Work Text:
Libur semester selalu membuat Kos Putra Sejahtera terasa seperti bangunan kosong yang ditinggal penghuninya lenyap dari muka bumi. Lorong panjang bercat krem pucat itu biasanya penuh suara sandal diseret, tawa mahasiswa tengah malam, hingga bunyi panci mie dari dapur bersama. Sekarang? Sunyi. Bahkan kipas angin tua di ujung lorong terdengar lebih berisik daripada manusia.
Satu-satunya tanda kehidupan di kosan murah siang itu mungkin hanyalah suara keyboard dari kamar paling ujung. Nakula masih menatap laptop di pangkuannya dengan mata lelah sambil menghabiskan ayam geprek yang telat dua jam dimakan. Es teh gratisan yang didapat sepaket itu bahkan sudah tak lagi dingin.
Sesekali pemuda bersurai biru muda itu mendecak sebal. Sejak memutuskan tidak pulang semester ini demi menghemat ongkos, hidup Nakula hanya berisi tiga hal. Revisi, mie instan, dan kurang tidur. Paid internship kedengarannya keren sampai ia sadar bahwa anak magang bisa dipekerjakan seperti karyawan tetap. Tentunya dengan bayaran yang bahkan tidak cukup untuk beli ayam geprek tiga kali sehari selama sebulan.
Muak dengan pekerjaannya, Nakula mengambil ponsel di sebelahnya. Dibukanya akun alter X miliknya yang sudah dua bulan tak disentuh. Jempolnya bergerak di atas layar ponselnya, mencari-cari konten yang menurutnya menarik.
Tangannya berhenti pada salah satu postingan yang baru diunggah semalam. Akunnya masih baru, hanya ada tiga video yang diunggah hingga hari itu. Matanya terpaku pada tayangan video yang hanya berdurasi dua menit itu. Nakula mendecak begitu sadar selatannya terbangun.
Sialan.
Nakula melempar ponselnya sembarang. Dengan malas ia bangkit dari kasur kapuknya, melangkahi baju-baju yang belum dilipat beserta barang-barang lain yang berserakan di lantai kamarnya. Pintu kamar dibukanya, lalu ia berjalan menuju kamar mandi ujung lorong setelah menutup pintu.
Di waktu yang hampir bersamaan, seorang lelaki berpakaian hitam dengan sebuah tas ransel yang bertengger di punggungnya membuka gerbang kosan. Ia masuk ke dalam dengan santai seakan ia adalah salah satu penghuni kosan murah itu.
Sadewa menyeringai kecil ketika melihat lorong kos yang kosong.
“Rezeki emang nggak kemana,” gumamnya.
Dari saku celana, Sadewa mengeluarkan sepotong besi tipis yang bentuknya sudah bengkok tak karuan. Jemarinya bergerak santai di lubang kunci, seolah sedang membuka gembok sepeda sendiri.
Klik.
Pintu pertama terbuka. Jam tangan, headset, apa pun yang terlihat mahal masuk ke ranselnya tanpa banyak pikir. Sampai langkahnya berhenti di depan kamar paling ujung. Pintunya terbuka sedikit.
Sadewa mengangkat alis, “Ceroboh amat.”
Ia masuk tanpa suara dan langsung disambut pemandangan kamar kos paling berantakan yang pernah ia lihat seumur hidup.
Baju tergantung di sandaran kursi, ada yang berserakan di karpet. Bungkus mie instan menumpuk di dekat tong sampah yang jelas sudah penuh sejak lama. Buku, charger, tumpukan kertas, dan entah apa lagi berserakan tanpa pola hingga nyaris tidak menyisakan pijakan.
“Buset …,” gumam Sadewa pelan.
Ia menendang pelan gelas plastik bekas kosong yang menghalangi langkahnya. Gelas plastik itu terlempar ke dekat kursi, jatuh tepat di atas tumpukan pakaian yang entah bersih atau tidak.
Awalnya Sadewa mengira kamar sekacau ini tidak akan menyimpan barang beharga apa pun. Biasanya penghuni kos yang kere dan berantakan hanya punya kipas angin berbunyi ngik-ngik dan kasur kapuk bau apek.
Namun, pandangannya kemudian tertuju pada kasur di pojok ruangan, satu-satunya tempat yang masih terlihat “manusiawi”.
