Work Text:
“mah, changbin pergi dulu ya,” pamit changbin acuh tak acuh. ia melangkahkan kakinya melewati ruang keluarga tanpa berniat menunggu balasan sang mama.
“loh, kok sendiri? seungmin katanya mau ikut!” teriak mama dari arah dapur.
changbin seketika menghentikan langkahnya. memutar tubuhnya malas, “ayolah mah, aku mau bahas project baru loh sama chris. ngapain dia ikut?” jawab changbin sambil memutar bola matanya jengah.
wanita paruh baya itu menghampiri changbin yang berdiri di ambang pintu, menepuk pelan bahu anak sulungnya, “justru itu. ajak aja adekmu, nanti mama tambahin uang saku buat ngopi.”
belum sempat changbin melayangkan protesnya, sang mama sudah berbalik dan berteriak dari ujung tangga. “seungmin sayang! buruan turun, udah ditungguin kakak nih!”
tak butuh waktu lama hingga terdengar suara gaduh dari lantai atas. seungmin—adik tiri changbin—turun dengan setengah berlari. ada secercah senyum penuh kemenangan yang terpahat jelas di wajahnya. namun changbin membenci senyum itu.
tanpa berkata-kata lagi, changbin berlalu lebih dulu menuju mobilnya. sementara, seungmin menyempatkan diri untuk mengecup pipi sang mama, “bye mah!” serunya riang sebelum menyusul ke changbin.
changbin menatap kesal sang adik yang melenggang masuk gitu aja ke dalam mobil. jujur saja, selain kesal karena agenda sabtunya diganggu, penampilan seungmin juga sedikit mengusik fokus changbin. pasalnya pakaian mereka terlihat matching—seperti pasangan yang saling memadukan outfitnya.
changbin tengah mengenakan kaos putih polos yang dipadukan dengan harrington jacket berwarna beige, sementara seungmin mengenakan kemeja striped putih-biru yang dipadukan dengan vest cream lengkap dengan topi beret yang bertengger manis di kepalanya.
“lu ngapain ikut sih anjing. sok imut banget lagi bajunya,” sembur changbin ketus sembari menyalakan mobilnya.
“dih, kan mama yang nyuruh gue ikut. protes aja ke mama kalo berani,” balas seungmin tak kalah tengil. kemudian anak itu dengan sengaja membenarkan letak baretnya lewat kaca spion tengah, “cakep gini padahal.”
“eh bocil. gue tau ya, lo pasti ngerengek ke mama dengan seribu alasan jelek lo itu buat ngintilin gue,” changbin mendengus. ia tahu betul kebiasaan adek tirinya yang suka memanfaatkan otoritas sang mama untuk membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan—termasuk hal gila yang sedang disembunyikan di balik celananya saat ini.
“aelah gitu doang diributin. mang napa sih? orang gue cuma mau ikut nongkrong. bosen banget di rumah sendirian tau,” sahut seungmin diakhiri dengan nada memelas yang dibuat-buat.
namun tindakan seungmin justru sebaliknya. jemari lentik itu bergerak usil, terjulur untuk menarik pelan kerah jaket changbin. sengaja menggodanya sekaligus mengalihkan fokus pria itu. sementara di saat yang sama, tangan satunya bergerak ke arah lain. secepat kilat menyelundupkan sebuah remote kecil ke dalam saku kiri changbin yang terbuka.
“gak usah pegang-pegang!” changbin menepis kasar tangan seungmin yang berusaha membuka jaketnya. “gue mau ngopi sambil meeting sama temen-temen gue anjir. bukan nongkrong gak jelas,” lanjutnya begitu mobil yang dikendarainya melaju keluar kompleks.
mendengar kata teman, mata seungmin seketika berbinar cerah, “yes! ada kak chris dong?”
