Work Text:
me.ngi.rat /mêngirat/
[verba] kosakata arkais yang berarti mati; hilang.
Semua terasa baru.
Atmosfer yang tercipta begitu asing. Di setiap sudut rumah adalah hal baru bagi Kang Taehyun, kecuali aroma masakan yang tersaji di depannya—itu bukan makanan baru baginya—di atas meja makan, tertata dengan apik bagai hidangan restoran berkelas. Lantas, sebuah suara lembut khas perempuan, terasa baru di telinganya, menyambut.
“Ayo, silakan duduk.”
Taehyun menoleh pada satu-satunya pria yang sangat ia kenali, Ayah. Lelaki yang telah hidup melebihi setengah abad itu tampak tenang, tak ada kecanggungan sedikit pun. Ia menarik pelan kursinya dan duduk; Taehyun mengikutinya. Dari sudut mata, ia tahu senyum semringah ayahnya, berbanding terbalik dengan suasana hatinya.
“Ini putraku Taehyun. Ia sudah menyelesaikan studinya di luar negeri dan menetap di sana; bekerja.”
Dua sudut bibirnya ia paksa naik, sembari ulurkan tangan pada wanita di depannya. “Selamat malam, Nyonya Choi.”
“Ah, sudah kuduga. Putramu sangat tampan.” Sang wanita meneliti penampilan Taehyun dibalik kemeja putih; lengannya digulung naik, jam tangan melingkar di lengan kanannya, lalu rambut kecokelatannya yang dipangkas dan disibak rapi, sisakan helai-helai jatuh di dahi. “Mirip seperti ayahnya.”
Ayah tergelak. “Tentu saja, Sayang. Ia putraku.”
Putranya diam; memandang dua orang dewasa itu bergantian. “Jadi, kalian akan menikah?”
Alih-alih langsung menjawab, mereka melempar pandang sejenak. Nyonya Choi beranjak menuang air minum ke dalam gelas-gelas, sedangkan Ayah berdehem sesaat. “Ya, Taehyun. Sudah minggu depan sekali.”
Taehyun melempar senyum sarkas, mengangguk. “Baiklah. Jangan lupa beri aku undangannya.”
Tampaknya, sarkasme itu cukup menyinggung keduanya. Ayah tanpa malu tunjukkan raut tidak sukanya, sementara kekasihnya justru mengulum senyum dan berkata, “Kami tidak memaksamu, Taehyun. Kaupunya banyak waktu, sampai kau mulai merasa nyaman di sini.” Ia memberi pemuda itu minum dalam segelas water goblet.
Tangan sang taruna menerima gelasnya, dengan senyum yang masih tersungging. “Tentu saja, Nyonya. Kabar hubungan kalian masih terdengar seperti igauan Ayah bagiku. Omong-omong, bukankah kaupunya seorang anak juga?”
“Ah, iya. Mungkin ia sudah selesai mandi. Sebentar, aku akan mengecek ke kamarnya.”
Tersisa dua laki-laki di ruang makan. Taehyun tampak tak acuh dan menyantap makanannya; dalam hati, ia cukup terkesan dengan masakan wanita itu, karena ia tak bisa mengingat kapan terakhir kali memakan masakan mendiang ibunya. Tidak ada hal sentimental, hanya apresiasi kecil dengan nada sedikit mencibir di pikirannya. Toh, memiliki ibu atau tidak, sudah tak relevan dalam hidupnya. Taehyun sudah dua puluh tiga tahun; ia sudah terbiasa hidup sendiri dan nyaman di negara lain. Ia terpaksa pulang hanya untuk kabar tidak penting soal hubungan baru sang Ayah.
“Lain kali, jaga cara bicaramu, Taehyun,” tegur Ayah. “Boram akan menjadi ibu barumu.”
“Aku tidak butuh ibu.” Taehyun meneguk air putihnya sedikit.
“Baiklah, tetapi Boram akan menjadi istriku. Kau harus melihat bagaimana istri yang baik, supaya kau tidak salah memilih.”
“Aku tidak ingin berkomitmen.” Putranya masih tak acuh. “Untuk sekarang.”
Ayah sudah kehabisan kata-kata. Taehyun tahu itu; ia tahu ayahnya takkan bisa banyak berucap karena mereka tak saling mengenal, selain nama dan ikatan darah di atas akta kelahiran, dan Ayah merasa sudah cukup berjasa hanya dengan membiayai kuliahnya sampai tamat. Bahkan, dengan besar kepala Taehyun boleh mengatakan, bahwa Ayah mencarinya lagi karena ia adalah anak semata wayangnya; anak lelaki yang sudah dewasa dan mumpuni untuk dimanfaatkan. Oh, biarkanlah itu menjadi fantasi sang Ayah; Taehyun sudah menentukan jalan hidupnya sendiri—fantasinya sendiri.
“Setelah pernikahan kalian, aku akan kembali ke tempatku,” ujarnya lagi, dingin. “Ini bukan rumahku.”
“Setidaknya, Taehyun …,” Ayah masih mencoba persuasif.
Gerakan lain tertangkap dalam jangkauan mata Taehyun. Ia menoleh dan dapati tunangan ayahnya telah kembali, sambil mendorong sebuah kursi roda.
“… terimalah adik barumu.”
Sepasang iris gelapnya tak menyentuh sepasang yang lain, tetapi langsung jatuh begitu saja pada sebuah kursi roda di hadapan Boram, lalu pada sebuah figur yang duduk di sana: seorang pemuda dengan tubuh di balik kaus putih yang cenderung kurus, terlebih pada sepasang tungkai yang dibalut celana selutut. Rambutnya gelap alami dan dipangkas rapi. Kemudian, barulah Taehyun menatap sepasang matanya. Rasanya seperti ada kedalaman tak berujung di dalam manik sang Pemuda, tetapi Taehyun … Taehyun terlalu dangkal untuk itu.
Taehyun hanya mampu berenang di perairan yang dalam, tetapi tidak untuk menyelami kedalaman jiwa manusia. Untuk apa? Mengarungi jiwa manusia adalah sebuah kesia-siaan baginya; tak seperti berenang yang membuat tubuh bugar dan hati terhibur. Jiwa manusia baginya hanya selembar kain. Dan anak itu memiliki hal yang serupa, seperti cara Taehyun mendefinisikan jiwa manusia.
