Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-01
Words:
3,400
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
322

I saw something in you.

Summary:

Joshua lupa ada sepasang mata yang melihat dirinya. Seokmin. Pemuda itu melihatnya seakan-akan ia adalah seorang malaikat—yang ironisnya membawa alkohol— baru saja turun dari langit.

Notes:

Harusnya buat pride month, and also my first time writing a oneshot like this... huhu maaf kalau ada salah kata heheheh

Work Text:

Malam itu, Joshua hadiri pesta yang diselenggarakan oleh temannya; Vernon dan Minghao. Dentum nada lagu yang dibawakan keduanya membuat pecah suasana keramaian yang ada di ruangan itu. Joshua dengan minuman alkohol yang kadarnya tak sampai 20% di genggam. Dirinya tampak memukau hari ini, dia sengaja untuk berdandan sedikit.

Jaket biru yang ia kenakan dengan resleting hampir menutupi dadanya yang sedikit basah karena keringat dari panas badannya. Suara bass yang keras di depannya buat ia hampir lupa jika dirinya sedang dilihat oleh penggemar dari depan meja disjoki milik temannya.

Semuanya bersenang-senang, para penggemar menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh Vernon dan Minghao. Menurut Joshua, teman-temannya memang sangat berbakat dalam dunia musik, tiada hari tanpa dirinya memuji semua temannya.

Satu lagi, Joshua lupa ada sepasang mata yang melihat dirinya. Seokmin. Pemuda itu melihatnya seakan-akan ia adalah seorang malaikat—yang ironisnya membawa alkohol— baru saja turun dari langit.

Seokmin, teman satu grup yang buat Joshua tergila-gila dalam diamnya karena kelembutan hatinya dan juga menjadi salah satu pembawa kebahagiaan dalam hidupnya. Seorang yang Joshua sukai bertahun-tahun.

Bisa gila jika Joshua selalu memikirkan itu tiap ia bertemu dengan Seokmin. Ia tahu dalam kondisi apapun, dunia tidak akan mengizinkan Joshua jatuh cinta dengan Seokmin selain menjadi rekan satu grup saja.

"Lagu yang mereka bikin, kayak gambarin mereka banget, ya?" ucap Seokmin dari balik maskernya. Joshua tersenyum sebelum membalasnya. "Iya. Ditambah Minghao lagi seneng sama lagu EDM kayak gini. Mereka cocok sih dengan genre kayak gini."

Keduanya kembali menikmati lagu yang terputar, tetapi Joshua tetap merasakan jika Seokmin melihatnya lagi. Ah, ada apa dengannya?

"Kak, gimana Prancis kemaren?"

"Hm? Ah, lumayan kok."

"Begitu ya."

Suaranya hampir pecah, Joshua tahu itu. Mau dibilang bagaimana pun, dia akan selalu tahu apa yang terjadi dengan Seokmin.

"Kalau ada sesuatu yang ganjel ngomong aja." ujar Joshua pada lelaki di depannya. Seokmin yang mendengarnya langsung mendekati Joshua lebih dekat, lalu berbisik.

“Sebentar lagi aku bakal berangkat.. wajib militer.” kata itu terasa getir jika Seokmin ucapkan. Joshua selalu tahu itu, Seungkwan selalu membicarakan tentang itu padanya. Seperti apa yang Jeonghan, Wonwoo, dan teman-teman lainnya lakukan, mereka akan meninggalkan kegiatan sebagai idol untuk 2 tahun demi kepentingan negara mereka.

Dan bagi Joshua, rasanya ia tidak sepenuhnya rela jika Seokmin yang berangkat sekarang. Ia tahu masih ada pertemuan bulanan, tetapi…

Rasanya Joshua lebih hidup jika Seokmin selalu berada di sisinya, dan ia pastikan Seokmin tak akan tahu tentang perasaannya itu.

"Iya aku tahu, kok. Kamu sama Mingyu dan lainnya. Emangnya kenapa?”

"Aku masih pengen sama kamu, Kak."

Masih? ingin bersama nya? Apa yang kamu lakukan Seokmin. Joshua bingung dengan responnya. Apa maksud Seokmin dengan masih ingin bersamanya? Bukankah selama ini memang dia dan teman lainnya selalu bersama?