“gak usah caper sama temen gue!” gertak changbin cepat hingga nadanya meninggi satu oktav.
seungmin terkekeh geli melihat reaksi pria disampingnya. ia sengaja memajukan tubuhnya sedikit ke arah changbin. “aelah… sensi amat. cemburu lu?”
oke cukup. changbin memilih untuk bungkam meski kini rahangnya mulai mengeras menahan jengkel. jika changbin terus berdebat dengan seungmin, yang ada ia akan membawa mood buruk saat bekerja nanti.
begitu mobil terparkir di area cafe, changbin yang hendak langsung turun ditahan oleh seungmin, “pesenin gue americano sama almond croissant, please? gue mau benerin baju dulu.”
changbin bergumam singkat lalu keluar dari mobil tanpa memedulikan adik tirinya. meski begitu ia tetap memesankan kopi untuk seungmin.
begitu pintu mobil tertutup dan changbin berjalan menjauh, seungmin cepat-cepat menurunkan celana pendeknya hingga sebatas paha. jantung seungmin berdegup kencang saat mengeluarkan sebuah vibrator silikon seperti telur lonjong yang ia simpan di tas. agak gila memang, tapi rasa penasarannya udah di ujung tanduk.
dengan tangan gemetar, seungmin mendorong ujung vibrator itu masuk ke mulut lubang memeknya yang udah becek sejak di perjalanan.
“ngh… anjir, gede juga,” rengek seungmin lirih saat merasakan vibrator itu tenggelam semakin dalam di lubangnya.
setelah terpasang sempurna dan menyisakan kedutan kencang di bawah sana, seungmin buru-buru merapikan kembali pakaiannya, menyambar tas, lalu keluar mobil dengan langkah sedikit canggung akibat ganjalan di selangkangannya.
tepat saat changbin selesai memesan di kasir, seungmin berjalan menyusul di belakang changbin. di salah satu sudut cafe dekat kaca besar, jisung melambaikan tangannya menyambut kedatangan mereka. “sini, bro!”
“eh, tumben bawa buntut?” celetuk jisung begitu menyadari eksistensi seungmin di belakang changbin. chris yang tadinya berkutat dengan laptop pun ikut mengalihkan pandangan.
“hai, kak jisung!” sapa seungmin ramah, mendahului changbin yang hendak duduk di depan chris. “sore juga, kak chris,” lanjut seungmin sambil memberikan senyum tercantiknya.
changbin menarik napas panjang. melihat kelakuan centil sang adik di depan chris membuatnya muak. “minggir, gue mau duduk di situ.”
“gak mau. kan gue duluan yang duduk!” sahut seungmin kekeh. ia tetap mendudukkan bokongnya di sana. pasalnya tempat itu sangat strategis untuk melancarkan aksi modusnya pada chris—atau justru bukan.
jisung yang melihat pertengkaran kecil itu terkekeh pelan. “udah, bang. ngalah aja.”
“tuh, kak jisung aja pengertian. udah kak abin duduk di sini,” bujuk seungmin sambil menepuk sisi sofa bench yang kosong. “sama aja kan, kita juga sebelahan.”
“monyet lu,” misuh changbin yang akhirnya menempati satu-satunya tempat yang tersisa—tepat di sebelah kiri seungmin.
seungmin acuh. ia mengeluarkan laptopnya sendiri dari dalam tas. “oiya gue ijin join ya. janji gak ganggu kalian kok. mau lanjut garap draft skripsi gue juga.”
“lu ngintilin gue aja udah ganggu gue anjir,” cibir changbin ketus.
“apa sih, orang gue ijin sama kak chris sama kak jisung.”
“santai aja seung. btw kita seumuran, deh. panggil jisung aja,” potong jisung ramah.
“oke, ji. berarti lu kuliah sambil kerja, ya? keren juga,” puji seungmin. sedetik kemudian salah satu tangannya menutup sisi wajah bagian kanannya sendiri—seakan memblokir pandangan changbin di sebelahnya—berbisik pelan ke arah jisung, “kak changbin gak galakin lo kan?”
jisung melirik ke arah changbin yang sudah menatap mereka datar, lalu tertawa lepas. “aman aja,” jedanya lalu ikut berbisik, “tapi sukanya marah-marah.”
