Chapter Text
Aku tumbuh dikeluarga yang bahagia bersama Mami, Papi dan seorang kakak laki-laki bernama Ken. Mami dan Papi memberikan edukasi seksual kepadaku sedari kecil, maka di umurku yang menginjak 17 besok, hal-hal berbau seksualitas tidak membuatku kaget. Tapi, dikeluarga ini, ada sebuah peraturan, yaitu hanya Mami, Papi, dan Kak Ken yang boleh menjamah tubuhku. Kami tidak perlu merasa malu atau takut jika ingin membicarakan hal-hal tabu menurut masyarakat kebanyakan, karena kami sudah saling mengetahui tubuh masing-masing. Ya, aku sering mendengar Mami dan Papi melakukan seks di kamar mereka. Kak Ken juga kadang membawa pacarnya dan melakukan seks. Aku sendiri belum punya pacar dan Papi serta Kak Ken seperti menolak keras jika aku mempunyai pacar sebelum 17 tahun. Makanya, aku senang besok akan bertambah usia. Mami, Papi, Kak Ken sudah bertanya padaku apa hadiah yang aku inginkan, untuk kali pertama, aku menyerahkan pada mereka untuk memberiku kejutan apapun.
Keesokan harinya, aku bangun pagi disambut dengan kue ulang tahun dan keluarga yang berkumpul di sisi kasurku.
"Selamat ulang tahun, sayang," Papi mencium dahi lalu turun ke hidung dan berakhir mencium di bibirku. Kami sekeluarga sudah terbiasa dengan ciuman bibir.
"Kamu sudah 17 tahun, ya sayang, Mami udah gak sabar lihat kamu main sama Papi dan Ken," Mami melakukan hal yang sama seperti Papi, tapi aku bertanya-tanya dengan ucapan Mami itu.
"Akhirnya adek tercintaku udah 17 tahun," kata Kak Ken yang langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku sedikit meronta kaget karena perlakuannya itu. "Pelan-pelan kak, adeknya kaget itu," kata Mami sambil menepuk bahu Kak Ken. Kak Ken hanya tersenyum meringis.
"Hadiah Papi nanti malam ya sepulang Papi kerja," tatapan mata Papi berbeda sedetik seperti menyembunyikan sesuatu. "Apa tuh, Pi? Gak bisa sekarang aja?" tanyaku penasaran.
"Sabar ya, sayang. Papi kamu bakal kasih yang enak dan pengalaman baru buat kamu. Nah, nanti malam kamu pakai hadiah dari Mami ini ya," kata Mami sambil menyerahkan sekotak hadiah. "Makasih, Mi. Aku buka sekarang boleh?"
"Nanti aja, waktu Papi pulang kerja. Sambil nunggu Papi mandi, nanti kamu baru boleh buka kado itu ya," balas Mami. Aku mengangguk dan menatap ke Kak Ken untuk mengode hadiah darinya. "Hadiahku nanti setelah hadiah dari Papi ya, dek". "Kenapa gitu, Kak?" tanyaku. "Ada lah. Udah sana siap-siap sekolah."
Setelah itu, aku pun bersiap ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Sekarang, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Artinya, sebentar lagi Papi akan sampai rumah. Aku menunggu dengan sabar duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Tidak berselang lama, pintu rumah terbuka dan aku mendengar Papi yang masuk ke rumah. Aku berdiri dan berlari kecil menuju Papi untuk menyambutnya. "Papi," aku memeluknya dan Papi mengangkup pipiku untuk memberi ciuman di bibir seperti biasanya. Tapi kali ini agak berbeda, karena Papi melumat bibirku cukup lama. Aku masih mengalungkan tangan dilehernya sambil agak berjinjit karena Papi tingginya melebihiku. Papi melumat bibirku dan mengelus punggungku yang kemudian turun menuju pantat. Cukup lama Papi melumat bibirku hingga aku harus menarik diri karena mulai kehabisan oksigen. "Papi rakus banget," aku menggerutu saat ciuman kami sudah terlepas. "Maaf, sayang, Papi udah gak sabar nih." Aku membalas dengan tatapan bertanya. "Papi mau mandi dulu. Kamu ke kamar dan pakai hadiah yang Mami beri ya. Tunggu Papi di kamarmub okay?" Aku yang masih kebingungan hanya menjawab dengan anggukan.
Saat di kamar, aku mulai membuka hadiah yang Mami berikan. Begitu tutup kotak terangkat, aku melihat sebuah mini dress warna putih dari kain satin yang begitu lembut. Aku mengangkatnya dan menggumam bahwa dress ini begitu cantik. Ada renda di bagian belahan dada yang rendah, tali pundaknya yang tipis, dan panjangnya yang hanya sampai menutupi pantatku. Aku langsung melepas kaos dan celana pendek yang aku pakai untuk mencoba dress ini. Saat aku berkaca, aku kurang puas melihat bra yang tampat di belakang dress, jadi aku melepas bra-ku dan mengenakan lagi dress ini.
