Actions

Work Header

Good Boy Gone Mad

Summary:

Pertunangan yang dibatalkan sepihak menumbuhkan trauma mendalam bagi Huang Renjun yang keburu percaya tentang cinta. Empat tahun berlalu, ia menemukan fakta bahwa perebut tunangannya waktu itu adalah suami bosnya di kantor. Oh, ini saat yang tepat untuk balas dendam.

Notes:

aku up disini karena ada chapter yang mau ditambahin scene baru hehe.

Chapter 1: Prologue

Chapter Text

⚠️ : boyslove ; office!au ; slow burn ; failed engagement ; ceo!jeno ; secretary!renjun ; good girl gone bad versi 30 tahun kemudian ; perselingkuhan ; perceraian ; bahasa kasar ; bahasa non baku ; mpreg ; ntar ditambahin seiring berjalannya cerita ; resiko tanggung ndiri!!


.

.

.

***

[Tentang Kisah Cinta Renjun dan Pawat]

.

.

.

Taman kota menyimpan banyak cerita. Ada kisah sedih seorang anak yang merengek minta dibelikan balon tapi tidak digubris orang tua. Ada kisah lucu seorang remaja tak sengaja tergelincir ke air mancur saat foto-foto bersama teman. Ada juga kisah bahagia sepasang kekasih yang sedang berkencan sambil makan permen kapas berukuran dua kali lipat dari muka sendiri sambil menertawakan si remaja yang jatuh basah kuyup sebadanan.

Lagi asyik-asyiknya mengoloki remaja emo bersama, situasi di antara mereka tiba-tiba hening seketika. Entah apa yang ada di pikiran Renjun kala menemukan kekasihnya berlutut di hadapan sewaktu mereka masih menikmati kudapan permen kapas dekat Paklek yang jualan. Pastinya si Paman agak bingung melihat Pawat tiada angin hujan badai Katrina langsung menumpu satu lutut sembari mengeluarkan sebuah cincin dari saku jaket denimnya. Dimana ia mengulas senyum tampan bin green flag sementara Renjun melongo dengan bibir belepotan kapas merah muda.

"Apa ini Sayang?"

"Huang Renjun, aku tahu kita udah lama pacaran dari awal kuliah, aku tahu kita mungkin belum cukup dewasa buat membangun rumah tangga, tapi aku yakin aku cuman mau hidup menua sama kamu, jadi.. kamu mau nggak nikah sama aku?"

Bukan hanya Renjun yang terkesiap akan sebuah permintaan, Paklek permen kapas pun terdengar haaaahhh juga di sekitar mereka lantaran menyaksikan momen kedua sejoli itu dengan mata telanjang.

"Hah? Kamu serius? Kamu nggak kesurupan kan, Mas?"

Pawat terkikik seraya geleng-geleng kecil, tampan bersahaja dengan cincin di antara jepitan ibu jari dan telunjuk. "Nggak dong, Sayang. Kayaknya yang kesurupan malah Paklek permen deh, tuh lihat daritadi cengo nggak tutup mulut, padahal kan kamu yang Mas lamar." Kedua sejoli refleks menoleh ke penjual permen kapas yang buru-buru mengatupkan rahang sebab malu ditangkap basah curi-curi dengar.

Renjun ikut cekikikan, bias mentari sore menyinari paras ayunya sehingga makin wow gitu kita lihat saat menyengir lebar. Dia pun mengangguk antusias, meraih Pawat agar dapat dipeluk erat, hangat melingkupi sekujur badan. "Mau. Aku mau nikah sama Mas!"

Lelaki setinggi tiang tersebut mendekap tak kalah erat, menjepit dagu mungil pria rambut hitam, tidak mengacuhkan bibir merah muda yang belepotan permen kapas. Pokoknya Pawat harus cium! Nggak boleh sedetik pun melewatkan kecupan di ranum Renjun yang waktu itu terasa manis melebihi gula.

Sinar matahari berubah jingga karena mau terbenam sedikit demi sedikit. Sepasang kekasih masih menikmati permen kapas kedua, memberi tip berlebihan kepada Paklek yang juga menyaksikan lamaran kecil-kecilan. Si Paman mengucapkan selamat, tentu saja Pawat dan Renjun ikut berbahagia.

Sebagai anak tunggal Huang yang akan menikahi anak sulung keluarga Chittsawangdee, kabar lamaran sederhana tersebut harus dirayakan besar-besaran. Apalagi mereka berdua sama-sama turunan Tionghoa, walau berbeda daerah. Pihak keluarga bersuka cita menerima berita, suatu hari nanti tidak hanya mempererat tali kekeluargaan tetapi relasi bisnis jua.

