Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-10
Words:
2,357
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
164
Bookmarks:
4
Hits:
1,050

Catatan amal buruk Rion Kenzo.

Summary:

Setiap kesalahan pasti ada akibatnya, kira kira itu yang dirasakan Rion setelah melakukan satu dosa kecil kepada Caine.

Work Text:

Rapat hari itu berjalan dengan sangat panas.

Meja bundar di ruang bawah tanah Council telah dipenuhi oleh para anggota Council dan juga Continental. Ruangan yang sebenarnya tidak terlalu besar itu terasa semakin sempit oleh ketegangan yang menggantung di udara. Sejak awal rapat dimulai, suasana sudah mencekam. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan sekadar menghela napas terlalu keras pun terasa seperti kesalahan besar.

Di ujung meja, Rion berdiri dengan rokok diantara jarinya. Sorot matanya tajam, manik ungu itu bergerak menyapu wajah satu per satu orang yang berdiri di hadapannya.

Di sampingnya, Caine berdiri dengan posisi santai, kedua tangan terlipat di dada. Ekspresinya tenang, nyaris tidak terbaca.

“Jadi… nggak ada yang mau ngaku?” suara Rion akhirnya memecah keheningan.

Tidak ada jawaban. Ruangan tetap bisu.

Keheningan itu justru membuat emosi Rion semakin naik ke permukaan.

“JAWAB!” bentaknya tiba-tiba.

Suara itu menghantam dinding ruangan dan menggema keras. Beberapa orang langsung tersentak. Beberapa yang lain menunduk lebih dalam, seolah berharap lantai di bawah kaki mereka bisa menelan mereka saat itu juga.

Akhirnya, salah satu anggota Continental maju satu langkah ke depan. Bahunya tegang, suaranya bergetar.

“S-saya, Tuan… Maaf atas keteledoran saya.”

Pengakuan itu bukannya meredakan suasana, justru membuat udara terasa semakin berat.

Rion membuang puntung rokoknya kasar kemudian menginjaknya. Darahnya terasa sudah sampai di ujung kepala. Dan penjelasan yang kemudian keluar dari mulut pria di depannya hanya membuat semuanya semakin buruk.

“Tolol!” Rion membentak. “Lu bahayain semua orang yang ada di sini, tau nggak?!”

Ia menepuk meja keras.

“Sebelum lu lakuin itu, lu mikir nggak resikonya apa?!”

Tidak ada yang berani menatapnya. Semua mata menunduk. Semua orang berusaha mengecilkan diri agar tidak ikut menjadi sasaran amarahnya.

Caine yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

“Menurut aku itu bukan kesalahan yang fatal.”

Suara Caine tidak keras, namun cukup untuk memotong aliran kemarahan Rion. Nada bicaranya tenang seperti biasa, mencoba memberikan sudut pandang lain terhadap situasi yang sedang dibahas.

Rion menghela napas pendek. Tanpa menoleh ia berkata,

“Diam sebentar, Caine.”

“Tapi Rion, aku—”

“CAINE!”

Suara itu menghantam ruangan dengan keras.

Tajam.

Dan terlalu keras untuk seseorang yang selama ini hampir tidak pernah dibentak oleh Rion.

Semua orang langsung membeku.

Beberapa anggota bahkan tersentak kaget.

Caine sendiri terdiam.

Manik mata mereka bertemu.

Dan untuk sepersekian detik—detik yang terasa sangat panjang—perubahan kecil terlihat di wajah Caine.

Bukan marah.

Bukan tersinggung.

Lebih seperti… terkejut.

Belah bibirnya yang sempat terbuka perlahan menutup kembali. Tanpa mengatakan apa-apa, ia memutus kontak mata itu dan mundur satu langkah ke belakang, memberi isyarat agar Rion melanjutkan rapat.

Perubahan sikap itu jelas disadari oleh semua orang yang ada disana terutama Rion.

Namun dengan dada yang masih naik turun karena emosi yang belum sepenuhnya reda, ia hanya berdehem pelan.

“Gua serahin sisanya ke Continental untuk memberikan hukuman,” katanya final dengan suara yang kini jauh lebih terkontrol.