Sangat cantik, pikirku. Aku masih bertanya-tanya, untuk apa semua ini harus aku lakukan. Tenggelam dalam pikiran, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. "Papi? Masuk," jawabku.
Papi melihatku dengan tatapan lapar, dari ujung kepala hingga kaki, tidak sedikitpun yang terlewat. "Sayangku cantik sekali." Papi berjalan mendekatiku lalu memeluk dan mengelus punggungku. "Perawanku sudah besar," Papi berkata dengan mulut yang menempel telingaku. Tangannya mulai turun menyusuri pantat dan pahaku sambil mengirup aroma di lekukan leherku. "Papi," kataku lirih sambil menarik ujung kaosnya. Papi mundur selangkah dan beralih menangkup pipiku, "Sayang, kamu sudah 17 tahun, artinya ini saatnya Papi membuatmu menjadi wanita dewasa." Aku membuka mulut ingin bertanya, tapi Papi membungkam mulutku dan melumatnya, kali ini lebih kasar dari sebelumnya. "Sayang, Papi sudah gak tahan lagi." Papi mendorongku ke atas kasur yang membuatku tidur terlentang. Papi menindih tubuh dan kembali melumat bibirku. Kali ini, Papi tidak hanya diam di bibirku, tapi juga mencium pipi lalu turun ke dagu, saat turun ke leherku, Papi mengecup lama dan menjilat sesekali. Aku hanya bisa mengerang merasakah semua sentuhan Papi. Ciuman Papi turun ke tulang selangka dan turun lagi menuju dadaku. "Papi?" Aku bertanya sambil memandang tangannya yang mulai menjelajah area dadaku. "Kamu cantik sekali, sayang, dress ini cocok untukmu. Tapi, Papi akan lebih suka kalau kamu naked." Papi menyingkap tali dressku perlahan yang membuat payudara kiriku tampak. "Kamu sudah besar, sayang." Papi mencium payudaraku dan menjelajahinya. Lidahnya mulai terulur menyentuh putingku. "Ahhh.. Papi." Papi tidak menghentikan kegiatannya, dia semakin melumat putingku dalam mulutnya. Ini seperti video yang Mami dan Papi pernah perlihatkan padaku untuk pembelajaran seks. Aku menikmati kuluman Papi di puting kiriku dan aku merasa celana dalamku mulai basah. Tangan kiri Papi tidak tinggal diam, dia mulai membuka tali dressku yang sebelah kanan agar payudaraku tampak dihadapannya. Setelah puas dengan sebelah kiri, Papi pindah melumat puting payudara kananku. "Papi, ahhh." Suara desahanku memenuhi kamar.
Setelah puas dengan kedua payudaraku, Papi mengangkat tubuhnya dari atas tubuhku. "Sayang, Papi beneran udah gak tahan. Kita percepat ya." Papi mulai melepas dressku dan tersisa celana dalamku saja. Papi mencium bagian depan tubuhku dengan tangannya yang menjamah. Saat ciumannya sampai di perut bawahku, Tangan papi membelai gundukan memekku. Mami dan Papi mengajariku dengan sebutan itu untuk vaginaku. "Akhirnya hari ini tiba," kata Papi dengan tangan yang mulai menarik tali celana dalamku ke bawah. Setelah berhasil terlepas, Papi memandangi memekku dengan matanya yang bergairah. "Kamu tau apa yang akan Papi lakukan?" tanya Papi menatap mataku. "Seks?". "Ya, sayang, Papi akan melakukan seks kepadamu." Aku terkejut. "Tapi, Papi kan orangtuaku?". "Maka dari itu, sayang, Papi yang akan memulai duluan untuk mengambil keperawananmu. Itu adalah kewajiban seorang ayah."
Papi menunduk mendekati memekku. Tangannya membuka pahaku sehingga kepalanya berada tepat di depan memekku. "Kamu harus siap. Papi akan memberikan kenikmatan ini sebagai hadiah ulang tahunmu.'
