Actions

Work Header

Di Balik Pintu Kosan

Summary:

Di area kampus, semua orang tahu kalau Karel dan Saka adalah musuh bebuyutan yang tidak pernah bisa akur sejak semester satu. Hubungan mereka hanya sebatas adu bacot penuh gengsi di ruang kelas. Namun, di balik pintu kayu kosan yang terkunci, aturan mereka berubah total. Dimulai dari kepasrahan Saka di bawah dominasi mutlak Karel yang memergoki rahasia binalnya, hubungan yang awalnya dikira hanya sebatas pelampiasan nafsu dan fuck buddies perlahan mulai mengikis batasan gengsi mereka. Ketika ketulusan mulai lancang mengambil alih, siapakah yang akan kalah telak pada akhirnya?

Notes:

Kim Ryul as Karel Abhista Argantara
Kwon Ohyul as Saka Navier Keithara

Ini work lepasan dari AU gue di X. Kalau mau baca cerita lengkapnya, langsung melipir ke @bynarina ya.
Warning: 21+ / NSFW. Bijak dalam membaca.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Batasan yang Robek

Summary:

Di kampus, Saka adalah mahasiswa teladan yang paling hobi mendebat dan memancing emosi Karel di ruang kelas. Hubungan mereka tidak lebih dari sekadar rivalitas akademis yang penuh gengsi. Namun, sore itu di balik pintu kayu yang terkunci, seluruh benteng pertahanan Saka runtuh. Di bawah dominasi mutlak Karel, posisi mereka berbalik: tidak ada lagi debat pintar, yang tersisa hanyalah kepasrahan seorang Saka di bawah kuasa musuh bebuyutannya.

Chapter Text

Karel berdiri di depan pintu kamar kos Saka dengan napas yang agak memburu. Tangannya menggenggam ponsel, menatap ketikan terakhir dari Saka yang mulai panik. Sambil tersenyum miring, Karel memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mengetuk pintu kayu di hadapannya dengan ketukan yang sengaja dibuat lambat namun menuntut.

Tok. Tok. Tok.

​"Sak. Buka," suara Karel terdengar berat, menggema rendah di koridor kosan yang sepi sore itu.

​Di dalam kamar, Saka mendadak membeku di atas kasur. Posisinya masih persis seperti saat mengirim foto terakhir—terlentang miring dengan kemeja putih berantakan, rok renda transparan, dan fishnet stocking yang membungkus paha mulusnya. Tubuhnya mendadak lemas, kehilangan seluruh energi konfrontatif yang biasanya ia pakai untuk berdebat di ruang kelas.

​"Saka, gue tau lo di dalem. Hitungan ketiga gak lo buka, gue beneran cari cara buat masuk," ancam Karel lagi dari balik pintu, nadanya penuh dominasi yang mutlak.

​"B-bentar! Gak usah berisik, ntar tetangga denger, bajingan!" teriak Saka tertahan. Dengan gerakan terburu-buru dan kaki yang agak lemas, ia memaksakan diri turun dari kasur, melangkah setengah diseret menuju pintu.

​Begitu kunci diputar dan selot digeser, pintu langsung terdorong kuat dari luar.

​Karel melangkah masuk, langsung menutup pintu di belakang punggungnya, dan memutar kunci hingga berbunyi klik. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Saka dari atas ke bawah tanpa sensor. Pandangan Karel menggelap seketika melihat pemandangan di depannya. Musuh bebuyutannya yang biasanya paling berisik di kelas, sekarang berdiri dengan kemeja melorot dan rok mini renda transparan.

​"Anjing... jadi ini kelakuan lo kalau di kamar?" Karel mendengus rendah, melangkah maju memangkas jarak sampai Saka terdesak mundur ke dinding. "Di kampus sok paling pinter, sok suci, hobi banget nyari gara-gara ama gue. Ternyata di kosan hobi lo dandan jadi jalang murahan kayak gini, hm?"

​Saka membelalak, wajahnya memerah padam antara malu dan emosi. "Karel, jaga mulut lo—"

​"Kenapa? Mulut lo mau ngelawan lagi?" potong Karel cepat. Ia mengulurkan tangan, mencengkeram rahang Saka dengan kuat, memaksa cowok submisif itu mendongak menatapnya. "Liat muka lo. Bibir pink lo udah gemeteran gini, tapi mata lo masih sok nantangin gue. Gak usah munafik, Sak. Bau kamar lo aja udah kecium manis banget. Lo sengaja dandan begini buat mancing gue, kan?"

​"Gue gak ada maksud—ahh!" Saka memekik pelan saat tangan Karel yang bebas langsung merayap turun ke bawah perutnya, mencengkeram pinggang rampingnya dengan kasar.

​"Gak usah banyak alesan, bajingan. Liat dada lo, kulit lo putih bersih tapi puting pink lo mencuat tegang banget begini. Kedinginan apa emang udah sange dari tadi nungguin gue dateng?" Karel berbisik sensual, menekan tubuh Saka makin rapat ke dinding. "Gue tebak, di balik rok renda transparan ini, memek pink lo pasti udah basah kuyup berlendir kan?"

​Saka menggigit bibir pink-nya erat-erat, menolak menjawab, namun napasnya yang memburu dan tubuhnya yang merona merah muda dari ujung kepala sampai kaki sudah menjadi jawaban yang paling jujur bagi Karel.

