Actions

Work Header

Teacher x Hot Duda

Summary:

Gempa tidak ingat bagaimana dirinya bisa terjebak di situasi sekarang ini. Memiliki Pak Hali—seorang pria ganteng berstatus duda yang merupakan orang tua muridnya—di pangkuan sama sekali tidak termasuk ke dalam daftar panjang keinginannya tahun ini.

Gemhali nsfw. Teacher Gempa x Hot duda Hali. Bahasa vulgar.

Notes:

Repost from my X. Ada yg direvisi.

Work Text:

Gempa tidak ingat bagaimana dirinya bisa terjebak di situasi sekarang ini. Memiliki Pak Hali—seorang pria ganteng berstatus duda yang merupakan orang tua muridnya—di pangkuan sama sekali tidak termasuk ke dalam daftar panjang keinginannya tahun ini.

Namun lihatlah dirinya. Berada di bawah kungkungan pria yang lebih tua, di dalam kendaraan pribadi milik si duda yang membatasi pergerakan mereka, dan bagian paling parah adalah penisnya yang tertutup celana ditekan dan dihimpit oleh bongkahan semok Pak Hali. 

Aduh. Mendadak suhu mobil mahal yang ditumpanginya tak lagi terasa semenggigilkan itu. Lambat laun menjadi sesak dan panas. 

Haha. Seharusnya mereka berdua segera keluar dari mobil ini, ‘kan? Atau kalau tidak, keduanya bisa pingsan kehabisan oksigen akibat sirkulasi udara yang buruk lantaran jendela mobil yang tertutup rapat. 

“Uhh… Pak Hali?” Ia coba memanggil si pemilik nama yang tampak terlalu nyaman di posisinya. 

Kursi penumpang yang diduduki olehnya dibuat nyaris seratus delapan puluh derajat kemiringannya—Gempa hampir tiduran. Dan Pak Hali menatap ke arahnya bagai elang yang mengunci mangsa. 

“Ya, Pak Gem?” Sahut Pak Hali singkat, dan napasnya mulai memberat. 

Pak Hali bergerak kecil, menggeser tubuh guna lebih dekat dengannya. Gempa deg-degan setengah mati, sebab gerakan tersebut malah membuat bokong Pak Hali bergesek di atas penisnya. 

Duh. Gempa kepanasan. Keringat panas mulai bersekresi di area punggungnya. Ia juga bergeming resah di tempat, tidak berani membuat pergerakan sekecil apa pun karena takut makin memperparah keadaan. Tidak, deh. Sudah jadi parah, tersebab Pak Hali menelanjanginya melalui tatapan intens.

Gempa membuang Pak Hali dari objek pandangannya. Ia menoleh ke samping—kemana pun asal bukan ke Pak Hali yang tampak seksi mendominasi seperti ini. Lelaki yang berprofesi sebagai guru SD itu menelan salivanya dengan sukar, tercekat di kerongkongan hingga jakunnya naik-turun lambat. Kedua tangannya meremat kain celana sendiri, tidak yakin ingin ditempatkan di mana selain di sana. 

Aslinya, Gempa ingin melingkari lengannya di pinggang si pria seksi di pangkuan, lalu menarik-ulur tubuh pria tersebut supaya bokong sekalnya menari nakal di atas penis milik Gempa yang—wow, wow, wow. Berhenti di situ, Gempa. Kau tidak mungkin malah membayangkan hal-hal erotis terhadap wali murid. 

Tapi susah. Tidak bohong. Gempa bahkan harus menggigit bibir dan menarik napas dalam-dalam agar tidak terpancing sange

“Pak Gem? Kamu yang manggil saya tadi, tapi sekarang malah diem aja. Kenapa?” 

Fuck. Gempa mau pingsan aja sekarang bisa, nggak? Atau mati sekalian tidak masalah karena—Pak Hali ini sialan sekali, ya, rupanya. Pria itu mengacak-acak rasionalitasnya dengan aroma maskulin nan menyegarkan yang merangsek masuk ke sistem olfaktorinya. Bagai diinjeksikan afrodisiak dosis kecil langsung ke pembuluh darah namun efek yang terasa begitu luar biasa memabukkan. Pak Hali menundukkan badan, semakin mempertipis jarak antar dua torso yang hampir bersinggungan.  Pak Hali dengan kemeja putih digulung lengannya hingga siku dan dasi marun yang longgar itu menginvasi ruang personalnya. 

Gempa dag-dig-dug-ser. Mungkin wajahnya sudah memerah, dan darahnya mulai mengalir semua ke bagian selatan tubuhnya—oh tidak! 

“Pak Gem? Jawab, dong.” 

Terkutuklah suara selembut sutera milik Pak Hali si duda tajir nan ganteng ini.  

Gempa menggulir netra ke arah Pak Hali di atasnya, melirik tanpa menatap. “Pak—anu… Emmm….” Lagi-lagi saliva ditelan sukar seraya mencoba jernihkan pikiran yang dengan lancang menayangkan 1001 adegan porno antara dirinya dan Pak Hali di mobil si duda. “Itu… Hehe—aduh, gimana ya….”

Ya, dan malah Gempa tidak mampu melempar kalimat verbal dengan utuh. 

“Gimana, Pak Gem?” Pria duda itu meraih dagu si guru, membimbing kepalanya untuk tak lagi menghindar.

Gempa yang diperlakukan gestur kecil berselimut sensual seperti itu kian runtuh dinding pertahanannya. Kedua telapak tangan mengepal erat, menahan diri untuk tidak terangkat impulsif menuju pinggang Pak Hali. 

Gempa dan Pak Hali beradu pandang dalam jarak dekat. Ia merasa dipreteli satu per satu sendinya. Ia terhipnosis oleh pesona Dewa Eros berwujud Pak Hali di pangkuan, seolah memanggilnya untuk mampir menenggak anggur merah menggoda dari lidah sang Eros, lalu menjilati sisa sari-sari yang tumpah di seluruh badannya.

“Ehem—” Gempa menjeda, membersihkan kerongkongannya yang diserang dahaga seksual. “Pak Hali, saya—saya ini guru dari anak bapak, loh. Saya gurunya Gentar.”

Goblok.

Kenapa yang keluar malah kalimat kikuk begitu, sih? Tidak ada wibawanya sama sekali sebagai seorang tenaga didik (calon) profesional. Gempa merutuki diri sendiri dalam hati.

Seharusnya Gempa melarang tegas situasi abu-abu yang sebentar lagi naik level menjadi perbuatan tercela, amoral, dan asusila—andaikata ia berhasil tergoda oleh rayuan maut nan seksi Pak Hali.

“Terus kenapa, Pak Gem? Bukannya bapak lagi nggak mengajar? Kita juga lagi di parkiran rumah saya, bukan area sekolah,” jelas Pak Hali yang sengaja merendahkan tenor. 

Hayoyo~ pria matang ini benar-benar menguji imannya.

Manisnya tutur rayu si duda seksi itu membelai gendang telinga Gempa dengan lembut, membuat saraf-sarafnya aktif mengirimkan sinyal ke bagian bawahnya untuk bereaksi. 

“Pak, maaf, tapi—” Gempa memotong kalimatnya di udara. Bukan karena manik delima Pak Hali menampilkan pancaran kecewa dan sangat siap mundur bila kata ‘tidak’ keluar dari bibirnya, melainkan dari dalam diri Gempa sendiri yang justru dilanda keraguan. 

Pak Hali yang belum mendapat jawaban pasti dari Gempa lantas  mengembuskan napas kecil, lalu tubuhnya menegak. “Saya minta maaf. Saya telah melecehkan bapak. Bapak boleh melaporkan saya ke pihak berwajib, dan saya tidak akan mengelak.” 

Semestinya Gempa mengikuti anjuran dari pria yang lebih tua itu. Pak Hali sudah jelas melecehkannya—melecehkan seorang guru. Bayangkan saja. Sudah sepatutnya Pak Hali dilemparkan ke dalam jeruji besi. Memangnya, cuma karena pelaku pelecehan berwajah tampan rupawan dan tajir melintir, dia pikir, dia bisa seenaknya mengontrol fisik serta psikis korban?

