Actions

Work Header

Answer

Summary:

Tentang Riku yang tak mau membuat khawatir orang tuanya, sehingga ia terpaksa mengatakan bahwa Sion adalah kekasihnya.

Notes:

Hiiii ini ceritanya aku up lagi karena setelah diedit kembali kayaknya seru untuk explore universe ini lagi ^^ hope you guys enjoy:)

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: One

Chapter Text

Riku merasa keputusannya sangat tepat untuk pindah ke apartment baru. Meski semua hal ini belum sepenuhnya membuat Riku merasa bisa kembali ke kondisi dirinya yang dulu, setidaknya dengan tempat baru ini ia tak lagi terbayang-bayang akan kenangannya yang sedang coba dihapusnya itu. Sekarang sudah tak ada lagi yang akan bisa mengingatkannya tentang orang itu. Semua sudut di apartemennya yang baru ini, akan Riku isi dengan kenangan baru.

Seminggu setelah kejadian itu, Riku masih belum siap untuk kembali bekerja. Beruntung ia merupakan apa yang sering disebut sebagai nepotism baby, sehingga kantor tempatnya bekerja merupakan kantor ayahnya–membuat pria itu dengan mudah mengajukan cuti untuk beberapa waktu lamanya. Riku memanfaatkan waktu yang ada untuk menata diri serta hatinya. Lagipula, ia yakin semua orang yang ada di kantor juga mengerti bahwa dirinya tak akan pergi ke sana dalam jangka waktu dekat ini.

Bosan berdiam diri di dalam apartemen baru miliknya, Riku memutuskan untuk pergi ke taman sekitar. Ia memang belum familiar dengan suasana dan tata letak terkait beberapa tempat umum dekat apartemen barunya, mengingat Riku juga baru seminggu di sana. Karenanya, pria itu merasa perlu untuk melihat sekitar dan berjalan-jalan di sana.

Riku memasuki kawasan taman, atau mungkin lebih seperti playground kecil dengan beberapa kursi untuk orang tua yang menemani anaknya bermain duduk. Ia melihat kala itu sedang sepi, mungkin karena masih pagi hari jadi kebanyakan anak kecil tentu pergi bersekolah. Karena itu juga Riku akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu ayunan dan bermain sendirian. Ia merasa sedikit lucu mengingat usianya kini hampir 25 tahun, namun mumpung tidak ada yang melihat, jadi pria itu bisa dengan bebas bermain di sana.

Ketika tengah sibuk larut dalam pikirannya, Riku dikejutkan dengan suara kucing yang mendekatinya. Pria itu melihat ke bawah, ke arah kaki kanannya, di mana ia menemukan seekor kucing berwarna abu-abu menggosokkan badan di sana. Riku langsung menjulurkan tangan untuk mengelus punggung kucing itu dan membuat kucing tersebut mengeluarkan suara menggemaskan.

"Lucu banget sih kamu," Riku berkata sembari terus mengelus kucing tersebut. Selanjutnya ia bermain dengan kucing itu cukup lama, mungkin selama hampir dua jam, entahlah Riku tak tau waktu berlalu berapa lama. Yang jelas ketika langit sudah mulai terik dan beberapa anak nampak datang untuk bermain di playground itu, ia baru memutuskan untuk pergi dari sana.

***

Riku menghampiri kucing itu hampir setiap hari setelahnya. Setelah pertemuan pertama mereka, di mana dia tak bawa apa-apa, Riku akhirnya membelikan kucing itu makanan dan memberinya makan ketika ia datang untuk bermain dengan kucing tersebut. Riku bahkan sudah memberinya nama, yaitu Mimi. Agaknya ia sudah merasa memiliki ikatan batin dengan kucing tersebut dan Riku ingin mengadopsinya mengingat bahwa kucing tersebut tak memiliki tanda-tanda bahwa ada pemiliknya.

