Actions

Work Header

Sail Into The Stars

Summary:

“Masih untung aku tolongin, kalo enggak—hiiih! Nggak tau deh.”

“Kamu... bawel banget. Berisik kayak bebek.”

Syok cowok itu berganti dari raut kaget menjadi kerucut bibir menyebalkan—nggak cocok sama sekali dengan ukuran tubuhnya dan aroma cendana yang menguar tajam di penjuru apartemen ini. Yang kalau diperhatikan dalam ruangan terang dengan cahaya matahari pagi menyelinap dari bentangan jendela ceiling-to-floor unit ini cuma memperjelas kalau bocah yang membuat Soonyoung kesal sejak kemarin hanyalah alpha tanggung.

Notes:

debut ABOverse perdana bleustars dan hasil eksperimen menarasikan isi kepala karakter dengan lebih ekspresif yang kayaknya... jadi lebih meriah buat dibaca?

disclaimer// younger!mg x older!sy. mentioned past relationship. implied self-harm, alcoholism, and depression. kind of strangers-to-lovers trope but i haven't planned anything yet. (very) slight local profanities usage. Mingyu is around... 22? Soonyoung is 36. they have mutual attraction btw. that's all, enjoy! :]

title from Sweet Bird by Slot Machine.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

ᯓ★

 

Ditengah desperasi yang mendera masa kritis omega usia jelang akhir tiga puluhan, Soonyoung nyaris sinting berpikir mungkin ini memang salahnya.

Persetan standar sosial dan hierarkis gender kedua yang mereduksi cara berpikir manusia jadi terlalu sempit itu.

Keluarganya memang nggak pernah benar-benar menekan kapan Soonyoung harus settle down dan berkeluarga, tetapi justru itu! Soonyoung merasa dua kali lipat lebih stress tanpa ada kesempatan konfrontasi dramatis yang melegakan hati dan jadi alasan buat kabur dari orang tuanya.

Semua orang setia mengafirmasi dengan senyum tenang di wajah, mengatakan nggak perlu terburu-buru soal memilih pasangan atau melihat pernikahan sebagai kewajiban. Yang terburuk adalah mereka nggak pernah tahu se-amburadul apa kisah asmara Soonyoung di umur tiga puluh enamnya tahun ini.

Soonyoung mengetuk-ngetuk keningnya ke pintu apartemen yang belum dia buka. Sisa pening yang dia bawa pulang dari bridal shower Chan berkali lipat lebih parah sebab Soonyoung setengah mabuk—menawarkan diri buat menengak setiap gelas champagne yang nggak bisa Chan minum karena cowok itu sedang berbadan dua. 

Hah! The shotgun marriage or whatever they called it. Soonyoung berbahagia sekaligus gundah merana melihat satu-satunya sahabat omega yang masih melajang akhirnya menikah juga. Sekarang tinggal Soonyoung dan peruntungan sial asmara sendiri buat mengeja hari-hari resah pasca patah hatinya kini.

Pola kunci apartemennya berdenting menolak terbuka, sekali lagi Soonyoung coba sampai nihil kembali berkedip-kedip gagal dan membuatnya cuma bisa mengerang jengah. Omega itu menyandarkan punggung pada pintu, merosot luruh duduk di lantai sambil memijiti pelipisnya sendiri. 

Soonyoung juga pengen. Pengen banget malahan. Punya seseorang buat bernaung pulang sebagai rumah, berkeluarga, menjalani hidup yang dia idam-idamkan hasil dibesarkan dari pasangan orang tua alpha-omega. 

Haduh! Mengapa Soonyoung harus dibesarkan dalam keluarga yang menata tinggi ekspektasinya sebagai seorang omega? Segala cerminan yang dia inginkan selalu ada di depan matanya, tetapi begitu jauh buat dia raih karena… Soonyoung mungkin bukan omega yang para alpha cari di luaran sana.

Sifatnya jelek, egonya melebihi tiga alpha digabungkan dalam satu kepala—komentar beberapa mantan pacarnya dulu.

Soonyoung bukan pecinta romansa terbaik yang memungkinkannya punya radar mencari alpha manis dan berhati lembut. Keras kepala dan tinggi hatinya jadi magnet utama mengapa yang betah mengejar cinta Soonyoung hanyalah para alpha maupun beta egosentris dengan umur jauh lebih tua.

Soonyoung cuma butuh pemangsa dari segala pemangsa; yang paling tercium menyengat dan mendominasi, mapan serta punya segalanya. Bumerang telak buat Soonyoung di hari-hari berikutnya sebab omega dewasa yang terlalu sulit dijinakkan akhirnya akan kalah menjadi pecundang dalam permainan beracun para brengsek luaran sana.

'Saya nggak mau melanjutkan hubungan sama kamu, Soonyoung.' Suara itu menggema dalam ruang kepalanya, repetisi menyakitkan yang seolah menjadi tebusan kontan karma orang sepertinya. 'Kamu sadar kan salahnya dimana? Heat kamu udah stop tiga bulan, kamu udah nggak subur. Artinya kamu udah ketuaan buat saya. Nggak enak lagi, hahaha!'

Kepalan tangan Soonyoung memukul-mukul kepalanya sendiri, memaksa rekam benak itu buyar dengan respon sakit yang ia kirimkan. Cowok itu menengadah, membentur-benturkan belakang kepalanya ke pintu. Sial. Sial. Tua bangka sialan! Hela napas berat Soonyoung bergetar oleh sisa murka, memejam matanya erat dan berharap-harap sinting bisa blackout tanpa perlu memikirkan semua efek samping alkohol dalam orbit sistemnya sekarang.

“Woi!”

