Actions

Work Header

di_kosan_osumi_sama_dekting_cantik_full_percakapan.mp4

Summary:

Junhan merasa aplikasi Flo yang ada di ponsel meledek detik itu juga karena celana dalam ungu tosca di balik roknya terasa lembab melihat Osumi nggak pake baju setelah cowok itu mandi.

Work Text:

Junhan adalah PDD sejati. Divisi Publikasi, Desain, dan Komunikasi merupakan divisi paling merepotkan sejagat hidup mahasiswa tapi entah kenapa Junhan happy saja harus di depan laptop setiap saat demi mengejar desain finishing maskot untuk ospek fakultasnya. 

Malam itu Junhan duduk tenang di area ruang tamu kost Osumi dengan layar laptop nyaris hang total karena sejak tadi dipaksa membuka Canva. Osumi adalah kakak tingkatnya yang kebetulan jadi Koordinator PDD. Kost Osumi dipilih karena satpam kampus belakangan ini rese, mengusir mahasiswa yang suka rapat sampai malam di area kampus. Takut kampusnya dipake buat sex bebas, kata Pak Wonpil, satpam mereka. 

"Kak. Menurut lo ini beneran nggak apa-apa burung garudanya dibikin warna agak kayak milk tea begini?" Junhan mendongak cantik, menatap Osumi yang bolak-balik dari kamar ke ruang tamu, kikuk sendiri ditinggal berduaan dengan si cantik. Anak-anaknya pada cabut dari kos, ada kewajiban print banner dan ambil lanyard panitia, belum lagi divisi lain aji mumpung minta tolong di-print-kan rundown dan SOP acara.

Osumi mendekat. Sumpah. Junhan berani taruhan seluruh hartanya yang nggak seberapa itu sebagai sesama anak kos. Hari itu Osumi wangi banget. Katingnya ini beberapa kali jadi partner boncengan kalau Junhan nggak ada kendaraan dan nggak ada duit buat pesan ojol. Junhan nyaris apal wangi Osumi meski cuma parfum murahan diskon Alfagift. Tapi demi presiden ternggak becus sedunia, Osumi wangi banget. Terutama daerah perpotongan lehernya ketika melongokkan kepala sedikit mengintip desain di laptop Junhan. "Nggak apa-apa kali. Kan burung garuda cuma fiksi. Inti maskot kita itu burung garuda pegang buku sama laptop alias mahasiswa banget. Santai aja, Ntik. Di tangan kamu semuanya keren kok." Ucap Osumi sambil mengacak gemas rambut panjang Junhan.

Dapat perlakuan begitu, Junhan membetulkan letak duduknya. Entah takut pahanya tersingkap terlalu banyak di balik rok atau memang sesuatu di bawah agak berkedut nggak nyaman dipanggil 'cantik' se kasual itu oleh Osumi.

"Ya udah, pindah kamar aja yuk. Ruang tamunya mau dipake sama anak kamar lain, ada rapat KKN katanya. Kuy?"

Junhan mengerjap bloon. Pindah ke kamar? Berdua? Cewek masuk ke kamar cowok? Jujur ngedenger ide ini aja putingnya di balik bra yang baru dia checkout minggu lalu karena lucu itu udah menegang. Kayaknya jadwalnya ovulasi hari ini. Sialnya harus waktu di dekat Osumi. Ya puting tegang nggak akan keliatan sejelas kontol tegang sih, tapi tetep aja enak nggak enak ngerasa geli ketika Junhan betulan berdiri dan membawa serta laptopnya. Osumi leluasa mengambil ransel bergantungan boneka kelinci Junhan beserta tumbler murah, berikut colokan laptop dan ponsel.

Cklek. 

Pintu kamar Osumi resmi ditutup. Pertama kalinya dia masuk ke sini. Kos-kosan yang Osumi banggakan dengan harga empat juta setahun tiap kumpul divisi itu. "Anggap rumah sendiri aja, Ntik. Aku mandi dulu. Jangan duduk di lantai, nanti masuk angin. Mana rokmu pendek banget. Di kasur aja." 

