Work Text:
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dan seekor hybrid sapi terlihat berdiri di depan pintu besar. Sang hybrid memeluk erat lengan sang pria, wajahnya terlihat ketakutan.
"Siap ketemu mereka?" Tanya sang pria, yang dibalas gelengan kuat dari sang hybrid. "Nggak.. Gak siap.."
"Hei, kok gitu? Tadi katanya siap?" Sekali lagi gelengan kuat.
"Master, gak bisa.. Gunwookie gak bisa.. Takut banget, gak mau.." Melihat wajah sang hybrid yang ketakutan, pemilik peternakan yang dipanggil 'master' itu menangkup pipi berisinya, mengusapnya pelan.
"Tenang aja Gunwookie, mereka baik, gak mungkin nyakitin kamu. Sekalipun mereka nyakitin kamu, master bakal langsung lari kesini buat selamatin kamu, ya?" Sang hybrid sapi, Gunwook, hanya terdiam sambil berusaha keras menahan air mata.
"Gunwookie.." Master memeluknya. Menenggelamkan wajah sang hybrid ke dada bidangnya, mengusap rambut dan punggungnya lembut.
"Jangan begitu mukanya, master sedih liatnya.."
"Master.. Gunwookie takut..."
"Sayang.. Ini demi kebaikan kamu juga loh. Master gak bisa lihat kamu kesakitan terus.." Tangan besar sang master turun untuk meremas pelan dada penuhnya. Sangat keras, seharusnya tidak begini..
"M-master, sakit.." Gunwook berusaha menjauhkan tangan besar itu.
"Tuh kan.. Kasihan kamu tuh dadanya sakit terus, penuh terus karena gak lancar keluar susunya. Master udah diskusi sama dokter, katanya kamu harus dapet rangsangan dari banteng biar susunya lancar"
"Harus banteng..? Gak bisa sama master aja kaya sapi lainnya..?"
"Gak bisa kan sayang, kamu sendiri yang ngamuk-ngamuk gak mau dipegang sama master loh"
Gunwook adalah salah satu hybrid sapi miliknya. Berbeda dengan hybrid sapi lain, Gunwook tidak bisa menghasilkan susu. Susunya hanya bisa menetes sedikit, bahkan saat diperah secara langsung dengan tangan.
Hybrid sapi lain yang mempunyai masalah serupa bisa secara lancar memproduksi susu setelah dimanjakan langsung oleh sang master, tapi Gunwook berbeda, tubuhnya seakan menolak sentuhan intim.
Mungkin karena trauma yang ia miliki juga berpengaruh untuk masalah persusuan ini. Saat susunya dicoba pun kualitasnya kurang baik. Rasanya hambar karena dikeluarkan secara paksa.
Banyak kawannya bilang susu hasil ternak akan terasa nikmat jika hewan ternak dirawat dengan baik. Tapi untuk masalah Gunwook, sebesar apapun usaha sang master dalam membuatnya bahagia, hasilnya tak kunjung memuaskan.
Ia sudah coba memijat rutin dada Gunwook, yang tentu saja tidak cukup. Hal itu malah membuat sang hybrid stress karena nafsu yang memuncak, tetapi tidak bisa klimaks dengan benar karena tidak ingin bagian intimnya disentuh. Sedikit saja bagian itu disentuh, sang hybrid akan mengamuk dan mengurung diri di kamar.
Karena kondisi Gunwook yang semakin mengkhawatirkan, master memilih berdiskusi dengan dokter khusus yang memang ditugaskan di peternakan. Sang dokter menjelaskan perihal beberapa hybrid yang memang hanya ingin menerima rangsangan dari spesies sama dan Gunwook adalah salah satunya.
Sang dokter menyarankan untuk memberi Gunwook seekor banteng, dan memastikan sang hybrid mendapat rangsangan sedikitnya sekali setiap hari dari banteng tersebut.
Kasarnya, seks setiap hari.. Ya, setidaknya sampai susunya lancar keluar dan bisa diperah secara rutin.
Jadilah ia membawa Gunwook ke bangunan dimana para banteng tinggal. Master yang merasa sudah egois karena memaksa sang hybrid untuk kawin dengan banteng, membiarkan Gunwook untuk memilih sendiri banteng mana yang ia mau.
Jujur saja, sang master sedikit tidak rela. Gunwook sudah ia rawat sejak sang hybrid dibuang oleh pemilik sebelumnya. Master lah yang berhasil membuat Gunwook secantik ini hanya dalam waktu tiga bulan. Bahkan Gunwook sampai dinobatkan sebagai hybrid sapi tercantik tahun ini. Entah sudah berapa banyak tawaran untuk membeli Gunwook yang ia tolak mentah-mentah.
Tapi ia juga tidak bisa egois, semua ini demi kesehatan sang hybrid. Gunwook bisa saja jatuh sakit jika keadaan terus berlanjut.
Master menghapus air mata dari pipi berisi sang hybrid, lalu mencium keningnya lembut.
"Kalau ada apa-apa kamu panggil master ya? Ini.." Sang master menyentuh bel choker di leher sang hybrid. "Kamu teken tombol di belakangnya dan master bakal langsung dateng kesini. Ngerti ya, cantik?"
Gunwook masih terdiam. Masih mencoba untuk meluluhkan hati sang master dengan mata besarnya. Hatinya mencelos saat master mengalihkan pandangan. Merasa kalah, Gunwook terpaksa mengangguk.
"Jawabnya pake suara dong sayang.."
"Ung, ngerti.."
"Anak pinter. Nah, ayo kita kenalan sama banteng-banteng ya!"
Saat pintu terbuka, keduanya langsung disambut oleh para banteng. Bulu kuduk Gunwook berdiri, telinganya turun, merinding merasakan tatapan tajam para banteng di dalam sana. Untungnya tidak berlangsung lama karena ia sadar ternyata tatapan para banteng itu terfokus pada master, bukan pada dirinya.
"Selamat sore semuanya! Apa kabarnya kalian semua??" Suara master menggema di dalam gedung itu. Gunwook meringis, tidak terlalu suka dengan suara keras.
"Kita semua sehat kok master! Oh iya master, si Ao gak makan siang lagi tuh!"
"Bin berisik!"
"Master! Si Matthew makanin snack aku mulu!"
"Yaudah sih! Kan kata master kita harus berbagi ya, Taerae!"
"Master, kuas Ricky digigitin lagi sama Gyuvin!"
"Gak kok master! Ricky boong!"
"Master, si Yujin gangguin aku mulu!"
"Apasih kak Jiwoong? Aku diem aja padahal.."
Sang master menanggapi satu-satu rengekan para hybrid. Gunwook hanya bisa terdiam di depan pintu, berharap agar atensi para hybrid tidak beralih kepadanya.
Pupus. Salah satu hybrid banteng berkontak mata dengannya. Itu adalah hybrid yang pertama menyapa master, kalau tidak salah namanya Bin..?
Bin sudah berada di hadapannya. Wajah tampannya membuat Gunwook reflek menunduk, menyembunyikan pipi yang perlahan memanas. Entah kenapa ia merasa sangat terintimidasi, padahal banteng di hadapan tidak lebih besar darinya.
Rasanya ingin sekali berlari ke kamar. Menenggelamkan diri dalam selimut tebal bermotif beruang miliknya, lalu tidur pulas. Tapi ia tidak bisa, karena kamarnya sekarang disini. Tepatnya di bagian terdalam bangunan. Yang artinya jika ingin kesana, ia harus berjalan melewati para banteng.
Mengerikan..
"Halo! Kamu hybrid baru ya??" Suara riang itu menyapanya. Gunwook merasa bersalah tidak bisa mengembalikan antusiasme itu, dan hanya dapat membalas dengan anggukan lemah.
"U-umm.. T-tiga bulan.." Jawaban tidak nyambung macam apa itu? Ah, Gunwook sangat ingin bersembunyi saking malunya.
"Tiga bulan..? Maksudnya udah tiga bulan disini?" Gunwook kembali mengangguk. "Oh kamu sama kaya Yujin! Aku baru dua tahunan, bareng sama Hao dan Jiwoong. Kalau sisanya sih masih baru juga, setahunan."
"Oh begitu.." Dalam hati Gunwook meringis mendengar balasannya sendiri yang terkesan dingin. Untung saja Bin yang kelewat ramah tidak terlihat tersinggung.
"Iyap begitu! Oh iya, tapi kok kita gak pernah liat kamu ya?"
Tentu saja, karena Gunwook hampir tidak pernah bermain di peternakan. Ia hanya bermain di halaman luas milik sang master, berenang di kolam privatnya, bahkan mempunyai kamar sendiri di rumah minimalis namun mewah itu.
Sekarang berbeda. Ia harus bersosialisasi, harus melihat dunia luar, harus membiasakan diri di lingkungan yang seharunya. Meski kata master ia bebas kembali ke rumah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa rumah Gunwook yang seharusnya memang disini..
"A-aku tinggal sama master..."
"Ooh gitu.. Kamu gak pernah main ke luar ya?"
"Iya.. Maaf.."
"Loh, kok minta maaf? Gak papa loh, normal aja! Oh ya, nama kamu siapa? Aku Hanbin, tapi panggil aja Bin!" Dengan ragu Gunwook menerima tangan Hanbin untuk bersalaman. Tangannya sangat hangat.
"Gunwook.."
"Salam kenal ya Gunwook!"
"Iya Bin.."
"Kamu pemalu ya?" Telinga Gunwook turun mendengarnya. Ia makin menunduk, reaksinya membuat Hanbin kelabakan.
"Bukan maksud apa-apa kok! Malah imut aja gitu, kaya Yujin dan Ricky waktu awal kesini!"
'Imut'. Gunwook langsung menahan telinganya yang bergoyang penuh semangat dengan kedua tangan. Di belakang, ekornya pun ikut mengibas, tapi ia tidak bisa menahannya. Dadanya pun berdegup kencang, kelewat bahagia padahal itu hanya pujian biasa.
Hanbin mengulum bibirnya sejenak, sebelum kembali tersenyum saat Gunwook mendongak sedikit.
"Gunwook, masuk ke dalem yuk? Kenalan sama yang lain juga!"
Gunwook hanya terdiam sambil menatap.
"Gak usah takut, kita semua baik kok! Yuk?"
Sepertinya Hanbin bisa dipercaya. Semoga banteng-banteng yang lain juga seramah dirinya. Memantapkan diri, Gunwook akhirnya mengangguk.
"Gandengan?" Tawar Hanbin. Tangannya kembali terjulur. Gunwook menatap sejenak sebelum menerima uluran tangannya. Hanbin tersenyum lebar. "Biar gak nyasar, hehe"
Tangan yang lebih kecil dari miliknya itu terasa hangat dan lembut, berbeda dari tangan masternya. Tanpa disadari Hanbin, telinga Gunwook kembali bergoyang, dan ekornya kembali berkibas.
--------
Gunwook diajak ke sebuah ruangan, sepertinya ruang tamu atau ruang untuk berkumpul. Di sofa, ia melihat master dikerubungi para banteng. Ada yang bersandar pada pundak, ada juga yang tiduran di pahanya. Ah, itukah alasan master tidak kembali untuk menemuinya..
Omong-omong melihat semua itu membuat ketakutan Gunwook sedikit berkurang. Bantengnya ternyata tidak se-menyeramkan seperti yang tertulis di buku. Justru mereka terlihat jinak..
"Master gimana sih? Ini Gunwook ditinggal!" Serang Hanbin. Di belakang, Gunwook mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk setuju. Master langsung panik melihatnya.
"Gunwookie, maaf ya master ninggalin kamu sendiri! Mereka gak mau ngelepasin soalnya!" Master berujar sambil berusaha melepaskan diri dari para banteng yang menahannya.
Gunwook terkekeh pelan melihatnya. Tidak kaget, meski tubuh master lebih besar, banteng tetaplah banteng yang punya kekuatan lebih besar dari manusia biasa.
Tapi tak lama ia kembali terdiam, kembali gugup saat menyadari tatapan para hybrid kini jatuh kepadanya. Ia menyembunyikan tubuhnya ke belakang Hanbin meski percuma, ia lebih tinggi dari sang banteng.
"Loh? Anak baru kah? Sini, sini duduk!"
Banteng yang menggigiti kuas kawannya memanggil. Dengan ragu Gunwook mendekat saat Hanbin mendorongnya pelan. Baru saja akan duduk di ruang kosong, dirinya malah langsung ditarik duduk ke pangkuan.
Bukan pangkuan master seperti biasa, melainkan pangkuan salah satu hybrid banteng.
Tubuhnya sontak menegang, apalagi saat hybrid itu mengeratkan pelukan, dan dengan tidak sopan mengusakkan wajah ke punggungnya. Apa ini cara banteng menyapa satu sama lain?
"Aduh Matthew.. Dibilang jangan gitu.."
"Matthew heh! Anaknya takut itu!" Si penggigit kuas menegurnya.
"Enak banget, wangi susu!"
"Ini nih kalo banteng gak pernah dikasih sapi" Gumam master. Semua banteng mendelik ke arahnya.
"Dikira salah siapa coba?" Balas banteng yang sedari tadi tertidur dengan beralaskan paha master.
"Ya kalian kalo dikasih sapi langsung diteror gini!"
Gunwook sangat ingin melepaskan diri dari jeratan Matthew, tapi ia kelewat takut. Dari buku yang ia baca, banteng itu agresif dan sangat mendominasi. Apa jadinya jika ia membuat para banteng marah karena bersikap tidak sopan?
Melihat tangan banteng di perutnya membuatnya bergidik ngeri. Ototnya hampir sebesar paha Gunwook. Bagaimana kalau dia tiba-tiba dibanting ke tanah karena membuat sang banteng kesal?
Jadilah ia hanya menunduk, memperhatikan tangannya yang bergetar hebat.
"Gunwookie sayang, kamu gak masalah dipangku Matthew gitu?" Ia mendengar suara master.
Masalah, sangat amat bermasalah. Tolong tarik dia keluar dari jeratan banteng ini sesegera mungkin master--
"Gak masalah, master..."
Merasa puas dengan jawaban Gunwook, sang master berdiri dari duduknya. "Nah, kalian kenalan deh ya, master ada urusan dulu. Jangan apa-apain Gunwook loh ya!"
Oh tidak..
Gunwook menahan tangannya. Ia menatap master dengan memelas, berharap master mengerti bahwa dirinya benar-benar tidak siap ditinggalkan sendiri dengan kawanan banteng ini.
"Master jangan tinggalin Gunwookie!"
"Kenapa lagi sayang? Udah kenalan kan? Udah tau kan mereka gak galak?" Gunwook tidak menjawab.
"Gak papa ya dicoba dulu? Kalo sampai lusa kamu masih gak betah, kamu boleh balik tinggal di rumah master. Inget kata master tadi? Kalau minta bantuan harus gimana?"
"Tekan tombol di belakang bel.."
Master mengusap pipi tembamnya, mencubitnya gemas. "Pinter banget kamu tuh! Yaudah, master pergi dulu ya? Master bakal kesini besok sore, ya cantik?"
"Iya.."
Master mengusap surainya terakhir kali sebelum pergi dari bangunan itu. Pergi meninggalkan Gunwook yang masih terkunci dalam pelukan maut Matthew yang masih mengusak ke punggungnya. Banteng satu ini benar-benar menyukai aroma susunya ya..
