Actions

Work Header

A Different Kind of Reward

Summary:

“So, did I get it right…?” tanya Anton memandang ke arah Jisung.

“Baru satu. Ayo, tebak lagi."

“Aku kebanyakan minta nggak… kalau kakak masturbate di depan aku?”

Hanya tentang Jisung yang niatnya memberikan hadiah untuk Anton setelah mengikuti kompetisi renang.

Notes:

Bonus scene dari “Mr. Freestyle & Sugarplum” socmed au.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

Lima menit berlalu sejak mereka bertukar pesan dan sudah tiga kali Anton mengganti posisi duduknya. Sekarang dibandingkan duduk, ia memilih berdiri—entah untuk tujuan apa. Berdiri beberapa saat, lalu mondar-mandir di dalam kamar, terlihat jelas sedang menunggu kehadiran Jisung. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya tentang hadiah yang akan diberikan, alasan Jisung melakukan itu hingga tebakan bentuk hadiah yang diberikan. Dia tidak ingin berharap lebih, tapi melihat dari percakapan mereka, sedikitnya Anton bisa menebak.

Hanya saja, apa benar dugaannya itu?

 

TOK TOK! 

 

Bunyi ketukan pintu menyadarkan Anton dari lamunannya. Tanpa sadar ia menelan ludah sambil memandangi pintu tersebut. Ngomong-ngomong, Anton tinggal di asrama yang disediakan oleh kampus, jaraknya lebih dekat dibandingkan rumahnya dan beruntungnya dia tidak memiliki teman sekamar. Bayangkan apa alasan yang harus Anton berikan untuk menjauhkan teman sekamarnya?

Sorry bro, gue mau ngewe sama pacar, boleh nebeng di tempat lain dulu?

That sounds ridiculous.

Dan pastinya Anton tidak akan segamblang itu memberitahu.

Belum lagi ini bukan pertama kali mereka melakukan di kamar asrama Anton. Di mana lagi tempat nyaman untuk melakukannya? Rumah Jisung? No, thanks. Anton tidak mau mengambil resiko dipergoki orang tua Jisung. Tembok asrama mungkin tidak setebal yang diduga, tapi setidaknya lebih mudah meredam suara desahan Jisung dibandingkan dipergoki calon mertua (amin). Mereka pun bisa melakukan di berbagai tempat selain kasur Anton.

Sekali lagi, Anton beruntung tidak memiliki teman sekamar!

“Kamu lagi ngapain di dalam?”

Hal yang pertama Jisung tanyakan ketika pintu terbuka. Anton memasang raut heran sebagai balasan, apa dia memang lama membuka pintu? Dia hanya membereskan kasur dan beberapa sampah yang berceceran, serta memeriksa persediaan kondom. Seharusnya bisa lima menit lalu Anton lakukan, tapi pemuda itu terlalu sibuk mencari tahu hadiah Jisung dalam pikirannya.

“Hai, kak!” cicit Anton terdengar seperti suara tikus kejepit. Terlampau antusias dengan senyuman merekah saat melihat Jisung.

“Hai, bayi,” balas Jisung tersenyum sebelum berjalan memasuki ruangan tersebut.

Sekilas dilihat, pakaian Jisung tampak biasa saja—hoodie abu-abu dipadu baggy cargo pants—bahkan terlihat lebih longgar dari ukuran tubuhnya.

Apa benar tidak ada apa-apa lagi dibaliknya? 

“Anton.”

“Ya?”

Pandangannya bertemu dengan Jisung, mereka hanya diam menatap satu sama lain. Jisung terlihat santai, terlampau santai, sementara Anton tampak kebingungan. Dengan acaknya ia mengingat apa yang dilakukannya beberapa jam lalu.

Ya, postingan di twitter.

Niatnya memang hanya iseng untuk melihat reaksi Jisung. Satu jam berlalu, harapannya mulai pupus. Anton pikir pacarnya mungkin sedang tidak memeriksa ponsel. Kemungkinan ia akan melihat reaksi Jisung besok. Tebakannya meleset dan sekarang pacar cantiknya itu berdiri di hadapannya.