Hari itu, tepatnya empat hari setelah pertama kali Riku melihat Mimi, pria itu terlambat datang mengunjungi kucing itu. Ia bergegas ketika langit sudah menampakkan senjanya. Riku merasa harinya sangat kacau, semalam ia menemukan fakta yang menyebabkan dirinya kembali berada di fase terpuruknya. Riku jadi tak ingin pergi kemanapun dan dia merasa tak punya tenaga untuk melakukan apapun. Namun, ketika mengingat bahwa Mimi mungkin mencarinya, Riku segera bergegas. Walaupun ia tak tahu apakah kucing itu akan ada di sana karena langit yang sudah mulai gelap.

Langkah Riku berhenti kala melihat Mimi rupanya memang berada di sana. Namun, yang membuatnya tak langsung menghampiri kucing itu, dikarenakan Riku melihat seorang pria yang tengah mengelus punggung Mimi sembari memberinya makanan kucing. Bukan masalah tentu saja, hanya dalam kondisinya yang sekarang, Riku punya sedikit rasa tak terima kala orang asing itu nampak akrab dengan kucingnya. Ia menatap nyalang ke arah pria itu.

Merasa diperhatikan, sosok pria itu segera mengalihkan pandangan ke arah Riku. Pandangan keduanya bertemu dan pria itu melemparkan senyuman sopan ke arah Riku. Riku tak suka. Ia segera menghampiri keduanya.

"Jangan beri makan kucingku sembarangan!" ucap Riku pada orang asing itu dengan nada yang ia buat agar terdengar dingin dan seperti orang marah.

Orang asing tadi menatapnya dengan tatapan bingung. Ia yang berjongkok kemudian berdiri sehingga mensejajarkan diri dengan Riku. "Maaf?"

"Aku bilang," Riku mengulangi kalimatnya lagi. "Jangan beri makan kucingku sembarangan," ucapnya dengan penuh penekanan.

Balasan tawa tentu bukan hal yang diduga Riku. Ia menatap bingung serta tak terima ke arah pria itu. "Kenapa kamu tertawa?!"

Pria itu nampak berusaha untuk menghentikan tawanya. Ia kemudian membalas kala tawanya sudah reda. "Maaf, saya gak bermaksud untuk buat kamu tersinggung."

Riku tak mungkin untuk tak tersinggung dengan tingkah pria itu. "Kamu bilang kayak gitu, tapi siapa yang bakal percaya?!"

"Iya, saya minta maaf," Pria itu kini memasang wajah yang nampak merasa bersalah. "Saya cuma... kaget? Karena, maaf sekali lagi, tapi kamu habis nangis ya?" tebak pria itu.

Seketika Riku terdiam. Astaga apakah terlihat sangat jelas? Ia merasa sangat malu mendengar hal itu.

"Eh, saya gak bermaksud buat kamu ngerasa gak nyaman," Pria itu kembali berkata. "Maaf saya emang agak canggung kalo interaksi sama orang ganteng."

Riku mengernyit mendengar itu. Apa-apaan maksudnya? Tentu saja pria itu memang sengaja mau mengejeknya! Riku menjadi semakin tak suka padanya. "Gak jelas banget sih!"

Pria itu tersenyum penuh arti. "Gak apa, banyak yang bilang begitu kok."

Riku memutar matanya. Ia merasa tak ada gunanya berinteraksi dengan pria itu. Riku lebih baik segera menyuruhnya untuk pergi. "Udah deh gak usah sok akrab, mending kamu pergi jauh-jauh dari sini! Dan stop beri makan kucingku! Dia gak bisa makan sembarang!"

Pria itu tersenyum penuh arti mendengar hal itu. "Oh gitu ya? Gak nyangka sekarang Kuro udah punya owner baru."

Mendengar itu membuat Riku terkejut dan tak tahu harus membalas apa. Pria itu bilang apa tadi? Kuro? Jadi, kucing ini sebenarnya punya pemilik lain? Dan pemiliknya itu adalah pria menyebalkan ini?