“hmm gak pake mic sekalian ngobrolnya?” ledek changbin sarkas.
lalu tawa jisung dan seungmin pecah. bahkan chris ikut terkekeh pelan melihat changbin disudutkan seperti itu.
atmosfer yang sebelumnya terasa akrab itu tidak bertahan lama, karena beberapa menit kemudian berubah serius. changbin, chris dan jisung mulai sibuk membahas proyek baru mereka, sementara seungmin ikut tenggelam dalam naskah skripsinya.
hampir 40 menit berlalu dan fokus seungmin sudah buyar. tangannya yang tadi lancar menari di atas keyboard—memasukkan metode analisis data untuk bab tiganya—kini telah pindah menopang dagu. netranya mengamati tiga pria lainnya.
jisung sibuk mencatat dan membuat coretan di kertas yang telah bertumpuk berserakan, chris tengah menunjukkan layar laptopnya pada changbin yang kali ini entah mengapa tampak sangat dominan. wajahnya yang serius saat memberikan instruksi dengan tatapan tajamnya yang seolah mengunci sang lawan bicara, terlihat begitu mempesona. belum lagi kacamata baca yang bertengger di hidung tegasnya memberikan kesan yang seksi.
sial.
“kak” panggil seungmin lirih. “lo jelek banget kacamata itu” celetuknya dengan suara yang sengaja dikeraskan untung mengusik changbin.
namun changbin sama sekali tak menggubrisnya. pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop chris.
melihat tidak ada reaksi yang menyenangkan, senyum licik seungmin perlahan terbit. jika keberadaan seungmin seolah tidak hadir di dekatnya dan umpan pertamanya tidak mendapatkan hasil, maka seungmin tidak akan membiarkan changbin tenang.
changbin mengabaikannya, hm?
bug! bug!
seungmin tahu-tahu tengah memukulkan bantal sofa ke tubuh changbin.
“changbin jelek.” ejeknya kali ini lebih semangat, binar usil terpancar terang di matanya.
bug! bug!
pukulan selanjutnya mendarat lagi di bahu changbin. kali ini, chris dan jisung bahkan menghentikan diskusi mereka. termasuk changbin yang akhirnya menoleh pada seungmin, menatap lurus di balik lensa kacamatanya.
“diem dulu bisa?” tegur changbin. nadanya masih datar, mencoba menahan emosi di hadapan teman-temannya. ia bisa saja mengacuhkannya tapi seungmin itu tidak akan berhenti jika belum berhasil mendapatkan reaksi yang sesungguhnya dari sang kakak.
“gak bisa. soalnya lo beneran jelek pake kacamata itu,” balas seungmin, nadanya dibuat senyebelin mungkin. seakan ia sudah bertekad tidak akan berhenti hingga changbin lepas kendali.
dan jangan lupakan pukulannya yang tetap berlanjut. kali ini sengaja menyenggol kacamata changbin. “kacamata jelek lo ganggu pandangan gue”
“sekali lagi berulah gue beneran gak bakal segan-segan, ya,” ancam changbin. nadanya mulai merendah penuh penekanan. rahangnya terlihat jelas mulai mengeras menahan kesal.
bukannya takut, seungmin justru menyunggingkan senyumnya. merasa puas karena berhasil memprovokasi changbin. dia kembali mengayunkan bantal itu ke lengan changbin.
“kenapa? emang mau ngapa—”
belum sempat seungmin menyelesaikan kalimatnya, changbin sudah lebih dulu menyergap leher seungmin dari samping. lengan kekarnya menarik paksa kepala seungmin hingga menubruk bahu lebarnya.
“mau bilang apa? ngomong yang jelas sini di kuping gue,” bisik changbin rendah.
