktu, padahal karena kontolnya saja yang sudah tidak tahan ingin mendiami tempat bersemayamnya.

Wajah tak tahan Heeseung bagai sihir bagi Sunghoon yang dengan senang hati langsung membuka kedua kakinya. Heeseung menuntunnya untuk merebahkan diri di atas kasur dengan tatapan yang tak alih dari matanya sejak mereka tiba di kamar tadi.

Sementara itu pintu kamar dibiarkan terbuka, toh tidak ada siapapun di rumah selain mereka berdua. Jadi bebas saja.

"Pinter sayang, ayo sekarang diangkat kakinya... pinter! Pinter banget Sunghoon uhh memeknya udah bengkak banget..."

Heeseung menuntun paha Sunghoon agar menempel di dadanya, pemuda itu mengangkang lebar kungkung sang Kakak di tengahnya. Heeseung tersenyum bangga, terlebih ketika memek merah becek merekah itu terpampang bebas di hadapannya. Sunghoon dengan setia menunggu, menunggu digarap dengan memegang kedua lututnya agar menyentuh dada, agar tetap mengangkang, agar Heeseung bisa memasukinya dengan leluasa.

"Pinter banget Adek siapa sih?"

"Adeknya Kakak, Adek Kak Hee... Hhh.."

"Nakal banget memeknya, Hoon. Udah ngowoh banget."

"Mmhh iya ngowoh banget memeknya... gatel..."

Bagaimana tidak ngowoh jika sejak pagi tadi terus dipakai untuk tempat penampungan kencing.

Heeseung bawa jemarinya untuk garuk pelan itil yang sudah merah menonjol menyembul dari labia itu, buat Sunghoon berteriak kencang. Semakin adiknya bergerak tak karuan, semakin Heeseung kencangkan garukannya.

"Kakak! Gatel! Memek Adek gatel..."

"Kalau gatel mau diapain sayang?"

"M-mau di- hhh mau dirojok ahh..."

Tanpa menunggu waktu lama lagi, kepala kontol Heeseung menerobos liang sempit milik Sunghoon. Kepala Sunghoon rasanya pusing, dibarengi dengan manik matanya yang memutih bagai dibawa terbang ke atas awan. Pas, kencang, dalam dan tepat sasaran.

Heeseung diamkan sejenak, menunggu sampai Sunghoon terbiasa dan bisa mengatur napasnya. "Cantiknya Kakak, pinter. Hoon pinter, gatel banget ya memeknya sampai banjir ngucur gini?"

Sunghoon hanya mengangguk tanpa tenaga saat Heeseung sibak rambutnya agar tak menutupi wajah. Napasnya tersengal akibat hasrat yang tidak bisa dibendung lagi. Merasakan kontol Heeseung di dalamnya masih terdiam, tapi tegang dan posesif.

Heeseung dekatkan wajahnya untuk kecup singkat bibir Sunghoon sembari mulai bergerak pelan. Tetap mendekap tubuh Sunghoon dengan pinggul yang semakin lama semakin kurang ajar. Heeseung kecup leher Sunghoon, sesekali menyaksikan wajah kenikmatan yang Sunghoon keluarkan. Benar-benar cantik, Heeseung merasa bangga melihatnya.

"Kak Heeseung,"

"Sunghoon..."

"Enak... enak banget Kak,"

Heeseung semakin bersemangat mendengarnya, terlebih ketika mendengar suara penyatuan mereka yang terdengar kotor dan becek. Mereka benar-benar menyatu, tak ada celah sedikit pun.

"Ahhhh.... ngowoh banget memekmu Hoon.."

Tak ada yang lebih indah selain lenguhan Heeseung di telinga Sunghoon. Ngilu rasanya, tapi nikmat. Apalagi ketika tangan Heeseung turun ke bawah untuk mengucek itilnya yang sudah bengkak hingga menyembul dari labia.

"I-itilnya..."

"Hmm? Itilnya kenapa? Itilnya enak diginiin?"