"Bukan punya saya kok," Pria itu seolah bisa membaca pikiran Riku. "Kucing ini dulu punya salah satu pemilik apartemen di sana," Ia menunjuk apartmen tak jauh dari mereka. "Tapi waktu itu mereka pindah, tapi tempat barunya gak bolehin bawa binatang peliharaan. Dan Kuro juga udah dikenal sama orang-orang di sini, jadinya dia dibiarin di sini."

Untunglah. Itu tandanya Riku masih bisa untuk mengadopsinya.

"Eh, gak semudah itu dong!" Lagi-lagi pria itu berkata seolah dia memang bisa membaca pikiran Riku. "Saya gak bisa baca pikiran, kamu aja yang ngomongnya kebesaran."

Riku berdecih. Menyebalkan.

"Lah malah ngatain," Pria itu kembali membalasnya. "Kamu main ngatain aja, padahal kenal juga belum."

Siapa juga yang mau kenalan sama orang kayak dia?

"Salah saya apa sih? Kok kamu judes sekali. Padahal saya cuma ngasi makan Kuro makanan doang."

Riku tidak peduli. Ia tak suka dengan pria itu.

Respon tak disangka keluar dari pria itu lagi. "Kamu lucu banget sih," Pria itu berkata sembari tertawa kecil, "Kayak kucing tau gak, cemberut terus begitu."

Riku memutuskan untuk tak menanggapi pria itu lagi dan berjalan melaluinya untuk mendekati Mimi. Kucing itu juga sepertinya kini sudah menyadari keberadaan Riku, sehingga ia berjalan ke arahnya, dan mengeong seolah memanggil Riku. Riku segera berjongkok untuk mengelus kucing itu setelah ia berada di dekatnya.

"Wah, ternyata Kuro suka sama kamu juga!"

Riku melirik tajam ke arah pria itu. Apa maksudnya berkata begitu?

"Kuro biasanya jarang mau dekat sama orang baru, dia suka nyakar."

"Jangan asal nuduh deh! Mimi itu kucing yang baik!"

Pria itu mengangkat bahunya. "Gak percaya gak apa-apa."

Riku memang tak mau percaya dengan pria itu. Lagipula apakah tak bisa dia pergi? Bukannya dia juga sudah selesai memberi makan Mimi, jadi buat apa pria itu masih di sini?

"Apartemen saya yang ini," Pria itu menunjuk gedung yang tepat berada di seberang mereka. "Makanya saya masih di sini."

Lagi-lagi kenapa pria itu bisa menebak pikirannya dengan tepat begini? Apa pria itu benar bisa baca pikirannya?

"Dibilang saya gak bisa baca pikiran," Respon pria itu sama sekali terdengar seperti dia bisa baca pikiran Riku. "Cuma kamu emang gampang dibaca aja. Wajahmu… sangat ekspresif."

Riku memang pernah dengar bahwa keluarga dan temannya mengatakan hal mirip seperti itu, namun tidak yang mereka sampai di tahap bisa membaca dengan tepat apa yang sedang ia pikirkan begini.

"Ini sudah mau malam, kamu gak balik pulang?"

Riku yang tengah berpikir disadarkan oleh perkataan pria asing itu lagi. Wajahnya mendongak ke atas dan benar saja langit sudah gelap. Memikirkan dia harus kembali ke apartemennya entah kenapa membuat Riku merasa berat untuk pergi dari sana. Riku belum mau kembali sendirian di dalam kamarnya. Mungkin nanti ia akan hubungi Yushi untuk menemaninya. Tapi, hal itu hanya akan membuat Yushi jadi semakin khawatir. Riku tak ingin menambah pikiran temannya itu.

"Hei, kamu gak apa-apa?"

