Chapter Text
“A-ah…”
Tubuhnya terhentak, jarinya bertaut saling meremat, mencoba mencari pelampiasan rasa sakit dan dorongan nyaman yang dirasakannya. Derit kasur, tepukan antar kulit dan geraman rendah serta desahan lembut memenuhi kamar gelap itu. Hawa dingin yang seharusnya menusuk tubuh telanjang mereka, justru berhembus pergi. Membiarkan mereka berbagi hangat.
“P-pelan-pelan… kumohon…”
Rintihannya tidak didengar, yang di atas semakin mempercepat gerakannya, menggeram rendah, melampiaskan amarah yang memuncak. Matanya tajam, seolah membakar wajah penuh peluh di bawahnya. “Explain.”
“M-maaf– ah… eung- e-engga ada maksud- Ah!”
Air mata merembes dari kelopak matanya, mengalir melewati ujung mata. Nafasnya tersengal, kesulitan menghirup oksigen. Sosok di atasnya tidak memberi ampun. “A-uh… hah…”
Manik Soobin seolah tidak lelah menatap tajam istrinya. Nafasnya ditarik berat. “Ngga ada maksud? Kamu masih belum kapok?” Dia semakin menekan tubuhnya ke dalam Yeonjun.
“A-ah… Soobin… eungh— m-maaf… aku— aku jelasin— ANGH! B-berhenti— uh- ah… hah…” Nafas Yeonjun tersengal-sengal. Dia meraup udara sebanyak mungkin.
Matanya yang basah menatap dengan takut wajah suaminya, dia masih terisak. Tangan kecilnya gemetar, memohon untuk dilepaskan dari cengkeraman kuat tangan besar si pria. Perlahan membawanya ke rahang tegang sang suami. “Sayang…” suaranya gemetar, terputus-putus karena nafasnya yang tersengal.
Yeonjun tersenyum kecil namun hangat, mencoba membujuk suaminya. “Aku dan Beomgyu— Eungh…” mengerang tanpa dia tahan, terpejam sebentar hanya untuk kembali menatap wajah penuh amarah suaminya.
“Jangan sebut namanya.”
Nafas Yeonjun tercekat sesaat, dia mengangguk. “Aku dan guru itu sedang berlatih, seperti biasa. Kami— Ah!”
“Kami?”
Yeonjun menelan ludah susah payah. “Maksudku, aku dan guru itu…” Dia menahan kalimatnya sebentar, mencari kata yang memungkinkan cukup aman. “Aku dan guru itu memberi contoh koreografinya. Karena siswaku kesulitan memahami gambar.”
Soobin terus menatap istrinya, penuh intimidasi. “Lalu, bagaimana bisa rekaman itu tersebar? Bukankah itu tampak lebih seperti konten?”
Yeonjun menggeleng lemah, “Aku tidak tahu— ah… ah– Soobin…” Dia merintih, tangannya meremat pundak Soobin. “Jika kamu terus bergerak, aku susah untuk fokus…” cicitnya, menatap Soobin takut-takut.
Soobin menyeringai, dia menarik kontolnya perlahan, menyisakan kepala kontol itu di pintu memek Yeonjun. “Kamu bahkan berani memerintah.” Satu tusukan keras diberikan Soobin, menghasilkan teriakan sakit yang melengking dari bibir Yeonjun.
Air mata Yeonjun kembali meluncur, merembes ke ujung matanya dan mengalir di pelipisnya. “Aku tidak— m-maafkan aku! Sakit, Soobin, kamu kasar.” Dia menangis, merengek memohon ampun pada suaminya, atas kesalahan yang tidak ia perbuat.
Mungkin, bagi Yeonjun, rekaman duetnya bersama Beomgyu—teman kerjanya, rekan koreografernya—bukanlah kesalahannya. Niatnya hanya membantu anak didiknya lebih mudah berlatih. Karena pasangan tarian itu, masih kesulitan memperagakan koreografi intinya. Padahal dalam tiga minggu ke depan, mereka harus tampil di panggung besar dan meraih penghargaan. Dari keseluruhan gerak tari, yang tampak kurang memuaskan hanyalah koreografi inti. Dan itu, sedikit membuat Yeonjun kepikiran hingga dia frustasi. Memanggil rekannya itu, untuk membantu memperagakan, memberi contoh.