"Aku masih disini, kita masih disini kok. Pikir lagi coba, Jeonghan juga baru balik kok."

“Tapi rasanya beda, kak.” Tangan milik Seokmin sedikit bergetar.

“Apa yang beda? Coba kasih tahu aku.”

“Karena aku suka kamu. Shua. Aku gak mau ninggalin kamu.”

Seokmin... Lee Seokmin... menyukainya?

Joshua bingung, selama ini ia tidak keberatan dengan orang yang menyatakan cinta kepadanya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Sangat berbeda. Apakah karena itu Seokmin? Seseorang yang sebenarnya ia sukai selama bertahun-tahun itu? dan mengapa ada sesuatu dalam perut Joshua yang berterbangan?

"Kamu mabuk ya? Bentar. Bang? Seokmin minum berapa banyak, sih?" Joshua sempat bertanya dengan seseorang di samping Seokmin, tetapi ia tidak melihat satupun gelas alkohol yang telah dikonsumsi disampingnya.

"Aku enggak mabuk." ujar Seokmin. Matanya mengedip, seperti menahan air matanya. Joshua terdiam. Tak tahu harus membalas apa. Ia kebingungan.

Joshua menghela nafasnya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi dengan Seokmin. Jika dia bukan mabuk, apakah dirinya yang sedang mabuk sekarang?

“Jangan bercanda, ih. Aku tau kamu pasti sering bercanda kalo saat-saat kayak gini.”

Seokmin membalas. Bukan dengan kata, tetapi raut wajahnya. Joshua tahu raut wajah itu, raut wajah Seokmin ketika ia harus berurusan dengan permasalahan di agensi, raut wajah yang ia keluarkan saat dirinya bertengkar serius dan merasa bersalah dengan Seungkwan, raut wajah yang Seokmin keluarkan saat merasa dirinya sangat menginginkan sesuatu.

Seokmin untuk kali ini serius.

“Bisa gak kalo kita lanjutin nanti ini?”

“Aku ada mobil.”

“Jesus…”

Seokmin benar-benar ingin berbicara dengannya.

Joshua langsung dengan cepat menggenggam tangan milik Seokmin dan membawanya keluar dari tempat itu. Yang lebih muda arahkan keduanya ke mobil yang ia bawa, Seokmin sengaja membawa mobil karena ia tahu dirinya juga tidak akan mabuk. Tidak jika ia akan memberitahu Joshua semua rahasianya.

Seokmin sekarang di kursi pengemudi, dan Joshua disampingnya.

"Sekarang kasih tahu aku, kenapa kamu bilang kayak gitu? Aku... Aku gak apa apa kalo kamu kasih tahu ke aku, tapi ini didepan kita tadi ada carat yang nonton, loh?"

"Maaf, aku gak bisa tahan lagi."

Keduanya terdiam. Joshua melihat keluar, hampir tak ada cahaya menerangi jalanan. Lampu redup dari SUV milik Seokmin lah yang menerangi keduanya. Joshua masih melihat Seokmin, matanya seperti menerka sesuatu. Ia ambil kedua tangan milik Seokmin dan mengepal nya di antara tangan Joshua.

Seokmin yang melihat tangannya digenggam, tak tahu harus apa.

"Dari kapan?"

"Apanya?"

"Kamu suka aku."

Kalau dipikir-pikir. Lama. Lama sekali rasanya hingga Seokmin tak bisa menahan untuk mengucapkan isi hatinya di club tadi. Lama sekali hingga rasanya Seokmin hanya ingin menangis didepan Joshua. Lama sekali hingga Seokmin hanya akan menurut dengan pria di depannya dan menghalalkan segala cara agar bisa bersamanya.

"Udah lama banget. Dari kamu masuk trainee, aku lihat kamu kayak kebingungan sama kelakuan anak-anak. Dari tahun 2023, kamu jadi lebih cantik pas kita baru aja bikin comeback. Aku mulai ngerti sama apa yang kamu rasain, aku cari tahu apa yang buat kamu seneng.

Aku hafal persis pastry yang kamu beli setiap hari setelah latihan, notes parfum favorit kamu, terus cara mata kamu sering berbinar kalau ada seseorang ngobrol tentang harinya di depan kamu. Aku pun aslinya seneng kalau ternyata aku termasuk salah satu orang yang bisa ngobrol sama kamu. Tapi...

