Actions

Work Header

Tintanya Sudah Habis

Summary:

“Hai… Eh, kita perlu ngomong, nih. Ini… Serius.” balasnya dengan nada yang… tidak seimbang dengan kebahagiaanku. Mungkin dia hanya lelah. Tentu saja lelah. Dia idola semua orang— musisi, penyanyi, bahkan ketua osis. Aku sendiri mengerti, betapa sulitnya menahan senyuman yang tidak diperlukan kepada semua orang.

“Okay, what are we going to talk about?” suaraku masih memancarkan optimisme, walaupun mataku menunjukkan ketidakyakinan.

“Us. We’re talking about us.” jawabnya lirih, hampir tak terdengar. Kemudian ia lanjut, “Kita enggak bisa terus menerus bersama. Kita… hanyalah parasit di dunia orang dengan penuh keyakinan—“

 

OR

 

doomed yuri because of religious guilt and society

Notes:

no proofread:p

the song i listened to while writing this https://open.spotify.com/track/6UVUi1dGhFnyYBsakgT2Qq?si=6a2b89186f144996

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sinar di mataku tidak berakhir begitu saja. Ketika aku melihat jam yang menuntun waktuku bersamanya, senyum tidak bisa luntur. Ingatan dari hal kecil yang kita lakukan tidak sepenuhnya lepas begitu saja. Masih tertempel dengan erat, di otak dan hati— seperti oksigen yang terus menerus diserap dan darah yang terus menerus dipompa.

Pintu itu terus aku perhatikan. Menunggu momen pintu itu terbuka dan kehadirannya yang datang dengan ceria. Memikirkannya saja membuatku tertawa getir. Jujur, ia adalah orang pertama yang membuatku tidak sabar untuk makan siang.

Kalau itu belum romantis, lihat saja nanti. Nanti ketika surat dengan hati merah diterima olehnya. Nanti ketika gestur kecilku membuat pipinya memerah. Nanti ketika aku bisa membuatnya tersenyum di saat lelaki lain tidak bisa.

Masih banyak hal yang belum aku sebutkan. Namun, pikiranku teralihkan oleh pintu yang terbuka dan diikuti oleh sosok yang aku tunggu-tunggu.

“Kak! Akhirnya, kamu di sini!” ujarku bahagia. Di ruangan ini, ada beberapa murid. Hanya 7 murid, termasuk aku dan dia. Dan 5 murid lainnya mengetahui bahwa kami berpacaran.

Kalau aku sesungguhnya seorang laki-laki, diriku tidak akan pernah melewati momen memamerkan kekasihku kepada galaksi ini. Tetapi perlakuan itu harus ditunda. Terpaksa ditunda sampai dunia menyadari bahwa seorang perempuan juga membutuhkan sosok perempuan untuk mengurangi hampa dalam kehidupan.

“Hai… Eh, kita perlu ngomong, nih. Ini… Serius.” balasnya dengan nada yang… tidak seimbang dengan kebahagiaanku. Mungkin dia hanya lelah. Tentu saja lelah. Dia idola semua orang— musisi, penyanyi, bahkan ketua osis. Aku sendiri mengerti, betapa sulitnya menahan senyuman yang tidak diperlukan kepada semua orang.

Okay, what are we going to talk about?” suaraku masih memancarkan optimisme, walaupun mataku menunjukkan ketidakyakinan.

Us. We’re talking about us.” jawabnya lirih, hampir tak terdengar. Kemudian ia lanjut, “Kita enggak bisa terus menerus bersama. Kita… hanyalah parasit di dunia orang dengan penuh keyakinan—“

“Bukan parasit!” potongku tegas dan berdiri. Para murid di kelas ini diam seketika dan menoleh ke aras kita. “Maaf. Maksudku, kita hanyalah… pendatang. Bukan, kita bukan pendatang. Kita hanyalah manusia normal yang pantas mencintai satu sama lain. Kita hanya tertutupi dengan kebencian makhluk hidup lain.”