Dan memangnya kalau Gempa juga naksir Pak Hali, apakah perilaku bejat demikian bisa termaafkan?

Well, shit. He’s doomed

Gempa adalah seorang guru; digugu dan ditiru. Biar kata ia masih baru dalam dunia pendidikan, Gempa harus menjadi wajah teladan bagi murid, wali murid, dan orang-orang sekitarnya. Ia sendiri yang memilih jalan ini, maka ia wajib mencontohkan perilaku yang baik-baik. Bukannya malah—

Dan ketika kehilangan hangat serta beban tubuh Pak Hali dari atasnya, Gempa lantas menahan lengan si pria duda agar tidak berpindah tempat. Cengkeramannya di lengan Pak Hali kencang sekali sampai di empu tampak terkejut. 

“Saya mau melakukan ‘itu’ dengan Pak Hali.” 

—ikut terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan duniawi. 

Persetan! Gempa masih manusia biasa. Ia adalah manusia biasa yang punya nafsu di balik titel barunya sebagai guru. Lagipula benar kata Pak Hali, mereka sedang tidak di area sekolah. Apa yang harus ditakutkan? Gempa memiliki hak untuk menjalani kehidupan personalnya di luar profesi mulia. 

Gempa memberi konsen kepada Pak Hali sepenuhnya. Secara sadar menorehkan tinta hitam di atas kanvas putih, meniadakan keabu-abuan yang sempat singgah di polemik batinnya. 

Pak Hali terbeliak begitu mendengar pernyataan tegas dari sang guru. Pria itu menatap Gempa dengan pandangan tidak percaya seolah tumbuh kaki ketiga—ehem, mungkin benar? Karena dari tadi, tanpa Gempa sadari, penisnya membangun tenda di celana kain. 

“Pak Gem? Bapak yakin?” Tanda tanya sebagai permintaan konfirmasi tersebut keluar dari bibir Pak Hali.

Gempa mengangguk seraya mata tak lepas dari netra delima Pak Hali. “Iya, Pak. Saya yakin. Saya… Saya sebenernya juga naksir Pak Hali.” Meski ada nada malu-malu yang terselip, namun tingkahnya bertentangan. Gempa membawa kembali Pak Hali untuk mendekat—menempatkan bokong si pria duda tepat di atas tenda celana. 

Papa kandungnya Gentar itu menatap ke bawah, tepat di manik madu milik Gempa ‘tuk menelisik setitik kebohongan. Namun nihil yang Pak Hali dapatkan. Gempa betulan serius.

“Oke,” responsnya singkat nan padat.

Pak Hali menjelajahi tubuh Gempa yang nyaris berbaring penuh melalui tatapannya; dari mulai ujung rambut, hingga ke selangkangannya yang menonjol. Sedangkan dari perspektif Gempa, Pak Hali terlihat amat menggairahkan dengan netra delima yang berlarian nakal memindai tubuhnya. Gempa turut bermain mata, mengarahkan pandangannya ke torso berbalut kemeja milik pria di pangkuan. 

“Akh—” Gempa terhentak saat Pak Hali sengaja menjatuhkan bokongnya ke atas penis yang mengeras. “Mmh….” Salah satu mata memicing—antara sakit, sesak, juga nikmat. 

Torso Pak Hali merendah, mempertipis jarak yang memisahkan mereka berdua. “Pak Gem—”

Please, do call me with only ‘Gem’, sir.

Gempa cuma refleks ngasih tau begitu ke Pak Hali supaya mereka nyaman melakukan seks tanpa membawa embel-embel status keduanya sebagai seorang guru dan wali murid. Namun agaknya, Pak Hali lebih bereaksi terhadap panggilan terakhir yang tadi tak sengaja ia ikutkan. Terbukti dari iris merah milik si pria duda itu berkilat.

Right, my bad. Thank you for telling me, Gem.” 

Aduh, Gempa nggak tahan. Ia mau segera merojok anal Pak Hali dengan penisnya. Seksi banget suaranya. Bisa gila Gempa lama-lama.

“Pak Hali….” Gempa meletakkan lenguh di ujung panggilannya saat si empu nama menggoyangkan pinggul dengan sengaja. Penisnya yang tergencet jadi berdenyut-denyut.

Gempa merasa tercekik. Anjir. Baru segini aja Gempa rasanya udah sange nggak ketampung. Gimana kalau kontolnya masuk ke liang ketat Pak Hali, jangan-jangan malah langsung crot

Pak Hali menaruh tangannya di dada naik-turun milik Gempa, bertumpu di sana sambil betah memberi rangsangan demi rangsangan di penis berkedut si manik madu. 

“Gem, kamu udah pernah ngewe sama cowok belum?” tanya Pak Hali yang mendekatkan wajahnya ke wajah Gempa. Hidung mereka nyaris bersentuhan dengan napas berat nan putus-putus saling resiprokal.

Aduh, jujur nggak, ya? Tapi kayaknya Pak Hali juga udah tau deh.

Gempa menggeleng pelan, “belum pernah pak…,” lirihnya sambil memberanikan diri untuk melingkari pinggang Pak Hali menggunakan tangannya. 

Seperti dugaannya, Pak Hali tidak memberi reaksi terkejut sama sekali—pria itu sudah tahu dari gerak-gerik Gempa yang kikuk lucu menghadapi serangan sange

“Oh, pantes.”

Gempa menarik napas dalam-dalam—dadanya membusung dengan kepala yang sedikit menoleh ke kiri—ketika Pak Hali mengendus pipi kanannya. Ia juga merasakan bibir dari duda seksi itu menggosok permukaan kulitnya. Gempa memejamkan mata, menikmati belaian bibir serta hidung Pak Hali di sana. 

“Hahhh….” Gempa mendesah pelan, mengeratkan cengkeramannya di pinggang bergoyang Pak Hali. Jari-jari kakinya di dalam sepatu menekuk kuat. Jantungnya bagai mengikuti lomba marathon yang tiap ketukannya menghantarkan impuls adrenalin ke seluruh tubuh, kemudian bermuara di pusat gairahnya—penisnya. 

Gila. Gempa beneran nggak tahan sama godaan Pak Hali. Tapi dia juga nggak mau cepet-cepet ngewe karena nggak mau cepet selesai. 

“Gemmhh… Gemmhh…,” Pak Hali melenguhkan nama lawan mainnya di telinga kiri seperti merapal pemujaan di jamuan suci.

Gempa pusing tujuh keliling dibuatnya, mabuk kepayang bagai menenggak zat adiktif paling mujarab. Betapa ia menyukai cara Pak Hali menyebutnya di sela-sela perbuatan dosa mereka. 

Pinggul keduanya menari dalam satu irama meski pergerakannya berlawanan arah. Gempa mencari friksi nikmat dari bokong sekal Pak Hali, sementara si duda menggesek penis di abdomen sang guru. 

Pak Hali memrakarsai bibir mereka ‘tuk bersua dan berkelindan dalam satu hasrat yang sama. Mereka berpagut, saling menggigit, dan menyesap daging kenyal satu sama lain. Mulanya mereka masih membiasakan diri, lambat laun tempo ciuman kian agresif. Pak Hali memimpin upacara percumbuan bibir dengan dominasi yang kentara, membuat Gempa sedikit kewalahan akibat serangannya.

Bibir atas dan bawahnya digigit secara bergantian, dilahap, dan diisap dengan rakus oleh Pak Hali. Persis orang kelaparan. Gempa terbawa arus, memasrahkan pertahanan tipis untuk diruntuhkan semua, dan membiarkan mulutnya mengundang lidah Pak Hali masuk. Kedua lidah saling melilit, bertarung memperebutkan kekuasaan atas mulut Gempa, namun mereka berdua tahu siapa yang keluar sebagai pemenang. 

“Mmnghh… Ahh!” Gempa melenguh syahdu tatkala organ tak bertulang milik Pak Hali mengobrak-abrik isi goa hangatnya. Deretan gigi disapu, langit-langit mulut tak ketinggalan digelitiknya, serta lidah lemasnya diajak memulai ronde pertarungan berikutnya oleh Pak Hali.