Si kating mulai membuka lemarinya yang agak berantakan khas anak kos, mengambil asal kaos dan celana pendek, berikut celana dalam biru tua, lalu masuk ke kamar mandi yang pintunya plastik warna biru muda itu. Agak senada dengan dinding kos tempat Junhan bersandar sambil memangku laptop di atas pahanya yang tertutup rok merah kotak-kotak. Junhan mengikat asal rambutnya dengan scrunchie yang dijadikan gelang sedari tadi, lalu lanjut mengerjakan desain. Sekarang setelah maskotnya selesai, Junhan iseng doom scrolling di laptop.

Lima belas menit berlalu. Sialan wangi banget. Junhan tau lagi-lagi ini cuma ulah sabun mandi murah lima belas ribuan promo mini market, tapi wanginya agak anget bercampur wangi suhu tubuh Osumi yang selalu membuatnya mendadak memperbaiki posisi duduknya. Becek. Wangi banget.

Junhan mengangat kepalanya dari laptop, menatap Osumi yang betulan keluar dari kamar mandi. "BAJU LO KEMANA ANJIR?!" 

Osumi cuma melempar cengiran bego, "Jatuh ke bak mandi bjir. Bentar, aku cari baju dulu."

Cowok yang lebih tua itu memunggungi Junhan, menghadap lemarinya untuk cari baju yang kering. "Bentar Ntik, bentar. Jangan marah-marah. Aduh... Kaos kemana sih? Kemeja semua ini."

Junhan merengkuh laptopnya canggung. Mereka sering interaksi di kampus, tapi mana pernah Junhan lihat Osumi posisi bugil begini. Punggungnya agak lembab, basah, telanjang. Dia lihat beberapa tetesan air mengalir dari pundak sampai tulang punggung mulus itu. Sial. Memeknya becek beneran. 

"Nah ketemu!"

"Jangan." Ucap Junhan tiba-tiba.

"Jangan apanya, Ntik?"

Junhan menelan ludahnya, mengubah kakinya menjadi bersila tiba-tiba. Dia membuang pandangannya kemana pun selain muka ganteng Osumi. "Jangan pake baju. G-Gue... Ya terserah lo sih, Kak."

Seringai si kating terbentuk. Senyum miring ia berikan lalu bergabung di kasur bersama Junhan, masih dengan kaos hitam polos tersampir di bahunya. "Kamu suka liat aku nggak pake baju?"

"N-Nggak gitu. Udah ah, jangan deket-deket! Basah kasurnya."

"Aku bisa loh bikin kasurnya basah beneran."

Mampus. Junhan menunduk dalam-dalam, meletakkan laptopnya di sisi tubuhnya. Kasur kosan itu bergerak pelan ketika Osumi merangkak mendekat. "Beneran, Ntik. Kasurnya bisa jadi basah beneran. Bukan karena aku habis mandi, tapi karena kamu cakar-cakar punggung aku. Mau? Mumpung anak-anak yang lain masih pada di luar." Jemari panjang Osumi terangkat untuk menarik scrunchie dari rambut Junhan, membiarkan rambut hitamnya tergerai cantik. "Kamu cantik banget kalo lagi serius."

Cup. Osumi beri kecupan manis di kening Junhan.

"Kak... Ini masih jam delapan. Nanti anak-anak balik." Rengek Junhan yang sebenarnya mulai mengalungkan tangan di leher Osumi. Dari tadi aja pura-pura cuek dia.

"Terus kenapa kalau masih jam delapan? Kamu kira kita akan main sejam? Kuat kamu?" Kekeh Osumi sambil merengkuh pinggang mungil gadis yang merengek di depannya, memutar posisi biar Junhan duduk nyaman di atas pangkuannya. Ganti dia yang sekarang bersender nyaman di dinding kosan biru muda itu. Anak rambut Junhan diselipkan ke belakang telinga, memandang cantiknya sampai puas. "Kenapa tiba-tiba sangean gini? Masih mens nggak?"

"KAKAK IHH!" Rengek Junhan lagi, memukul manja dada bidang Osumi yang bikin dia ngiler dari tadi. Meski terlihat protes, jemari lentik si manis kini meraba-raba kulit lembab si kating ttm-nya itu. Lembut, agak lembab, wangi sabun karena Osumi belum pakai parfum dari tadi. "Mau cium."

