Actions

Work Header

rekomendasi bacaan untuk orang pacaran

Summary:

Wajah Sangwon memerah malu. Buku di genggamannya jatuh kendati tangannya sendiri tak kuat memegang benda tabu itu terlalu lama. Tanda di kiri bawah sudah jelas terlihat— novel ini untuk usia dua puluh satu keatas.

Alias… pacarnya ngasih novel porno.

Or, Sangwon si kutu buku dikirimi buku baru sama pacarnya.

Notes:

not beta read alias mmf kalau ada typo t__t

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Sangwon suka membaca. Semua yang dekat dengannya pasti tahu, karena kentara betul bahwa kemana-mana ia selalu membawa buku. Entah buku puisi, novel, hingga motivasi. Ditengah lingkungan yang sibuk menggulir layar untuk hiburan instan, Sangwon diberkati dengan jemari yang senantiasa sibuk membolak-balikkan halaman.

 

Karena itu, orang-orang terdekatnya seringkali hadiahkan buku untuk Sangwon. Entah di hari ulang tahun, atau sekedar hadiah pertemanan, Sangwon berulang kali terima buku dari teman-temannya.

 

Pacarnya pun nggak jauh beda— ini sih, kadang lebih ke Sangwon yang minta, sebenarnya. Setidaknya seminggu sekali dua sejoli itu mampir ke Gramedia. Leo rela dompetnya menjerit jika artinya ia bisa lihat senyum si cantik terbit. Pokoknya, akan selalu ada bacaan baru untuk Sangwon, entah ia minta atau tidak.

 

Seperti hari ini, Sangwon dengar samar suara tukang paket dari luar kosannya. Menilik chat-nya dengan si Kakak pacar barusan, kayaknya ini buku yang Leo maksud. Jadi, tanpa ragu Sangwon bawa kardus itu ke kamar kosnya, ia buka kardus pembungkus dengan cutter.

 

Setelah kardusnya terbuka, Sangwon mengintip sedikit isinya. Bubble wrap yang tebal membuat sampulnya hampir nggak kelihatan. Didorong penasaran, Sangwon cepat-cepat gunting si bubble wrap, tampilkan sampul cerah yang…

 

“Wha—“

 

Ini… apa..?

 

Wajah Sangwon memerah malu. Buku di genggamannya jatuh kendati tangannya sendiri tak kuat memegang benda tabu itu terlalu lama.

 

Sampulnya menghadap keatas seakan menantang Sangwon untuk bersitatap. Pink cerah penuh motif, sampulnya nggak memberi gambaran tentang apa yang ada didalamnya. Tapi tanda di kiri bawah sudah jelas terlihat— novel ini untuk usia dua puluh satu keatas.

 

Alias, pacarnya ngasih… novel porno.

—

 

“Apa-apaan sih kak?”

 

Wajah Sangwon masih merah padam. Bibirnya mecucu malu— sangat mengundang untuk Leo cumbu.

 

“Aku rekomendasiin genre baru buat kamu baca, sayang.” Ucap Leo jahil. Buku itu kini ditaruh ditengah mereka. “Katanya kamu pengen coba genre baru?”

 

Sangwon tendang kaki Leo kesal. Enggan menatap mata sang pacar. Walaupun sebenarnya, ya… dia juga penasaran sih, apa isi buku itu. “Ya nggak gini juga ih…” Rengeknya.

 

Leo nyengir. Raih buku yang tergeletak di lantai kemudian dengan santai buka plastik pembungkusnya. Lantas ia buka-buka sekilas halamannya. Cengiran mesum Leo bikin Sangwon yakin— bukunya porno banget pasti, ih!

 

Tapi bohong juga sih, kalau Sangwon bilang dia nggak kepo…

 

“Isinya… apa..?” Tanyanya malu-malu. Matanya intip sedikit halaman yang dibuka Leo.

 

“Sini dong, kan tadi kakak bilang buku ini wajib dibaca barengan.” Ucap Leo jahil. Sangwon putuskan untuk menurut. Beringsut mendekat ke pacarnya. Apa boleh buat, kepalang penasaran, soalnya.

 

Keduanya kini duduk berdampingan, di lantai kamar Sangwon, bersandar pada kaki ranjang si cantik. Mata Sangwon memindai tulisan-tulisan kotor itu. Pipinya kian memanas seiring ejaan yang ia rapalkan dalam hati.

 

Tanpa sadar, tangan lelaki itu sudah merangsek masuk ke celana dalamku.

