Actions

Work Header

Bantu Belajar, Katanya Sih

Summary:

Alasan Arjuna datang ke kost Yudistira tidak lain dan tidak bukan karena diminta tolong bantu belajar sebelum ujian akhir semester. Sebagai kakak tingkat sekaligus asisten praktikum di kelas Yudistira, mana bisa Arjuna menolak permintaan adik tingkat manisnya itu?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Kalau boleh jujur, Arjuna tidak ingin menganggap hubungannya dengan Yudistira begitu dekat. Hanya sebatas kakak dan adik tingkat yang sering berinteraksi. Arjuna tidak tahu siapa sebenarnya Yudistira dan begitu sebaliknya. Ia hanya tau bahwa Yudistira cantik, sangat cantik bagi lelaki, tingginya mungkin sekitar 10 senti lebih pendek dari Arjuna, dan yang paling penting suaranya sangat manis, lelaki lebih tua itu merasa bisa sakit gigi jika terus-menerus didekatnya. Tapi Apa boleh buat? Arjuna tidak ingin menaruh harapan pada orang yang tidak ia kenal seluk beluknya. 

Tapi kalau ditanya kenapa Arjuna berdiri di depan kamar kost Yudistira, membawa satu kresek jajanan, menunggu pintunya dibukakan, ia tidak tahu harus menjawab apa. Koreksi, ia tahu mengapa, “Bantu belajar” katanya. Sebagai asisten praktikum yang baik mana mungkin menolak permintaan adik tingkat manisnya ini. Tapi tidak tahu mengapa ia malah merekomendasikan di kost. Yang pasti ia tak akan pernah cerita hal ini ke siapapun, gosong pasti. Ada puluhan tempat lain yang setidaknya lebih wajar, apalagi bersama lelaki yang sedikit ia taksir ini.

Mesum, Arjuna memaki dirinya sendiri. Ya, setidaknya Yudistira tidak tampak keberatan dengan usulan Arjuna. 

Arjuna menggigit bibirnya gugup, sedikit menyesali pilihannya. Ia bisa saja kabur sebelum pintunya terbuka, menelpon Yudistira kalau tiba-tiba ia tak bisa datang, dan mengsulkan hari dan tempat lain. Ah, tapi ia terlanjur mengabari Yudistira bahwa ia dalam perjalanan 15 menit yang lalu. Arjuna menghela napas panjang, darahnya terasa tidak terpompa baik ke otaknya, terlalu banyak skenario aneh yang tidak seharusnya berlalu-lalang di kepalanya.

Mesum, pikirnya lagi.

Sebelum Arjuna mengetok pintu kamar kost Yudistira, pintu itu terbuka. Yudistira menggunakan kaos sedikit oversize, celana selutut, dan berkacamata? Sejak kapan Yudistira pakai kacamata? Kenapa ia sangat lucu dengan pakaian rumah begini? Kenapa—

“Mas Juna, kok gak ngabarin kalau udah sampai?” berbagai pertanyaan di kepala Arjuna terpotong oleh pertanyaan lelaki yang didepannya. 

Mengembalikan kesadarannya, Arjuna menjawab dengan tenang “Baru dateng, sih. Aku bawain jajan."

Yudistira, yang ternyata membawa kantong sampah, membukakan pintu agak lebar, “Masuk dulu, Mas. Aku mau buang sampah. Baru bersih-bersih, hehe.” Arjuna mengangguk lalu melangkah masuk ke kamar Yudistira. Kesan pertama, Wangi. Manis campur segar, persis seperti sifatnya. Kamarnya tidak begitu besar. Ya, standar kamar kost. Kasur, meja belajar yang menyambung dengan lemari, karpet bulu dengan meja belajar portable yang sudah disiapkan untuk belajar. Ada beberapa pernak pernik kecil, action figures, bahkan standee karakter anime. Lucu sekali, Arjuna tidak pernah menyangka kamar Yudistira sangat ramai, satu lagi hal yang membuat Yudistira sangat menarik. 

Bukan pertama kali Yudistira dan teman-temannya meminta Arjuna mengajarinya materi secara pribadi. Dua tahun mereka saling mengenal, dan hampir setiap semester Arjuna mengiyakan. Tidak susah menjelaskan ulang materi dan menjawab pertanyaan. Bedanya sekarang ia hanya berdua di kamar kost tertutup milik Yudistira. Lelaki yang lebih tua tidak menyadari betapa sulitnya menahan diri untuk tidak memandang yang lebih muda terlalu lama. Apalagi karena mereka duduk di lantai, entah bagaimana semakin waktu berlalu semakin dekat juga jarak antara keduanya. Arjuna benar-benar tidak tahu apakah ia yang mendekat, Yudistira yang mendekat, atau memang ada magnet yang tidak terlihat menarik mereka berdua. 