Dengan mata tertutup rapat, Sunghoon mengangguk ribut. Suara serak Heeseung, tangan gagahnya yang mainkan itilnya, bibir Heeseung yang tak berhenti tinggalkan jejak kemerahan di sekujur tubuhnya, juga ingatan bagaimana memeknya tersumpal, bagaimana kontol Heeseung menyibak memeknya agar terbuka, semua buat Sunghoon pusing, bernafsu dan semakin menginginkan lebih. Lagi, lagi dan lagi.

Juga ingatkan Sunghoon jika Heeseung masih berada di dalamnya, sama sekali tak menambah kecepatan, hanya pelan tapi malah membuat Sunghoon frustasi.

Heeseung menarik kontolnya hingga tersisa kepalanya saja, "Buka matanya sayang, lihat Kakak. Lihat Kakak pas lagi mentokin Hoon," dengan susah payah Sunghoon mencoba membuka kedua matanya yang langsung bertemu tatap dengan manik bening milik Heeseung. Bersamaan dengan itu, Heeseung hentakan kembali kontolnya.

Heeseung tak tahu sedalam apa, tapi berhasil buat mulut Sunghoon terbuka, lalu tak lama meringis ngilu. Benar-benar dalam sepertinya.

"Mentok ya? Sampai geter gitu pahanya..."

Heeseung tak bohong, kedua paha Sunghoon sampai bergetar hebat. Sunghoon merasa kontol Kakaknya seperti masuk ke pintu rahimnya, benar-benar sedalam itu sampai Sunghoon mengeluarkan air mata tanpa sadar yang jejaknya langsung dikecup oleh Heeseung. "Sakit hm?"

Dan dengan jahilnya, Sunghoon merasa sepertinya Heeseung sengaja berdiam diri di sana, membiarkan kontolnya tertanam sedalam itu tanpa menggerakkannya sedikit pun.

"Kakak... nghh pipis! Mau pipis..."

"Baru dimentokin udah mau bocor aja,"

Sunghoon menggeleng ribut, ia benar-benar sudah tidak tahan, sudah di ujung sekali. Hingga tanpa menunggu balasan Heeseung, air kencingnya sudah lebih dulu menyembur, mendorong kontol Heeseung hingga keluar tapi dengan cepat Heeseung masukkan kembali padahal pipis Sunghoon belum sepenuhnya selesai.

"Shh anget..." lenguh Heeseung.

Sunghoon dibuat porak poranda, rasanya tersiksa sebab Heeseung belum kembali menggerakkan kontolnya. Air matanya luruh begitu saja akibat rasa enak yang terlalu berlebihan. Tangan Heeseung tergerak untuk menghapus jejak air mata sang adik, begitu pula dengan kontolnya yang mulai digerakan. Kandung kemihnya tersenggol, Sunghoon kembali merengek.

"Masih jam sebelas sayang, jangan nangis dulu. Perjalanan kita masih panjang,"

Plok plok plok plok...

Sunghoon menangis sebab terlalu nikmat. "Enak banget huhu... kontol Kak Hee di dalam perut aku, kita menyatu."

Heeseung hanya tersenyum mendengarkan, masih semangat untuk menggenjot. Rojok rojok rojok. Keringat Sunghoon bercucuran, begitu pula dengan milik Heeseung. Peluh keduanya bercampur menjadi satu sebagaimana alat kelamin mereka yang seperti tak ingin saling dipisahkan.

"Ahhh... mau keluar!"

Rengekan Sunghoon malah membuat Heeseung lajukan rojokannya, berniat bantu sang Adik untuk segera jemput putihnya. Memang Kakak yang baik, tak ingin Adiknya tersiksa terlalu lama.

"Udah?"

Sunghoon menggeleng cepat, rasanya ingin keluar tapi nyatanya susah, tidak tahu juga mengapa begitu. Jadi dengan inisiatifnya yang tinggi Heeseung kembali kucek itil Sunghoon, yang tak lama kemudian Sunghoon berhasil keluar bersamaan dengan air kencing yang kembali mengucur.

"Bocor lagi, Dek..."

"Iyahh... Kakak yang bikin bocorhh..."