 

Sangwon lirik-lirik si kakak. Sedangkan Leo terlampau fokus baca bukunya— entah apa yang membuatnya tampak serius sementara isi buku ini hanyalah kalimat-kalimat porno.

 

Jemarinya yang besar dengan mudah membelah labiaku…

 

Ekor mata Sangwon menangkap jemari si Kakak pacar yang sedang dipakai untuk menahan halaman. Panas berkumpul di abdomennya, ah— Sangwon… kepanasan.

 

Ia paksa matanya membaca huruf demi huruf. Lama kelamaan, alih-alih terpaksa, Sangwon justru ketagihan baca setiap kata yang ditulis didalam buku nista ini. Matanya menyayu. Sedangkan tangannya tanpa sadar merangsek kebawah. Lembab. Sangwon becek.

 

Pentilnya yang menegang karena sange digesek-gesekkan ke lengan Leo. Awalnya malu-malu, sambil berharap cemas— semoga si Kakak nggak sadar. Tapi, friksi antara pentilnya yang tertutup kaus dengan lengan pacarnya bikin Sangwon ketagihan. Ia merasa kurang. Mau dipegang langsung sama Kakak.

 

Telapak tangannya meremas dadaku—


Sangwon seperti orang terhipnotis. Tangannya naik sendiri tanpa ia perintah. Meremas lembut dadanya dibalik kaus yang ia kenakan. Napasnya memberat. Tulisan di halaman buku serasa menari-nari didepan matanya. Pahanya ia gesek gesekkan dengan gelisah.

 

“Mmh…”

 

…. Gawat. Sangwon betulan sange karena baca buku.

 

Leo tentunya sadar kalau kelakuan pacarnya sudah macam lonte haus belaian. Lagian, gimana bisa Leo nggak sadar kalau Sangwon terus-terusan gesekkan susunya ke lengan Leo? Tapi Leo biarkan. Untuk sekarang, ia sedang ingin bersikap keji, membiarkan si cantik hilang dalam nafsu.

 

Sempat diliriknya Sangwon sejenak, dan benar saja. Si cantik sudah berantakan. Kerah kaus yang ia kenakan sudah turun sampai bahu. Pertontonkan tulang selangka yang menggoda. Pentilnya sudah tegang mampus, tercetak jelas di kausnya. Belum lagi kedua paha yang terus digesek-gesekkan perkara birahi yang tak bisa dituntaskan.

 

Wajahnya nggak kalah berantakan. Matanya sayu, berkali-kali hampir menutup namun dipaksa membuka agar bisa baca tulisan di novel porno yang dipegang Leo. Napasnya memberat dan Leo nggak lewatkan liur yang menetes dari sudut bibirnya. Seakan Sangwon nggak bisa kontrol reaksinya sendiri.

 

God. Leo bisa gila.

 

“Bagus bukunya, sayang?” Ucapnya jahil. Tangannya turun memeta paha Sangwon yang hanya tertutup celana pendek. Sangwon anggukkan kepalanya. Lantas menggeleng lagi. Entah apa yang ia maksud sebenarnya.

 

Tangan Leo semakin nakal dibawah sana. Raba-raba selangkangan Sangwon yang mulai menggelap. Ditekan-tekannya bagian yang basah itu, hasilkan erangan dari sang empu.

 

“Kayaknya kakak susah fokus deh, cantik. Kamu aja yang bacain gimana?”

 

Sangwon yang sudah kepalang tolol langsung menurut. Beringsut naik ke kasur saat Leo menuntunnya. Dan kini posisinya sudah tiduran diatas kasur, dengan buku tabu itu di genggamannya.

 

Rupanya belum habis juga ide di kepala Leo. Buktinya kini ia tersenyum pada si manis, lantas buka mulutnya. “Kalau dibacain doang kakak susah pahamnya. Sambil kamu praktekin, bisa?”

 

Bukan tanpa alasan ia membeli novel porno dengan point of view dari pihak penerima.

 

Sangwon perlahan mengangkang. Biarkan Leo lucuti celananya hingga kini tubuh bawah Sangwon sempurna telanjang. Si cantik tanpa ragu buka kedua pahanya. Pertontonkan basah di kemaluannya. Toh, Leo juga sudah berkali-kali melihat— mereka ini memang ikon pasangan pergaulan bebas.

 

Sangwon mulai kendati sadar si Kakak sudah menunggu. Suaranya bergetar. Parau saat ia mulai membaca.

 

“Ia… pergi begitu saja setelah menggodaku-h… jadi aku lanjutkan sendiri kegiatanku. Dua jariku turun, menyapa kemaluanku yang masih berkedut karena disen— tuh!”