Entah Anton akan mendapat hadiah atau tidak, tapi ia penasaran.

Penasaran menantikan langkah Jisung selanjutnya.

“Kamu masih nebak apa aku cuma pakai ini aja?” tanya Jisung tanpa basa-basi.

Entah datang dari mana keberanian itu, sementara di sisi lain Anton tampak seperti anak anjing terpojok dengan ekor yang berkibas riang. Sekilas terlihat polos dan kikuk, tapi siapa pun bisa menyadari seringaian yang diberikan tidak sepolos itu.

“Namanya nebak kak,” balas Anton sambil mengangkat bahunya.

“Oke.” 

Jisung mengangguk, tampak tidak memusingkan jawaban Anton dan lebih memilih berjalan menuju kasur. Anton memperhatikan gerak-gerik pacarnya itu hingga dia duduk. Mereka kembali bertatapan tanpa ada pembicaraan yang tertukar.

“Okay, what’s this all about, kak?” tanya Anton heran.

“Kayaknya kamu butuh kursi.”

Jisung melirik ke arah kursi belajar Anton. Seakan memahami isyarat tersebut, Anton menuruti dengan patuh. Ia menarik kursi, duduk menghadap sandaran kursi dengan kedua lengan bertumpu di atasnya.

“Jadi sekarang kita main tebak-tebakan?” tanya Anton menatap ke arah Jisung.

Senyum tipis yang diberikan Jisung makin membuat Anton heran.

“Alright, beautiful. Lead me.” Anton tertawa pelan sambil mengangkat kedua tangannya.

“Mudah, kamu tinggal tebak aja.”

“A gift?”

Jisung mengangguk.

“Punishment?”

“Hmm… mungkin.”

Anton semakin bingung.

“Pilih satu antara itu.”

Butuh beberapa saat bagi Anton untuk berpikir, karena bisa jadi ini salah satu cara Jisung untuk ‘menghukumnya’ karena bertindak iseng, tapi kata ‘hadiah’ juga sempat dibahas. Anton tidak begitu ingat, apakah mereka sempat membahas hadiah sebelumnya?

“A gift,” jawab Anton. Suaranya tenang mengisi keheningan ruangan itu.

Tidak ada perubahan berarti dari raut wajah Jisung, tapi melihat pemuda itu bergerak membuat jantung Anton mulai berdegup cepat. Hal yang pertama Jisung lakukan adalah melepas celananya. Sedikit meleset dari tebakan Anton, Jisung masih memakai dalaman, tapi bukan yang biasa dia lihat. Sempat membuat Anton berdecak pelan, karena pemandangan yang dilihatnya sekarang adalah kekasihnya berbalutkan hoodie dan lace panties berwarna baby blue.

Apa Anton pernah membayangkan pemandangan ini?

Mungkin?

Hanya saja Jisung tidak mengenakan apa pun di bawahnya selain hoodie milik Anton sendiri. Membayangkan badan besar Jisung tertutupi oleh hoodie longgar itu hingga selangkangannya, hanya itu yang sempat terpikirkan.

Namun, tidak dipungkiri bahwa celana dalam itu makin membuat kekasihnya tampil cantik dengan kaki jenjang yang mulus, tidak sabar untuk Anton jamah.

“So, did I get it right…?” tanya Anton memandang ke arah Jisung.

“Baru satu.”

Semburat merah samar-samar terlihat di pipi Jisung meski suaranya terkesan tenang. Anton tahu pacarnya itu jarang melakukan hal seperti ini. Namun, jika hal itu Jisung lakukan untuk memberinya hadiah, maka Anton akan mengikuti alurnya.

“Ayo, tebak lagi,” desak Jisung terdengar gemas di telinga Anton.

“Aku kebanyakan minta nggak… kalau kakak masturbate di depan aku?”