Selembar kain. Bersih, putih. Terbentang, menanti untuk dikoyak dan dinodai.
Tubuh manusia selayaknya pigura yang membingkai lembaran itu. Dan anak itu tak memilikinya. Piguranya cacat dari tangan sang Pengrajin, menjadikan selembar kain itu mudah usang, hanya dari setitik debu yang dibawa angin lembut.
Dan Kang Taehyun amat dibenci oleh pengrajin pigura dan penenun kain mana pun. Dirinya amat membenci kain yang teramat nirmalanya; pigura yang teramat kokoh dan terpoles dengan apiknya. Itu bukan yang dimaunya.
“Ini putraku, Taehyun. Namanya Choi Beomgyu; usianya lima belas tahun.”
Maka, Taehyun menarik seulas seringainya; mata tak juga beranjak dari tatapan gugup Beomgyu. “Baiklah. Aku akan menetap di sini untuk menjaga adikku.”
***
Di depan cermin, Taehyun mematut dirinya yang sudah terbalut rapi oleh tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu. Rambutnya sudah disisir rapi dengan polesan pomade. Ia membenarkan kancing lengan kemejanya, lalu memastikan korsase yang tersemat di jas hitamnya di posisi yang benar. Matanya melirik ke pantulan yang bergerak. Ada orang lain masuk ke ruangannya—ruang tunggu untuk keluarga mempelai lelaki. “Beomgyu?”
“Maaf mengganggumu…” Pemuda itu mendorong rodanya mendekat sedikit. Dirinya juga sudah rapi dengan tuksedonya, kecuali … “Bolehkah aku meminta tolong … memakaikan dasiku?”
Taehyun tertegun. Ia amati wajah anak itu yang sedikit tersipu. Di tangan itu, ada segenggam dasi kupu-kupu yang masih terburai. Yang lebih tua menelengkan sedikit kepalanya; alisnya naik sebelah. “Seorang lelaki tidak bisa memakai dasi?”
Beomgyu tergugu. “Aku … hanya belum bisa menyimpul dasi kupu-kupu—”
“Kemarikan.” Taehyun mendekat dengan derap sepatu yang terasa amat menggema di antara kecanggungan. Tidak, Taehyun tidak merasakan apa-apa; ia mengendus kecanggungan itu dari pemuda di depannya. Malah, setiap gerak-geriknya penuh kepercayaan diri; langkah dan gesturnya mantap dan terukur.
Dengan cepat, ia mengambil dasi dari tangan Beomgyu seraya mendekat. Ia berdiri tinggi menaungi Beomgyu. “Angkat kepalamu.”
Meski bingung dan gugup, Beomgyu menurutinya. Dirasakannya Taehyun yang mengangkat lipatan kerah kemejanya. Posisi tubuhnya seolah dikungkung; Taehyun hanya sedikit membungkuk sampai Beomgyu dapat merasakan tiupan hangat napas kakaknya. Dapat ia rasakan pula setiap gerak tangan Taehyun; gerak jemarinya yang gesit dan sedikit kasar, menunjukkan limpahan tenaga yang tak segan dikerahkan. Dari pantulan kaca, punggung tegap Taehyun nyaris menutupi seluruh bayangan Beomgyu, tetapi masih bisa dilihat bagaimana sepasang tangan Taehyun bekerja dengan lihai.
“Sudah.” Lelaki yang lebih tua itu melipat kembali kerahnya.
“S-sudah?”
Namun, Taehyun tak beranjak. Telunjuknya bergeser ke pundak kecil Beomgyu sebelah kiri; mengetuknya lembut. Perlahan, turun ke korsase bunganya di dada kiri; mengusap helainya sejenak. Tanpa alasan, ia merapikan kerah jas hitam Beomgyu, meski matanya naik ke dasi hasil simpulannya tadi. “Seharusnya, simpulku lebih kuat dari itu.”
Beomgyu bingung; bulu kuduknya sedikit naik mendengar suara lirih lelaki di atasnya. “Apakah ini terlalu longgar?”
Barulah saat itu Taehyun menatap lurus matanya. Senyum terkembang di bibir, seraya jari dinginnya menyentuh leher Beomgyu seringan sentuhan bulu. “Sedikit longgar … untuk lehermu yang hangat. Tetapi, itu cukup untuk usiamu.”
Air wajah Beomgyu tampak sulit menangkap makna tersirat Taehyun. Taehyun tak hiraukan itu, justru beranjak mendorong kursi roda Beomgyu mendekati cermin. Tubuh sang Kakak condong ke depan, sampai tak jauh dari kepala Beomgyu. Lagi, ia menyentuh dasi Beomgyu. “Lihat, ini sudah pas untukmu … untuk saat ini. Bila kau dewasa nanti, kau akan tahu bahwa orang dewasa itu banyak bicara dan banyak mau, Beomgyu.” Sentuhan itu perlahan intens; menggenggam seluruh permukaan leher Beomgyu dengan lembut, tetapi persendian jarinya begitu kaku dan kuat. Keduanya bersitatap melalui bayangan cermin. “Jika kau bisa menggenggam erat lehernya, mereka baru mau mendengarkanmu; menurutimu.”
Senyum Taehyun tak dapat ditahan ketika dia rasakan jakun Beomgyu bergerak di tangannya; Beomgyu menelan ludah. Wajah sang Adik sedikit menegang. Taehyun terkekeh pelan dan menepuk pundak itu dengan ringan. “Oh, tenanglah. Aku tidak akan memperlakukanmu begitu …,” Tubuhnya menegak. Ia mengusap pelan kepala Beomgyu. “… karena aku tahu kau akan selalu mendengarkanku. Kau adik yang baik, bukan?”
Meski terlihat kaku, Beomgyu mengangguk cepat. Taehyun melunakkan senyumnya dan mendengus geli. Seketika, ponsel Taehyun di meja berdering. Ia mengambil dan mengangkat panggilan di balkon. “Oh, selamat …” Diliriknya jam di pergelangan kanannya. “… pagi, Soobin. Masih pagi sekali di sana.”
“Hmm… Jam dua, sepertinya,” balas suara lelaki yang sedikit serak.
“Kau tidak tidur, sayangku?”
“Beberapa jam. Aku terbangun dan baru melihat foto yang kaukirim. Tuksedo itu cocok untukmu. Kau tampan sekali, Sayang.” Soobin menghela napas berat, lalu merengek, “Kapan kau kembali? Aku merindukanmu.”