Gempa lemas,bberupaya bernapas melalui hidungnya ketika Pak Hali seperti manusia tamak yang ingin menyedot habis seluruh oksigennya. Lelaki yang lebih muda itu memiringkan kepala guna mempermudah pasangan bercumbunya mengakses mulut lebih jauh dan dalam.

“P-Pak Halihh….” 

Nikmat. Nikmat. Nikmat. 

Gempa mau meledak. Jadi seperti ini rasanya cipokan brutal sampai liur berceceran—maklum, boro-boro berciuman, bisa berpacaran saja Gempa sudah bersyukur.

Gempa masih virgin alias perjaka. Jadi mohon dimaklumi. 

Gempa merasakan ada dua tangan meraba bagian dadanya; naik, turun, dengan gerakan sensual. Kancing kemeja yang ia kenakan satu per satu ditanggalkan oleh tangan tersebut, disibak ke samping sampai mempertontonkan dada bidang dan pentil kecokelatan yang mencuat. 

Gempa sempat gemetar kedinginan kala bagian depan torsonya diterpa udara dari pendingin mobil. Namun hal kecil seperti itu tidak menyurutkan keduanya yang masih gragas dan lupa diri. 

“Mnghh… Hahh—”

“Ahhh… Ngahh ahh….”

Desah keduanya bersatu membentuk sebuah harmonisasi suara cabul yang berlagu memenuhi tiap sudut mobil. Kaca jendela yang dilapisi layar film, kursi kemudi beserta roda setirnya, dashboard mobil—seluruh bagian dalam mobil menjadi saksi bisu adegan tak senonoh yang dilakukan Gempa dan Pak Hali.

“Ahhh—hahh….” Pak Hali menyudahi cipokan mereka. Pria itu memutus untaian benang saliva yang menghubungkan bibir bengkak mereka. 

Pak Hali sedang mengusap liur Gempa di sudut bibir ketika yang bersangkutan masih melayang jauh di awan pelesir. 

“Kamu pasti juga belum pernah ngelakuin ini sama cewek, ‘kan, Gem?” Tanya sang duda panas.  

Gempa mengerjap, menyesuaikan matanya terhadap cahaya yang masuk ke indera penglihatan. Ia menemukan Pak Hali, masih di pangkuannya, berada di atas tubuhnya, memandang ke arahnya dengan raut prihatin yang setengah mengejek.

“Belum, Pak,” jawabnya serak—wong, dia masih sange kok. 

Gempa melihat Pak Hali yang menangkup pipinya, mengusap-usap pelan menggunakan ibu jari. Ia bagai anak anjing yang terlena akan afeksi ringan dari sang majikan—WOI, WOI, WOI. Ini, mah, bukan cabul, jorok, dan amoral lagi, tetapi udah di tahap Gempa betulan lupa diri. 

Pak Hali mengulas senyum miring—seksi banget—tanpa menghentikan usapannya di pipi Gempa. “Poor thing….” Suaranya memberat, melembut, namun ada kesan main-main di dalamnya. “You must be overwhelmed, hm?” 

Gempa hanya bisa memberi anggukan sebagai respons. Kemudian Pak Hali melanjutkan, “Mau selesai aja, Gem? We can do it next time.” Tawaran Pak Hali bersifat permisif, disertai aura yang mendadak jadi mengayomi ke lelaki yang lebih muda di bawahnya. 

Pikiran Gempa semrawut bagai benang kusut yang tak ada ujungnya. Namun kepalanya menggeleng, pertanda menolak untuk berhenti di tengah jalan. Masih sange dia, cuy.

“Jangan, Pak. Saya bisa, kok. Saya bersedia seks sama Bapak,” yakinnya pada Pak Hali disertai mata bulat memelas. 

Pak Hali mendengkus, berpikir bahwa lelaki yang lebih muda enam tahun darinya itu tampak seperti anak anjing kecil yang takut ditinggal pemiliknya. 

Lucu dan menggemaskan.

Si duda langsung menggigit pipi bagian dalam mulutnya guna menahan diri agak tidak melakukan hal di luar kemampuan Gempa yang baru pertama kali melakukan intimasi sejauh ini.

“B-bapak sendiri masih mau lanjut, ‘kan?” Gempa bertanya dengan harap-harap cemas. Ia menengadah untuk bertatapan dengan Pak Hali, dan tangannya mengangkat bobot tubuh si pria duda untuk meremas-remas pantat sekal yang masih terbalut celana kantor hitam kelam.

Tanpa Gempa ketahui, sepintas ide iseng muncul di benak Pak Hali. Si pria duda memasang raut malas dan gestur yang bersiap untuk beranjak dari pangkuan Gempa. “Entahlah. Kayaknya saya udah nggak begitu minat.” Lalu pria itu menutupnya dengan bahu yang mengendik.

“Pak Hali, kok, gitu?” Intonasi Gempa menurun, menengarai kekecewaan. Bahkan guru dari Gentar itu sampai bangun dan duduk. 

“Saya ilfeel sama kamu, Gem. Ternyata kamu masih perjaka, belum ada pengalaman ngewe. I don’t do it with virgins.”

Duh, ini dia lagi buka kartu sendiri, kah? Secara tidak langsung, pria duda beranak satu itu mengaku kalau dia lontenya di sini, sementara Gempa merupakan lelaki alim yang baik-baik.

Ah, bodo amat. Gempa juga doyan sama dia (Pak Hali). 

“Pak! Sumpah! Saya emang belum pernah ngentot beneran, tapi saya bisa belajar dari bokep gay—saya pernah lihat! Saya bahkan tahu kalau cowok sama cowok itu penetrasinya di anal!” Gempa yang panik lantas memeluk Pak Hali.

Pak Hali memutar bola matanya malas. Agak lucu, namun juga gregetan akan pernyataan panik dari Gempa. “Ya memang di mana lagi selain di anal? Lubang hidung, kan, mustahil.”

“Nah, makanya! Ayo, Pak. Saya udah kepalang terangsang ini.” 

“Kan, kamu bisa nyoli sendiri.”

Gempa menggeleng ribut. “Tapi saya nggak mau! Bapak yang godain saya duluan. Tanggung jawab dong, harusnya!”

Astaga. Berondong perjaka ini lucu banget. Pak Hali pengen mimisan. 

Tapi tidak, justru Pak Hali menyentil dahi Gempa dengan kencang sampai berbunyi ‘cetik’

“Aww—” Dan si empu jidat mengusap bekas kemerahan yang ditinggalkan jari Pak Hali. “Pak Hali…,” gumamnya pelan.

“Iya, iya bawel, ah.” Pak Hali melepaskan diri dari pelukan Gempa, lalu mendorong tubuh bongsor si guru polos itu untuk kembali berbaring. Dia menurunkan semua kaca jendela mobil supaya sirkulasi udara jauh lebih sehat, lalu mematikan mesin mobil yang sedari tadi masih menyalab sebelum atensinya kembali ke lelaki yang lebih muda.

“Pak Hali, saya suka bapak ciumin saya,” Gempa berterus terang begitu Pak Hali memerangkapnya dengan kedua tangan. Lengan Gempa bergelayutan malas di leher dan bahu kokoh milik pria duda. 

Pak Hali (lagi-lagi) mengulas senyum miring, menyingkap poni cokelat lelaki di bawahnya. Dahi yang penuh bulir keringat itu diseka menggunakan jari-jari dengan penuh kesabaran. “Sekarang kamu jadi doyan cipokan?”

“Mhm.” Gempa mengangguk lemah dan sayu, menatap partner maksiatnya dengan pupil yang berdilatasi. “Soalnya Pak Hali ganteng, sih,” pujinya tanpa tedeng aling-aling. Satu tangan dibawa ke pipi si pria duda. 

“Saya belum tahu saya gay atau bukan—tapi saya naksir Pak Hali, dan mau bikin Bapak enak.”