Kekayaan Keluarga Huang cukup terkenal di Hongkong. Ekspansi penjualan produk rumah tangga -kalau kita di Indonesia bilangnya Mr. DeAyWay atau Azeuko- sudah membuka cabang di daratan Cina maupun Asia lainnya. Perusahaan yang dinamakan mirip-mirip Renjun selaku pewaris tunggal pastinya dikenal oleh penduduk sekitar sebagai toko perlengkapan rumah tangga paling lengkap dan terjangkau.

Usaha Chittsawangdee pun tidak kalah jor-joran. Selain terfokus pada toko pakaian yang bersaing dengan Unik-loo, mereka juga punya toko perintilan-perintilan lucu sejenis Mini-so dengan nama Maximo, menjual berbagai macam barang, dari kosmetik, skincare, bahkan tas-tas impor Thailand pun ditampilin semua.

Gimana nggak jor-joran juga pertunangannya!

Meski terlahir menjadi anak orang berada, Renjun memang suka hidup foya-foya.

Kenapa? Mau mikir hidup Renjun sederhana seperti koko-koko oriental pada umumnya? Atau malah menduga Renjun berkunjung ke bank prioritas cuman pakai celana pendek dan sendal jepit lama? No. No. No. Suko hajima no no no.

Renjun punya selemari tas Hermes ya. Nggak usah ngadi-ngadi mengira Renjun ketinggalan berita tas baru. Dia itu salah satu member elit bersama sang Ibu. Mereka berdua suka belanja dengan selera masing-masing, tanpa mempedulikan harga yang membuat kita memekik nyaring.

Pawat dan Renjun berada di satu kampus yang sama hanya berbeda tingkat. Tentu Pawat bisa dibilang kakak kelas Renjun, menaksir si mahasiswa baru yang celingak-celinguk lucu mencari kelas, melempar jurus modus membantu mengantarkan ke tempat tujuan. Berakhir kenalan, pendekatan, hingga akhirnya berkencan sampai mereka lulus samaan.

Usia Renjun 22 tahun, dan Pawat 23 tahun. Ulang tahun mereka hanya berbeda sehari, untuk itu pertunangan resmi dilaksanakan sebulan setelah mereka merayakan hari lahir.

"Aduh, cantik banget calon suamiku."

Renjun mencubit pinggang Pawat main-main sembari tersipu malu. Kalau tenaga dia cukup, mungkin dada bidang kekasihnya kena sikut sampai semaput. "Apa sih Mas."

"Loh, Mas muji kamu, Dek. Masa kayak cacing kremi gitu? Gimana nanti kalo kita serumah?" goda Pawat menaik-turunkan alis. Saat ini mereka tengah mempersiapkan diri menuju panggung. Rambut diatur sedemikian rupa, setelan kemeja hitam dengan dua kancing terbuka untuk Pawat dan kemeja sutra merah untuk figur ramping Renjun.

Kedua sejoli meneriakkan kesan pasangan paling sempurna di mata publik.

Putra pertama pemilik CSD Group bersanding dengan putra semata wayang R&J Corp di panggung super meriah dalam pelaksanaan acara pertunangan mereka. Ekspresi kebahagiaan menular ke seluruh tamu hadirin/hadirat rahimakumullah, menyematkan cincin berbahan emas putih sebesar 17 karat di jemari manis sebelah kiri. Berdiri sampingan saling berdempetan pundak, memamerkan simbol komitmen kepada kamera disertai senyum tak kalah lebar.

"Cium! Cium! Cium!"

Seruan Tanat selaku adik Pawat membuncah hiruk pikuk suasana. Renjun melotot main-main pada calon adik ipar sementara Pawat sudah duluan merengkuh pinggang langsingnya agar bibir mereka saling bertautan walau sebentar.

Riuh tamu undangan meramaikan acara setelah ranum berkaitan mesra sekitar lima detik saja. Manik Pawat sangat indah saat bertemu netra Renjun yang berkilau bak bintang kejora seiring senyum tak pernah terhapus dari wajah.

Satu hal yang Renjun sadari malam itu, dia sangat mencintai lelaki yang akan naik level jadi suaminya.

***

.

.

.

***

Bull.shit.

Acara pernikahan diadakan lima bulan usai pertunangan terlaksana. Sepasang kekasih sebisa mungkin mengatur waktu antara kesibukan menjadi penerus usaha, merencanakan agenda mencari gedung, mengurus pakaian, pendaftaran nikah di kantor pencatatan, dan lain sebagainya.

Renjun capek, Renjun bilang.

Di sela-sela mengatur jadwal kunjungan ke cabang Round&Jar bersama sang ayah nanti, dia dapat telepon dari pihak sana-sini perihal apapun yang berhubungan sama acara resepsi. Keluarga Pawat mau ada tradisi ini, keluarga Mama Pawat mau ada acara begini, Nenek Pawat dari Papanya pun juga punya usulan begitu. Dia jadi keki sendiri, sebab merasa cuman dia yang menggarap seorang diri.