 


 

Karel mendengus puas melihat reaksi Saka yang hanya bisa pasrah di bawah kuncian tubuhnya. Tanpa menunggu lebih lama, Karel meraup bibir pink Saka, melumatnya dengan kasar dan penuh tuntutan. Ciuman mereka terasa panas, diiringi suara decapan tipis yang memenuhi keheningan kamar. Saka sempat melenguh protes, mencoba mendorong bahu Karel menggunakan tangannya yang masih terbalut sarung tangan bulu putih, namun pagutan Karel terlalu dalam, membuat seluruh persendian Saka mendadak lemas tak bertenaga.

​Sambil terus mengunci bibir Saka, tangan Karel bergerak turun ke bawah. Jari-jarinya mengusap kasar paha Saka yang terbalut fishnet stocking, meraba jepitan garter belt biru di sana, sebelum akhirnya menyelinap masuk ke balik rok mini renda putih yang transparan.

​Begitu telapak tangannya menyentuh gundukan intim Saka, Karel langsung memutuskan ciuman secara sepihak, menyisakan benang saliva tipis di antara bibir pink mereka yang sama-sama basah.

​"Anjir, Sak... tebakan gue emang gak pernah salah," bisik Karel, napasnya memburu di depan wajah Saka. "Kain celana dalam lo aja udah basah kuyup begini. Lo beneran udah gak tahan ya dari pas kita chat-an tadi?"

​"B-bacot... ahh..." Saka melenguh pelan saat jari tengah Karel mulai menekan-nekan belahan intimnya dari luar kain tipis yang sudah lembap oleh cairan alaminya sendiri.

​"Gak usah sok jual mahal lagi, bajingan. Liat badan lo, dari dada sampe paha udah berubah jadi pink begini," ujar Karel penuh dominasi. Dengan satu gerakan sentakan, ia menarik paksa pinggiran celana dalam tipis Saka ke samping, mengekspos memek pink Saka yang sudah berkilau basah karena cairannya sendiri.

​Karel menggeram rendah melihat pemandangan indah di depannya. Lipatan daging lembut itu sewarna merah muda cerah, sangat kontras dengan kulit paha Saka yang putih bersih. Tanpa aba-aba, Karel melesakkan satu jarinya langsung ke dalam lubang memek pink yang luar biasa sempit dan panas itu.

​"AKHH! Karel, j-jangan langsung—hnghh!" Saka memekik tinggi, kepalanya spontan terdongak ke belakang menempel dinding, dengan kedua paha yang gemetaran hebat karena terkejut menerima invasi mendadak.

​"Sshh, diem anjing. Katanya tadi gue lemah, tapi baru kemasukan satu jari aja lo udah mau nangis begini," ejek Karel, meskipun suaranya sendiri terdengar makin berat dan serak karena menahan gairah.

​Karel mulai menggerakkan jarinya maju-mundur, mengobok-obok bagian dalam memek pink Saka yang terasa sangat menjepit dan berair. Setiap kali jari Karel menyapu dinding sensitif di dalam sana, tubuh Saka bersujud kecil, pinggangnya refleks meliuk mencari pegangan karena sensasi ngilu yang luar biasa nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

​"Karel... ahh! Stop... b-beneran geli, bangsat...hh-ahh..." Saka mencengkeram kemeja Karel kuat-kuat, air mata sudut matanya mulai menetes karena tidak kuat menahan siksaan nikmat dari jemari Karel.

​"Gak bakal gue lepasin sampai lo bener-bener pasrah di bawah gue," bisik Karel sensual, mempercepat tempo kocokan jarinya di dalam memek pink Saka yang semakin becek, menciptakan suara kecapan basah yang intens di antara selangkangan mereka.

 


 

Karel makin gila denger lenguhan Saka yang makin konsisten memenuhi kamar. Gak puas cuma mengobok-obok bagian bawahnya, Karel merayap naik, membawa tubuh Saka yang udah lemas tanpa tulang itu ke atas kasur dengan sekali sentakan kasar. Saka ambruk telentang, posisi kemeja putihnya makin tersingkap lebar, bener-bener mengekspos dadanya yang putih bersih dengan sepasang puting pink kecil yang mencuat tegang menantang Karel.

​"Liat lo sekarang, Sak. Berantakan banget di bawah gue," bisik Karel rendah. Matanya menggelap, menatap lapar ke arah dada Saka.

​Tanpa nunggu lama, Karel langsung menundukkan kepalanya, menyergap salah satu puting pink Saka ke dalam mulutnya.

​"AKHH! Karel, s-shh... hnghh!" Saka tersentak hebat, pinggangnya refleks melengkung ke atas pas ngerasain hisapan basah nan panas dari mulut Karel.

​Lidahnya Karel aktif banget, bener-bener gak mau ngasih Saka napas lega. Dia gak cuma ngulum, tapi lidahnya bener-bener lincah memainkan puting pink Saka—memutari areolanya yang ikutan merona merah muda, menyesapnya kuat-kuat sampai terdengar suara kecapan basah yang jorok di dada Saka. Sementara mulutnya sibuk nenen di puting sebelah kiri, tangan kiri Karel naik buat meremas dan memilin puting pink Saka yang sebelah kanan, bikin cowok submisif itu dapet rangsangan ganda yang mematikan.

​"Ahhh! Karel... b-bangsat, geli banget... hh-ahh..." Saka meracau gak jelas. Jemarinya yang masih pake sarung tangan bulu putih itu menjambak rambut Karel, niatnya mau dorong kepala cowok itu biar lepas, tapi yang ada cengkeramannya malah makin erat karena keenakan.