Seprai biru tua kusut itu dipenuhi beberapa kertas dan sebuah hoodie hitam, tapi di tengahnya ada sebuah laptop yang terbuka dan masih menyala. Layarnya memantulkan tabel-tabel memusingkan yang bahkan Sadewa malas untuk melihatnya lagi.
“Lumayan.”
Sadewa mendekat cepat, meraih laptop itu tanpa pikir panjang. Hangat, artinya baru saja dipakai. Ia melirik sekitar sekali lagi. Tak ada suara. Tak ada tanda penghuni kamar akan kembali dalam waktu dekat.
Pikirnya, sang empu kamar sedang beli makan atau mungkin ke minimarket depan gang. Tanpa membuang waktu, Sadewa membuka ranselnya dan mulai memasukkan laptop itu ke dalam.
Namun, suara pintu kamar mandi lorong terdengar samar. Disusul dengan suara langkah sandal mendekat.
Sadewa buru-buru menoleh ke arah pintu tepat ketika seorang lelaki masuk sembari mengusap wajahnya dengan handuk kecil.
Kaos oversize putih yang dikenakan lelaki itu tampak sedikit lembap di bagian dada, membuat pahatan tubuhnya sedikit tercetak. Celana pendek biru muda bergambar mickey mouse terlihat kusut. Wajahnya tampak lega seperti orang yang baru selesai membuang hajat pagi.
Lalu mata mereka bertemu. Hening terjadi di antara mereka. Beberapa detik terasa sangat panjang. Tatapan lelaki itu turun ke laptop di tangan Sadewa, lalu naik lagi ke wajah asing di dalam kamarnya.
Matanya membelalak dengan mulut terbuka.
“TO—”
Tanpa pikir panjang, laptop beserta ranselnya ia jatuhkan ke kasur. Ia bergerak cepat membungkam mulut lelaki itu. Nakula mengerahkan seluruh tenaganya untuk memberontak hingga bekapan di mulutnya terlepas. Ia bergegas berbalik badan untuk lari. Sayangnya, ia kalah cepat dengan tangan sang maling yang sudah menariknya kembali ke dalam kamarnya.
Bila orang melihat posisi mereka saat ini, mereka tentu menyangka bahwa Nakula tengah dipeluk dari belakang. Tangan kanan Sadewa melingkar di tubuhnya, menahan agar ia tidak dapat kabur. Sedang tangan yang satu sempat membekapnya, tetapi ia menggigit telapaknya hingga lelaki asing itu melepaskan bekapannya.
“Lepasin gue!”
Nakula kembali bergerak tak teratur dengan sisa tenaganya. Tanpa menyadari, gerakan acaknya bergesekan dengan selangkangan si maling hingga sesuatu di dalam sana terbangun.
Sadewa mendesis, ditempelkannya bibirnya pada telinga pemuda di kukungannya, “Diam, sialan.”
Nakula tak mengindahkan peringatan lelaki itu. Menyadari kungkungan pada tubuhnya mengendur, ia manfaatkan untuk kembali memberontak hingga terlepas kembali. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan pakaian dekat pintu sebelum keluar dari kamarnya. Niatnya ingin menghubungi ibu kos, tetapi begitu ponselnya menyala, suara tak senonoh keluar dari speaker ponselnya.
Dan Sadewa merasa familiar dengan suara itu. Suaranya.
Lengan Nakula kembali ditarik oleh sang maling. Ponselnya direbut begitu saja oleh lelaki itu, terpampang dengan jelas aplikasi X yang menampakkan rentetan video porno yang memenuhi timeline akunnya—salah satunya video yang diunggah oleh akun @sxgaras_, akun kepunyaan Sadewa.
Sadewa terkejut, bibirnya menyeringai mengejek mahasiswa di depannya, “Banyak juga koleksimu, bahkan ada gue di sini.”
Tubuh Nakula menegang. Kalimat yang keluar dari mulut si maling bagai tabuh menghantam gong di telinganya. Apa tadi? Apa yang barusan didengarnya? Otaknya seakan membatu. Ia sulit memproses kata-kata sederhana itu.
“Malah bengong,” Sadewa menarik dagu Nakula untuk menatapnya, “suka lu sama badan gue?”