Tapi apa salahnya menikmati momen singkat ini? Apa salahnya duduk sedekat ini hingga Arjuna bisa merasakan kehangatan tubuh Yudistira? Apa salahnya Arjuna tidak bergerak saat lengan mereka bersentuhan? Bagian kecil Arjuna ingin menganggap bahwa ia layak berada di sini, di sisi Yudistira. Toh, ia lagi stress stress-nya menghadapi akhir semester, rekap nilai praktikum, belum lagi memikirkan proposal magang yang sudah ia tunda-tunda. Tidak ada yang salah dari ini, Arjuna tidak akan bergerak duluan tanpa persetujuan, itu pun kalau ada lampu hijau. Yang ia lihat sekarang masih lampu kuning.


“Ahh, pusing, Mas. Break bentar boleh gak?”

Suara rengekan Yudistira ditambah wajah merengut menyalurkan darah Arjuna berlebih ke tempat yang tidak seharusnya.

Ia mengangguk. “Sekalian aku pinjem toilet.” tanpa menunggu perizinan, Arjuna beranjak ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari kamar Yudistira.

Setelah menutup dan mengunci pintu kamar mandi, Arjuna menyandar di pintu, merasakan celananya mengetat. Gila, pikir Arjuna. Lelaki itu bahkan tidak menyentuh Arjuna tapi bisa membuat tegang hanya dengan merengek. Ah, Arjuna sudah gila sepertinya. Tidak mungkin ia akan kembali dalam keadaan seperti ini. Setelah mengatur kembali napasnya dan menenangkan Juna kecil yang terlalu bersemangat, ia memutuskan kembali ke kamar Yudistira dengan harapan lelaki itu tidak mencurigainya. 

Sorry lama,” Arjuna kembali duduk di lantai menyandar di pinggir kasur, membelakangi Yudistira yang berbaring di kasurnya.

“Berak, Mas?” tidak sepenuhnya kaget dengan mulut Yudistira yang kadang kurang ajar, Arjuna hanya berdecak.

“Emang bayar kalo aku berak?” Yudistira tertawa kecil. Entah apa yang lucu, pikir Arjuna.

“Enggak sih, Mas. Free kalau buat mas.” terdengar gerakan dari atas kasur, Arjuna menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Yudistira yang berbaring tengkurap sambil menaruh dagunya di bantal kecil. Pipinya terlihat gembul dengan bibirnya yang merengut, kacamatanya juga sudah ditaruh rapi di meja belajar, pandangannya terkunci pada Arjuna. Refleks, yang lebih tua mengalihkan pandangan. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan jika terus menatap Yudistira. Entah apa yang lelaki itu pikirkan, Arjuna sudah kehabisan tebakan sebelum menebak satu pun kemungkinan. 

Lelaki yang lebih tua memilih mendistraksi perasaannya dengan scrolling tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia lihat. Apapun yang bisa membuat Yudistira berhenti berlarian di kepalanya. Tapi tetap saja Arjuna merasakan tatapan Yudistira yang terpaku.

“Mas Juna..” Ketenangan Arjuna buyar. 

“Hm?” Arjuna masih tidak menoleh ke sumber suara.

“Mas Juna punya pacar?”

“Enggak.” Aneh, terlalu personal, atau hanya basa-basi?

“Kalau misal aku naksir sama mas, mas bakal gimana?” tanya Yudistira sambil menatap langit-langit.

Hah?

Arjuna dengan cepat memutar kepalanya. Yudistira terlihat santai berbaring, tidak menatap Arjuna, seperti tidak baru saja mengeluarkan pertanyaan paling gong untuk Arjuna. Menyadari lelaki yang lebih tua masih terdiam, Yudistira berbalik dan berbaring di sisi kanannya. Kini mereka benar-benar bertatapan, wajahnya hanya berjarak 10 senti. Arjuna yang selalu menghindar, entah mengapa diam. Bagian kecil dirinya menganggap ini benar, Apakah sebenarnya ini yang Arjuna inginkan? ini kah lampu hijau? Atau Yudistira hanya omong kosong?