Kak, demi Tuhan aku gak bisa jelasin semua. Aku udah lama tahan ini semua, aku cuman takut kamu bakal ninggalin aku kalo aku ngomong dari awal. Tapi mengingat kalau aku bentar lagi bakal pergi, aku pengen mengeluarkan ini semua. Setidaknya kamu tahu intinya.”

Joshua terdiam. Seokmin masih melihat yang tertua, dengan tatapan itu. Tatapan yang selalu Joshua lihat setiap harinya, tatapan yang muncul ketika Seokmin hampir menangis di backstage. Tatapan itu, hampir membunuh Joshua.

"Aku sayang kamu juga."

Joshua tak tahu bagaimana kata itu terucap setelah mencerna semua kata demi kata yang Seokmin ucapkan. Ia rasa dirinya bukanlah seseorang yang sangat spesial. Seokmin lah yang lebih berbakat dari dirinya, dirinya yang selalu selangkah lebih jauh dari Joshua. Tapi Joshua tak pernah sadar jika Seokmin pun mengaguminya selama bertahun-tahun. Hingga di titik Seokmin mencintainya? Joshua berpikiran jika ini semua adalah efek dari alkohol. Pasti, pasti begitu.

"Kamu... beneran gak mabok?"

"Enggak, Kak. Ini asli dari hati aku."

"Siapa aja yang tahu soal perasaan kamu?"

"Gak ada. Aku takut bocor ke agensi."

Seokmin melepas beanie dan masker yang ia pakai. Joshua lihat lebih jelas paras dari pria yang baru saja ungkap isi hatinya pada dirinya. Pria yang mengaguminya bertahun-tahun. Pria yang berani jatuh cinta dengan Joshua tanpa peduli apa resikonya.

Karena resikonya bukan pada Joshua, tetapi orang sekitarnya.

"Seokmin... Terimakasih udah jujur sama aku. Aku... juga ngerasain yang sama kayak kamu. Aku rasa kamu orang paling hebat sedunia dengan cara kamu yang hibur kita semua, selalu berusaha yang terbaik buat kita dan juga penggemar. Aku tahu nahan perasaan kamu selama bertahun-tahun itu gak mudah karena aku ngerasain persis sama apa yang kamu rasain.

Seokmin, aku suka kamu. Juga. Bertahun-tahun lamanya juga aku enggak tahu kalo dunia ini bakal berpihak ke aku atau enggak tapi nyatanya, untuk sekarang dunia lagi berpihak dengan aku dan kamu."

Joshua mengangkat tangannya untuk mematikan lampu di dalam mobil Seokmin, dirinya hanya bisa melihat sedikit cahaya yang terpantul ke wajah Seokmin. Matanya masih sedikit berkaca-kaca walaupun dalam gelap.

"Aku sayang kamu. Resikonya banyak kalau kamu tanya, tapi janji sama aku. Kita berdua... bakal simpan rahasia ini.

"Aku janji, Kak. Aku bakal jaga kamu terus."

"Terimakasih, Seokmin."

Joshua bisa merasakan matanya menghangat, hampir perih. Ia menahan air matanya yang tiba-tiba keluar, ia tak tahu apa yang baru saja terjadi. Semua itu terjadi begitu saja, setengah hatinya lega melepaskan semua itu.

Seokmin yang melihat lelaki di depannya hampir menangis, hanya bisa menangkup wajah Joshua dengan tangannya. Yang didepannya hanya bisa menangis kecil, seperti terlepas dari belenggu yang menempel dari dirinya sejak lama.

“Kak, aku boleh…”

“Iya, Seok. Boleh sekali.”

Ranum keduanya bertemu, mencium, melumat dengan lembut. Seakan-akan bibir keduanya mencari sesuatu yang hilang. Penuh perasaan, dan pelan. Waktu di antara mereka seakan berhenti, tak ada pesta dan tak ada manusia berjalan. Hanya ada keduanya, kisah yang akan mereka lalui berdua.

Joshua menepuk dada milik Seokmin secara perlahan, mengisyaratkan agar Seokmin melepas ciumannya untuk sementara. Yang lebih tua mengambil nafas dengan pelan, jantung berdetak seakan-akan adrenalinnya terpacu. Joshua tak pernah merasakan ini sebelumnya. Sama sekali tidak.