Suara itu memantul dari apitan dinding lorong penghubung antar pintu. Soonyoung mengangkat kepala, menoleh ke sisi asal suara. Pintu unit sebelahnya ditahan terbuka, cuma ada celinguk kepala yang berada di luar buat mengintip Soonyoung dengan raut merengut.

“Tolong ya jangan berisik. Aku mau belajar, besok masih ada ujian.”

Soonyoung berdecak, memutar matanya nggak kalah kesal. “Sorry!”

Sedetik kemudian Soonyoung melengos keras begitu mendengar pintu itu kembali ditarik menutup. Membuat runyam mood Soonyoung aja! Lagipula siapa yang peduli bocah itu perlu belajar atau… entahlah? Siapa yang peduli?! Soonyoung punya berkali lipat masalah dan ruwet kehidupan yang lebih pantas dipusingkan. 

“Fuck! Rasanya mau pecah kepalaku.” Soonyoung merangkak naik, memaksa kakinya berdiri tegak meski pandangannya masih berkunang-kunang.

Tangan cowok itu menekan-nekan pola kunci pintu apartemennya lagi, memukul-mukul layarnya yang berkedip-kedip menolak memberinya akses masuk. “Anjing! Sial banget hari ini!”

“Ekhem!” Dehem yang terlalu dipaksakan itu menyapa telinga Soonyoung.

Mata omega itu memicing terlempar ke unit sebelah kanannya, menatap sosok bersetelan piyama biru satin itu nggak kalah sengit. “Yang lain aja nggak keganggu, repot banget kamu!”

“Karena yang lain nggak protes, bukan berarti mereka nggak keganggu ya,” sanggah cowok itu tajam. “Harusnya Om yang malu, jam segini malah bikin rusuh aja.”

Om?! Mata Soonyoung membulat, bibirnya terbuka dan mengatup lagi tanpa bisa memproses reaksinya lebih cepat. Tangannya menekan-nekan layar pola kunci lagi, menghela napas keras-keras begitu berhasil membuka pintu unitnya sendiri.

Dengan sebelah tangan menahan daun pintu, Soonyoung menyahut balik cowok satunya dengan nggak kalah sewot. “Ya udah, sana masuk belajar lagi. Bocah!”

Soonyoung menutup pintu, mengentak-entak kakinya di lantai dan memaki lagi. Perasaannya yang udah kacau malah dibuat semakin berantakan oleh anak kecil.

Dasar bocah!

 

 

Satu, Soonyoung benci mengakui kalau belakangan ketergantungan alkohol jadi satu-satunya coping yang sukses mencegah banyak pikiran buruk kembali meracuni benak setelah dia menolak melanjutkan terapi.

Dua, mungkin peringatan Chan buat Soonyoung berhenti balik ke kelab busuk itu ada benarnya.

Tiga, Soonyoung benci. Benci sekali! Dirinya justru terhuyung di dalam lift dan nggak bisa bangun buat berjalan ke unitnya sendiri. Yang lebih buruk? Bocah yang berdebat dengannya minggu lalu justru berada dalam lift yang sama dengan Soonyoung. Mau ditaruh di mana mukanya sekarang?!

“Hei, Om.” Ujung Crocs biru elektrik cowok itu menendang-nendang pelan kaki Soonyoung yang tergolek sekaligus bantu menyadarkan omega satunya dari skenario tidur di tempat umum. “Bangun. Ganggu pemandangan aja.”

“Jangan kurang ajar kamu sama yang lebih tua,” hardik Soonyoung nggak segalak yang dia rencanakan dalam kepala. Seluruh tubuhnya terasa lunglai dengan migrain hebat seperti ada batu besar mengganjal dalam tengkoraknya. “Saya cuma istirahat.…”

“Heh.” Cowok itu melengos meledek, menggeleng kepalanya pelan sebelum berjalan keluar dari lift meninggalkan Soonyoung yang masih terduduk di lantai.

Punggung lebar itu jadi hal terakhir yang Soonyoung lihat sebelum kembali memejamkan mata.

 

 

Soonyoung bangun dengan jantung nyaris jungkir balik.

Tangannya menarik-narik ujung selimut, ngumpulin fabrik itu buat menutup diri sebagai reaksi defensif. Ini bukan unitnya. Sekali lagi, ini bukan apartemen Soonyoung! Cowok itu beringsut bangkit menoleh ke sana-kemari, mencari apapun yang bisa dia ambil buat dijadikan senjata.

“Oh, udah bangun—ASTAGA TUHAN!!” Sosok familiar itu berjongkok melindungi kepalanya dari lemparan bantal sofa yang melayang ke arahnya tanpa aba-aba. 

Sementara Soonyoung masih setengah duduk, menahan gulungan selimut buat menutupi tubuhnya yang—eeeh? Bajunya lengkap, terkancing utuh walau lecek dan ada noda liquor yang tumpah dari gelasnya tadi malam. 

“Bener-bener ya Om, masa akunya dilemparin?!” Cowok itu udah berdiri tegak dan menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dengan raut syok. “Masih untung aku tolongin, kalo enggak—hiiih! Nggak tau deh.”

“Kamu…” Soonyoung menatap cowok itu dengan alis bertaut menahan sakit kepala, suaranya masih serak dari sisa tidur. “...bawel banget. Berisik kayak bebek.”

Syok cowok itu berganti dari raut kaget menjadi kerucut bibir menyebalkan—nggak cocok sama sekali dengan ukuran tubuhnya dan aroma cendana yang menguar tajam di penjuru apartemen ini. Yang kalau diperhatikan dalam ruangan terang dengan cahaya matahari pagi menyelinap dari bentangan jendela ceiling-to-floor unit ini cuma memperjelas kalau bocah yang membuat Soonyoung kesal sejak kemarin hanyalah alpha tanggung.