"Mas, sibuk banget ya jadi nggak angkat telepon Mama?"

"Iya, Dek. Tadi ada meeting bentar, kenapa? Mama minta apa sama kamu?"

Renjun mengurut kening sejenak, helaan napas pendek tertangkap jelas di kuping Pawat sehingga lelaki di sambungan seberang bertanya hati-hati, "Sayang? Lagi capek ya?"

"Banget. Kepalaku pening sama permintaan keluarga kamu."

"Kalau nggak bisa, nggak usah dipaksa, Dek." jawab Pawat, Renjun sedikit terhenyak saat mendengar, kemudian menarik napas panjang lalu dihembuskan pelan-pelan. "yang nikah kan kita, kalau ngikutin mereka terus malah kita yang bakal capek sendiri."

"Ya Mas-lah ngomong sama Papa Mama, nggak perlu merongrong aku dong! Memangnya aku cuman ngurusin ini doang?!"

"Dek, kok jadi marah-marah? Mas kan bilang baik-baik toh."

Renjun berdecak dalam volume kecil, biar tidak menambah bahan pemicu argumen tidak penting. "Nggak tau ah Mas, aku capek."

"Loh? Jadi Adek maunya gimana?"

"Aku mau Mas juga ikut andil ngurusin acara ini sama-sama aku, Mas. Bukan malah ambil kerjaan seabrek-abreknya terus pergi ke luar negeri begitu aja. Kita tinggal hitungan bulan lagi loh, Mas. Mas ini niat nggak sih nikahin aku?" daripada dia mendem, mending dia cerocos sekalian biar Pawat tahu mana urusan yang perlu diprioritaskan. Gila nih orang! Habis nentuin tanggal nikah kok main tinggal ke luar negeri dengan alasan mau buka cabang baru. Emangnya Renjun pengangguran apa?!

"Ya ampun, Dek. Kamu kok ngerasa Mas nggak niat sih? Ya iya Mas niat nikahin kamu, cuman timing lagi untung-untungnya nih, harus dikejar dulu sebelum kita nikah nanti."

"Ah terserah deh Mas! Aku tutup!"

"Eh Dek ja-" tut tut tutSiapa mau kentut (?). Renjun keburu kesal duluan berujung memutus sambungan daripada dia makin jemu. Alasan klasik Pawat membuat emosi naik turun, akhirnya memblokir semua kontak keluarga CSD buat sementara waktu.

Pawpaw🐶
mas pulang besok, kita harus ketemu

Me
y

Pawpaw🐶
adek kita lagi jauhan nih
jangan nambahin api deh

Renjun mendengus sekeras-kerasnya kemudian mematikan ponsel seorang biar tiada yang dapat menjangkau dirinya. Berkas-berkas di meja segera ia selesaikan lantaran hendak langsung melempar badan ke ranjang.

Cobaan sebelum menikah pasti ada. Renjun percaya dia lagi diuji sama Tuhan, ikhlas nggak nih mau hidup semari sama Pawat? Masa baru disentil dikit perkara keriweuhan keluarga calon aja sudah mencak-mencak capek? Gimana pas serumah?

Ketika Pawat pulang dari Beijing, mereka ketemu dan berbaikan. Renjun dapat tas Chanel terbaru sebagai sogokan, dan Pawat dapat lubang surgawi setelah seminggu tidak bercengkrama. Seks tetap berjalan di antara mereka, mungkin akan ditunda sebulan sebelum nikah biar tidak kelihatan nafsuan.

Waktu tinggal menunggu dua bulan, Renjun merasa persiapan sudah selesai dan tinggal memeriksa ulang sekitar dua minggu atau seminggu untuk memastikan tidak ada komponen yang berpotensi mengacaukan.

Kecuali satu.

Kehadiran orang ketiga.

"Maaf, Dek. Kayaknya kita batalin aja nikahnya. Mas jatuh cinta sama orang lain."

Baru kali ini Renjun punya keinginan menjambak rambut hitam Pawat. Baru kali ini Renjun punya niatan menginjak kaki sang tunangan sekeras-kerasnya bila perlu sampai gepeng rata tanah. Baru kali ini telinga Renjun mengeluarkan asap, muka memerah, lalu pita suara akhirnya meledak.

"DASAR COWOK GILA! KAMU PIKIR SEMUDAH ITU BATALIN PERTUNANGAN KITA?! SIALAN! COWOK ANJING BABI ASU DEDEMIT VALAK! MATI NGGAK?! MATI SANA PAWAAAATTTTT!!!"