“Bersabarlah sebentar. Aku harus menjaga adikku selama orang tuanya berbulan madu nanti.”
Soobin mengerang frustrasi. “Oh, ini sudah seminggu sejak kau pulang, Taehyun. Aku kesepian. Aku merindukan sentuhanmu. Mengapa kau harus repot-repot menjaga adik tirimu yang cacat itu? Seharusnya itu urusan mereka!”
“Soobin.” Suara Taehyun makin rendah. “Kurasa lehermu juga merindukan cekalanku.”
Alih-alih takut, yang didapatkan Taehyun justru rengekan manja dari kekasihnya. “Akh! Aku lelah menyentuh diriku sendiri, Taehyun. Rasanya tidak senikmat sentuhanmu. Leherku sudah terlalu dingin dan bersih dari bekasmu. Tidakkah kau merindukanku juga?”
“Kau juga sudah mulai berani banyak meminta dan bicara.” Taehyun mencibir. “Jalang tak tahu diuntung.”
Hanya ada suara gesek kain di sana, serta isakan halus yang teredam bantal. Rahang Taehyun mengeras; ia tahu apa yang kekasihnya lakukan di seberang sana. “Apa ini? Rupanya dari tadi kau menyentuh dirimu sendiri tanpa izinku?”
“Aku … tidak bisa lagi…”
“Oh, astaga.” Taehyun mau tak mau terkekeh. Manik matanya menggelap karena bayangan dalam benaknya sendiri. Dengan seringai, ia berbisik tepat di mikrofon ponselnya. “Aku tak ingin penampilanku berantakan, Sayang. Jangan keluar. Jadilah jalang penurut dan tunggu aku lima jam lagi.”
Panggilan ditutup. Taehyun menyimpan gawai di saku dalam jasnya, sebelum masuk kembali dengan raut tenang. Tak dihiraukan juga Beomgyu yang pucat mematung di tempatnya, yang pasti telah mendengar percakapan tak senonoh itu. Sang Kakak dengan santai menghampirinya. “Ayo. Acara sudah akan dimulai.”
Dan Taehyun melalui prosesi pernikahan ayahnya dengan gusar, kendati dirinya terlihat tenang. Salahkan Soobin kekasihnya. Bahkan dari notifikasi ponselnya, ia tahu kekasihnya itu dengan kurang ajarnya mengirim foto-foto sensual dirinya. Beruntung, pernikahan itu tidak diadakan secara meriah dan berjam-jam lamanya. Hanya pemberkatan dan sesi makan malam, selebihnya berbincang-bincang sebentar dengan para kenalan terdekat. Taehyun masih merespons ramah; terhibur dengan pujian yang dilontarkan padanya. Oh, Taehyun itu memang menarik, dan ia tahu itu.
Selesai acara pun, Taehyun masih perlu mengantar orang tuanya pulang untuk beberes sejenak, lalu mengantar keduanya lagi ke bandara.
“Jagalah adikmu selama seminggu ini, Taehyun,” adalah pesan singkat Ayah, yang dibalas acuh tak acuh oleh putranya.
Akhirnya, mobil Ayah dapat dilajukan Taehyun kembali ke rumah orang tuanya. Rumah menjadi sepi; Beomgyu sudah masuk ke kamarnya. Maka, ia juga masuk ke kamarnya sendiri, yang sudah disediakan untuknya. Taehyun menepis jas hitamnya ke atas kursi dan langsung naik ke ranjang; bersandar di kepala ranjang dengan bantal. Sambil melepas dasi dan kancing atas, ibu jarinya menggulir layar, di mana foto-foto kotor Soobin terpampang di sana. Tak perlu lama-lama, ia langsung melakukan panggilan suara. Soobin pun tak perlu lama membalas; menyambut dengan rengekan manja.
“Taehyun… Kau lama sekali…”
“Sudah kubilang, aku sibuk,” balasnya. “Apakah kau menurutiku?”
“Y-ya, Taehyun—hhhnn… Aku belum keluar.” Suara gesekan sedikit ribut di sana. “Aku jalangmu yang baik.”
“Mhmm, begitukah?” Telapaknya mulai mengusap selangkangannya sendiri, masih terbalut celananya. “Buktikan padaku, Sayang.”
“Aku tidak berbohong… Aku hanya menyentuh dengan jari—ohh, sial. Kurang, Taehyun. Aku membutuhkanmu…”
Taehyun mendengung puas. Ia menikmati suara-suara dari ponselnya. Tanpa peduli, ia mengeraskan suara panggilan dan membiarkan kamarnya dipenuhi suara zina. Jarinya membuka resleting celana dan membiarkan kemaluannya keluar. Soobin, mendengar itu, terdengar makin gelisah. “Taehyun! Mmhh…”
“Kau menginginkan ini?” cemoohnya, sambil mulai merancap dengan tangan sendiri.
“Ya! Kumohon… Aku ingin … dipenuhi…”
Taehyun mendekatkan bibirnya ke mikrofon; berkata lirih di antara napas nafsunya sendiri, “Masukkan. Aku ingin mendengar suara menjijikkanmu.”
Samar-samar, Soobin seperti menjauh dari ponsel. Ada suara laci nakas yang dibuka dan ditutup lagi. Benak Taehyun merangkai ingatannya akan kekasih dan ciri khasnya itu; mestilah lelaki itu tengah melumasi mainannya dengan tangan gemetar. Ketika napas Soobin kembali dekat, ia mendengar suara yang tersendat; desah yang tertahan, sampai kemudian menjadi helaan reda. “Oh! T-taehyun… Basah sekali. Penuh sekali.”
Taehyun sibuk pada kenikmatannya sendiri. Temponya dilakukan sesuka hati; cengkeramannya berkedut dan dibayangkan jika itu adalah sebuah lubang perzinahan yang nikmat. “Teruslah bersuara.”
Desahan Soobin mengalun di belakang kepalanya; menjadi suara yang mendukung fantasinya sendiri. Kepala Taehyun bersandar, mendongak. Kelopaknya terpejam. Pikirannya tengah menyusun sebuah figur yang begitu menggoda baginya; yang begitu ingin ia jamah dan setubuhi sepuasnya. Seonggok tubuh kecil, dibalut kulit pucat nan mulus yang sangat ingin disentuhnya. Helai rambutnya lembut, bibirnya ranum menggoda, tatapannya lugu seakan ingin ditiduri berkali-kali tanpa ampun. Tubuh itu tak berdaya di bawah kendalinya; hanya bisa terbaring dan menerima setiap hentak nafsu Taehyun.