Bukan kombinasi yang bagus, tentu aja. Cuma menambah kesal Soonyoung akan hierarkis gender kolot dan stigmatis sosial yang membuat hidupnya penuh sakit hati belakangan. 

“Ngapain kamu bawa saya ke unit kamu?” Tanya Soonyoung akhirnya, baru benar-benar duduk di sofa panjang ini sambil memijat pangkal hidung yang nyeri. “Kamu kan bisa panggil security. Saya juga ogah utang budi sama kamu.”

“Orang tua udah ditolongin masih banyak protes aja,” lengosnya dengan nada meledek. “Bersyukur Om makanya. Biar hidup nggak banyak masalah perlu mabok-mabokan terus.”

“Saya nggak suka ya kamu panggil kayak gitu!” Soonyoung menggeram galak. “Saya masih kemudaan buat jadi om kamu.”

“Emang iya?” Jawab cowok itu sambil melipat dua lengannya, nggak juga sadar justru membuat bisepnya menyembul makin menantang dari kausnya yang kekecilan itu. Persetan alpha belia dan fisik fantastis mereka! “Mau dipanggil apa dong? Aku kan nggak tau kamu masih muda, soalnya nggak keliatan sih dari mukanya.”

Sudut bibir Soonyoung berkedut mendengar intonasi sarkastik itu, buru-buru bangun dari sofa walau nyaris limbung lagi karena kepalanya masih berdenyut nyeri. “Saya… mau pulang.”

Mungkin hanya perasaan sepintas kilat atau cuma akal-akalan hangover Soonyoung yang mempermainkannya, tetapi raut cowok yang berdiri beberapa langkah darinya itu sedikit melunak. “Jalannya aja masih kayak gitu, mending duduk dulu. Jangan sok kuat.”

“Nggak, saya ada perlu di kantor—” Tangan Soonyoung menahan tembok, memaksa kakinya melangkah menuju pintu. 

Mendadak ada sebelah lengan melingkar membantu Soonyoung menegakkan tubuh, ada telapak tangan yang bernaung di pinggangnya sampai mereka melekat erat. Kepala Soonyoung menoleh, menatap sisi wajah cowok yang sekarang bantu memapahnya berjalan meski dia masih menggeleng-geleng dengan raut nggak habis pikir.

“Batu banget sih Om,” komentarnya singkat. Sejenak cowok itu menunduk, mengutip pantofel Soonyoung dari lantai dan menggeser sepasang sandal ke depan kaki Soonyoung. “Pake aja sendalnya, nggak perlu dibalikin.”

Penuh kontemplasi antara berjalan menyusuri debu lantai lorong dengan kaus kaki putihnya atau memakai sandal berbentuk karakter dari seri Pokémon itu—Soonyoung akhirnya menyerah, memakai sandal yang alpha itu sodorkan dan lanjut dipapah keluar. 

Soonyoung menerima uluran sepatunya dari tangan cowok itu begitu sampai di depan pintu unitnya sendiri. Sedikit lega karena nggak ada lagi panas tubuh sang alpha yang berjarak terlalu dekat dengannya. Soonyoung menatap balik wajah cowok itu, baru sadar perlu sedikit mendongak karena perbedaan kontras tinggi mereka. Cuih. Dasar alpha.

“Lain kali nggak perlu nolong saya lagi.” Pesan Soonyoung merasa serba salah perlu mengatakan apa tanpa mempertaruhkan harga dirinya. “Atau telpon aja security, daripada kamu ngeluh kayak nggak ikhlas nolongin saya.”

“Om,” panggil sosok itu dengan nada geli. “Gitu aja? Nggak ada makasih atau apa gitu? Nanyain nama saya atau basa-basi? Serius?”

Jenaka pertanyaan itu justru mengundang kerut kening Soonyoung makin berlipat. Omega itu menatap balik cowok di depannya mentah-mentah dengan rasa kesal dan langsung melengos lagi. “Kamu ini ya, kurang—”

“Kurang ajar, iya aku kurang ajar. Terus Om pantesnya disebut apa? Nggak tau terima kasih, gitu?” Sebelah alisnya ditarik naik, menyirat intensi menantang yang benar-benar membuat Soonyoung merasa panas dingin sendiri. 

“Stop panggil saya om!” 

“Lalu mau dipanggil siapa? Babe? Ay? Ganteng?”

Soonyoung mengerang kesal, berkebalikan dengan gelak tawa cowok satunya yang justru kelihatan puas dengan perdebatan mereka. Senyumnya terpatri sumringah dengan sepasang taring kecil mencuat dari balik bibir, sementara tangannya menopang kedua sisi pinggang sambil menatap Soonyoung dari atas ke bawah. “Tapi emang nggak cocok dipanggil om sih, harusnya Sayang aja ya?”

Ledek itu mengirim tangan Soonyoung bergerak secepat kilat memasukkan kode akses unitnya, meloloskan diri dan membanting pintu tepat di depan wajah bocah gila itu.

“Sayang! Kok ditutup pintunya?! Kamu aja belum tau namaku Mingyu kan, Yang!”

Soonyoung menggosok-gosok tubuhnya dengan telapak tangan, berupaya menyingkirkan gidik merinding sekaligus aroma cendana yang masih melekat di pakaiannya. 

“BOCAH SINTING!” 

 

 

Kalau ada yang bilang Soonyoung bertemu bocah sinting itu lagi dan harus membuka pintu apartemen buatnya—udah pasti Soonyoung ludahi bolak-balik dan tendang sampai ke ujung dunia.

Secara teori dan logika, mana mungkin ada skenario tolol yang membuat hati Soonyoung tergerak buat membiarkan cowok itu masuk ke tempat tinggalnya—bagian paling sakral milik omega lajang karena segala hal berkaitan dengan tatanan rumah juga terhitung sebagai sarang mereka.

