Actions

Work Header

The tragedy of loving you

Summary:

Max cuma mau kerja cari uang, eh malah nyasar ke rumah orang kaya super cantik yang hidupnya cuman uang, uang dan uang.

Chapter Text

Max melangkahkan kaki memasuki satu mall besar di Jakarta, dan seperti setiap kali ia menjejakkan diri ke bangunan-bangunan megah di Jakarta, rasa takjub itu kembali memenuhi dadanya.

Bagi seseorang seperti Max—anak kampung yang terbiasa dengan hamparan sawah, deretan rumah setingkat, dan jalan-jalan kecil yang sunyi—tempat seperti ini terasa seperti dunia lain. Langit-langit tinggi dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan, lantai marmer yang mengilap, serta deretan toko mewah yang berjajar rapi membuatnya sejenak lupa pada lelah yang menumpuk di tubuhnya.

Di kampung, tak ada gedung setinggi ini. Yang ada hanya ladang, kebun, dan pasar pagi yang riuh oleh suara pedagang.

Dalam diam, Max menengadah, matanya menelusuri struktur bangunan yang menjulang. Ada rasa penasaran yang tak pernah padam di dalam dirinya—bagaimana semua ini dibangun? Bagaimana tiang-tiang kokoh itu mampu menopang dunia sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu selalu berputar di kepalanya.

Namun hari ini, ia datang bukan untuk mengagumi kemegahan kota. Ia datang untuk bekerja.

Langkahnya membawanya lebih dalam menuju 4 Fingers. Di sepanjang perjalanan, matanya menelusuri lautan manusia yang berlalu-lalang serta ratusan gerai makanan yang bahkan namanya pun belum pernah ia dengar sebelumnya. Kadang-kadang, Max merasa hidup memang aneh. Kesibukan dan kemalasan orang lain—hal-hal yang mungkin dianggap sepele—justru menjadi sumber rezekinya. Dan untuk itu, diam-diam ia bersyukur. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ia kirim pulang untuk ibu dan adik-adiknya.

Baru saja ia sampai di depan gerai tujuan, ponsel murah seharga tiga jutaan di tangannya bergetar. Sebuah notifikasi masuk. Pesan dari pelanggan.

“Makanannya buat masnya aja ya, aku ada kesibukan.”

Seketika senyum tipis terbit di bibir Max. Namun senyum itu tak bertahan lama. Kesadarannya datang seperti tamparan. Pesanan ini menggunakan metode Cash On Deliveru (COD). Artinya, uang untuk makanan itu tetap harus keluar dari sakunya sendiri, sementara penghasilan hari ini belum tentu cukup untuk menutupnya.

Max mendecak pelan.

Sial.

Ia paling membenci pelanggan seperti ini—memesan tanpa benar-benar berniat menerima. Tetapi setelah beberapa detik memandangi layar ponselnya, Max akhirnya menghela napas panjang dan melangkah masuk ke gerai. Tak ada gunanya merutuk terlalu lama. Lagi pula, kapan terakhir kali ia makan makanan yang layak? Sudah hampir empat bulan merantau, dan selama itu pula menu hariannya tak pernah jauh dari tempe, nasi putih, dan kecap. Jadi kali ini, ia memilih untuk menganggapnya sebagai hadiah kecil untuk dirinya sendiri. Hadiah atas segala lelah yang ia telan sendirian.

Max duduk di salah satu kursi sudut, lalu mulai menyantap makanan itu tanpa banyak bicara. Setiap suapan terasa asing, kaya rasa, dan hampir membuat dadanya sesak oleh perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Bukan karena makanannya terlalu enak. Melainkan karena ia tiba-tiba teringat rumah. Teringat ibu yang selalu menyisihkan lauk terbaik untuk dirinya. Teringat adik-adiknya yang berebut duduk di sampingnya saat makan malam.