Sunghoon tak bertenaga, membalas sang Kakak sebisanya. "Ahh Kakak bentar! Pelanh-pelanhh.. ah! Ah!"

Heeseung kembali genjot pinggulnya, rojok memek Sunghoon yang baru saja keluarkan cairan alami, buatnya makin licin, makin bersemangat untuk kontolnya Heeseung keluar masuk.

"Bocor terus sih, Dek? Gimana kalau Mama lihat anak bontotnya suka bocor gini?"

Mendengar nama itu disebutkan, entah mengapa birahi Sunghoon kembali naik. Mama. Pasti Mama akan kecewa dengannya jika mengetahui persetubuhannya dengan Kakak sendiri.

"Kakak mau keluar..."

"Ahhh.. ahhh... Kak Hee memek aku..."

Sunghoon bisa rasakan tusukan Heeseung semakin serampangan, tak tahu arah. Hingga tiga terakhir tusukan, Heeseung semburkan benihnya di dalam rahim sang adik. "Kakak pernah minta adik lagi ke Papa Mama tapi gak pernah dikasih lagi, jadi ya udah kakak bikin aja adik sendiri..." ucapnya lirih di ceruk leher Sunghoon setelah dirinya ambruk usai pelepasan.

Napas keduanya bersahut-sahutan, bersamaan dengan terdengarnya rintik hujan di luar sana. "Ngantuk," Sunghoon seperti tidak kuat lagi untuk sekedar membuka matanya.

"Shhh... tidur aja, cup! Cup! Anak pinter," Heeseung usap lembut kepala Sunghoon seraya mengover dirinya ke belakang Sunghoon tanpa melepas penyatuan mereka.

"Di luar hujan, ayo tidur." Dikecupnya lembut dahi Sunghoon sembari tarik selimut putih guna tutupi tubuh telanjang keduanya. Heeseung sayang sekali dengan adiknya, persetan dengan hubungan persetubuhan mereka, tetap saja Sunghoon adalah adik kandungnya, teman masa kecilnya.

"Kak Hee masih di dalam?"

"Iya sayang, gak apa-apa ya? Biarin aja, kita tidur aja."

Tak ada tenaga lagi untuk Sunghoon berdebat, ia hanya segera menutup matanya rapat-rapat. Mengabaikan rasa tidak nyaman, becek, penuh dan mengembang di bagian bawahnya sebab di bawah selimut putih itu milik Heeseung masih bersarang di dalamnya.

Malam masih panjang, hujan masih turun dengan derasnya. Pukul dua dini hari Sunghoon terbangun setelah merasa benda panjang yang mendiami perutnya terasa tegang lagi. "Kak. Kakak! Kak Hee keras lagi," ucapnya seraya mengguncang tubuh Heeseung di belakangnya, berusaha membangunkan Kakaknya itu. Suara serak, hampir tidak keluar tertelan lenguhan samar.

"Eum?" dengan mata yang masih setengah tertutup, Heeseung menarik pinggulnya, kembali menggerakkan pelan. Meskipun nyawanya belum sepenuhnya terkumpul tapi ia bisa mendengar dengan jelas ucapan Sunghoon.

"Ahh... Kak Hee pegang itil aku aja terus, gatel terus rasanya..."

Heeseung menurut, dengan mata yang setengah tertutup dan kantuk yang masih menyelimuti, Heeseung gerakan pelan kontolnya dengan tangan kanan yang tak lepas dari itil Sunghoon.

Sunghoon sendiri terheran, bahkan dalam kondisi kantuk berat, kontol Heeseung tetap ereksi. Tak lama Heeseung keluar lagi, spermanya kembali mendiami perut Sunghoon.

Mereka berdua hanya kembali tertidur setelah itu. Namun satu hal yang tak boleh dilupakan jika kontol Heeseung masih tetap di dalam, tangan Kanan Heeseung masih menangkup itil Sunghoon, mereka kembali tertidur dalam kondisi menyatu.