​Karel sama sekali gak peduli sama protesan Saka. Lidahnya makin gencar bekerja, menjilat turun ke sela-sela dada, lalu naik lagi buat gigit-gigit kecil puting pink Saka yang udah basah kuyup karena air liurnya. Setiap kali Karel ngenyot kuat, Saka bakal mendesah tinggi sambil gigit bibir pink-nya sendiri buat nahan suara jorok yang keluar dari mulutnya.

​Siksaan nikmat di dada Saka makin lengkap karena tangan kanan Karel yang di bawah masih terus aktif. Jarinya yang masih berada di dalam memek pink Saka ikutan mempercepat tempo kocokannya, selaras sama gerakan lidahnya yang makin liar di dada Saka.

​"Hnghh... Ah! Ah! Karel... stop... k-keluar... gue mau keluar... ahh!" Saka menggelengkan kepalanya frustrasi di atas bantal, air matanya bener-bener pecah karena diserang dari atas bawah. Memek pink-nya yang makin becek bener-bener ngejepit jari Karel kuat banget, tanda kalau dia udah bener-bener di ambang batas.

​Karel ngelepas sedotan di puting Saka yang udah berubah warna jadi merah matang karena ulahnya, lalu mendongak menatap wajah Saka yang udah merah padam beneran sewarna pink dari ujung kepala sampai kaki.

​"Keluar di jari musuh lo, Sak? Nyerah lo?" bisik Karel dengan suara serak yang seksi, sebelum kembali menyesap kuat-kuat puting pink Saka, memicu pelepasan intens yang bikin seluruh tubuh Saka kejang kedutan di atas kasur.

 


 

Karel bisa merasakan dinding memek pink Saka menjepit jarinya dengan kedutan-kedutan kencang, pertanda kalau cowok submisif itu baru saja mengalami orgasme kecil hanya karena permainan jari dan lidahnya di dada. Cairan hangat dan kental mengalir keluar dari lubang sempit itu, membasahi jemari Karel dan membuat permukaan rok renda putih Saka makin becek.

​Napas Saka memburu patah-patah, dadanya yang putih bersih dengan sepasang puting pink yang basah akibat air liur Karel naik turun dengan cepat. Matanya sayu dan berair, benar-benar lemas tanpa daya di atas kasur.

​"Keluar banyak banget lo, Sak. Licin bener," bisik Karel serak, menarik keluar jarinya yang kini berkilau basah karena cairan Saka.

​Bukannya berhenti, Karel justru merangkak turun ke ujung kasur. Ia mencengkeram kedua paha Saka yang masih terbungkus fishnet stocking dan kaos kaki panjang garis-garis itu, lalu membukanya lebar-lebar hingga memek pink Saka terekspos blak-blakan di depan wajahnya.

​"K-Karel... lo mau ngapain... j-jangan liat... ahh," cicit Saka lirih, mencoba merapatkan pahanya karena malu, tapi cengkeraman tangan Karel di lututnya terlalu kuat.

​"Mau gue bersihin pake lidah gue. Diam lo," potong Karel penuh kuasa.

​Tanpa ba-bi-bu lagi, Karel memajukan wajahnya dan langsung melesakkan lidahnya tepat di atas memek pink Saka yang sedang berdenyut pasrah.

​"AKHHH! KAREL! G-GELI... HH-AHH!" Saka menjerit tinggi, kedua tangannya yang memakai sarung tangan bulu putih langsung meremas seprai kasur kuat-kuat sampai kukunya memutih. Badannya tersentak hebat, pinggangnya refleks terangkat dari kasur karena syok menerima hantaman basah dari lidah musuhnya.

​Lidah Karel bekerja dengan luar biasa aktif dan jorok. Dia tidak cuma menjilat permukaannya, tapi benar-benar membelah lipatan memek pink Saka yang sewarna merah muda cerah itu, menyesap sisa-sisa cairan pelepasan Saka dengan rakus. Suara kecapan basah yang intens dan jorok (slurp, slurp) menggema jelas di kamar kos yang remang itu, bercampur dengan isak tangis nikmat dari mulut Saka.

​"Hnghh... ahh... u-udah... Karel, stop... l-lidah lo... ahh!" Saka menggelengkan kepalanya frustrasi di atas bantal. Rasa geli dan nikmat yang dihasilkan dari lidah Karel yang lincah benar-benar menyiksa akal sehatnya.

​Karel mengabaikan protes tersebut. Lidahnya sengaja dibuat datar dan lebar, menyapu dari bawah hingga ke atas, menekan bagian klitoris kecil Saka yang sensitif, lalu menguncupkan lidahnya untuk menusuk-nusuk masuk ke dalam lubang memek pink yang sempit itu. Setiap kali lidah Karel bergerak memutar di dalam sana, tubuh Saka akan bergetar hebat, merona pink dari ujung kepala sampai ke sela-sela paha.

​"Ah! Ah! Karel... g-gue bisa gila... ahhh! K-Karel... hnghh..." Saka meracau berantakan, air matanya menetes bebas di pipi sementara memek pink-nya yang terus-menerus dikobok oleh lidah Karel mulai memproduksi cairan baru yang semakin becek dan melumuri seluruh wajah bawah Karel.

 


 

Karel akhirnya menarik wajahnya menjauh dari selangkangan Saka. Wajah bawah Karel udah belepotan sama cairan becek dari memek pink Saka, berkilau di bawah remangnya lampu kamar. Karel mendengus rendah, matanya bener-bener segelap malam, dipenuhi gairah yang udah di ambang batas.