“M-mana ad—”
Nakula kembali mematung ketika ibu jari lelaki itu melesak masuk ke dalam mulutnya. Jari itu bergerak acak di dalam sana, semakin masuk hingga membuat si mahasiswa terbatuk. Sadewa menarik tangannya, dibawanya wajah si cantik untuk mempertemukan belahan bibir mereka.
Nakula mengatupkan bibirnya, mengunci akses lelaki di depannya untuk menjelajahi pameran mulut dengan organ lunak miliknya. Sadewa mencengkeram kuat rahang Nakula hingga bibir itu terbuka, membuka celah untuk lidahnya masuk dengan memaksa. Tangan yang satunya menampar pantat, membuat si cantik terperanjat sampai mulutnya terbuka sepenuhnya.
Sadewa memanfaatkan itu untuk memasukkan organ lunaknya ke dalam mulut itu. Lidahnya bergerak acak mengabsen seisi mulut bak seorang pengunjung mengelilingi pameran. Nakula dengan panik mendorong bahu lelaki itu untuk melepaskan pagutan mereka.
Namun, tangannya yang satu ditarik oleh si maling. Cengkeraman di rahangnya terlepas, berpindah ke pinggangnya untuk ditarik mendekat hingga dada mereka saling bertubrukan. Nakula masih berusaha untuk melepaskan diri, tangannya yang bebas ia gunakan untuk mencakar punggung Sadewa yang masih terbalut kaos hitam pendek.
Sadewa mengabaikan cakaran di punggungnya yang tak berasa apapun. Ia kembali menarik si empu kamar untuk memperdalam ciuman hanya untuk mendapatkan pukulan keras di kepalanya. Si cantik kehabisan udara. Ciuman mereka terlepas, masih dengan sebelah tangan menahan pinggang Nakula, sementara yang satu memegang kepalanya yang dipukul.
“Sakit, cantik,” Nakula terengah-engah di depan wajahnya, “kurang ajar lu ya.”
Si maling kembali mempertemukan bibir mereka. Nakula ingin memberontak, tetapi ia tak sanggup karena tubuhnya mulai lemas. Sadewa menarik tubuhnya, membawanya berjalan melewati barang-barang yang berserakan di lantai. Benda-benda yang ada di kasur kapuk itu digeser dengan kakinya hingga tersisa cukup ruang untuk mereka berdua. Si cantik pun ia dorong ke kasur hingga tak sengaja terbentur dinding kamar.
“Aww,” keluh si cantik, “sakit ….”
Tangan Sadewa terulur, diusapnya pelan kepala si cantik yang terbentur tadi, “Cantik, sakit ya?”
Tanpa sadar, Nakula mengangguk. Bibirnya sedikit maju, merengut. Sadewa tertawa. Dicumbunya kembali bibir yang mencebik itu, rasanya manis bercampur dengan aroma teh. Ciuman itu perlahan berpindah ke dagu, ditinggalkannya sebuah bekas gigitan kemerahan di sana. Lalu bibirnya berpindah turun, menjilat dan mengisap leher putih bersih si cantik hingga tercipta noda kemerahan yang akan bertahan sampai tiga hari ke depan. Tak lupa noda yang sama ditinggalkan di bahu dan tulang selangkanya.
“U-udah,” suara Nakula bergetar, “please, stop it.”
Sadewa mendongak, menatap wajah Nakula yang terlihat berantakan oleh peluh dan air mata. Tangan kirinya bergerak ke selangkangan meraba organ tak bertulang milik si cantik yang sudah sama tegangnya dengan miliknya.
“Yakin? Udah bangun gini, loh, cantik. Mana kecil banget, lucu.”
Tangan satunya menyingkap kaos putih polos cantiknya, “Pentil lu juga udah tegang gini, ya kali gue berhenti?”
Si maling menjulurkan lidahnya, menjilat puting kiri dengan gerakan perlahan. Nakula mendesis, menahan desahannya sedari tadi membuatnya cepat kehabisan napas. Puting yang kanan ditarik, lalu dilepas tiba-tiba. Si cantik memekik pelan. Tubuhnya tidak terbiasa dengan stimulasi yang diberikan.
“Ahg! S-stop! Le-lepash!”
Jemari si cantik menarik surai gelap dengan garis kuning itu. Ia menariknya menjauh dari dadanya yang terekspos. Namun, apa daya, tenaganya kalah jauh dari lelaki yang menindihnya. Sadewa terus mengisap puting Nakula sembari memilin kelenjar susu yang kering itu.