Rapat pun dibubarkan.

Satu per satu orang mulai meninggalkan ruangan. 

Termasuk Caine.

Tanpa mengatakan apa-apa, pria bersurai merah itu langsung berjalan menuju lift. Ia masuk ke dalamnya tanpa menoleh sedikit pun.

Biasanya, ia dan Rion selalu menjadi orang terakhir yang keluar dari ruang rapat.

Namun tidak untuk hari ini.

Dan Rion tidak mempermasalahkannya. Atau mungkin… memaksa dirinya untuk tidak mempermasalahkannya.

Ia bisa menebak Caine pasti sedang marah. Maka dari itu, ia mencoba memberi ruang untuk kekasihnya itu.

Namun, hal sial yang tidak bisa Rion tebak adalah bahwa kemarahan itu bukan kemarahan biasa.

Karena ini sudah hari ketiga.

Dan Caine masih menghindarinya.

Sejak malam pertama setelah rapat itu, Caine tidak kembali ke kamar mereka. Ketika malam menyapa dan rumah orang-orang dirumah sudah masuk ke kamar masing-masing, pria itu justru berjalan menuju kamar si kembar—Kael dan Ela—lalu tidur di sana bersama mereka.

Ketika Rion akhirnya menyadari keabsenannya dan menyusul ke sana, pintu kamar sudah setengah terbuka.

Ia baru saja hendak masuk ketika dua sosok berdiri menghadangnya.

Kael dan Ela.

Kedua cucunya itu berdiri di depan pintu dengan wajah sangat serius, seperti penjaga yang sedang menjalankan misi penting.

“Papoyang nggak boleh masuk,” kata Kael tegas.

Rion mengernyit.

“Kenapa?”

Ela langsung menjawab dengan nada tidak kalah serius.

“Mimoyang mau tidur di sini.”

“Dan mimoyang bilang nggak boleh diganggu,” tambah Kael.

Rion menghela napas panjang.

Ia menatap ke dalam kamar. Dari celah pintu, ia bisa melihat Caine sudah berbaring di tengah tempat tidur, memeluk bantal milik anak-anak itu.

Pria itu tidak menoleh seolah tidak tahu bahwa Rion berdiri di depan pintu.

Rion akhirnya mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Iya, iya… papoyang pergi.”

Malam itu ia tidur sendirian.

Hal yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

Keesokan harinya, ia mulai mencoba berbicara dengan Caine, berniat meminta maaf atas kesalahannya kemarin. Namun naas, Caine tidak merespon.

Pria itu tidak menolak kehadirannya, tapi juga tidak benar-benar menganggapnya ada.

Caine tetap melakukan semua hal seperti biasa. Sarapan bersama anak-anak, mendengarkan laporan dari Hitman, bermain bersama cucu-cucunya. 

Semua normal, kecuali satu hal. 

Ia tidak berbicara dengan Rion. Bahkan untuk sekedar menatap pria itu saja rasanya enggan. 

Dan sejak saat itu, Rion seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun Caine pergi. Mengikuti langkahnya dari satu tempat ke tempat lain. Hanya untuk mendapatkan perhatian pria itu. 

Kadang-kadang, ketika ada kesempatan ia mencoba menyentuh tangan Caine. Menggenggamnya sebentar, atau mengusap punggung tangannya. Seolah-olah dengan cukup deka Caine akan kembali seperti biasa.

Namun Caine sama sekali tidak bereaksi.

Ia tetap melakukan kegiatannya seperti biasa. Seolah sentuhan itu tidak pernah ada.

Seluruh rumah menyadari perang dingin yang sedang terjadi. Dan semua orang juga bisa melihat betapa frustasinya Rion.

Pria yang biasanya ditakuti banyak orang itu kini terlihat seperti seseorang yang hampir kehilangan kewarasan hanya untuk mendapatkan satu tanggapan. 

Rion pernah mengatakan bahwa ia dan Caine tidak pernah berdebat.

Dan itu memang benar.

Namun bukan karena mereka tidak pernah berbeda pendapat. Melainkan karena setiap kali Caine benar-benar kecewa… ia akan memilih diam.