“Mas Jun—"

“Yudis serius?” Arjuna tidak membiarkan Yudistira menyelesaikan kalimatnya. Persetan image-nya, Arjuna harus tahu apa maksud pertanyaan lelaki itu.

Yuditira mengangguk.

Hah? Yudistira mengangguk? Berarti selama ini Arjuna tidak bertepuk sebelah tangan? Arjuna masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

Bugh.

Bantal yang Yudistira pakai tiba-tiba mendarat ke wajah Arjuna.

“Males banget, Mas Juna diem aja!” menyadari apa yang terjadi, Arjuna menyingkirkan bantal dari wajahnya. Terlihat Yudistira masih tengkurap, menutup wajahnya, tapi terlihat jelas telinganya memerah. Lucu sekali, pikir Arjuna.

“Yud..” Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aduh, gimana ya aku ngomongnya..” lanjutnya. Haruskah Arjuna nekat menerima pengakuan cinta yang mendadak ini? 

Mas Juna kalau mau cut off aku gak apa banget!” suara Yudistira teredam kasur yang masih menutupi seluruh wajahnya. Arjuna menghela napas. Lelaki yang didepannya benar-benar tidak tahu bahwa ia merasakan hal yang sama. “Lihat aku dulu lah, Yud.” Yang lebih muda memiringkan kepalanya sampai wajahnya terlihat jelas. 

“Beneran gak apa aku cut off?” Yudistira langsung bangkit dari kasurnya lalu mengeluarkan jurus bibir mayun andalannya.

“Gak mau, Mas!” sungguh Arjuna bisa gila melihat tingkah gemasnya. Arjuna naik ke atas kasur, tapi tidak terlalu dekat dengan Yudistira. Arjuna menarik napas panjang, menyusun kalimatnya dengan hati-hati.

“Sebenernya aku juga tertarik sama kamu, Yud. Tapi gak berani aja. Aku gak berharap kalau kamu ternyata juga suka,” mata Arjuna menatap lemari, jam dinding, tangan Yudistira yang mengenggam erat sprai, kemana saja selain menatap lelaki yang di depannya. “Kalau kamu emang suka sama aku.. aku mau lebih kenal sama kamu, Yud.” 

Belum sempat Arjuna melihat ekspresi yang lebih muda, tubuhnya terdorong ambruk, punggungnya tenggelam di kasur dengan Yudistira berada diatasnya. Tangannya melingkari leher Arjuna. Berat tubuh Yudistira menyalurkan kehangatan ke seluruh sudut tubuh Arjuna.

“Yud—,” Sebelum selesai berbicara, Yudistira menenggelamkan wajahnya ke dada lelaki yang dibawah, mengeratkan pelukan di lehernya.

“Diem dulu..” suara lelaki yang diatas terdengar lirih, tapi Arjuna dapat merasakan getaran bibirnya yang pada dasarnya menempel di dadanya.

Bohong jika Arjuna tidak menikmati Yudistira di atasnya. Ia merasa seluruh stress-nya meluruh seketika. Aroma manis tubuh Yudistira yang selama ini hanya bisa ia cium samar-samar, kini memenuhi indra penciumannya setiap Arjuna menarik napas dalam. Tubuh Yudistira masih terasa tegang. Arjuna bisa merasakan detak jantungnya memantul cepat di dadanya. Perlahan telapak tangan Arjuna menyusuri rambut yang lebih muda, jemarinya secara tidak sadar memijat lembut kepalanya, menuntun tubuhnya rileks.

“Mmhh.. Mas..” desahan lembut dari bibir Yudistira membuat Arjuna pusing seketika. Oh, Arjuna benar-benar tidak tahan ingin menguji sampai mana ia bisa melangkah. Dengan hati-hati, ujung jemarinya perlahan menyusuri punggung Yudistira yang masih terlapisi kaus tebal. Lengan yang mengitari leher Arjuna mengerat, tubuh lelaki di atasnya bergerak hingga puncak kepalanya menyentuh dagu Arjuna. Yang tidak Arjuna kira, gerakan sederhana itu membuat darahnya kembali terpompa deras ke area yang tak seharusnya, celananya terasa sempit.

“Yu— Yudis, ah.., bentar—” Arjuna meringis. Mendengar ringisan Arjuna. Ia bergerak naik, melepas pelukannya lalu memposisikan duduk tepat diatas pinggang, kedua kakinya menjebak Arjuna di bawahnya. Kedua telapak tangan Yudistira bertumpu di dada Arjuna. 