Omong-omong keadaannya sunyi. Para banteng daritadi hanya memperhatikan, tidak ada yang memulai percakapan sama sekali. Gunwook merasa sangat pusing dibuatnya. Ia merasa matanya memanas dan kupingnya kembali turun, bibirnya sudah bergetar. Semua ini membuatnya kewalahan.
"G-gak mau huhu.." Ia menutup wajah dengan kedua tangan, mulai menangis.
Para banteng tentu panik dibuatnya. Suasana langsung ramai karena para banteng yang mencoba untuk menghibur. Bahkan banteng yang sedari tadi tertidur langsung duduk tegak.
Matthew memindahkan Gunwook ke sofa. Meminta maaf berkali-kali karena sudah tidak sopan padanya. Jujur, Gunwook ikut merasa bersalah. Ia memang takut, tapi ia juga tau bahwa Matthew tidak bermaksud buruk.
Semua ini salahnya. Semua ini kacau karenanya. Pasti semua banteng akan membencinya. Akan menganggapnya makhluk lemah yang mengganggu lalu membuangnya seperti koloni dan masternya yang dulu.
"M-maaf.. Maaf, hiks.."
Ia butuh master, benar-benar membutuhkannya. Dengan gemetar, ia membawa tangannya ke lonceng. Baru saja akan menekan tombol, tangannya ditarik pelan oleh seseorang, lalu ia merasakan lembut di telapak tangan.
Saat membuka mata yang tidak disadari menutup, Gunwook menemukan boneka beruang kesayangannya.
-----
Hanbin dan para banteng sebenarnya sudah diberi tau oleh sang master perihal hybrid sapi yang akan berpindah ke 'lumbung' mereka. Awalnya Hanbin skeptis, mengapa sapi dimasukkan ke tempat penuh banteng? Bukankah itu sama saja dengan melempar daging segar ke kandang singa yang kelaparan?
Tapi saat mendengar alasannya, juga dengan detail diberi tau mengenai keadaan hybrid sapi bernama Gunwook itu, Hanbin langsung menyetujuinya. Ia memberi tau semua info yang ia dengar kepada banteng lain, termasuk menyuruh mereka agar tidak melewati batas saat berhadapan dengan Gunwook. Makanya mereka pura-pura tidak menyadari presensinya saat awal bertemu.
Ya tentu saja semuanya tidak selalu berjalan mulus. Bagian Matthew terjadi diluar skenario. Kelakuan banteng satu itu kadang memang tidak bisa dibaca.
Di sisi lain, sepertinya ia mengerti mengapa Matthew tidak bisa menahan diri untuk mendekati sang sapi. Gunwook terlalu menggemaskan!
Jujur, saat berinteraksi dengan Gunwook, Hanbin seperti terserang sesuatu yang membuatnya ingin membungkus Gunwook dengan selimut tebal, lalu memeluknya sambil membisikkan kata-kata manis.
Apa ini yang dinamakan agresi kelucuan?
Entah ini insting atau apa, ia merasa sangat protektif pada Gunwook. Merasa sakit saat melihat hybrid sapi itu menangis. Itulah kenapa ia bergegas masuk ke kamar Gunwook untuk mengambil boneka beruang besar yang katanya kesayangan sang hybrid.
Melihat air mata yang berhenti mengalir, juga melihat wajah sedihnya yang perlahan berubah menjadi tenang, membuat Hanbin merasa lega. Ia merasa bisa kembali bernapas.
"Kemaren master sempet kasih. Katanya ini boneka kesayangan kamu ya?" Tanpa sadar tangannya terulur, membelai surai halus Gunwook. Tapi tak lama ia tersadar, dan dengan cepat menarik kembali tangannya.
"Maaf Gunwookie.."
Ternyata memang sangat sulit untuk menahan diri. Semoga Gunwook tidak merasa ketakutan padanya..
Tapi bukannya ketakutan, Gunwook malah mengambil kembali tangannya, lalu mengusakkan pipi yang terasa sangat lembut dan kenyal, ke telapak tangan Hanbin.
"Binnie.. Terima kasih ya.."
Ah..
Bolehkah Hanbin memeluk Gunwook lalu menciumnya?
---------
Merasa sedikit tenang, Gunwook mengedarkan pandangan dan mendapati para banteng yang menatap lekat. Hatinya masih berdegup, tapi rasa takutnya perlahan hilang karena merasa dirinya tidak akan disakiti.
Pandangan Gunwook jatuh kepada banteng yang tadi memangku. Raut wajahnya terlihat kebingungan bercampur panik. Berkali-kali ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebelum kembali menatap Gunwook.
Ikut merasa bersalah, Gunwook mengambil satu tangan yang bertengger di paha si empunya. Diusapnya tangan yang jauh lebih kecil dari miliknya itu lembut.
"Maaf ya bikin kamu panik.. Nama aku Gunwook, kamu siapa?" Mata hybrid banteng itu membulat sesaat, sebelum berubah menjadi bentuk bulan sabit. Senyumnya merekah, manisnya..
"Jangan minta maaf! Aku yang harusnya minta maaf sama Gunwookie!"
Entah kenapa hati Gunwook sakit sekali melihat wajah sedih hybrid satu ini. Jadilah Gunwook membelai rambutnya, mencoba untuk menghibur.
"Gak papa, aku gak marah kok.. Mmm.. Nama kamu siapa?"
"Aku Matthew!" Setelahnya Matthew balik menggenggam tangan di surainya. Ia bawa untuk dikecup singkat punggung tangannya, membuat si pemilik terkejut.
"Salam kenal ya Gunwookie!"
Meskipun ia bertingkah semaunya, entah kenapa Gunwook tidak bisa marah. Apalagi saat melihat senyum secerah matahari di wajahnya.
Baru kali ini Gunwook merasa ingin melindungi orang lain selain master, bahkan seorang hybrid banteng yang jauh lebih kuat darinya.
"Gunwookie, maaf ya sekali lagi.."
"Nggak masalah, Matthew.. Tapi kalau mau peluk lagi, sebelumnya tanya ke Gunwookie ya?" Bola mata Matthew berbinar mendengarnya.
"Berarti aku boleh peluk lagi??"
"Ung! Boleh!"
"Sekarang bol---"
"Halo Gunwookie! Aku Gyuvin!"
Gunwook terlonjak kaget saat wajah Matthew tergantikan oleh wajah kecil hybrid banteng lain. Sementara Matthew sudah melontarkan kata-kata yang Gunwook tidak mengerti sama sekali artinya. Sepertinya bahasa negara lain?
Omong-omong hybrid di hadapannya adalah hybrid yang katanya suka menggigit barang! Ia menerima uluran tangannya. Besar, ukurannya sama seperti tangan Gunwook.
"Halo juga Gyuvin.."
"Hati-hati digigit sama dia, dia suka banget gigit hybrid lain!" Ujar Hanbin.
Dia juga suka menggigit hybrid lain? Dengan wajah seramah dan semanis itu? Memang benar kata master, kita tidak boleh sembarangan menghakimi seseorang hanya karena melihat luarnya saja.
Ia teringat kuas yang ditunjukan oleh hybrid bersurai pirang beberapa waktu lalu. Kuasnya terbelah dua. Tanpa sadar Gunwook bergerak mundur sambil menjadikan bonekanya sebagai tameng.
"Jangan nyebar rumor nggak-nggak ya kak Bin! Liat jadi takut dia!" Gyuvin kembali menatapnya dengan senyum lebar.
"Gunwookie suka makan snack apa? Suka coklat gak?"
Mendengar kata 'coklat' membuat telinganya bergoyang dengan semangat. Perlahan boneka beruangnya ia singkirkan. Mata besarnya dengan lekat menatap Gyuvin.
"Suka! Gunwookie suka banget coklat! Master suka kasih Gunwookie kue coklat sehabis makan malam--"
Sadar jika dirinya terlalu bersemangat, Gunwook menutup mulutnya. Dalam hati berharap semoga para banteng tidak marah padanya karena berisik.
Tapi berbeda dari pikiran, para banteng malah menatapnya dengan senyuman lebar. Oh, sepertinya mereka tidak masalah jika Gunwook sedikit berisik..?
Gyuvin bergegas pergi keluar ruangan sebelum kembali dengan membawa coklat batang yang besar di tangan. Gunwook melotot kaget saat melihat merk coklat kesukaannya.
Sudah lama Gunwook tidak makan coklat itu karena sedang diet. Melihat bungkusnya saja Gunwook merasa liurnya akan menetes.. Apa boleh jika berharap Gyuvin akan memberinya satu potong?
Diluar dugaan, Gyuvin malah memberikan semuanya pada Gunwook. Sang hybrid sapi dengan ragu menerima coklat itu.
"Ini buat aku semua..?"
"Iyap! Kalau kurang coklatnya bilang aja ke aku ya! Aku punya banyak!"
Gunwook tidak bisa menahan senyuman. Bahkan saking senangnya ia sampai memeluk hybrid banteng itu, lalu mengusakkan pipinya ke dada sang hybrid.
"Terima kasih Gyuvin!" Ujarnya riang.
"I-iyaa Gunwookie! Sama-samaa!"
Seakan tersadar saat mendengar suara Gyuvin yang bergetar, Gunwook segera melepas pelukan. Ia menunduk, merasa sangat malu karena sudah bersikap tidak sopan.
"Maafin Gunwookie ya.. Gunwookie terlalu senang.."
"Gak papa, santai aja! Kalo Gunwookie mau peluk, silahkan aja ya!"
"Ung! Terima kasih ya, sekali lagi!"
"Gunwookie sopan banget sih bahasanya, santai aja kalo sama kita!"
"O-oh.. Oke..?" Jujur Gunwook bingung dengan ucapan tiba-tiba Gyuvin. Memangnya bahasa sopan dan tidak sopan itu berbeda ya? Ia harus belajar lebih banyak, ia tidak mau membuat para banteng merasa tidak nyaman.
"Gunwookie bikin kalian gak nyaman ya? Maaf ya.."
"Hayoloh Gyuvin, minta maaf!" Banteng lain mengompori.
"Eh nggak gitu Gunwookie! Bukan apa-apa kok. Maksudnya cuma mau ngasih tau aja kalo sama kita tuh gak perlu canggung gitu! Biasa aja, kaya kamu ngobrol sama master!" Gunwook hanya mengangguk ragu.
"Ricky kenalan dulu sini!"
Hybrid yang sedari tadi sibuk dengan buku gambar, akhirnya menoleh. Gunwook merasa nafasnya tercekat. Hybrid satu ini sangat tampan..
Ketiga hybrid lain juga memiliki visual luar biasa, tapi yang satu ini terlihat tidak nyata. Gunwook pernah membaca cerita tentang malaikat yang katanya memiliki wajah paripurna. Apakah hybrid satu ini keturunan malaikat?
"H-halo, aku Gunwook.." Ia mengulurkan tangannya yang sedikit bergetar, bahkan kini terasa berkeringat. Untungnya hybrid yang dipanggil Ricky itu tidak berkomentar apa-apa saat memegang tangannya.
"Aku Ricky."
"Mmm.. Kamu suka gambar..?" Pertanyaan konyol. Sedari tadi kan ia menggambar, tentu saja ia suka, Gunwookie bodoh!
Tapi hybrid itu tersenyum hanya ramah. "Iya aku suka. Kata master kamu juga suka ya?"
"Suka, tapi gak sehebat kamu.."
"Aku gak hebat kok.." Genggamannya dilepas. Bahkan Gunwook tidak sadar tangannya sedari tadi masih digenggam..
"Mau gambar bareng kapan-kapan?" Tanya Ricky. Gunwook mengangguk. Kedengarannya menyenangkan.
Setelahnya ia beralih ke banteng di sebelah Ricky. Yang ini juga terlihat sangat tampan.
Ketampanan dua hybrid itu membuatnya terintimidasi.. Mengapa semua banteng memiliki paras luar biasa tampan?? Kalau begini, Gunwook mungkin akan betah--
"Hai Gunwookie? Aku Jiwoong."
"Ha-halo.." Gunwook mengambil tangan snag banteng sambil merunduk, tidak berani melihat wajahnya.
"Kenapa nunduk? Takut?"
Gunwook menggeleng. Dadanya terasa sesak karena jantung yang berdetak terlalu cepat. "M-malu.."
"Kenapa malu?"
"Woongie ganteng, malu.." Wah, darimana datangnya keberanian itu?
"O-oh, makasih.. Kamu juga cantik banget. Hybrid sapi tercantik yang pernah aku liat!"
"Emangnya kamu pernah liat hybrid sapi lain?" Suara hybrid lain terdengar, dan sesaat genggaman di tangan Gunwook mengerat.
"Ya pernah lah. Aku bukan hybrid yang kerjaannya cuma mendekam di kamar kaya kamu, Hao."
"Iya deh iya.."
Takut.. Gunwook tau mereka hanya bercanda, tapi Gunwook tetap merasa takut. Rasanya seperti dirinya yang dimarahi. Apalagi tangannya yang masih diremas.
Untungnya Jiwoong tersadar dan langsung melepas tangannya. Setelahnya ia mendorong pelan Gunwook agak berhadapan dengan banteng bernama Hao.
Dengan ragu Gunwook mendongak. Dirinya merasa lega saat disambut senyuman ramah, bukan mata yang memicing.
"Hai, aku Hao~"
"H-hai Ao.." Gunwook reflek menutup mulutnya. "M-maksudnya Hao, maaf.."
"Panggil Ao juga gak papa kok! Panggil aja sesuka kamu ya?"
"U-ung.. Makasih Ao.."
"Gunwookie, aku boleh coba cubit pipinya gak?" Tiba-tiba sekali..
Gunwook reflek memegang kedua pipinya. Berpikir sejenak, Gunwook pun mengangguk "Boleh.."
Hybrid di hadapannya sesaat terlihat terkejut, sebelum kembali tersenyum.
Lalu Gunwook merasakan tangan lembut di kedua pipi. Pipinya ditangkup, dicubit pelan, juga digoyang-goyangkan dengan gemas.
"Embul lucuuu! Gemes banget kamuu!"
Gunwook merasa pipinya memanas karena disentuh sambil diserang pujian bertubi-tubi. Padahal hal ini termasuk biasa ia terima, tapi entah kenapa mendengar pujian datang dari para banteng membuatnya senang bukan main.
"Kenyel banget! Kok bisa pipinya sekenyel ini? Kamu makan apa biar jadi kenyel?"
Merasa kewalahan, Gunwook menahan tangan Hao yang masih menyerang pipinya gemas. "U-udah dulu, sakit.."
"Aduh maaf ya! Maaf!" Cubitan Hao berubah menjadi belaian lembut.
"Gak papa.."
"Ampe merah gitu loh pipinya, parah banget sih Ao.." Hanbin ikut membelai lembut pipi Gunwook yang memang memerah sedikit. Entah karena malu atau memang cubitan Hao yang terlalu kuat.
"Nanti dikasih es batu ya, biar merahnya ilang"
Berlebihan, tapi Gunwook suka diperdulikan jadi ia mengangguk saja.
Gunwook menahan diri untuk tidak merengek saat tangan-tangan yang membelai pipinya menjauh. Ia mengikuti tangan Hanbin yang kini menunjuk ke satu hybrid yang sibuk memakan camilan. Dia terlihat menggemaskan dengan mata bulatnya itu..
Lebih terlihat seperti kelinci daripada banteng..
"Yujin ayo kenalan dulu!"
Banteng yang bernama Yujin kini berada di hadapannya dan sama seperti saat melihat Matthew, Gunwook entah kenapa memiliki keinginan kuat untuk mengusap rambutnya.