Dan Rion adalah orang yang paling tidak bisa diabaikan, apalagi oleh pria manis kesayangannya. Karena itulah selama ini setiap ada potensi konflik Rion selalu memilih mengikuti keputusan Caine. Mengenai apapun itu. 

Hanya kemarin saja, Ia terlalu tolol untuk mengontrol emosinya.

Di hari ketiga Rion sudah seperti orang yang kehilangan kewarasan. 

Ia tidak pernah memaksa Caine bicara. Namun dirinya juga tidak bisa jika terus diabaikan seperti ini. Rasanya seperti dibunuh perlahan. 

Di ruang makan, Caine duduk bersama Noy.

Anak itu bercerita dengan sangat semangat. 

“Mimoyang tau nggak tadi Kael jatuh di halaman!”

Caine tersenyum kecil.

“Oh ya? Terus dia nangis?”

“Nggak!” Noy tertawa keras. “Dia malah marahin batunya!”

Caine menggeleng pelan, bahunya sedikit bergetar menahan tawa.

Dan tepat saat itu kursi di sampingnya bergeser. 

Rion duduk disana, pria itu sempat kehilangan jejak keberadaan Caine ketika Doni menelponnya untuk memberikan laporan. Fokusnya terpecah hingga tidak menyadari Caine yang menghilang dari pandangannya. 

Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursinya hingga hampir menempel dengan kursi Caine. Kakinya langsung mengurung kaki bangku Caine, membuat pria itu hampir tidak punya ruang untuk bergerak luas. Lutut mereka bahkan sudah bersentuhan. 

Tangannya mengambil tangan Caine yang menganggur diatas pangkuan, menggenggamnya dan mengusapnya perlahan. Seolah itu sesuatu yang paling berharga di dunia. Sesekali ia menunduk dan mengecup buku-buku jari itu.

Wajahnya bahkan kini sangat dekat dengan pundak Caine. Ia memperhatikan menatap setiap gerakan kecil bibir Caine. Setiap perubahan ekspresi sekecil apa pun. Manik ungunya menangkap semuanya dengan intensitas yang hampir obsesif.

Seolah jika ia berkedip terlalu lama Caine akan menghilang dari pandangannya.

Tiga hari silent treatment sudah cukup membuatnya hampir gila.

“Ih papoyang!” 

Noy akhirnya berseru kesal.

“Awas jangan deket-deket mimoyangnya! Orang lagi ngobrol sama dede!”

Rion tidak bergeming, bahkan untuk sekedar menoleh merespon ucapan sang cucu.

Noy menyipitkan mata, ia tahu persis apa yang terjadi.

Dan ia juga tahu mimoyangnya sedang marah besar.

Caine sendiri tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak menegur tidak juga menoleh ke arah Rion.

Sampai akhirnya Caine menghela napas kecil.

“Yaudah Noy,” ucapnya lembut. “Noy main ke sana dulu sama yang lain ya.” 

Noy langsung menoleh.

“Mimoyang?”

“Mimoyang mau ngobrol sebentar.” 

Noy akhirnya mengangguk mengerti. “Oke mimoyang.”

Lalu ia melirik Rion dengan wajah serius.

“Kalau mimoyang diapa-apain panggil dede ya. Dede langsung dateng.”

Caine tersenyum lembut dan mengangguk kecil.

“Iya.”

Noy akhirnya berlari pergi.

Meninggalkan dua orang dewasa yang kini duduk di meja makan yang terasa jauh lebih sunyi.

Begitu kursi di hadapan Caine kosong Rion langsung bergerak. Ia pindah ke sana sebelum Caine sempat berdiri dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Caine erat.

Caine hanya diam tidak berusaha menatapnya.

Rion membungkukkan tubuhnya sedikit. Wajahnya sejajar dengan wajah Caine yang kini menunduk, mencoba menangkap tatapan mata yang terus menghindarinya itu.

“Caine, hey…”

Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya. Hampir seperti bisikan.

Namun Caine tetap menunduk. Garis rahangnya tegang, bibirnya terkatup rapi seolah jika ia membukanya sedikit saja semua yang ia tahan akan keluar sekaligus.

Rion menelan ludah.

