Chapter Text
YUJI duduk di kelas barunya. Ini baru pertengahan semester gasal. Namun, Yuji dipindahkan dari Sendai ke Tokyo agar kakeknya menjalani perawatan yang lebih baik. Keluarga Yuji emang gak kaya-kaya banget, tapi uang asuransi dan pensiunan dari keluarganya yang udah meninggal sangat cukup untuk menghidupi kakek dan dirinya.
Yuji sejujurnya juga bersyukur kakeknya yang keras kepala mau pindah ke Tokyo, ke tempat di mana perawatan kesehatan lebih advanced. Jadi demi mendukung kakeknya itu, Yuji sampai bela-belain masuk ke sekolah terdekat dengan rumah sakit tempat kakeknya dirawat.
Yang mana, membuat Yuji sedikit meringis tiap kali ingat dirinya masuk ke sekolah yang mana. SMA Jujutsu itu sekolah berandalan, katanya.
Isinya kalau gak orang berantem, ya orang diajak berantem!
Letaknya padahal cukup strategis, dekat dengan rumah sakit pusat di Tokyo. Tapi alih-alih membuat muridnya sedikit jaim, malah tambah liar.
Bukan hal baru melihat murid SMA Jujutsu nongkrong di depan gerbang sambil cengar-cengir membuat yang lewat takut. Track record mereka dalam mencari keributan juga panjangnya mengalahkan Undang-Undang Dasar.
Orang-orang bahkan heran, kok murid-murid ini enggak ditindak? Ya, karena mereka itu meskipun bandel, suka bolos, tawuran—sebagian besar itu kaya dan enggak sedikit dari mereka otaknya encer.
Prestasi jalan, dosa juga!
Apalagi dengan adanya Ryoumen Sukuna–anak kelas 3–jenderal dari segala kenakalan remaja di SMA Jujutsu. Makin langgeng lagi mereka!
"Denger-denger, Kak Sukuna hampir tiap minggu tawuran sama anak SMA Tokyo! Apalagi sama gengnya Kak Gojo," ujar Junpei berbisik-bisik.
Yuji cuma bisa mengangguk-angguk. Agak menyesal kenapa masuk SMA ini. Nilai Yuji itu menuju bawah rata-rata, alias otaknya tidak encer. 32GB!
Jadi kemungkinan masuk SMA unggulan juga berkurang. Dulu juga meskipun dibilang atletis, dirinya tidak masuk ke klub olahraga mana pun. Justru malah masuk klub occult karena waktunya yang lebih fleksibel. Mungkin kalau dirinya lebih rajin lagi, dirinya bisa masuk ke SMA yang lebih baik lagi.
"Kak Sukuna itu yang kaya gimana?"
Junpei melihat sekeliling kelas yang berisik. Memang sedang jam kosong karena guru sedang rapat. "Dia punya rambut pink kaya kamu, yuuji. Dia tinggi, gede, 2 meter lebih kayaknya, terus tangannya ditato."
Yuji mengangguk-angguk lagi. "Tapi kita bakal jarang kan lihat dia?"
Junpei berpikir sejenak, "Seharusnya sih. Soalnya mereka beda lantai sama kita, beda gedung juga."
"Oke, oke, aman dong."
"Enggak juga sih, ji. Soalnya mereka sering tawuran di depan sekolah! Biasanya agak sorean sih, cuma kamu hati-hati aja ya."
Yuji kembali mengangguk-angguk.
Toh Yuji bakal pulang lebih awal terus. Aman lah.
o0o
Yuji pulang lebih lambat. Kelihatannya, tidak aman.
Penyebabnya?
Anak SMA Tokyo dan Jujutsu sedang tawuran!
Yuji sebenarnya ingin pulang duluan, tapi terjebak remedial matematika dari Pak Kusakabe. Niat hati ingin bolos, tapi tatapan Pak Kusakabe saking tajamnya, membuat Yuji kicep di tempat. Begitu keluar sekolah, malah disambut rombongan anak SMA yang sedang lari-lari sambil mengacungkan tongkat bisbol dan batu.
Yuji berniat kembali masuk sekolah, tapi gerbangnya sudah dikunci!
"Pak! Pak satpam! Saya masih di luar! Pak, saya enggak mau tawuran!" Yuji berteriak. Tapi tidak digubris.
