Work Text:
Yudistira melihat polaris dalam perjalanan pulang.
Yah, mungkin tidak bisa benar-benar dikatakan polaris juga, pengetahuannya mengenai rasi bintang dan konstelasi tidak sebanyak ia mendalami musik. Yudistira pikir yang paling terang adalah bintang utara, polaris itu sendiri, kerlipnya bagai menyatu dengan lampu-lampu jalanan metropolitan kota. Terkadang membutakan mata, mengiringi pijakan kakinya di sepanjang trotoar jalan yang lembap. Hujan sudah lama berhenti, tapi bau petrikornya masih menguar kuat, payung-payung pejalan kaki tidak lagi membentang. Sisa basah pada ujung celana jins yang Yudistira kenakan mulai mengering, meski rasa dinginnya masih merayap hingga membuat ia menggigil.
Ah, tidak boleh. Bisa gawat kalau besok-besok ia meriang dan jadwal busking bergeser. Pertama, pundi-pundi uangnya akan melayang. Kedua, omelan macam apa yang akan keluar dari mulut Arjuna nanti. Atau Nakula, atau juga Sadewa dan Bima yang suka ikut-ikutan, duh.
Ia berhenti di hadapan zebra cross, menunggu lampu hijau menjadi merah. Diam-diam berpikir warna itu mengingatkan dirinya dan Arjuna, merah dan hijau. Sementara kuning adalah Sadewa. Yudistira meloloskan kekeh kecil, karena bola lampu lalu lintas itu berubah menjadi wajah mereka dalam imaji Yudistira. Konyol sekali.
Selang sekon kemudian, ia bersin. Kesalahan kecil sampai membuat Yudistira meringis ngilu, alih-alih fokus pada rasa gatal di hidung, nyeri yang menjalar di pipi dan rahang kanannya lebih mendominasi. Yudistira bahkan hampir membungkuk demi menghalau rasa sakit selaik tusukan jarum, kalau pada saat itu lampu tidak berubah menjadi merah dan ia bergegas menyebrang jalan. Kepalanya ikut berkontemplasi; meriang atau tidak nanti, ia tetap akan kena omelan Arjuna. Atau lebih parah lagi, semua orang rumah pasti mengomelinya.
Sebab lebam di pipi dan luka robekan kecil di sudut bibir tidak akan sembuh dalam satu hari. Jangankan sembuh, disembunyikan pun akan sulit.
Mendadak Yudistira dilingkupi panik, perlukah ia berbelok ke minimarket terdekat dan membeli bedak demi menutupi lukanya? Atau ia beralasan saja habis jatuh tertimpa tangga, terpeleset di jalan lalu wajah membentur tiang. Atau nanti ia masuk rumah secepat kilat sembari menutupi wajah dengan tas gitar. Mana yang akan langsung dipercaya, mana yang tidak akan dicurigai sebagai kebohongan, denyut di pipi Yudistira malah berpindah ke kepala. Kalau sampai dapat omelan, kupingnya yang sebentar lagi bakal sakit.
Yudistira lupa akan peta dalam kepalanya, ia tanpa sadar mengambil rute lebih jauh dari yang biasa dilalui, sengaja mengulur waktu untuk tiba di rumah agar bisa berpikir lebih lama. Ia lewati deretan berbagai toko dengan lampu neon oranye, sewaktu-waktu aroma remah roti dan sup krim tercium, terkadang parfum yang menyengat, diseling suara tawa wajah-wajah asing. Ketika mendongak, Yudistira dihadapkan pada bentangan megah sebuah jembatan, sisi kanan dan kiri dibentengi pagar tembok yang bisa dipijaki. Panorama kota di bawahnya begitu cantik, kerlipnya menyaingi polaris di langit sepekat suspensi hitam.
Langkah kaki Yudistira spontan melambat, seolah baru menerima realitas bahwa ia kelelahan, napasnya tersengal dan peluh membanjiri. Ia bagai buronan polisi dalam pengejaran, padahal tak ada siapa pun di belakangnya selama ini. Terlalu larut dalam prasangkanya sendiri hingga Yudistira nyaris lupa diri. Kalau tidak salah ponsel di saku jaketnya sempat bergetar beberapa kali, mungkin notifikasi pesan, mungkin juga panggilan masuk. Tetapi jemari Yudistira rasanya berat hanya sekadar membuka layar kunci. Kalau bukan pesan dari Sadewa, mungkin panggilan dari Nakula.
Namun, dua tebakan tadi tidak sempat Yudistira buktikan.
Manakala lamunannya buyar saat suara klakson bergema memecah hening, kemudian terang lampu depan mobil merayap perlahan-lahan sebelum menyinari teritori Yudistira berpijak. Ia lekas menoleh, yang sekon kemudian kembali berpaling cepat sambil bergumam; mampus, Mas Kula. Jelek kali timing-nya. Kenapa pula mobil milik Nakula yang harus lewat di jembatan ini, Yudistira ingin memaki.
Kabur jelas bukan pilihan tepat, sok tidak kenal apalagi. Pada saat itu nyala lampu mobil mati dalam sekejap, disusul suara pintu terbuka kemudian ditutup kembali dengan pelan. Yang selang sekon setelahnya, suara Nakula mengudara.
“Yudis? Kok belum balik?”