Posisi apa ini? Arjuna merasakan wajahnya memanas. Ia menelan ludah sembari mengabaikan ereksi yang menegang di balik celananya. Sialan, kenapa malah dia yang tampak memalukan begini? Pikir Arjuna yang masih mengatur napas.

Kamar kost Yudistira hening. Kedua lelaki itu berada di posisi canggung, secara fisik dan mental. Yang lebih muda tidak bergerak satu senti pun dari posisinya. Sedangkan yang lebih tua bingung, Ia yang seharusnya mengambil alih situasi. Bagaimana bisa membiarkan ketegangan ini menggantung terus-terusan? Gawat, gawat, gawat—

“Mas Juna..” suaranya lirih, hampir seperti bisikan.

Dengan cepat Arjuna menyingkirkan lengan yang menutupi wajahnya, matanya terpaku pada lelaki cantik yang entah sudah berapa menit duduk di pangkuannya. Yudistira menatapnya malu, matanya sayu, wajah cantiknya dihias rona merah hingga ke telinga. Arjuna lagi-lagi menghela napas panjang dengan harapan menjernihkan otaknya yang berkabut. 

Arjuna bangkit dari posisi berbaring dengan Yudistira masih duduk manis di pangkuannya. Tangannya menangkup pinggang ramping Yudistira, ia tak peduli yang lebih muda bisa merasakan tonjolan jelas Arjuna di bawah sana. Sekarang, semua harus benar. Tidak mungkin Arjuna rela melakukan hal konyol yang bisa merusak kesempatan berharga ini. Mata mereka akhirnya bertemu. Arjuna perlahan meraih tangan Yudistira dan meletakkannya di pipinya sendiri, menikmati hangatnya tubuh meski hanya sedikit.

“Biar gak ada salah paham, Yudis mau apa?” tanya Arjuna lembut sembari mengelus punggung tangan yang lebih muda. Terlihat keraguan di matanya. Arjuna tak tahan ingin menuang ribuan pertanyaan . Seberapa jauh lelaki yang di pangkuannya ini pernah berhubungan? Apa mungkin Arjuna menjadi yang pertama? Tidak, ia tak harus tau hal itu. yang paling penting, apakah ini terlaku cepat? dan apakah memang ini yang Yudistira juga inginkan? Arjuna akan menunggu entah berapa lama sampai terlihat jelas lampu hijau untuk mengenal lelaki itu lebih jauh.

“Mau Arjuna Arkana.”

Seluruh sirkuit otak Arjuna konslet. Dengan secuil kewarasan yang tersisa, Arjuna mencondongkan kepalanya, bibirnya mendekati telinga Yudistira yang merona. 

“Bilang kalau mau berhenti,” bisikan serak Arjuna sukses membuat bulu kuduk lelaki di atasnya merinding. Yudistira mendongakkan kepalanya, memberikan akses penuh untuk bibir Arjuna menyusuri garis lehernya. Kecupannya sempurna, tidak menggantung, tidak juga sampai meninggalkan bekas. Pendengaran Arjuna dipenuhi helaan napas gemetar dan desahan lembut yang hampir tak terdengar. 

Kurang. Arjuna ingin mendengar desahan itu lebih keras. Tangannya tak bisa tinggal diam, perlahan melepaskan tumpuan pada pinggang kemudian menuntun lengan yang lebih muda melingkari lehernya.

“Pegangan, Yud.” tanpa ragu, tangannya masuk ke rongga kausnya, ujung jarinya yang dingin menyusuri punggung Yudistira yang hangat. Sentuhan tiba-tiba itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh mungilnya. Mendengar suara Yudistira yang masih tertahan, Arjuna menyeret jemarinya naik tidak terburu-buru. 

Yudistira pusing. Sentuhan bibir di lehernya dan jemari di punggung telanjangnya, ini berlebihan. Refleks, kukunya mencakar bahu yang lebih tua.

Nghh.. Mas.. Jun.. aah—

Bingo! Itu yang Arjuna cari. Perlahan ia mengangkat kepalanya sampai bisa melihat wajah merah tak karuan lelaki di pangkuannya. “Udah?” tanyanya sedikit mengejek. Arjuna bisa merasakan milik Yudistira yang mengeras, menekan perut bagian bawahnya. Tentu saja ini belum apa-apa bagi Arjuna. Namun, Ia harus memastikan Si Cantik di atasnya tidak pingsan duluan sebelum masuk ke inti acara.