“Seok?”

“Iya?”

“Apartemen kamu atau aku?”

Lee Seokmin. Joshua Hong. Akan menjadi manusia paling egois malam itu.

Joshua mengerang ketika Seokmin lucuti jaket birunya yang ia kenakan tadi. Meninggalkan tanda kasih sayang kemerahan di kulit lembut milik si tertua. Joshua rasakan pipinya memanas, ia dimabuk cinta dan hasrat, tak pernah ia rasakan seperti ini karena dirinya hanya ingin taat pada agamanya.

Seokmin membuktikan kalau Joshua salah, ia bukan lah orang yang taat.

Seokmin sekarang menggendong Joshua ke dalam kamarnya, Joshua sudah setengah telanjang ia buat. Menurutnya, ini adalah mahakarya terindah, Joshua adalah mahakarya terindah yang pernah ia temui seumur hidup.

Joshua diturunkan di kasur besar milik Seokmin. Melanjuti kegiatan untuk menelanjangi si tertua yang ada dibawahnya. Surai milik Joshua sudah berantakan, tidak seperti yang Seokmin lihat saat di club tadi.

“Seok.. Seok.. Amhh… Cium aku, cium aku.”
Ucap Joshua dengan manja, menginginkan pria di atasnya menciumnya. Seokmin tak bisa menolak, kedua bibirnya bertemu lagi. Dengan basah, dengan lembut, Seokmin puaskan nafsu nya dari ciumannya dengan Joshua. Kini lidah mereka bertemu di dalam, dan seketika suasana menjadi lebih panas.

“Kakak sayang.. mmh.. Kakak Shua cantik sekali hari ini.”

“Nnh.. Iya, aku cantik. Aku cantik buat kamu, Seokmin.”

Setelah melepas ciumannya sementara, Seokmin bisa merasakan dagunya yang basah karena air liur yang masih terpaut dengan area bibir milik Joshua. Jorok, sangat jorok, Seokmin suka jorok hari ini.

Dengan cepat, yang paling muda lepas semua pakaian yang ia kenakan, terlempar begitu saja diatas lantai yang dingin. Joshua hanya bisa mengagumi apa yang bisa ia lihat sekarang; badan milik Seokmin, hasil jerih payahnya berolahraga selama beberapa tahun itu.

Joshua seperti dibawa terbang ke langit ketujuh. Dirinya sudah tak kuat menahan semuanya. Tak ada lagi kain yang membaluti raga keduanya. Hanya ada tangan Seokmin yang meraba semua keindahan tubuh milik Joshua.

Telinga, ke wajah, jatuh ke leher, lalu ke dadanya. Pinggang ramping Joshua dipegang oleh si termuda, membuat Joshua bergetar mengingat ini kali pertamanya ia diperlakukan seperti ini. Joshua senang, bahagia, penuh, rasanya penuh.

“Aku.. Aku sayang banget. Sangat sayang sama kak Shua. Kita terus kayak gini, ya?” Ucap Seokmin dalam jedanya saat ia menyesap kedua puting milik Joshua yang mulai mengeras saat dipegang. Manis, manis rasanya jika Seokmin berani memperlakukannya seperti ini.

“Mmh.. Iya, Seokmin. Kita terus kayak- Ah! kayak gini.. mmh…” Joshua memejamkan matanya, menahan rasa geli dan nikmat yang dibuat oleh si termuda. Tangan Seokmin sangat lihai, yang tertua dibuat terbang sembari mengelus surai lembut milik Seokmin.

“Kakak sayang… kamu pernah…?” Seokmin hentikan gerakannya sebentar. Joshua yang bingung berubah menjadi tersenyum.

“Enggak, belum pernah. Aku tahu seluk beluknya tapi kamu yang pertama buat aku.”

Seokmin tersenyum, lalu mengecup wajah Joshua dengan lembut. Yang dikecup hanya bisa manja, memeluk dari tengkuk milik Seokmin yang dirasa sudah terasa berkeringat. Joshua suka perasaan ini. Sangat sangat suka.

“Aku mau dicintai terus sama kamu, bertahun-tahun aku tunggu kamu.” Seokmin meraba bagian bawah milik Joshua, perlahan tetapi ia pastikan Joshua tetap nyaman. Ah, gila rasanya. Seokmin tak kuat.