Skenario terburuk yang membuat Soonyoung berteriak panik hari ini cuma ada satu. Keran airnya bocor dan saluran sink dapur ternyata mampet, sukses membuat genangan banjir mengalir sampai di luar pintu unitnya. Memalukan. Sangat, sangat memalukan!

“Jangan sembarangan buang bekas makanan ke sink makanya,” omel cowok itu sambil mengencangkan bagian pipa yang tadi dia buka. “Perasaanku ini common sense deh, minyak juga nggak boleh masuk saluran pembuangan apalagi di apartemen gini.”

“Iya, iya! Bawel, mulutmu perlu aku lakban apa gimana?” Gerutu Soonyoung nggak kalah dongkol—separuhnya merasa malu perlu melibatkan diri dengan cowok ini lagi dalam insiden paling konyol dalam hidupnya. 

Entah beruntung ada yang mau bantu menyelamatkan lantai mereka dari banjir bandang atau justru sial dipermalukan di depan bocah ini lagi. Bocah—atau setidaknya sekarang perlu dipanggil Mingyu sebagai bentuk tanda budi atas jasa baiknya karena Soonyoung tidak setidak-tahu-malu itu kok! 

Mingyu mengetuk-ngetuk bagian di bawah instalasi sink lagi, memeriksa bagian terakhir yang bisa dia bantu perbaiki. Kepala cowok itu ditarik keluar dari bawah sana, memampangkan wajah dan rambut kuyup penuh peluh sampai meleleh ke kerah bajunya. 

“Gampang kok maintenance pipa kayak gini, pasti Kakak juga bisa sendiri. Daripada banjir lagi, bikin repot tetangga aja.”

“Ya iya, gampang buat kamu,” sarkastik Soonyoung tanpa coba dia tahan. “Ada jiwa nukangnya.”

Tawa Mingyu terpecah renyah, lengannya terangkat buat mengusap keringat yang menggantung di bawah dagu. “Kamu ya Kak, emang nggak bisa banget buat ngomong makasih?"

Soonyoung menggigit pipi dalamnya dengan alis bertaut menyatu. Dari posisinya menyandar pada countertop dan perlu menunduk buat menatap Mingyu, ada pikiran aneh yang menyelinap tanpa permisi.

Mingyu ini ganteng. Cakep. Enak dipandang. Apalagi pas ketawa lepas atau justru waktu merengut kecil—bibirnya manyun sedikit sambil menggerutu protes persis anak anjing yang merajuk lucu.

Hih! Pikiran apa itu, Soonyoung Kwon?!

Hening menjelma canggung begitu Soonyoung berkedip dan menyadari tatapan Mingyu juga terarah lurus padanya. Cowok itu tenang, diam dalam posisi duduknya di lantai dapur milik Soonyoung sambil memangku sekotak perkakas yang ia bawa dari unitnya sendiri. 

Puppy… Anak anjing menanti diberi minum susu. Soonyoung menggeleng lagi, menelan ludahnya kasar. 

“Udah k-kan?” Soonyoung memutus kontak mata, buru-buru berjalan menuju kulkas dan membuka salah satu sisi pintunya. Tangan Soonyoung meraih sekaleng minuman energi yang dia simpan di sana, menoleh ke arah Mingyu dengan raut berpura cuek. “Mau minum nggak?”

“Minum aja Kak yang ditawarin?” Senyum Mingyu tersemat menyebalkan, lidahnya membasahi bibir bawah dengan sugestif. “Nggak dikasih makan juga?”

“Aku cuma bisa masak level bertahan hidup aja,” komentar Soonyoung tanpa pikir panjang. Masih menahan pintu kulkas dan melirik sisa bahan makanannya—barangkali bocah sinting ini sungguhan nekat ingin Soonyoung memasak. “Nggak ada yang enak.”

“Padahal ada loh Kak yang keliatan enak banget di sini.”

“Hm? Emangnya apa?” Soonyoung kembali menoleh, sedikit kaget Mingyu udah berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. Kaleng di tangannya jatuh ke lantai,  berguling masuk ke kolong lemari di sisi dinding yang lain. “Mingyu….”

Suara Soonyoung menciut begitu menangkap tajam cendana yang mendadak menguar kentara dari presensi Mingyu. Scent-blocker yang melekat di sisi leher cowok itu baru Soonyoung sadari kuyup dengan peluh dan sudut-sudutnya mengelupas nggak lagi tertempel sempurna. Tangan Soonyoung refleks terangkat meraba ke tengkuknya sendiri—melotot begitu sadar nggak ada patch scent-blocker apapun melekat di sana.

“Shit… Sorry, aku lupa—” Kalimat Soonyoung terpotong oleh reaksi syoknya, merasakan suhu tubuh Mingyu begitu panas meski terpisahkan jarak satu langkah di antara mereka berdua. “Mingyu, kamu mending pulang sekarang."

“Kenapa, Kak?” Mata Mingyu menatap sayu, keringatnya masih menetes-netes basah sampai sekujur kaus biru tuanya perlahan kuyup sempurna. “Takut? Karena aku alpha?”

Punggung Soonyoung tertahan dingin pintu kulkas di belakangnya, menelan ludahnya susah payah. Ini bukan situasi ideal yang pernah Soonyoung bayangkan harus ia tebus karena membiarkan seekor alpha tanggung menyelinap ke rumahnya—sarangnya. Cerobohnya yang fatal sekaligus naif dan tolol.