Suaraku memudar seiring aku selesai berbicara. Bola mataku sudah diselimuti air mata yang siap terjun kapan pun. Dengan lekat diriku mencerna wajahnya sekali lagi— dia bahkan sudah menangis.

“Kita enggak… enggak pantes di sini, di tempat kita enggak di… dihargai. Aku cewek, kamu juga… cewek. Sayangnya, agama kita juga… melarang ini. Maaf, aku yang lebih tua dan seharusnya aku yang lebih dewasa.” dia menjeda untuk mengambil napas dalam. “Kita harus berpisah.”

Remuk. Jika hatiku adalah kaca yang rentan pecah, maka hatiku sudah melukai organ dalamku.

Sejujurnya, aku sudah berekspektasi. Aku juga sudah tahu bahwa kapan saja tintanya akan habis, sehingga tidak ada kelanjutan halaman lagi. Satu hal saja, aku tidak menyangka akan secepat ini. Mungkin ini karena aku terlalu menikmati waktu dan menulis setiap momen yang aku lewatkan bersamanya. Itukah alasan mengapa tintanya sudah habis?

“Enggak masalah. Kalau… kalau itu yang kakak mau… Then, we should drift apart.

Dia menoleh ke sembarang arah. Manapun selama bukan diriku yang menyedihkan. Aku melakukan yang sama— dan mataku tertuju ke salah satu temanku.

Wajahnya… dilukis iba. Pemandangan yang aku harap tidak pernah dapatkan, terutama dari temanku sendiri.

“Aku tahu rasanya salah di mata orang lain. Aku mengerti rasanya takut dihukum karena melakukan sesuatu yang mereka anggap dosa.” aku kembali menatap wajahnya, dan dia menghapus jejak air mata. “I’m not forcing you to continue this journey with me. Aku juga sadar, kita enggak bisa bersama selamanya. Menurutku, kakak sudah memilih pilihan yang… yang rasional. Yang akan menguntungkan kita berdua di masa depan.”

Kini, banyak mata yang menyaksikan perpisahan ini juga telinga yang mendengarkan perbincangan ini. Aku berharap tidak ada orang lain yang masuk ke dalam kelas.

Go get a better guy… than me. Meskipun aku sudah berusaha sekeras mungkin, aku enggak bisa menjadi… seorang… seorang lelaki untukmu. It’s the best for us.

Air matanya sudah melarikan diri, menerjang kedua pipinya yang merona. “Maaf, maaf kalau aku enggak bisa—“

“Kita berdua enggak salah. Orang lain enggak salah. Tuhan juga enggak salah.” potong aku. Aku tidak tahan mendengar isak tangisnya. Temanku bahkan menawarkan tisu untuk kita berdua. “Yang kejam hanyalah takdir. Percaya aku, tindakan yang kamu lakukan sekarang sudah benar. Kalau kita meneruskan hubungan ini, nanti kita akan menderita. Lebih baik sekarang daripada nanti.” lanjutku dengan cepat, sebelum air mataku turun perlahan.

Dia terduduk di kursi, dan aku berlutut di depannya. Ini menyakitkan.

“Kakak bisa meninggalkan aku kapan saja untuk lelaki lain. Aku siap, aku sudah bersedia.”

Genggaman tangannya menghangat setelah aku sentuh. Aku juga yakin air matanya yang jatuh tidak kalah hangat.

Dunia ini kejam. Dunia dimana manusia tidak boleh memiliki perasaan untuk sejenisnya. Di mata orang lain, kita salah. Di mata orang biasa, kita benar. Aku dan dia hanyalah siswi yang mencari arti cinta dengan cara yang benar di tempat yang salah.

Jadi, apakah sumber masalahnya dari kita? Kita tidak salah dalam mencintai, bukan? Atau mungkin memang aku yang tidak pantas untuk memiliki dan menyayanginya.

“Kita enggak boleh paksa waktu untuk selalu bersama. Lambat laun, kita akan ketahuan masyarakat dan kita enggak tahu apa yang akan terjadi.” aku sadar bahwa suaraku sudah bergetar. Bahunya juga sudah bergetar hebat. Maafkan aku, kak.