Sesekali Heeseung garuk itil Sunghoon saat sang empu tengah pulas tertidur membuat Sunghoon kembali keluar tanpa bisa ditahan.

Pukul tiga dini hari, satu jam setelah pelepasan Heeseung yang terakhir, kontol yang masih mendiami memek Sunghoon itu kembali berkedut. Sunghoon mengesah nikmat, matanya masih tertutup tapi Sunghoon bisa merasakan Heeseung bergerak di dalamnya, menggesek dinding memeknya, juga menyundul kandung kemihnya.

Sunghoon seolah tak diberi istirahat sama sekali, memeknya dibuat terisi terus menerus tanpa dilepas sedikit pun.

Sepasang matanya mengerjap pelan, mendapati sosok Heeseung yang sudah berada di atasnya, mengukung tubuhnya. "Nyenyak hmm?"

"Mhhh... shh... memek aku bengkak banget kayaknya, Kak."

"Iya Sayang," balas Heeseung sembari gerakkan pinggulnya kembali. "Becek Hoon, ngowoh banget sampai banjir bandang begini kasurnya,"

Plok plok plok...

"Kakak... capek, mau udahan..."

"Kontol Kakak masih mau kawin sama memeknya Adek."

Sunghoon meringis pelan, gigit bibir bawahnya, wajahnya kembali terlihat erotis di manik mata Heeseung. "Mau cium..." Heeseung sanggupi rengekannya, bibir mereka bertemu dengan pinggul Heeseung yang masih bergerak pelan, tak pernah berhenti.

Suara pertemuan alat kelamin Heeseung dan Sunghoon menjadi satu-satunya suara di antara rintik hujan di luaran sana. Tak kalah beceknya dari guyuran hujan yang seperti tidak mau berhenti.

"Enak Kak ahh ah ahh enak banget, mau disumpel terus. Mau kemana-mana diisi sama kontolnya Kakak, mau kita menyatu terus ahh! Muncrat di dalam, Kak huhu..."

Ucapan cabul Sunghoon kembali mengantarkan Heeseung untuk menyemburkan spermanya di dalam perut Sunghoon, kali ini dibarengi dengan air kencingnya yang mengalir deras. Juga Sunghoon yang tak luput menyemprotkan cairannya.

"Hhh squirt kamu Hoon..."

Banjir bandang adalah definisi untuk keadaan kasur mereka saat ini. Di mana pipis Heeseung dan pipis Sunghoon bercampur menjadi satu, menciptakan noda becek di bawah tubuh keduanya. Luar biasa, Heeseung kembali ambruk di atas tubuh sang adik dengan napas tersengal.

Terlalu nyaman meletakan kepalanya di ceruk leher Sunghoon sembari menunggu kencingnya selesai, tubuh Heeseung mengejut beberapa kali, berusaha menyelesaikan pelepasannya hingga sang empu berbisik pelan.

"J-jangan dilepas,"

"Enggak Sayang, kalau Hoon maunya disumpel terus Kakak bakal terus ada di dalam kamu. Isiin kamu, penuhin kamu, nemenin kamu,"

Sunghoon mengangguk lemah, "Mau hamil, Kak. Hamil anak Kakak..." rengekan dan tatapan memohon Sunghoon buat salah satu sisi bibir Heeseung terangkat samar.

"Perutnya mau diisi bayi, hm?" balas Heeseung sembari bawa tangannya ke perut Sunghoon untuk diusap lembut. Perut yang sedikit membuncit akibat terlalu banyak menampung kencing dan sperma sang kakak.

Heeseung kecup pelan bibir Sunghoon sebelum kembali memposisikan dirinya di belakang sang adik.

Tetap saja, kontolnya tidak mau keluar.

"Nanti Kakak tetap kawini memek Adek pas perut Adek besar lagi hamil anak Kakak. Mau?"

Sunghoon hanya menolehkan kepalanya lemah ke belakang, guna kecup sekali lagi bibir Heeseung yang juga langsung dibalas oleh pemiliknya. Bertanda ia mengiyakan segala ucapan kotor sang Kakak. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.

Dirojok saat perutnya besar terisi, ugh.