Tiga hari.

Tiga hari Caine memperlakukannya seperti udara.

Tidak dimarahi.

Tidak dibentak balik.

Tidak juga diusir.

Lebih buruk dari itu.

Ia diabaikan.

Dan Rion tidak pernah merasa segila ini hanya karena satu orang tidak menatapnya.

Rion kembali menunduk dan mengecup buku-buku jari itu. Ciuman ringan, lama. Nyaris memohon.

“Masih marah?” gumamnya pelan.

Caine tidak menjawab.

Rion menghela napas panjang, lalu sedikit mencondongkan tubuh lagi sampai pundaknya hampir menyentuh lengan Caine.

“Maaf, aku ga tau kalau kamu bakal semarah ini”

Hening.

Hanya suara gemerisik yang dari dapur di belakang mereka. Bahkan Rion sudah tidak peduli jika satu rumah menontoni mereka sekarang. 

Di ujung ruangan, beberapa kepala mulai bermunculan dari balik pilar. 

“Papoyang dimarahin lagi ya?” bisik Ela pelan.

Kael menutup mulutnya menahan tawa.

“Shh, lihat dulu.” bisik Noy menginterupsi. 

Sementara di meja makan, Rion semakin kehilangan kesabarannya terhadap keheningan itu. Rion memejamkan mata sebentar, lalu kembali membuka dengan tatapan yang lebih lembut.

“Sayang… lihat aku.”

Bukan kesal, lebih tepatnya… panik.

Ia menarik kursinya sedikit lebih dekat lagi.

“Kalau kamu marah… marahin aku. Kalau kamu kesel… bentak aku balik.” Suaranya melemah. “Tapi jangan kayak gini.”

Caine akhirnya bergerak sedikit, hanya sedikit. Bulu matanya berkedip.

Namun ia tetap tidak menatap Rion.

“Bicara sama aku,” lanjut Rion pelan. “Please…”

Caine menarik napas pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiga hari terakhir, suaranya keluar.

Pelan dan datar. 

“Kamu tau aku gasuka di bentak” 

Rion membeku di tempat. Tangannya perlahan ikut mendingin mendengar kalimat yang keluar dari bibir mungil itu. 

Caine mengangkat wajahnya, tatapan mereka pun bertemu.

Dan Rion langsung menyadari sesuatu. 

Ada luka di sana. 

Manik kecewa yang selalu ia doakan agar tidak muncul kini menusuk maniknya tajam. 

Sial.

Sial.

Sial.

“Aku kaget.”

Tangannya sedikit bergerak dalam genggaman Rion. Bukan untuk lepas namun juga bukan untuk membalas.

“Bukan karena kamu marah.” Ucap Caine, napasnya keluar pelan.

“Tapi karena kamu bentak aku… di depan semua orang.”

Kalimat itu terasa seperti palu menghantam dada Rion.

“Aku—”

“Kamu nggak pernah kayak gitu sebelumnya.”

Sudah cukup. Rion benar-benar merasa seperti seorang bajingan sekarang. Ia dengan cepat bergerak sampai kursinya sedikit bergeser keras di lantai. 

Ia berlutut, tepat di depan kursi Caine.

Suara lututnya yang menyentuh lantai bahkan terdengar cukup jelas di ruangan yang sedang sunyi itu.

Melihat pergerakan tiba-tiba tersebut membuat Caine tersentak kecil. Ada sedikit rasa tidak percaya Rion akan sampai segininya. 

Kedua tangannya di genggam erat. Jemarinya dibawa mendekati bibir pria itu. 

“Rion—“

“Aku bener-bener minta maaf, Caine” 

Suaranya serak dan berat.

Kecupan kembali jatuh di buku jari Caine. Kali ini lebih lama, benar-benar menempelkan penyesalannya di sana.

“Aku nggak sadar waktu ninggiin suaraku.” Rion mengangkat kepalanya sedikit, mata sayunya sedikit memerah. 

“Aku lagi emosi waktu itu…” suaranya semakin pelan, “tapi itu bukan alasan buat bentak kamu.”

Ia menunduk lagi. Dahinya sekarang benar-benar menyentuh tangan Caine.

