Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-07
Words:
3,630
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
10
Hits:
632

Earrings

Summary:

idk, I just know that I miss gyuhoon sm so I wrote this lol.

Mingyu as Mischa
Jihoon as Jiyu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Club malam itu terasa terlalu bising bagi Mischa. Entah kenapa malam ini rasanya jauh lebih ramai dan sesak dibanding malam-malam sebelumnya. Musik menghantam dadanya tanpa henti, sementara lampu-lampu yang terus berputar membuat kepalanya semakin berat.
Entah sudah gelas ke berapa yang ia habiskan malam ini. Yang jelas, tumpuan kakinya mulai goyah dan pandangannya perlahan terasa buram.

Teman yang menyeretnya ke sini juga sudah menghilang entah ke mana bersama kekasihnya. Mischa tidak terlalu peduli. Ia memang sudah berniat pulang sejak beberapa menit lalu. Mungkin sebaiknya ia ke toilet dulu, mencuci muka, lalu memesan taksi online untuk pulang.

Namun, baru saja ia berbalik dari meja bar, matanya menangkap sosok yang begitu familiar di antara kerumunan.
Jiyu.

Mischa membeku.

Di ujung ruangan, perempuan itu sedang berbicara dengan beberapa orang. Tawanya terdengar samar di antara dentuman bass, tapi wajah itu masih sama.
Terlalu familiar.
Seketika dada Mischa terasa semakin sesak.

Sial.

Tanpa berpikir panjang, ia meletakkan gelasnya dan berbalik. Jalan memutar lewat kerumunan terasa jauh lebih masuk akal daripada harus berhadapan dengan mantan yang bahkan namanya sudah bertahun-tahun ia hindari.
Baru beberapa langkah—

Sebuah tangan mendarat pelan di pundaknya.
Jantung Mischa serasa jatuh ke perut.

"Sial..."

"Mischa."
Suara itu membuatnya memejamkan mata sesaat.

"Lepasin aku."

Jiyu perlahan menarik tangannya, tapi tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di belakang Mischa, memberi perempuan itu beberapa detik untuk menenangkan diri.

"Aku ada perlu sama kamu. Janji, sebentar aja."

Mischa mengembuskan napas panjang. Dalam keadaan seperti ini, ia bahkan tidak punya cukup tenaga untuk berdebat. Akhirnya ia mengalah dan berbalik menghadap Jiyu.
"Apa?" tanyanya ketus.

Jiyu tidak langsung menjawab. Ia hanya merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil, lalu menyodorkannya kepada Mischa.
"Ini punya kamu."

Mischa mengernyit. Tatapannya turun ke kotak itu sebelum akhirnya ia menerimanya dan membuka tutupnya.
Sepasang anting.
Mischa terdiam.
Ia mengenalinya.
Anting yang selama ini ia kira hilang setelah malam terakhir mereka bersama.
"Aku nemu ini di kasur pagi setelah kamu pergi," ujar Jiyu pelan. "Aku sengaja simpen."
Mischa masih menatap benda di dalam kotak itu.
"Aku bawa ini ke mana-mana karena aku tahu kamu nggak akan hubungin aku lagi cuma buat nanyain anting ini." Jiyu menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Aku bawa terus dengan harapan bisa ketemu kamu lagi dan balikin antingnya."

Ada jeda sebentar.

"Aku masih inget ini anting kesukaan kamu."

Mischa tidak menjawab.
Sejujurnya, ia bahkan tidak terlalu mendengarkan penjelasan Jiyu. Kepalanya sudah terlalu pusing, pandangannya semakin buram, dan perutnya terasa seperti sedang diaduk. Entah karena terlalu banyak gelas alkohol yang ia teguk malam ini atau karena sekarang mantannya berdiri tepat di hadapannya.

"Mis?"
Suara Jiyu terdengar lebih dekat.

Mischa masih diam.

"Kamu gapapa?"
Jiyu menyentuh lengannya dan menggoyangkannya pelan, nyaris tidak terasa.
Namun, gerakan kecil itu cukup membuat keseimbangan Mischa hilang.
Tubuhnya oleng ke samping.
"Hei—"

Jiyu refleks menangkapnya sebelum Mischa benar-benar terjatuh. Kedua tangannya langsung berpindah ke lengan Mischa, menahannya agar tetap berdiri.

"Masih kuat, nggak, berdiri?"

Mischa buru-buru kembali menegakkan tubuh meskipun kakinya masih sedikit sempoyongan. Ia langsung menepis tangan Jiyu yang masih memegang kedua lengannya.
"Lepas. Aku bisa sendiri."

Jiyu mengerutkan kedua alisnya.
Ia jelas tidak percaya.

Tanpa menghiraukan protes Mischa, Jiyu berpindah ke sampingnya lalu melingkarkan satu tangan di pundak perempuan yang lebih tinggi itu.

Mischa menoleh tajam.
"Jiyu—"
"Diem."
"Tangan kamu—"
"Kamu nggak bakal kuat jalan dan pulang sendiri."

Jiyu mempererat pegangannya sedikit, memastikan Mischa tidak kembali kehilangan keseimbangan.
"Aku anterin pulang."