"Aku Yujin, salam kenal." Suara berat hybrid itu membuyarkan pikirannya. Ia menggengam tangan Yujin.
"Salam kenal! Kamu yang katanya paling muda ya?"
"Mungkin."
Oke, jawabannya dingin sekali.. Seketika Gunwook kembali ciut. Untuk saat ini Gunwook memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak, takut-takut membuat hybrid itu membencinya.
Terakhir ada-- wah, dia manis sekali.. Wajahnya teduh, senyumnya cantik. Saat tersenyum di pipinya terdapat.. Apa ya namanya, Gunwook lupa..
"Halo~ aku Taerae. Salam kenal ya Gunwookie~" Sapanya riang, tapi Gunwook tidak membalas. Terlalu fokus pada wajahnya.
Tangannya terangkat, telunjuknya menyentuh pipi, tepatnya ke titik yang terlihat masuk ke dalam.
"Yang bikin senyum tambah cantik ini apa namanya ya? Gunwookie lupa.."
---------
Awal Taerae melihat Gunwook masuk bersama master, Taerae pikir Gunwook akan menjadi pribadi yang menyebalkan seperti hybrid sapi lain yang pernah ia temui.
Berbeda dari sapi asli, hybrid sapi mempunyai sifat yang cenderung manja, cengeng, tidak berani berbicara kecuali dipaksa, terlalu penurut seperti tidak punya pendirian. Taerae sangat tidak suka melihat yang seperti itu.
Saat ia melihat Gunwook hampir menangis di pangkuan Matthew, Taerae menahan diri untuk tidak mendengus dan memutar bola matanya malas. Mulai dramatis.
Pasti dia akan merengek pada master, pikir Taerae. Dan benar saja, hybrid itu merengek, bahkan menangis saat master keluar dari lumbung. Jujur, Taerae khawatir, tapi rasa muaknya jauh lebih besar.
Di lumbungnya yang dulu, sapi lebih diagungkan dan banteng hanya dianggap sebagai alat kawin. Entahlah mungkin masternya yang dulu maniak sapi.
Makanya tidak jarang ia melihat pemandangan serupa sebelum ia dipindahkan ke lumbung ini. Di lumbungnya yang dulu, para sapi yang jumlahnya memang lebih banyak, selalu menindas para banteng tanpa sebab. Selalu mencari masalah karena tau masternya akan siap sedia melindungi mereka.
Tapi melihat Gunwook yang memberikan reaksi aneh cenderung negatif terhadap hal-hal yang biasa, ia sempat berpikir kalau Gunwook mungkin berbeda? Mungkin dia juga pernah ditindas?
Entahlah, Taerae tidak peduli juga. Saat master bercerita perihal Gunwook pun, ia memilih untuk berfokus pada hal lain.
Sebenarnya Taerae tidak mau bersikap ramah, tapi ya untuk saat ini Taerae akan menuruti ucapan Hanbin. Ia tidak ingin dipindahkan lagi, ia suka disini.
Jadilah Taerae terpaksa memberikan senyum terbaiknya saat sang hybrid sapi menatap dengan mata jernihnya. Meski terlihat polos dan naif, Taerae yakin sifat asli hybrid sapi satu ini pasti sama saja dengan---
Tap.
Taerae mematung saat jari besar itu menyentuh wajah, tepatnya lesung pipi miliknya.
"Yang bikin senyum tambah cantik ini apa namanya ya? Gunwookie lupa.."
Pertanyaan polos itu membuat senyum Taerae luntur. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
"Lesung pipi?" Taerae mendengar suara Gyuvin, atau Hanbin? yang menjawab. Entahlah, otaknya lebih terfokus pada telunjuk besar dengan wangi buah yang masih menempel di pipinya ini.
"Oh iya lesung pipi! Kata master lesung pipi bikin senyum jadi makin cantik, kaya senyum kamu ini!"
Cantik..?
"Hah..?"
Entah bagaimana raut wajahnya yang terlihat oleh Gunwook sekarang sampai hybrid sapi itu dengan panik menarik tangannya kembali. Ia lihat Gunwook mengambil kotak tisu entah untuk apa.
"M-maaf udah gak sopan! Ini tisu, di lap pake ini ya!"
Taerae melihat tisu yang disodorkan. Apa Gunwook merasa dirinya kotor sampai ia harus--
Tunggu bukan itu masalahnya!
Kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak hanya karena pipinya disentuh dan senyumnya dipuji oleh jenis hybrid yang sangat ia benci itu? Lagipula tidak jarang Taerae dipuji hal serupa, tapi kenapa kini jantungnya berdetak sangat cepat?
"Maaf ya! Jangan marahi Gunwookie--"
"Kenapa harus dilap?" Tanya Taerae akhirnya. Untung saja suaranya tidak bergetar.
Pertanyaannya membuat Gunwook terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat ragu, ah bukan, lebih ke terlihat sedih.
Entah kenapa hati Taerae terasa sakit melihatnya.
"Anu.. Karena Gunwookie kotor..? Takutnya kamu jijik dipegang Gunwookie.."
Taerae memperhatikan jemari Gunwook. Terlihat cantik dan terawat. Jangan lupakan, wangi. Ia sempat mencium aroma body lotion di tangannya.
Tiba-tiba ia teringat cerita master mengenai masa lalu Gunwook.
Hmm..
Mungkin mendekatkan diri dengan Gunwook bukanlah hal yang buruk.
--------
Melihat reaksi Gunwook membuat Jiwoong berpikir ; sebenarnya separah apa perlakuan master dan koloni sang hybrid sapi yang dulu sampai sifatnya jadi seperti ini?
Sekali lihat pun Jiwoong langsung tau kalau Gunwook sebenarnya adalah sosok yang suka mengobrol dan mudah akrab, tapi ia juga sensitif terhadap reaksi lawan bicaranya.
Terlihat seperti seseorang yang memikirkan sesuatu secara berlebihan.. Apa namanya? Overthinking?
Master bilang kondisi mental Gunwook sudah jauh lebih baik sekarang, tapi melihatnya yang seperti ini mungkin saja Gunwook hanya pandai menyembunyikan.
Merasa dirinya kotor? Padahal Jiwoong bisa lihat bahwa Gunwook adalah pribadi yang selalu merawat dirinya. Kulitnya mulus dan bersih hampir tanpa cacat, tubuhnya wangi, bahkan kuku dan surainya terlihat berkilauan.
Ia cantik, sangat cantik. Jiwoong tidak berbohong soal ucapannya yang bilang bahwa Gunwook adalah hybrid tercantik yang pernah ia lihat.
Jiwoong beralih menatap Hanbin yang juga menatapnya. Oh, ternyata Hanbin juga merasakan hal sama.
Ralat. Bukan hanya Hanbin dan dirinya, semua juga merasa hal sama.
Oke, lupakan soal kawin dan persusuan sejenak. Misi pertama adalah membuat Gunwook nyaman dan betah tinggal di lumbung ini.
--------
Sudah hampir sebulan Gunwook menetap di lumbung, dan sejauh ini ia menyukainya. Para banteng sangat ramah. Tidak ada satu haripun dimana ia merasa tidak nyaman berada disini.
Ia merasa paling dekat dengan Gyuvin dan Ricky. Mungkin karena umur mereka yang tidak terpaut jauh, ia merasa tidak canggung pada keduanya. Bahkan seringkali ia tertidur di kamar dua hybrid itu.
Gyuvin.. Kadang ia merasa tidak punya cukup tenaga saat bermain dengannya. Pribadinya sangat cerah dan riang, berbanding terbalik dengan Gunwook. Bukan berarti Gunwook tidak suka, kadang ia hanya merasa kewalahan.
Momen yang paling ia suka saat mereka bersama adalah saat dirinya berada di pelukan Gyuvin, memakan camilan sambil menonton film atau hanya sekedar berbagi cerita. Pelukan Gyuvin sangat nyaman, ia sering tertidur di pelukannya.
Di sisi lain ada Ricky dengan perangai yang lebih tenang. Saat bersama Ricky, Gunwook lah yang lebih sering memulai percakapan. Meskipun hanya dibalas seadanya, ia tetap senang bermain dengan Ricky.
Gunwook paling sering berada di kamarnya karena ia suka aroma khas cat air dan peralatan gambar lainnya. Ditambah banyak lukisan yang memanjakan mata membuatnya betah berjam-jam berada disana.
Akhir-akhir ini Ricky sering menjadikannya 'Muse' atau model dari karyanya. Gunwook awalnya tidak setuju. Ia pikir dirinya tidak layak masuk ke kanvas besar.
Tapi karena Ricky selalu meyakinkan, lama-kelamaan Gunwook luluh juga. Jadilah wajah Gunwook berakhir terpajang di beberapa kanvas dan kertas.
Sedikit memalukan, tapi di sisi lain ia merasa sangat bahagia karena Ricky sering menggumamkan kata 'cantik' saat sedang melukisnya. Mendengar pujian itu keluar dari orang yang menurutnya lebih cantik, tentu rasa bahagianya berkali-kali lipat.
Selain Ricky, ada juga hybrid lain yang hampir setiap hari memujinya cantik. Matthew, hybrid yang tingkahnya unik dan kadang diluar pikiran Gunwook. Meski begitu Gunwook tidak bisa kesal padanya. Malah rasa gemasnya menjadi lebih besar sekarang.
Matthew sering memangku sambil memeluknya, dengan alasan ia jadi lebih nyenyak tertidur saat ada Gunwook di pangkuan.
Gunwook sempat meragukan hal itu. Ia yakin dirinya berat, pasti Matthew sebenarnya kesakitan memangkunya.
Tapi saat mendengar dengkuran Matthew di dadanya, juga melihat wajah tidurnya yang damai, Gunwook jadi yakin bahwa Matthew tidak berbohong. Apalagi ia baru mendengar cerita Matthew dari Hanbin.
Katanya Matthew sulit tertidur karena stamina yang kelewat banyak. Ia tidak bisa duduk tenang, selalu mencari hal untuk dikerjakan. Istilahnya hiperaktif kalau tidak salah. Tapi semenjak ada Gunwook, ia menjadi sedikit terkontrol.
Gunwook senang kehadirannya membawa hal positif untuk Matthew, meski kadang kurang nyaman saat ada sesuatu mulai mengganjal di bagian yang ia duduki.
Gunwook mau pura-pura tidak tau saja.
Bicara soal tidur, ia juga sering menjadi bantal untuk Hao. Saat Gunwook menonton televisi di ruang tengah, Hao selalu menghampiri untuk mengistirahatkan kepalanya ke paha atau perut Gunwook.
Sama seperti Matthew, Hao juga bilang bahwa dirinya bisa lebih nyenyak tertidur saat bersama Gunwook. Awalnya Gunwook kira ia hanya membual, sampai akhirnya ia tau bahwa Hao hampir tidak pernah tertidur di malam hari karena suatu hal yang belum ia ketahui.
Ia pernah memergoki Hao minum obat-obatan saat tengah malam. Hao bilang itu hanya obat herbal, tapi Gunwook kenal betul desain botol obat itu.
Obat tidur yang punya efek samping. Tidak membahayakan, hanya membuatmu terus-terusan mengantuk, tapi menurut Gunwook tetap saja itu mengganggu. Ia yakin Hao juga merasakan hal sama.
Katanya sejak ada Gunwook, jam tidur Hao membaik entah kenapa. Di wajah cantiknya tidak ada lagi kantung mata dan kulit wajahnya juga semakin bagus. Ia terlihat semakin cantik.
Hao juga tidak lagi melewatkan makan siang. Kini tidak ada lagi Hao yang lemas dan selalu tertidur. Bahkan akhir-akhir ini ia menjadi sangat produktif dengan hobinya.
Bicara soal makan siang. Makanan disini enak sekali! Master sebenarnya memasak untuknya dan hybrid lain, tapi para banteng memilih untuk memasak sendiri. Sepertinya Gunwook mengerti alasannya.
Master biasanya mengurangi kadar gula dan perasa, berbeda dengan Jiwoong yang membumbui masakan sesuka hatinya, itulah kenapa masakannya terasa lebih enak.
Jangan bilang master, tapi ia lebih suka masakan Jiwoong.
Omong-omong soal Jiwoong, hybrid itu selalu memanjakannya dengan memberi porsi makan lebih banyak, juga membuatkan kue-kue yang sangat enak khusus untuknya. Jika ada resep baru, Jiwoong akan menyuruh Gunwook untuk mencicipi. Lama-kelamaan hal itu menjadi rutinitas.
Karena rutinitas itulah Gunwook menjadi tertarik dengan memasak. Ia sering meminta Jiwoong untuk mengajarkannya. Sekarang ia sudah bisa membuat beberapa masakan simpel, juga menjadi asisten Jiwoong di dapur.
Pencapaian yang luar biasa bagi Gunwook!
Tapi ada satu hal yang sempat membuatnya dilema.
Ia merasa dirinya makin bulat karena sering mencomot makanan. Bicepnya menjadi lebih besar, pahanya juga. Lalu pipinya.. Katakan saja Hao dan Hanbin jadi lebih nafsu untuk mencubit.
Ia pernah bicara hal ini, tapi seruan tidak setuju para banteng membuatnya kapok menyebut kata 'gendut' atau 'bulat' di hadapan mereka.
Mengingat ceramahan Hanbin yang memakan waktu hampir dua jam, membuat bulu kuduknya meremang.
Ia kira Hanbin memiliki pribadi yang lembut, siapa sangka dia ternyata sangat 'berisik'. Meski begitu ia tidak merasa terganggu, malah suka saat Hanbin sudah cerewet.
Gunwook merasa Hanbin sangat mirip dengan sang master. Bukan dari wajah, melainkan sifat. Keduanya sama-sama penyayang, sama-sama senang memanjakan, sama-sama cerewet. Itulah kenapa Gunwook selalu pergi mencari Hanbin saat moodnya sedang turun.
Mereka akan menghabiskan waktu untuk mengobrol, mencurahkan pikiran masing-masing dengan bebas karena tau akan didengarkan. Ia juga sangat senang mendengarkan suara Hanbin, apalagi senandungnya saat menidurkan Gunwook.
Selain suara Hanbin, ia juga sangat suka suara Taerae. Ia pernah tidak sengaja mendengar Taerae bernyanyi di halaman sambil memainkan gitar. Gunwook langsung jatuh hati saat itu.
Suaranya merdu dan sangat menyentuh.. Apa yang sebenarnya keturunan malaikat itu bukan Ricky melainkan Taerae?
Awalnya mereka tidak akrab, tapi semenjak ia meminta Taerae untuk menyanyikan satu lagu, hubungan mereka menjadi dekat. Tak jarang Taerae mengajaknya untuk bernyanyi bersama, atau akhir-akhir berdiskusi tentang game. Gunwook juga sangat menyukai game omong-omong.
Lalu ada Yujin. Awalnya Gunwook merasa sulit dekat dengan hybrid paling muda itu. Mungkin karena Yujin yang pendiam dan Gunwook yang kelewat takut untuk memulai percakapan, membuat hubungan keduanya terasa kaku..
Tapi semuanya berubah saat ia mendapati Yujin yang tengah membaca buku di ruang tengah. Wajah hybrid termuda itu terlihat kebingungan. Saat mendekat, Gunwook bisa melihat apa yang tengah dibacanya.