Sementara itu, rombongan anak-anak SMA yang sedang tawuran semakin dekat dengan gerbang sekolah.
Haruskah Yuji lari? Tapi kalau dianggap ikut tawuran gimana? Dia tidak mau dianggap sebagai rombongan yang ikut tawuran dan kena pukulan. Begini-gini, Yuji sudah ingin pensiun menghajar orang lain.
"Woi, ngapain lo disini?! Ayo maju!" Seorang pemuda berambut abu-abu dengan luka jahitan di wajahnya menarik Yuji kasar dari gerbang.
"Bukan, bang! Saya gak ikut tawuran!"
Pemuda itu mendelik, "Terus ngapain lo di sini? Anak Tokyo ya lo?" ancam pemuda yang ternyata bernama Mahito itu.
"Bukan, Bang," melas Yuji. Dia padahal cuma ingin pulang cepat! "Saya anak baru! Saya cuma mau pulang, nih, saya ada kartu pelajar kalau gak percaya." Yuji sudah mau membuka tasnya. Namun tidak sempat karena suara dalam menginterupsi.
"Ada apa ini?"
Mahito dan Yuji mematung sejenak. Jantung Yuji berdegup cepat karena merasa terintimidasi oleh suara seorang pemuda. Ketika Yuji mencoba menoleh, dia melihat seorang pemuda yang sangat tinggi. Mungkin bahkan tingginya lebih dari 2 meter. Dia memiliki rambut pink hampir sama dengan Yuji. Namun, wajahnya memiliki perawakan lebih maskulin dengan tato yang menyembul di tangan dan tulang selangkanya.
Yuji menelan ludah kasar. Ini jangan-jangan Sukuna yang dibicarakan Junpei!
"Ini bos ada junior yang gak mau ikut tawuran!"
Mahito bangsat! umpat Yuji dalam hati. Dia melirik Sukuna hati-hati, "Nggak kok kak! Saya cuma ada urusan mendadak. Saya harus jenguk kakek saya, soalnya beliau lagi di rumah sakit."
Sukuna menaikkan sebelah alis, heran. "Emang orang tua lo ke mana? Kok bukan mereka yang jenguk?"
"Saya yatim piatu, kak."
Sukuna, "..."
Mahito, "..."
"Ya udah pergi sana," ujar Sukuna acuh.
yuji dalam hati bersuka ria. Dia langsung membungkuk. "Makasih, Kak!" Kemudian berlari tanpa melihat arah.
"Iya sama–woy bocah goblok! Jangan ke sana, mau ikut tawuran?!"
Ternyata Yuji malah lari ke arah perempatan tempat anak SMA Tokyo dan Jujutsu akan tawuran. Sudah begitu dia lari sendirian. Seolah mau menantang SMA Tokyo solo. Bocah geblek!
Mahito menahan tawa, sementara Sukuna memijat kepala pusing.
"Woy, mahito, lo atur formasi. gue kejar si bocah itu dulu."
"S-siap, bos!" ujar Mahito, memberi hormat.
o0o
Yuji terus berlari cepat. Tidak memperhatikan teriakan dari Sukuna dan beberapa orang lain. Dirinya takut malah dilibatkan dalam tawuran. Namun anehnya semakin dia menjauh dari sukuna, kenapa dia malah melihat segerombolan anak sma lain. Badge-nya juga agak beda. Apa mereka kakak kelas?
Pun, kenapa semakin Yuji mendekat, semakin sangar ekspresi mereka?
"Woy! bocil!"
Yuji tersentak ketika menoleh ke belakang. Dia melihat pemuda berambut pink sedang mengejarnya. Yuji yang sedang panik mempercepat larinya.
"Ampun kak! Saya gak mau ikut tawuran!"
"Bukan goblok! Berhenti dulu, dengerin penjelasan gue!"
Yuji mempercepat larinya. Dia hampir dekat dengan gerombolan anak SMA di perempatan. Dia bisa melihat, di barisan terdepan seorang pemuda jakung dengan rambut putih. Dia seolah sedang tertawa melihat Yuji?