Reaksi cowok ini jelas-jelas keliru karena omega tanpa heat harusnya nggak lagi mengundang reaksi apapun buat alpha muda seperti Mingyu. Omega tanpa heat nggak lagi terendus enak. Feromonnya redup sebatas identitas diri—Soonyoung dan netral aromanya sebagai omega tua, nggak seharusnya membuat insting Mingyu salah kaprah bahwa Soonyoung masih targetnya buat dimangsa

“Aku udah nggak subur jadi nggak releasing mating pheromone lagi, apapun yang kamu cium sekarang pasti karena kamu udah dekat sama rut.” Terang Soonyoung mencoba merangkai koheren yang bisa dia ulurkan buat Mingyu, memperjelas batasan kalau apapun yang disebutnya enak hanyalah permainan keliru otak kecil alphanya. “Pulang, Mingyu. Reaksi alpha kamu udah nggak aman buat kita stay bareng di sini.”

Baris gigi Mingyu bergemeletuk begitu ia katup, memampangkan taring yang entah sejak kapan sedikit lebih mencuat ketimbang yang Soonyoung amati tadi. Deru napasnya terengah—nyaris seperti orang kelelahan, entah sebesar apa usaha Mingyu buat meredam instingnya sedari tadi.

Mingyu instan melengos, membuang muka. Tangannya meraih kotak perkakas yang dia tinggalkan di lantai, balik mengangkat kepala dan menatap Soonyoung sengit dengan rahang mengeras.

“Maaf Kak kalo aku bikin kamu nggak nyaman,” katanya dengan senyum terlalu dipaksakan. “Aku lagi nggak deket jadwal rut kok dan kamu juga nggak perlu bohong kayak gini kalo cuma mau nolak aku.”

Mingyu melangkah lebar-lebar menuju pintu, sementara Soonyoung mengekor tergesah dengan penjelasan yang nggak lagi terdengar masuk akal di antara mereka. Panik dan defensif. Soonyoung nggak sedikit pun merasa berdusta buat dituduh demikian menyinggung egonya.

“Bohong apa? Hei, bagian mana yang kamu bilang bohong? Aku ini serius!”

Alpha satunya menahan daun pintu, menoleh lagi buat Soonyoung yang berkali-kali terguncang dengan arah pembicaraan mereka. Mingyu memaksakan senyum tipis yang hambar, menggeleng kecil dengan raut menyirat kecewa sebelum benar-benar meninggalkan unit ini.

“Bagian kamu bilang udah nggak punya mating pheromone, karena Kak—ahh gila, kamu tega banget buat bohong di depan muka aku disaat jelas-jelas kamu wanginya sesubur ini.” Mingyu berdecak, taringnya menekan bibir bawah sampai sedikit terkoyak. “Udah ya Kak, aku pulang dulu.”

Pintu apartemen kembali menutup serentak dengan kepergian Mingyu, meninggalkan Soonyoung berdiri membatu dengan sebelah tangan terangkat menutupi mulut. 

 

 

Botol suppressant udah bersarang lama dalam kabinet kamarnya nyaris setengah tahun penuh. Buat apa mencegah sesuatu yang nggak akan datang lagi?

Diagnosa medis Soonyoung cuma mengatakan kalau hanya ada persentase minim kesuburannya buat kembali stabil karena penggunaan jangka panjang antidepresan dan over konsumsi alkoholnya selama ini. 

Soonyoung hanya nggak tahu kalau kemungkinan heat-nya bisa datang secepat ini dan semenyakitkan ini buat dilewati seorang diri. Persis demam tinggi, mabuk, hangover dan dalam kondisi rela berbuat apa aja demi dibuahi—digabungkan menjadi satu. 

Memalukan. Benar-benar malu dan frustrasi. Soonyoung masih punya kendali penuh buat koherennya sendiri, tetapi tidak demikian dengan sensasi menyiksa disekujur tubuhnya yang campur aduk mengemis buat dipuaskan. Panas, lengket dan basah di mana-mana! 

Soonyoung meraung deprerasi, menekan penis imitasi dalam pegangannya buat masuk lebih dalam—lebihhh, lebih mengisinya sampai penuh. Namun orgasme yang dikejarnya sejak berjam-jam lalu hanya ekstasi tanggung, hambar pelepasan yang nggak memuaskan dahaga seksnya sama sekali buat dikawini seperti binatang.

“Nggh, lagihh…” Keluhnya, mengeluar-masukkan knotted dildo itu sampai habis ditelan lubangnya yang berceceran lendir dan berkedut butuh diisi lebih penuh. 

Bagian knot imitasi itu dijepit erat liang senggamanya, begitu memuakkan sebab rasanya masih kurang—masih terlalu jauh dari puas nikmat yang Soonyoung dambakan. Mainannya terlalu kecil, terlalu kaku, uh, uhhh, terlalu pendek! Soonyoung merintih parau dalam bantalnya, menungging tinggi dengan tangan mendorong keras-keras dildo itu sampai habis tenggelam dalam basah liang kawinnya.

Tangis Soonyoung pecah begitu sadar ujung dildo itu nggak sedikit pun membelai titik yang begitu ingin dia sentuh. Isaknya tumpah ruah membasahi bantal, hatinya kesal dan marah menyumpahi idenya sendiri udah membeli mainan sekecil ini. Mainan yang dulu selalu dirasa cukup, tetapi entah mengapa hari ini begitu kurang sampai Soonyoung tersedu-sedu menyedihkan.

Soonyoung kembali rebah di tengah sarang, mencabut dildonya dengan emosional dan wajah penuh leleh air mata. Jarinya menemukan klitorisnya sendiri buat diusap cepat, menepuk-nepuk sesekali bagian sensitif itu sampai merasa kejut rasa sakitnya menjelma nikmat yang membuat jari kaki Soonyoung menekuk semakin tak tahan. 