“ah!” rengek seungmin. tangannya reflek memegang lengan changbin yang menekan lehernya. namun alih-alih minta dilepaskan atau mencoba melawan balik, ia justru lebih mementingkan hal lain.
“akhh—lepasin anjirr! ntar topi gue rusak!” protes seungmin dengan suara sengau, menutupi debaran aneh di dada dan bagian bawahnya yang langsung berdenyut kencang.
mendengar rengekan itu, ego changbin melonjak naik. ia harus membuat anak anjingnya yang keras kepala itu tunduk dan menyerah diri.
changbin makin mempererat kunciannya sebelum mendekat ke telinga seungmin yang mulai memerah, berbisik tegas. “’kak changbin, maafin aku. aku gak akan ngulangin lagi.’ ngomong sekarang baru gue lepasin.”
“hngh—iya-iyaa… kak changbin, maaf. aku gak akan ngulangi lagi,” cicit seungmin pasrah.
“pinter. dasar anak nakal.”
akhirnya changbin melepaskan kuncian leher itu dan kembali duduk dengan tenang. meninggalkan seungmin yang tengah menahan senyumnya dengan berpura-pura merapikan topi baretnya.
jisung berdeham canggung. sementara chris hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan, mengira itu hanyalah pertengkaran biasa antara kakak-adik.
“wah… gak nyangka gue bisa liat kalian berantem. biasanya cuma denger dari cerita bang changbin doang,” komentar jisung mencoba mencairkan suasana kembali.
“nyebelin kan,” adu changbin seakan meminta validasi dari kedua temannya.
“enggak. gemes malah,” sahut chris yang membuat seungmin spontan menjulurkan lidahnya pada changbin.
changbin tidak merespon kembali. memilih merapikan pakaiannya sebelum kembali fokus dengan laptop. namun, tepat setelah menarik ujung jaket untuk merapikan kainnya, tangannya tanpa sengaja meraba sebuah benda yang mengganjal di dalam saku.
eh? perasaan kunci mobil gue taruh di meja.
spontan tangan changbin langsung merogoh ke dalam sakunya, lalu mengintipnya sedikit. alis changbin menukik tajam.
remote?
changbin mendecih tanpa suara. ujung bibirnya terangkat samar.
dasar puppy nakal. liar juga idenya. kita liat seberapa jago akting lo nanti. ia kemudian memasukkan kembali benda tersebut ke dalam saku.
di sebelahnya, seungmin tengah manyun kesal sendiri. laptopnya dibiarkan menyala menampilkan draf skripsi yang tergantung. alih-alih lanjut mengetik, seungmin justru tampak gelisah di kursinya. beberapa kali ia menggeser posisi duduk lalu merapatkan kedua pahanya dengan canggung—lubangnya terus berkedut setelah adegan headlock tadi. sementara tangannya bergerak untuk memijat pelan tengkuknya.
changbin memperhatikan dengan jelas gestur gelisah sang adik. ia langsung menyadari kegelisahan seungmin bukan sekedar karena lehernya pegal, tapi karena ada benda asing di bawah sana yang minta untuk diperhatikan.
seketika wajah ketusnya berubah, “leher lu merah. sakit banget tadi?” tanya changbin lembut. pura-pura menunjukkan rasa bersalah.
seungmin memicingkan matanya sinis. kesal dengan changbin dengan pertanyaan konyolnya. “ya sakit lah,” balas seungmin sengit.