Puas dengan puting Nakula, bibirnya semakin turun menyusuri perut putih mulusnya hingga di selangkangan si cantik. Ketika bibirnya semakin turun, ia terdiam. Ada yang aneh, sesuatu membuat basah di bawah sana. Jadi ia menjauhkan kepalanya dari sana, menggantinya dengan tangan kanannya yang tanpa permisi bergerak masuk ke dalam celana.
“K-keluar! He—ahhk!”
Alangkah terkejutnya Sadewa. Jarinya basah. Bukan dari precum batang kemaluan si cantik, melainkan lendir dari lubang sanggama lelaki cantik ini. Tapi, apa iya ia bisa menyebut Nakula sebagai lelaki? Lelaki mana yang memiliki vagina di selangkangannya?
“Basah banget cantik memeknya.”
“Di-diam, sialan,” ujar Nakula dengan lirih, tenaganya sudah habis, “lepas ….”
Sadewa kembali menulikan telinganya. Tangannya terangkat untuk melepas celana pendek Nakula. Ia sedikit kesulitan karena si cantik masih berusaha melawan dengan tenaganya yang telah habis itu. Tetap saja, tenaga miliknya jauh lebih besar. Celana biru muda itu ia lempar sembarang.
Nakula mengatupkan pahanya, tangan kirinya menutupi area genitalnya sementara tangan kanan menutup setengah wajahnya. Ia malu, benar-benar malu. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri karena tak kuasa melawan lelaki yang menjamah tubuhnya tanpa izin.
“Jangan ditutup, cantik.”
Sadewa membuka paha itu dengan paksa. Ditariknya tangan Nakula yang menutupi keindahan liang sanggama itu yang sudah basah. Tanpa menunggu lama ia menyapu bibir lubang itu dengan lidah basahnya, membuat si cantik tersentak dengan stimulasi yang datang secara tiba-tiba.
Tangan lelaki itu tak tinggal diam, keduanya sibuk. Kanan meremas paha untuk menahan agar tetap terbuka, sementara kiri menggenggam batang kemaluan mungil milik si cantik. Lidah dan tangan kirinya terus memberikan rangsangan hingga Nakula berteriak kesetanan.
“Ahh- sstop! Kel-luarh! Eungh ahhk! Lep—ahhg, ahhk!”
Nakula membusurkan punggungnya kala temui puncaknya. Kepalanya mendongak, bola matanya sepenuhnya putih. Suara lengkingan yang indah memasuki indra pendengaran Sadewa. Wajah dan tangan kirinya basah oleh orgasme dari kedua genital si cantik.
Senyum tercetak di wajah lelaki berkulit tan itu. Ia menarik sebelah kaki Nakula untuk disampirkan di bahu kirinya, sementara kaki yang satu ditahan dengan betisnya. Tangan kanan Sadewa diposisikan di depan liang, lalu telunjuknya melesak masuk tanpa aba-aba.
Nakula melenguh. Ia merasa aneh dengan sensasi asing di bawah sana. Perih dirasa ketika ujung kuku si maling mengenai bagian dalam kemaluannya. Tak tahan dengan rasa tidak nyaman itu, tangannya bergerak untuk mencengkeram lengan Sadewa hingga ujung kuku miliknya menancap di kulit tannya.
Sadewa meringis, pasti akan membekas nantinya, “Kenapa, cantik?”
Dengan napas tersengal, Nakula usahakan tuk keluarkan suaranya, “Keluarin, sakit … nggak suka ….”
“Hm? Sakit?” diliriknya keempat jemari tangan kanannya, “Oh.”
Ditariknya tangan kanannya, ia bawa untuk menggantung kaki si cantik di bahu kanannya. Sementara kaki yang semula di bahu kiri ia turunkan dan ditahan dengan betis kirinya. Sama saja, hanya berbeda posisi kanan-kirinya. Telunjuknya kembali melesak ke dalam, mengundang lenguhan tipis dari Nakula.
“Udah enggak, ‘kan?”
Nakula tak bergeming. Lebih tepatnya, ia enggan untuk mengakui. Ia masih merasakan aneh di bawah sana walau terasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tetap saja, ia sangat tidak mau menerima fakta bahwa tubuhnya terasa enak disentuh oleh lelaki bejat ini.