Buku cerita dengan bahasa yang kebetulan ia kuasai. Gunwook memberanikan diri untuk menawarkan bantuan kepada Yujin, yang untungnya diterima dengan sangat baik.
Sejak saat itu Yujin selalu memintanya untuk membacakan buku-buku lain. Bahkan buku yang bahasanya bisa dimengerti pun, Yujin tetap meminta Gunwook untuk membacakannya.
Gunwook merasa seperti punya adik yang manja.
Sejauh ini kehidupannya terasa sangat menyenangkan. Gunwook akhirnya bisa merasakan rasanya memiliki teman dan saudara, tentu saja ia senang kan?
Saking menyenangkannya, Gunwook sampai melupakan alasan utama mengapa dirinya dipindahkan ke sini. Kalau bukan karena pertanyaan master beberapa jam lalu, mungkin Gunwook akan tetap semangat menjalankan harinya.
Kini pikirannya kembali berkecamuk.
Seks. Kapan dia akan melakukan seks..
Setelah diingatkan, semua rasa familiar di dadanya kembali. Sakit, berat, dan sesak. Rasa mengganjal itu kembali datang, seakan ikut mengingatkan si empunya tentang misi utamanya.
Sebenarnya tiap malam Gunwook rutin menggunakan alat pumping, juga memijat payudaranya sendiri. Susunya memang tetap tidak lancar keluar, tapi lumayan membuat bagian dadanya terasa ringan.
Gunwook pikir lama kelamaan juga akan lancar sendiri jika rutin melakukannya, tapi ternyata salah. Sudah sebulan, susunya belum juga lancar keluar. Malah dadanya menjadi lebih besar sekarang, menandakan kapasitas susu yang bertambah.
Sepertinya ia memang harus dikawini..
Tapi ia tidak mungkin memintanya duluan, bukan?
Ia hanya perlu menunggu para banteng yang menawarkannya duluan, bukan?
Tunggu, mungkin memang harus dirinya yang meminta duluan. Bisa saja para banteng yang menunggunya untuk mengambil langkah awal?
Tapi bagaimana caranya meminta kepada para banteng? Gunwook merasa tidak bisa membicarakan hal berbau seksual tanpa menangis karena malu, apalagi di kasus ini dirinya adalah fokus utama.
Bagaimana.. Ia harus bagaimana..
Memberi kode?
Atau bicara blak-blakan saja?
Tapi sebelum itu, apa para banteng sudi untuk melakukan seks dengannya?
Sebulan bersama, Gunwook merasa para banteng tidak tertarik padanya. Mereka malah memperlakukan Gunwook sebagai saudara satu koloni.
Yujin menganggapnya kakak. Hanbin, Hao dan Jiwoong menganggapnya adik. Taerae, Ricky dan Gyuvin menganggapnya teman. Dan mungkin tonjolan yang ia rasakan saat dipangku Matthew juga bukanlah ereksi, melainkan benda lain yang kebetulan saja dikantongi?
Pikirannya kembali berkecamuk.
Langkahnya terhenti di depan pintu besar dengan penanda yang dibaca 'bathhouse'. Ah, dia tidak sadar sudah berjalan ke sembarang arah..
Pintunya tiba-tiba terbuka, menampilkan Yujin dengan rambut yang masih basah. Hybrid itu sedikit terkejut melihat Gunwook.
"Kak Wookie? Mau mandi sekarang? Tumben banget.."
"O-oh iya mau! Soalnya aku mau tidur lebih awal, hehe.."
"Gih, mumpung air di kolam masih anget!" Setelahnya Yujin pergi, meninggalkan Gunwook yang masih berdiri canggung. Gunwook bersyukur Yujin bukanlah tipe yang suka bertanya macam-macam.
Sudah terlanjur, Gunwook memutuskan untuk mandi. Mungkin ia bisa berpikir lebih jernih setelah berendam di air hangat..
----------
Senyaman apapun rumah barunya, tentu saja tak luput dari kekurangan.. Salah satunya adalah kamar mandi yang digabung.. Meski memang terdapat papan pemisah, tetap tidak ada pintu atau tirai yang menutupi di depannya.
Gunwook selaku satu-satunya sapi disini merasa kurang nyaman. Tapi ia juga tidak ingin merepotkan sang master dengan meminta banyak hal. Jadilah ia selalu mandi setelah para banteng tertidur.
Ini masih sore hari hybrid banteng lainnya tentu masih berada di dalam kolam saat Gunwook masuk ke area pemandian. Mereka yang tadinya asik bercakap, langsung mengalihkan atensi pada Gunwook yang hanya berdiri kaku di depan pintu.
Gunwook merasa ciut.
"Loh Gunwook--"
"Maaf!"
Merasa bukan waktu yang tepat, Gunwook bergegas pergi, kalau saja ia tidak terantuk dada bidang seseorang. Karena kekuatan yang berbeda jauh, Gunwook oleng, untung saja tubuhnya ditahan sebelum ia benar-benar jatuh.
"Gunwook gak papa? Maaf ya!" Itu hanya Gyuvin. Ia merasa sedikit tenang. Gunwook mengangguk ragu. "Aku yang minta maaf.."
"Kamu mau mandi sekarang? Tumben?"
"U-umm iya.." Ia meremat handuk di genggamannya. "Mau coba berendam.."
"Oh! Kalo gitu kita keluar deh--"
"Jangan!"
Seruan Gunwook menghentikan para banteng yang sedang menutupi kemaluan mereka dengan handuk. Semuanya menatap bingung dan Gunwook merasa gugup. "G-gak usah.. Aku gak enak jadinya.."
"Gak papa kok kita udah selesai--"
"Gak usah! Aku-- aku kebetulan mau bicarain sesuatu sama kalian semua para banteng.. Umm, kecuali Yujin.."
"Soal apa?"
"Anu.. Sebelumnya, aku boleh ikut berendam..?"
Semua banteng serentak mengangguk. Bahkan Ricky sudah menepuk tempat di sebelahnya.
Gunwook perlahan membuka jubah mandinya.
-----------
Hao bukanlah pribadi yang mudah tergoda.
Jika ia diberikan pilihan sapi betina yang sedang heat, atau tidur hanya selama tiga puluh menit, Hao akan lebih memilih tidur. Menurutnya kawin bukanlah segalanya.
Sampai ia melihat Gunwook saat ini.
Awal Hao melihat Gunwook ia sudah tau bahwa hybrid satu ini mempunyai paras dan bentuk tubuh yang luar biasa. Meski begitu ia masih tidak siap melihat tubuh telanjangnya.
Terutama payudara besar yang memantul bagai jelly karena Gunwook tak sengaja menarik jubahnya terlalu kuat. Bukan hal aneh jika sapi perah memiliki payudara besar kan? Lagipula Hao sering melihat hybrid lain yang mempunyai ukuran dada lebih besar dari Gunwook.
Tapi entah kenapa tenggorokannya terasa kering saat melihat milik Gunwook. Entah kenapa Hao merasa ingin menenggelamkan wajahnya ke dada penuh itu. Mungkin jika diperbolehkan, ia ingin coba meminum susu yang keluar dari sana..
Seketika Hao teringat alasan utama Gunwook dipindahkan.
Susunya tidak bisa keluar dengan lancar.
Harus dirangsang sampai keluar susu dari putingnya.
Hao merasa semangatnya naik. Tidak sabar membantu Gunwook (tidak sabar menyentuh payudaranya).
Omong-omong putingnya tidak mencuat. Yang satu hanya mengintip malu-malu dan yang satu lagi seperti masuk ke dalam. Apa itu sumber masalahnya? Puting yang tersembunyi itu?
Warnanya pun coklat kemerahan, bahkan terlalu merah, kontras dengan kulit putihnya. Terlihat tidak normal. Hao pernah melihat Gunwook meringis beberapa kali saat dadanya tidak sengaja tertekan. Mungkin itu karena susu yang tidak bisa diperah?
Kata master Gunwook tidak ingin disentuh di bagian itu, tapi apa Gunwook tidak pernah mencobanya sendiri?
Jika dilihat dari ukuran yang lebih besar dari sebulan lalu, mungkin Gunwook rutin memerahnya tapi tetap tidak berhasil? Kasihan sekali, pasti dadanya terasa berat dan sakit.
Hao menahan diri untuk tidak bertanya sampai Gunwook sendiri yang memulai topik itu.
----------
Ricky sedikit menyesal telah menyuruh Gunwook untuk duduk di sampingnya, karena kini ia harus mati-matian menahan diri untuk tidak memandangi payudara besar yang terlihat sangat kenyal itu.
Ia bukanlah banteng yang liar. Ia elit, hybrid banteng elit nan elegan. Ia berbeda dengan Matthew dan Jiwoong yang terang-terangan melihat sambil menjilat bibir mereka. Berbeda dengan Hanbin dan Gyuvin yang sibuk menutupi selangkangan mereka dengan handuk. Berbeda dengan Hao dan Taerae yang masih mencuri-curi pandang sambil menahan tangan mereka sendiri.
Ricky itu elegan.
Hybrid elegan tidak dengan mudah merasa terangsang hanya karena melihat payudara besar, kan? Lagipula bagian bawah sana masih tetap tenang, sepertinya..
"Coba deh Ricky remas-remas payudara Gunwookie" Suara di sampingnya, membuat Ricky sadar dari lamunan.
Saat menoleh, Ricky langsung menatap wajah Gunwook. Menahan diri, meski ingin sekali menundukkan kepala untuk melihat sesuatu yang lain.
"Ya?"
"Tolong remas payudara aku."
Hah.. Kenapa tiba-tiba? Memangnya ia bicara apa awalnya sampai tiba-tiba menyuruh Ricky untuk meremas payudaranya? Sang hybrid banteng coba untuk menenangkan diri.
'Mungkin hanya untuk memeriksa keras atau tidaknya', pikir Ricky.
"Remas?"
"Ung!"
"Maaf ya.." Gumamnya sebelum membawa satu tangan menyentuh dada Gunwook. Omong-omong matanya masih terfokus pada wajah Gunwook, karena itu ia tidak tau dimana letak dada hybrid sapi itu.
Tiba-tiba tangannya digenggam, perlahan dituntun sampai akhirnya ia merasakan lembut dan hangat di telapak tangan. Reflek tangannya meremas, kenyal.
"Mmhh.."
Dada Ricky bergemuruh melihat raut wajah Gunwook yang perlahan berubah.
Ia coba untuk tidak memperdulikan. Ia meremas lagi, dan satu alisnya terangkat. Payudaranya kenyal, tapi di saat bersamaan terasa padat dan keras di beberapa bagian.
Mungkin jika dipijat sedikit--
"Nghh!"
Ricky pura-pura tidak dengar. Juga pura-pura tidak melihat Gunwook yang menutup mulut dengan satu tangan. Ia fokus memijit, coba membuat rileks payudara Gunwook.
"S-satu laginya juga Ricky.." Ia dengar Gunwook berbisik dengan suara gemetar.
Saat tangan kanannya ikut menyentuh, Gunwook menutup mata. Bibir tebalnya ia gigit, nafasnya seperti tercekat. Entah kenapa semua itu membuat jantung Ricky makin berdegup.
Tidak. Ia tidak terangsang karena ini. Ia lebih baik dari yang lain.
"Lebih keras gak papa?"
"U-ung!"
Semakin ia remas, semakin Gunwook menutup mata sambil menggigit bibirnya, menahan suara-suara kecil yang mencoba keluar. Warna merah semakin menjalar hingga ke leher, membuat air kolam terasa makin panas.
Gawat..
Ricky merasa bagian bawahnya mulai berdiri.
Ternyata ia tidak lebih baik dari banteng lainnya..
----------
"Hahh.. Eunghh.."
"Sakit?" Tanya Ricky. Ia menggeleng. Malah dadanya terasa enak. Ototnya perlahan menjadi rileks, menikmati pijatan kecil Ricky.
Padahal ia juga sering melakukan ini, tapi kenapa pijatan Ricky lebih manjur?
Apa memang banteng adalah kunci dari segalanya?
Omong-omong bagian bawahnya terasa gatal. Gunwook tidak mengerti apa maksudnya, tapi terasa tidak nyaman. Ia menyuruh Ricky untuk berhenti saat dirasa gatalnya bertambah.
"Gak papa dipijit sama yang lain?" Ia mengangguki pertanyaan Hanbin. "Gak papa.. Malah lebih enak begini daripada dipijit sendiri atau sama master.."
"Oh ya?"
"Iya.. Berarti memang harus sama banteng.."
"Agak unik ya.. Aku baru liat yang kaya gini" Gumam Gyuvin.
"Iya.. Aku juga bingung, soalnya sapi lain biasa aja waktu dipijit master.."
"Tapi aku pernah baca kalau sapi perah emang harus hamil dulu biar bisa ngeluarin susu" Ujar Taerae.
Ah..
Iya juga, kebanyakan sapi yang dengan mudah diperah oleh master adalah sapi yang tengah atau sudah menjalani kehamilan sebelumnya. Sedangkan Gunwook baru saja dewasa, belum pernah hamil sama sekali.
Mungkin memang itu alasannya..
"Berarti aku harus hamil.."
"Tapi beberapa hybrid sapi juga bisa lancar susunya kalau dirangsang terus menerus" Matthew membuka suara.
"Berarti aku harus dirangsang terus.."
"Hmm.. Berarti Gunwookie udah yakin mau coba seks sama kita semua?" Tanya Hao. Gunwook mengangguk.
"Tapi aku gak mau langsung.. Aku mau disentuh-sentuh dulu biar terbiasa.. Gak papa?"
"Gak papa dong! Sini aku sentuh!" Matthew dengan cepat menghampiri. Tangannya sudah bersiap dengan gestur seakan ingin meremas.
Dengan ragu Gunwook membusungkan dadanya. Saat tangan Matthew menyentuh, bibirnya kembali ia gigit, takut akan mengeluarkan suara aneh.
"Jangan ditahan suara kamu, Gunwookie.." Tiba-tiba suara merdu Taerae terdengar tepat di sebelah telinga. Tangan sang hybrid mengalung di leher. Punggungnya kini menempel pada dada sang banteng.
"R-rae.."
"Jangan gigit bibirnya keras-keras, nanti berdarah" Bibir bawahnya diusap lembut. "Ungh.."
"Aku remes-remes ya Gunwookie?" Ucap Matthew tiba-tiba.
"Iya.. Enghhh.."
Pijatan Matthew tidak selembut Ricky, bahkan terasa terlalu kuat, dan entah kenapa lebih menstimulasi, membuat sensasi gatal di bagian bawahnya kembali.
"Ahhh.." Tanpa sadar Gunwook makin membusungkan dadanya. Kepalanya beristirahat pada leher Taerae yang sekarang menciumi pipi gembilnya.
Tangan Taerae perlahan turun, menjauhkan satu tangan Matthew sebelum ikut meremas sebelah payudara Gunwook.
"Apaan sih Rae??"
"Awas tangannya! Aku mau remes juga!"
"Nanti dulu! Aku belum puas!"
Gunwook melenguh, karena kini tangan dua hybrid itu malah saling memukul dan menampar, membuat dadanya ikut terkena serangan.
Bukannya kesakitan, Gunwook malah merasa makin terangsang. Gunwook melenguh keras.
"Oh, yang asli emang lebih mantep ya moo-nya" Ujar Taerae sambil melirik ke arah Matthew yang mendengus.
"Well, duh?? He's the cow, not me!"
"Udah jangan berantem! Itu Gunwooknya kasian!" Hanbin memukul keduanya.