Namun anehnya kok malah jalan di perempatan seolah sedang dihalangi? Kalau tidak kenapa anak sma di depan saling berbaris seolah membuat barikade? Mungkin ini strategi? tapi kalau dilihat-lihat memang badge mereka agak berbeda? Punya SMA Yuji kan merah, tapi yang di depan biru.
hahahaha... tidak mungkin kan?
"Woi bocil?! Ngapain lo mau ke SMA Tokyo?!"
Kalimat Sukuna itu membuat Yuji berhenti. Dia sampai tidak memperhitungkan momen ketika berhenti hingga Yuji jatuh telungkup.
Samar-samar dia bisa mendengar tawa keras di depannya. sial! Mana hidungnya juga terasa sakit akibat gesekan aspal. Yuji rasanya malu sekali!
Yuji perlahan bangun, menyadari dirinya tertutupi bayangan seorang laki-laki. Ketika mendongak, dia melihat pemuda berambut putih yang tadi ada di depan. Bagaimana dia bisa berpindah secepat itu?!
Dengan sisa senyuman lebar di wajahnya, dia mengulurkan tangan ke arah Yuji, "Lo baik-baik aja?"
Yuji terpana. Pemuda di depannya cuma bisa digambarkan dengan dua kata. ganteng surgawi!
Dia ini tipikal yang bakal laku keras kalau debut di boy grup atau sebagai aktor. Fitur wajahnya sempurna, matanya juga biru indah bagaikan langit siang, belum lagi tubuhnya yang kelihatan atletis alami, tidak berlebihan seperti binaragawan.
Dengan mulut terbuka, tanpa sadar Yuji mengulurkan tangan balik.
"I-iya gak apa-apa," ujar Yuji terbata-bata.
Pemuda itu, Gojo Satoru, tersenyum makin lebar. Dia menarik yuji berdiri sampai mereka berdiri begitu dekat.
"Nama lo siapa? Kok gue gak pernah lihat sih?"
yuji.exe untuk sesaat blank. Kaget dengan jarak yang teramat dekat.
"S-s-saya–"
Belum sempat menjawab, tangan Yuji yang lain yang bebas ditarik dari belakang.
"Lepasin dia, Gojo." ucap pemuda di belakangnya, suram.
Yuji terusik dari lamunannya. Di belakangnya berdiri Sukuna, menatap Gojo Satoru tajam.
"Emang dia siapa? Pacar lo?"
Sukuna menyeringai, "Kalau iya emang kenapa?"
yuji.exe meledak!
what???!
Yuji melongo mendengar jawaban Sukuna. Mereka bukan pacar!
"S-saya bukan pacar–"
Sukuna menarik keras tangan Yuji dari genggaman Satoru. Tangannya mendekap Yuji mesra, "Ssh... sayang, tenang aja, kamu bakal aman. Lain kali jangan lari-lari gitu meskipun kamu ngambek sama aku."
Badan Yuji merinding. Bukannya yang tadi jatuh itu Yuji? Kok malah kakak kelasnya yang jadi gila.
Sementara itu, Satoru malah semakin tengil, "Masa sih, si pinky ini mau sama lo? Hei, pinky, beneran lo mau sama gorila ini?"
"S-saya enggak–"
Belum sempat selesai menjawab, Sukuna menekan kepala Yuji ke dadanya. Membuat yuji sesak.
"Uraume, anterin pacar gue pulang!" ujar Sukuna, tanpa melepaskann pandangan dari Satoru.
Uraume yang sudah berdiri di belakangnya langsung menarik Yuji. Dibimbingnya Yuji yang masih bengong ke jok belakang motor. Mereka segera pergi dari tempat tawuran.
o0o
Yuji tidak tahu apa yang terjadi, sejujurnya. Tahu-tahu dia sudah di depan rumahnya. Dia cuma bisa menatap bingung ketika motor yang dikendarai Uraume melaju menjauhi rumahnya.
Apa yang terjadi?
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ketika dicek, itu adalah notifikasi telepon dari Junpei. Yuji mengangkatnya dan kaget dengan suara teriakan Junpei.
"YUUJIII?! KAMU PACARAN SAMA KAK SUKUNA?!" Yuji menjauhkan ponsel dari telinganya.
Menghela napas, Yuji perlu banyak tenaga untuk sesi wawancara dengan Junpei.
