Actions

Work Header

Genius's Urgent Desire (Or Biological)

Summary:

"Untuk seorang Jenius, tidak ada yang lebih berharga selain kegagalan."

Percobaan biologis milik Ruan Mei mengalami hambatan untuk ke sekian kali nya— hanya saja, kali ini dengan masalah yang lebih... intim.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Siang hari, pukul 12:42.

Stasiun Orbit Herta dipenuhi oleh lautan manusia, juga kunjungan dari Astral Express setelah kemenangan mereka menghentikan Irontomb.

Jauh di level bawah, lebih tepatnya Zona Pengasingan, terdapat satu ruangan yang dihias oleh cahaya warna warni, serta suara reaktif dari bahan kimia.

"..Oke, warna nya cukup memudar." Ruan mei mengangkat tabung reaksi, menyodorkan lampu di belakang nya. 

Tangan nya mengenakan sarung tangan, lalu mengelus 2 jari ke dalam larutan kimia tersebut. "Log percobaan 23." 

Pandangan nya melirik ke sekitar, ia terlalu fokus hingga melupakan satu Hal penting— subjek tes.

Mata nya melihat ke bawah, Dua Cat-cakes berdiri melirik kearah nya seperti ingin mengajak bermain. Dia memang terkenal dingin, namun ia bukan monster tak berempati.

Kemudian, mata nya melirik keluar, ke arah abominasi Propagation— "mengapa aku mempertimbangkan nya? Ide bodoh." 

Ia menghela nafas, beberapa jam hari ini terbuang dengan hasil yang tak pasti.

Tangan nya turun, mencoba untuk meraba permukaan meja yang kotor— hingga sebuah epifani memasuki otak nya.

"..Hm." Ruan Mei memiringkan kepala nya, "Zat ini hanya mempengaruhi hormon dalam skala kecil.."

Tanpa berpikir panjang, tangan nya mengusap leher nya sendiri— hari ini, subjek nya ialah dirinya sendiri, apa Hal terburuk yang dapat terjadi?

20 menit terlewat begitu saja, tak ada perubahan signifikan terhadap dirinya, hanya keringat berlebihan yang tak terlalu bermasalah.

"..sepertinya gagal." Ia terdengar agak kecewa, tubuh nya masih dapat bergerak normal, pikiran nya tak terdengar suara luar maupun dopamine yang berlebih.

Bzzt, Bzzt! 

Alat komunikasi nya bergetar, Ruan mei melihat asal dari notifikasi tersebut..

"..Tumben dia yang ngechat duluan." 

 

Herta

Hai cantik

Lagi di Stasiun? Himeko lagi kunjungan

R.M

iya

ooh

Herta

Jangan aneh-aneh lagi ke stelle

*Sticker*

 

"Hm, imut." Ucap nya, secara tak sadar, namun ia tak terlalu memikirkan nya. "..sepertinya berkeliling terdengar seru."

Langkah kaki nya mulai berhentak keluar, menaiki lift ke kerumunan pada lantai utama.

Terlihat, Stasiun Orbit pada momen ini ramai, mengingat kedatangan Astral Express yang sedang naik daun. 

"Kirain baru dateng, cantik." 

Suara yang familiar terdengar di belakang nya. "Wow, baju dari luofu? Tumben-tumbenan dari seorang Ruan Mei." satu unit boneka representatif Herta berdiri, melihat ke arah nya

"Hm? Emangnya ga boleh?" Tangan nya menyentuh dagu, 

Herta menggelengkan kepala, "Gaada yang ngelarang, kok!" 

"Unik aja."

Ruan Mei tertawa kecil, ."Nyoba agak nyentrik, sih."

"..Suka, ga?"

Boneka itu terdiam sesaat, merasa sesuatu yang janggal pada Ruan Mei..

"Hmm..." 

"Atau lebih imut kalau ga pake apapun?"

Boneka herta itu terbata-bata, "A- Er-", terlihat senyum licik terukir pada muka Ruan Mei. 

"A-aku ada di ruangan Simulasi Alam Semesta, kalau butuh."

Ruan mei tersenyum, "Alright, Herta." Ia membalikkan badan, jejak nya hilang ditelan oleh kerumunan orang. 

".." 

"....Aneh." boneka itu memutarkan badan, memasuki mode autopilot .

 

 

 

 

 

"..Herta?" suatu tekstur besi menyentuh bahu sang Penyihir, "level cortisol mu agak tunggi, konklusi : terdapat banyak hal di dalam pikiran mu."

"Hmph, tidak juga." 