Pak Hali tak lantas merespons. Kesunyian di dalam mobil menyebar perlahan-lahan. Atmosfer mendadak damai, cuma terdengar suara burung berkicau samar-samar dari luar garasi rumah Pak Hali. Mereka memancang tatap, saling menyelami sepasang permata milik partner-nya. 

“Kamu juga ganteng. Makanya saya merayu kamu.” Pak Hali bicara demikian seraya mempertipis jarak antar wajah. Si pria duda mengusak ujung hidungnya ke hidung Gempa, menuai kikikan kecil dari lelaki di bawahnya. 

Hmmm… Selama papanya Gentar berstatus duda, dan berkelana ke sana dan kemari ‘tuk menambah jam terbang dalam hubungan seksual, baru kali ini pria itu mau repot-repot memberi sentuhan yang sifatnya afeksi ringan. Dan selama dua puluh enam tahun hidup, untuk pertama kalinya Gempa dihampiri kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. 

Gempa menyembunyikan matanya di balik kelopak saat bibir Pak Hali menelusuri seluruh area wajahnya melalui kecupan-kecupan kecil.

“Kamu tau, nggak, kamu itu mirip anak anjing.” Pak Hali membubuhkan sebuah kecupan di dahi Gempa sambil berseloroh, sengaja mengambil frasa yang semestinya tidak usah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia hanya untuk memancing reaksi Gempa. 

Tanpa perlu membuka mata, yang bersangkutan melayangkan protesnya. “Bapak, kok, ngatain saya? Katanya saya ganteng, masa disamain sama anak anjing.” 

Dua kecupan di setiap kelopak mata yang mengatup dihadiahkan oleh Pak Hali untuk Gempa sambil berbisik, “Nggak ada yang ngatain kamu.”

Barulah Gempa membuka mata, lalu menghalangi Pak Hali mengecupinya lebih jauh. Tangannya menangkup rahang tegas si pria duda. “Maksudnya, puppy? Berarti saya lucu ya, Pak?” Tanyanya lembut diikuti kedua dahi yang menempel. 

Gempa menginisiasi kegiatan percumbuan part dua. Agaknya si lelaki yang lebih muda betulan senang sekali dengan cipokan. Pak Hali tak serakah. Pria itu membiarkan Gempa belajar supaya bisa naik level dari amatir ke tingkat jago. Mantap.

Tempo kali ini melambat, dan entah mengapa keduanya juga merasa bahwa suasana yang semula dipantik api nafsu menggebu-gebu, kini berganti menjadi keintiman yang intens. Ditambah dua pasang mata saling mengunci. 

Gempa menjilat dua daging kenyal Pak Hali sebelum lelaki itu menggigit kecil, dan menarik perlahan-lahan bibir bawah Pak Hali dengan sensual. Diisapnya lamat-lamat bibir pria itu seolah sedang mengemut permen termanis di dunia. Sementara Gempa sibuk dengan mulutnya, Pak Hali mengarahkan satu tangannya ke permukaan dada Gempa yang terpampang. Diusapnya naik dan turun, lalu mampir ke otot abdominal yang berkontraksi akibat belaian lembutnya. Jari telunjuk Pak Hali bermain-main di sekitar pusar Gempa, mengundang desahan geli dari yang bersangkutan. 

“Ahh—” Desahan Gempa sempat memutus pagutan bibir. 

Pak Hali dan tangan lihainya itu berulah lagi. Kali ini membuat gerakan melingkar di area pusar, kemudian dua jari pria itu digerakkan mirip seperti kaki yang melangkah. Naik, dan terus naik dengan lambat. Tiap jejak sentuhan dari jemari Pak Hali yang Gempa rasakan bersemayam di sana, membakar permukaan kulitnya dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. 

Gairah yang sempat padam kembali menyala. Mereka mendorong Gempa dan Pak Hali untuk segera mempertemukan kedua tubuh dalam sebuah penyatuan panas

“Iya, kamu lucu. Berondong paling lucu yang pernah saya icipin, Gem.” Pak Hali memberikan jawaban atas pertanyaan retoris Gempa tadi sambil menghentikan aksi cabulnya di dada Gempa. 

“Jadi piaraan saya aja, Gem.” Pak Hali tentu saja tidak akan mengungkapkan keras-keras isi hatinya yang satu ini.

Gempa terengah-engah. Ia menyaksikan dari bawah tiap pergerakan Pak Hali yang meneriakkan kata ‘erotis’. 

Woah.

Gempa (dan kontolnya) terkesima tatkala Pak Hali menegakkan tubuh, dan melonggarkan dasi marunnya—namun tidak sampai terlepas semua. Kancing kemeja pun hanya dibuka sampai sebatas dada. Rambut cokelat dengan secuil putih itu disibak ke belakang. Ikat pinggang dilepas, dilempar ke kursi kemudi, kemudian kancing sekaligus resleting celananya turut dibuka—memperlihatkan gembungan penis yang berdiri sejak lama. 

Deg-deg.

Lelaki itu bahkan tidak beri acuh pada liur yang menetes di sudut bibir akibat pemandangan dari jelmaan Dewa Eros yang mengalahkan semua bintang film porno mana pun. Pak Hali bahkan tidak perlu bertelanjang bulat untuk terlihat menggairahkan. 

Pesona pria matang, duda beranak satu.

Gulp. Saliva ditelan sukar, wajah memerah bagai tomat segar, dan seluruh tubuh Gempa lemas laiknya agar-agar. 

“Kamu oke sama oral seks, Gem?” tanya Pak Hali seraya membuka laci dashboard. Tangan pria itu menggeratak ke dalamnya, mencari sesuatu yang akan mereka butuhkan.

Ditanya seperti itu membuat Gempa bingung lantaran belum pernah memiliki pengalaman apapun terkait seks nyata. Sambil tangan mengelus-elus kedua paha Pak Hali, ia menjawab, “Saya nggak tahu, Pak… maaf.”

No need to say sorry.” Pak Hali menutup daun laci dashboard dengan sikunya. Pria itu meletakkan sebotol pelumas dan dua buah kondom di atas dada Gempa. “Kalau gitu next time aja kita nyoba oral seks. Kelamaan juga. Saya nggak tahan, soalnya.” 

Enteng sekali mulut Pak Hali mengeluarkan ajakan untuk sesi panas berikutnya—yang entah kapan, tapi Gempa diam-diam antusias menanti. 

Saat Pak Hali mengangkat botol pelumas, Gempa dengan tergesa membuka gespernya sendiri. “Emm, Pak… boleh angkat pantatnya dikit, nggak? Saya mau lepas celana.” 

“Jangan dilepas semua. Sempit. Turunin aja sampe paha kamu, Gem.” 

Dan Gempa menuruti instruksi Pak Hali di detik pria itu mengangkat pantatnya. Saat diturunkan, penis ngacengnya langsung memantul ke atas-bawah selama beberapa kali. 

Such a big schlong you got there, Gem.”

Pujian kotor dari Pak Hali membuat Gempa ingin mengubur dirinya ke pemakaman terdekat. Malu berat, cuy. Belum pernah ada yang memuji vulgar dan menatap bagian privasinya selapar ini. Baru Pak Hali manusia yang melihat penisnya mengacung tegak. Mana tatapan Pak Hali udah kayak mau nerkam mangsa. 

Duh. 

Gempa menutupi matanya menggunakan lengan kiri. Sudah semerah apa wajahnya saat ini. 

“P-pak! Apaan, sih! Malu-maluin tahu!” Bibirnya digigit guna menahan jengah. 

“Hahaha. Gemes banget, sih, Gem.”

Derai tawa Pak Hali bagai merdunya harpa dari surga—bukan deh, lebih tepatnya, suara tertawa Pak Hali berupa chanel, kapal yacht, dan rolex. Rawr. Tipikal tertawanya orang-orang tajir melintir, dan old money

Gempa spontan menyingkirkan tangannya begitu mendengar Pak Hali yang membuka tutup botol pelumas. Mata bulatnya plirak-plirik ke arah botol dan si duda secara bergantian. 