“Maaf ya, cantik. Nanti kukunya gue potong biar nggak sakit lagi.”
Apa katanya? Nanti? Lagi? Dalam diamnya, Nakula hanya mampu merespon dengan mendengus lemah. Lagi pula, pikirnya siapa yang sudi untuk melakukan hal seperti ini untuk kedua kalinya? Terlebih, dengan seseorang yang berniat mencuri barang dari kamarnya. Terlebih, ia dipaksa untuk menerima segala perlakuan si maling ini. Katakan padanya, siapa yang sudi?
Si cantik kembali menjerit ketika jari di bawah sana mulai bergerak keluar-masuk, “Ahk! Pe-pelan!”
Sadewa menyunggingkan seringai kemenangan. Si cantik sudah tak menunjukkan perlawanan lagi. Ia turuti dengan menggerakkan jari tengahnya perlahan. Ibu jarinya dipakai untuk mengusap klitoris Nakula.
Ketika jari tengah Sadewa turut masuk, racauan si cantik semakin kacau. Ia hanya tertawa dan semakin menambah kecepatan gerakan jarinya di dalam sana.
“M-ma-maukh kel—”
Tanpa menunggu puncak si cantik, Sadewa menarik jemarinya dari vaginanya. Nakula yang gagal meraih orgasme pun menatapnya dengan wajah linglung. Namun, samar ia rasakan sakit ketika benda tumpul milik si lelaki berkulit tan mendobrak masuk hingga menubruk titik Gräfenberg-nya. Klimaks yang semula gagal pun ia dapatkan.
Batang kemaluan Sadewa terasa sangat basah, “Baru masuk, cantik. Masa udah keluar?”
Napas Nakula terengah-engah. Sungguh, perasaannya menumpuk tak karuan. Amarah, takut, kecewa, malu, dan jijik. Semua bercampur menjadi satu. Terlebih, bagaimana tubuhnya merasa keenakan membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.
Sadewa hendak menarik pinggulnya ke belakang. Ia belum banyak bergerak ketika Nakula memukul salah satu tangannya yang mencengkeram pinggangnya. Sebelah alisnya naik, menatap si cantik dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa, cantik?”
Nakula tak langsung menjawab. Napasnya masih belum stabil selepas ia mendapatkan puncak kedua. Tenggorokannya terasa kering, ia haus. Dirinya baru saja keluar dan lelaki bejat di depannya ini mau langsung menumbuk habis lubangnya? Dasar gila, orang gila.
“Ja-jangan ge-rak,” suaranya serak, terlalu banyak berteriak, “h-ha-us.”
Si maling mendecak, tetapi tangannya melepas pinggang si cantik untuk mengambil ranselnya yang ia jatuhkan di lantai. Dibukanya ransel itu, tangannya masuk mengobrak-abrik mencari barang yang ia cari. Sebotol air mineral ia keluarkan dari sana.
Sadewa membuka tutupnya, “Buka mulutnya, cantik.”
Tanpa pikir panjang, Nakula membuka mulutnya. Ia berekspektasi bibirnya akan menyentuh dengan bibir botol bening itu, tetapi ia salah kaprah. Bukannya bibir botol, melainkan bibir Sadewa yang menyentuh bibirnya.
Air dari mulut si lelaki bejat itu berpindah ke mulutnya. Susah payah ia berusaha menelan air itu. Wajahnya tampak lebih tenang setelah menelan beberapa teguk air. Namun, merasa pinggul lelaki di atasnya mulai bergerak, Nakula dengan panik memukul dada lelaki itu dengan sisa tenaganya.
“Kenapa lagi, cantik?” ia menatap sebal, “gue udah nurutin lu dari tadi, mau apa lagi?”
“Pi-pintu ….”
“Hm?”
Nakula menutup wajahnya, “Tutup pintunya, Mas!”
Sadewa menoleh. Sialan, ia bahkan baru sadar pintu kosan sepetak ini bahkan tidak tertutup sejak tadi. Jadi suara racauan cantiknya tadi terdengar hingga lorong depan? Ah, brengsek. Ia tak rela membagi suara indah si cantik dengan yang lain.