"..hanya saja, saat aku menyambungkan diri dengan kepala robot itu.." Tangan nya menyapu helai rambut yang menghalangi mata. 

"Begitu, ya." Screwllum melepas tangan nya, "..Sebaiknya kau hari ini jangan terlalu bersosialisasi."

"Dari awal pun, aku tidak berencana untuk mengobrol dengan banyak orang." 

"Baiklah, untuk tidak memperbanyak beban pikiran, aku akan minggat dari ruangan ini." 

Langkah kaki Screwllum menggema di dalam Ruang Simulasi Alam Semesta, menyisakan Herta sendiri.

Bzzt, Bzzt!

Suara notifikasi masuk berbunyi, tangan Herta lalu meraih Handphone milik nya.

GADIS CANTIKKKKK

herta

masih disana?

NYONYA Herta, Genius Society #83

[Pesan Otomatis] Hai, sedang sibuk, tak akan membalas pesan mu.

Hi cantik

Masih

Kangen?

GADIS CANTIKKKKK

more than that actually 

bantuin bentar boleh?

*1 Attachment*

 

Muka Herta seketika berubah menjadi merah— ia terkejut tak main. "BAJING-" tangan nya membanting Handphone secara keras. 

"..Hah?!" Nada nya terdengar bingung, file itu mengandung suatu foto yang... eksplisit, benar benar tak normal dari Ruan Mei yang biasanya.

"..Biasa aja, dong."

Suara seseorang berbisik di belakang Herta, diikuti oleh dua lengan yang memeluk nya secara erat. 

Badan Herta terguncang, muka nya semakin merah. "Hei, ngapain..?!" 

Suara Ruan Mei semakin rendah, "Meluk doang, ga boleh?" 

"Kamu ngirim foto.. begitu, terus tiba tiba nyerobot masuk—" Herta mencoba merasionalisasi apa yang terjadi, namun badan nya perlahan-lahan luluh oleh sentuhan Ruan Mei yang semakin intim.

"..Pintu nya ga dikunci, kok." Tangan nya semakin menari di kain ungu yang menutupi badan Herta, meraba, serta memainkan ornamen lonceng yang menempel.

Suasana ruangan itu berubah, walau dengan banyak ventilasi udara serta A.C yang menyala 24/7, kedua Jenius itu selaras merasa panas— cukup panas untuk mempertimbangkan melepas busana mereka.

"..h-hey, jangan— mmph.." Tangan herta mencoba untuk menyapu jari-jari yang menari secara bebas di sekujur tubuh nya. "i-ini apaan maksudnya..?!"

Tawa kecil milik Ruan Mei memasuki pikiran Herta, hidung nya mengendus badan dengan estrus. "Harum, deh." Tangan nya menyusur jauh kebawah, menempatkan di pangkal paha sang Penyihir. "harum, banget~"

"N-ngh— serius disini?!" Suara herta terdengar memendam pasrah, ia belum mau mendeklarasi kekalahan— untuk saat ini. "Lagi banyak orang diluar..!"

"Stop me, then." Tangan Ruan Mei menari lebih bebas, jari tengah & jari cincin nya mengusap selangkangan Herta secara perlahan. "Hm?"

"M-ngh..~" rintihan Herta terengas-engas, terlihat, ia menggigit bibir nya untuk meredam suara. 

Tangan Ruan Mei mulai bergerak lebih cepat, lengan kiri nya naik ke arah atas untuk membantu sang Penyihir melepas libido nya lebih dalam— serta melepas lantunan suara indah nya.

 "A-ah- p-pelan pel— ngh.." 

Lengan kiri Ruan Mei mengepal dada herta secara berirama, "apa barusan, cantik?" bisik nya.

Herta mengumpulkan oksigen yang ada, "B-berisik.." suara nya terdengar lemah, diiringi nafas yang hangat. 

"..udah deket, cantik?" 

Jari Ruan Mei bergerak lebih ritmis, juga dengan suara dari Herta.

Tubuh Herta menggeliat dalam kenikmatan, muka nya semakin merah. "AH- NNFH- J-JANGAN KAS— AH!~" 

Tangan Ruan Mei meremas payudara Herta dengan lebih kencang, tawa kecil dan rintihan kenikmatan memenuhi ruangan itu— diikuti oleh gesekan cairan pada permukaan vagina Herta yang sangat basah.

"..c-cepet.." rintihan Herta terdengar kembali.

"Hm?" Ruan mei memiringkan kepala nya.

"..k-kurang cep— nfgh~" 

Ruan Mei melepas kedua tangan, membiarkan badan Herta jatuh terambruk dengan kaki yang bergetar hebat, sembari mencoba untuk mengatur nafas nya.