Beomgyu. Itu adalah Beomgyu dalam angannya. Bukan Soobin kekasihnya.
Dan tak berdusta Taehyun kala berkata ia menyukai laki-laki. Kekasihnya adalah lelaki, begitupun adik tirinya. Laki-laki yang ayu parasnya, yang lembut perangainya, yang lugu—akan tunduk padanya, yang pastilah manis dan nikmat lubangnya. Oh, rengek dan tangisnya pastilah amat merdu; memacu berahinya yang membuncah.
“Kak Taehyun—”
Derit halus engsel pintu terdengar, bersama dengan daun pintu yang sejak awal tak ditutup rapat, perlahan membuka. Taehyun membuka mata dan seketika, tatapannya jatuh pada sepasang milik Beomgyu.
Beomgyu. Itu Beomgyu yang di ambang pintu; terkejut sampai sekujur dirinya mematung di tempat.
Oh, sial. Tatapan itu menggetarkan dada Taehyun; menjadikan sebuah debaran yang tak masuk akal. Di sela desah, ia menyeringai; mengunci pandangan keduanya. Tangannya tak lelah mengejar nikmatnya; tak malu melontarkan hasrat melalui matanya. Bibirnya bergerak tanpa suara, “Beomgyu.”
“T-taehyunhh!” Soobin sedikit menjerit.
Ia berucap bisu lagi, “Beomgyu.”
“Tae—mmhhh… Aku ingin—ohh, b-bolehkah…?”
“Beomgyu.” Taehyun tahu bahwa anak itu dapat membaca bibirnya. Ia tahu anak itu mengerti apa yang tengah terjadi. “Beom—arghh…”
“Taehyun—”
“Keluarlah.” Ia berujar, tanpa meninggalkan Beomgyu dari pandangan. Lidah menjilat bibirnya bagai binatang yang lapar. “Aku menginginkan basahmu. Desahanmu. Tangisanmu.”
Setelahnya, Soobin mengerang hebat. Terisak nikmat karena pengejarannya sendiri. Taehyun turut merasakan puncaknya yang semakin dekat. Napasnya tersendat-sendat. Erangan kerasnya sensual dan tanpa malu. Masih, masih memandangi Beomgyu sekian meter di hadapannya.
Lalu cairan ejakulasinya terpancur; mengotori tangan dan pakaiannya begitu saja.
Hening. Tersisa napas dari Taehyun dan Soobin. “Taehyun—”
Panggilan diputus. Taehyun menyingkirkan ponselnya begitu saja. Resleting celana ditutup kembali. Ia beranjak, mendekati Beomgyu yang gemetar di kursi rodanya. Dapat ia dengar suara anak itu seperti sedang dicekik luar biasa. “K-kak, maafkan … aku—”
Satu telunjuk Taehyun mendarat di bibir adiknya, tak peduli ada cairan mani yang sedikit terpoles di sana. “Sshhh,” bisiknya sembari tersenyum, “Jangan bersuara.”
Setelahnya, sang Kakak mundur. Pintu kamar ditutup, tinggalkan Beomgyu di depan bersama kengerian dan tertegun luar biasa.
***
“Ah, semalam aku harus membersihkan kekacauanku, Sayang. Lalu aku tertidur setelahnya. Maafkan, ya?”
Taehyun menatap mesin pengering pakaian yang tengah bekerja dengan deru halus. Sebuah gawai menempel di telinganya, yang tengah menyalurkan keluh kesah kekasihnya di belahan bumi yang lain. Pagi ini, seorang asisten rumah tangga juga sudah tiba untuk memasak dan membereskan rumah, yang nanti akan pulang setelah tugasnya selesai.
“Katamu kauingin mendengar tangisanku!”
Kekasihnya itu tertawa halus. “Tentu saja. Aku sudah bisa membayangkannya lewat suaramu semalam.” Matanya melirik sejenak ke wanita paruh baya yang sedang bebersih, sebelum dirinya memutuskan duduk di kursi makan dan menyesap secangkir kopi di meja. “Oh, kopimu enak sekali, Ibu Jung.”
Wanita tadi mengangguk sopan. “Terima kasih, Tuan.”
“… Kau mendengarkanku tidak?”
“Hmm? Iya, sayangku. Bukankah jam kerjamu sudah usai sekarang? Kauingin ke mana setelah ini?” Punggungnya bersandar dengan nyaman; tangan yang terbebas dilipat di dada.
“Entahlah. Aku tidak ingin langsung pulang juga. Kesal sekali, ada saja pengunjung restoran yang seenaknya sendiri—”
Beomgyu masuk ke ruang makan. Dirinya terlihat terperanjat kecil saat menyadari keberadaan Taehyun di sana. Sebelum anak itu sempat berbalik, suara Taehyun mencegatnya, “Kemarilah, Beomgyu. Kau belum sarapan.”
Suara Soobin berhenti bicara. “Siapa itu?”
“Adikku,” balasnya tanpa alihkan pandang. “Mengapa kau seperti ingin menghindariku, Beomgyu?”
“Aku …,” Ia menggaruk tengkuknya, grogi. “Aku masih belum lapar.”
“Ah, semalam kau hanya makan sedikit, bukan? Makanlah. Ibu Jung sudah membuatkan sarapan kesukaanmu—begitu katanya.” Taehyun mengulum senyum. “Makanan yang masih hangat itu lebih nikmat.”
Melihat Beomgyu yang mulai mendekat tanpa bantahan, Taehyun mengangguk kecil—puas. Atensinya kembali pada Soobin. “Sampai mana kita tadi, Sayang—oh, ya. Kau ingin berjalan-jalan sebentar?”
“Hmm, sepertinya.” Nadanya sudah lebih datar sekarang.
Dan Taehyun menyadari itu; mengernyit seolah kekasihnya sedang di hadapannya sekarang. “Oh, ada apa ini? Mengapa nadamu begitu? Kau cemburu karena aku …,” Senyum jahil tersungging, “… memperhatikan adikku?”
“Oh, Taehyun. Tentu saja!” keluhnya, seperti anak kecil yang tak dituruti maunya. “Sekarang perhatianmu sudah bukan untukku saja. Belum lagi kehidupan kita sekarang terpaut empat belas jam. Oh, Tuhan, itu jauh sekali perbedaannya!”