“Lagi nikmatin slow living,” ujar Yudistira random, ia berpikir sejenak, lalu menambahkan. “Slow motion? Slow living? Slow—meromantisasi hidup?”
“Kamu mabuk, ya?”
“Sehat walafiat.” Jangan lihat pipi, pipi jangan dilihat. Kedua tangan Yudistira bertumpu pada pembatas dinding pagar, menopang tubuhnya sekuat mungkin sampai ia berhasil memanjat dan berganti pijakan. Tas gitar di punggung sempat oleng (Yud, jangan ngide, turun; tegur Nakula) walau Yudistira gesit menahannya agar tidak jatuh, dan keseimbangannya kembali utuh. Ia melangkah kecil-kecil di sepanjang jalan setapak pembatas dinding. Kedua tangan direntangkan lebar-lebar, semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Pucuk hidung Yudistira nampak kesepian dan kedinginan.
“Coba loncat kali, ya.”
“Yudis.”
“Bercanda, hehe. Cuma intrusive thoughts.”
“Sini cepet turun.”
“Bentar lagi, anginnya enak nih. Mas Kula kalau mau ikutan tinggal naik aja.”
Balasan Nakula tak langsung muncul, Yudistira masih berusaha memalingkan wajah dan pura-pura fokus pada lanskap kota di malam hari. Selama apa pun memandang, butiran cahaya yang berasal dari rumah dan gedung pencakar langit itu tak pernah membuatnya bosan.
“Perasaan aku aja, atau dari tadi kamu nggak mau liat Mas?”
Oh, Tuhan. Ia lupa laki-laki di hadapannya ini adalah detektif. Seorang observan handal, membaca mikroekspresi sekalipun bukan masalah bagi Nakula. Jangankan mengucap dusta, baru berpikir untuk mengelabui laki-laki itu dengan kebohongan saja sudah terbilang bodoh.
Jadi, Yudistira beranikan diri menoleh. Ia menunduk sejenak untuk menatap Nakula yang posisinya kini lebih rendah, tidak luput mendapati binar terkejut di sepasang mata biru itu, lalu refleks mengalihkan fokus ke arah lain. Tak berapa lama, kelima jemari Nakula meraih lipatan jaket Yudistira, menitik buku-buku jarinya, lalu berhenti dan menangkup jemari berkalus kasar sang musisi yang menggantung di sisi tubuh.
“Sini turun dulu. Kita pulang, Yudistira.”
Tentu, tentu saja Yudistira luluh. Tubuhnya seakan punya gerak autopilot tersendiri, membungkuk sedikit dengan dua telapak tangan bertumpu pada pundak Nakula, lalu membiarkan laki-laki itu meraih pinggang dan membantunya turun. Belum sempat Yudistira pulih dari lamunan, Nakula sudah lebih dulu meraih dagunya—lembut, lembut sekali—setelah itu memutarnya perlahan ke kanan dan ke kiri. Begitu hati-hati, begitu penuh pertimbangan.
“Ini lebamnya bakal membekas, Yud. Bagian sini sakit nggak?” Ujung telunjuk Nakula menyentuh rahang kanan bawah, tanggapan Yudistira berupa gelengan kecil. “Oke. Sampai rumah langsung kompres, aku chat Dewa buat siapin. Juna kayaknya masih nyimpen salep memar.”
Mendengar dua nama itu, Yudistira refleks meringis. Bunyi ringisannya disalahartikan oleh Nakula.
“Sori, sakit?”
Sedikit ragu, Yudistira menyahut. “Mas Kula, bantu cari alesan ke Juna, ya?”
Satu alis Nakula terangkat. “Justru kalau bohong, Juna makin menggila nggak sih?”
Skakmat. Yudistira mati kutu, memang hari ini semesta sedang tidak berpihak. Kalau kata Arjuna, kurang ajar.
“Perlu Mas cari orangnya?”
Kali ini kening Yudistira mengerut. “Hm?”
“Yang bikin kamu gini, perlu Mas cari?”
“Nggak perlu, it’s okay. I’m fine.”
“Jadi beneran kena pukul, ya.”
Bola mata Yudistira membelalak. Kadung ketahuan dan sadar bahwa sejak awal Yudistira belum memberikan penjelasan apa pun mengenai memar di pipinya. Alih-alih, ia malah jatuh dalam pertanyaan jebakan Nakula. Bahwa memar itu tidak semata-mata muncul, bahwa jatuh tertimpa tangga pada akhirnya akan selalu menjadi alasan belaka, bahwa jauh di sudut hati Yudistira, ia hanya tidak ingin meninggalkan cemas pada keempat orang terdekatnya.
Nakula tidak berkomentar apa-apa lagi, dia menarik pelan lengan Yudistira dan menuntunnya ke mobil. Berbisik ‘jangan lupa sabuk, Yudis’ sebelum kemudian menutup pintu samping kursi penumpang dan berjalan mengitari untuk sampai ke kursi pengemudi. Pada saat bersamaan, Yudistira mulai memberanikan diri mengecek ponsel. Ia dapati beberapa panggilan dari Sadewa dan Bima, sekaligus notifikasi pesan berturut-turut dari Arjuna. Diam-diam Yudistira tersenyum geli.
Dalam perjalanan pulang itu, lagi-lagi Yudistira menangkap polaris.***