Kedua jempol Papi meraba daging terluar memekku lalu membukanya perlahan. Papi menghirup aromanya dan seketika aku terjengat saat merasakan sapuan hangat dari lidah Papi. "Papi." Aku mendesah tak karuan saat lidahnya yang hangat menjilat-jilat bagian dalam memekku. Klitorisku yang terkena hidungnya menambah sensasi geli. Papi menghisap memekku cukup lama hingga aku merasakan keinginan untuk pipis. "Papi, stop. Aku mau pipis," kataku sambil mendorong kepala Papi agar menjauh dari memekku. "Cum, sayang." Aku menggeleng, "Bukan, Papi. Aku beneran mau pipis." Aku bergerak tak karuan tapi genggaman tangan Papi di pahaku tidak bergeming sedikit pun. Hingga aku merasa tidak tahan lagi dan mengeluarkan cairan dari memekku. "Ahhhhhh." Papi yang melihat semburan itu tersenyum. "Ternyata anakku ini bisa squirt." Aku tidak bisa fokus pada perkataan papi, aku hanya fokus pada pernafasanku yang terengah saat orgasme itu datang. Setelah cairan tidak keluar lagi, Papi mengelus klitorisku. "Papi, jangan. Ahhh, masih sensitif," kataku yang berusaha menghindari sentuhan Papi. Papi tidak peduli dan terus mengucek memekku hingga aku orgasme kedua kalinya. Saat aku terengah efek dari orgasme, aku melihat Papi mulai membuka koasnya dan dilanjutkan ke celana pendeknya. Papi ternyata tidak mengenakan celana dalam, jadi kontolnya langsung muncul begitu celana pendeknya lepas dari kakinya. Papi mengambil pelumas yang ada di atas meja, membuka tutuonya dan mengeluarkan isinya yang kemudian diratakan ke semua permukaan kontolnya. "Papi, aku takut," kataku lirih. "It's okay, sayang. Papi janji bakal pelan-pelan ya, biar kita bisa enak bersama."
Papi mengarahkan ujung kontolnya mendekati memekku, aku terjengat saat merasakan sensasi dingin dari pelumas dan kerasnya kontol Papi. "Tapi kontol Papi besar sekali, kayaknya gak cukup di memekku." Aku menahan dada Papi yang mendekati tubuhku. "Cukup, sayang. Kita coba ya." Papi mengarahkan kontolnya untuk memasukki memekku. "Aw, Papi sakit." Aku meringis kesakitan dan mendorong Papi agar menjauh, tapi tenaga Papi lebih besar yang mana dia terus memasukkan kontolnya semakin dalam. "Stop, Papi. Noooo, sakit Papi." Aku merengek semakin keras dan menggelengkan kepala. "Sabar ya sayang, sakitnya cuma sebentar kok." Sembari merengek, aku mengangkat tubuhku untuk melihat kontol Papi yang sudah setengah jalan masuk. Tangan kanan Papi yang sebelumnya di sisi badanku, terangkat untuk membelai rambutku. "Papi minta maaf ya kalau ini akan sakit. Tapi kamu harus tahan, okay?" Aku melihat Papi memundurkan dan memajukan kontol di dalam memekku dengan pelan beberapa kali, lalu tanpa aba-aba mendorong dengan keras masuk yang membuatku merebahkan diri lagi dan mengerang kesakitan. "Papi, sakit." Aku menangis merasakan kesakitan pada memekku. "Ahhh, nikmat banget sayang memekmu. Jepit banget kontolnya Papi." Papi mendesah tepat di telingaku. Papi mendiamkan kontolnya hingga tangisanku reda. "Habis ini kamu bakal ngerasain enak sayang." Papi mulai memaju-mundurkan kontolnya perlahan sambil mengerang nikmat. "Papi bakal sering main sama memekmu ini." Genjotan Papi semakin lama semakin cepat. "Papi. Papi." Kamarku berisi desahan kami berdua. Hingga akhirnya, "Papi, aku mau keluar." Aku mencengkeram lengan Papi saat gelombang orgasme datang. Papi tidak menghentikan genjotannya dan membuatku berteriak mendesah. "Papi mau keluar, sayang. Papi keluar di dalam ya." Tanpa menunggu jawaban dariku, Papi menyodok kontolnya jauh ke dalam memekku dan rasa hangat mulai terasa. Papi mempertahankan posisi ini beberapa menit sebelum akhirnya mundur dan mengeluarkan kontolnya. Spermanya ikut keluar dari lubang memekku. "Papi, aku bakal hamil ya?" tanyaku polos. "Enggak untuk sekarang ya sayang. Selesaikan dulu sekolahmu baru nanti kita bicarakan lagi. Nanti kamu akan mulai minum pil yang Papi kasih." Aku mengangguk lemas. Papi turun dari kasur dan menuju kamar mandi. Kembali, dengan membaca sebaskom air dan kain bersih. Papi mengelap memekku dari sisa spermanya dan cairanku. Mataku mulai berat jadi aku pasrah terhadap perlakuan papi. "Makasih ya sayang." Papi mengecup dahiku lalu menyelimuti tubuhku yang masih telanjang dan membiarkan aku tidur.