​Tanpa sepatah kata pun, Karel bangkit berdiri di sisi kasur. Tangannya bergerak cepat membuka ritsleting celananya, lalu mengeluarkan miliknya yang udah tegang sempurna, besar, dan urat-uratnya menonjol kuat.

​Saka yang masih lemas dengan napas putus-putus cuma bisa melotot pasrah pas Karel merangkak naik ke atas kasur, memposisikan dirinya tepat di depan wajah Saka.

​"Sak. Bersihin punya gue pake mulut lo," perintah Karel, suaranya rendah dan serak banget.

​"G-gak... ogah..." Saka menggeleng lemah, bibir pink-nya mengerucut mau nolak. Dia masih punya harga diri buat gak tunduk gitu aja sama musuhnya.

​Tapi Karel gak butuh persetujuan. "Gak ada penolakan, bajingan."

Srett.

​Karel mencengkeram rambut Saka dengan satu tangan, menariknya sedikit mendongak, lalu tangan satunya langsung mengarahkan miliknya yang besar itu dan memasukkannya paksa ke dalam mulut Saka.

​"Ughh! Mmph—?!" Saka terbelalak, matanya langsung berair pas ujung kepunyaan Karel langsung menghantam pangkal tenggorokannya tanpa permisi. Ukurannya yang besar bener-bener memenuhi seluruh rongga mulut kecil Saka sampai pipinya menggembung.

​"Ngemut yang bener. Jangan pake gigi lo," umpat Karel rendah, pinggangnya mulai bergerak maju-mundur, menyodok mulut Saka secara paksa dengan ritme yang konstan.

​"Mhh... nnghh... akh..." Saka cuma bisa ngeluarin suara-suara lenguhan tertahan dari hidungnya. Kedua tangannya yang pake sarung tangan bulu putih itu refleks memegang paha kokoh Karel, mencoba menahan dorongan pinggang Karel yang makin dalam dan gak sabaran.

​Lidah Saka yang merah muda itu terpaksa harus aktif bergerak di dalam, membasahi seluruh batang milik Karel yang besar seiring dengan sodokan paksa yang diterima mulutnya. Karel bener-bener gak ngasih ampun; dia sengaja menekan kepala Saka biar makin tenggelam, menikmati bagaimana mulut musuhnya menjepit miliknya dengan sangat ketat dan hangat.

​Air mata Saka mulai mengalir deras di sudut matanya, membasahi pipinya yang merona pink karena kewalahan nahan sodokan di tenggorokan. Air liurnya bahkan mulai menetes di sudut bibir pink-nya karena mulutnya udah gak bisa menampung ukuran Karel yang kelewat padat.

​Suara jorok dari mulut Saka yang dipaksa ngemut itu makin kedengeran jelas di kamar. Karel merem melek, mendesah rendah pas ngerasain hisapan paksa dari mulut Saka bener-bener nikmat banget.

​"Ahhh, sialan... mulut lo enak banget, Sak," geram Karel, makin mempercepat sentakan pinggangnya, bikin Saka makin megap-megap di bawah kuasanya.

 


 

Karel bener-bener gak ngasih celah buat Saka buat napas. Sodokan pinggangnya makin dalam, bikin kepunyaannya yang besar itu terus-terusan menumbuk pangkal tenggorokan Saka sampai cowok submisif itu bener-bener megap-megap dengan mata yang mendelik berair.

​"Mmphhh! Nngghh... hahh..." Saka berusaha narik kepalanya mundur, tapi cengkeraman tangan Karel di rambutnya terlalu kuat, bener-bener ngunci posisi kepala Saka biar tetep nerima sodokan paksanya.

​Setelah beberapa sentakan kasar yang bikin air liur Saka makin belepotan ngalir dagu dan leher putihnya, Karel akhirnya narik miliknya keluar dari mulut Saka dengan suara kecapan basah yang jorok.

Plop.

​Saka langsung terbatuk-batuk kecil, napasnya rakus nyari oksigen sambil ngusap bibir pink-nya yang udah bengkak basah. Tapi belum sempat Saka bener-bener tenang, Karel udah balik membalik tubuh ramping itu jadi posisi telentang lagi, lalu dengan kasar menarik kedua paha Saka yang masih ber-fishnet itu sampai menekuk dalam ke arah dada.

​Pemandangan di depan mata Karel bener-bener bikin akal sehatnya ilang. Memek pink Saka yang ada di balik rok renda robek itu udah bener-bener becek, ngeluarin cairan bening berkilau yang mengalir ke sela pantatnya. Seluruh tubuh Saka dari dada, perut, sampe lubang memeknya bener-bener merona pink matang akibat rangsangan bertubi-tubi.

​"Udah becek banget begini, Sak. Gak usah sok-sokan nolak gue lagi lo," bisik Karel serak, suaranya udah bener-bener berat di ambang batas.

​Karel megang kepunyaannya yang udah basah karena air liur Saka, lalu menempelkan ujung kepalanya yang panas tepat di depan bibir memek pink Saka yang lagi kedutan pasrah.

​"Karel... hnghh, b-bentar... ahh... gede banget, sakit ntar... jan-jangan langsung—" Saka menggelengkan kepala frustrasi di atas bantal, tangannya meremas seprai kuat-kuat karena ketakutan liat ukuran Karel yang siap nerobos masuk.

​"Gak ada bentar-bentar. Tahan, jalang kecil," umpat Karel rendah.

​Tanpa aba-aba, Karel langsung nendang pinggangnya maju, melesakkan kepunyaannya yang besar itu langsung masuk membelah memek pink Saka yang luar biasa sempit.