Ruangan yang sunyi itu semakin terasa sunyi dan semburat merah di pipi Jisung makin terlihat jelas. Anton rasa tebakannya tepat sasaran, seringaian tanpa sadar muncul di wajahnya.

“Kamu harusnya nebak di bawah hoodienya dulu!” protes Jisung yang membuat Anton tertawa pelan.

“Nggak ada apa-apa di sana, kan?” Sebelah alis Anton naik, tangannya menunjuk ke arah hoodie Jisung.

Bibir Jisung mencebik sebal seakan tertangkap basah. Anton tidak salah, dia bahkan sudah memberikan petunjuk itu sebelumnya. Jisung hanya kaget bahwa pemuda itu lebih cepat menebak tujuan hadiahnya.

“Tebakanku benar lagi,” ucap Anton sambil tersenyum jahil.

Jisung masih diam, tidak bergerak dari tempatnya. Raut wajahnya masih terlihat sebal, tapi gerakan tubuhnya mulai gelisah.

“Boleh buka hoodienya, cantik?” pinta Anton dengan suara lembut.

Permintaannya mudah, tapi Jisung seakan terpana dibuatnya. Dia menuruti begitu saja, entah karena suara lembut Anton atau tatapannya yang berhasil membuat Jisung menelan ludah. Ketika hoodie itu lepas dari badannya, terpaan udara sejuk segera menyambut permukaan kulitnya, setidaknya kamar Anton tidak sedingin di luar.

“Whoa….”

Dan seperti yang diduga, Jisung tidak memakai apa pun dibalik hoodienya. Tubuh mulusnya dapat terlihat jelas dengan kedua puting yang menegang, perut datar dengan otot-otot samar terbentuk. Anton sempat tertegun sebelum decakan kagum terdengar dari bibirnya.

“Cantik…”

Bisikan itu terdengar pelan seperti semilir angin, tapi Jisung menangkap dengan jelas. Belum lagi cara Anton memandangnya dari kepala hingga kaki, tak ayal membuat tubuh Jisung bergidik. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi dan pipinya pasti tampak memerah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatnya.

“Aku nggak bakal sentuh kakak, kecuali kakak benar-benar minta,” ucap Anton sambil memberi penekanan.

Yap, seperti dugaan Jisung. Bayi besar itu bukan sekedar pemuda polos yang tidak paham situasi. Sebaliknya, Anton sering mengambil alih kendali dan sejujurnya menurut Jisung itu seksi.

“S-suka sama hadiahnya?”

“Love it,” balas Anton sambil tersenyum.

Ada perasaan lega yang tidak bisa dijelaskan ketika Jisung mendengar jawaban itu. Namun, hal itu tidak menghentikan debaran keras di jantungnya, karena permainan ini bahkan belum dimulai.

“Kayaknya bukan cuma itu aja….” 

Tatapan Anton mulai turun menuju bagian bawah perut Jisung, hiasan renda pada panties itu samar-samar menutupi penis Jisung.

“Iya, kan, cantik?”

Suaranya mulai terdengar berat dengan sorot mata tenang, tapi tajam bak pemburu dan kini Jisung bagai mangsa terpojok. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari Anton. Akhirnya, Jisung mengangguk pelan sebagai jawaban, pandangannya masih belum lepas dari pemuda itu.

“Turn around,” pinta Anton dengan gerakan tangan ringan.

Jisung melakukannya dengan patuh. Kini dia berbaring di atas kasur sambil membelakangi Anton dengan pantat yang sedikit menungging, tangannya mulai bergerak untuk menyingkap panties-nya. Dia bisa mendengar siulan pelan dari Anton. Pacarnya itu pasti sadar apa yang dilihatnya sekarang.

“Kakak udah pakai itu dari tadi?”

“I-iya…” jawab Jisung mengangguk pelan.