Taehyun tak bisa menahan kekeh gemasnya. “Sudahlah. Kautahu aku selalu terjaga tengah malam di sini karena pekerjaanku menyesuaikan waktu di sana. Kalau kau senggang, hubungi saja aku di waktu-waktu itu, oke? Sudah, jangan menangis, Sayang—bukan tangisan ini yang kumau, haha. Bersenang-senanglah—minumlah yang puas karena semalam kau sudah mendengarkanku dengan baik. Akan kukirimkan uang untuk hadiahmu.”
“Baiklah, baiklah.”
“Oh, pintarnya. Inilah kesayanganku yang penurut; yang selalu mendengarkanku.” Kalimat terakhirnya terdengar sedikit ditekan, seraya matanya jatuh telak pada pandangan Beomgyu. Bibirnya memberi kecupan halus di dekat mikrofon ponsel, lalu berbisik, “Aku mencintaimu.”
Panggilan ditutup. Ponsel diletakkan di atas meja. Perhatian Taehyun sudah sepenuhnya pada adiknya, yang berusaha menepis perasaan lain dengan cara berfokus pada makanannya. Taehyun melontarkan basa-basi, “Sudah lama aku tidak menyantap bubur buatan rumah seenak ini. Kau beruntung sekali, Beomgyu.”
Lagi, Taehyun meneruskan bicara karena ia tahu anak itu tidak tahu harus merespons bagaimana. “Apakah kau harus selalu sarapan bubur?”
“Ya.” Akhirnya Beomgyu bersuara lagi, meski sedikit pelan. “Pencernaanku lebih baik dengan kebiasaan itu.”
“Apakah itu ada hubungannya dengan kondisimu?”
Beomgyu terhenyak kecil mendengarnya. Pertanyaan itu dilempar dengan keseriusan tanpa ada usaha untuk menyiratkan simpati. Namun, Beomgyu tidak lagi memusingkan perkara itu; ia hanya mudah terkejut dengan setiap suara Taehyun. “Tidak. Ini … masalah lain—pencernaanku memang sedikit sensitif sejak dulu.”
“Ah.” Yang lebih tua mengangguk kecil. “Waktuku di sini tinggal lima sampai enam hari lagi. Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menuliskan makanan apa yang sensitif untukmu. Aku bisa memasak untukmu—atau membelikan yang kausuka.”
Tak urung, Beomgyu merona tipis. “Terima kasih, Kak.”
Percakapan sedikit terjeda karena Ibu Jung yang menghampiri keduanya untuk melaporkan pekerjaannya pada Taehyun. Setelahnya, wanita itu berpamitan untuk pulang. Taehyun terlihat meneruskan sesapan kopi karena perutnya sudah diisi makanan sejak tadi. Ibu jarinya menggulir layar gawai, mengetikkan sesuatu karena ia sedang menepati janjinya pada Soobin untuk mengirimkannya uang.
Tiba-tiba, Beomgyu memberinya sebuah pertanyaan acak. “Pacarmu … laki-laki?”
“Hmm. Kau mendengarnya, ya?” Taehyun mengerling, dan adiknya segera tahu yang dimaksud adalah dirinya mendengar percakapan sang Kakak semalam.
“Y-ya…” Sang Adik sedikit salah tingkah. “Jadi, kau suka laki-laki?”
“Aku suka orang yang akan selalu mendengarkanku.” Wajahnya menampakkan sebuah seringai tipis. Gawai sudah kembali di atas meja. “Aku suka yang baik dan penurut. Orang yang suka membantah dan melawan itu tidak baik, iya bukan?”
“Oh…” Beomgyu menganggukkan kepalanya begitu saja. “Ya… Benar.”
“Nah, apakah kau suka membantah ibumu?” tanya kakaknya dengan dua alis naik dan senyum.
“Tidak!” jawabnya mantap dan menggeleng kuat. “Aku selalu mendengarkan Ibu.”
“Maka, kau adalah orang baik, Beomgyu. Aku tahu kau adalah anak dan adik yang baik.”
“Lalu, bagaimana denganmu, Kak? Kau menuruti siapa?”
Taehyun tertegun mendengar itu. Tak dapat ditahan senyum yang kian lebar pula. “Tentu saja ayahku. Aku kemari karena Ayah yang memintaku. Aku menjagamu karena Ayah juga yang memintaku. Percayalah pada yang lebih tua darimu, Beomgyu. Mereka sudah lebih tahu banyak hal.” Cangkirnya yang sudah kosong diletakkan di bak cuci piring. “Aku berkata demikan karena aku mengerti … kau sedang berada di fase ingin memberontak; ingin membebaskan diri dari orang dewasa yang banyak bicara.” Ia mengambil mangkuk Beomgyu yang sudah kosong, meletakkannya di dekat cangkirnya. “Saat kau sudah dewasa nanti, kau akan paham perkataan orang-orang yang lebih tua darimu.”
Kegugupan Beomgyu sirna. Manik matanya bergemilang oleh kekaguman yang lugu pada kakaknya. Semburat merah menyesap keluar ke kulit wajah. Ia tak dapat alihkan pandang dari yang lebih tua; memperhatikan setiap gerak Taehyun yang membantunya berpindah dari kursi makan ke kursi rodanya.
“Soal semalam, Beomgyu…”
Jantung sang Adik seakan berhenti. Binar matanya berganti menjadi perasaan carut-marut dalam dirinya. Kepalanya mendongak, di mana kakaknya berdiri tinggi di dekatnya.
“Aku tahu, kau sudah mengerti perihal itu—dan sudah mengalaminya, bukan?” Telapaknya mengusap pucuk kepala Beomgyu; sedikit terhibur dengan reaksi kikuk dari yang lebih muda. “Itu hal biologis. Wajar dialami manusia—apalagi laki-laki. Kau juga sudah di masa memiliki libido yang sedang memuncak, bukan?”
Beomgyu tidak tahu harus membalas atau bereaksi seperti apa. Bulu kuduknya berdiri kala usapan kakaknya turun ke tengkuk dengan amat lambannya; meremas tengkuknya sejenak dengan kelembutan yang terlalu kuat. Lantas, telapak itu turun lagi ke pundaknya, kali ini dengan tangan lain yang ikut bertengger di pundak sebelahnya; bergerak seperti memijat. Figur Taehyun berada di belakang Beomgyu sepenuhnya.