​"AKHHHHHHH!!! KAREL!!! BANGSATTTTT!!!"

​Saka ngejerit melengking tinggi, suaranya hampir serak pas ngerasain robekan nikmat sekaligus perih yang luar biasa di bawah sana. Badannya langsung kejang, dadanya membusung ke atas dengan air mata yang langsung deras keluar karena memek pink-nya dipaksa melar lebar demi menampung ukuran Karel yang langsung masuk setengah batang dalam sekali hentakan.

 


 

Karel bener-bener gak langsung gerak setelah hentakan pertama tadi. Dia nahan pinggangnya tetep diem di sana, ngasih waktu buat memek pink Saka yang luar biasa sempit itu melar dan nyesuaiin diri sama ukurannya yang besar.

​Napas Karel memburu berat di ceruk leher Saka, urat-urat di lengannya menonjol kuat karena harus nahan beban badannya sendiri supaya gak langsung ngehajar Saka habis-habisan.

​"Sshh... anjing, Sak... sempit banget, jepitannya gila," umpat Karel rendah, suaranya serak menahan nikmat yang hampir bikin dia tumbang dalam sekali masuk.

​Di bawahnya, Saka bener-bener nangis sesenggukan. Kedua tangannya yang masih pake sarung tangan bulu putih itu mencengkeram kuat bahu Karel, kukunya neken dalem ke balik kemeja Karel. Seluruh tubuh Saka bener-bener merona pink matang, gemetaran parah dari ujung kepala sampai ke ujung kaki akibat sensasi penuh yang mendesak di dalam memeknya.

​"Hffhh... ahh... K-Karel... g-gede banget, bangsat... s-sakit... hnghh..." Saka meracau patah-patah, nyoba nyari celah buat napas di sela-sela tangisnya. Bibir pink-nya yang bengkak agak kebuka, ngeluarin hawa panas yang seirama sama detak jantungnya yang karuan.

​"Tahan, Sak... atur napas lo. Jangan dilawan, lemesin paha lo," bisik Karel sensual. Dia mengecupi rahang, leher, sampai ke dada Saka, sengaja nenen lagi di salah satu puting pink Saka yang tegang buat ngalihin rasa sakit cowok itu jadi rasa geli yang merangsang.

​Lidah Karel kembali aktif menjilat dan sesekali gigit kecil dada putih Saka sampai empunya mendesah tinggi. Pelan-pelan, jepitan ketat di bawah sana mulai melonggar, keganti sama cairan memek pink Saka yang makin becek, melumasi batasan di antara mereka berdua.

​Pas dirasa Saka udah mulai rileks dan lenguhannya berubah jadi lebih lembut, Karel mulai narik pinggangnya mundur perlahan... lalu mendorongnya masuk lagi dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat namun sangat dalam.

Slurp.

​"AKHH! Hnghh... Karel... ahh..." Saka memejamkan matanya erat-erat, kepalanya bergerak gelisah di bantal.

​Karel bener-bener nahan egonya buat gak buru-buru. Dia nikmatin setiap mili gesekan kulit mereka. Pinggangnya bergerak maju mundur dengan ritme yang konstan dan dalam, sengaja mengabsen setiap dinding sensitif di dalam memek pink Saka. Setiap kali ujung milik Karel menumbuk bagian terdalam, suara kecapan basah yang jorok bakal kedengeran jelas banget di keheningan kamar.

​"Mmmh... enak banget, Sak. Liat lo di bawah gue kayak gini, mana bisa lo sinis lagi di kelas besok, hm?" Karel berbisik ngegoda di sela-sela sodokan lambatnya, tangannya turun buat meremas paha Saka yang dibalut fishnet stocking, ngebuka kaki cowok itu makin lebar biar dia bisa neken makin dalem.

​"B-bacot lo... ahh! Ah! Karel... hnghh... j-jangan lambat-lambat... ahh, geli..." Saka akhirnya mutusin harga dirinya, meracau frustrasi karena ritme lambat Karel bener-bener bikin dia kesiksa setengah mati sama rasa nikmat yang nanggung.

​Karel senyum miring, matanya makin menggelap puas denger musuhnya akhirnya memohon. "Oh, jadi musuh gue udah ketagihan? Mau lebih cepet, Sak?"

 


 

Karel sengaja merendahkan tubuhnya, menghimpit badan Saka sampai tidak ada jarak lagi di antara mereka. Senyum miringnya semakin lebar saat merasakan bagaimana memek pink Saka terus-menerus berdenyut kedutan, menjepit miliknya seolah-olah tidak mau dilepaskan.

​"Minta yang bener kalau mau cepet, Sak. Siapa yang sekarang lagi lo tunggangi, hm?" bisik Karel serak, sengaja menahan pinggangnya di posisi paling dalam, membuat Saka merem melek menahan kepenuhan.

​"K-Karel... ahh! Karel, bangsatt... buruan... hnghh, ah!" Saka menggelengkan kepalanya frustrasi di atas bantal, air matanya menetes ke sela rambutnya yang berantakan. Tubuhnya yang serba pink itu bener-bener makin sensitif karena gesekan kulit mereka yang panas.

​"Good boy," geram Karel rendah.

​Karel langsung mengubah ritme gerakannya. Pinggangnya mulai menyodok maju mundur dengan tempo yang jauh lebih cepat dan konstan. Kekuatan sodokannya bertambah besar, menghajar memek pink Saka tanpa ampun sampai kasur kosan itu berdecit konsisten mengiringi tiap hentakan.