“ututu…” ejek changbin. “sini gue pijitin deh, kasian juga gue liatnya,” sambung changbin. tangannya kanannya terjulur ke belakang sandaran kursi seungmin, mendarat tepat di tengkuk sang adik. jemarinya mulai memijat pelan.
seungmin sempat tersentak saat merasakan kulitnya bersentuhan kembali dengan telapak tangan changbin. ia memasang wajah galak sok menolak, menggeliat kecil hendak menghindar. “apasih, gak usah pegang-pegang!” gerutu seungmin tanpa menyingkirkan tangan changbin. dan changbin tetap memijat leher seungmin.
lama-kelamaan pijatan itu membuat seungmin rileks. napasnya yang semula memburu karena kesal perlahan kembali teratur. bahkan matanya agak merem-melek menikmati pijatan nyaman itu. membuat seungmin lengah, melupakan hal lain yang tadi membuatnya gelisah.
sementara changbin, tangan kirinya yang berada di dalam saku jaket diam-diam melancarkan aksinya.
klik-klik.
jempol changbin menekan cepat tombol dari remote yang tadi ia temukan di dalam sakunya.
bzzttt!
“ah—hngg?!”
pekikan kaget nyaris lolos dengan keras dari bibir seungmin jika ia tidak buru-buru membekap mulutnya sendiri. tubuhnya menegang kaku seperti tersengat listrik. matanya yang tadi keenakan merem-melek kini membelakak lebar dengan pupil mata yang bergetar samar.
gotcha.
“kenapa seung? kok tegang gitu lehernya?” tanya changbin polos yang kini pijitannya berubah lebih kencang hingga seungmin menggeser tubuhnya lebih rapat dengan changbin bersamaan dengan jempol kirinya yang kembali menekan remote kontrol—menaikkan tempo getaran.
“ah—” seungmin panik, kembali memekik tertahan. yang ternyata pekikannya menimbulkan perhatian bagi chris dan jisung yang menatapnya khawatir.
di bawah sana, mainan silikon yang tertanam dalam lubangnya mendadak bergerak liar. getarannya sangat kencang menghantam dinding lubangnya tanpa ampun. seungmin spontan menutup kakinya saling merapat, menahan tubuh bawahnya agar tidak menggeliat lebih. sementara tangan kirinya meraih apapun di dekatnya, paha changbin.
“kak—” kalimat seungmin kembali terputus. wajahnya sudah merah padam. hendak menyampaikan sesuatu tapi otaknya mendadak konslet, bingung mau ngomong apa.
“kenapa? masih sakit lehernya? atau kurang kenceng?” tanya changbin kelewat santai namun sarkas di ujung kalimatnya.
“eh anjir itu lu mijitnya kekencengan deh bang. lu mijit atau nyekek sih? sampe merah gitu sewajah,” bela jisung tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“i-iya tau nih. sakit banget,” adu seungmin sambil berusaha menstabilkan suaranya agar tidak mendesah. “jangan kenceng-kenceng kak…”
“oh… bilang dong dari tadi,” sahut changbin. tangan kanannya sedikit melonggarkan pijatannya, beralih mengusap leher seungmin seolah menuruti permintaan adiknya. namun di bawah meja, jempol kiri changbin menekan kembali dial remot.
“hnggh—” seungmin tersentak kecil dari di kursinya. sial. vibrator di dalam lubangnya mengenai titik sensitifnya. tubuhnya menegak dan kepalanya menengadah. tangan kirinya reflek mencengkram kuat paha changbin hingga buku-buku jarinya memutih.
lubang seungmin menjepit kuat vibrator itu namun justru membuat lendir memeknya meleber keluar, membasahi celana dalamnya sendiri.
changbin tidak akan membiarkan adiknya menikmati dalam diam, sebuah ide gila untuk menyiksa seungmin muncul di kepalanya. ia mengangkat sebelah kaki seungmin ke atas pahanya hingga mengangkang lebar. memek seungmin yang udah basah kuyup itu kini terpaksa terbuka lebar, membuat stimulasi getaran di dalam lubangnya semakin menggila karena tidak ada tameng untuk menahannya.
“makanya gak usah banyak bertingkah,” celetuk changbin santai. “lanjutin tuh skripsi lo gih. gak usah ngerusuhin gue lagi.”
“mnh… a-anu…” jeda seungmin. mulutnya terbata, bingung bingung hendak mendesah atau menjawab. vibrator di dalam lubangnya terus mengenai titik sensitifnya.