“Pak Hali, itu—” Gempa menunjuk pelumas di tangan Pak Hali menggunakan mulut manyunnya. “—anu… saya yang dipenetrasi sama Bapak?” 

Pak Hali menoleh, mengendikkan bahu dengan santai. “Saya sebenernya fleksibel. Bisa topping, bisa bottoming. But because this is your first time doing gay sex, dan—” 

“Ahh! Pak Halihhh!” Gempa mendesah panjang, punggungnya sontak melengkung ke atas ketika penis ngacengnya tiba-tiba dipijat. 

“—kontol kamu meaty banget. Keliatan enak. Jadi saya penasaran mau dirojok batang segede itu,” lanjut Pak Hali seraya masih memijat-mijat batang tegak milik Gempa. Pria itu juga menuangkan substansi pelicin di atas kejantanan sang guru. 

Gempa mengerang diikuti badannya yang menggelinjang. Terlalu kewalahan akan stimulus yang Pak Hali berikan. Kejantanannya diremas-remas pelan, dikocok naik-turun dengan mudah akibat pelicin, dan digoda di bagian yang disirkumsisi. 

Di sela-sela kenikmatan penisnya dijamah oleh tangan lihai Pak Hali, Gempa bertanya-tanya bagaimana bisa pria duda itu terlihat tenang dan seperti tidak terangsang sama sekali. Jangan-jangan cuma dirinya yang menikmati sesi panas ini?

“P-pak! Stop dulu! Bapak dari tadi nggak keliatan sange. Saya beneran bikin ilfeel, ya?” Tanyanya yang terselip nada kekecewaan. Gempa bahkan menahan tangan Pak Hali yang sedang memanjakan penisnya. 

“Kamu nggak liat celana saya udah banjir gini, Gem?”

Usai Pak Hali melemparkan sarkasme, tangan Gempa dituntun untuk meraba boxer hitam si empu yang ternyata memang sudah basah banyak. Ketutupan karena warnanya hitam. 

“Mmnhh….” 

Mata Gempa berbinar oleh rasa penasaran ketika lenguhan seksi diloloskan dari pita suara Pak Hali. Si duda menggigit bibir sambil memiringkan kepala, seolah menantang Gempa ‘tuk menjamah penisnya lebih berani. Gempa menarik karet boxer yang melingkar ketat di pinggul Pak Hali—lidah terselip di antara bibirnya sendiri—lalu ia melepasnya begitu saja hingga menimbulkan suara nyaring karet dan kulit yang beradu. 

Cpat!

“Sshh… Gemhh….” 

Jakun Gempa naik-turun konstan selama ia menelan salivanya berkali-kali, kerongkongan kering kerontang, dan membutuhkan sesuatu untuk melenyapkan dahaga. 

“Pak Hali ganteng banget. Seksi banget. Kayaknya saya beneran gay cuma lihat Pak Hali yang begini.” Tangan Gempa menemukan jalannya menuju ke dalam sangkar kejantanan si pria duda. 

Kedua paha Pak Hali yang mengapit santai di pinggang Gempa gemetar saat sang guru mengeluarkan penisnya dari balik boxer

Kini ada dua ereksi yang memuntahkan lahar pra-ejakulasi terpampang nyata. Tubuh Pak Hali merendah, menindih Gempa serta dua bungkus kondom yang ada di dada lelaki yang lebih muda tersebut. 

“Ahh—Pak Hali! Enak—”

“Gemhh—fuck! Fuck!”

Mereka mendesah secara bersamaan di momen penis bertemu penis. Pak Hali menggerakkan pinggul perlahan, membuat dua batang tegak yang tergencet oleh torso pria dewasa berdenyut senang. 

Gempa merinding sekujur tubuh. Pak Hali jago banget goyangnya, bahkan sebelum lubang si pria duda itu disodok. 

“Gem—saya nggak tahan.” Pak Hali tercekat. Si pria duda mengangkat kepalanya untuk beradu kening dengan Gempa yang bernapas putus-putus. 

Pak Hali beranjak untuk melepas total celananya, kemudian duduk lagi di pangkuan Gempa. Dengan tergesa, pria itu membanjiri tiga jemari tangan kirinya dengan cairan pelicin—gel-nya sampai tumpah ruah ke atas perut dan v-line Gempa. Lalu dia merendah, dan sedikit menungging. Kendati Gempa juga tampak kaku dan tidak tahu harus melakukan apa, lelaki yang lebih muda itu menahan Pak Hali dan bantu melebarkan dua pipi pantatnya. 

“Pak—anjir! Pak Hali seksi banget,” pujinya pada Pak Hali yang tengah memasukkan jari telunjuk ke dalam liang analnya sendiri. 

Maaf kalo Gem dari tadi nggak jauh-jauh dari seksi atau ganteng, soalnya dia ga bisa dirty talk dan Pak Hali emang seseksi itu. 

Gempa menyaksikan tiap detik dari momen Pak Hali menyiapkan lubangnya agar siap pakai. Lagi-lagi jantungnya memompa darah terlalu cepat, efek dari pemandangan pria di atasnya yang terlampau cabul. Pak Hali yang tubuhnya sesekali tersentak saat bergerak dan menambah jari, Pak Hali yang begitu ekspresif—kebanyakan ekspresi keenakan—dan merdunya tenor rendah Pak Hali, juga bising becek lubang pria itu berdendang mengiringi kegiatan tak senonoh mereka.

Everything about Pak Hali is so fuckin’ perfect. 

Udah, mah, ganteng. Terlahir di keluarga tajir melintir. Karirnya bagus, mapan. Punya anak yang sudah terjamin masa depan cerahnya kelak. Apalah Gempa yang cuma berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sandwich generation, pula.

Mesti siapa pun yang (pernah dan akan) menjadi pasangan Pak Hali—termasuk mendiang istri beliau—makmur sejahtera.

Poin plus, Pak Hali seksi. Badannya bagus. Tipikal proporsional yang rutin workout di kala padatnya jadwal. Udah gitu, beliau jago ngewe pula. Puas lahir batin kalau Gempa tergabung ke dalam keluarga Pak Hali sebagai—sebagai pasangan dan bapak keduanya Gentar, ya! Bukan sebagai kakaknya Gentar

Pokoknya, Pak Hali itu nihil celah. Kekurangannya cuma satu—

Kurang jadi milik Gempa. Hiyaaa, malah ngarep. 

“Ahh… Gem sayanghh… Mau nyoba masukkin jari ke anal saya, nggak?” tawar Pak Hali yang terengah-engah dengan mulut terbuka sedikit. Napas panasnya menerpa lelaki yang lebih muda.

“M-mau, Pak.” 

Gempa mengangguk antusias meski rasa gugup tak dapat ia sembunyikan—karena ini pertama kali menusuk lubang orang dengan jarinya. Lelaki itu membawa tiga jarinya ke hadapan Pak Hali untuk diberi pelumas, namun alih-alih gel pelicin, si pria duda malah memasukkan tiga jari Gempa ke dalam mulutnya.

“Ah—mmphhh….” Desahan Pak Hali terhalang oleh jari panjang nan besar milik Gem yang terkubur di dalam mulut. 

Pak Hali menatap Gempa tepat di mata, sambil memeragakan gestur yang mampu membuat penis Gempa berpulsasi. Si pria duda mengemut tiga jari Gempa sekaligus, menyedotnya kencang sampai pipinya mencekung—

Gempa mau crot di tempat. Pak Hali terlalu… terlalu… hot. Ia sampai tidak yakin kalau pria di atas tubuhnya ini adalah manusia biasa. Barangkali Pak Hali sebeulnya jelmaan setan sange

Gempa pusing saat Pak Hali tiada henti mengisap jemarinya seolah pria itu tengah menyedot kontol ngacengnya yang berkedut. Rakus banget, mana sambil melenguh-lenguh begitu.  

Shit

Jarinya yang diberi stimulus, tetapi ereksinya yang malah bereaksi. Gempa total merinding membayangkan diberi oral seks oleh Pak Hali.