“Aku juga selalu tunggu kamu. Aku bakal sayang sama kamu selamanya.. Mmh… Ah, Seokmin, sayangku.”

Seokmin hentikan lagi pergerakannya, mengambil sesuatu dari laci disamping kasurnya. Ia dapatkan sebuah botol yang Joshua yakini adalah pelumas. Ah, Seokmin sudah berpengalaman ternyata. Sedikit rasa kecewa Joshua rasakan.

“Kamu juga pertama kali buat aku, aku simpan ini hanya buat jaga-jaga.” Mungkin Joshua tidak kecewa lagi mendengar alasan itu.

“Kakak sayang, aku izin ya? Bilang ya kalo kamu gak kuat.” Seokmin memastikan yang tertua tidak akan kesakitan, mengangkat sedikit pinggul Joshua untuk meregangkan lubang milik Joshua dengan perlahan.

Jari Seokmin yang sudah dilumuri pelumas sudah masuk, perlahan tapi pasti ia masukkan satu jari pertama.

“Ng-h…. Seokmin, sayangku. A-ah sebentar…”

“Sakit, ya? kita bisa berhenti disi-”

“Enggak, jangan berhenti. Aku suka banget… Anh….”

Seokmin bisa lihat putih yang mulai muncul dari penis milik Joshua yang berdiri, lalu menggenggamnya. Menaikan tangannya dari atas ke bawah, dengan si empunya yang meringis keenakan saat kemaluannya itu diraba. Joshua mendesah, suaranya masih lembut seperti yang ia dengar saat latihan vokal. Seokmin memang selalu penasaran suara milik Joshua ketika yang tertua itu dibuat mendesah dari lama.

“Kakak… Kak Shua cantik sekali. Sangat baik, baik sekali.” Tangan kanan Seokmin hanya berfokus untuk memasukkan jarinya pada lubang milik Joshua yang masih ketat. Ia masih tak bisa menjelaskan betapa cantiknya pria yang ada di depannya sekarang, mengerang, mendesah, pinggangnya yang sedikit meliuk ketika Seokmin dapatkan titik nikmat di dalam Joshua.

“Seok.. Seokmi- Mmh! Ah, sekarang… boleh tambah jarinya.” pinta Joshua pada yang termuda. Seokmin menurut, memasukkan jari keduanya disana. Lagi-lagi Joshua dibuat enak tak kepalang. Ia tak pernah mengira bercinta seenak ini rasanya, selalu ia melihat sebuah video di internet tentang dua sejoli bercinta. Joshua tak tahu rasanya bisa seenak ini.

Setelah beberapa menit, Joshua meminta Seokmin untuk berhenti sebentar setelah putih miliknya keluar. Tangan milik Seokmin membawakan efek magis bagi tubuhnya, ia bahkan tak tahu jika tubuh manusia bisa seperti ini kalau dibuat enak. Joshua hanya tersenyum dengan tangannya yang masih melingkari punggung milik Seokmin.

“H-hah…”

“Lihat, deh. Kamu keluar duluan, Kak.”

“Rasanya kayak… Enak gitu…”

Seokmin terkekeh, lalu mencium Joshua lagi. Mengingat lelaki di depannya hanya untuk miliknya malam ini, di sela ciuman itu dia hanya bisa tersenyum. Hatinya penuh saat ini. Seokmin adalah pria paling bahagia untuk sekarang.

“Aku mau ambil kondom dulu.” Seokmin sempat beranjak dari kasur, tapi gerakannya diberhentikan oleh Joshua. Tangan lentiknya itu menggenggam tangan milik Seokmin secara tiba-tiba.

“Gak usah, aku mau… coba.” Ujar Joshua.

“Yakin, Kak? Pertama kali, loh.”

“Aku yakin.”

Seokmin mempersiapkan dirinya, mengangkat pinggul Joshua sedikit dan arahkan penisnya ke lubang hangat milik Joshua yang sudah basah itu. Mata Seokmin lapar, sangat lapar, melihat yang tertua mudah mendesah ketika badan nya diraba dengan penuh cinta.

Dan kini kepunyaan milik Seokmin sudah bersarang di sana, mulai dari ujung hingga pertengahan dari penisnya sudah masuk ke liang lubang hangat nan basah milik Joshua. Joshua sendiri tak lagi peduli dengan jati diri dan martabat, ia hanya ingin digunakan oleh Seokmin dengan penuh cinta.