“itu seungmin beneran gapapa? mukanya merah banget, bin,” tanya chris tiba-tiba sedikit condong ke depan, memperhatikan raut wajah seungmin yang mulai berantakan.
“eh—mnh… gapapa kak. cuma kegerahan aja,” balas seungmin asal. otaknya udah konslet gak tau mau ngeles kayak gimana lagi. belum lagi tangan changbin yang semula berada di tengkuknya sudah berpindah untuk memeluk pinggang seungmin di bawah.
“oh… okay,” chris menggumam singkat lalu kembali melanjutkan kegiatannya sendiri. untungnya kali ini chris memasang earphone di telinganya, sementara jisung udah sibuk ngetik dengan heboh di laptopnya sambil ngomel-ngomel sendiri.
“anjir ini mah banyak banget revisinya,” cerocos jisung tanpa menoleh sama sekali.
ketika seungmin dengan gugup mencoba meraih kembali laptopnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, membuat changbin semakin bersemangat untuk menyiksanya.
changbin diam-diam menekan kembali remotenya hingga intensitas paling maksimum.
“nghhh—”
desahan itu nyaris kembali meluncur nyaring jika seungmin tidak buru-buru menggigit bibirnya sendiri.
seungmin melirik tajam ke arah changbin yang tengah menopang dagu menatapnya dengan santai. alis seungmin berkerut hendak melayangkan protes namun changbin sama sekali tidak menghiraukan dirinya berusaha mati-matian menahan sensasi gila ini.
pasalnya saat tubuhnya terkejut akibat getaran yang meningkat, refleksnya yang hendak merapatkan paha justru ditahan oleh changbin dari dua sisi. pahanya dipaksa mengangkang lebar—dikunci dengan kaki pria itu—dan pinggangnya ditahan dengan rangkulan kuat.
ahh… anjing.
maka mau tidak mau, seungmin harus menahan kuat otot perut bawahnya agar tubuhnya tidak gemetar akibat dorongan untuk mengejan hebat. ia hanya bisa menundukkan kepalanya hingga tertutupi layar laptop. kedua tangannya masing-masing mengepal kencang hingga buku jarinya memutih. sementara kakinya menegang dengan jemari yang menekuk tajam di dalam sepatu.
begitu merasakan betapa tegangnya tubuh sang adik, changbin justru bergerak semakin kurang ajar. tangan yang semula melingkar di pinggang seungmin, kini merayap melalui depan menuju ke tubuh bawah seungmin. tangan besar itu menyelinap masuk dengan mudahnya ke dalam celana seungmin.
jemari changbin merayap halus. ujung jarinya menggesek lembut dari pinggiran celana dalam seungmin, turun sampai ke bagian tengah yang udah lepek nempel di memek temben seungmin.
wow udah becek aja.
seungmin sedikit melenguh pelan saat jari tengah dan jari manis changbin bergerak lebih berani. changbin mulai mengusap halus dengan ujung kuku. gerakannya sangat pelan, cuma muter-muter di situ. lalu sesekali nyubit lembut itil yang udah ngaceng, menonjol di balik kain.
“mnnhh—” seungmin mendesis pelan. menggigit kuat bibirnya menahan desahan. tangannya spontan menahan tangan changbin agar tak bergerak lebih.
namun hal itu tak dapat menghalangi changbin untuk terus bergerak dengan kurang ajar di bawah sana. jari tengahnya menggosok itil seungmin makin kenceng. kadang konstan naik-turun, kadang ke kanan-kiri sambil agak di tekan. gesekan kenceng dari kain celana dan ujung jari changbin bikin itil seungmin bener-bener kerasa pedes.
"u-udah… sakit…" rengek seungmin yang tentu saja tak diidahkan oleh changbin.
jari changbin semakin turun, membelah memek temben seungmin dari balik kain tipis yang udah nyet-nyet basah.