Gempa ingin menyaksikan, mengamati, dan memandangi bagaimana bibir Pak Hali yang senantiasa tersenyum miring itu memeluk erat batang kejantanannya. Lidah lihai nan nakal milik pria duda keren itu pasti bakal menari di sekeliling kejantanannya, menggoda potongan sunatnya dengan ujung lidah, lalu mengecupi kepala penisnya. Kemudian Pak Hali akan memanjakan batangnya di dalam mulut hangat nan basah, disedot-sedot kuat, dan dibawa ke pangkal kerongkongan—

“Gem, kamu lagi bayangin saya sepongin kontol kamu, ya? Makin rembes cairanmu ini.” 

Gempa yang ditarik dari lamunan spontan menengok ke bawah—tepat ke penisnya sendiri. Dan benar apa yang dikatakan Pak Hali, kelelakiannya kian deras mengaliri pra-ejakulasi, bahkan mungkin nyaris menyemburkan sperma.

“P-pak—”

“Nggak apa. Kamu nggak perlu malu. Kamu juga boleh jadiin saya bacol (bahan coli).”

Ugh… Siapa sangka Pak Hali yang kelihatan berwibawa, galak, sangar, menyeramkan, rapi dan untouchable, tetapi mulutnya kotor dipenuhi sampah vulgar tanpa filter. 

Pak Hali memandu tangan Gempa, yang tiga jarinya telah berlumur saliva sekaligus gel pelicin, menuju ke area bokong. “Begini caranya, Gem,” unjuknya seraya mengarahkan telunjuk si pemilik ke depan cincin anusnya. 

Gulp.

Sudah tak terhitung berapa kali Gempa menelan ludah minat. Ujung telunjuknya merasakan licin di sekitar otot yang berkerut dari anal Pak Hali. Penasaran, Gempa mengelus pintu masuk tersebut secara hati-hati. Begitu ototnya memberi respons membuka-mengatup alias berkedut, ia terkejut sekaligus kian bersemangat. 

“Cepet masukin aja, Gem.” Pak Hali menginstruksikan dirinya untuk segera menembus anal pria itu, yang kemudian lantas dituruti oleh Gempa. 

Jleb.

“Akhh! Mmh!”

“P-pak! Pak Hali! Kok anget—eh! Maksud saya, bapak kesakitan, ya?” 

Konyol. 

Untung Pak Hali tidak langsung ilfeel

Gempa dititah kembali untuk menambah jari tengah masuk ke dalam liang anal. Ia diajari untuk membuat gerakan menggunting guna memperlebar jalan masuk. Dan bagai murid yang pintar, Gempa selalu mengikuti instruksi dari Pak Hali dengan baik pula. Lelaki yang lebih muda itu juga mulai berimprovisasi sendiri, mulai berani untuk memanuverkan seluruh ruas jarinya sedemikian rupa di dalam sana, lalu menekuk dan—

“AHH!” Pak Hali tersentak diiringi teriakan. 

Gempa adalah guru yang sangat terpelajar—ya iya lah, kalau tidak, ia tidak akan menjadi seorang pengajar—oleh karena itu, anatomi dasar manusia sudah hafal di luar kepala. Jemarinya baru saja menekan titik prostat Pak Hali sehingga menimbulkan  reaksi yang luar biasa. Pria duda itu menggelinjang, lalu menindih tubuhnya, dan mengangkat lebih tinggi pinggulnya—bokongnya membumbung. Bisa Gempa lihat bulatannya, serta tangan miliknya yang berada di tengah belahan pantat. 

“Ahh! Ahh! Gemhhh—lagi! Enak banget….”

Gempa memberikan apa yang Pak Hali inginkan. Melalui dua jari yang tertanam di goa hangat si pria duda, ia mempersembahkan bintang-bintang ke hadapan Pak Hali yang tengah merotasi mata ke belakang.

“Terus begitu, sayanghhh… Yahh! Ahh! Jari—jari kamu enak banget, Gemhh… Gede, panjang….” Pak Hali meracau bagai orang gila yang kesurupan setan sange. Nadanya terkadang mendayu, dan sesekali menggeram. 

Gempa menambah jumlah yang masuk ke dalam liang senggama Pak Hali. Total sudah ada tiga yang bertugas untuk membuat si pria duda tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tiada berkesudahan. Pak Hali wajahnya merah, ia pun keadaannya tak lebih baik. Udara semakin mengulminasi, menciptakan sesak yang terus-menerus hadir menyelimuti—ruang gerak di dalam mobil yang memang sudah sempit menjadi bertambah sumpak. Belum lagi bunyi becek yang kotor dan berdosa. 

Tubuh keduanya sudah bermandikan keringat, namun tak ada yang beri acuh, sebab yang lebih penting saat ini adalah melalang buana menuju kenikmatan duniawi. 

“Pak Hali ketat banget lubangnya. Ini kontol saya bakal muat ‘kan, ya, nanti?” Pertanyaan yang terkesan plenger sekaligus polos, akan tetapi Gempa serius mengatakannya. 

Gila. Sudah tiga jari, tapi Pak Hali masih ketat. Ini orang udah jarang bottoming atau gimana? 

Gempa merasa kesulitan. Ia berhenti sejenak untuk mengatur sandar kursi menjadi berdiri lagi. Sekitar seratus dua puluh derajat; ideal untuk bersandar, dan lebih mudah ruang geraknya untuk mempermainkan lubang Pak Hali. 

“Gemhh…,” Pak Hali melirih dengan suara paraunya. Lalu Gempa merasakan kedua pundaknya dijadikan pegangan dan tumpuan oleh si pria duda. “Udah Gem, nanti saya keburu nge-crot duluan sebelum kamu masuk. Nggak seru.” 

Gempa menghentikan aksi cabul mengobok-obok lubang Pak Hali. “Bapak yakin udah siap?” Tanyanya seraya menatap sepasang netra delima yang ditutupi kabut nafsu.

Alis si pria duda naik sebelah, “Kenapa harus nggak siap?” 

“Tapi nanti Pak Hali sakit—”

“Udah biasa, Gem. Lama-lama juga enak.”

Ada yang kecubit namun bukan kulit. Ada yang patah namun bukan kaki. Ada yang retak namun bukan piring

Gempa mencoba untuk memadamkan api kecemburuan yang tiba-tiba dipercikkan oleh perkataan Pak Hali. Ia tidak boleh merusak suasana. Ia dilarang mengatur-atur kehidupan personal Pak Hali. Mereka cuma sebatas teman seks—setidaknya di momen ini.

“Hei, sayang. Look at me.” Pak Hali menepuk pipinya menggunakan tangan yang bersih. 

Gempa kedip-kedip lucu seiring fokusnya kian menjelas. Wajah tampan Pak Hali yang merah dan kacau (tapi masih seksi) menjadi objek utama indra penglihatannya. Ia akan mengeluarkan suara andaikata pria duda di pangkuannya tidak mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan. 

“Lucu. Polos. My pretty, obedient big puppy,” Pak Hali berbisik rendah di depan pipinya. 

“Sekarang saya diangkat jadi anak anjingnya Bapak?” Gempa turut berbisik dengan volume serupa. Ia mencari bibir Pak Hali. Dan saat bibirnya dapat menjangkau daging kenyal si pria duda, lidahnya terjulur menjilati bibir pria tersebut.

Pak Hali mengambil sebuah bungkus kondom—tadinya di atas dada Gempa, kini di pangkuan lelaki itu. Si pria duda menyodorkan bungkus pengaman itu ke depan mulut Gempa yang langsung peka. Lelaki yang lebih muda darinya menggigit ujung kemasan. Sambil beradu pandang, Pak Hali menjawab, “Depends. Kamu mau, atau nggak?” lalu menarik bagian tengah kemasannya yang tidak tertahan gigi Gempa hingga sobek. 

Gempa membuang bekas ujung kemasan ke sembarang arah sebelum menanggapi pertanyaan Pak Hali yang keluar dengan begitu sensualnya di telinga.