 

Pada kalimat terakhir, Leo bawa tangan Sangwon untuk sentuh memeknya sendiri. Sangwon bisa merasakan lendir di ujung jarinya. Memek Sangwon udah meler. Bikin kotor tangan dan sprei si cantik.

 

“Terus?” Leo memancing. Alihkan atensi Sangwon.

 

“Terush— aku masukkan langsung. Tanpa masalah, dua jari kulesakkan kedalam..”

 

Sangwon malu-malu buka labianya. Dua jari betulan masuk tanpa hambatan, sesuai di buku— efek sudah sering bersenggama. Tapi tentunya kurang nikmat bila harus colmek sendiri padahal ada si Kakak. Sangwon coba tatap Leo memelas, berharap yang lebih tua mau beri belas kasihan.

 

“Terusin.”

 

Ah, memek Sangwon kedutan dengar nada ketus dari si Kakak. Leo tuh seksi kalau lagi kasar— atau Sangwon aja yang suka dikasarin.

 

“Iyaah..” Lirihnya.

 

Di buku tertulis bahwa si karakter utama terus keluar masukkan jarinya. Sangwon pun turut lakukan hal yang sama. Sodok-sodok memek kedutannya dengan jari. Dinding senggamanya yang gatal ia garuk, sambil Sangwon coba cari titik nikmatnya.

 

Namun, agaknya Sangwon sudah terbiasa dicolmekin pacarnya, jadi sulit temukan titik nikmatnya sendiri. Kakinya ia lebarkan, lidahnya keluar sambil ia keluarkan erangan manja. Menatap Leo. Berharap dibantu.

 

“Colmek sendiri aja nggak bisa. Maunya dimanjain terus, ya?” Ucap Leo gusar (akting).

 

Alih-alih keluarkan jari Sangwon dari memeknya, Leo justru raih pergelangan tangan Sangwon. Ia genggam dengan tangannya sendiri. Si cantik sempat bingung, hingga Leo tiba-tiba tarik keluar tangan Sangwon, sebelum ia sodokkan lagi kedalam.

 

“Hyaah!”

 

Leo sedang colmekin Sangwon, tanpa harus kotori tangannya sendiri.

 

Sodokannya kuat, ujung jari Sangwon langsung telak kenai titik nikmatnya. Bundelan sensitif itu terus menerus dimanjakan. Mata si cantik bergulir keatas, keluarkan desahan-desahan nista yang Leo yakin bakal terdengar sampai luar kamarnya.

 

Yang lebih tua nggak beri ampun, ia gerakkan asal tangan Sangwon bak boneka. Mengocok memek si cantik yang terus berkedut nggak karuan.

 

Tubuh Sangwon kelojotan, coba tahan tangan Leo agar nggak bergerak terlalu cepat. Namun tentunya ia kalah tenaga, jadi Sangwon rebahkan tubuhnya dengan pasrah. Biarkan memeknya dirojok oleh jarinya— yang sama sekali nggak dalam kontrolnya.

 

“Kakak…. P-pish..”

 

Leo kencangkan sodokannya. Lendir kenikmatan sudah mengalir ke telapak tangan Sangwon yang dari tadi Leo gerak-gerakkan. Memeknya pun sudah kedutan siap muncratkan cairannya.

 

Tangan kanan Leo yang bebas pun ia bawa ke perut bawah Sangwon. Ia tekan-tekan disana. “Pipis aja, cantik.” Ucapnya.

 

“Aaah!”

 

Tubuh kurus Sangwon kelojotan bukan main. Matanya bergulir kebelakang sisakan putihnya saja. Cairannya muncrat basahi tubuh Leo. Deras sampai membuat jarinya sendiri keluar dari lubangnya.

 

Leo rasakan kontolnya sendiri menegang menyaksikan pemandangan panas didepannya. Tangannya bergerak untuk tepuk-tepuk memek si cantik sampai cairannya berhenti keluar, bikin si cantik tersentak-sentak lemas.

 

“Bagus kan bukunya?” Tanyanya jahil setelah napas Sangwon kembali normal. Tangannya singkirkan rambut si cantik yang menutupi dahinya.

 

Sangwon cuma bisa cubit pelan lengan Leo. Habis sudah tenaganya. Entah salah bukunya atau dia yang gampang birahi— salahin aja bukunya, soalnya Sangwon nggak mau disalahin!