“Kak… Mmh.. Ketat banget, Shua.”

“Iya. Iya- Angh..! Iya, aku ketat banget buat kamu. Pakai aku, Seokmin. Sayangi aku sekarang.”

Seokmin gerakan pinggulnya maju-mundur perlahan sedangkan Joshua pusing dibuat saat ia sendiri tidak bisa membayangkan lubangnya kembali dimasuki oleh penis milik seorang laki-laki yang mencintainya selama bertahun-tahun dalam diam. Yang dimasuki hanya bisa mengerang keenakan.

Seisi kamar apartemen milik Seokmin hanya dipenuhi suara milik Joshua yang melengking. Kecepatan pinggul Seokmin yang mulai meningkat itu melahirkan suara kecipak basah nan becek. “Sayang. Sayangku, Seokmin- Anngh! Mmh…! Enak. Enak banget. Aku suka. Hhah…! Angh…”

Sprei kasur yang tadinya tertata rapi sekarang diobrak-abrik oleh kedua sejoli itu. Bercumbu hancurkan nafsu mereka. Dua anak Adam yang berdosa mencari titik kenikmatan di padatnya malam hari kota Seoul. Joshua tidak bisa diam, semakin ia keenakan semakin berisik saja dia menjadi. Seokmin suka, suka dengan suaranya. Jorok, semuanya jorok.

Masih dengan hentakan basah itu, Seokmin merasakan orgasme yang hampir diujung. Yang dibawah masih mengerang, cairan putih miliknya mulai mengalir dari penisnya yang bergesekan dengan perut Seokmin, buat perut yang termuda itu basah oleh sperma milik Joshua.

“Kakak, kakak cantik banget. Agh..! Cantik sekali. Mau ya? Mmh.. Aku sayang terus, aku pake terus. Aku mau jaga kakak Shua. Boleh?” Seokmin bisikan kata demi kata di telinganya, sembari menggenjot lubang milik Joshua. Yang digenjot hanya mengangguk kecil dengan senyuman, lalu dicium lah yang tertua oleh Seokmin. Ciuman basah, penuh cinta. Air liur yang tertaut dari ujung bibir ke bibir lain, menetes ke penjuru badan Joshua dan Seokmin.

Tatapan lapar milik Seokmin muncul. Dari bibir, leher, hingga turun ke dada milik Joshua lagi, Seokmin kecup dan beri tanda ke semua bagian. Warna merah muda lahir di permukaan kulit Joshua, mahakarya Seokmin yang akan selalu ia banggakan. “Cantik, cantik banget. Sayang aku … mmnh …!”

Lubang milik Joshua kini melahap penuh penis milik Seokmin. Didorong perlahan demi capai titik nikmat milik Joshua. “Seokmin. Seokmin. Angh..! Iya, masuk lagi Seokmin.. Mngh..! Sakit, sakit, enak. Seokmin… terus…” Sperma milik Joshua sekarang bermuncratan dan membasahi keduanya, sedangkan milik Seokmin sudah hampir diujung, masih menggenjot tubuh bening milik Joshua. “Aku penuh banget. Hhah..! Seokmin, kamu belum keluar— hhah…”

“Aku juga mau keluar, Kak.”

“Seokmin— Ah! Keluar di aku aja, dalam lubang aku. Aku enak, kok.”

Seokmin seperti biasa menurut, mengeluarkan putihnya di dalam lubang hangat milik Joshua. Yang diisi pun melenguh panjang, kepalanya mendongak keenakan setelah diisi penuh-penuh oleh Seokmin. Pusing, nikmat, semuanya jadi satu pada benak Joshua. Dirinya benar-benar benar dicintai oleh Seokmin. Lubang yang tertua penuh cairan putih, meluber keluar membasahi sprei. Joshua tidak menyangka Seokmin bisa mengeluarkan sperma sebanyak itu.

Kini keduanya menghela nafas, melihat hasil karya basah dari keduanya. Sprei teracak, basah, keringat bercucuran, hingga pakaian yang berserakan di lantai. Keduanya terdiam, dan tersenyum. Joshua masih mengambil nafas, merasakan lubangnya penuh dengan cairan hangat yang ia ketahui sebagai sperma milik Seokmin. Jika ia adalah perempuan, maka Joshua sangat yakin besok ia akan hamil.