Plap, plap, plap, slurp.

​Suara jorok dari cairan memek pink Saka yang semakin becek dan berbusa karena kocokan liar milik Karel memenuhi seisi kamar yang remang. Rok renda putih Saka yang sudah robek itu ikut bergoyang ke atas bawah seiring dengan bokong Saka yang terus-menerus terangkat menerima sodokan dalam dari Karel.

​"AKHH! Ah! Karel... hnghh, g-gila... ahhh!" Jeritan Saka malam itu bener-bener pecah. Setiap kali milik Karel menumbuk titik sensitifnya di dalam, bola mata Saka refleks memutih ke atas karena terlalu nikmat. Kedua tangannya yang masih memakai sarung tangan bulu putih itu mencengkeram kuat punggung Karel, meninggalkan bekas merah di sana.

​Lidah Karel tidak tinggal diam; sambil terus memompa bagian bawah Saka dengan babi buta, dia kembali menunduk untuk meraup bibir pink Saka yang sudah bengkak. Karel melumatnya kasar, bertukar saliva dengan rakus sambil sesekali turun untuk mengisap puting pink Saka yang sudah memerah matang akibat sedotan sebelumnya.

​"Sshh... Sak... ah, ketat banget lo, anjing," umpat Karel di sela-sela ciumannya. Napasnya bener-bener memburu, urat di leher dan dahinya menonjol kuat karena dia juga sudah berada di ujung tanduk.

​Gerakan pinggang Karel semakin menggila, sodokannya menjadi sangat dalam dan beruntun, membuat memek pink Saka semakin panas dan menjepit dengan kekuatan luar biasa seiring dengan puncak pelepasan mereka berdua yang sudah di depan mata.

 


 

Karel semakin menggila, mempercepat tempo sodokannya tanpa memberi Saka celah untuk sekadar menarik napas lega. Setiap hentakan kasar pinggangnya membuat tubuh ramping Saka berguncang hebat di atas kasur, menciptakan suara decitan yang beritme konstan di dalam kamar kos yang remang itu.

Plap, plap, plap, slurp.

​Suara jorok dari cairan memek pink Saka yang semakin becek dan berbusa terdengar begitu jelas. Karel mendongak sejenak, matanya yang menggelap menatap lurus ke bawah, memandangi bagaimana kepunyaannya yang besar keluar-masuk membelah lipatan memek pink Saka yang luar biasa cantik.

​"Sialan, Sak... Badan lo bener-bener gila," geram Karel dengan suara yang teramat serak dan berat. "Gue gak pernah liat cowok seindah lo, bangsat."

​Saka cuma bisa melenguh tinggi, kepalanya mendongak pasrah dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya yang memerah padam. "Ahhh! Karel... hnghh... akh!"

​"Liat diri lo sekarang. Kulit lo putih banget tapi semuanya berubah jadi pink pas gue hajar begini," bisik Karel sensual, membungkuk rendah untuk mengecupi rahang Saka yang basah oleh keringat. "Puting lo pink cerah, seksi banget mencuat tegang dari tadi... bibir lo pink bengkak gara-gara gue emut..."

​Karel sengaja menjeda kalimatnya, lalu melakukan satu sodokan yang luar biasa dalam hingga menumbuk titik terdalam Saka, membuat cowok submisif itu memekik melengking.

​"AKHHH! K-Karel... stop... ahh!"

​"Apalagi memek lo, Sak... jepitan memek pink lo ini bener-bener gak ada tandingannya," puji Karel blak-blakan dengan kalimat dirty talk-nya yang semakin liar. "Bisa-bisanya lo punya lubang seindah dan se-pink ini, hm? Udah sempit, anget, becek banget lagi kayak jalang. Mulut lo di kelas boleh sok galak, tapi memek pink lo di kasur bener-bener penurut banget sama punya gue."

​"B-bacot... ah! Ah! Karel... hnghh... k-keluar... gue mau keluar lagi... ahhh!" Saka meracau berantakan, meremas seprai kasur dengan sarung tangan bulu putihnya sampai koyak, karena pujian demi pujian dari mulut Karel justru membuat sensitivitas tubuhnya meningkat ribuan kali lipat.

​"Gak usah ditahan, keluarin di perut lo, Sak," bisik Karel puas. Gerakan pinggangnya semakin babi buta, menghajar memek pink Saka dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya seiring dengan dinding dalam Saka yang mulai menjepit luar biasa kencang, menandakan puncak pelepasan yang sudah di ujung tanduk bagi mereka berdua.

 


 

Sodokan Karel sudah tidak ada ampun lagi. Pinggangnya bergerak babi buta, menghajar bagian terdalam memek pink Saka yang semakin menjepit kencang luar biasa. Kasur kosan berdecit hebat seiring dengan tubuh Saka yang terus-menerus terangkat dan terdorong ke atas menubruk sandaran ranjang.

Plap, plap, plap, plap!

​"Ah! Ah! Karel... hnghh! G-gue... ahhh! Udah, Karel... k-keluar... ah!" Saka menjerit melengking, suaranya benar-benar pecah dan serak.

​Seluruh tubuh Saka bener-bener bergetar hebat dari ujung jari kaki sampai ke kepala. Warna kulitnya berubah jadi merah muda matang yang sangat kontras dengan seprai kasur. Matanya mendelik sayu ke atas, air mata dan air liurnya mengalir bebas tanpa bisa dia kontrol lagi. Sentasan demi sentasan dari Karel di memek pink-nya benar-benar langsung merusak seluruh saraf di otaknya.