Semua beralih menatap Gunwook yang sudah menangis karena dadanya makin diremas kuat oleh dua hybrid yang masih saja bertengkar itu. Dada yang tadinya terasa rileks, sekarang malah makin tegang karena sakit.
"M-muhh.. S-sakit nenennya.. Jangan diremes kenceng-kencenghh.." Cicitnya lemah.
Gunwook tidak tau bahwa ucapan polosnya membuat libido para banteng semakin naik. Bahkan handuk tebal saja tidak sanggup menutupi tonjolan besar milik mereka.
Gunwook hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik masuk ke pelukan hybrid lain, Hanbin. Bibirnya dicumbu lembut. Tangan milik banteng cantik itu mengusap telinga, membuatnya melenguh dalam ciuman.
Baru kali ini Gunwook berciuman. Biasanya master hanya menempelkan bibirnya singkat, berbeda dengan Hanbin yang sampai memasukkan lidahnya ke dalam.
"Unghh.. Mmhhahh!"
Ia merengek tidak suka saat Hanbin yang menghentikan ciuman mereka. Tapi rengekannya ditelan oleh Hao yang entah sejak kapan berada di belakang.
Lidah Hao juga masuk ke dalam, mengabsen deretan giginya. Ia menyesap lidah Gunwook kuat sebelum tiba-tiba juga melepas ciuman mereka. Gunwook rasanya ingin menangis. Kenapa ciumannya singkat sekali??
"K-kak Ao.. Kak Binnihh, cium lagihh..."
"Sayang.."
"Ciumm..."
"Gunwookie.. Gunwookie masih sakit ya?" Bisik Hao, tidak mengidahkan rengekan Gunwook. Tangan cantiknya meremas kuat dada Gunwook. Tangan satunya memegang ekor, mengusap bagian yang sensitif.
"Anghh!"
"Payudaranya sakit, susunya gak bisa keluar.." Kini Hanbin yang berbisik. Ia mengecup singkat puting Gunwook yang masih sembunyi.
"Enghh! K-kak Bin!!"
Gunwook menggeliat resah saat putingnya masuk ke dalam mulut Hanbin. Dirasanya lidah Hanbin menjilat-jilat putingnya, dihisap kuat, berusaha 'membangunkan' puting cantik itu dari tidurnya.
"Ahhh!! M-mmoohh! J-janganhh di garukk!"
Jari panjang Hao menggaruk puting satunya. Ia cubit gemas dadanya, mengeluarkan paksa puting yang malu-malu. Hao tersenyum senang melihat susu Gunwook yang mulai menetes ke jemari.
"Keluar sedikit nih sayang.. Pinternya, Gunwookie" Keningnya dicium oleh Hao.
Gunwook ingin melihat keadaan putingnya, tapi pandangannya kabur, terlalu pening karena hisapan kuat Hanbin di puting satunya.
"Ahhh!! Nghhh!"
Plop. Kuluman Hanbin terlepas, dan putingnya sukses mencuat. Hanbin mencubit putingnya, membuat gerakan seperti sedang memerah sapi. Sedikit demi sedikit susu mulai menetes dari sana. Hanbin tersenyum bangga.
"Liat, disini juga mulai netes nih!" Hanbin menjilat susu yang keluar. "Mmh!" Matanya membola saat mengecap rasa susu milik sang hybrid sapi. "Udah mulai manis rasanya, sayang!"
Hao ikut menjilati jarinya yang masih terbalur susu Gunwook, lalu mengangguk setuju "Hmm iya.. Keren banget ya Gunwookie! Udah mulai enak susunya nih, cantik!"
Hanbin kembali mengecup bibir Gunwook singkat. Kecupannya beralih ke pipi tembam, ia jilat jejak-jejak air mata disana.
"Tenang aja Gunwookie, kita semua bakal bantu Gunwookie biar susunya makin lancar, ya?"
'Kita semua'. Ah iya dia baru ingat.. Master bilang cara memilih banteng yang dirasa kompatibel adalah dengan kawin. Artinya Gunwook harus kawin dengan mereka semua sampai mendapatkan banteng yang cocok untuknya..
Gunwook mengedarkan pandangannya saat matanya bisa terfokus kembali. Hybrid banteng lainnya terlihat menahan diri mereka. Pandangannya jatuh pada tonjolan besar di handuk.
Dengan kewarasan yang sudah tipis, Gunwook meremas dadanya yang mulai membesar. Perlahan susu mengalir membasahi tubuh, hingga akhirnya jatuh, mengotori air kolam yang bening.
"B-bantu Wookie lancarin susu Wookie.."
Lalu dirinya diserbu.
---------
Gunwook dan para banteng berakhir di ruangan khusus, 'ruang senggama' kata Hanbin. Ruangan kedap suara yang harusnya digunakan saat para banteng merasa horny.
Ruang senggama memang, tapi belum pernah digunakan untuk hal demikian.
Hybrid banteng tidak melakukan seks dengan satu sama lain karena insting dominan mereka. Jika dilakukan, bisa-bisa ruangan hancur karena perang dominasi.
Ia dengar master juga tidak pernah membawa sapi kesana entah apa alasannya, jadilah ruangan itu tidak pernah digunakan.
Hingga saat ini.
Gunwook terbaring di matras yang sudah dibuat senyaman dan seempuk mungkin. Sang hybrid meremat seprai. Desahan terus keluar dari bibir merahnya, karena lidah Hanbin yang tengah melonggarkan bibirnya yang lain.
Gunwook tidak ingat pasti apa yang terjadi sebelumnya. Ia ingat tubuhnya digendong ala koala oleh Jiwoong yang terus-terusan mencium bibirnya dalam perjalanan, juga tangan Gyuvin yang tak henti meremas pantatnya.
Setelahnya ia dipangku oleh Jiwoong. Punggungnya bertemu dengan dada bidang sang banteng. Penis besar yang masih ditutup handuk terasa menusuk pada belahan kenyal Gunwook, ciuman tidak sekalipun terputus.
Lalu ia dengar Hanbin meminta izin untuk menjilati sesuatu, dan Gunwook hanya mengiyakan karena terfokus pada ciuman nikmatnya bersama Jiwoong.
Saat tersadar, kakinya sudah berada di pundak Hanbin dan lidah sang banteng sudah masuk ke dalam lubang yang belum pernah ia sentuh sama sekali.
Dengan tidak sopannya lidah itu menjilati bagian dalam, bibirnya menyeruput entah cairan apa yang keluar dari sana, hidungnya menggesek ke titik yang membuatnya kegelian.
Meski Gunwook tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ia tetap tidak mau rasa nikmat ini berakhir. Gunwook merasa lubangnya basah, entah karena saliva Hanbin atau cairan alami dari vaginanya.
Dibawah sana Hanbin tak henti mengeluarkan senandung puas tiap ia mengecap, seakan vagina Gunwook adalah santapan terenak di dunia.
Dan Gunwook hanya bisa mendesah keenakan menerima semuanya.
"Hahh anghhh.. Kak Binhh ahh, l-lidah kak Bin dalamhh--" Ia meracau. Entah apa yang ingin disampaikan sebenarnya.
"Gunwookie enak.. Mmhh.. Semua dari Gunwookie enak banget, kakak suka.." Gumam Hanbin di sela-sela kegiatan. Lidahnya kembali bermain, kali ini menjilat tonjolan sebesar biji kacang. Ia gigit gemas tonjolan itu sebelum kembali menjilati.
Gunwook mengerang karenanya. Pinggangnya bergerak resah merasakan sesuatu akan datang. Jantungnya berdetak makin kencang dan perutnya terasa geli. Oh tidak, ia harus ke toilet..
"K-kak Bin berhenti-- ahh berhentiii!" Gunwook dengan kuat menjambak rambut Hanbin, membuat si empunya mendongak. Saat itu juga Gunwook baru sadar pupilnya membesar.
Ia sudah masuk ke dalam insting hewani.. Tapi hebatnya Hanbin masih terlihat normal, tidak liar dan kasar seperti di dalam buku yang ia baca. Bahkan ia bisa menghentikan kegiatannya.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Hanbin khawatir. Gunwook menggelengkan kepalanya.
"M-mau ke toilet.. Pipis.. Maaf.." Gumamnya.
Mendengarnya, Hanbin malah kembali menyantap hidangan, membuat Gunwook kembali bergerak panik.
"K-kak Binnie, Gunwookie mau pipis duluu! Ahh! Kakk--"
Tidak kuat lagi menahan, Gunwook melepas semuanya. Kepalanya mendongak, kakinya memeluk leher Hanbin tanpa disengaja. Anehnya ia tidak merasa ada air hangat yang mengalir dari lubangnya. Atau pipisnya masuk semua ke dalan mulut Hanbin???
Oh tidak..
"Hiks.."
Semua atensi para banteng beralih, dari yang fokus menonton Hanbin meminum semua cairan orgasme, menjadi menatap Gunwook yang sudah terisak. Tangan besarnya menutup wajahnya sendiri, menangis tersedu.
Hanbin tersadar, bola matanya kembali normal. Pandangan yang tadinya sayu, berubah menjadi panik melihat Gunwook. Ia bahkan tidak peduli cairan Gunwook yang masih mengotori hidung dan dagunya.
"Sayang, Gunwookie sayang kenapa hei?"
"Maaf... M-maaff.."
Hanbin menoleh ke arah Jiwoong. Yang ditatap juga terlihat bingung.
Jiwoong membalikkan tubuh Gunwook menjadi menghadapnya. Ia lumat bibir sang hybrid sapi lembut, membuat isakkannya mereda.
"Gunwookie kenapa, hm? Ada yang sakit? Bilang aja cantik, kita gak akan marah.."
"Gu-Gunwookie jorok.. Maaf..."
"Jorok apa?"
"P-pipis.. Gunwookie pipis di dalem mulut kak Bin.." Wajahnya ditenggelamkan ke ceruk leher Jiwoong, tidak berani menatap Hanbin.
"Gunwookie kalau kamu sampai pipis, tandanya kita bener ngelakuinnya. Gunwookie ada ngerasa sakit?" Tanya Hanbin lembut. Gunwook menggeleng.
"Ng-nggak.."
Jiwoong kembali memutar tubuh Gunwook. Sang hybrid sapi menundukan kepala saat sadar Hanbin kini berada di hadapannya.
"Gunwookie, liat kakak" Dengan ragu Gunwook mendongak. Pipinya ditangkup, lalu diusap lembut oleh Hanbin.
"Rasanya gimana? Boleh kasih tau ke kakak?"
"Enak... Agak geli tapi enak, Gunwookie suka.. T-tapi Gunwookie gak tau bakal sampai pipis begitu, maaf..."
Hanbin tersenyum sebelum mengecup bibirnya singkat. "Makasih udah ngasih tau kita ya"
"T-tapi Gunwookie pipis.."
"Gak papa sayang, normal kok. Justru bagus kalo Gunwookie sampe pipis"
"Ung..? Bagus..?"
"Iya bagus"
"Ung.. Gak ngerti..."
"Kita lanjutin sampe Gunwookie ngerti ya? Gak papa kan lanjut? Atau Gunwookie mau istirahat dulu?" Tanya Hao. Gunwook berpikir sejenak.
Ia sebenarnya belum siap, sama sekali belum. Meskipun sedari tadi ia hanya merasakan nikmat, ia tetap merasa tidak siap untuk dikawini. Entah karena takut perihal kehamilan, atau takut hal buruk akan terjadi ke bagian bawahnya.
Tapi ia tidak bisa begini terus. Bagaimana ia bisa sembuh jika ia terus-terusan lari saat ketakutan? Ia hanya akan merepotkan master dan dokter lagi nantinya.
"Boleh dilanjutin aja, aku udah siap."
"Serius?"
"Ung!"
Jiwoong memindahkan Gunwook dari pangkuannya, kemudian ikut berdiri dengan para banteng yang tengah berbaris. Nafas Gunwook tercekat saat para hybrid banteng membuka handuk yang menutupi kemaluan mereka.
"Kamu mau sama siapa dulu, Gunwookie?"
Gunwook memperhatikan penis-penis di hadapannya. Berbagai ukuran, berbagai bentuk. Beberapa, meski terlihat lebih kecil daripada yang lain, Gunwook tau semuanya akan terasa sama setelah masuk ke dalam. Tetap akan membuatnya lubangnya menganga nantinya.
Dari semuanya, ia merasa paling ngeri saat melihat milik Matthew. Ukurannya tidak wajar. Bagaimana bisa hybrid satu itu menyembunyikan senjata di dalam celananya?
Matanya terjatuh pada Jiwoong. Entah kenapa instingnya mengatakan bahwa Jiwoong cocok jadi yang pertama untuknya. Gunwook menetapkan pilihannya.
"Mau sama kak Woongie dulu.. Boleh..?"
Jiwoong terlihat terkejut. "Serius?"
"Umm.. Kakak gak mau kah jadi yang pertama..?"
Tanpa menjawab, Jiwoong kembali membawa Gunwook ke pangkuannya. Posisinya sama seperti di awal, punggung bertemu dada. Bedanya penis Jiwoong kini berada di depan, menempel tepat di belahan vaginanya.
"Kakak masukkin ya?" Bisik Jiwoong.
Gunwook reflek melihat ke bawah. Jantungnya berdegup melihat penis besar dan berurat. Kepala merahnya mengetuk lubang Gunwook, seakan meminta izin untuk memasuki lubang yang masih terlihat rapat, padahal lidah Hanbin baru saja melebarkannya.
Bisakah semua itu masuk ke dalam..? Akankah lubangnya baik-baik saja? Gunwook pernah dengar cerita dari sahabat yang sering bercinta dengan master, katanya lubang vagina itu elastis, tidak mudah robek seperti anus.
Tapi apakah se-elastis itu sampai bisa menahan tebalnya penis besar..? Lebih tepatnya penis besar banteng..?
"Gunwookie..?" Suara Jiwoong menyadarkannya.
"Muka kamu pucet.. Kamu masih yakin?"
"U-ung! Yakin!"
"Kamu gak masalah kali pertama kamu kakak yang ambil?" Gunwook menggeleng kuat. Ia menoleh ke belakang, menarik wajah Jiwoong untuk mendekat, lalu mencium bibir yang kini menjadi candunya.
"Wookie mau kak Woongie jadi yang pertama.. Kak Woongie gimana..?"
Gunwook tidak tau hanya perasaannya saja, atau memang penis Jiwoong membesar sedikit.
"Kakak masukkin boleh? Atau Gunwookie mau coba masukkin sendiri?"
"Masukkin sama kakak..."
Jiwoong melebarkan labia Gunwook, satu tangannya memposisikan penisnya ke lubang sempit itu. Nafas Gunwook tercekat saat kepala tumpul itu perlahan melebarkan lubangnya.
"K-kakakhh--"
"Sshh.. Tahan sayang.."
Gunwook mencoba melihat ke bawah. Baru setengah yang masuk, tapi ia sudah merasa penuh. Ia memilih untuk menutup mata, tidak sadar bahwa Gyuvin sudah berada di depannya.
"A-ahhh?!"
Tubuhnya berjengit saat klitorisnya kembali disentuh. Membuka mata sedikit, ia menemukan Gyuvin yang menatapnya lekat.
Seakan menjawab kebingungan Gunwook, Gyuvin berucap,
"Biar kamu rileks"
Tetapi Gunwook tidak bisa rileks. Malah kini pinggangnya bergerak kesana kemari karena kegelian, membuat penis Jiwoong lebih sulit untuk masuk.