Seokmin, di depannya, menatap Joshua dengan penuh rasa cinta. Entah cinta jenis apa lagi, intinya disini adalah ia tergila-gila dengan yang tertua. Rambutnya sudah tak berbentuk, berantakan karena keringat. Air conditioner rasanya sudah tak berguna untuk menutupi rasa hangat dari keduanya.

“Itu…”

“Itu keren.”

Joshua terkekeh kecil, membuka kedua tangannya mengisyaratkan Seokmin untuk memeluknya. Yang termuda menurut, memeluk Joshua dan menempatkan dirinya di sampingnya. Tak peduli spreinya se basah dan se kotor apa, yang penting keduanya bersama.

“Aku gatau harus cerita apa ke Seungkwan habis ini.” ucap Seokmin. Joshua hanya menepuk dada Seokmin dan tertawa dengan ucapannya.

“Tinggal gausah kasih tahu, takutnya dia yang paling heboh.”

“Bener juga.”

“Aku takutnya gak bisa jalan besok.”

“Maaf ya. Aku terlalu kenceng, ya?”

Joshua tersenyum, lalu mengecup Seokmin. Yang dikecup membalas dengan memeluknya. Joshua sangat senang hari ini, sangat penuh, sangat dicintai. Begitu juga dengan Seokmin. Seseorang yang ia tunggu bertahun-tahun, lelaki yang ia cintai dari lama akhirnya membalas perasaannya. Perasaan itu mutual, ia cinta sekali dengan Joshua. Dan Joshua sangat cinta dengan Seokmin.

“Mau dibawa kemana aku besok?” tanya Joshua pada Seokmin.

“Yakin kamu bisa jalan?”

“Lucu kamu.”

“Joshua sayang aku.”

“Aku gak bisa ngelak kalo itu.”

Keduanya akhirnya terlelap dalam tidur, memeluk satu sama lain. Dengan perasaan lega karena semuanya sempurna sekarang, setidaknya untuk sekarang…

 

“Barang kamu udah lengkap? Jangan ada yang ketinggalan, tolong. Manager kamu udah dua tapi masih teledor berarti salah kamu. Obatnya jangan lupa. Kalau baris kamu juga harus diem ya, nurut sama komandan kamu”

“Iya iya, sayang. Mami aku perasaan gak kayak gini ke aku, deh?”

Joshua sekarang ada di apartemen milik Seokmin, menunggu sang kekasih sebelum berangkat ke barak untuk jalani wajib militernya. Semua barang bawaan milik Seokmin sudah tertata rapi di depannya. Hanya tinggal menunggu jemputan untuk membawanya kesana.

“Kabarin aku nanti.”

“Pasti, kok. Harusnya aku yang bakal kangen kamu, sekarang gantian, ya?”

“Ah, sebelin kamu.”

Beberapa bulan berlalu. Seokmin dan Joshua sekarang adalah sepasang kekasih. Agensi masih tidak tahu, sebisa mungkin keduanya tidak akan memberitahu sama sekali demi karir mereka. Seokmin yang bersiap untuk keberangkatannya untuk wajib militer, dan Joshua yang sekarang sibuk dengan jadwal solo nya. Tapi keduanya tidak khawatir, mereka tahu prioritas masing-masing. Walaupun begitu, keduanya masih sering berkontak dengan satu sama lain. Entah dari pesan, panggilan suara, hingga bertemu langsung dengan Seokmin yang mengambil cuti dan Joshua yang menyisihkan waktu berlibur miliknya.

Teman mereka pun tahu, walaupun membutuhkan waktu untuk mereka mencari jawabannya. Boo Seungkwan orang pertama yang tahu, ia selalu tahu tentang bagaimana dekatnya Joshua dan Seokmin. Tetapi Seungkwan merespon dengan baik, bahkan sangat menerima mereka karena ia sudah muak dengan skinship yang dilakukan keduanya. Dari Seungkwan hingga ke teman-teman lainnya, Joshua dan Seokmin merasa diterima. Dan berharap kedepannya akan selalu bisa diterima dimana saja.

Karena inilah mereka, jati diri mereka, tanpa berpura-pura sedikitpun.