​Rangsangan yang teramat intens dan bertubi-tubi di bawah sana membuat kandung kemih Saka mendadak ikut tertekan hebat.

​"K-Karel... ahh! Stop... g-gue... gue mau pipis... ahh! J-jangan di situ... hnghh!" Saka meracau panik, nyoba nutup paha fishnet-nya karena ngerasa ada sensasi lain yang mau mendesak keluar dari lubang depannya.

​"Gak usah ditahan, Sak! Keluarin semuanya di bawah gue, bajingan!" geram Karel rendah, bukannya melambat, dia malah semakin menekan pinggangnya masuk sedalam mungkin dalam kecepatan penuh.

​"AKHHHHHHH!!!"

​Saka memekik luar biasa tinggi saat gelombang orgasme yang paling dahsyat menghantam tubuhnya. Bersamaan dengan memek pink-nya yang menjepit sekencang-kencangnya dan menyemburkan cairan pelepasan yang pekat, bagian depan Saka ikut menyerah total.

​Tubuh Saka kejang kedutan parah di atas kasur, dan dari saluran depannya, cairan urine bening bercampur hangat menyembur keluar bersamaan, memancar membasahi perutnya sendiri hingga mengalir membanjiri selangkangannya, merembes ke balik rok renda putih yang sudah hancur berantakan. Saka bener-bener orgasme sampai pipis di bawah kuasaan Karel.

​"Sshh... ahh, anjing... Sak..." Karel menggeram puas luar biasa melihat pemandangan jorok namun super seksi itu tepat di depan matanya.

​Jepitan memek pink Saka yang kejang karena orgasme dan pipis itu bener-bener langsung menarik paksa pelepasan Karel. Dengan tiga kali sodokan dalam terakhir yang sangat bertenaga, Karel menyemburkan seluruh benih hangatnya penuh-penuh, mengisi rahim dan mengubek-ubek bagian dalam memek pink Saka sampai meluap keluar di sela paha mereka.

​Karel langsung ambruk menindihi tubuh Saka yang masih kedutan lemas tanpa daya. Napas keduanya memburu berat di keheningan kamar, menyisakan bau anyir gairah, keringat, dan cairan pelepasan yang bersatu di atas kasur yang basah kuyup.

 


 

Karel mengembuskan napas beratnya di ceruk leher Saka, membiarkan bobot tubuhnya menimpa cowok submisif yang masih gemetaran hebat di bawahnya. Sisa-sisa kedutan dari memek pink Saka yang baru saja orgasme parah sampai pipis masih terasa jelas membungkus miliknya yang masih tertanam di dalam sana.

​Perlahan, Karel mengangkat kepalanya. Sisa gairah yang intens tadi mendadak mencair begitu melihat wajah Saka yang bener-bener berantakan—pipi merona merah muda, bulu mata basah oleh air mata, dan bibir pink yang sedikit terbuka demi meraup oksigen.

​Gak ada lagi ejekan atau kata-kata kasar. Karel menunduk, lalu menempelkan bibirnya ke bibir bengkak Saka.

​Kali ini ciumannya bener-bener beda. Bukan hantaman kasar penuh dominasi seperti tadi, melainkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan dalam. Lidah Karel menyapu pelan bibir pink Saka, melumatnya dengan ritme lambat yang menenangkan, seolah-olah sedang mengabsen sisa rasa manis di sana. Saka yang tadinya masih syok dan lemas tanpa daya, perlahan memejamkan matanya, membalas ciuman soft itu dengan sisa tenaga yang dia punya. Tangan Saka yang masih terbalut sarung tangan bulu putih bergerak pelan, mengusap tengkuk Karel, menikmati keintiman yang mendadak terasa begitu hangat di antara mereka yang biasanya selalu bermusuhan.

​Suara decapan lembut (mwah, mwah) terdengar pelan di kamar yang senyap itu, perlahan mengalihkan sisa ketegangan pasca pelepasan gila-gilaan tadi.

​Namun, kelembutan itu gak bertahan lama ketika milik Karel yang berada di dalam memek pink Saka perlahan kembali menegang dan mengeras sempurna karena jepitan alami Saka yang emang kelewat ketat. Karel melenguh rendah di sela ciuman mereka, memutus pagutan lembut itu secara sepihak.

​"Sialan... lo bener-bener bikin gue gak bisa berhenti, Sak," bisik Karel serak, matanya kembali menggelap ditopang gairah ronde kedua yang tiba-tiba memuncak.

​Karel menarik miliknya keluar dari memek pink Saka dengan suara plop yang basah. Dia gak nunggu lama buat langsung merangkak naik, memposisikan dirinya berlutut tepat di atas dada Saka, mengarahkan kepunyaannya yang udah kembali tegang keras dan berurat itu lurus ke arah wajah cantik musuhnya.

​"K-Karel... hnghh, mau ngapain lagi... ahh..." Saka mendongak lemah, matanya yang sayu mengerjap pasrah.

​Karel gak ngejawab lewat kata-kata. Tangan kekarnya bergerak cepat mengocok miliknya sendiri dengan ritme super cepat tepat di depan muka Saka. Batang besarnya yang panas beberapa kali sengaja disapukan ke pipi dan bibir pink Saka yang langsung bikin cowok itu merem melek. Hanya butuh beberapa kocokan kasar yang intens, urat-urat di leher Karel kembali menonjol tegang karena dia udah bener-bener berada di puncak pelepasan keduanya.