Suara pria itu kembali menyadarkan Riku. Sial, apakah pria itu kembali membaca pikirannya? Riku harus segera pergi dari sana. Ia berpamitan pada Mimi dan setelahnya pergi tanpa berkata apapun pada pria itu. Malam ini, Riku akan memesan pizza saja.

***

Riku pernah mengira bahwa hidupnya sempurna. Hanya saja, ilusi itu hilang beberapa bulan belakangan ini. Terlebih setelah hari itu, tepatnya di hari ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Riku tak menyangka ia akan membenci hari ulang tahunnya, setelah seumur hidup merasa bahwa itu merupakan hari terbaik yang pernah ada.

Merasa bahwa kini pikirannya kembali jauh ke hal yang tak seharusnya diingatnya, Riku memutuskan untuk pergi membeli bahan makanan untuknya. Isi kulkasnya memang masih lebih dari cukup, namun Riku butuh distraksi agar pikirannya tak kembali memikirkan hal yang sama. Sekaligus nanti, Riku bisa membelikan makanan untuk Mimi. Bisa dikatakan Mimi adalah salah satu hal yang mendorong Riku dalam menjalani harinya. Riku jadi punya hal untuk dinantikan esok hari, pada waktu ia bisa bertemu dengan Mimi.

Melihat lemari pendingin berisi banyak minuman, Riku memutuskan untuk membeli soda. Ia ingat sudah lama tak minum minuman itu, jadi Riku pikir sekalian untuk menyetok di apartmentnya. Setelah di rasa semua sudah lengkap, Riku berjalan kembali pulang. Matanya mengernyit ketika melihat sosok yang nampak tak asing berdiri tak jauh di depannya.

Tunggu. Apa yang dilakukan pria aneh kemarin di depan gedung apartemennya? Apa pria itu sedang menguntitnya?

"Oh, hei, orang asing!" Sapa pria itu ketika dia melihat Riku sudah berada di dekatnya.

Riku memutar matanya, sedang tak ingin berbasa-basi terlebih dengan orang itu. "Kamu ngapain di sini?"

Pria itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Riku. "Saya gak lagi nguntit kamu kok, kalau itu yang kamu takutkan." ucapnya kemudian.

"Terus ngapain?" Riku bertanya lagi.

"Teman saya ada yang tinggal di sini, tadi saya selesai ketemu dia," jawab pria itu.

Riku masih belum yakin, tapi ya sudah lah ia tak mau ambil pusing. Lebih baik sekarang Riku segera masuk ke dalam apartemennya untuk meletakkan belanjaannya ini dan setelahnya ia bisa bertemu Mimi.

"Kamu butuh bantuan?" Pria itu bertanya lagi melihat Riku yang membawa banyak tas belanjaan. Riku sebenarnya tak kerepotan sama sekali dan dia juga belum percaya pada orang asing itu sepenuhnya untuk membiarkannya membantu membawakan tas belanjanya.

"Gak usah, aku bisa sendiri."

Pria itu kemudian tersenyum. "Yakin?" tanyanya.

"Iyalah yakin!" balas Riku. Ia kemudian mengangkat tas yang dibawanya itu seolah bukan masalah besar. "Nih lihat! Aku bisa–" Riku belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba tas belanjanya itu robek dan isinya berserakan di bawah. Demi Tuhan, apa yang sedang terjadi sekarang ini?!

"Saya bantuin, ya?"

Riku tak sempat membalas dan membiarkan saja pria itu membantunya mengambil barangnya yang jatuh berserakan. Riku merasa sangat buruk sekarang. Bisa-bisanya hal sekecil membawa tas belanja saja gagal dilakukannya? Apakah tak ada hal yang bisa Riku lakukan dengan baik? Kenapa nasibnya selalu sial begini?

"Hei, gak apa-apa," Pria itu kembali berkata saat keduanya sudah selesai mengambil semua barang Riku yang berserakan. "Saya bisa bantu bawa ke dalam, kalau kamu mau?"