“Ngapain ditutup? Bukannya lu seneng kalau ada yang denger desahan lu?” Ia menggeram.
Tak berselang lama, spekulasinya seakan dibuktikan langsung oleh empunya tubuh di bawahnya, “Kan … memek lu makin jepit kontol gue.”
“Tutup, Mas …,” rengeknya, “ada ibu kos di depan.”
Jelas mendengar julukan keramat itu membuat diri Sadewa sedikit takut. Bagaimanapun juga, ia sudah membobol beberapa pintu kosan sebelum berakhir menggagahi cantiknya. Lagi pula, ia tak mau dipergok saat puncak pun masih belum didapatnya.
Jadi ia angkat tubuh Nakula yang mendesah karena batang kemaluannya masuk semakin dalam, “Coba lu yang tutup.”
Tubuh itu ia gendong, dibawanya ke pintu kamar. Ia menurunkan Nakula tepat di depan pintu. Kaki si cantik gemetar, bahkan hampir oleng jikalau pinggangnya tak ditahan oleh Sadewa. Begitu cantiknya menutup pintu, ia mencengkeram pinggangnya dan ditarik hingga kejantanannya kembali melesak ke dalam.
“M-Mas, se-sebentar!”
Seakan tuli, Sadewa menumbuk lubang sanggama si cantik tanpa ampun. Sialan, mendengar bibir ranum itu memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ sudah membuat nafsunya membuncah. Bahkan ia tidak sadar sedari tadi penisnya membesar hanya karena sebutan ‘Mas’ dari cantiknya.
“Mas—ahhk! S-stop! Stop dulu! Ahh!” Nakula meremas cengkeraman tangan di pinggangnya, “ma-mau pipish—aa-ahhk! Mas!”
“Pipisin aja pintu kamar lu.”
Nakula tidak kuat. Tubuhnya terhentak-hentak karena dorongan kasar Sadewa yang semakin kencang. Tak jarang kepalanya berbenturan dengan pintu kamarnya. Sungguh, ia tak bisa menerima perlakuan seperti ini. Penisnya sudah tak tahan untuk mengeluarkan muatan air seni yang tertahan.
“Mas! Mas! Ahhk!”
Batang menjulang miliknya memancurkan air berwarna kuning transparan, membasahi pintu coklat kamar kosannya. Bau aring tercium oleh penghidu keduanya. Nakula menutupi wajahnya. Malu, ia sangat malu. Sedangkan lelaki di belakangnya hanya tertawa melihat betapa kacaunya pemandangan di depannya. Gerakan pinggulnya semakin ia tambah kecepatannya.
“Ndhuk?”
Tubuh Nakula menegang. Sial, itu suara ibu kosnya! Samar ia mendengar suara sandal jepit yang diseret menyusuri lorong lantai dua. Panik, ia memukul-mukul Sadewa yang tak bergeming mendengar suara wanita itu. Justru goyangannya semakin keras. Sialan memang lelaki ini.
“Ndhuk, kamu di kamar?”
Sadewa menggeram, ia memposisikan bibirnya di telinga si cantik, “Dijawab dulu, ibu kos lu nanyain.”
Gila, ya?
“M-Mas, s-stop dulu—ahh!” Nakula berbisik, “please, stop d-dulu.”
“Jawab, sayang.”
Merasa tak akan menang, Nakula mengalah.
“Ke-kenapa, Bu? Ahhk!”
Nakula sontak menutup mulutnya. Sialan, kenapa titik nikmatnya ditemukan pada waktu yang tidak tepat? Ia melirik ke belakang. Lelaki itu tengah tersenyum dengan wajah cabulnya. Dengan sengaja terus menumbuk titik itu berkali-kali sampai-sampai ia nyaris kehilangan akalnya.
“Kamu kenapa, Ndhuk? Tadi kata bapak ada dengar kamu teriak dari bawah.”
“Eng-nggak apa, Bu. Ta-tadi cum-ahh keco-ahk—ter-bangh.”
Tok tok tok
“Ndhuk, mau dibantu nangkep kecoanya?”
Nakula menggeleng. Sungguh, Sadewa tak memberi kelonggaran sedikitpun padanya. Kedua kelaminnya sudah di ambang batas, sementara lelaki di belakangnya seperti orang kesetanan menggempur lubangnya. Tangannya yang sebelah pun sibuk mengurut penisnya. Bukan main rasanya. Nakula serasa dibawa terbang ke angkasa.