Ketika perutnya tengah hamil besar, hamil tua, Heeseung tetap merojoknya, menggenjotnya sampai kepala kontolnya yang mirip jamur itu menyentuh kepala bayi mereka.

Atau saat Sunghoon akan melahirkan normal anak mereka, mungkin Heeseung akan menyetubuhi Sunghoon lebih dulu sembari menunggu pembukaan lengkap. Ugh! Memek Sunghoon kembali mengetat membayangkannya. Berkedut-kedut.

Berakhir cairan bening kembali membasahi kontol Heeseung yang masih menyumpal memeknya. "Mhh anget... bocor lagi kamu, Dek." cicit Heeseung dengan mata yang masih tertutup saat merasakan ada cairan yang membasahi kontolnya lagi. Sementara Sunghoon masih sibuk mengucek itilnya sendiri.

Lalu ia bawa tangan kekar Heeseung yang menganggur untuk tetap menangkup itilnya. Di bawah selimut putih yang sudah tak karuan rupanya, Kakak Adik tersebut mulai terlelap, masih ditemani rintik hujan.

Sementara itu, di luar masih gelap. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi dan kontol Heeseung masih terus menyumpal memek Sunghoon.

Terus, dan akan selalu memenuhi kelamin Sunghoon. Ada kalanya kontol Heeseung tiba-tiba terlepas sendiri dari memek Sunghoon karena terlalu becek, terlalu licin tapi dengan kesadaran yang setengahnya masih direnggut mimpi, tangan Heeseung tetap bergerak cari rumah untuk kontolnya itu.

Kembali masukkan kontolnya ke memek Sunghoon dan mulai menyamankan tidurnya kembali, juga semakin eratkan pelukannya pada sang adik yang sepenuhnya sudah tenggelam di alam mimpi.

Matanya mengerjap pelan, menangkap objek jam dinding di depan sana. Pukul delapan pagi, pantas saja di luar sudah terang, sementara rintik hujan juga sudah berhenti, hanya menyisakan embun dingin di pagi hari dan kamar Sunghoon yang seperti baru saja diterjang badai. Super berantakan.

Cairan cinta berceceran di lantai, pakaian masing-masing saling berserakan, belum lagi kasur yang setengah basah kuyup karena pipis.

Satu hal yang langsung Sunghoon sadari saat mencoba menggerakan tubuhnya, niat awalnya ingin meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, namun ia malah menemukan benda keras dan panjang itu masih mendiami perutnya.

Ia baru teringat saat menoleh perlahan ke belakang dengan susah payah lalu temukan Heeseung yang masih menutup matanya rapat, jika dari semalam Heeseung belum keluar dari tubuhnya. Mereka masih menyatu hingga pagi tiba. Gila! Sungguh gila.

Memeknya terasa becek, bengkak dan cairan terus ngucur dari dalam, Sunghoon pipis lagi, guyur kontol Heeseung lagi diam-diam. Memeknya penuh sekali dan juga bengkak hingga berwarna merah jambu, saat Sunghoon coba raba ke bawah menggunakan tangannya, kontol Heeseung masih ngaceng, masih setia berdiam diri memenuhi memeknya.

Rasanya tidak nyaman, tapi entah kenapa membayangkan jika Heeseung belum keluar dari semalam membuat birahinya naik lagi, bulu kuduknya merinding, pahanya bergetar pelan. Tangannya tanpa diperintah mengucek itilnya sendiri, Sunghoon yakin saat Heeseung mengeluarkan kontolnya nanti, memeknya masih akan terus menganga sebab terlalu lama disumpal.

"Shh... ngowoh banget memeknya..." gumamnya kecil.

Sudah berapa jam mereka menyatu, sudah berapa ribuan detik memeknya disumpal oleh kontol Heeseung. Tapi tetap saja, memeknya selalu terasa becek seolah tidak pernah merasa puas. Sunghoon bisa saja hamil besok jika terus-terusan diisi seperti ini.

Hamil sperma dan kencing Heeseung.