Merasa tak punya pilihan, Riku menyetujui tawaran dari pria itu. Keheningan menyelimuti keduanya saat berada di dalam lift menuju apartemen Riku. Riku sibuk dengan semua hal yang kini ada di pikirannya, sampai ia tak sadar bahwa mereka sudah sampai di depan apartemennya. Riku mengajak pria itu masuk ke dalam sana.

"Kamu bisa letakkan itu di meja ini," Riku berkata setelah keduanya berada di dalam apartemennya.

Pria itu meletakkan semua yang dibawanya di atas kitchen island yang ada di sana. "Rumah kamu bagus," puji pria itu pada Riku.

"Thanks," Riku membalas singkat. Ia sebenarnya sedang malas untuk berinteraksi setelah kejadian tadi, tapi Riku masih punya sopan santun untuk tahu bahwa ia perlu menawarkan sesuatu atas bantuan yang diterimanya tadi. "Kamu mau minum sesuatu?"

Pria itu menggeleng, "Gak usah–"

"Soda aja gimana?" tawar Riku lagi. "Kamu bisa bawa pulang kalo gak mau minum di sini."

Mungkin merasa tak enak menolak lagi, pria itu akhirnya mengangguk setuju. Riku mengambil salah satu soda yang tadi dibelinya dan memberikan kepada pria itu. Pria itu menerima sembari mengucapkan terima kasih padanya. Riku juga mengambil satu untuk diminumnya. Tanpa berpikir apa-apa, Riku membuka soda tersebut, namun bencana kembali datang padanya lantaran soda itu menyembur keluar mengenai bajunya. Riku memaki kembali dirinya sendiri. Ia ingin menangis rasanya.

"Kamu gak apa-apa?"

Riku melihat ke arah pria itu dan setelahnya berusaha untuk mengendalikan dirinya. Riku tak boleh memperlihatkan sisi lemahnya di depan orang lain, terlebih orang asing yang tak dikenalnya. "Iya, aku gak apa-apa," jawabnya.

Pria itu nampaknya tak percaya dengan ucapanya, namun dia juga tak punya hak untuk menuntut lebih jauh agar Riku mau jujur padanya. "Ya sudah, kalau itu yang kamu bilang," Dia menjeda sejenak. "Kalau begitu mungkin sebaiknya saya pulang. Terima kasih sodanya," ucap pria itu sembari tersenyum dan berjalan pergi pergi menuju pintu apartemen Riku.

Riku melihat kepergian pria itu dan setelahnya ia menghela nafas panjang. Benar-benar hari yang melelahkan. Riku kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Ia membersihkan badannya yang terkena soda dan meletakkan baju yang bernoda di tumpukkan baju yang akan dicucinya nanti. Kini, Riku yang sudah mengganti pakaiannya berniat untuk makan terlebih dahulu, sebelum nanti pergi bertemu dengan Mimi. Ia butuh energi lebih setelah menghadapi semua hal yang terjadi tadi.

Berjalan keluar dari kamarnya, Riku dikejutkan dengan keberadaan Papanya di ruang tamu miliknya. Yang lebih tak terduga lagi adalah sang Papa kini tengah bicara dengan pria asing tadi. Riku termenung. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya pria itu sudah pergi dari apartemennya tadi?

"Iku!" Sang Papa memanggilnya ketika melihatnya. "Kenapa gak bilang sama Papa kalau Iku udah lama sama Sion?"

Riku mengernyit bingung mendengar pertanyaan sang Papa. Siapa Sion? Apa yang sedang dibicarakan Papanya ini? "Papa ngomong apa?"

Papa Riku tersenyum. "Tadi Sion cerita sama Papa kalau Iku sama dia sudah lama barengnya. Kok Iku gak cerita sama Papa?"

