Work Text:
In the flaming rain that's burning me
Within that long, eternal journey
The sadness we shared is my clarity
Deru mesin bus terdengar menjauh, meninggalkan seorang pemuda yang tak bergeming di sebuah halte yang telah menjadi tujuannya sejak berbulan-bulan lalu. Matanya mengerjap beberapa kali pada sebuah bangunan di seberang halte. Ia bahkan tidak sekalipun terusik oleh hembusan angin yang bergemuruh di sekelilingnya. Agaknya hujan akan turun sore ini.
Tangannya merogoh saku jaket, menekan-nekan layar berusaha menghubungi seseorang yang memberitahunya lokasi bangunan di seberang halte tadi.
Bunyi nada sambung terdengar mengudara pelan sebelum pada akhirnya seseorang di seberang menjawab, "Youngjae? Udah sampe?"
Ia mengangguk, kemudian buru-buru mengiyakan ketika sadar seseorang di seberang panggilan tidak akan mampu melihat anggukannya. "Takut, kalo bangunannya kosong gimana?"
"Percaya sama aku, kali ini ga akan salah. Aku udah tanya-tanya ke orang-orang yang pernah deket sama dia selama kuliah." Seseorang di seberang menghela napas sejenak, "ketok tiga kali pintunya. Kalo ga dibukain, masuk aja. Pintunya gapernah dikunci."
"Good luck, Choi Youngjae." Seperti itu kalimat terakhir yang diucapkan seseorang di seberang sebelum panggilan singkat itu ditutup.
Choi Youngjae mendesah. Ia tak pernah segugup ini sebelumnya. Kaki-kakinya ia bawa menyeberang jalan, mendekat pada bangunan sederhana yang telah menjadi tujuannya sejak berbulan-bulan lalu. Dadanya bergemuruh oleh perasaan gugup sekaligus yakin. Bangunan itu terlihat mati sekaligus hidup, terlebih ketika ia menghentikan langkahnya di depan pintu.
Tangan kanannya terangkat, mengetuk pintu itu tiga kali, kemudian membukanya persis seperti instruksi seseorang di panggilan tadi.
“Kak Shinyu?” Lebih seperti pertanyaan, namun Youngjae tulus memanggilnya. Netranya menyusuri seisi bangunan satu lantai itu perlahan seraya memperhatikan perabot di dalamnya.
Bangunan itu terbangun di tepi pantai. Sengaja dibangun di sana tanpa rumah-rumah lain di sekelilingnya. Bisa dibayangkan betapa sepinya keadaan rumah itu saat malam. Pun dengan keadaan yang terlihat cukup kacau; sofa yang terlihat berdebu, tirai yang bahkan tidak dibuka, hingga aroma pengap yang tercium di penghidu pemuda itu.
“Kak Shinyu, kamu di sini?”
Butuh beberapa menit bagi Youngjae untuk mengelilingi bangunan itu. Namun setidaknya keadaan wastafel piring yang basah dan tumpukan pakaian di sudut ruangan menandakan bahwa seseorang yang hidup sedang tinggal di sana.
“Kak Shinyu, kamu di mana?” Pertanyaan yang tadinya terdengar yakin, kini menjadi penuh ragu. Youngjae mendongak, ya Tuhan.
Ini apa?
Netranya menangkap sesuatu yang asing tergantung di jendela. Sebuah kain putih menyerupai boneka yang digantung menghadap ke luar, ke pantai. Beberapa memiliki wajah yang digambar dengan spidol hitam. Beberapa lagi dibiarkan bersih tanpa coretan apapun. Youngjae berjinjit untuk mengambil satu diantaranya.
“Kamu… siapa?”
Oh, even when I'm falling, you're all I need
Amid all the ruins, our place of promise
The land of rest, the return of eternity
You're the one who waited for me
Suara laki-laki terdengar dari balik pintu kamar. Matanya sayu, dengan tulang selangka yang menyembul di balik kaus putih polos yang dikenakannya.
“Kak Shinyu?” Youngjae mengerjap ketika ia berbalik dan mendapati sosok pemuda yang ia cari sejak tadi.