"masuk dikit ya?" bisik changbin pelan banget. "lo juga suka kan kalo diteken kaya gini?"
tanpa persetujuan seungmin, ujung jari itu nekan lebih dalam. sensasi aneh tapi penuh dari tekanan paksa jari tebal changbin yang masih terhalang kain basah dari celana dalamnya, membuat seungmin kelimpungan. seungmin udah merem-melek dibuatnya meski jari changbin tidak dapat menerobos terlalu dalam karena masih terhalang kain.
"mau dibikin lebih enak, gak?" bisik changbin yang tiba-tiba mendekat ke wajah seungmin, dan menjilat seduktif telinganya. tubuh seungmin menggelinjang saat merasakan terpaan hangat yang menggelitik lehernya.
di bawah sana, jari changbin bertindak lebih cepat, mengesampingkan kain celana dalam seungmin. akhirnya buku jari changbin bersentuhan langsung dengan memek yang udah basah banget itu.
seungmin tersentak kecil. sensasi dingin kulit jari changbin kontras dengan hangat dan lembab memeknya memberikan sensasi yang beda jauh dari gesekan saat di luar celana tadi.
changbin menangkupkan seluruh telapak jarinya pada gundukan empuk itu. ditekan pelan, digosok melingkar dengan pelan. tapi lama-lama makin cepet, belum lagi itil seungmin yang ikut kegesek telapak tangan changbin. bikin lendirnya keluar terus dan membasahi seluruh jemari changbin.
terdengar bunyi kecipak basah samar di bawah sana. namun suara itu terdengar begitu nyaring di telinga seungmin, membuat mukanya makin panas karena takut-takut kalau chris dan jisung juga dapat mendengar suara kotor itu.
seungmin sudah nyaris ngawang. stimulasi dari jari-jari changbin dan getaran konstan di dalam lubangnya membuat otaknya benar-benar kosong. bahkan dengan tidak tahu malunya, seungmin refleks menaikkan pinggulnya buat ngejar jemari changbin seolah minta lebih.
saat seungmin sedang mencengkram kuat lengan changbin dan menekuk dalam wajahnya menahan segala gejolak kenikmatannya, sebuah suara bariton menyadarkan dirinya kembali ke dunia nyata—di mana masih ada orang lain di depannya.
“seungmin tidur?” chris bertanya dengan lirih sambil melepaskan sebelah earphonenya.
seungmin reflek mendongakkan wajahnya. "mnhh—” ia hendak menjawab tapi bersamaan dengan itu, changbin memanfaatkan momen dengan sengaja melesakkan satu jarinya menerobos masuk ke lubang memek seungmin. "ahh… cuma ngantuk dikit, kak—kh!"
"iya tuh, hahaha," saut changbin sambil terkekeh pelan—tawa yang menutupi kelakuan iblis di bawah meja. "kelamaan nunggu kita kayanya. salah siapa ngotot ikut ikut," omel changbin ke seungmin yang mukanya udah merah—nahan kesal karena akting changbin dan jari changbin yang nekan-nekan dinding lubangnya.
chris ikut terkekeh. "bentar lagi kita selesai kok, seung. tidur dulu aja gapapa."
"nghh…i-iya kak," balas seungmin seadanya. ia mati-matian menahan ekspresi agar tidak terlihat begitu kacau.
“tidur cil, tidur” potong changbin menyelamatkan seungmin. tangan kirinya mendorong pelan kepala seungmin agar tengkurap di atas meja.
seungmin yang gak ada pilihan lain, hanya menurut. ia melipat kedua tangannya di atas permukaan meja lalu menenggelamkan wajahnya di sana. changbin juga membantu menggeser posisi layar laptop agar menjadi benteng yang menutupi anak itu dari pandangan chris maupun jisung.
begitu chris kembali fokus pada layar laptopnya, changbin mendekat ke telinga seungmin. “pura-pura tidur atau biarin chris tau selacur apa lubang lo," bisik changbin rendah sambil menekan telak titik sensitif seungmin. "lagi disumpel mainan sambil gue kobelin”
seungmin berjengit kaget, napasnya tercekat di tenggorokan. "mnhh—ja-janganh…"
“tahan sepuluh menit aja. ganjel juga itu mulut lo biar gak kelepasan desah. kalo nyampe chris atau jisung tau, gue ajakin mereka sekalian buat ngentotin lubang lacur lo ini. mau?” ancam changbin.