“Kau suka perempuan, Beomgyu? Atau laki-laki? Atau … keduanya?”
Balasan itu datang begitu lambat. “A-aku …”
Taehyun menyela; suaranya nyaris seperti bisikan. “Perempuan memang menarik. Saat seusiamu, aku pernah diam-diam masturbasi di balik bangku, karena teman sekelasku amat cantiknya.” Ia tertawa kecil. “Kautahu apa yang membuatnya cantik? Bibirnya. Bibirnya selalu mengatup rapat; hanya membuka saat ditanya atau diminta bicara. Betapa cantiknya gadis itu, meski malu-malu saat kupamerkan kemaluanku.”
Pemuda di bawahnya segera alihkan pandang; menurunkan tatapannya ke depan. Namun, Taehyun tak menunjukkan tanda hendak berhenti, baik tangan maupun mulutnya.
“Bagaimana dengan laki-laki? Sama saja. Kekasihku, Soobin, bibirnya juga cantik. Banyak bicara, tetapi tahu kapan harus diam. Anak yang baik, ya?” Sentuhannya merambat ke leher Beomgyu; senang ketika merasakan napas Beomgyu tercekat dan tubuhnya jadi kaku. Jemari dinginnya menyentuh rahang adiknya; ibu jari melayangkan sentuhan ringan ke bibir bawah Beomgyu. “Aku suka anak baik. Kebaikannya … membuatku terhibur—”
Beomgyu mencegat pergerakan jari Taehyun. Meski takut, ia mencoba menepisnya dan berkata dengan sedikit gemetar, “Aku harus pergi sekarang.”
Sebelum roda itu sempat bergulir jauh, Taehyun dengan sigap mencengkeram gagang pendorong di belakangnya. Ia sudah dapat membayangkan raut Beomgyu sekarang; membuat dadanya sesak oleh kesenangan. “Mau ke mana?” tanya sang Kakak; nadanya kembali ringan seperti semula, seakan tak terjadi apa-apa barusan.
“K-ke kamar.”
“Biar kuantar.” Tanpa berlama-lama, Taehyun mendorong kursi roda Beomgyu. Setiap langkahnya serasa begitu perlahan tetapi pasti; begitu hati-hati dan terhitung; kulit telapak kaki yang bertolak dengan ubin lantai seakan menggema di antara lorong dan ruangan yang sunyi. Taehyun menikmati itu; menikmati kesunyian yang dingin. Tubuh di depannya membisu, mematung; dua tangan terkepal di atas sandaran lengan dalam kegusaran. Taehyun tahu semuanya; ia merasakan semuanya, seolah ia bisa menghitung ritme jantung Beomgyu saat ini.
Dua roda bergulir masuk ke kamar Beomgyu yang tak ditutup. Taehyun mendorongnya, ikut masuk. Atensinya mengedar ke sekitar; memperhatikan isian kamar sang Adik. Ada ranjang yang cukup untuk dua orang dewasa, meja belajar, rak buku, juga gitar akustik di samping rak berisi koleksi kaset dan album band-band musik rok. Ada pula sebuah pintu menuju kamar mandi. Di sepanjang dinding, ada gagang besi yang mengelilingi ruangan itu, menjadi pegangan yang dapat digunakan untuk bertumpu di mana saja.
“Terima kasih …,” kata Beomgyu, “… sudah mengantarku.”
“Hmm. Aku sedikit bosan.” Ia menatap adiknya. “Aku suka kamarmu.” Sekonyong-konyong ia membawa tubuhnya jatuh ke atas ranjang, berguling, dan diam sesaat. Penciumannya menghirup dalam-dalam residu kolonye di seprai dan selimut sang Tuan Kamar. Kemudian, ia mengangkat wajah dan menatap Beomgyu yang bergeming kebingungan. “Apa yang akan kaulakukan akhir pekan seperti ini?”
Beomgyu mengerjap beberapa kali. “T-tidak tahu.”
“Ayolah, mengapa bicaramu gagu seperti itu, Beomgyu?” ucap Taehyun dengan nada dan raut seakan terheran-heran. Ia tepuk sisi kosong di sampingnya. “Kemarilah. Temani kakakmu yang bosan ini. Tidakkah kau penasaran denganku? Tanyakan apa saja.”
Ditodong kalimat-kalimat begitu justru membuatnya semakin sangsi. Terang saja, siapa yang tak merasa risih jika ada orang asing masuk ke kamarmu—tempat personalmu? Dan Beomgyu terlalu naif untuk tahu bahwa Taehyun menyadari itu semua; bahwa Taehyun sadar apa yang dirinya perbuat pada yang lebih muda itu, dan ia sengaja melakukannya. Ini perbuatan yang disengaja, tetapi Beomgyu terlalu muda untuk menyadari itu.
Beomgyu terlalu ragu untuk menolak, karena dirinya bukanlah anak yang kurang ajar. Yang ia tahu, ia hanya bisa mengulur waktunya. “Baiklah.” Telapaknya memegang perutnya pelan. “Tetapi, aku harus ke toilet dulu.”
“Oh?” Yang lebih tua menumpu kepala dengan telapaknya; siku bertengger di kasur. “Kau bisa merasakan jika ingin buang air?”
Beomgyu sedikit ragu untuk menjawab; merasa ini topik yang sedikit kurang pantas. “Buang air besar … tentu saja. Hanya panggul sampai kakiku yang mati rasa.”
“Ah…”
Ini kedua kalinya Beomgyu menyaksikan binar mata Taehyun sedikit menyala, seperti seorang murid yang baru mengetahui sesuatu. Saat pertamanya terjadi kala Taehyun baru mengetahui bahwa metode buang air kecil Beomgyu melalui kateter intermiten, yaitu pemasangan kateter berkala setiap lima sampai enam jam sekali. Ini membuatnya tidak perlu setiap saat membawa kantung pembuangan sekresinya.
Taehyun beranjak duduk di tepian. “Itu … menarik.”
Seketika, sang Kakak berdiri. Kelopak Beomgyu otomatis melebar kala ia saksikan kakaknya mendekat kembali. Dengan cekatan, Taehyun mengarahkan adiknya ke dalam kamar mandi. Rupanya, di dalam cukup luas dengan gagang besi mengelilingi dinding. Ada kloset duduk yang dirancang memudahkan mobilitas Beomgyu, wastafel yang lebih rendah, juga area mandi dengan dudukan dan semua peralatan yang mudah dijangkau.