“Mingyuh… Mingyuuhh…” Rintihnya tanpa kendali, menjepit klitoris bengkaknya dalam apitan jari buat dicubit kecil—menangis histeris, kepalang dekat dengan orgasme yang semoga… ahh, semoga bisa membuatnya lega. “Ahhn, Gyuhh! Nghhh—pipis, mauh pipis Alpha!”

Usapan Soonyoung memutar-mutar cepat di puncak kelentitnya yang mencuat, menjemput gulungan klimaks dengan paha bergetar dan pinggul terangkat-angkat naik dari kasur mengejar jarinya sendiri. Omega itu mendesah, terengah-engah lelah begitu akhirnya rebah tanpa tenaga di tengah sarangnya yang kentara dengan manis saffron menyengat dan samar cendana—nyaris tak terendus lagi aromanya.

Dengan kepala ditopang dua bantal empuk, kaki terlipat dan masih mengangkang lebar—menatap seberantakan apa sarangnya sekarang, Soonyoung mulai menangis lagi. Orgasme barusan nggak juga berhasil mengusir pergi hasrat maupun sedih hatinya sama sekali. 

Lubangnya masih bercucuran dengan slick meski tahu nggak akan ada alpha yang mau mengisi Soonyoung dengan knot lagi. Sekujur tubuhnya gerah dan gelisah, setiap inci kulitnya terasa salah. Nggak ada yang bisa menyelamatkan Soonyoung dari derita heat ini bahkan mainan seksnya juga nggak berguna sama sekali. 

Semuanya salah Mingyu! Alpha itu yang paling pertama sadar heat Soonyoung akan datang dan dia juga yang nggak bertanggung jawab buat hal itu. Soonyoung menangis lagi dengan penuh kesal, memukul-mukul bantal dan merengek begitu merasakan lendirnya bertambah banyak hanya dengan memikirkan wajah cowok itu.

Menyebalkan. Ini sangat menyebalkan. 

Mengumpulkan selembar selimut buat membungkus tubuh, Soonyoung memaksa kakinya merangkak keluar dari sarang. Instingnya bergerak gelisah, mencari-cari dan memberitahu ada yang perlu mereka jemput buat melengkapi sarangnya agar sempurna. 

“Hikss… Semua alpha sama aja,” keluh Soonyoung bercucuran air mata dan slick menetes menuruni kakinya. Langkah omega itu tertatih-tatih, memegangi tembok buat menopang diri sekaligus juga perlu menahan selimut tetap aman membungkus ketelanjangannya. “...tapi, cuma Mingyu yang nggak jahat,” gumam Soonyoung lebih pelan diluar warasnya.

Instingnya meraung ingin membuka pintu, menggedor-gedor pintu unit tetangganya dan menuntut pertanggungjawaban. Soonyoung udah terlampau dekat buat menarik kenop begitu koherennya mendadak memukul mundur niatan itu. Ohh. Nyaris. Gelombang heat kali ini terlalu kuat hampir mengantarkan Soonyoung pada insiden fatal—membuka pintu dan berjalan di ruang terbuka saat siklus kawinnya tanpa pengawasan siapapun. 

Keningnya kembali bertemu daun pintu, diketuk-ketuknya penuh sesal sambil mengusap bekas air mata. Namun, reaksi Soonyoung tiba-tiba beku menyadari ada familiar cendana menyelinap dari celah-celah pintu apartemennya ini. Begitu nyata. Begitu dekat. Hampir seperti datang dari sisi pintu yang lain.

“Alpha…” Soonyoung insting berbisik, kepalanya berkabut menjauh dari koheren lagi. Omega itu menarik napasnya dalam-dalam, menikmati aroma familiar itu bergabung dalam orbit sistemnya. Feromon yang begitu harum, nikmat, membasuh gerah di tubuh Soonyoung dengan sesuatu yang lebih sejuk dan picik seperti godaan hasrat.

Menelan ludahnya susah payah, Soonyoung membuka kunci unitnya—menarik sedikit daun pintu buat terbuka dan terpisahkan dari pinggir bingkainya. 

Mata mereka bertemu. 

Mingyu menyandar di sisi tembok yang menghadap ke pintu apartemen Soonyoung. Sama-sama syok, sama-sama terjerat dalam kuncian tatap seperti tidak pernah menyangka akan menemukan satu sama lain dengan cara seperti ini.

Kak Soon, panggil Mingyu hanya dengan gerak bibirnya.

Langkah Mingyu nyaris sempoyongan, ditarik seperti kaki-kakinya begitu berat buat mendekat ke celah pintu yang menghubungkan tatap mereka. Kepala cowok itu dibawa sedikit menunduk, mengintip Soonyoung lebih dekat di sana. Panas hela napas mereka menderu saling menyapu wajah satu sama lain—memperjelas kenyataan kalau Soonyoung baru aja membuka pintu ini buat Mingyu. 

Mengirim kejutan yang membekukan seluruh impuls mereka buat bereaksi karena ternyata mereka saling menunggu.

“Kak…” Bisik Mingyu serak, pelan nyaris tanpa vokal. “Kamu… nggak apa-apa?”

Soonyoung lebih sibuk mengatupkan paha, mencegah lendirnya banjir menggenang di bawah kaki. Suara Mingyu bahkan nyaris terlalu nikmat memanjakan telinga, mengirim gelenyar yang menggetarkan jari-jarinya sampai ceroboh membuka daun pintu lebih lebar.

“Alpha, m-masuk...” Suara Soonyoung nggak kalah bergetar dari pahanya yang juga udah basah kuyup. 

Mingyu melebarkan daun pintu dengan bantu mendorong dari luar, melangkah masuk hati-hati tanpa memutus kontak mata dengannya. Kunci otomatis berdenting di belakang punggung Mingyu. 