"Good morning Adek,"

Suara serak Heeseung buat Sunghoon melenguh pelan saat merasa Heeseung kembali gerakkan kelaminnya. Hanya pelan juga serampangan, tapi berhasil senggol titik nikmatnya, mungkin karena posisi mereka yang menyamping saat ini. Belum lagi suara jorok dari tepukan kulit mereka yang bertemu, Sunghoon bisa pipis lagi hanya dengan mendengar penyatuan mereka. "Ahh... hari ini kita mau ngapain, Kak?"

"Kawin."

"Bersenggama sampai Adek hamil."

Sunghoon mencebik, memeknya kebas, tapi tetap saja memeknya terasa enak saat Heeseung kembali merojoknya dari belakang. Buatnya tidak bisa menolak dan biarkan Heeseung kembali pipis membasahi rahimnya, tubuhnya sontak menegang. "Nghh... Kak Hee pipis lagi."

"Iya Sayang,"

"Memek aku penuh nghh..."

"Kakak emang selalu pipis kalau bangun tidur, tadi Adek juga pipis kan?"

Bibir Sunghoon kering, dengan mata tertutup menahan nikmat sembari mengerang penuh lenguhan, ia mengangguk serampangan. Pipis setelah bangun tidur adalah wajib baginya, meski dalam kondisi memeknya penuh sekali pun.

Sunghoon coba gerakkan tubuhnya yang sudah pegal sejak tadi, dan lupa jika kontol Heeseung masih menyemburkan kencingnya, akibatnya cairan bening itu berlomba-lomba keluar mengalir di pahanya. Enak, Sunghoon ingin menangis saking enaknya.

"Oh mau digerakin lagi sayang? Kalau mau Kakak aja yang gerak, nanti kamu capek. Hoon tinggal ngangkang aja,"

Sunghoon menggeleng cepat, "Gak mau. Pegel shh... tubuh bagian kiriku rasanya kebas. Mau ganti posisi," rengeknya yang terdengar manja. Bagaimana tidak kebas jika dari semalam posisi mereka terus berbaring menghadap ke arah kiri.

Permintaan sang putra bungsu kesayangan keluarga tentu saja segera dituruti, Heeseung beranjak tanpa melepas tautan mereka, mengecup singkat pelipis Sunghoon yang dekat dengannya sebelum membawa tubuhnya ke atas sang adik. Kedua paha Sunghoon dilebarkan agar Heeseung juga ikut merasakan nyaman.

"Udah mendingan sayang? Hm?"

Sunghoon mengangguk tanpa kata, sementara itu wajah sang kakak berada tepat di atas wajahnya, entah kenapa membuat jantungnya berdetak tak karuan. Heeseung itu tampan, makanya Sunghoon rela dijadikan toilet pribadi selama ini, satu-satunya cara agar bisa dekat dengan sang kakak.

Sebab selama ini, Heeseung cukup pendiam. Dan mereka tak terlalu dekat, tidak seperti kakak adik pada umumnya.

Dikecupnya tanpa permisi bibir milik yang lebih muda, Sunghoon sontak membuka matanya. "Masih ngantuk apa gimana kok merem lagi? Kakaknya dianggurin gini," ucap Heeseung.

"Kakak masih gak mau keluar?"

"Emang kapan Kakak bilang mau keluar?"

Sialan. Seperti salah besar Sunghoon bertanya demikian, sebab kini Heeseung kembali gerakan pinggulnya pelan, juga dorong kedua pahanya agar semakin terbuka. "Dengerin tuh! Adek becek banget, Kakak rasanya sampai gak mau keluar. Mau nusuk Adek terus sampai bayinya jadi, sampai Papa Mama pulang."

Sunghoon menggeleng tak sanggup, tapi dengan cepat Heeseung kembali bungkam bibirnya yang kering. Melumatnya pelan, digigitnya perlahan, tak lupa juga gerakkan kontolnya terus. "Shhh... nusuk banget," lirih Sunghoon saat Heeseung lepaskan bibirnya yang sudah berubah bengkak.

"Kandung kemihnya kena ya, sayang?"