Riku melihat ke arah pria itu, yang ternyata merupakan pemilik nama 'Sion', dan mendapati wajah pria itu juga sama bingungnya dengannya. Sebentar. Papanya bilang Riku dan Sion sudah lama bersama? Bersama dalam artian apa? Jangan-jangan Papanya mengira bahwa Riku berpacaran dengan Sion? Oh, tidak. Ini buruk sekali.

"Sebentar, Pa. Papa salah sangka–" Riku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya, namun begitu melihat wajah sang Papa yang penuh harap begitu membuat Riku menghentikan kalimatnya. Sungguh sial, Riku tak bisa melakukan ini. "Iku bukannya gak mau cerita, tapi Sion bilang dia butuh waktu buat dikenalin sama Papa."

Wajah Papanya nampak sangat senang mendengar hal itu. Riku merasa sangat bersalah, tapi ia terlalu takut untuk kembali membuat Papanya itu kecewa. Melihat ke arah Sion lagi, pria itu nampak bingung dengan situasi yang ada. Riku membalas tatap Sion seolah memohon agar pria itu tak berkata apa-apa. Dia bisa menjelaskan semuanya nanti pada Sion, sekarang yang terpenting adalah Papanya terlebih dahulu.

"Sion, kenapa takut kenalan sama Papa? Papa gak gigit loh."

Sion membalas sembari tertawa kikuk. "Iya, maaf ya, Om."

"Jangan panggil 'Om', tapi panggilnya 'Papa'."

"Pa, jangan dipaksa gitu anaknya," Riku menegur Papanya.

"Papa gak maksa–" Suara dering ponsel sang Papa menyela ucapannya dan Papa Riku segera membuka benda itu. Matanya membaca pesan itu cepat, kemudian ia melanjutkan bicara ke Riku. "Aduh, Papa harus ke kantor lagi. Iku sama Sion bisa 'kan besok makan siang sama Papa?"

Mendengar pertanyaan dari sang Papa membuat Riku panik. Ia tak menyangka Papanya akan bertindak secepat itu. Riku harus berpikir cepat. "Pa, jangan besok. Sion ada kerja," Bagus. Alasan yang sangat masuk akal.

"Oh iya? Sion memang kerja di mana?"

Tidak. Ini buruk. Riku harus menahan Sion agar tak mengatakan apapun terkait tempatnya bekerja atau ini akan jadi masalah besar nantinya.

"Saya kerja di–"

"Makan malam weekend ini aja, gimana, Pa?" Riku segera memotong ucapan Sion sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.

Sang Papa nampak sangat senang mendengar itu. "Okay, Papa nanti yang reservasi tempatnya. Kalau gitu, Papa pergi dulu ya." Ia kemudian melihat ke arah Sion dan menggenggam tangan pria itu erat. "Papa senang sekali bertemu dengan Sion."

Sion tersenyum membalas Papa Riku. "Saya juga senang bertemu dengan Om."

Papa Riku tertawa kecil dan kemudian ia beralih kepada Riku. Riku tak menyangka sang Papa akan menariknya ke dalam pelukannya. "Iku bahagia selalu ya, sayang? Papa sayang Iku."

Mendengar ucapan Papanya itu membuat Riku ingin menangis lagi. Namun, ia lagi-lagi harus menahannya dan bersikap kuat di depan sang Papa. "Iku juga sayang Papa."

***

Suasana canggung menyelimuti kedua manusia itu setelah kepergian Papa Riku. Baik Sion maupun Riku nampaknya butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Apalagi kalau bukan terkait Sion yang dianggap sebagai kekasih Riku oleh Papanya tadi.

Sion menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, kemudian ia buka suara untuk memecah keheningan antara mereka, "Jadi, nama kamu Iku?"

Riku menghela nafasnya berat. Ini salahnya yang tak bisa bersikap tegas dan malah membuat orang tuanya kembali berharap dengannya. Sekarang dia terjebak dengan konsekuensi dari tindakannya dan itu membuatnya sakit kepala memikirkannya. Tapi, itu bisa dipikirkan nanti. "Riku, kalo orang rumah sering panggil Iku" balasnya setelah selesai dengan pergulatan batinnya.