"Cium di mana? Kan semua punya kamu. Cium aja sini. Coba, satu semester diajarin ciuman udah bisa sejauh mana?" Osumi mengangkat satu alisnya, sengaja ngeremehin karena dia tau Junhan paling suka ditantangin. 

"Mmhh... Kak, wangi... Kak Sumi wangi banget," gumam Junhan putus-putus di lehernya. Hidung mancung gadis itu mulai menggesek asal di bawah telinga Osumi, mengendus wangi sabun dan wangi alami si tinggi yang bikin dia makin becek di pangkuan. Kedua paha Junhan secara refleks mengapit pinggang Osumi yang entah gimana jauh banget lebih sempit dibanding bahunya. 

Pinggang Junhan dipeluk erat karena posisi duduk si manisnya ini makin bahaya, maju-maju neken kontol. Bisa berujung seks beneran mereka. Nggak apa-apa sih, tapi kondomnya lagi habis. Takut kelar prokeran malah hamil si cantiknya. "Aahh sayang, cantik... Kamu lagi sange banget kayaknya. Ciumin leher sambil gesek-gesek."

"Kakak nggak mau aku gesek-gesek?" Bibir Junhan yang mengilap basah habis melumat leher Osumi itu melengkung sedih. Bola matanya yang jernih berkaca-kaca cantik.

"Mau, sayangku... Tapi kondomnya habis. Kakak belum beli lagi. Kan kita sibuk prokeran, mana mungkin aku kepikiran beli stock. Aku kira bulan ini nggak bakal main." Pipi si manis ditangkup lembut sambil diusap manja. "Jangan cemberut, sayangnya Kakak."

Dilembutin gitu Junhan makin becek. Rambutnya yang terurai agak panjang itu nggak berhasil menyembunyikan tatapan sayu dan semu merah di pipi dia. Leher Osumi dipeluk makin erat, memeknya makin gerak di atas pangkuan paha Osumi yang juga mulai tegang. Boxernya tipis sih. "Mmmhh, Kakak... Gesek aja."

"Yakin gesek aja, sayang? Sini coba Kakak lihat, cantiknya Kakak udah sebasah apa." Paha mulus Junhan dia remas, merambat ke paha dalam. Jari Osumi yang kasar karena kebanyakan ngelaprak itu mengusap paha dalam si mungil, masuk ke balik rok di dekat celana dalam katun yang memang mulai lembab hangat. Satu jari usap klitorisnya.

"Nghh!"

"Basah banget, cantik. Lendirnya banyak. Kakak gosok ya itilnya?" Telunjuk Osumi menekan-nekan sesuatu yang becek dan bikin si empunya menggelinjang di pangkuan. "Mmm cantik banget kamu. Enak diteken-teken itilnya? Di sini enak, makin berantakan nafas kamu, sayang." Osumi berbisik kalimat itu sambil jilatin leher Junhan yang menengadah heboh. Pahanya makin rapet nahan geli sekaligus enak.

"Ahh Kakakhh... A-Ahh enakh.." Desah lagi. Celana dalamnya digeser agar dua jari si kating makin lancar masuk ke memeknya. Jari tengah dan telunjuk cowok itu gerak gantian bikin gestur genjreng gitar di dalem sana, bikin bunyi becek yang untungnya teredam dinding biru muda kosan itu.

Jari lentik Junhan meremas punggung telanjang katingnya sampai merah semua. Pinggulnya bergerak heboh nggak karuan, menggesek di atas kontol Osumi yang masih sembunyi di balik boxer kotak-kotak hitamnya. Untung hari itu mereka cuma berdua. Untung di luar hujan. Desahannya teredam suara hujan. Semesta mendukungnya. "Nghh hnghh ahh! Kakakhh! Ahh mentokin! 

"Di sini, Cantik? Enak diteken di sini? Pinter sayangnya Kakak, lebarin kakinya lagi... Mmphh kakak buka bajunya, boleh?" Satu tangan Osumi yang bebas dari tadi menangkup nenen Junhan yang dari tadi udah tegang itu. Meski putingnya nggak nyeplak, Osumi selalu tau si cantik suka banget dadanya diremes-remes. Pas. Entah berapa cup dada Junhan, yang jelas satu tangan penuh cukup untuk menangkup semuanya.

"Mmmhh Kak Sumi ahh!"