"Kalau gak kena, gak mungkin aku dari tadi pipis-pipis."

Saking seringnya pipis, kasur mereka sudah tak berbentuk lagi, lengket, lembab dan juga ugh... jorok. Heeseung hanya terkekeh, wajahnya terpancar kata bangga. Bangga sudah buat adik kesayangannya porak-poranda di bawahnya seperti sekarang.

"Badan aku bau pipis,"

"Gak apa-apa."

Heeseung kembali nyamankan dirinya di atas sang adik, tak lupa menyangga tubuhnya menggunakan tangannya sendiri agar tak terlau menimpa Sunghoon. Yang tertua bersiap tidur kembali, seolah mengabaikan jam dinding yang semakin riuh berputar. "Biarin aja dulu, nanti pejunya keluar kalau dilepas sekarang."

"M-mau udahan," pekik Sunghoon takut-takut. "Aku ada zoom meeting jam sembilan nanti, Kak. Lepasin dulu, ya?" Dan bukannya melepaskan, Heeseung justru malah menghentak kontolnya agar semakin masuk.

"Anghh Kakak..."

Sunghoon mengejan pelan, alhasil ia dapat merasakan cairan mulai keluar lagi dari penyatuan mereka. Sepertinya sperma Heeseung sisa dari permainan semalam. "Kak, please. Udah mau setengah sembilan. Aku harus zoom jam sembilan, Kak. Lepasin dulu ya? Nanti boleh dimasukin lagi pas udah selesai zoomnya?"

"Kamu udah gak sayang lagi sama Kakak, Hoon?"

Sunghoon ingin menangis rasanya, mengingat dosennya cukup killer jika ia sampai telat sedikit saja. Tapi di sisi lain, Sunghoon sangat sayang dengan Heeseung, ia tidak mau membuat kakaknya itu sampai kecewa. "Tadi malam siapa yang bilang mau disumpel terus-terusan? Gak mau Kakak keluar?"

Iya sih, yang namanya orang lagi birahi pasti bisa mengatakan apa saja.

Jika boleh menyesal, Sunghoon menyesal mengatakannya. Sudah tahu Kakaknya ini kelebihan hormon, sudah tahu kontol Kakaknya ini bisa ngaceng tiga hari berturut-turut tapi ia dengan beraninya malah berbicara sembarangan. "Tapi sekarang aku maunya Kakak keluar!" seru Sunghoon dengan nada yang sedikit tinggi buat pinggul Heeseung yang sebelumnya bergerak kini terhenti.

"Oke."

Balas Heeseung. Sunghoon berubah panik saat benda panjang yang masih menegang dan berdiri tegak itu ditarik keluar dari memeknya. Mengapa ia harus panik, bukankah memang ini yang Sunghoon inginkan? Tapi, kata terakhir yang dikeluarkan Heeseung terdengar tidak bersahabat. Sunghoon takut kakaknya itu benar-benar marah dan tidak mau mengisi memeknya dengan kontolnya lagi di kemudian hari.

Heeseung meninggalkan Sunghoon dan kasur yang berantakan itu, berjalan dalam keadaan telanjang menuju jendela yang memantulkan sinar mentari pagi. Berdiri di sana dengan kontol yang masih menegang, masih basah jejak dari penyatuannya dengan Sunghoon. Dari wajahnya, dapat Sunghoon tangkap jika Heeseung sepertinya benar-benar marah dengannya.

"Kok Kak Hee marah?"

Sunghoon mencebik, seperti ada yang hilang dari tubuhnya, memeknya terasa kosong. Apalagi ketika tidak ada balasan sama sekali dari Heeseung yang berdiri membelakanginya itu. "Siapa juga yang marah." Ketus dan terdengar tidak bersahabat.

Dengan susah payah dan tubuh sempoyongan, Sunghoon coba susul sang Kakak walau memeknya benar-benar terasa kebas. "Aku sayang sama Kakak, Kak Hee jangan marah ya? Kan cuma sebentar dilepasnya," Sunghoon tabrakkan tubuhnya untuk memeluk Heeseung dari belakang.