“Kakak…?” Beomgyu sedikit terkejut.
“Aku ingin membantumu.” Keduanya berhenti di dekat kloset. Taehyun membuka tutup kloset lalu pandangi adiknya. “Apa lagi?”
“Tidak perlu—”
Taehyun mengatur agar Beomgyu menghadapnya. Bagai secepat kedipan mata, yang lebih tua sudah membungkuk dan menarik kedua lengan Beomgyu agar melingkari leher Taehyun. Tidak terlalu sulit baginya untuk mengangkat tubuh Beomgyu—rasanya ringan dan tak bergejolak, kecuali bagian atas Beomgyu yang menegang sampai menahan napas. Meski cepat, Taehyun tetap sedikit berhati-hati meletakkan adiknya di atas kloset. Kemudian, ia mundur dan menatapnya lurus.
“Ah, terima kasih, Kak.” Kepalanya mengangguk kecil. “Aku sudah baik-baik saja.”
Taehyun mendengung singkat. Alih-alih keluar, ia justru melipat tangan ke dada sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. “Lakukanlah.”
“Tapi …”
“Kauingin buang air, bukan?” Alisnya naik. “Lakukan.”
“Kakak…” Beomgyu menelan ludahnya. “Ini … sangat personal.”
“Aku tahu.” Tak ada siratan emosi apapun dari guratan wajahnya.
“Kak Taehyun. Kumohon. Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Aku tahu.” Matanya menajam dan seakan menjadi gelap. “Aku hanya ingin melihatmu.”
Yang terpantul dari manik mata Beomgyu adalah sesuatu yang bergetar. Tangannya meremat erat ujung kausnya sampai buku-bukunya memutih. Bibirnya turut gemetar. “Kakak—”
“Anak baik tidak banyak membantah, bukan?” senyum Taehyun. “Aku tidak ingin melihatmu dimarahi Ayah atau ibumu karena kau membantahku. Aku yakin kau adik yang baik, Beomgyu.”
Masih ada keengganan dari diri Beomgyu. Akan tetapi, dirinya sudah takut luar biasa. Sudah banyak kebingungan yang menjadi benang kusut dalam akal sehatnya. Bola matanya ke sana dan kemari; akalnya mencari sebuah jawaban dari keraguan yang memusingkan. Tak tahu … apakah ini memang selayaknya kakak dan adik? Beomgyu tak pernah memiliki saudara. Beomgyu tidak tahu … apakah kakak tirinya memang peduli padanya?
“Beomgyu.” Suara Taehyun merendah. Semakin tajam. Tegas.
Dengan jemari yang memucat ujungnya—dan berkeringat dingin di telapaknya, Beomgyu menyibak sedikit kausnya, mencari karet tepian celananya. Napas puas Taehyun membuatnya berjengit kecil. Pinggul kecilnya sedikit bergerak-gerak, dibantu tubuh yang bersandar di gagang samping kloset supaya tubuhnya bisa sedikit miring, agar garmen di tubuh bawahnya bisa diturunkan lebih jauh sampai setengah paha. Kendati begitu, sekeras mungkin Beomgyu berusaha menarik bagian bawah kausnya agar menutupi selangkangannya. Wajahnya menunduk dalam-dalam sampai merahnya menjalar ke leher.
Senyum Taehyun kian naik. Ini dia.
Inilah yang ia cari; yang dinanti-nantikan. Selembar kain bersih dalam bingkai pigura cacat. Pigura yang rapuh. Kulitnya seputih susu; bagai porselen palsu yang akan retak dalam cekalan serakahnya. Itu adalah tubuh yang terus memanggil untuk dikuasai, dihancurkan dengan lambat seperti kunyahan yang hati-hati, agar setiap rasa tak terlewatkan penyecap; dimiliki sesaat untuk—
Taehyun menyentuh selangkangannya sendiri; perlahan meremas dari balik celana selututnya.
—diperkosa.
Satu langkah mendekat menarik perhatian Beomgyu; adiknya mengangkat wajah dan terperanjat luar biasa. Taehyun sudah meraih kemaluannya sendiri; menariknya keluar bersama keberahian yang langsung memuncak. Beomgyu mencicit panik; tangannya berusaha meraih kursi rodanya, yang segera digulirkan menjauh oleh Taehyun. Sang Adik gusar luar biasa; matanya sudah mengilap basah. “Kakak…”
“Mengapa diam saja?” Lelaki yang lebih tua mulai menggerakkan genggamannya, tepat di depan wajah Beomgyu. “Bukankah kauingin buang air?”
Dada Beomgyu naik-turun tak menentu. Napasnya berantakan oleh isakan yang memaksa meledak. Taehyun terkekeh dan mencekal belakang rambut adiknya; memaksa untuk bersitatap dengan kelaminnya yang terus dirancap. “Jangan khawatir. Ini hal biologis. Akan kutunjukkan bagaimana tubuh laki-laki itu, karena kutahu kemaluanmu lumpuh.”
Setetes air mengalir di pipi manakala sang Kakak menyentuhkan ujung kemaluan ke bibir adiknya. Digesek-gesekkannya di sana, sampai daging lembut itu licin oleh cairan Taehyun. “Buka mulutmu, Sayang.”
Beomgyu menggeleng, yang segera dicekal kuat rahangnya. “Oh, anak nakal. Anak nakal harus mendapat hukuman. Kaumau itu, Sayang? Hm?” Ujung jarinya menekan-nekan kasar daging pipinya, yang mau tak mau memaksa Beomgyu untuk membuka mulut. Tangan lain Taehyun mendorong ibu jarinya masuk ke sana; mengacak-acak lidah Beomgyu sampai saliva menetes. Tanpa ampun, ia menarik rahang itu agar lebih membuka. “Mhmm… Pintarnya. Anak pintar harus diberi hadiah.”
“Hngg—”
Kepala kemaluan Taehyun didorong masuk. Tanpa menanti, langsung menusuk sampai pangkal mulut. Beomgyu tersedak tertahan; tersentak sampai dua tangan mencakar kaus Taehyun. Setiap kali anak itu nyaris refleks mengatupkan mulut, kedua ibu jari Taehyun mendorong giginya—melebarkan rahangnya begitu kasar. Taehyun menarik dirinya sedikit, kemudian menusuk masuk lagi dengan erangan nikmat.