“Saya mau jadi bapak kedua dari Gentar aja. Boleh, nggak?” Ia lemparkan satu pertanyaan—niatnya setengah bercanda—saat Pak Hali sedang mengocok penis miliknya dan mulai memasangkan kondom. Tangan Pak Hali sempat menggoda testisnya sebentar sebelum pria itu mengambil posisi. 

“Bolehh—sshh…,” jawab Pak Hali seraya memisahkan pipi pantatnya, melebarkan lubang yang sudah cengap meminta diisi oleh benda nikmat berwujud penis Gempa. 

Gempa sendiri menahan pinggang si pria duda dengan satu tangan, sementara satu tangan yang lain digunakan untuk mengarahkan batang tegak lurus menuju pintu anal. Dan begitu kepala penisnya berhasil menyapa ke dalam lubang, “AHHH!” Gempa meloloskan desahan panjang disertai kepalanya dilempar ke belakang, dan matanya terpejam erat.

Bangsat. This is too much. Ketat, hangat, dan (mungkin) basah. Lubang Pak Hali benar-benar nikmat tiada dua—dan ini baru kepala kontolnya saja yang dijepit, belum sampai pangkalnya. 

Tanpa sadar Gempa mencengkeram pinggang Pak Hali terlalu keras—mungkin akan menimbulkan bekas di kulitnya walaupun Pak Hali sendiri masih terbalut kemeja putihnya. 

“Ahh… Gemhh—hahaha, enak ya lubang saya?”

Pandangan Gempa sedikit terdistorsi akibat matanya mulai dipenuhi lapis bening yang siap tumpah kapan saja. Gempa mau nangis. Rasanya kayak mau meninggal. Terlalu enak. Pak Hali enak sebadan-badan. Ia dibuat terengah-engah, dan menahan diri agar tidak langsung menurunkan tubuh Pak Hali ke penisnya dalam sekali gerakan.

Pak Hali masuk perlahan-lahan; ciptakan desah, lenguh, serta erangan sebagai melodi pengiring upacara penyatuan tubuh mereka. Gempa sudah nyaris gila karena setengah batang penisnya dilahap rakus oleh anal super ketat dan panas milik Pak Hali, sedangkan si pria duda berpegangan di kedua bahu lelaki yang lebih muda seraya menjilat-jilat jakun Gempa yang menonjol naik-turun.

“Ahhh! Pak Halihhh!”

“Gemhh… Mmhhahh… U-udah masuk semua….”

Pak Hali menyeka air mata pria di bawahnya disertai kekehan geli. “Perasaan saya yang dijebol. Kenapa malah kamu yang nangis, Gem?” Kecupan-kecupan kecil dihadiahkan Pak Hali untuk pipi Gempa yang dihiasi jejak sungai kecil. 

Gempa gelisah di tempat duduknya—telapak kaki yang berbalut sneakers bergoyang-goyang tak sabar, sementara pinggulnya sudah beberapa kali mengejang tanpa sadar. Lelaki yang lebih muda itu menatap Pak Hali bersama raut memelasnya, secara tidak langsung membujuk pria di pangkuan untuk melakukan sesuatu ‘tuk dinginkan seluruh tubuhnya yang terbakar. Gempa bahkan memeluk pinggang si duda lebih erat, dan pada akhirnya menyembunyikan wajah di ceruk leher Pak Hali. Ia membuat dirinya mabuk akan aroma maskulin parfum serta aroma tubuh alami Pak Hali. 

“Pak Hali, kalau saya keluar duluan, boleh? Nggak tahan,” katanya sambil menggigit kerah kemeja si pria duda. “Bapak sempit banget. Kontol saya mau patah—aduh! Duh! J-jangan diketatin pak!”

“Jangan dong, sayang.” Pak Hali mengelus-elus rambut cokelat Gempa. “Baru juga mulai.”

Pak Hali mendorong bahu Gempa supaya lelaki itu berjarak, ia mengangkat dagu si empu. Mata Gempa berkaca-kaca, dan bibirnya digigit. Si pria duda itu merasa iba memandangi Gempa yang tampak seperti anak anjing terlantar di jalan raya, seolah meminta pertolongan atau diadopsi sesegera mungkin. Pak Hali melepaskan gigitan Gempa di bibir lelaki itu sendiri, kemudian memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut si bayi besar yang spontan mengulum begitu diberi asupan

“Tahan dulu sebentar, ya, sayang?” 

Gempa mengangguk patuh, masih dengan ibu jari Pak Hali dikulumnya. 

Good boy.”

Dan sebuah pujian singkat menjadi pemandu jalannya kegiatan inti mereka. Pak Hali menaikkan pinggul, kemudian menjatuhkan tubuhnya begitu saja, menuai erangan Gempa yang terhalang oleh ibu jarinya. Bising becek, juga pertemuan antar kulit menengarai seberapa kotor kegiatan intimasi mereka di siang bolong, di garasi mobil rumah Pak Hali. 

Pak Hali mengeluarkan jarinya dari mulut Gempa, sebagai ganti, ia memberi bibirnya sendiri untuk dimakan oleh lelaki yang lebih muda. Kedua bibir saling berpagut mesra dalam cumbuan basah yang membuat hasrat mereka kian menguat. Tangan Gempa berinisiatif memanjakan penis Pak Hali yang memantul ke atas-bawah selaras dengan gerakan tubuh si empu.

“Mnhhh… ahhh—” Pak Hali mengalungkan leher Gempa dengan kedua lengannya, menggantungkan hidupnya di sana tatkala tempo permainan ditingkatkan oleh Gempa. 

Plok-plok-plok-plok

Gempa seperti orang sakau, mabuk, dan lupa daratan. Ia terbawa suasana, tubuhnya bergerak secara otomatis berlawanan arah dengan Pak Hali. Pinggulnya turut serta dalam membawa mereka terbang ke langit ketujuh. Tumbukan demi tumbukan ia lancarkan, penisnya memperlebar rongga di dalam anal, dan ia senantiasa diberi ganjaran berupa penyempitan dinding—penis berselimut kondom itu dihimpit, dijepit oleh daging lembut yang mengelilingi seluruh batangnya. Nikmat luar biasa. 

Mobil mahal merk Jepang milik Pak Hali dari luar terlihat bergoyang-goyang. Jika ada orang yang tidak sengaja membuka pintu depan garasi—atau bagaimanapun caranya orang lain bisa melihat mobil yang dijadikan tempat persetubuhan mereka dan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, mungkin orang tersebut akan menganggap bahwa mobil Pak Hali membawa aura mistis.

Plok-plok-plok-plok

“A-ahh-ahhh… Gemhhh!” Desahan Pak Hali bergetar tersebab badannya terhentak-hentak oleh Gempa yang bernafsu. Rambut cokelat lepeknya ikut memantul seirama.

“P-Pak Halihhh… Pak! Bool bapak enak banget. Ahh—fuck! Pak Hali puas ‘kan sama kontol saya?” Gempa mendongak ke arah Pak Hali, napasnya berat dan putus-putus, tetapi ia tetap menunggu validasi dari pria yang ia tumbuki lubang pantatnya dengan brutal. 

Pak Hali bersusah payah untuk balas menatap Gempa yang menanti jawaban darinya. Sebelum memberi tanggapan yang diekspektasikan Gempa, Pak Hali melepas dasi marun longgarnya, kemudian ia ikatkan kain tersebut di leher lelaki yang lebih muda. Usai terikat sempurna—tanpa terlalu mencekik—Pak Hali menarik bagian tengahnya, membuat Gempa memekik tercekat dibersamai wajahnya kian dekat. 

“Berisik, Gem. Tinggal ngentotin saya yang bener aja, apa susahnya?” Pak Hali serius, matanya berkilat tajam seakan-akan ia memarahi peliharaannya yang menghancurkan vas bunga mahal. “Dari tadi kamu cuma asal ngontolin, ga kena prostat saya sama sekali.” 

“Kamu mau saya buang ke jalanan?” Sebuah ultimatum yang mungkin terdengar konyol kalau dalam situasi biasa, namun di sesi pergumulan panas mereka saat ini, Gempa merasa takut—takut betulan ditelantarkan, dibuang ke jalanan, takut tidak bisa melihat Pak Hali lagi. 