“Hh.. Belum, Mas. Mau cium.” wajahnya seperti orang mabuk, matanya sayu, napasnya tersengal, bibirnya sedikit mayun. Arjuna tak ingin mengasumsikan apapun, tapi dari reaksinya, mungkin Yudistira benar-benar pertama kali berhubungan seperti ini.

“Memang kamu pernah?”

Yudistira tak menjawab, malah memalingkan wajahnya. “Aku mastiin aja, Yud.” Arjuna tersenyum gemas melihat tingkah lelaki itu.

“Kan bisa belajar,” jawabnya lirih, Arjuna hampir tidak bisa mendengarnya. 

“Hm? Belum dicium udah gak jelas ngomongnya.” 

Kalimat ejekan itu mencapai batas kesabaran Yudistira. Frustasi karena belum merasakan bibir yang lebih tua, Ia menggunakan beratnya tubuhnya untuk mendorong Arjuna hingga jatuh terlentang ke kasur. “Mas banyak omong!” tidak memberikan celah untuk Arjuna memproses apa yang baru saja terjadi, Yudistira sudah menabrakkan bibirnya sendiri ke bibir lelaki dibawahnya. 

Arjuna terdiam kaku selama beberapa detik. Lumatan canggung dan ragu-ragu dari lelaki di atasnya mengembalikan kesadarannya sedikit. Ia memilih memberi sedikit panggung untuk yang lebih muda, membalas ciumannya perlahan tanpa mengambil kendali. Tangannya menahan tengkuk leher Yudistira dengan lembut. Mata Arjuna tetap terbuka, menikmati ekspresi Yudistira yang keenakan. 

Belum ada satu menit, Yudistira sudah mundur kehabisan napas. Dengan bibir basah dan memerah, wajahnya mundur beberapa senti, menyisakan benang liur yang menghubungkan bibir keduanya. Seluruh tubuhnya kehilangan tenaga, dadanya naik turun tak terkendali. 

“Lagi, Yud.” Arjuna tidak meminta, “Mau tetep di atas atau tuker?”

“Tetep.. di atas.”

Alis Arjuna naik sedikit kaget. Walau ragu dengan stamina lelaki di atasnya, Arjuna tidak bertanya lebih. Tangannya menarik wajah Yudistira yang masih terlihat mabuk mendekat.

“Pakai lidah dikit-dikit aja.” lelaki yang lebih muda mengangguk pasrah, membiarkan dirinya luruh dalam dekapan Arjuna. Tangannya menangkup rahang Yudistira mantap, memastikan kemiringan wajahnya pas. Berbeda dengan sebelumnya, Arjuna mengambil alih sepenuhnya. Ia menyukai ciuman yang basah dan tidak terburu-buru. Beberapa kali lidah Arjuna meminta akses masuk ke mulut Yudistira, dan Ia hanya bisa mengikuti laju ciuman Arjuna dengan pasokan oksigen pas-pasan. 

Sensasi adu lidah yang becek membuat pinggang Yudistira bergerak tanpa ia sadari. Bagian sensitif keduanya yang sudah keras bergesekan sempurna di balik kain celana.

“Mmh—” Desahan tak tertahan sontak keluar dari mulut Arjuna.

Mendengar suara asing yang keluar dari Arjuna, Yudistira mundur paksa di tengah adu lidah. “Maaf Mas Jun—”

“Terusin, Yud.. Tolong,” potong Arjuna cepat. Kini Ia yang merasa mabuk. Persetan akal sehat, Arjuna sudah tidak bisa menahan nafsu yang membara. Kedua tangan Arjuna menahan pinggang Yudistira. Perlahan menuntun Si Cantik mereka ulang pergerakan pinggang yang memabukkan. “Sampai kamu keluar.” lanjutnya.

Yudistira mengangguk lemas, entah berapa persen energi yang masih ia punya. Namun, mendengar permintaan dari mulut manis Mas-nya membuatnya terhipnotis seketika. Kepalanya turun lagi, melumat bibir Arjuna yang sudah memberi jalan masuk. Tangan Arjuna menuntun gerak pinggang Yudistira dengan sesekali meremas lembut pantatnya. 

Walau masih terhalang satu set pakaian, kamar kost Yudistira dipenuhi desahan dan helaan napas pendek kedua lelaki itu. Tak perlu waktu lama sampai Arjuna menyadari Yudistira sudah menemukan ritmenya. Lumatan bibirnya dengan sedikit permainan lidah yang terarah dan pinggangnya mampu menabrakkan tonjolan penis tanpa terburu-buru. 

“Pinter,” gumam Arjuna di sela-sela ciuman.