You should find another guy. A real man.

Tuhan, kapan penyiksaan ini akan berakhir? Tuhan, kapan penyangkalan ini akan berakhir?

But, I don’t want the others, I want you only.” ujarnya perlahan. “The only reason I want us to end is… because we can’t love each other. This is sin, this is wrong.”

Sunyi. Semua murid di dalam kelas ini diam, bahkan kita berdua.

Benarkah ini salah? Benarkah ini perlakuan dosa? Tidak mungkin. Tuhan, mengapa engkau begitu kejam untuk menghukumku seperti ini? Dengan cara ini?

Tuhan, engkau sesungguhnya yang membuatku hidup. Namun mengapa? Mengapa hatiku pecah ketika ia mengatakan ini? Mengapa kulitku terasa terbakar ketika ia mengatakan dosa? Apakah ada iblis di dalam tubuhku? Atau aku yang sebenarnya seorang iblis?

I’m sorry, I… I didn’t….” dia mulai terisak. “I didn’t mean that. I’m sorry.

Aku tersenyum, bahkan tertawa. Bukan histeris, hanya tawa kecil. “Kita meremehkam cara dunia ini bekerja, bukan? Kita terkena imbasnya, kita sudah ditabrak roda dunia.” Penyesalan. Jikalau aku memiliki banyak tinta, kita tidak berakhir di sini. Aku bisa menulis cerita kita sampai roh kita ditarik perlahan di atas kasur dengan rambut putih dan kulit menipis.

I get it. We’re over, aren’t we? You’re right. This is sin. But this isn’t wrong. Just because people view this as a sin, it doesn’t mean God said the same. Ergo, we love in the wrong place. Here, people just judge us because they are self-centered and… and they believe in themselves.

Aku berdiri, menggenggam tangannya. “We’re not together anymore. But remember, if the floor collapses then you will be the first person I fly to.

Bahunya bergetar, tangisannya mengeras. Beberapa murid masuk ke kelas dan mereka bertanya kepada temanku, ‘apa yang terjadi?’.

This is for you.” Aku memberikan sepucuk surat yang aku tulis semalam kepadanya. “Farewell.

Dengan ragu ia menerimanya. “It was… a pleasure talking to you. Thanks for everything. I hope we can meet again when the world doesn’t view us as bad guys.

Setelah ia mengatakan perpisahannya, ia berlari keluar sembari menutupi wajahnya. Aku juga terduduk di kursiku dengan lengan menopang dahiku di atas meja. Perlahan, pipiku basah dan isak tangis yang lirih keluar.

Aku mengerti bahwa kertas untuk menulis kehidupan kita berdua sudah habis. Apakah ini kesalahanku karena mencintainya? Terlalu cinta, maksudku.

“Tidak apa-apa, bila kita berpisah lebih dini maka sakitnya akan berakhir lebih cepat. Kita mencintai satu sama lain. Cinta kita tidak harus memiliki. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan.” bisikku pelan untuk diriku. Rasanya seperti berbohong karena aku percaya setiap ucapan yang dia lontarkan, namun aku sendiri tahu bahwa ia masih mencintaiku.

Teman sekelasku menghampiri, memanggil namaku, tetapi aku tidak bangun. Aku membutuhkan waktu sendiri. Aku ingin mencerna ini semua tanpa menyangkal segalanya.

 

***

 

PENA di genggaman tanganku terjatuh ketika aku melihat sosok yang sangat familiar. Sosok itu menggenggam tangan lelaki lain di depan kelasku. Aku tersenyum. Itu artinya ia sudah menemukan orang lain. Seberapa maunya aku untuk menatap wajah eloknya, aku harus kembali menulis surat. Surat yang tidak pernah aku kirim.

Kini, aku hanya bisa berdoa agar tintaku cukup untuk setiap waktu. Kertas di hadapanku aku lirik. Belum apa-apa sudah ada bercak basah di dekat tintanya. Aku mengambil pena yang terjatuh dan mulai menulis lagi.

 

Dear, F.

Notes:

writing this in xmas night bcs santa gifted me pain