Anjir. Anjir.

Tapi ini Pak Hali beneran mau main majikan-peliharaan sama Gempa? Di pengalaman pertamanya melepas keperjakaan? 

Gempa tidak menolak; menjadi anak anjing yang belajar melayani majikannya, mematuhi semua perintah dari sang majikan, dan memuaskan pemiliknya. Sekrup otaknya barangkali telah hilang bersama akal sehat, sebab Gempa ingin diadopsi menjadi peliharaan si duda tajir melintir di pangkuan. 

“M-maaf, Pak Hali—” 

Satu tarikan di leher Gempa yang tersimpul dasi. 

Do your best if you want a reward.”

Begitu diberi sinyal, Gempa tak lagi menahan diri. Lelaki yang baru merelakan keperjakaannya itu bergerak makin agresif, menyodok lubang Pak Hali kuat-kuat meski agak kesulitan bergerak karena posisi yang kurang menguntungkan. Tempo memang melambat, namun daya sodokan bertambah. Tangan Gempa meninggalkan pinggang Pak Hali, dua anggota tubuhnya itu digunakan untuk menarik paksa kemeja Pak Hali hingga seluruh kancingnya berjatuhan. Nafsu liar mendominasi fungsi pikirnya, membuat Gempa yang meski amatir dan bergerak cenderung instingtif, menjadi belajar cepat dalam memuaskan sang majikan

Gempa sudah selaiknya anak anjing yang berhasrat memenuhi kepuasan tuannya. Ia mulai menjilati torso bagian depan Pak Hali yang terpajang di hadapannya, membasahi dada Pak Hali menggunakan liur. Menggigit-gigit kecil di atas permukaan kulit mulus, kemudian lidahnya bermuara ke pucuk cokelat yang mencuat. Areola dilingkari bagai melukis menggunakan lidah. Ia menggelitik puting Pak Hali dengan ujung lidah.

“Ahh—iyahh sayanghh… pinter Gemhh—” satu tarikan menyapa leher. 

Desahan merdu Pak Hali memenuhi ruang di kepala Gempa, dan berubah menjadi energi untuk semangatnya mengenyoti puting si pria duda—persis bayi besar yang menyusu. 

Pak Hali menengadah sambil kedua mata merem-melek keenakan, disertai mulut terbuka melantunkan bait-bait kotor nan penuh dosa. Kemeja putih yang kancingnya telah  brodol dipelorotkan sampai menggantung di sekitar bicep-nya. Pria duda itu membiarkan peliharaan barunya untuk menjamah dan mencabuli tubuhnya sejauh yang Gempa bisa. 

Plok!

Plok!

Plok!

Gempa bergerak kesetanan. Penisnya tiada henti menghajar lubang Pak Hali sampai tiba-tiba—

“Ahhh! Ahhh!!” Pak Hali menjerit keras sebelum menutup mulutnya menggunakan tangan sendiri. 

Prostatnya ketemu. Letaknya tidak jauh dari pintu masuk, tetapi Gempa tidak mungkin mengarahkan ujung penisnya ke sana—masa iya cuma seperempat dari penis bagian atasnya saja yang masuk lubang. Gempa nggak mau rugi. Dia mau semua penisnya tertelan sekaligus menggempur prostat Pak Hali tanpa ampun, maka yang ia lakukan adalah mencengkeram pinggang Pak Hali, lalu menyesuaikan tubuh si pria duda sedemikian rupa sebelum ia menahannya agar tidak banyak berontak ataupun mengejang.

Lalu—

Fuck—Gemhh! Pinter banget ngerojoknya—ahh! Ahh! Sialan!”

—kembali mengontolinya brutal. 

Tangan Pak Hali kaku di udara, membuat lilitan dasi yang menyambung ke leher Gempa terlepas begitu saja. Kepala Pak Hali tetap menengadah dengan mata terpejam erat—menghayati seluruh serangan Gempa yang bertubi-tubi menyiksa tubuhnya dengan kenikmatan. Pinggulnya dipaksa diam di tempat, tidak boleh lari kemana-mana oleh si anak anjing yang berubah menjadi anjing liar

Brengsek memang. Pak Hali membatin. Entah menyesali keputusan hidupnya merayu Gempa atau justru malah mensyukurinya.

Gempa makin menjadi-jadi—ohh! Sialan sekali lelaki itu! Kini tubuh mereka berdua berloncat-loncat di kursi mobil yang sempit. Gempa menggunakan keseluruhan bagian kaki untuk menggenjot lubang, dan mendorong tubuh Pak Hali dari bawah dengan sekuat tenaga. Pria duda yang tampaknya kewalahan itu juga terlempar-lempar, dan tiap kali pantatnya mendarat di paha kekar Gempa, rasanya penis anak anjing itu semakin melesak mendekati bukaan menuju perutnya. 

Pak Hali bukan pria berbadan kecil. Pak Hali bukan twink, akan tetapi Gempa semudah ini membuat tubuhnya terhentak-hentak di udara. 

“Awhh—fuck! Gempa! Slow down—”

“P-pak Hali enak—please, please, please, mau buka kondom. Mau ngecrot di dalem bool bapak!”

“Ahhh! Gila kamu!”

Sudah tak karuan kondisi mereka saat ini. Baju yang acak-acakkan, wajah yang penuh keringat dan memerah, ceceran liur di bibir masing-masing anak adam yang tengah bersenggama hebat. Mereka tenggelam sedalam-dalamnya palung dosa berarus kesenangan duniawi. 

Gempa dan Pak Hali membuang segala rasa peduli dan moral. Kedua tubuh yang saling berkelindan dahsyat itu saling merajut nikmat; menjeritkan nama pasangan, bergoyang selaras, dan tamak akan rasa tubuh dari lawan seksnya. 

Dan tibalah saatnya mereka dihantam ombak gairah yang bergulung-gulung ke arah keduanya. Pak Hali dan Gempa serentak menggaungkan nama pasangannya di puncak kenikmatan.

“Ahhh! Ahhh! P-Pak Haliii!”

“G-Gempahhh—hnghh!”

Abdomen bawah mereka bergejolak, mendorong sperma keluar melalui saluran uretra. Keduanya melihat bintang bersama, mencapai putih yang sedari tadi mengganjal pelepasan. 

Gempa menembakkan isi testisnya di dalam kondom yang ia kenakan, sementara Pak Hali memuncratkan laharnya di perut mereka berdua. Dua pria dewasa mengejang keenakan, terengah-engah usai bertempur dengan berahi yang menyiksa. 

Sendi-sendi mereka lemas bagai jelly. Pak Hali jatuh ke dalam pelukan lemah yang Gempa tawarkan. Mereka masih pangkuan di dalam mobil milik si duda tajir, menetralkan jantung yang berdebar kencang, dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya ‘tuk mengisi kekosongan paru-paru.

Sekitar sepuluh menit mereka enggan beranjak, malah semakin nyaman di dalam rengkuhan masing-masing. 

Gempa akhirnya meletakkan kalimat di sela-sela keterdiaman mereka. “Pak Hali, you okay?” tanyanya lembut. 

Pak Hali menempelkan pipi di bahu Gempa. “Hmm.” Gumaman lirih, namun Gempa tahu bahwa Pak Hali masih mengais sisa-sisa tenaga yang berhamburan bersama keluarnya sperma.

Gempa mengusap kulit punggung Pak Hali sejenak, kemudian membetulkan kemeja putih si pria yang melorot. “Pak Hali, omong-omong, mana reward-nya buat saya yang tadi dijanjiin?” 

“Kamu resmi jadi piaraan saya.” Alih-alih menjauh, Pak Hali memeluk tubuh Gempa seolah tidak sudi meninggalkan rasa aman dan nyaman.

“Loh? Jadi itu reward-nya?”

“Kamu juga resmi jadi ayah angkatnya Gentar.”

Dan Gempa sontak tersenyum lebar bagai orang kejatuhan lotre seratus miliar.