Pengunjung restoran tempat Pawat mengajak ketemuan karena ingin membahas sesuatu yang menggelitik sanubari sejak pulang perjalanan bisnis dari Thailand, berubah ricuh sesudah Renjun menaikkan oktaf suara. Bersyukur kaca jendela tidak pecah berkeping-keping, hanya ada retak sedikit, dan gendang telinga mereka mendadak pengang terhadap jeritan marah.

"KUSUMPAHIN KAMU NGGAK EREKSI!"

"Eh?! Eh Dek, jangan gitu dong!"

"BODO ANJING! BIARIN! BIARIN KAMU LETOY SELAMANYA!" teriakan Renjun disertai api merah kejinggaan membara di sekeliling tubuh pendeknya melesat pergi meninggalkan Pawat yang termangu-mangu di meja pesanan mereka. Renjun berhasil mendapatkan taksi, membanting pintu sekencang mungkin kemudian menyuruh sang supir mengemudi ke tempat paling jauh.

"Tapi bayarannya nanti mahal loh, Mas."

"Pak, Bapak mau saya beliin nyawanya? Nggak usah banyak cincong deh, cepat injak gasnya sebelum saya tambah ngamuk, ya?!" Supir taksi buru-buru menginjak pedal gas sehabis diancam pakai raut muka ingin memakan manusia. Beliau juga melirik ke tas Hermes Renjun yang berkilauan, sudah pasti memang bisa membeli nyawa orang jika ia nekat.

Sepanjang perjalanan, Renjun menangis dalam diam. Air mata terus berguguran, jantung memompa darah lebih lamban seiring bibir gemetar spontan digigit agar tidak terlalu ditampakkan. Dia benar-benar hancur. Separuh jiwanya seolah dicabik-cabik Pawat secara brutal, menyisakan perih dibubuhi perasan jeruk nipis serta ditaburi garam Himalaya.

Malam itu Renjun tidak pulang. Benar menyewa supir taksi sebagai supir pribadi yang membawanya kemana-mana sesuai keinginan. Kalau lapar mereka makan berdua, kalau pengen buang air, mereka berhenti di rest area.

Pak supir penasaran sama kondisi Renjun sekarang, tetapi mengurungkan niat bertanya daripada nyawa dia beneran dibeli sama lelaki yang menumpang.

Berita pembatalan sepihak mengundang amarah masing-masing keluarga. Pembayaran gedung tidak diselesaikan, akhirnya DP hangus tidak bisa ditarik ulang. Dekorasi pelaminan, pakaian buatan desainer terkenal juga mesti dibatalkan. Keluarga Pawat berulang kali meminta maaf atas kelakuan impulsif putra sulung mereka namun keluarga Huang angkat tangan lantaran bukan mereka yang harus memaafkan.

"Aku ke Seoul ya Pa."

"Hah? Tiba-tiba?" Papa Huang terkejut mendengar anaknya mau bepergian setelah huru-hara batalnya pertunangan menyebar bak gosip hangat. Mama Huang pun juga sama kagoknya, meminta Renjun menjelaskan maksud dan niat yang mendadak.

"Nggak tau pengen merantau aja, boleh ya? Renjun capek banget nih ngurusin usaha Papa." keluh sang putra sesekali menyandarkan kepala di bahu Mama Huang, minta dielus atau paling nggak dikecup-kecup biar peningnya hilang.

"Ya sudah deh, hati-hati kalau gitu. Jangan lupa hubungin Papa sama Mama pas udah sampai di sana. Kalau butuh apa-apa, telepon Papa biar Papa urusin semuanya, oke?"

Renjun hanya menggumam mengiyakan, menerima kecupan hangat di puncak berambut hitam kemudian memeluk kedua orang tuanya erat. Entah kenapa saat ini dia ingin minggat sementara waktu agar meringankan beban di kepala. Kejadian mengenaskan yang dialami, berhasil menutup hati buat mempercayai orang lain selain keluarganya. Lelaki cantik itu membuat kesimpulan, tidak selamanya orang yang disayangi atas dasar cinta memiliki niat tulus dalam hubungan. Tapi karena dia bukan penganut drama, dan dia juga orangnya anti-drama mending dia melengos kabur ke kota orang buat menata hidup dan melupakan sosok Pawat.

Memang begitu ya ternyata kalau anak tunggal kaya raya patah hati, move on-nya pakai cara angkat kaki ke negara lain. Renjun tidak perlu menunggu waktu lama buat berangkat, begitu perizinan visa dikabulkan, ia sudah siap lahir batin mengembara ke tempat perantauan.

Ladang peluang bersenang-senang, Huang Renjun datang!

"Makan tuh cinta! Tai pun jadi cokelat kalau lagi tergila-gila." - quotes by Renjun.

***

.

.

.

***