"Tahanin pahanya dong"
Gyuvin dan Matthew bergerak cepat. Masing-masing menahan paha Gunwook di tiap sisi. Penis Jiwoong kembali mencoba masuk, perlahan sampai akhirnya berhasil masuk semuanya.
"Haanghh..."
"Sshh.. Anget dan sempit banget dalemnya.. Sakit?" Gunwook hanya bisa mengangguk, nafasnya tersengal. Jemarinya meremat bicep Jiwoong yang memeluk perutnya. Bibirnya terkatup, menahan ringisan.
"Sini kita bikin biar gak sakit!"
"Anghhh!"
Gyuvin memijat perut bawah Gunwook. Sementara Matthew dan kini juga ditambah Ricky, memilih untuk memanjakan payudaranya. Perlahan rasa sakitnya menghilang, meninggalkan rasa nikmat namun mengganjal apalagi di bawah sana.
Tanpa sadar Gunwook memutar pinggangnya, seakan memberi kode agar Jiwoong bergerak. Sang hybrid banteng pun mulai mencoba menggerakkan. Menghentak sekali, sukses mengeluarkan pekikan dari bibir Gunwook. Dihentak dua kali, nafas Gunwook memburu. Dan tiga kali hentak, Gunwook mulai mendesah.
"Unghh!"
Jiwoong menegakkan tubuhnya, membuat penisnya masuk semakin dalam, bahkan tonjolan sudah terlihat di perut bawah sang hybrid sapi.
"Enak?"
"Unghh! G-gerak lagi kaya tadi-- ahhh ahh!"
Gunwook mendesah di tiap hentakkan. "Ce-cepet lagihh! M-mau lebih cepethh! Kakakkh!"
"Iya? Enak hmm? Mau disodok lebih cepet?"
"Iyahh! Sodok cepethh! Ahhh e-enakkh disituhh!" Gunwook menumpukan tangannya pada lantai. Pinggangnya ikut bergerak ke lain arah, cairan kental keluar membuat penis Jiwoong semakin licin.
"Kakakhh! Kakak, Gunwookie mauh-- m-mau pipishh lagii!"
"Sshh.. Gunwookie.."
Tangan Jiwoong menggantikan milik Matthew dan Ricky, mengundang dengusan kesal dari keduanya. Jiwoong tidak ambil pusing, ia memilih untuk memainkan puting besar sang hybrid sapi. Gunwook membusungkan dadanya.
"Hahhh c-cubit terus putingnyaa.. T-terus sampe-- sampe susunya keluar semuaa kakakk!" Menuruti, cubitan Jiwoong menguat. Jarinya membuat gestur memerah.
"Mmoohh k-kak Woongie! Mm--ohh ahhh!" Dada Gunwook yang membusung dan tubuhnya yang masih terhentak membuat susunya muncrat ke sembarang arah.
Master pasti akan menangis melihat susunya terbuang sia-sia, tapi apa pedulinya? Di kepalanya hanya ada kata-kata 'nikmat' dan 'kak Woongie'.
"Ah sayang banget.. Aku minum aja ya?" Gyuvin yang sedari tadi fokus menonton akhirnya angkat suara, padahal ia tau betul Gunwook tidak bisa menjawab saat ini.
"Kak Woong, awasin tangannya!" Jiwoong menuruti, meski matanya memicing.
Saat jari Jiwoong menjauh, Gyuvin mengecup puting bengkak Gunwook sesaat sebelum membawanya masuk ke dalam mulut. Ia jilat putingnya, mendesah puas mengecap rasa susu yang terus menetes.
Saat Gyuvin mulai menghisap, tubuh Gunwook bergetar hebat. Rambut sang banteng dijambak kuat, tapi Gyuvin tetap menikmati kegiatannya, tidak terganggu sama sekali.
Di sisi lain Ricky juga ikut tergoda. Ia menarik paksa tangan Jiwoong agar menjauh, sebelum membawa puting Gunwook ke dalam mulut. Ricky tidak suka susu, tapi susu yang Gunwook hasilkan terasa sangat nikmat.
Matthew yang keduluan memilih untuk menghisap pundak Gunwook. Tangannya bermain di paha sekal, meremasnya dengan gemas.
Gunwook sudah klimaks karena diserang dari banyak arah. Tubuhnya bergetar hebat di pangkuan Jiwoong. Di bawah sana, Jiwoong juga sudah mengeluarkan spermanya ke dalam. Gunwook mengetatkan vaginanya, dengan rakus memeras sperma Jiwoong sampai habis.
"Sshh.." Jiwoong meringis, merasa sensitif karena penis yang sudah melemas masih dijepit kuat oleh vagina Gunwook, seakan tidak ingin melepaskan.
"G-Gunwookie sebentar.."
Saat Jiwoong berhasil mengeluarkan penisnya, spermanya langsung mengalir keluar mengotori seperai. Gunwook terkulai lemas di pangkuan Jiwoong. Sesekali bibirnya masih mengeluarkan desahan pelan karena Gyuvin dan Ricky yang masih menghisap susunya, juga Matthew yang menyesap kulit di pundaknya.
Ia sempat dengar Jiwoong berbisik sebelum Gunwook berpindah ke pangkuan hybrid lain, Matthew yang kini menggigiti lehernya dengan gemas.
Vaginanya kembali terasa kosong, penis besar Matthew yang menempel di belakang sedikit menggoda, tapi Gunwook yang masih punya sedikit kesadaran, tau bahwa itu bukanlah pilihan yang bagus saat ini.
Belum saatnya. Lubang Gunwook belum siap menelan penis besar itu.
Tapi gatal rasanya..
Matanya menatap kosong ke Ricky dan Gyuvin yang masih menyusu padanya. Seperti bayi saja..
"M-mau sodok sodok lagi.." Gumam Gunwook. Dua hybrid yang tengah menyusu, menghentikan kegiatan mereka untuk menatap Gunwook penuh harap.
"Mau sama siapa sekarang?" Tanya Hanbin.
"Mm.. Terserah.."
"Sama aku ya?" Tawar Gyuvin cepat, Ricky berdecak sebal karena keduluan.
Gunwook berpikir sejenak, milik Gyuvin besar tapi tidak setebal milik Jiwoong harusnya tidak masalah. Ia mengangguk dan melebarkan pahanya.
"Bagian sini cantik banget tau, aku suka!"
"Hmhh..."
"Wait. Should we prepare the anal too?" Tiba-tiba Matthew bersuara. Kegiatan para banteng yang sedari tadi ternyata mengocok kemaluan mereka sendiri, terhenti. Semuanya terfokus pada Matthew. Bahkan Gyuvin yang baru saja akan memasukkan penisnya, berhenti sejenak.
"Kenapa?" Tanya Taerae.
"Kayaknya Gunwookie bakal suka, and i think double penetration sounds nice, no?"
Gunwook tidak mengerti. Anal? Double pene.. apa tadi? Tapi ia lebih terfokus pada bagian anal. Bukankah anal itu jorok? Bahkan Gunwook merasa vagina juga jorok, makanya dia bingung kenapa Hanbin terlihat sangat menikmati saat menjilati bagian bawah sana.
"Gunwookie mau disodok di anal?"
"Itu enak..? Gak jorok..?"
"Enak kok! Gunwookie mau coba?" Kali ini Hanbin yang berbicara. Mendengarnya dari banteng yang paling ia percayai, Gunwook akhirnya mengangguk. Lagipula dia penasaran bagaimana rasanya.
"Aku siapin analnya kalo gitu ya?"
Gyuvin menyuruh Gunwook untuk berbalik. Sang hybrid sapi menuruti. Saat membalikkan tubuhnya, ia langsung disambut Matthew yang dagunya dipenuhi saliva. Sepertinya ia sangat menikmati kegiatan menjilati pundak Gunwook.
Gunwook memeluk leher Matthew, membuat wajah keduanya berdekatan. Ia menerima saja saat Matthew mengecup wajahnya, mulai dari dahi, hidung, kedua pipi, sampai akhirnya meraup bibir Gunwook.
Jatuh dalam ciuman, Gunwook tidak sadar Gyuvin sudah mengeruk vagina Gunwook untuk mengambil sisa sperma Jiwoong. Setelah terkumpul, ia mengoleskan spermanya ke anus Gunwook.
Lubang anusnya tentu jauh lebih ketat dari vaginanya. Hybrid betina hanya menghasilkan lubrikan dari vagina, sementara bagian anal harus tetap dibuat basah secara manual, itulah mengapa Gyuvin mengambil sperma Jiwoong yang sudah tercampur cairan lubrikan Gunwook.
Gyuvin mulai memasukkan jari telunjuknya ke dalam. Baru saja dua ruas jarinya masuk, ia merasa Gunwook menegang, membuat lubangnya semakin mengetat. Dengan tangan yang bebas Gyuvin menampar pelan pipi pantat Gunwook.
"Jangan diketatin, rileks aja" Dibalas lenguhan dari Gunwook.
Gyuvin memasukkan jarinya lebih dalam. Telunjuknya menggeliat di dalam, coba melebarkan bagian dalamnya. Setelah dinding daging di dalam sedikit melunak, Gyuvin memasukkan jari keduanya, melakukan gerakan menggunting. Pinggang Gunwook mulai bergerak tak nyaman. Ekornya ikut bergerak, mengetuk-ngetuk lantai seperti mewakili perasaan tidak nyamannya.
"Mmhhh.." Gunwook menghentikan ciumannya dan Matthew. Ia menoleh ke belakang, matanya bertemu dengan mata besar Gyuvin.
"Sakit?" Tanya Gyuvin lembut.
Gunwook menggeleng. "Gak sakit-- nghh.. C-cuma aneh.. Gak suka.." Telinganya turun bersamaan dengan bibir bengkak dan alis tebalnya. Oh, dia sangat membenci ini.
Tapi Gyuvin tidak punya pilihan lain, hal ini harus dilakukan agar Gunwook tidak kesakitan nantinya. Jadilah ia pura-pura tidak mendengar rengekan Gunwook, dan fokus pada misinya untuk melebarkan anal sang hybrid sapi.
"Gyuu.. S-sakithh.." Rengekannya semakin kuat saat jari ketiga Gyuvin mulai masuk. Enak? Apa yang enak? Tidak ada yang terasa enak, yang ada hanya rasa mengganjal.
Pipi Gunwook diusap lembut oleh Hanbin yang kini duduk di sebelah Matthew yang kembali menikmati kulit Gunwook. Melihat wajahnya dan senyuman manisnya sedikit membuat Gunwook tenang.
"Nanti enak kok, tahan sebentar lagi ya?"
"Eunghh-- g-gak suka, kakak..."
"Coba sini Gyu" Tiba-tiba suara Taerae terdengar.
Gunwook mendesah lega saat jari Gyuvin keluar dari lubangnya. Lubang yang sudah basah kembali mengatup. Rasanya kosong tapi lebih baik daripada rasa mengganjal--
"Ahhh??"
Tiga jari kembali masuk, tapi rasanya tidak panjang seperti jemari Gyuvin. Jemari Taerae yang kini menggeliat melebarkan dinding di dalam, menekan beberapa titik, seperti mencari sesuatu.
Sampai akhirnya jari Taerae menekan satu titik yang membuat perasaan menggelitik di perut Gunwook kembali. Rasanya sama seperti saat disodok penis Jiwoong.
"Anghh-- ahhhh!" Pinggang Gunwook kembali bergerak, tapi bukan untuk mengeluarkan jari Taerae, melainkan menyuruh Taerae untuk terus menekan titik nikmatnya.
"Enak?" Tanya Gyuvin yang duduk di sisi lain Matthew. Gunwook hanya mengangguk, tidak bisa menjawab secara verbal.
"Enghhh.. Ahhh.."
Taerae semakin semangat memainkan jarinya di dalam. Jari Taerae sangat lihai bergerak di dalam sana, mungkin karena efek bisa memainkan gitar.
"P-pipis.. Pipishh-- Ah?? Kenapa berhenti, Rae??" Gunwook merengek tidak terima. Pinggangnya digoyangkan, ekornya menghentak marah.
"Lagiii!"
"Tenang dulu, nanti bakal lebih enak. Sini Gyuvin, langsung masuk aja"
Baru saja akan beranjak, tubuh Gyuvin ditahan oleh Gunwook.
"M-mau coba analnya sama Rae dulu, boleh?"
"Kenapa gak mau sama aku?"
Gunwook menggeleng kuat. "Bukan! Gunwookie cuma.. Belum siap.. Penis kamu gede, takut.."
"Oh.."
"Maaf ya Gyuvinnie.." Gunwook menciumi wajah Gyuvin yang tertekuk, sampai akhirnya sang banteng kembali menampilkan senyumnya dan balas mencium Gunwook.
"Gak papa kok, tapi aku mau ciuman sama kamu ya?"
"Oke!"
Gunwook pindah ke pangkuan Gyuvin. Ia memeluk lehernya. Mulutnya dibuka, menerima lidah Gyuvin dengan senang hati. Ia rasa Taerae meremas pantatnya, kepala penisnya menempel pada anusnya. Gunwook coba melebarkan lubangnya, siap menerima penis Taerae.
Ia pikir tidak apa-apa karena penis Taerae tidak sebesar penis banteng lain, tapi ternyata sama saja. Sakit, lubangnya seperti dibelah dua karena diameter penisnya lebih tebal daripada tiga jarinya.
Sebagai pelampiasan, Gunwook menggigit lidah Gyuvin. Si empunya hanya meringis, tapi tidak melepas ciuman mereka padahal rasa besi sudah memenuhi indera pengecap keduanya.
Saat penis Taerae masuk semua, Gunwook merasa pandangannya memutih. Tubuhnya menegang sesaat. Dari vaginanya keluar cairan bening yang menetes. Oh, Gunwook klimaks.
Taerae mulai bergerak perlahan. Gunwook yang baru saja klimaks, merasa sensitif. Cairannya tidak berhenti keluar tiap Taerae mendorong penisnya ke dalam, menekan lebih kuat titik nikmatnya.
Gunwook terengah dalam ciumannya dengan Gyuvin. Kepalanya terasa pusing. Ia tidak menyangka disodok di bagian anal akan terasa nikmat, sama seperti di vaginanya.
Gunwook ikut menggerakkan pinggangnya berlawanan arah, perasaan familiar kembali menyerang. Gunwook tau bahwa dia akan pipis lagi, tapi entah kenapa rasanya berbeda. Gawat, ini pipis sungguhan, bukan klimaks.
Gunwook bergerak panik, tangannya mengais ke belakang. Ia menggenggam lengan Taerae yang memegang pinggangnya. Gunwook menoleh ke belakang, susah payah ia coba untuk berbicara di tengah desahannya.
"Pishh-- nghhh! P-pipishh--"
Taerae mengangguk mengerti, ia memeluk pinggang Gunwook, membawanya ke pangkuan. Posisinya membuat penisnya semakin masuk. Hentakannya dipercepat, Taerae juga akan mencapai putihnya.
Tapi bukan itu maksud Gunwook. Ia sungguhan akan pipis, bahkan rasanya sudah keluar sedikit. Lagi-lagi Gunwook menggenggam kuat tangan Taerae, mencoba menjauhkan diri. Tapi sia-sia, Taerae malah makin mempercepat, bahkan jarinya kini memainkan klitoris Gunwook.
"Hiks! R-raehh!!"
"Pipis?" Tanya Taerae.