"Kalau sayang gak bakal minta dilepas."

Heeseung melipat kedua tangannya di depan dada, abaikan pelukan yang Sunghoon sematkan di tubuh polosnya. Sementara tangan Sunghoon mulai nakal, mulai meraba putingnya dan kini turun melewati perutnya untuk mengelus kontolnya yang masih tegang sempurna itu. "Jangan marah. Aku sayang Kak Hee," ucapnya dibarengi kocokan pelannya untuk kontol Heeseung.

"Udah sana zoom meeting. Ngapain masih pegang-pegang kontol yang belum berhasil bikin kamu hamil ini."

Sunghoon tahu, kakaknya cukup menikmati kocokannya yang lihai, tapi tetap saja, Heeseung masih berdiri tegak di atas tanah egonya. Tinggi sekali, sampai Sunghoon harus beralih ke hadapan yang lebih tua lalu berlutut tepat di hadapan benda tegak menjulang itu.

"Adek minta maaf, Kak." Katanya lalu mulai masukkan kontol Heeseung ke dalam mulut kecilnya, baru kepalanya saja sudah berhasil turunkan ego Heeseung sedikit demi sedikit hingga lenguhan itu berhasil lolos.

Sunghoon melirik ke atas, sembari mulutnya bekerja keras kulum kejantanan sang kakak yang sudah memerah di bagian ujungnya itu. "Adek janji, Adek bakal cepet hamil dalam waktu dekat. Tapi Kakak jangan marah sama Adek mmcchh mmhh..."

"Enak? Enak Hoon? Kontol Kakak enak?"

Mulutnya penuh, Sunghoon tak bisa menjawab tapi ia mengangguk. Meskipun wajah Heeseung masih memancarkan amarah, setidaknya Sunghoon sudah lega, Kakaknya sudah mau berbicara dengannya.

Heeseung terbuai, terbawa permainan. Ikut gerakan kontolnya untum rojok mulut sang adik, mulut Sunghoon sama saja enaknya seperti memeknya yang saat ini bertambah becek itu.

"Lihat tuh! Memekmu becek netes-netes ke lantai saking ngowohnya," dengus Heeseung.

Sunghoon tak pedulikan memeknya sendiri. Ia hanya dengan cepat kulum kontol Heeseung yang juga sama tengah digerakkan. Sunghoon dikejar waktu, perihal nikmat dan sang dosen killer yang akan ditemuinya sebentar lagi lewat layar laptop.

"Ahh!"

"Telen sayang."

Heeseung merendah tuk usap halus rahang sang adik yang masih menangkup kontolnya menggunakan mulut. Selesai pelepasannya, Heeseung mulai tarik kontolnya yang lagi-lagi masih berdiri tegak setelah dikeluarkan dari mulut Sunghoon.

Sunghoon bersimpuh di lantai, memeknya menyentuh ubin yang dingin. Napasnya masih tersengal, tapi dengan cepat Heeseung bawa dagunya agar mendongak untuk menatapnya. "Udah ditelen kan?"

Sunghoon mengangguk, wajah polosnya buat Heeseung ingin lagi. "Kakak mau lagi kalau kamu mau Kakak gak marah." Sudah ingin Sunghoon iyakan kalau saja alarm yang berasal dari ponselnya berdering keras di atas nakas.

"Astaga zoom meetingnya!"

Sunghoon memekik keras seraya beranjak, ia gugup menyambar baju yang tergeletak di sembarang tempat untuk langsung ia kenakan. Persetan dengan ia yang tak sempat mandi atau pun mencuci muka.

Eum... mencuci memek pun juga tak sempat.

Yang berhasil diraihnya hanya baju, itu pun kaus tipis milik Heeseung. Entah di mana pakaian lain seperti celana. Dengan masih bertelanjang di bagian bawah, Sunghoon segera bersimpuh di depan meja sembari membuka laptopnya.

Beruntung ia tak terlambat.

Siapa bilang zoom meeting dapat membebaskan Sunghoon dari kontol Heeseung.