Lidahnya kelu. Keduanya bertatapan selama beberapa saat. Oh astaga, Youngjae bahkan tidak mengerti kalimat apa yang harus dikatakannya ketika melihat keadaan laki-laki di hadapannya. Laki-laki yang tidak pernah lepas dari ingatannya sejak setahun terakhir ia menghilang tanpa kabar. Laki-laki yang sempat menggenggam tangannya beberapa tahun yang lalu. Laki-laki yang kini bahkan terlihat seperti orang lain.
“Apa… kabar?”
Jelas tidak baik-baik saja. Youngjae bahkan mengutuk dirinya sendiri atas pertanyaan bodoh yang meluncur begitu saja dari mulutnya itu.
Shinyu, lelaki yang menghilang setahun lalu itu kini berdiri di hadapannya. Lingkaran gelap di bawah matanya mengatakan bagaimana ia tidur dan beristirahat selama beberapa bulan terakhir. Pun dengan tubuhnya yang terlihat kurus, dengan warna kulit yang pucat sebagaimana mayat pada umumnya. Namun Shinyu berdiri di sana. Hidup dan bernafas sebagaimana manusia.
Youngjae menahan napas. Lidahnya kelu seperti berdetik-detik yang lalu. Helaan napas keduanya menggantung di langit-langit bangunan kecil itu.
“Kak, aku kangen…” Lisan Youngjae berbicara. Entah apalagi yang ingin ia lakukan selanjutnya, namun netranya tidak henti menatap Shinyu.
Setahun terakhir yang terasa seperti satu dekade. Setahun terakhir yang ia lalui sendirian di apartemennya. Setahun terakhir yang tidak pernah seberat tahun-tahun sebelumnya. Semua kesendiriannya seolah terbayar tuntas ketika ia melihat Shinyu mengerjap. Lelaki itu masih kebingungan. Namun ia sadar, dan ia hidup. Ia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Youngjae sejak ia membuka pintu.
Choi Youngjae. Kecilnya. Kesayangannya.
Tangannya seolah gatal untuk merengkuh tubuh Choi Youngjae. Astaga. Sudah berapa malam berlalu sejak terakhir kali ia memeluknya?
I remember the answer I finally found
My future is you
Say my name
I'll hug you tight, as promised on the first day
Shinyu maju selangkah. Tangannya yang sejak tadi bersembunyi di dalam saku celana kini bergerak ragu. Sungguh. Sungguh jika tidak ada hal apapun yang menahannya, ia akan bergerak dan meraih Youngjae ke dalam pelukannya.
Namun ia tak bergeming. Ia hanya menggigit bibirnya dan berbisik dalam nada yang terlampau rendah. “Aku hidup jauh lebih baik di sini tanpa kamu, Choi Youngjae.”
Bohong. Siapapun tahu pemuda jangkung itu tengah bersusah payah membohongi dirinya sendiri.
Perasaan bersalah itu masih menyergapnya. Perasaan bersalah yang tidak kunjung mereda, bahkan setelah setahun berlalu.
Ucapan dingin itu menggantung di udara. Meninggalkan Youngjae dengan segenap air mata yang hampir jatuh. Ia sungguh merindukannya. Merindukan Shinyu. Merindukan kesayangannya.
“Nggak bisakah kita pelukan? Bentar aja?” Youngjae berbisik putus asa. Lembut sekali hingga anginpun merendahkan suaranya hanya agar Shinyu mampu mendengar bisikan lirih Youngjae.
Tidak ada jawaban. Entah keberanian apa yang membuat Youngjae mampu bergerak dan melangkah maju. Sedikit saja, hingga ia merentangkan tangannya ragu di hadapan Shinyu.
Shinyu sendiri terdiam. Ia mendongak. Kepalanya berbisik semoga pemuda di hadapannya tidak memeluknya, meskipun hatinya berkata lain.
Dan, ya. Tidak ada yang tidak goyah ketika seseorang yang terlampau ia sayang menawarkan pelukan.