Gunwook mengangguk kuat. "I-iyahh pishh!"
"Yaudah pipis aja"
"Hiks g-gakk, R-raehhh!!"
Kali ini Gunwook menggeleng panik. Ingin berbicara, tapi yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan rengekan yang semakin menguat seiring klimaksnya yang akan datang.
"Hahhh! Ahhh g-gak!!!" Adalah pekikan yang berhasil keluar dari tenggorokan Gunwook saat cairan hangat nan deras keluar dari vaginanya. Kucekan Taerae di klitorisnya membuat cairan Gunwook muncrat ke sembarangan arah.
Tangan Taerae menampar-nampar kecil vagina Gunwook, pipisnya keluar semakin deras. Penisnya juga turut andil dalam membantu keluarnya cairan Gunwook, sampai akhirnya juga mengeluarkan cairannya sendiri.
"Cantik.." Ia dengar Taerae berbisik. Vaginanya berkedut, ekor dan telinganya bergoyang, sangat senang dipuji.
Cairan Gunwook tak hentinya keluar, bahkan setelah Taerae mengeluarkan penisnya dan memindahkannya kembali ke pangkuan Gyuvin.
Belum sempat Gunwook menenangkan diri dari klimaksnya, bahkan vaginanya masih mengeluarkan pipisnya, analnya malah kembali terasa penuh karena Gyuvin yang perlahan memasukkan penisnya ke dalam.
Nafas Gunwook tercekat "G-gyuu..."
"Sstt.."
Gyuvin melebarkan vagina Gunwook.
"Sini Ricky!"
Ricky yang daritadi fokus menonton, terkejut saat dirinya dipanggil. Dengan kikuk ia mendekat, matanya terpaku pada Gunwook yang terlihat memelas. Entah ingin kode agar Ricky cepat memasukkan penisnya, atau ia yang kelalahan dan ingin berhenti.
Ricky coba menempelkan kepala penisnya ke lubang vagina yang masih sedikit mengeluarkan cairannya. Matanya tidak terlepas dari wajah Gunwook, memperhatikan perubahan ekspresi sang hybrid.
"Is.. Is this okay..?"
Gunwook terdiam sejenak. Matanya menatap ke wajah, lalu ke penis di belahan vagina, setelahnya ia menatap ke bagian bawah, penis Gyuvin yang masih setengah masuk ke anal.
Gunwook berpikir, vaginanya kan terasa nikmat saat disodok, analnya juga terasa nikmat saat disodok. Jika dua-duanya disodok, berarti ia akan mendapatkan kenikmatan ekstra, kan?
Gunwook mengangguk. "Is okay."
Setelahnya penis Gyuvin masuk semakin dalam ke analnya, bersamaan dengan penis Ricky yang dihentak masuk ke dalam vagina. Gunwook mendongak, tubuhnya kembali bergetar karena lagi-lagi ia klimaks.
Gyuvin dan Ricky mulai bergerak, tidak membiarkan Gunwook beristirahat padahal baru saja klimaks. Gunwook melenguh, tangannya mencakar punggung Ricky.
Keduanya memeluk pinggang Gunwook, menarik penis mereka sampai sisa kepala, lalu dihentak masuk dengan kuat.
"Akhhh! Ahhh-- d-dalemm--" Gunwook mendongak, Ricky yang melihat leher mulus Gunwook langsung menempelkan bibirnya kesana. Ia cium dan jilat beberapa saat sebelum menyesap kulitnya.
Tangan Gyuvin turun membelai perut Gunwook yang menonjol karena penisnya dan Ricky, dia tekan, membuat dua hybrid di atasnya mendesah.
Tanpa disadari Gunwook, dua hybrid banteng itu tengah bertatapan, seakan sedang berkomunikasi melalui telepati.
Gyuvin mengangguk.
Ricky mengangguk.
Gunwook memekik karena tempo hentakan yang dipercepat tiba-tiba.
"T-terlalu-- hahhh-- terlalu cepethh! G-gak bisa ahahhh!"
Tapi dua hybrid banteng itu malah mengira Gunwook ingin disodok lebih cepat lagi. Gyuvin dan Ricky menyanggupi, pinggang keduanya bergerak makin cepat dan keras.
"Huhuu kecepetanhh! G-gak kuathh-- gak bisa!!" Bilangnya tidak bisa, tapi pinggangnya malah ikut digerakkan berlawanan arah.
"Shh.. Enak banget memek Gunwookie.."
"Hiks.. M-memekhh apahhh??" Sempat-sempatnya Gunwook bertanya di sela-sela tangisan nikmat.
"Vagina kamu-- sial Gunwookie, mantep bangethh! Goyangin terus pantatnya-- ahh pinter pinterhh!"
Gunwook lah yang keluar terlebih dahulu, disusul Gyuvin lalu Ricky yang mengeluarkan miliknya diluar, cairannya mengotori perut dan dada Gunwook.
Gyuvin menarik keluar penisnya, lalu memindahkan Gunwook ke pelukan Hao. Sama seperti dua banteng sebelumnya, Hao juga langsung melesakkan penisnya ke dalam, tidak membiarkan Gunwook untuk beristirahat.
"Sini Bin, muat!"
Milik Hanbin perlahan ikut masuk ke dalam, menemani milik Hao. Penis kedua banteng itu melebarkan dinding vagina Gunwook. Gunwook yang sudah merasa haus akan seks, tidak lagi merasakan sakit. Ia hanya merasa nikmat.
"Gerakhh gerakkk!"
Hanbin dan Hao menuruti. Mereka mulai bergerak berlawanan arah. Saat Hao bergerak naik, Hanbin bergerak turun, dan sebaliknya. Tangan keduanya memanjakan payudara Gunwook, kembali memerah membuat susunya lagi-lagi mengalir keluar.
"Ahhhh enakhhh! Enakkk--mmhhh!"
Lidah Hanbin masuk ke dalam mulutnya, mengajak lidahnya untuk menari bersama. Ciumannya singkat, tapi Gunwook tidak diberi waktu untuk merengek karena Hao yang menggantikan Hanbin.
Tempo sodokkan keduanya menguat dan cepat, sampai akhirnya mereka keluar bersamaan, memenuhi perut Gunwook. Dua penis keluar dari lubangnya yang sudah menganga, sperma mengalir keluar.
Gunwook melemas dalam pelukan Hao, ia belum klimaks tapi ia tidak peduli, kepalanya terlalu pusing dan tenaganya habis, ia merasa hanya ingin istirahat saat ini.
"Jangan.. Capek..." Gumam Gunwook saat Hanbin akan memanjakan vaginanya lagi. Hanbin mengangguk mengerti. Gunwook dibaringkan ke matras, kepalanya beralaskan paha Hao.
"Biarin Gunwookie istirahat dulu ya Matthew, kasian dia kecapean"
"Oke!"
Gunwook memejamkan mata sejenak, menikmati belaian tangan Hao pada pipinya. Gunwook merasa seseorang memijat pahanya, Hao juga beralih memijat kepalanya membuat pusingnya sedikit reda.
Samar-samar Gunwook mendengar Hao memanggil Hanbin. Setelahnya ada suara kecipak basah yang familiar, tapi Gunwook terlalu lelah untuk membuka mata.
Mungkin mereka berciuman..
Eh, berciuman?
Gunwook membuka matanya, saat melihat pemandangan di depannya, ia merengek. Gunwook juga ingin dicium, kenapa mereka tidak mengajaknya? Padahal kan mereka tau kalau Gunwook suka berciuman.
"Kakak! Mau cium jugaa!"
Tapi ia tidak digubris, dua banteng itu terlalu larut dalam ciuman mereka. Gunwook merengek pelan, tapi keduanya tetap tidak memperdulikannya. Gunwook merasa matanya memanas.
"Hiks.. Huhu, cium.. Gunwookie mau cium juga, kakakk.."
Jiwoong lah yang membuat Hao dan Hanbin menghentikan ciuman mereka. Ia menunjuk kepada Gunwook yang sudah menangis tersedu-sedu. Melihatnya Hao dan Hanbin langsung panik. Hao kembali membawa Gunwook ke pelukannya, mencium bibirnya seperti yang diminta. Hanbin melakukan hal yang sama.
Tak lama tangis Gunwook mereda, ia mendorong kedua banteng itu menjauh, sebelum berbaring di matras. Saat Hanbin ingin menyentuh, ia malah menjauh. Para banteng kebingungan, tadi merengek minta cium, sekarang malah menolak disentuh.
"Ngambek?" Tanya Taerae ke Hao. Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya dengan tenang, berbeda dengan Hanbin yang shock berat karena sentuhannya ditolak.
"Gunwookie ngambek kenapa.." Tanya Hanbin lembut. "Kakak ada salah?"
Gunwook tidak menjawab, malah meringkuk sambil menyembunyikan wajahnya dengan telinga, ekornya menghentak di matras.
"Gunwookie jangan gini.. Bilang kakak salah apa.."
"Tadi Gunwookie gak diajak ciuman.." Rilih Gunwook. Untung saja Hanbin dan yang lain masih bisa mendengarnya.
"Tapi akhirnya dicium kan?" Kali ini Hao yang angkat bicara.
"Tapi tadi dicuekin.. Gunwookie gak suka dicuekin.."
Oh..
Gunwook memekik saat Hanbin dan Hao tiba-tiba menimpahnya, demi apapun dia berat meski tubuh mereka tidak sebesar Gyuvin. Hanbin mengusakkan wajahnya ke dada Gunwook dengan gemas, sementara Hao menciumi pipi gembilnya.
"A-apasih??"
"Kamu gemesin banget!!"
"Lucu! Kamu lucu, imut!!"
"K-kakak udahh! Geliii! Hahaha--kak udahh!"
"Eh, jadi kapan ini giliran aku?"
Suara Matthew menghentikan kegiatan Hanbin dan membuat tawa Gunwook terhenti. Ia lihat hybrid itu tengah memegang penisnya yang masih tegang dengan kaku.
Buru-buru Hanbin dan Hao beranjak dari atas Gunwook. "Gunwookie udah gak capek kan? Gak papa Matthew masukkin sekarang?" Gunwook mengangguk.
"M-mashu.." Gunwook melebarkan labianya dengan kedua tangan. Sperma milik banteng sebelumnya mengalir keluar dari lubang merah itu "Sinii masuk.."
Mati-matian Matthew menahan diri untuk tidak langsung melesakkan penisnya ke dalam. Ia ingin melakukan suatu hal dulu sebelum mengawini Gunwook.
Matthew berdiri, ia menggestur Gunwook agar mendekat. "Gunwookie sini dulu"
Gunwook menuruti. Ia berlutut, membuat wajahnya berhadapan dengan penis besar yang sempat jadi sumber kepanikannya beberapa menit yang lalu.
"Manjain ini dulu ya"
"Ung? Manjain..? Penisnya harus Wookie manjain?"
"Wookie coba bilangnya jangan penis, tapi kontol!"
"Kontol? Kontol itu nama lain penis?"
"Iyap! Kontol itu panggilan buat penis yang besarnya diatas rata-rata, kaya punya kita ini!"
Bohong. Semuanya hanya kata-kata yang dirangkai spontan dalam kepala lalu disebut tanpa dipikirkan ulang.
Tapi Gunwook itu naif. Ia tidak pernah mempelajari kosakata diluar buku tebal. Ia tidak pernah diajarkan kata-kata kotor atau bermakna tidak baik oleh sang master. Televisi pun sudah disetel agar media dewasa tidak pernah tayang di dalamnya.
Jadilah ia hanya menuruti "Kontolnya harus Wookie manjain kaya apa?"
"Coba gesek-gesek pakai nenen Gunwookie!"
Gesek..? Memangnya bisa ejakulasi hanya dengan itu?
Tidak dicoba tidak akan tau.
Gunwook mulai mencoba menggesekkan dadanya ke penis besar Matthew. Ia menggigit bibir saat merasakan nikmatnya sensasi gesekkan puting tegangnya pada batang keras itu.
"Nghh.. E-enak puting Gunwookie.."
Melihat ekspresi nikmat sang hybrid sapi, Matthew rasanya tidak sampai hati bilang bahwa bukan itu maksud ucapannya. Dalam pikirannya, ia ingin penisnya distimulasi dengan cara dikocok di tengah-tengah dada besarnya. Paizuri, namanya.
Yah, masih ada hari esok. Lagipula melihat penisnya yang kini dibaluri susu yang keluar dari puting bengkak itu, membuat libido Matthew melonjak. Apalagi melihat ekspresi Gunwook yang semakin tidak terkontrol, dengan mata sayu dan lidah yang terjulur itu.
Ia merasa putihnya akan datang. Ini terlalu cepat.
"Stop dulu Gunwookie"
Gunwook menghentikan gerakannya. Ekspresi nikmat digantikan oleh kepanikan, matanya kembali membola.
"A-aku salah ya??"
"Bukan kok! Malah gawat kalau dilanjut, nanti aku malah keluar di muka kamu!"
"Emangnya gak boleh ya..?"
"Aku mau keluar di dalam mulut kamu!"
Mulut? Maksudnya kontol ini harus dimasukkan ke mulut? Gunwook menatap Matthew dengan bingung. Masalahnya mulut Gunwook kan tidak se-elastis vaginanya.
"Emang bisa masuk kontolnya..?"
"Bisa kok! Gunwookie mau coba?"
"Tapi mulut Gunwookie gak sebesar meime Gunwookie.."
"Memek, sayang"
"Iya memek.. Mulut Gunwookie kan kecil..
Matthew menangkup dagu Gunwook, membuat wajahnya kembali mendongak.
"Coba dulu ya? Kalau gak dicoba gak akan tau"
"Ung!"
Matthew menyuruh Gunwook untuk mengocok sejenak penisnya. Gunwook sempat bingung, tapi Matthew mengajari dengan sabar.
Omong-omong, tangan Gunwook itu besar, tapi entah kenapa tidak cukup untuk menggenggam milik Matthew. Mengerikan..
"C-coba dijilat-- ahhh i-iya kaya begituhh"
Gunwook menjilati kepala tumpul itu, menelan semua cairan yang keluar dari sana. Rasanya aneh, tapi tidak buruk, Gunwook merasa bisa menelannya.
"Gunwookie, Gunwookie coba masukkin ke dalam.."
Mulutnya ia buka dengan lebar, susah payah ia coba memasukkan milik Matthew ke dalam.
"U-udahh, udah segitu aja, nanti kamu muntah"
Untunglah, jika masuk sedikit lagi saja kepala tumpul itu akan terbentur ke tenggorokannya. Meski begitu ia merasa sesak rahangnya sakit, penis banteng satu ini benar-benar besar.
Matthew menyuruhnya untuk bergerak. Ia memandu Gunwook, memberi tau perihal bagaimana cara memanjakan penisnya sampai Matthew bisa ejakulasi.
"Terus coba maju-mundur-- aduh pinter, pinter banget Gunwookie"
Matthew mendongak, ia berusaha menjaga keseimbangannya. Gunwook memang belum lihai, tapi tetap terasa enak. Bagaimana ia bisa tau? Tentu saja karena ini bukan kali pertama Matthew dalam melakukan hal seksual.
Matthew sempat menjadi banteng yang digunakan untuk mengawini sapi perah karena kualitas spermanya bagus. Kenapa ia bisa 'dibuang' ke lumbung ini? Ingat kan bahwa Matthew itu hiperaktif? Selain hyper dalam kehidupannya normalnya, ia juga hyper dalam hal seksual. Mungkin karena efek ia dijadikan alat kawin sejak beranjak dewasa.