Tidak ada balasan lagi, tapi Jisung dapat merasakan kebahagiaan yang dipancarkan oleh pemuda itu. Anton pasti sedang tersenyum sekarang. Siapa yang tidak tersenyum jika disuguhkan pantat pacarmu yang tersumpal oleh plug berbentuk permata berwarna biru safir.

Anton mulai tidak sabar untuk menjamah dan menampar pantat sintal itu, tapi saat ini dia perlu bersabar. Ada tontonan lebih menarik untuk dilihat.

“Kakak bisa lakuin sendiri, kan?” tanya Anton lembut sambil memperhatikan Jisung yang mulai balik badan.

Tubuh mulus itu hanya berbalutkan lace panties sekarang, dengan bagian depan yang tampak basah dan gembung membentuk tenda. Berbagai sensasi sudah Jisung rasakan sejak tadi dan semakin membuatnya kehilangan akal ketika jarinya menyelip di pinggiran celana, menarik kain renda tipis itu ke samping hingga hiasan di plug tampak berkilau. 

Napas Jisung tercekat, merasakan benda yang sejak tadi memenuhi dirinya perlahan tertarik keluar. Kekosongan itu hanya bertahan selama beberapa detik, sebelum tangan Jisung kembali mendorong ujung plug ke dalam analnya, masuk dan keluar dalam tempo lambat.

“A-ahh…”

Desahan tak ayal keluar dari bibir Jisung, ujung plug yang menggembung terasa sangat menekan bagian dalamnya dan meregangkan dinding-dindingnya. Tiap kali benda itu bergerak, denyut hangat bisa dirasakan bersamaan dengan gelombang nikmat yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Hanya desahan yang berhasil keluar dari bibir Jisung, sesekali terselip nama Anton di sana. Matanya terpejam seakan lupa akan kehadiran pacarnya itu. Hal yang terpikirkan saat ini adalah mengejar kenikmatannya sendiri.

Lama kelamaan plug itu bergerak makin cepat, mengenai titik sensitifnya dan tubuhnya makin bergerak gelisah. Kaki Jisung sesekali akan tertutup, tak kuasa menahan sensasi yang datang. Gesekan antara penisnya dan celana dalamnya semakin tidak menolong, rembesan makin tercetak jelas di sana. Rasa sesak dan penuh di saat bersamaan. 

Suara becek yang dihasilkan oleh plug yang terus menerus bergerak di dalam analnya semakin tak membantu. Tangannya tak bisa berhenti, tak mau berhenti, semakin lama semakin ingin terus merasakan.

Namun, meski begitu Jisung masih merasa kurang.

Dia menginginkan lebih.

Matanya terbuka dan Jisung terkesiap, pandangannya bertemu langsung dengan Anton. Pacarnya sejak tadi tidak berbicara, hanya diam memperhatikan Jisung—terlampau tenang. Anehnya, makin membuat Jisung bergidik ngeri. Sorot matanya tajam diselimuti nafsu, seakan ingin melahapnya saat itu juga.

“A-anton…” desah Jisung pelan.

“Having fun with yourself, kak?”

Jisung menelan ludahnya, tidak menggeleng pun tidak mengangguk. Tangannya terus bergerak di bawah sana, pinggulnya juga ikut terhentak-hentak. Seiring itu, satu tangannya mulai bergerak menuju dada, memilin dan menggesek-gesek putingnya yang mencuat tegang. Sensasi yang datang bertubi-tubi semakin membuat Jisung pening.

“Kurang…” rengek Jisung tanpa tahu malu.

“Kurang?”

Anggukan cepat Jisung berikan seiring dengan desahannya yang makin pendek dan terputus-putus.

“Apa yang kurang, kakak cantik?”

“Kamu… mau— ah, ahh… mmh... An— ton…”

“Ngomong yang jelas dulu sayang.”

Ngh— nggak bisahh, nggak kuat... mau…”

Rengekan Jisung terselip di antara desahan yang menggoda. Sorot mata yang sudah dipenuhi hasrat itu memohon ke arah Anton. Meminta pemuda itu untuk mendekat, tapi sayang ucapannya Jisung berantakan karena tangannya tak henti bergerak. Dia makin terlihat gelisah merasakan pelepasan yang sebentar lagi akan datang.