Junhan merasa memeknya kosong ketika tiba-tiba Osumi mengeluarkan jarinya. Belum cum. Nanggung.

Hari itu Junhan pakai kaos ketat yang bikin nenennya keliatan jelas. Osumi dengan lembut membantu melucuti bajunya sampai tinggal bra ungunya aja yang terlihat. Push up bra murah yang bikin nenen Junhan tetep keliatan cantik dan bulat pas. "Mmmh wangi banget, cantik. Susu kamu wangi. Kakak mau nenen." 

"Hnghh-" Refleks Junhan remas rambut hitam Sumi yang mulai tenggelam di belahan dadanya. Satu tangan kapalan itu remas dada kiri, dibawa ke atas tanpa dilepas kaitannya. Putingnya nongol satu karena cupnya diremes-remes. "Ahh..."

"Bulet banget, sayang. Cantik. Mpphh..." Lidah panas Osumi menari-nari di atas puting yang keluar tadi, muterin aerolanya sampai si empunya makin nggak karuan gesek-gesek di atas pangkuan. Punggung Osumi merah-merah nggak karuan diremesin Junhan karena tiap dia ngerasa geli keenakan, punggung mulus itu jadi sasaran.

"Ahh hnghh! Kakakhh geli ahh enakk..." Satu puting diemut, satunya lagi dipilin. Akhirnya bra itu yang pasrah melorot sendiri karena isinya diremes sana-sini, dikecup basah sampai berlumuran ludah panas Osumi yang ikut pilin puting di mulutnya pakai lidah. 

Kontolnya makin tegang di bawah. Dia pakai celana dalam dan kayaknya habis malam ini akan ganti se-boxer-nya sekalian karena semua basah. Precumnya mulai meleleh dari ujungnya. Gesekan Junhan di atas kontolnya bikin dia makin ikutan basah banget. 

"Sayang, bentar. Buka kaki kamu." Osumi tiba-tiba berucap. Junhan yang nurut dihadiahi usapan di kepalanya. Lihat memek si cantik yang basah dari balik daleman, Osumi mengatur nafasnya yang makin berat. Dia turunin karet celananya. Ujung kontolnya yang meleleh precum dikocok bentar lalu batangnya dimasukin ke celana dalam Junhan. "Gerak sayang. Rasain ujung kontol aku ngegesek itilmu. Nghh Cantik, enak banget. Ahh!"

"Mmmh Kakakh... Ahh ahh!" Junhan kelojotan lagi waktu itilnya digosok kepala kontol. Pahanya makin ngangkang biar batang katingnya leluasa keluar masuk celaan dalemnya. 

Kasur kos makin berderit nggak karuan ketika dua remaja itu makin gesek-gesek sambil pangku, remes sana sini sambil nenen.

"Mmhh ahh nghh! Kak Sumi sayanghh..." Junhan membusungkan dadanya, pinggulnya gerak berantakan karena itilnya makin becek kena precum dan lendirnya sendiri sembari puting kanannya diemut.

Osumi sesekali meringis perih karena cakaran si cantik yang untung kukunya nggak panjang. Dia tau kesayangannya ini keenakan banget dan biasanya jambak atau cakar. Pinggulnya ikutan goyang ngegesek itil Junhan dari balik celana dalem. "Sayang, mau muncrat. Nghh...."

"Kakak, pipishhh! Ahh mau pipishhh!"

"Pipis di sini sayang, basahin kasurnya. Mmh basahin sambil Kakak muncrat di itil kamu."

"Hnghh AHH! Pipishh Hnghh!"

Keduanya gemeteran habis muncrat di celana dalem Junhan. Itil Junhan beneran basah kena pipis, muncratnya dia sendiri, dan peju si Osumi. Osumi bawa si cantik yang masih tinggi untuk rebahan di atas kasurnya. Basah anget dikit kena pipis. Nafas mereka masih berantakan, terutama Junhan yang muncrat banyak di pangkuan katingnya yang setengah bugil itu.

"Capek, cantik? Pinter banget pipis beneran di atas Kakak." Goda Osumi sambil membelai rambut lepek Junhan.

"Kakak ihh!"

 

 

mereka lanjut cuddle terus lanjut prokeran lagi deh. tamat.