Tangannya bergerak naik, masuk ke dalam rongga kaus lelaki diatasnya. Ujung jarinya memetakan detail pinggang ramping, perut kecil, hingga dada Yudistira. Jemarinya memilin puncak dadanya yang mengeras. Sentuhan hati-hati Arjuna membuat Yudistira sontak melepaskan ciumannya. 

“Ahh.. Mas Jun.. nggak.. kuat—” gerakan pinggangnya melambat. 

“Udahan?” Yudistira menggeleng cepat. Gantian Arjuna yang menghentak pinggang dari bawah dibalas desahan kaget Yudistira. 

“Dikit lagi keluar, kan?,”  sedikit lagi sebelum Arjuna kelepasan, tapi Ia tak akan membiarkan itu terjadi.

“Iya..” jawab Yudistira lelah. Lengan Arjuna meraih tubuh Yudistira, menarik turun kedua pundaknya hingga dada keduanya saling menempel.

“Gini aja,” jemari Arjuna berganti memijat tengkuk leher lelaki di atasnya. “bisa gerak gini, Cantik?” aroma keringat campur aroma manis alami tubuh Yudistira memanjakan penciuman Arjuna.

Gerakan pinggang yang semakin cepat menjadi jawaban dari Yudistira. Arjuna menikmati perubahan tempo gesekan ini, Ia sendiri merasakan batasnya semakin dekat. 

“Yudis cantik,”

“Yudis pinter banget,”

“Enak banget, Yud.”

Kata-kata manis dicampur napas hangat Arjuna memenuhi indra pendengaran Yudistira. Kepalanya semakin berputar, mabuk kepayang karena malam ini seluruh indranya terpenuhi Arjuna Arkana. Rasanya Yudistira sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Seluruh jarinya mencekam bahu Arjuna. Persetan, lelaki itu bahkan tidak peduli akan meninggalkan bekas atau tidak. 

“Nghh.. Mas.. mau kelua—” 

Sebelum menyelesaikan kalimatnya, cairan hangat mendadak memaksa keluar penis Yudistira, membasahi kain yang menghalangi. Tubuh yang lebih mungil itu bergetar, terkapar lemas di atas Arjuna yang tak lama juga mengeluarkan cairannya tanpa melepaskan pelukan.

Keheningan kembali memenuhi kamar kost Yudistira, hanya terdengar suara napas yang masih tak beraturan. Arjuna mengacak-acak gemas rambut lelaki di atasnya. Keduanya diam dalam dekapan nyaman hingga detak jantungnya kembali normal.

“Mas Juna semester depan beneran magang?” tanya Yudistira lirih, memecah keheningan.

“Mmhm, kenapa?”

“Enggak ketemu satu semester, dong”

“Gampang, nanti ku samperin.”

Yudistira akhirnya mengangkat kepalanya. “Beneran?” Ia memanyunkan bibirnya yang masih bengkak. Arjuna tersenyum gemas lalu mengecup cepat bibirnya. “Beneran,” dengan senyuman malu, yang lebih muda bangkit dari dekapan yang lebih tua kemudian duduk di tepi kasur, merapikan kausnya yang sudah kusut. 

“Udah kuat gerak?” Arjuna memastikan.

“Udah,” Yudistira menggenggam tangan Arjuna lalu mengecup punggung tangannya, “Makasih ya, Mas.” Lanjutnya.

“Aku yang makasih, Cantik.” Arjuna ikut duduk disebelahnya, membalas usapan tangannya. Matanya menelusuri seluruh tubuh Yudistira seakan tidak ingin melewatkan seluruh detail berantakan yang berhasil Ia buat malam ini. Tatapan Arjuna akhirnya berhenti di bagian depan celananya yang basah.

“Bersihin dulu. Apa mau dibantu?” nada Arjuna sedikit mengejek.

Kedua tangan Yudistira menutupi bayangan basah di celananya. “Bisa sendiri!” serunya panik. Ia bergegas beranjak dari tempat tidur, mengambil celana ganti dari lemarinya. 

“Tunggu disini ya, Mas.”

Dengan gerak-gerik yang masih canggung, Yudistira berlari kecil ke kamar mandi. Arjuna tersenyum gemas melihat punggung lelaki itu menjauh, meninggalkan dirinya sendiri menghirup sisa aroma manis yang masih tertinggal. Arjuna percaya ini awal dari hubungan mereka yang tak tergantikan.

Notes:

My first contribution untuk bangsa besar Sunnote, thankuu for reading!!