“Ndhuk, gimana?”
“Ahh! Eng-enggak, Bu! Sa-saya b-bisa sendiri.”
“Bener, Ndhuk?”
“I-yah, Bu!”
“Ya udah, ibu turun ya, Ndhuk? Kalau ada apa-apa bilang ibu atau bapak. Ibu mau arisan dulu di tempat Bu RT.”
Nakula tak lagi menjawab. Ia mendengar derap langkah ibu kosnya yang semakin menjauh. Merasa lega, desahan yang ia tahan selama beberapa menit itu keluar dengan bebas.
“Mas! Mas! Ma-mau kel—ahh ahh!”
Si cantik temui puncaknya yang ketiga. Namun, orgasmenya kali ini tak berhenti secepat itu. Putih terus keluar dari penisnya karena diberi stimulasi tanpa henti di lubangnya. Klimaksnya baru berhenti ketika kesadarannya perlahan menurun.
Sadewa tak mempedulikan kondisi Nakula yang sudah di ambang batasnya. Ia semakin mempercepat gerak pinggulnya hingga klimaks pun ia dapatkan. Penisnya ia hentakkan jauh ke dalam. Benihnya menyembur memenuhi rahim si cantik hingga sebagian merembes ke paha mereka.
Napasnya tak beraturan. Sebelah tangannya menopang tubuhnya di pintu, sementara yang satu menahan tubuh Nakula. Diliriknya si cantik yang sudah tak sadarkan diri. Ia menciumi pipi mulus cantiknya yang memiliki jejak air mata.
Setelah napasnya mulai teratur, Sadewa membawa si cantik kembali ke kasur. Ia merebahkan tubuh itu, mengatur posisi ternyaman untuk cantiknya. Helaan napas keluar dari mulutnya. Ditatapnya lamat-lamat wajah cantik itu, ia usap surai biru yang kini sudah basah oleh keringat.
Cantik, cantik sekali. Ia ingin memiliki si cantik seutuhnya. Namun, Sadewa sadar, hal itu tidaklah mungkin. Si cantik pasti sangatlah membenci dirinya. Ia hanyalah seorang maling. Seorang pemerkosa. Seseorang yang bejat seperti dirinya tak pantas memiliki makhluk secantik Nakula.
Diambilnya celana pendek biru muda milik si cantik, ia pasangkan kembali dengan hati-hati. Kaos putih basah yang masih melekat di tubuh Nakula ia lepas, digantinya dengan kaos hitam polos yang ia ambil dari tumpukan pakaian di karpet.
Lelaki itu berdiri, merapikan kembali pakaiannya, lalu mengambil ransel yang tergeletak di lantai. Ia sempat melirik ke arah si cantik sebelum berjalan ke arah pintu. Ia terdiam sejenak. Ditatapnya kembali Nakula yang terlelap di atas kasurnya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
Sadewa menggertakkan giginya. Langkah kakinya menghentak keras di atas tanah. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lakukan di kamar korbannya. Bejat sekali dirinya. Sudah menyetubuhi tanpa persetujuan, lalu ia tinggalkan begitu saja.
Niat hati, ia sekadar ingin mencuri beberapa benda berharga untuk ia jual. Lalu uang itu ia gunakan untuk membayar utang orang tuanya yang dilimpahkan pada dirinya.
Nakula terbangun dalam keadaan tubuhnya yang remuk. Ia memaksakan diri untuk duduk, berusaha untuk mengabaikan sakit di bawahnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri dengan linglung.
“Mas?”
Tak ada jawaban. Dia sudah pergi. Lelaki yang memperkosanya meninggalkan dirinya begitu saja. Air matanya jatuh begitu saja. Sialan, lelaki brengsek itu berhasil membuat dirinya hancur.
“Mas … Mas …,” ia meracau tak jelas, “sakit ….”
“Jijik …,” Nakula menjambak surainya yang sudah berantakan, “jijik banget, jijik.”
Keperawanannya diambil, sementara pelakunya entah pergi kemana. Tangan Nakula bergerak menyentuh perutnya, ia mengelus perutnya yang rata. Benih lelaki itu tertanam di dalamnya. Sialan, bagaimana kelangsungan hidupnya ke depan?