“Antonn…. sini… aku mau—”

Anton perlahan berdiri dari posisinya lalu berjalan mendekati Jisung. Tubuhnya yang tinggi berdiri menjulang di hadapan pacarnya itu. Dia hanya diam memandangi Jisung layaknya mengamati objek paling menarik di muka bumi. Tentu dia tidak sabar untuk menjamah sosok indah di bawahnya ini. Semakin tidak sabar jika melihat ekspresinya yang memohon, meminta untuk disetubuhi. Anton pun mulai menundukkan badannya, menumpukan tangannya di atas kasur seakan mengungkung Jisung.

“Close?” bisik Anton dengan senyuman tipis.

Jisung hanya mengangguk. “Please….”

Anton tidak menjawab melainkan mengusap pipi Jisung. Sentuhannya sempat membuat pemuda itu tersentak, apalagi ketika ibu jarinya menyentuh bibir si cantik. Gerakan tangan Jisung semakin kacau dan hanya butuh beberapa dorongan untuk membuatnya klimaks. 

Tak lama, lenguhan panjang keluar dari bibir Jisung saat merasakan orgasmenya. Namun, belum sempat ia bernapas lega, Anton segera meraup bibirnya dengan rakus.

Tubuh Jisung serasa seperti jelly apalagi saat Anton berada di atasnya, menciumnya dengan tidak sabar layaknya serigala kelaparan. Bibir mereka tidak hanya bertemu dalam kecupan ringan, sesapan dan lumatan beradu dengan deru napas tidak sabar. Decapan mulai ikut terdengar ketika lidah mereka tertaut. Tangan Jisung mengalungi badan Anton, menarik kekasihnya itu semakin dekat. Pinggulnya tanpa sadar kembali bergerak, merasakan friksi antara miliknya dan Anton yang ternyata sudah mengeras.

Menit selanjutnya, Anton sudah melepaskan kaus dan boxernya. Ciuman mereka masih berlanjut. Bibirnya menjelajahi tubuh Jisung, mulai dari dagu ke leher hingga perlahan turun menuju dada di mana Anton mulai mengemut puting kiri Jisung.

Emut, jilat, hisap bak bayi kehausan.

Emut, jilat dan hisap hingga bunyi decapan terdengar jelas.

Kepala Jisung menengadah ke atas saat merasakan sensasi tersebut. Jemarinya menyusuri helaian rambut Anton, sesekali meremat ketika merasakan kekasihnya itu menghisap terlalu kuat. Desahannya makin terdengar kencang ketika tangan Anton memilin putingnya satu lagi. Tidak ada yang dibiarkan percuma oleh pemuda itu.

Tentu Anton tidak berhenti di situ, setelah puas menyusu ia mulai mengecupi perut Jisung hingga turun menuju selangkangan. Tatapannya tidak pernah lepas dari Jisung, apalagi saat menarik turun celana dalamnya dengan giginya. Penis Jisung terbebas dan menegak sempurna dengan sisa sperma luber dari klimaks pertamanya.

“No— Antonhh–”

Jisung menggeleng, tahu apa yang selanjutnya akan dilakukan kekasihnya itu. Tubuhnya berjengit saat merasakan sapuan hangat di sekitar lubangnya. Plug itu sudah tidak ada dan kini digantikan oleh lidah Anton. Jisung tak kuasa menahan sensasi itu, pinggulnya ingin sekali bergerak, tapi kedua pahanya dicengkram kuat oleh Anton.

Lidah Anton begitu lihai menggoda Jisung hingga beberapa kali membuat bagian bawahnya berkedut tiap kali merasakan benda tak bertulang itu mengitari pinggiran lubangnya atau berusaha masuk. Dia semakin tak sabar ingin merasakan lebih. 