Soonyoung menarik-narik kaus sang alpha yang terasa basah dengan keringat, berkedip lamban dan memadamkan seluruh alarm warasnya yang tersisa. Dia cuma butuh Mingyu menggendongnya manja, mencium dan melahap Soonyoung bulat-bulat tanpa sisa.

Soonyoung ingin Mingyu, ingin sekali. Dikawini. Lebur dan hanya menjadi milik satu sama lain tanpa ada yang mengganggu mereka. 

“Alpha… Mau Alpha di sarang sekarang, ya?”

 

 

Di tengah-tengah desahnya, Soonyoung merangkai satu hal dengan hal lain sampai ia paham mengapa Mingyu berdiri di luar pintunya.

Alpha ini mengusir pemangsa lain. Menjejak klaim kalau ini wilayahnya, makanannya. Soonyoung cuma miliknya.

Yang kemudian Mingyu akui dengan ringan sambil terengah-engah, menggauli Soonyoung seperti binatang buas dan terobsesi buat mencegahnya kabur ke mana-mana. 

“Aku bisa—engg, cium wangi kamu dari luar…” Mingyu menekan belakang paha Soonyoung lebih kuat, memaksa kaki omeganya terbuka lebih lebar dan sampai mereka diposisi kawin paling sempurna. “Wangi… Pusing, aku takut ada alpha lain tau kamu sendirian di sini.”

Tangan Soonyoung meraih-raih lengan Mingyu yang menahan pahanya, merintih kepayahan mencari pegangan sampai turut mencakar bisep telanjang sang alpha di sana. “Hhngg, kamu… a-aku heat karena kamuh—!”

Kalimat Soonyoung hilang diantara parau isaknya, mencoba memberontak meski tetap gagal—mengizinkan Mingyu membenamkan wajah lebih rakus di kemaluannya. Lubangnya banjir meski disumpali lidah Mingyu, tambah mengucur deras dengan ujung hidung cowok itu menggesek-gesek nikmat kelentit Soonyoung yang mencuat bengkak.

Seruputan Mingyu bersahut-sahutan dengan rintihan Soonyoung. Tangan omega itu menjambak keras rambut Mingyu di antara pahanya, mengerang dan menggeliat gelisah merasakan hisapan Mingyu berhenti tepat di bagian sensitifnya. “Minggyuhh, aahh… mau dipenuhin kontol kamu—ngh, masukin!”

“Jorok Kak,” komentar Mingyu setelah menegakkan kepala, mengusap basah slick dari bibir dan dagunya ke paha Soonyoung. “Aku kirain kamu cuma galak, ternyata bisa ngerengek juga.”

Soonyoung merengek makin keras dengan jempol Mingyu mengusap klitorisnya, kepayahan bangun dari rebah dan membalik diri buat telungkup. Lututnya menopang tubuh, mendorong pinggulnya menungging tinggi sementara punggungnya melengkung cantik—presenting dengan sempurna buat mengundang alphanya kawin.

“Kakk… Gila, seksi banget kamunya.” Mulut Mingyu menelusuri punggung omega itu dengan kecupan basah, menjilati potongan pundaknya sampai Soonyoung parau merengek protes. “Wangi… Aku gigit, kamu nggak marah kan?”

“Jangan nghh, di tengkuk!” Suara Soonyoung melengking serentak mulut Mingyu kembali hinggap di antara pahanya. “Mingyuh… Aku u-udah nggak kuat lagih...”

Wajah Mingyu terbenam di belahan bokong Soonyoung sambil mengais-ngais rakus liang analnya dengan ujung lidah. Lendir Soonyoung mengalir basah ke mana-mana, membuat sekujur bokongnya terlalu licin bahkan buat Mingyu remas gemas. Lidah Mingyu mengisi senggama Soonyoung lagi dalam posisi menunggingnya, meloloskan dua jari mengocok lubang omega itu sampai benar-benar kuyup siap ia kawini sukarela.

“Kak, kamu ada kondom?” Tanya Mingyu akhirnya, mulai melucuti celana sendiri dan mengocok penisnya yang terasa nyeri oleh ereksi sejak tadi.

Namun tangis Soonyoung pecah lagi, kepalanya menggeleng-geleng menoleh ke Mingyu. Alpha itu panik mencoba menenangkan, memagut lembut bibir Soonyoung dan memaksa feromonnya memacu lebih deras membungkus tubuh omega ini dengan aroma cendananya yang posesif. 

Tersisa dari isaknya, Soonyoung menjawab terbata begitu lolos dari ciuman Mingyu. Matanya udah sembab dari menangis seharian, pipinya merah dan basah dengan jejak air mata bercampur peluh. “Aku udah… hiks, nunggu dari tadi… Kamu tega—hiks, masa mauh pakai kondom lagi?!”

Mingyu melengos geli, membubuh kecup di sekujur wajah Soonyoung dan menjilat kecil pipinya. “Ya udah… tapi kamu on birth control kan, Kak?”

Sejenak Soonyoung diam, matanya masih berkaca-kaca menimang jawaban. “Iya.”

Kecupan Mingyu menuruni leher dan tengkuknya, membuat Soonyoung menggeliat sensitif merasakan sapuan lidah alpha itu membasahi kelenjar mating-nya penuh goda. Sementara Mingyu menuntun kepala kejantanannya di luar lubang kawin Soonyoung, balas menyahuti desahan omeganya begitu merasakan nikmat hanya dari menggesek-gesek di belahan labia basahnya.

“Bilang ya Kak kalo mau berhenti dulu,” pesan Mingyu sambil mendorong masuk penisnya. 