Semalaman Nakula habiskan untuk menangis. Sial, sungguh sial hidupnya.
Nakula menghela napas. Ia tak tahu keputusannya untuk pindah kosan adalah keputusan yang tepat atau tidak. Dua hari yang lalu ia menghubungi temannya untuk menanyakan apakah ada kamar di kosan temannya itu yang masing kosong. Begitu mendapat kepastian, ia segera pindah pada saat itu juga.
Seminggu berlalu setelah kemalangan yang ia alami, ia putuskan untuk meninggalkan kosannya yang penuh akan kenangan buruk. Tak begitu buruk, sebenarnya. Ia justru dihantui oleh rasa nikmat yang masih terbayang oleh tubuhnya.
“Brengsek lu, Mas,” gumam Nakula sembari menyeka air yang keluar dari lubang sanggamanya dengan tisu
“Ini gimana gue mau lupa?”
Ini adalah hari keduanya tinggal di kosan itu. Namun, bayang-bayang akan digagahi seorang maling di kosan lamanya masih tak kunjung musnah dari ingatannya. Ia menjadi memiliki kebiasaan menyentuh dirinya semenjak hari itu. Tetap saja, jemarinya sendiri tidak cukup.
Lagi-lagi, Nakula menghela napas. Dibuangnya tisu itu ke tempat sampah yang dibelikan oleh temannya. Katanya, pemilik kos di sana sedikit gila kebersihan, jadi ia menurut saja. Ia mengambil ponsel dan hoodie dari mejanya, lalu meninggalkan kamarnya.
Nakula lapar, ia belum makan sejak semalam. Seingatnya, kali terakhir ia makan adalah kemarin siang, ketika dirinya dan barang-barangnya baru tiba di kosan barunya. Ia sibuk membereskan barang-barangnya yang ia bawa dari kosan lama, bahkan ia tak sempat untuk sekadar membeli beras atau mie instan.
Dengan langkah malas, ia melangkah sembari menendang bebatuan kerikil di pinggir jalan. Warung terdekat dari kosannya ada di gang ujung, ia harus melewati dua gang dari kosannya.
“Ibu, mau beli mie rebus lima bungkus, telur sekilo, sama beras seliter ya.”
“Iya Neng, sebentar ya.”
Nakula membalas senyuman ibu itu dengan senyuman ramah. Ia melihat ke sekitar, banyak kosan dan kontrakan yang berjejer di lingkungan ini. Herannya, warung yang buka hanya warung ini. Maklum, warung madura. Ia mendekat ke arah ibu warung ketika dirinya dipanggil, sedikit agak masuk ke dalam.
“Ini Neng, totalnya 60 ribu,” kata ibu itu sembari menyerahkan dua kantong plastik berwarna hitam.
Nakula menyerahkan selembar uang biru dan selembar uang ungu, “Ini ya, Bu.”
“Pas ya, Neng.”
“Makasih Ibu.”
Sebelum sempat Nakula berbalik, ia mendengar suara yang familiar di belakangnya. Suara yang selalu ia bayangkan selama seminggu belakangan.
“Ibu, mau rokok yang biasa.”
“Mas Dewa, baru pulang kamu?”
Lelaki itu tertawa, “Iya Bu, sa—”
Kepala Sadewa bagai dihantam dengan tabuh. Di depannya, berdiri lelaki cantik yang telah ia rusak seminggu yang lalu. Cantiknya yang pikirnya tak akan pernah ia temui lagi. Wajah itu sama terkejutnya dengan dirinya.
“I-Ibu, maaf, rokoknya nggak jadi. Baru inget kerjaan saya yang lain belum selesai.”
“Oh, iya, hati-hati ya, Mas!”
Sadewa buru-buru berbalik. Niatnya ingin segera meninggalkan tempat itu. Jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa bersalah. Namun, si cantik sudah meraih pergelangan tangannya, tak membiarkan dirinya untuk kabur.
“Mas …,” serak suara cantiknya, “jangan pergi.”
Nakula memutar otaknya. Apapun, apapun itu alasannya. Ia harus mengatakan alasan apapun untuk menahan lelaki ini. Hingga pada akhirnya, sebuah alasan muncul dalam otaknya.
“Mas, aku hamil.”
Sialan, bodoh sekali Nakula! Bukan begitu alasannya!