Seolah sedang memohon.

“Apalagi di depan orang lain.”lanjutnya.

Ketiga orang yang sedang mengintip di ujung ruangan tanpa sadar membulatkan matanya, rasa terkejut dan takjub bersatu di wajah mereka. 

“Wah…” 

Mereka tahu mimoyang adalah sosok yang paling berharga dalam keluarga ini. Namun tidak menyangka bahwa mereka akan menyaksikan seorang Rion Kenzo berlutut dihadapan pria surai merah itu. Memohon ampun karena satu dosa kecil yang telah ia perbuat.

“Kalau kamu masih marah, marah aja.” Ucap Rion kembali bersuara. Satu kecupan lagi mendarat di jari Caine kali ini lebih pelan, lebih hati-hati.

“Tapi jangan diem.” Bisiknya. Suaranya benar-benar hampir pecah sekarang.

“Jangan abain aku kayak tiga hari ini.” Ia menelan ludah. 

Bahu Rion sedikit turun.

“Aku beneran nggak tahan, Caine.” Lanjutnya terdengar begitu putus asa. “Kamu nggak ngomong sama aku… kamu bahkan nggak liat aku.”

Caine menarik tangannya sedikit, pergerakannya membuat Rion langsung tegang.

Namun Caine tidak menjauh.

Justru tangannya kini bergerak terkubur dalam surai ungu milik Rion. 

“Bodoh.” Bisik Caine pelan. 

Suaranya begitu kecil namun tetap bisa didengar oleh Rion. Tangannya tidak berhenti mengusap lembut rambut Rion, gerakan yang tidak ia lakukan selama tiga hari terakhir.

Rion bahkan terlihat menghela napas lega hanya karena itu. Tidak peduli dikatakan bodoh, ia benar-benar lega sekarang, rasanya lebih lega dari ketika ia menyelesaikan perdebatan di ruang introgasi polisi. 

Matanya menatap mata Caine yang melembut. 

“Aku juga minta maaf karena terlalu sensitif”

Rion menyerngitkan dahi mendengar pernyataan tersebut. 

“No… Jangan bilang gitu kamu ga salah, Caine.” Ucapnya dengan nada memohon.

“Dibentak kamu bikin aku langsung ke-trigger… padahal aku tau kamu juga lagi emosi.”

Jarinya masih mengelus rambut Rion.

Gerakannya tenang.

“Aku harusnya ngomong sama kamu, bukan malah diemin kamu tiga hari.” Ia tersenyum tipis. Sedikit malu dengan sikapnya kemarin. 

“Noo… don’t say sorry, Caine”

Usapan di surai Rion perlahan turun ke rahang membuat Rion tanpa sadar menutup matanya, menikmati setiap gerakan jemari Caine yang ia nantikan sejak kemarin. Rasanya seperti sudah ribuan tahun ia diabaikan.

Rion terlihat benar-benar lega sekarang. Bebannya selama tiga hari langsung runtuh. 

Ia kembali membuka matanya dan tanpa pikir panjang ia menarik pipi Caine mendekat, membuat Caine dengan terkejut menundukkan tubuhnya. 

Dan bibir mereka pun bertemu.

Tidak ada basa basi lagi, Rion memperdalam ciuman itu dengan putus asa. Membayar segala kerinduan yang sudah ia bendung mati matian. Jemarinya tanpa sadar mencengram pipi Caine, bibirnya terus bergerak melumat bibir manis Caine. 

Caine sempat mengeluarkan suara kecil karena terkejut. Namun beberapa detik kemudian membalas ciuman itu.

Tangannya memegang kerah baju Rion. Menariknya sedikit lebih dekat. Membuat posisi mereka sedikit berganti. Wajah Rion mendongak terus mengejar bibir Caine, tidak satu detik pun ia lepaskan. 

Di ujung ruangan Noy buru-buru menutup mata Kael dan Ela dengan panik.

“Woi woi woi— ratingnya naik!” 

Ela berusaha menyingkirkan tangannya.

“Aku mau liat ce!”

Kael yang kebingungan juga ikut menyahuti,

“Ada apa sih kok mata aku ditutup?”