Namun, bagi Soobin, rekaman yang beredar luas di jejaring internet itu, hanyalah konten busuk yang menyulut emosinya. Bagaimana tidak? Istrinya bergoyang, bokong dan pinggulnya bergerak berputar. Sedangkan, di belakangnya ada pria dominan yang bergerak selaras. Soobin tidak suka itu. Yeonjun melet, dan wajahnya berekspresi ceria. Pria di belakangnya juga tersenyum, memandang bagaimana bokong yeonjun bergoyang.
Soobin terus mengentot Yeonjun. Dia tidak peduli bagaimana istrinya merengek, memohon berhenti, memohon diberi ampun. Dia berniat untuk menggauli istrinya sampai dia muncrat, dan tetap mengabaikan teriakan, rintihan serta tangisan Yeonjun.
Soobin mendorong lebih dalam kontolnya, menusuk ke kedalamam Yeonjun. Dia menggeram rendah, memuntahkan muatannya di dalam Yeonjun. Setelah semuanya tertampung di dalam Yeonjun, Soobin menarik kontolnya. Memperhatikan bagaimana berantakannya sang istri.
Kaki mengangkang, memek lower dan basah meneteskan cairan cinta mereka. Kemejanya kusut, tidak menutupi bagian depannya, menempel tanpa fungsi. Payudaranya merah, bercap tangan dengan jari panjang, putingnya tegang dan basah oleh air liur. Dadanya naik turun cepat, keringat di seluruh tubuhnya. Bibirnya bengkak, menganga meraup udara. Nafasnya tersengal-sengal. Dan matanya merah dengan sembab.
Soobin beranjak, dia memperbaiki kondisi dirinya sendiri. Berjalan ke lemari, mengambil setelan baju malam. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Yeonjun bisa mendengar suara gemericik air yang berjatuhan dari shower. Dia menatap kosong ke arah pintu kamar mandi. Perlahan matanya memanas, kembali memproduksi air mata dan bersiap meluncurkannya. Yeonjun menarik selimut yang lembab, menutupi kekacauan tubuhnya. Dia meringkuk, kembali menangis.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Mengeluarkan Soobin dengan setelan piyama, wajah yang segar, rambut yang basah, namun rahang yang tetap keras. Yeonjun tidak menoleh, dia memejamkan mata, berpura-pura tidur. Dia masih takut menatap wajah pria itu.
Namun, kepura-puraannya berakhir saat tubuhnya diangkat dari kasur. Yeonjun memekik kecil, dia terkejut. Membuka matanya dan langsung menatap wajah suaminya. Masih keras. Dia memalingkan pandangan, tidak sanggup menatap wajah keras itu.
Yeonjun merintih kecil saat tubuhnya diturunkan dari gendongan Soobin. Kakinya bergetar menahan berat tubuhnya sendiri. Yeonjun terlalu lelah hanya untuk berdiri. Satu jam dia mengangkang di bawah kendali suaminya tadi. “A-aku bisa sendiri…” cicitnya, tangannya mendorong bahu pria itu.
Namun Soobin tidak mengindahkannya. Mulutnya tetap diam terkatup, tapi tangannya dengan cekatan merawat dan membersihkan tubuh istrinya dari kekacuan dan kotoran yang dia buat. Yeonjun hanya pasrah, menurut. Meski dia masih tidak nyaman dengan cara Soobin menatapnya.
Semuanya selesai, Soobin memakaikan baju ganti yang sudah ia siapkan sebelumnya. Lalu mengangkat Yeonjun dan membawanya ke kamar sebelah. Menidurkannya di atas kasur, lalu berbalik tanpa kata apapun.
Hati Yeonjun mencelos, dia menatap kepergian suami tercintanya hingga hilang di balik pintu kamar. Bibir Yeonjun mengerucut, menghembuskan nafas berat. Lagi-lagi air matanya mengalir tanpa izin darinya. Meluncur dari ujung matanya.
Malam itu, Yeonjun tertidur karena kelelahan, baik fisiknya, pikirannya, maupun batinnya.