Kenikmatan yang tidak terbendung, terlebih tubuhnya tidak diberikan jeda untuk beristirahat semakin membuatnya sensitif. Desahannya terputus-putus, suaranya merengek dan meracau tidak jelas, entah meminta Anton untuk lanjut atau berhenti. Sekali lagi, Jisung mencapai orgasmenya hanya dengan lidah Anton.

Deru napas Jisung terdengar memburu, otot-ototnya terasa lemas seakan kehabisan tenaga, bagian bawahnya masih berkedut dan butuh beberapa saat bagi Jisung untuk kembali sadar.

“Kamu bahkan belum masuk,” gerutu Jisung menepuk pelan dada bidang Anton.

Kekehan pelan keluar dari bibir Anton, ia kembali memposisikan dirinya di atas Jisung. 

“Kakak pengen aku masuk?”

Jisung memasang wajah sebal sebelum mencubit pelan pipi Anton. “Itu tujuanku ke sini! Masa nggak mau hadiahnya?”

I do. Aku lagi nikmatin hadiahnya,” balas Anton mulai memposisikan penisnya untuk masuk. 

“Dengan bikin aku coli 2 kali?”

“Aku bisa ngapain aja sama hadiahku, kan?”

“Hmm… nggak salah sih.”

Let me enjoy my gift, kakak sayang,” bisik Anton sebelum perlahan mendorong masuk penisnya.

Jisung sedikit terhenyak, berusaha membuat tubuhnya rileks. Ukuran plug yang tadi dimainkannya bahkan tidak sebesar milik Anton. Tubuh bagian bawahnya terasa penuh seakan terkoyak, tapi dia suka, dia suka sensasi tersebut.

Dia suka tiap kali melakukannya, dia suka dipenuhi oleh Anton.

Terkadang jika Anton sudah terlebih dahulu membuatnya kewalahan akan tiap rangsangan, maka pemuda itu akan memulai dengan lambat. Menciumi pipi atau leher Jisung sambil mengajaknya berbicara.

“Kita pernah bahas soal hadiah, kak?”

“Masa lupa…”

Anton tersenyum tipis tampak bersalah karena tidak mengingat topik tersebut.

“Tapi bohong,” ucap Jisung sambil mencolek hidung mancung Anton. 

Ekspresi jahil Jisung membuat Anton gemas ingin menciumnya lagi dan tentu hal itu dilakukan, tiga kecupan ringan ia berikan.

“Jadi belum pernah dibahas?”

Kini Anton mulai bergerak, masih dalam tempo lambat.

“Be-belum…”

“Memang sengaja mau kasih kejutan?”

Ngh— nggak suka?”

“Suka, suka banget.”

“Tadinya aku mau tanya— kamu…  ahh— sukanya apa…”

“Kenapa nggak tanya?”

“Nggak— tahu mmh… soalnya… ahhn…”

Jisung mulai kesulitan memikirkan jawabannya. Kepalanya serasa kosong apalagi ketika Anton mengenai titik nikmatnya.

“Soalnya kangen ngewe sama aku?”

Hanya anggukan cepat yang Jisung berikan karena semakin lama Anton mulai bergerak cepat,

“Aku juga rindu ngewein kakak.” Anton berbisik pelan sebelum mencium bibir Jisung.

Semakin lama genjotan Anton semakin cepat, menumbuk bagian yang ia tahu akan membuat Jisung kelimpungan, berkali-kali tanpa mengenal ampun, sementara ia masih dengan rakusnya meraup bibir Jisung, membiarkan desahan kekasihnya itu tertelan dalam ciuman mereka. Suara peraduan kulit mereka makin terdengar becek dan kencang memenuhi ruangan. Ketika ciuman itu berakhir desahan Jisung semakin tidak karuan, sementara Anton sibuk mengecupi lehernya, meninggalkan jejak kemerahan di atas kulit mulus itu.

“Why are you so big…” desah Jisung sambil menatap ke arah Anton.

“You like it,” balas Anton seraya tersenyum.