Setelah perutnya terisi, Max kembali menatap layar ponselnya, menunggu notifikasi pesanan berikutnya masuk. Namun layar itu tetap sunyi. Tak ada satu pun pesanan. Setelah beberapa lama menunggu, ia akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar mal. Tak mengapa. Hanya sebentar, sekadar mengusir bosan yang mulai merambat dalam dada. Sesekali berjalan di tempat semewah ini tanpa tujuan rasanya bukan dosa, bukan?

Jaket hijau yang selalu melekat di tubuhnya ia lepaskan, lalu disampirkan di lengannya. Lantai demi lantai ia naiki perlahan. Matanya bergerak ke kiri dan kanan, menatap etalase toko-toko mewah yang memajang barang-barang dengan harga yang mungkin setara biaya hidup keluarganya selama berbulan-bulan.

Dalam diam, Max kembali tertegun. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa di luar kampungnya, ada dunia yang sedemikian berbeda. Dunia yang dipenuhi cahaya, kemewahan, dan kehidupan yang terasa begitu jauh dari realitasnya.

Max mengembuskan napas panjang.

Suatu hari nanti, ibu dan adik-adik harus melihat ini.

Pikiran itu terlintas begitu saja, sederhana namun sarat harapan. Masih tenggelam dalam dunianya sendiri, Max terus melangkah tanpa arah sambil menunggu pesanan berikutnya masuk.

Hingga tanpa ia sadari, seseorang tengah berjalan dari arah berlawanan—seorang pria tinggi dengan langkah cepat, matanya sibuk tertuju pada layar ponsel. Dalam hitungan detik, tubuh mereka bertabrakan.

Bruk.

Jaket hijau Max terjatuh ke lantai, bersamaan dengan beberapa kantong belanja milik pria itu yang berserakan di atas marmer mengilap.

“Hello? Are you blind? Ugh.” Suara pria itu terdengar tajam dan penuh kejengkelan. Ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu menyelipkannya di belahan kerah baju dengan gerakan kesal.

Sementara itu, Max masih sedikit terpaku, syok atas benturan mendadak tadi.

“Maaf,” ucapnya cepat, suaranya rendah. Ia sadar sepenuhnya bahwa ini kesalahannya.

Tanpa membuang waktu, Max segera berjongkok, mengambil jaketnya, lalu membantu memunguti kantong-kantong belanja yang jatuh. Matanya sempat menangkap nama-nama merek yang tertera di kantong-kantong itu, tetapi tak satu pun terasa familiar baginya. Barang-barang dari dunia yang tak pernah menjadi bagian hidupnya.

“Tidak usah.” Suara pria itu memotong, dingin dan tajam. Dengan kasar, ia merebut kantong-kantong belanja dari tangan Max.

“Nanti malah makin kotor barangku.” Max terdiam.

Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu—cara ia memandang Max dari ujung kepala sampai kaki—yang membuat dada Max terasa mengencang. Seolah-olah keberadaannya sendiri dianggap noda di tempat semewah ini.

Belum sempat ia mengatakan apa pun, pria itu sudah berbalik dan melangkah pergi. Namun tepat sebelum sosok itu benar-benar menjauh, mata Max sempat menangkap wajahnya. Dan saat itulah ia membeku.

Cantik.

Hanya satu kata itu yang terlintas di benaknya. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya seolah meredup.

Bulu mata pria itu lentik dan jatuh sempurna membingkai mata biru turkuois yang begitu tajam, seolah mampu menembus siapa saja yang menatapnya. Hidungnya mancung, garis rahangnya tegas, sementara alisnya tersusun rapi dengan keanggunan yang hampir tak masuk akal. Ada sesuatu pada wajah itu—sesuatu yang membuat dada Max mendadak terasa sesak. Seolah tatapan singkat tadi meninggalkan bekas yang terlalu dalam.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, Max berdiri mematung. Tak bergerak. Bahkan ketika lima menit telah berlalu.