Shinyu menggigit bibir, entah menahan tangis atau panggilan sayang yang selalu ia lontarkan untuk seseorang yang kini sedang dalam pelukannya. Tangannya mengelus rambut Youngjae ragu-ragu. Astaga. Sudah berapa malam berlalu sejak terakhir kali ia mengelus rambutnya seperti ini?
“Kakak nyebelin.” Youngjae terisak. Pada akhirnya ia merebahkan wajahnya di bahu lebar Shinyu yang tanpa perlawanan. Hangat. Ia selalu merindukan kehangatan ini. “Kenapa menghilang? Aku sehat, lihat. Aku nggak cacat. Aku masih utuh kaya yang selalu Kakak kenal. Aku baik-baik aja bahkan sejak kejadian itu.”
Pelukan Youngjae mengerat. Ia merasakan wajah Shinyu berlabuh pula di bahunya. Basah. Dan ia menyadari tubuh di hadapannya bergetar pelan. Shinyu terisak. Lelaki itu terisak. Dan Youngjae kini balas merengkuhnya dalam rengkuhan paling hangat yang Shinyu rindukan sejak setahun terakhir.
“Aku takut.” Suara Shinyu bergetar. Kepalanya terngiang akan kejadian setahun lalu ketika Youngjae terbaring di jalanan tak sadarkan diri. Kecelakaan yang terjadi atas keserakahannya dan menghantuinya dengan perasaan bersalah selama berbulan-bulan lamanya. “I was afraid of losing you twice.”
I ran away countless times just out of fear
Leaving you waiting at the starting line
The morse code amidst the ruins an old promise, promise
Not knowing the reason of my tears, my anemoia
“Aku baik-baik aja, Kak.” Youngjae terisak juga, akhirnya. “Selama sama Kakak, aku bakal selalu baik-baik aja.”
Aroma vanilla yang selalu Youngjae rindukan kini bisa ia hirup lagi dari tubuh Shinyu yang semakin kurus. Entah sudah berapa banyak mangkuk nasi yang ia lewatkan selama setahun terakhir. Astaga. Andai saja Youngjae menemukan bangunan kecil ini beberapa bulan lebih cepat. Mungkin Shinyu tidak akan sekurus ini. Kekasihnya tidak akan sekurus ini.
Shinyu melepas rengkuhannya dan mengecup dahi Youngjae pelan. Pelan sekali seolah takut ia akan melukainya lagi. Pelan sekali seolah Youngjae adalah guci porselen yang akan remuk ketika ia menggenggamnya terlalu erat. Ia membawa Youngjae dalam rengkuhannya, sekali lagi.
I promise you, over and over
My future is you
Under the veil of light
I'll hug you tight, who's shining like a bride
Like deja vu
You're like deja vu
Shinyu menggantung harapan dalam belasan teru teru bozu yang ia ikat di jendela. Teru teru bozu yang ia percaya akan mengusir hujan di hatinya setahun terakhir. Astaga. Siapa sangka pelariannya selama setahun terakhir akan berujung sia-sia. Choi Youngjae yang begitu ia hindari, kini ada di hadapannya. Hidup dan merengkuhnya sebagaimana yang selalu ia inginkan.
Shinyu adalah sebuah paradoks yang hidup. Seseorang yang menginginkan Youngjae lebih dari dirinya sendiri, namun tidak pernah memiliki keberanian untuk merengkuhnya lebih erat.
Shinyu yang penakut. Shinyu yang dilingkupi rasa bersalah. Shinyu yang diliputi kerinduan. Shinyu yang selalu melabuhkan perasaannya pada seseorang yang sama rapuhnya.
“Simpan teru teru bozunya, Kak. Aku masih di sini. Kita belum selesai. Dan nggak akan pernah selesai.”
— Note.
TOMORROW X TOGETHER’s “Deja Vu” explores themes of longing, reunion, and the cyclical nature of love. The lyrics depict a narrative of running away out of fear, but ultimately finding solace and clarity in the familiarity of a deep connection. The concept of “deja vu” reinforces the idea of a love that feels destined and familiar, as if their bond transcends time and space. Overall, the song beautifully illustrates a relationship that endures through trials and tribulations, finding strength in shared experiences and a mutual understanding of each other’s emotions.