 

Leo niatnya mau biarkan si cantik tidur, namun isi otak Sangwon berkata lain. Telapak kakinya jahil usap-usap kontol Leo yang terperangkap dalam celana. “Mau ini…” Gumamnya. Bibirnya manyun-manyun sambil lihatin Leo. “…Boleh?”

 

Duh, Leo mana tahan?

 

Akhirnya, Leo kini ada di belakang Sangwon. Dalam posisi spooning— keduanya tiduran diatas kasur dengan posisi menyamping, punggung Sangwon menempel ke dada pacarnya. Kata Leo sih biar nggak capek, Sangwon bagian nurut aja— yang penting dikontolin.

 

Jemari Leo dengan lihai pilin puting tegang si cantik. Sesekali dadanya diremas gemas. “Nanti kalau kamu hamil, anak-anak kita nyusu disini ya ntik?”

 

“Nngh… iyaah…” Desah Sangwon manja. Pantatnya ia mundur-mundurkan kebelakang agar bisa sundul kontol Leo yang belum juga dimasukkan. “Kakak mau hamilin Awon sekarang..? Awon mau anaknya kakak..” Ucapnya sambil tersenyum oon— nanti hamil beneran paniklah kau dek.

 

Alhasil, pentil Sangwon dicubit pelan bikin sang empu mengerang. “Nggak sekarang, ntik. Kuliah dulu yang bener.” Balas Leo sambil tersenyum

 

Dibawah sana, Leo goda lubang senggama Sangwon yang sudah kedutan lagi. Ia celupkan kepala kontolnya lalu ia keluarkan lagi. Tangannya sekarang ada di bawah paha Sangwon. Dipegangi agar tetap mengangkang. Sangwon mendesah ribut saat memek tembamnya terus-terusan digoda. Tubuhnya mundur-mundur coba buat Leo masukkan kontolnya.

 

Untungnya Leo juga sudah kepalang sange. Jadi kontolnya langsung ia lesakkan kedalam. Pelan, agar si cantik dapat rasakan urat kontol Leo menggaruk dinding gatalnya.

 

“A-aah..” Sangwon mendesah nikmat saat kontol pacarnya masuk sepenuhnya. “Dalem banget, kakak…” Desahnya manja.

 

Leo mulai bergerak. Temponya nggak terlalu cepat namun dalam dan kuat. Rojok titik nikmat Sangwon sampai sang empu cuma ngences ke kasurnya. Napas Sangwon patah-patah sembari mulutnya keluarkan desah. Tubuh keduanya terhentak-hentak diatas ranjang.

 

Memek Sangwon yang udah sensitif karena bucat pertamanya nggak perlu waktu lama untuk keluar lagi. Perutnya mengencang dan memeknya semburkan pipis dengan deras. Leo raih itil si cantik, ia usap-usap agar orgasmenya makin nikmat.

 

Melihat Sangwon keenakan, agaknya Leo ketagihan. Ia tekan-tekan dan pilih itil si cantik yang sudah membengkak. Akibatnya, tubuh Sangwon kelojotan. Desahannya parau dan nggak koheren. Memeknya yang masih keluarkan pipisnya berkedut nggak karuan, jepit kontol Leo didalam.

 

Jepitan panas itu bikin Leo sampai pada klimaksnya. Ia muntahkan spermanya di dalam memek Sangwon. Bikin si cantik ngerasa penuh.

 

“Nngh… enak..” Ucap Sangwon lirih. Usap-usap perutnya sendiri— diam-diam berharap bakal dihamilin sama si kakak. Tapi nggak mungkin, deh. Besoknya pasti pacarnya bakal suruh ia minum pil.


Leo keluarkan kontolnya dari memek Sangwon. Pejunya langsung keluar dengan lancar dari memek si cantik yang sudah ngowoh. Sangwon coba kedutkan memeknya— menahan sperma Leo didalam, buat yang lebih tua tertawa.

 

“Rakus banget, ntik.” Ucapnya, sambil memutar tubuh si cantik yang sudah kepalang lemas. Diciumnya bibir Sangwon, lalu ia tutupi tubuh mereka dengan selimut.

 

Besok-besok, akan Leo belikan buku begini lagi. Nggak masalah habiskan sedikit saldo jika bisa buat pacar cantiknya birahi mampus, pikirnya.

 

 

 

Notes:

hii! setelah sekian purnama akhirnya aku update lagi… rl lagi hectic banget soalnya huhuhu, semoga enjoy cerita kali ini yap ^__^

• revo
untuk ide / kritik / komentar
• @lemariasa
di twitter untuk lihat au lainnya!