“Oh, sialan. Mulutmu hangat sekali, Sayang. Anak baik. Adikku yang penurut. Ini hadiahmu.”
Setiap sodokan membuat air mata Beomgyu kian berderai. Isakannya teredam; getaran tangisnya berpindah ke dada dan otot perut yang otomatis mengejan hebat. Kecipak basah terdengar, bersama aroma lain yang menyeruak dari bawah sana. Kecipaknya lembut dan lembek. Aromanya memuakkan, tetapi tak menghentikan Taehyun. Ketika sang Kakak menunduk, ia temukan celana adiknya basah kuyup; aroma pesing turut hadir dari sana. Gerak persendian Beomgyu begitu lembek, bagai daging tak bertulang. Seringai Taehyun lebar; bangga dengan mahakaryanya.
“Betapa lucunya dirimu.” Taehyun menggigit bibirnya. “Mhmm. Betapa lugunya. Aku menyukai itu.”
Beomgyu hanya bisa menangis. Kerongkongannya disiksa sampai ia yakin akan ada lebam di dalam sana.
Beberapa dorongan dan erangan halus, Taehyun menarik dirinya keluar dan mundur. Seketika, Beomgyu kehilangan tumpuan. Seketika, tubuh adiknya tersungkur keras ke lantai. Beomgyu terbatuk hebat, bercampur tangisnya. Ia tersedak, terasa dicekik. Ia memegang lehernya sendiri yang terasa kejang sampai urat-uratnya keluar. Kerongkongannya pedih, kering, dan ngilu.
Dan Taehyun diam menyaksikan itu. Ia menyaksikan Beomgyu yang sangat menyedihkan; yang memaksa untuk menyeret tubuhnya menjauh dari kamar mandi. Tungkai kurusnya sungguh tak berguna; bagai seonggok mayat yang diseret. Kedua siku Beomgyu sudah merah luar biasa akibat gesekan di lantai, tetapi tenaganya masih berceceran, sehingga gerakannya lamban.
“T-tolong…” Suaranya mencicit kecil dan retak. “Sese…orang…”
Taehyun mendengus geli. Ia melangkah lambat, seolah mengejek adiknya yang terlalu menyedihkan itu. Lantas, ia berjongkok di belakang Beomgyu; mencekal dua pergelangan kaki yang lebih muda. “Mau ke mana, Sayang?”
Beomgyu panik. Lengan tangannya mencakar-cakar ubin dengan gusar yang luar biasa. Namun, semua itu sia-sia. Taehyun menariknya mundur dengan kasar, sampai dagu Beomgyu terantuk lantai yang dingin. “Akh! Kakak!”
Yang dipanggil kakak tidak mengacuhkannya. Tangan berdosa itu melucuti seluruh celana Beomgyu. Pinggul lemahnya ditarik hanya menggunakan satu lengan Taehyun, sampai bagian tubuh belakang Beomgyu naik. Tidak sabar, Taehyun mengacungkan kembali kemaluannya yang belum terpuaskan; dihentak masuk ke dubur yang masih kotor feses sampai sekitarnya.
“Jangan—!” Beomgyu tercekat oleh sensasi aneh; tubuhnya terasa didorong, tetapi aneh dan tak nyaman.
Taehyun mendesah hebat. Kehangatan ini yang sangat dinantikannya. Ini mengingatkannya pada kekasihnya, meski tak ada kedutan dan reaksi yang meremas miliknya, tetapi sangat erat memeluk dirinya; sangat hangat dan licin oleh kotorannya; sangat memanjakan berahinya. Ia mulai mencari ritmenya sendiri. Tangisan Beomgyu sangat membakar nafsu, kendati kurang hadirnya desah nikmat karena adiknya tak mampu merasakannya.
“Arghh, sial. Tubuhmu luar biasa, Adikku. Nikmat.” Taehyun mendesis. “Sayang sekali kau tak tahu nikmatnya disetubuhi diriku.”
“K-kakak… Jangan…” Beomgyu hanya bisa terus menangis. Menangis. Dan menangis. Tak ada sakit di bawah sana, tetapi dadanya ngilu luar biasa. Kengerian telah menyelinap sampai ke pori-porinya. Lantai di bawah wajahnya sudah tergenang cairan bening. Liurnya menetes tak menentu. Kala ia rasakan Taehyun mencekik lehernya, Beomgyu terbatuk; tersedak tangisnya sendiri yang memperparah ngilu di kerongkongan. Deru napas menggebu-gebu kakaknya membuat punggungnya bergidik ngeri.
“Kakak…” Beomgyu memohon-mohon. “Henti…kan…”
“Jika tak bisa mendesah—hahh … jangan bicara, Sayang.”
Tiba-tiba, tubuhnya dilepas begitu saja. Beomgyu kembali tersungkur. Taehyun mengeluarkan kemaluannya dari sana. Tak peduli kotor feses membalurnya, ia menggenggamnya dan memijat sampai nikmatnya terus naik. Satu desah kencang mengiringi cairan maninya yang menyemprot sampai punggung dan rambut sang Adik. Empunya berjengit; tangisnya masih tak berhenti.
Beomgyu terkapar tak bertenaga. Seluruh raganya terasa kotor dan hina; terasa seperti sebuah pigura yang diinjak sampai hancur. Jiwanya seperti lembaran yang dikotori, dicabik oleh tangan tak berperikemanusiaan. Entah, apa yang Taehyun lakukan di kamar mandi sekarang dengan suara-suara air. Ketika langkah itu kembali, Beomgyu merasa tubuhnya dibuat terlentang. Taehyun mengungkungnya; menindihnya. Menciumnya paksa dengan nafsu yang menyerupai binatang tanpa akal budi—tanpa welas asih.
Taehyun mendengung puas; napasnya sarat akan aroma nafsu. Desis suaranya berat, bagai dilanda rasa lapar yang tak berkesudahan. “Sebentar lagi aku akan pulang; aku rindu kekasihku.” Ciuman itu dipaksa lagi, kali ini mulai turun ke leher Beomgyu yang basah dan bergetar. “Tetapi aku juga akan merindukan adikku yang manis ini; yang amat penurut. Jangan nakal saat aku pergi, ya? …”
“… Kakak menyayangimu, Beomgyu.”
TAMAT