Matthew dipindahkan karena ia selalu memaksa para hybrid sapi untuk kawin dengannya. Para hybrid tidak ada yang bisa mengimbangi dan merasa Matthew itu mengganggu kehidupan mereka, mengadu pada master yang dulu. Jadilah ia dipindahkan. Sejak itu Matthew tidak lagi tertarik pada hal yang berbau seksual.
Sampai ia bertemu dengan Gunwook.
Hasrat seksualnya kembali, bahkan tumbuh lebih kuat tiap ia melihat Gunwook. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang molek, dan aroma tubuhnya yang selalu wangi, membuat sisi hewaninya meronta. Bahkan ia sering ereksi saat sedang memangku Gunwook. Ingin sekali rasanya mengawini Gunwook.
Saat Gunwook bilang ingin dikawini beberapa jam lalu, Matthew sebenarnya menahan diri untuk tidak melakukan selebrasi di dalam kolam.
Kembali ke masa kini, ia memperhatikan Gunwook yang masih memanjakan penisnya. Cantik sekali, bagaimana bisa wajahnya masih terlihat polos dan cantik padahal mulutnya sudah dipenuhi penis besarnya.
Tangan Gunwook di paha, ia bawa ke bola kembarnya. "Manjain" Suruhnya.
Gunwook terlihat kebingungan, tapi mulai memanjakan. Ia coba meremas-remas bola yang menggantung itu. Matanya kembali melirik ke atas. Matthew sudah memejamkan matanya, dari bibirnya keluar desahan kecil. Gunwook benar melakukannya.
Ia makin semangat memanjakan penis Matthew. Pipinya dicekungkan, lidahnya menjilati batang di dalam mulut, kepalanya makin cepat bergerak. Satu tangannya masih meremas bola kembar Matthew. Sementara tangan satunya tanpa sadar sudah turun ke bagian bawah, mengucek klitorisnya sendiri.
"Ahhh s-shithh, Gunwookie--"
Kepala Gunwook ditarik, memaksanya untuk menelan lebih jauh penis Matthew. Ia tersedak saat kepala penis membentur tenggorokan. Hidungnya menempel pada selangkangan Matthew, aroma kuat dari sana membuat Gunwook semakin pusing.
Matthew menggerakan pinggangnya beberapa kali, sampai akhirnya cairan hangat memenuhi kerongkongan Gunwook. Gunwook yang kepalanya ditahan, hanya pasrah meminum semuanya sampai habis. Rasanya mual karena Matthew keluar sangat banyak, dan cairannnya juga kelewat kental.
"Hnghhh..." Dibawah sana Gunwook klimaks, bukan klimaks biasa, melainkan ia kembali pipis. Urinenya mengalir deras membanjiri lantai.
Matthew mengeluarkan penisnya dari dalam mulut Gunwook. Sisa-sisa sperma muncrat mengotori wajah sang hybrid sapi. Matthew ikut berlutut, ia melumat bibir Gunwook. Tidak peduli saat mengecap rasa spermanya sendiri dalam mulut Gunwook.
"Amhhh.."
Matthew yang duluan menghentikan ciuman mereka. Ia menatap wajah Gunwook yang terlihat seksi. Matthew tidak tahan, ia ingin segera mengawini Gunwook.
Matthew kembali ke matras, mendudukan dirinya kesana. Ia menyuruh Gunwook untuk naik ke pangkuannya. Gunwook menahan tangan Matthew yang mengarahkan penisnya agar lebih mudah masuk.
"Kenapa?"
"M-mau coba masukkin sendiri.. Boleh..?"
Matthew mengangguk, membiarkan Gunwook yang mengambil alih. Gunwook mencontoh Matthew, mengarahkan penis besar itu ke vaginanya. Ia menggigit bibir saat kepala tumpul melebarkan lubangnya.
Ia berhenti sejenak untuk menetralkan nafas. Rasa mengganjal seperti saat analnya disiapkan tadi, kembali dirasakan. Ingin rasanya menyerah, tapi ia juga merasa tanggung. Jadilah Gunwook kembali bergerak turun.
"Pelan-pelan aja. Jangan lupa nafas, Gunwookie" Ia dengar suara Hao. Gunwook mengangguk
Tebal penis Matthew membuat lubangnya semakin melebar. Untung saja Hanbin dan Hao sempat masuk secara bersamaan, karena lubangnya sedikit membesar dan dapat dengan mudah menerima milik Matthew.
Ternyata tidak.
Sakit. Dinding vaginanya dilebarkan paksa. Terasa menggesek dinding daging di dalam tiap batangnya bergerak masuk. Gunwook sempat melihat ke bawah, jantungnya berdegup kencang.
Belum masuk semuanya.
"Gunwookie percaya aku kan?" Tiba-tiba Matthew membuka suara. Gunwook membalas dengan mengangguk cepat.
Matthew memegang pinggangnya. Gunwook tiba-tiba merasa tegang, takut sekaligus penasaran dengan apa yang akan dilakukan Matthew.
Tanpa aba-aba tubuhnya ditarik ke bawah, membuat penis Matthew melesak masuk sepenuhnya ke dalam. Nafas Gunwook tercekat, matanya terbelalak.
"M-mashuu---"
"All in, baby. Ahhh, shit you're still too tight.."
Gunwook tidak bisa membalas, ia coba menetralkan nafasnya karena rasa perih yang ia rasakan di bawah sana.
"Aku gerak ya?"
"N-nanti dulu-- AHHH MASHUU!"
Dibanding yang lain, hentakkan Matthew jauh lebih kuat. Semua otot di tubuhnya bukan untuk pajangan belaka. Setiap Matthew menghentak, Gunwook merasa dirinya akan terpental.
Penisnya juga tak kalah kuat. Benda keras itu masuk ke dalam, seakan ingin menghancurkan dinding rahimnya. Nafas Gunwook seakan terhenti tiap penis itu dihentak kuat ke dalam. Penisnya seakan ingin menata ulang isi perut Gunwook
Gunwook sudah tidak bisa apa-apa selain mendesah. Jika penis yang lain membuatnya pusing karena nikmat, penis Matthew membuatnya bodoh karena terlalu nikmat.
Kepalanya terasa kosong. Benar-benar kosong, tidak ada apapun disana. Semua pikirannya menghilang, memorinya dihapus, otaknya tidak berfungsi sebagaimana semestinya. Satu tubuhnya tidak bisa diam, mengais sesuatu untuk melampiaskan nikmat. Bahkan ekornya sudah melingkari lengan Hanbin yang kini memerah susunya.
Bola matanya membesar, menandakan insting hewaninya sudah mengambil alih seutuhnya. Gunwook kini hanya ingin dihamili, ingin perutnya dipenuhi sperma semua banteng, ingin mengandung anak mereka semua. Gunwook sudah siap, ia siap menyusui, siap menjadi ibu yang baik.
Gunwook ingin dihamili.
Hamili aku! Hamili aku! Hamili aku!
"Iya? Hahh.. Gunwookie mau dihamili sama kita, iya?"
Iya! Iya! Hamili! Hamili!
Bibirnya yang terbuka ditempeli oleh sebuah penis besar. Dengan pandangan yang kabur ia coba melihat sang pemilik, Hanbin..? Jiwoong..? Entahlah. Gunwook dengan senang hati menerima penis siapapun itu.
Dengan semangat ia mengulang kegiatan beberapa saat lalu. Meski otaknya tidak berfungsi semestinya, mulutnya bergerak otomatis, mengingat semua arahan Matthew.
Mulut dibuka lebar-lebar, lahap penisnya lalu jilat semua bagian batangnya, jangan sampai terkena gigi. Tentu saja ia tidak bisa fokus, karena Matthew yang sempat berhenti, kembali menghentak-hentak kuat.
Tangan yang mengais udara, kini masing-masing dibawa untuk mengocok penis banteng lain. Dada satunya juga tidak luput, penis salah satu banteng digesekkan ke puting yang masih mengeluarkan susu secara deras.
Kepalanya ditahan, banteng yang menahan lalu menghentak penisnya hingga mentok ke tenggorokan Gunwook. Sementara dua banteng yang menggunakan tangannya juga ikut bergerak. Gunwook dipaksa untuk mengetatkan semua bagian dari tubuhnya demi para banteng itu.
Ia senang, senang sekali..
Apalagi payudaranya juga tidak dilupakan, masih dipijat sampai daging yang tadinya keras, berubah menjadi kenyal. Susunya sudah keluar hampir semua sampai menghujani tubuhnya sendiri.
Semuanya nikmat.. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi berat di dada, tidak ada lagi rada gatal di vagina, semuanya perlahan disembuhi oleh para banteng.
"G-Gunwookie, I'm cumming--"
"Cantik, telen semuanya ya.."
"Hhh.. I'll paint your face, sweetheart"
"Kak Bin awas! Aku-- ahhh! Aku mau keluar di tetenya!"
Bola mata Gunwook memutar ke belakang, ia tidak dapat memikirkan apapun, hanya pasrah menerima semuanya. Nikmat yang didapatkan oleh tubuhnya terlalu over sampai ia tidak sadar sudah klimaks, pipisnya muncrat deras membanjiri matras dan kulit, tapi Matthew tidak berhenti padahal si banteng juga sudah ejakulasi.
Gunwook tidak sadar bahwa Hao sudah memuntahkan sperma ke dalam mulutnya, Ricky yang menghias wajahnya dengan sperma miliknya, dan Gyuvin memilih untuk mengotori dadanya. Bahkan ia tidak sadar Matthew sudah digantikan kembali oleh Jiwoong yang menghentak penisnya ke dalam anal untuk mengeluarkan spermanya di dalam sana, sementara Taerae melakukan hal yang sama ke vaginanya, membuat perut Gunwook mengembung.
Sang hybrid sapi sudah benar-benar lemas, tubuhnya terkulai dalam pangkuan Jiwoong. Tidak ada suara yang keluar sama sekali kecuali nafas yang tersengal, tanpa itu mungkin mereka akan mengira bahwa Gunwook telah kehilangan kesadaran.
"Gunwookie sayang.."
Ia kenal suaranya tapi tidak ingat siapa pemiliknya. Membuka mata yang dirasa berat, samar-samar Gunwook bisa melihat sebuah siluet. Hanbin kah..?
"Iya ini kak Bin"
Hanbin mendekat, melebarkan paha Gunwook. Ia bergumam saat melihat banyak sperma keluar dari lubang kawin Gunwook yang menganga. Perlahan ia membawa penisnya mendekat, lalu mendorongnya ke dalam.
Saat Hanbin mulai bergerak, Gunwook memekik perlahan. Tangannya mengalung pada leher sang banteng, ia meringis, air matanya kembali keluar membasahi pipi.
"K-kak Binhh.. Nghhh.."
"Sstt.. Terakhir sayang.."
"K-kak Binh!? S-sakithh!" Mata yang tadinya sayu kini terbelalak. Gunwook yang lemas kembali terbangun. Nafasnya memburu, panik merasakan penis Hanbin yang membesar di dalam memaksa dindingnya untuk terbuka. Bahkan rasa sakitnya lebih kuat daripada saat ia dimasukki dua penis dan penis milik Matthew.
"Nghh! S-akit kak, sakithh!!" Gunwook melenguh, ingin melepaskan diri tapi ia tidak punya tenaga. Kungkungan Hanbin terlalu kuat, ditambah Jiwoong yang juga menahannya dari belakang.
"Hiks s-sakitt!! Kakak ngapain sihh??"
"Ini namanya knot, sayang. Tujuannya buat--" Gunwook tidak bisa mendengar apa-apa lagi, rasa sakit yang menguat membuat telinganya berdengung.
"G-gak mauu-- lepashh! Sakithh!"
"Sshh.. Tahan sayang, sebentar lagi.."
Setelahnya Gunwook tidak ingat apa-apa lagi. Pandangannya memutih, tubuhnya dipaksa untuk masuk ke alam bawah sadar. Gunwook pingsan.
Saat tersadar, Gunwook sudah berada di dalam pelukan master. Otaknya masih belum bisa berfungsi dengan baik, tapi ia tau bahwa ini masih di hari yang sama. Bahkan mungkin hanya beberapa menit setelah kejadian Hanbin yang memberikannya 'knot' atau apalah itu.
Ia dengar master berbicara, para banteng juga berbicara, tapi ia masih belum bisa mencerna obrolan mereka. Tiba-tiba suhu tubuhnya memanas, ia bergeliat resah. Master sepertinya belum sadar, masih fokus mengobrol (atau menceramahi?) para banteng.
"Haduh, inilah alesan kenapa master gak mau ngasih kalian sapi, kalian tuh libidonya terlalu tinggi!"
Master memperhatikan Gunwook di pelukannya. Tubuh hybrid sapi itu masih bergetar hebat, susunya tak henti mengalir dengan deras, membuat kaus sang master ikut basah.
"Hahh.. Hahhh.. M-maserhh.. P-pan--" Lidahnya terus keluar, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Panashh masherhh.." Gunwook meremat kuat kaus master, mengusak wajah ke dada bidangnya.
"Master tuh liat dia jadi kepanasan karena knottingnya belum selesai!"
"Gyuvin diem dulu! Sstt.. Sayang.." Master membersihkan wajah Gunwook dari cairan-cairan kotor itu dengan kausnya. "Nafas yang bener ayo, dari hidung juga ayo nafasnya.."
"M-masher-- phusing.. Panashh.." Lirihnya sebelum kembali kehilangan kesadarannya.
"Gunwookie!" Dengan segera master menggendongnya. Ia menatap tajam para banteng, membuat mereka yang baru saja mau mendekat itu terhenti.
"Gak ada sapi lagi buat kalian! Mulai besok Gunwook balik ke rumah master!" Ujarnya. Suasana langsung ramai dengan seruan tidak terima.
"Master gak adil!"
"Kan master juga yang nyuruh kita buat kawinin Gunwookie biar susunya lancar loh!"
"Master jangan please! Baru kali ini aku ngerasain jatuh cinta!"
"Setuju! Jangan ambil Gunwookie kita!"
"Gunwookie punya kita! Balikin atau kita seruduk!"
"Master, kita yakin Gunwookienya juga betah kok disini!"
"Master kalo Gunwookie hamil, kita dibolehin liat anaknya kan??"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan Yujin dengan wajah polosnya. Buru-buru master dan semua banteng menutupi tubuh Gunwook.
"Master! Yujin mau punya rumah pribadi dong!"
"Iya Yujin, nanti dibuatin ya! Sana dulu gih"
"Oke!"
Setelah Yujin menghilang dari pandangan, wajah ramah master kembali menjadi galak.
"Pokoknya gak ada kawin kawin lagi!" Setelah menjatuhkan bom, sang master pergi begitu saja, tidak memperdulikan seruan tidak terima para banteng.
"Master!!!"
"Master sialan! Aku seruduk dia kalo ketemu liat aja!"
"Ikut!"
"Aku juga!"
"Liat aja aku bakal coret-coret rumahnya!"
"Aku bakal nyalain sound horeg, budeg budeg tuh master sialan!"
"Kalian lakuin itu dan aku yang bakal culik Gunwookie, oke?"
"Oke!!!"
Setelahnya para banteng keluar untuk mengejar sang master, meninggalkan Yujin yang duduk di sofa sambil menikmati acara kesukaannya di televisi.
"Nanti rumahnya tingkat berapa ya enaknya.."
---------
