Actions

Work Header

Enaknya Jadi Manusia 2D...

Summary:

Nakula menatap gambar Fieren dan Himmel pada tumbler cup yang sempat dia beli dengan Sadewa, "Kayaknya enak jadi manusia dua dimensi..."

Work Text:

Nakula menatap gambar Fieren dan Himmel pada dua cup tumbler yang telah dia beli dengan Sadewa, "Kayaknya enak jadi manusia dua dimensi, andai aku jadi manusia 2D..."

Sadewa yang sibuk membuka gacha postcard, berhenti sejenak "Kita kan udah jadi vtuber, berarti kita sudah jadi manusia 2D..."

Nakula menyeruput minuman, "Kalau kita manusia 3D di dunia nyata terus jadi vtuber saat stream apakah kita menjadi manusia 5D?" Mata memutar keatas seolah menerawang ke plafon, "...atau kita itu manusia dua setengah D karena kita menjadi manusia vtuber?" 

Alis Sadewa mengerut, "Konsepnya bukan kayak gitu, kocak!" nada bicaranya sempat naik namun segera turun waktu ia menjelaskan, "Jangan samakan konsep dimensi ruang dengan operasi bilangan dasar anak SD."

Nakula mencebikkan bibirnya, "Huff, yang penting sama-sama matematika!"

 


 

Sadewa dengan setelan hitam, menunduk dihadapan sosok pria bersurai biru yang tersenyum diantara puluhan bunga bakung yang mengelilingi bingkainya.

"Sekarang," suaranya terdengar tenang namun nyaris putus, "...kamu benar-benar menjadi manusia 2D..." Ia mengucapkan selamat yang terasa kosong.

Hening, tentu saja tidak ada balasan.

Ia kembali mengangkat kepalanya, menatap senyuman hangat yang telah dibekukan oleh waktu.

"Enak ya, kamu..." Komentarnya sinis, kontras dengan rahangnya yang mengatup. Dadanya ikut menyempit dan sesuatu tertahan dibalik kelopak matanya yang tidak terpejam selama semalam. 

Tangan Sadewa bergerak kearah Nakula namun terhenti saat ia melihat kembali wajah bersinar sang adik yang terpenjara dibalik kaca. 

"Jangan tersenyum seperti itu, sial!" Sadewa melipat buku-buku jarinya erat hingga telapak tangannya terkikis kuku, meninju udara yang tak pernah salah seolah lawannya ada disana.

Namun gagal.

Pandangannya berkabut. Paras Nakula perlahan memudar, netra yang selalu menatapnya teduh dan memori lama saat tawanya menggema ikut larut dengan butiran air yang menggenang dan turun tanpa izin.

Sadewa dengan cepat menarik lengannya, mengusap pipinya yang sempat basah dengan kasar.

"Sialan kamu, Nakul..." Punggung tangannya gatal ingin menghantam kaca itu sampai pecah, persetan dengan buku jarinya yang berdarah, ia hanya ingin menyeret pria bodoh itu pada dimensi yang seharusnya, bukan terperangkap di dalam kertas apalagi jika harus menyatu dengan tanah.

Ia kalah lagi.

Sadewa menarik nafas, langkahnya perlahan mundur, menarik kedua tangan kedalam saku dan menunduk pelan sebagai penghormatan terakhir.

Matanya sempat melirik Nakula sekilas, namun segera memutar tubuhnya sebelum beranjak pergi dan merokok di tempat yang sepi.