Geraman alpha itu nyaring mengisi kamar ini, kilat berganti jadi lolongan nikmat tanpa kedali begitu Soonyoung ikut mendorong mundur pinggulnya—mempercepat penetrasi yang diidam-idamkan sejak tadi. Liang senggama Soonyoung panas menjepit Mingyu erat, berdenyut seolah memakan alpha itu hidup-hidup dan enggan membiarkannya keluar lagi.

“Ouhh, Kak—enak banget kamuhh…” Hidung Mingyu terbenam di pundak Soonyoung, lengannya membungkus tubuh omega itu buat menariknya dekat—begitu lekat sampai mereka bergumul seutuhnya menjadi satu. “Aku gerak, ya?”

Tangan Soonyoung mencengkram selimut yang bisa diraih, wajahnya terbenam ke bantal setiap kali Mingyu menyentak keras penyatuan mereka. Soonyoung meraung lebih keras, lebih serak, lebih memilukan sebab pelepasan itu udah menggantung di pucuk ubun-ubunnya. 

“Lagih, lagiih! Cepetin, alpha! Ahh, alpha!” Mulut Soonyoung terbenam makin jauh ke dalam bantal yang dia gigit bergantian disela rintihan nikmat.

Pinggangnya dicengkram keras oleh Mingyu, dipaksa menungging lebih tinggi mengizinkan penis alpha itu menyetubuhinya serampangan dan tergesah. Penyatuan mereka licin dan becek, lendir Soonyoung menetes-netes tanpa daya menuruni paha sampai kasur di bawah mereka. 

Titik yang sedari pagi coba Soonyoung kais dengan dildonya udah sukses digesek-gesek batang penis Mingyu setiap didorong masuk maupun ditarik keluar. Penuhnya terasa tepat, akan sempurna kalau nanti juga disumpal knot di sana. Liur Soonyoung menetes membasahi bantal yang dia gigit buat meredam parau desahnya—kepalang nikmat dan setengah sinting hanya karena disumpali penis besar alphanya. 

“Di dalam! Di d-dalam, hiks… Alpha keluarinnya di dalam.” Repetisi pintanya jadi mantra magis yang membuat kepala Mingyu pening berkabut tanpa koheren tersisa.

“Di dalam, Omega? Iya?” Mingyu mengentak keras-keras, memastikan kepala penisnya tenggelam sampai mengetuk-ngetuk mulut rahim omega itu—ingin mengisi perut Soonyoung penuh hanya dengan dirinya seorang. “Kalo sampe hamil, kamu harus tanggung jawab loh Kak—ahh, harus mau nikahin aku.”

“Mingyuh—alpha, mau, mau! Mau hamil, mauhh nikahin Mingyuh—aahh!” Mata Soonyoung instan berkunang merasa Mingyu memaksa lubangnya menelan mentah-mentah knot yang mulai membengkak di pangkal penisnya. “Knot, please, please knot aku…”

Hisapan Mingyu setia mencupangi tengkuk Soonyoung sampai penuh dengan jejak-jejak merah. Betapa cantik dan sempurnanya kalau gigitan Mingyu juga tercetak permanen di sana, mempertontonkan kepada seluruh dunia kalau omega ini miliknya. Gigi Mingyu mengatup penuh ancaman di bawah mating-gland Soonyoung, mendorong omega itu terisak hebat mengemis buat ditandai sang alpha. 

Dorongan terakhir pinggul Mingyu memaksa seluruh knot-nya masuk dan terbungkus panas senggama Soonyoung. Alpha itu melolong nggak kalah lantang dari omega satunya dengan deras nikmat yang menggulung lebur. Benihnya menyembur deras, mengisi Soonyoung sampai benar-benar penuh dan kembung. 

“Mingyuh, gigit?” Serak Soonyoung, menunduk makin dalam memampangkan tengkuknya yang penuh dengan cupang dan jejak gigi nggak seberapa dalam. 

Namun, sakit gigitan yang Soonyoung nanti itu justru bersarang di pundak kirinya. Pelepasannya datang bertubi dengan ekstasi gigitan yang keliru, tetapi tetap berhasil mengelabui pikiran berkabut insting omeganya akan sensasi ditandai setelah dibuahi oleh sang alpha.

Mingyu ambruk di ranjang, ikut menarik Soonyoung tetap lekat dalam pelukan erat—mencegah knot yang mengunci penetrasi mereka tertarik dan membuat Soonyoung merasakan sakit. Sperma Mingyu meleber dari penyatuan mereka meski masih terkunci dengan knot, mengotori paha Soonyoung dan menambah berantakan kondisi mereka berdua.

“Tidur aja Kak, nanti aku bersihin,” gumam Mingyu sambil mengendus pucuk kepala Soonyoung.

Seluruh basah keringat di tubuh omega yang sedang heat ini hanya ada semerbak manis saffron yang membuat saliva Mingyu meleleh deras di dalam mulut. Enak. Aroma mereka bercampur dan sekarang Soonyoung terendus semakin enak. Punya Mingyu. Omeganya yang baru dia kawini seperti tak ada hari esok. Sayang sekali benih Mingyu nggak akan tumbuh di perut Kak Soon yang tercium begitu matang dan subur ini.

Sementara omega satunya berkedip, mulai turun dari ekstasi klimaks sekaligus panas heat-nya yang mengaburkan batas akal sehat.

Oh iya. Soonyoung udah lama nggak minum pil kontrasepsinya.


Notes:

jangan percaya alpha, muslihat adu domba buzzer pemerintah, apalagi typing bleustars. percayalah hanya pada mingyu penggerak terdepan emansipasi omega dan kesetaraan gender kedua #bukan_omon_omon

btw bisa tegur sapa gue via @blableulea atau Alterspring.