"Oh gitu." Sion mengangguk paham.

"Lengkapnya Maeda Riku. Kata Papa waktu kecil aku gak bisa bilang Riku, jadi manggilnya itu 'Iku'. Dan itu udah jadi kebiasaan sampai sekarang," jelas Riku.

Sion kembali mengangguk paham. "Saya gak punya sih panggilan kayak gitu. Di rumah soalnya manggil pake status di keluarga, kayak 'Kakak'."

Begitu. Jadi, Sion punya adik.

"Dua orang," Sion membalasanya, lagi-lagi seperti ia bisa membaca pikiran Riku dengan mudahnya. "Anak kembar, namanya Seohyeon dan Seoyoon."

Riku hanya mengangguk membalasnya. Tangannya terus ia mainkan, yang mana menandakan bahwa dirinya sedang gugup dan tak tahu harus berbuat apa.

Sion berdehem. "Terus ini gimana?"

Riku mengangkat bahunya, "Aku belum kepikiran," Ia kemudian menghembuskan nafasnya berat. "Emang tadi kamu ngomong apa sama Papa sampai dia bisa mikir kita pacaran?"

Sion nampak berpikir. "Tadi Papa kamu nanya nama saya siapa," Ia terlihat berpikir keras berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. "Terus, dia nanya saya udah lama gak bareng kamu…" Wajahnya nampak berubah menunjukkan bahwa ia merasa bersalah. "Maaf, saya pikir yang dia maksud berapa lama kita ketemu tadi, saya gak berpikir ke arah itu."

Riku mengangguk paham. Ia sebenarnya tak menyalahkan Sion, lantaran ia tahu Papanya memang seperti itu. "Iya, kamu tenang aja, nanti aku akan bilang ke Papa kalo kita putus. Gampang itu."

Sion menatap Riku beberapa saat, kemudian ia membalas, "Kalo segampang itu, kenapa tadi kamu gak bilang yang sebenarnya?"

Riku terdiam, tak bisa menjawab itu.

Sion tahu sebenarnya dia sedang berada pada zona yang berbahaya. Namun, saat ini apa yang sedang terjadi juga menyangkut dirinya. Jadi, Sion tak bisa diam saja. "Listen, saya di sini bukannya mau crossing the boundaries atau gimana, tapi saya rasa kamu butuh bantuan."

Mendengar itu membuat Riku lantas menatap tak suka ke arahnya.

"Makanya dengerin dulu!" ucap Sion cepat, melihat Riku sepertinya akan salah paham dengan maksudnya. "Ini saya gak maksud gimana-gimana. Tapi, kalo stranger kayak saya aja bisa paham kalo kamu lagi gak baik-baik aja, apalagi orang terdekat kamu?"

Riku lagi-lagi tak bisa menjawab itu.

"There's nothing wrong for seeking help, Riku."

 

Riku menatap kosong langit-langit kamarnya. Gelap, seperti itu kini suasana kamar tersebut. Ia bahkan tak mau repot menyalakan lampu, jadi penerangan kamarnya hanya berasal dari lampu jalanan, yang berada di seberang apartment miliknya, yang mana menerobos melalui celah jendelanya.

"'There's nothing wrong for seeking help', katanya," Riku bermonolog sendiri. "Gampang banget emang ngomong," sambung pria itu sembari tersenyum kecil.

Suara ponselnya mengusik, Riku segera mengambil benda yang berada di sampingnya itu dan kini perasaannya kembali hancur lebur. Dengan sisa tenaganya, Riku segera mematikan ponselnya dan melemparkan sembarang benda itu. Ia kembali melihat langit-langit kamarnya, kemudian memejamkan mata dan perlahan pergi ke dunia mimpi.

***