“shh… jahat banget…” rengek seungmin nyaris menangis.
“itu pelajaran buat puppy nakal kaya lo. udah sana tidur.”
sepuluh menit… cuma sepuluh menit, min. batin seungmin menyemangati dirinya sendiri.
tepat setelah changbin menarik diri, dan semua orang di atas meja sibuk sendiri, jemari pria itu melesakkan satu lagi jarinya. mendesak masuk di samping vibrator telur yang masih bergetar di dalam sana.
shhh… penuh banget.
lubang seungmin makin terasa penuh dan sesak. dinding lubangnya menjepit rapat vibrator dan jari tebal changbin. tapi hal itu tidak jadi halangan besar karena memek seungmin yang udah bocor dengan lendir yang kemana-mana bikin jari tebal changbin licin dan tetap dapat bergerak dengan leluasa.
jemari changbin menekuk lebih dalam, menekan telak titik sensitif seungmin. kemudian menekannya sambil digerakin kenceng bikin lubang seungmin berkedut cepat.
paha kanan seungmin reflek hendak menutup, nahan stimulasi yang makin intens. tapi makin ia coba menahan semua rangsangannya, jari changbin makin sembarangan ngobel lubangnya.
"hnggh—" seungmin gigit kain bajunya kuat-kuat. menyalurkan hasrat ingin langsung mengangkang dan mendesah kencang. tapi apa daya ia harus menahan semua gelombang orgasme agar tidak menimbulkan curiga pada chris dan jisung.
seungmin menggeleng lemah, memberikan sinyal kepada changbin untuk memelankan jarinya. pasalnya gerakan changbin makin berantakan. gak cuma neken titik sensitifnya, tapi juga terus-terusan mentokin lubangnya bikin perut bawahnya mengencang.
napas seungmin pecah di antara desahan tertahannya. wajahnya makin ia tenggelamkan dilipatan tangan.
“mnhh—!”
“anhh… stoph… pleassh…” bisk seungmin parau.
“di tahan dong sayang,” bisik changbin seduktif. “baru dua menit ini.”
harus ditahan seperti apa lagi, otot perut bawah seungmin udah berkontraksi, gelombang orgasmenya seperti akan meledak detik itu juga. dan benar saja, tak butuh waktu lama, badan seungmin akhirnya kejang.
"ahh!"
desahnya begitu aja. udah gak peduli kalau-kalau chris dan jisung mendapatinya tengah mengejan menyemburkan cairan memeknya.
dada seungmin naik turun dengan napas yang terengah di persembunyian lengannya. kepalan erat tangannya mengendur, tubuhnya menyandar lemah sepenuhnya di atas meja.
changbin menyunggingkan senyum kemenangan di bibirnya. jemarinya yang masih tertanam di dalam, dipijit kencang oleh dinding memek seungmin. bahkan semburan basahnya tembus ke telapak tangannya.
“gagal, hm?” bisik changbin rendah. tangan kirinya mematikan remote kontrol itu. “belum ada tiga menit dan udah muncrat? lubang lo beneran kaya lacur ya, gampang banget bocornya.”
seungmin hanya diam pasrah. gak ada tenaga untuk sekadar membalas ucapan changbin.
changbin terkekeh geli, lalu mengusap lembut kepala seungmin dengan tangan kirinya. “tidur beneran gih, ntar gue bangunin kalo mau pulang. good job puppy. siapin lubangnya ya.”