Tak lama erangan pelan keluar dari bibir yang lebih muda, merasakan lubang Jisung berkedut dan semakin melahap miliknya erat di dalam sana.

“See?”

“Ya… gimana lagi… ” Pipi Jisung tampak bersemu merah, tatapannya enggan melirik ke arah Anton. “Soalnya— ahh!”

Jisung memekik kencang saat Anton kembali mengenai titik sensitifnya, tidak hanya sekali melainkan berkali-kali dan hanya suara ah, ah, ah yang bisa keluar dari bibirnya. 

Benar-benar brondong jahil! Begitu pikir Jisung.

“You’re so good, kak.”

Satu hentakan keras lagi.

“So, good to me….”

Jisung makin pening. Stimulasi-stimulasi yang dirasakannya sejak tadi terlalu banyak, dia rasa tubuhnya tidak akan kuat menerima itu semua. Namun, di sinilah Jisung, masih menerima Anton baik dalam tempo lambat maupun cepat, lembut maupun keras, bahkan ketika Anton mengganti posisi mereka.

“Hold yourself, kak,” ucap Anton sambil meminta Jisung memeluk kedua pahanya dekat ke arah dada, memamerkan lubangnya yang berkedut dan kemerahan. Posisi yang cukup membuat Jisung malu, karena ia merasa begitu terekspos di hadapan Anton.

Pandangan mereka belum lepas bahkan ketika Anton kembali masuk, menggenjot lubang Jisung dengan cepat dan kasar. Mata Jisung mulai terpejam saat dirasa Anton mengenai titik nikmatnya berkali-kali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Meski bibirnya berkata ‘too much’ atau tubuhnya merasakan rangsangan seksual yang berlebih, dia tidak ingin Anton berhenti.

Ketika klimaks mereka datang bersamaan, tubuh Jisung mengejang dan bergetar hebat. Anton langsung berbaring di atasnya. Napas mereka berderu cepat, lelah tapi puas di saat bersamaan. Selama beberapa saat keduanya hanya diam dengan tangan Jisung mengelus kepala Anton.

“Selamat buat medali peraknya,” gumam Jisung sambil tersenyum.

“Aku posisi 5.”

“Tahun depan bisa podium.”

“Tahun depan dapat begini juga?” tanya Anton sedikit menengadahkan kepalanya untuk menatap Jisung.

“Mm… iya, nggak, ya?”

Tawa pelan Anton terasa bergetar di dada Jisung. Pelukannya semakin erat, kulit mereka saling bersentuhan, tidak peduli selengket apa pun. Keduanya terlampau nyaman dalam posisi tersebut, mengobrol dan bersenda gurau, hingga candaan itu perlahan mereda dan digantikan dengan ciuman.

Menit berikutnya mereka kembali memulai, kali ini Jisung yang menaiki Anton dan pemuda itu dibiarkan diam untuk menontonnya lagi. Anton tentu tidak keberatan karena dapat menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Jisung dengan wajah memerah, rambut basah dan berantakan, bibir terbuka sambil mengeluarkan desahan, sementara pinggulnya bergerak maju dan mundur mencari kenikmatan, sesekali matanya akan terpejam ketika penis Anton mengenai titik sensitifnya. Semakin lama, gerakan Jisung makin cepat, pinggulnya menghentak-hentak dengan tangan Anton memandu di sisinya.

Tidak tahu berapa ronde yang mereka lalui malam itu. Jisung hanya ingat, di kala kantuk mulai menyerang, dia merasakan sapuan hangat di sekitar selangkangannya, samar-samar dia bisa melihat Anton sedang membasuh tubuhnya dengan handuk hangat.

“Good night, kak.”

Suara lembut yang Jisung dengar sebelum terbuai ke alam mimpi. Besoknya, Jisung akan menemukan dirinya dalam dekapan Anton dan dia rasa harinya akan dimulai dengan baik.

 

 

 

 

 

END

 

Notes:

Thank you for reading!