​"Sak... liat gue," perintah Karel rendah.

​Pas Saka membuka matanya, Karel menggeram kuat, melakuakan kocokan terakhir yang super cepat, dan—

Crot! Crot! Crot!

​Semburan cairan putih kental yang panas dan melimpah ruah langsung keluar dari ujung milik Karel, menembak telat menghujani wajah Saka. Cairan pelepasan kedua itu mengalir deras membasahi dahi, pipi yang merona pink, kelopak mata yang terpejam, hingga sebagian masuk ke sela-sela bibir pink Saka yang sedikit terbuka.

​Saka cuma bisa mendesah pasrah pas ngerasain cairan kental, hangat, dan berbau anyir khas milik Karel memenuhi seluruh wajah cantiknya, kontras banget sama kulitnya yang putih bersih. Karel mengembuskan napas panjang yang lega, memandangi hasil karyanya di muka musuh bebuyutannya dengan senyum puas yang luar biasa dominan.

 


 

Karel mengembuskan napas panjang, menatap wajah Saka yang kini berantakan namun tampak begitu pasrah di bawahnya. Sisa cairan kental di wajah Saka perlahan meleleh turun ke pipi dan leher putihnya. Dominasi yang tadi meluap-luap di dalam diri Karel perlahan surut, digantikan oleh rasa puas yang aneh sekaligus dorongan insting untuk menjaga musuh besarnya yang kini benar-benar tak berdaya.

​Karel mendengus pelan, lalu beringsut turun dari atas tubuh Saka.

​"Bener-bener berantakan lo, Sak," bisik Karel. Suaranya sudah kembali normal, meski sisa seraknya masih terdengar seksi di keheningan kamar.

​Saka tidak menjawab. Dia hanya berbaring telentang dengan mata terpejam, dadanya naik turun teratur, dan seluruh tubuhnya yang serba pink itu masih sesekali kedutan kecil akibat kelelahan pasca-orgasme yang hebat tadi.

​Karel bangkit dari kasur, membiarkan tubuhnya yang polos melangkah ke arah kamar mandi dalam di sudut kamar kos Saka. Gak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebaskom kecil air hangat dan selembar handuk kecil bersih yang sudah dibasahi.

​Karel duduk di tepi kasur, lalu dengan perlahan menarik kepala Saka untuk bersandar di atas pahanya. Saka sempat melenguh pelan, matanya terbuka sedikit, menatap Karel dengan pandangan sayu yang masih agak linglung.

​"Diem. Gak usah banyak tingkah dulu," kata Karel ketus, tapi tangannya bergerak sangat kontras dengan ucapannya.

​Karel mulai mengusap wajah Saka dengan handuk hangat. Perlahan dan sangat lembut, dia membersihkan sisa cairan pelepasan keduanya yang menempel di dahi, pipi, kelopak mata, hingga sudut bibir pink Saka yang bengkak. Setiap usapan handuk hangat itu membuat Saka melembut, sensasi hangatnya benar-benar menenangkan kulit wajahnya yang sensitif.

​"Buka mulut lo dikit," perintah Karel pelan.

​Saka menurut tanpa protes. Karel menggunakan ujung jarinya yang dibalut handuk bersih untuk membersihkan sisa rasa anyir di sela bibir dan lidah Saka. Setelah bagian wajah bersih, tangan Karel bergerak turun, mengusap leher, dada, hingga sepasang puting pink Saka yang masih kemerahan akibat hisapannya tadi.

​"K-Karel... dingin..." cicit Saka lirih, suaranya hampir habis. Tubuhnya agak merinding saat handuk hangat itu terkena angin kamar.

​"Makanya diem, ini gue bersihin biar lo gak lengket, bajingan," balas Karel pelan, ada nada gemas yang tertahan di sana.

​Karel beralih ke bagian bawah. Dengan telaten, dia membersihkan sisa air pipis dan cairan becek yang membanjiri selangkangan serta paha Saka yang masih terbalut robekan fishnet stocking. Begitu handuk hangat itu menyentuh lipatan memek pink Saka yang masih berdenyut pelan, Saka refleks menegang dan melenguh pendek.

​"Sshh... perih..."

​"Iya, tau. Sempit banget lagian punya lo," sahut Karel, memperlambat gerakannya menjadi sekadar usapan-usapan ringan yang menenangkan di area privat tersebut sampai benar-benar bersih dan kering.

​Setelah memastikan tubuh Saka bebas dari cairan gairah mereka, Karel melempar handuk kecil itu ke baskom. Dia meraih selimut tebal di ujung kasur, lalu menariknya ke atas, membungkus tubuh lemas Saka sampai sebatas dada.

​Karel kembali naik ke atas kasur, menyusup ke dalam selimut yang sama, lalu menarik tubuh ramping Saka ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya melingkar di pinggang Saka, membawa dada mereka kembali menempel hangat.

​Saka yang biasanya bakal langsung menendang Karel menjauh, kali ini justru menyurukkan wajahnya ke dada bidang Karel, mencari perlindungan dan kehangatan dari rasa lelah yang luar biasa. Jemarinya yang masih terbalut sarung tangan bulu putih mencengkeram pelan kaus yang kini dipakai Karel.

​Karel mengecup puncak kepala Saka dengan lembut, lalu mengusap punggung cowok itu dengan ritme yang teratur, menemani musuh bebuyutannya itu yang perlahan-lahan mulai memejamkan mata dan tenggelam dalam tidur nyenyak.