"K-kamu keparat, emang..." 

Tawa kecil kian terdengar dari mulut Ruan Mei, "sama sama, cantik." 

Herta terlihat kesal, tangan nya turun ke selangkangan sembari bernafas terengah-engah. "fuck you."

Jari nya turun ke mulut Herta, mendorong masuk jempol nya ke dalam mulut secara paksa. "Mau gantian? tangan aku capek." 

Tubuh Herta berdiri kembali, terlihat kaki nya masih bergetar hebat. "..Clean your mess," Mata nya menilik, penuh dengan nafsu yang tak terbendung. "berantakan banget dibawah."

Senyum licik terukir kembali, Ruan Mei mendorong Herta ke meja dibelakang nya secara kasar, "as you wished, cantik." Mulut nya menyosor, kedua Jenius itu berciuman dengan intens— penuh akan nafsu dan gairah tanpa pembatas, membentuk benang saliva setiap jeda dalam cuman. 

Ruan Mei mencium sembari menjalur kebawah, melewati payudara dan perut sang Penyihir Jenius Nomer 83. "...basah banget." Ia memiringkan kepala nya, perlahan membuka mulut.

Badan Herta tersentak keatas, mendapati sensasi lidah yang menari di daerah vulgar nya. "A-AH~ FUUCK!~" tangan nya merenggam keras rambut hitam yang menjuntai milik Ruan Mei, "k-kurang, cepet..— ngh!~" 

Tok, Tok Tok..

Suara Pintu menggema di dalam ruangan, Herta dengan reflek mendorong kepala Ruan Mei menjauh, 

"Nyonya Herta, aku izin masuk!" 

Suara Asta terdengar dari luar, diikuti oleh Pintu yang hampir terbuka. 

"J-JANGAN!" Herta berteriak.

"E-eh?" Bagian pertama dari Pintu itu seketika tertutup kembali. "Lagi ada tamu juga, kah?"

"I-iya— ah!" Badan nya terhentak, Ruan Mei tak mengetahui kata berhenti— lidah nya terus meleceh pada vulva basah milik nya. 

Asta mendengar kenaikan nada yang tak biasa mulai merasa cemas. "N-nyonya Herta?! Apakah aku harus manggil Arlan?!" 

"Gau— sah!" Tangan nya merenggut rambut Ruan Mei semakin kencang, "sialansialansialansialan.." hati nya mengumpat, namun dalam lubuk hati terdalam, sesuatu terasa terpenuhi— Hal yang ia dambakan, nafsu yang seringkali tak pernah terpenuhi setiap ia melihat Ruan Mei.

Herta melihat kebawah, mulut nya berbisik dengan terengah-engah, "aku udah mau deket.."

Bisikan itu hanya memancing Ruan Mei lebih garang, mulut nya bertempo lebih cepat, diikuti oleh bantuan dari jari jemari nya. "Fufu~" 

"Err— tapi, anda gapapa kan, Nyonya?" 

Suasana berubah hening, rasa cemas Asta melonjak tinggi, "..duh, maaf nyonya, tapi.." tangan nya menempelkan keycard, seketika Pintu terbuka, Asta berlari masuk secara cepat. 

"Banyakin minum obat, ya." 

Tangan Ruan Mei mengecek suhu Herta, terlihat tubuh nya diselimuti oleh keringat.

"I-iya, makasih.." 

Asta menghela nafas, "Fyuh, aku khawatir tadi.."

"M-maaf, Nyonya Herta! Tolong jangan pecat aku!" Ia membungkuk sembari memohon. 

Herta hanya bisa tertawa kecil, "Hmmm... Mungkin hanya penurunan gaji." 

"..tidak tidak, aku cuman bercanda." 

Herta berdiri kembali, dibantu oleh pegangan Ruan Mei. "A-aku sebaik nya ke divisi kesehatan.." 

"O-oke, cepat sembuh, Nyonya!" Asta memberi hormat, melihat mereka keluar dari ruangan Simulasi Alam Semesta. 

"..kasihan deh, mungkin Nyonya Herta terlalu memaksakan diri." 

Asta melihat ke meja di depan nya, mendapati gumpalan cairan kental berada di tempat dimana Nyonya Herta baru saja duduk.

Muka Asta mencoba untuk memproses hal itu, Pandangan nya berbalik depan-belakang. ..Bentar,"

"Oh."

"OH."

 

 

Notes:

hi, h-7 utbk and im writing this LMAO

might have slight inaccuracy to the tag sorry 4 that <3