Mischa hendak protes lagi, tapi Jiyu sudah lebih dulu menambahkan,

"Tenang aja. I'm sober, belum,sempet minum apa-apa"

Mischa hanya mendengus pelan.
Ia ingin menolak. Sungguh.
Tapi ketika baru berjalan beberapa langkah saja lututnya kembali terasa lemas, akhirnya ia membiarkan Jiyu menopangnya.

Jiyu menuntunnya perlahan keluar dari kerumunan club, melewati pintu keluar yang akhirnya membebaskan mereka dari dentuman musik yang sejak tadi membuat kepala Mischa semakin berdenyut.
Udara malam langsung menyambut mereka.

Mischa menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
Sayangnya, ia masih harus pulang bersama orang yang paling tidak ingin ia temui.

Begitu sampai di mobil, Jiyu membukakan pintu untuk Mischa dan membantunya masuk ke kursi penumpang.
"Pelan-pelan."
"Aku nggak kenapa-kenapa," gumam Mischa, meski tangannya masih berpegangan pada lengan Jiyu saat masuk.

"Iya. Kelihatan banget."

Mischa mendengus, tapi terlalu lelah untuk membalas. Ia menyandarkan kepala ke jok begitu pintu ditutup, sementara Jiyu berjalan memutari mobil dan masuk ke sisi pengemudi.

Mesin dinyalakan.
Jiyu sempat melirik ke samping sebelum mulai menjalankan mobil.
Mischa sudah memejamkan mata.

"Mis?"
Tidak ada jawaban.

Jiyu menghela napas dan mulai melajukan mobil keluar dari area parkir.
Awalnya ia pikir Mischa hanya memejamkan mata sebentar. Tapi beberapa menit kemudian, napas perempuan itu sudah terdengar jauh lebih teratur. Kepalanya bahkan perlahan miring ke arah jendela.

Jiyu melirik sekilas. Benar-benar tidur.

"Ya ampun..."

Ia mengurangi kecepatan sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatian ke jalan.
Beberapa menit berlalu.

Jiyu baru sadar ada satu masalah kecil.
Ia tidak tahu Mischa tinggal di mana, karena yang ia tau setelah putus perempuan di sampingannya itu memutuskan untuk pindah rumah.
Setelah semua waktu yang mereka habiskan bersama dulu, sekarang ia bahkan tidak tahu perempuan itu tinggal di bagian kota mana sekarang.

"Mischa."
Tidak ada respons.

"Mis."
Jiyu melirik lagi.

Mischa hanya bergumam tidak jelas, kemudian mengubah posisi kepalanya dan kembali diam.
Jiyu menatap jalan di depannya dengan ekspresi pasrah.

Oke.
Bagus.

Jiyu mengambil ponselnya yang terletak di konsol tengah, berniat menelepon salah satu teman Mischa yang mungkin bisa memberinya alamat.
Namun, sebelum sempat membuka kontak, ia kembali melirik ke samping.
Mischa masih tidur. Jiyu menghela napas.

"Ya udah."
Ia mengubah arah navigasi.
Bukan ke rumah Mischa, tetapi ke apartementnya.

***

Begitu sampai di basement, ia mematikan mesin dan menoleh ke kursi penumpang.
"Mis."
Tidak ada jawaban.

"Mischa, bangun sebentar."
Tidak ada reaksi.
Jiyu menepuk pelan pipi Mischa.
"Mischa, kita udah sampai."
Perempuan itu hanya mengerutkan hidung dan memiringkan kepala menjauh dari sentuhan Jiyu.
Jiyu menatapnya selama beberapa detik.

"...serius?"
Tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Jiyu membungkuk dan melepaskan sabuk pengaman Mischa. Ia sempat mencoba membangunkannya sekali lagi, tapi percuma. Tubuh Mischa langsung kembali lemas begitu ia mengangkatnya dari kursi.
"Kaya makin enteng, makan ga sih?"
Tentu saja Mischa tidak mendengar.

Jiyu bergerak sepelan mungkin mengatur posisi tubuh perempuan itu di lengannya. Satu tangan menyangga punggung, sementara tangan lainnya berada di bawah lutut Mischa.
Sekali angkat, tubuh Mischa sudah berpindah sepenuhnya ke dalam pelukannya.
Kepalanya otomatis jatuh ke bahu Jiyu.
Dan yang lebih menyebalkan, Mischa malah terlihat nyaman.

Jiyu berhenti sebentar.

Entah kenapa pemandangan itu terasa terlalu familiar.
Dulu, Mischa sering tertidur di bahunya setelah mereka menonton film sampai larut malam. Bedanya, dulu Jiyu bisa membangunkannya dengan mengelus rambut atau mencubit pipinya tanpa merasa aneh.
Sekarang?
Sekarang ia bahkan tidak tahu apakah seharusnya ia masih boleh melakukan itu.
Jiyu menggelengkan kepala, membuang pikirannya sendiri, "Mikir apaansih ah."

Ia menutup pintu mobil menggunakan kakinya sebelum mulai berjalan menuju lift.
Mischa sama sekali tidak bergerak.
Bahkan ketika pintu lift terbuka dan Jiyu harus menyesuaikan posisi gendongannya supaya bisa menekan tombol lantai, perempuan itu hanya menggumam pelan lalu menyembunyikan wajahnya lebih dalam di lekukan leher Jiyu.
Jiyu membeku sepersekian detik.

"Mis."
Tidak ada jawaban.
Jiyu menelan ludah, lalu menatap lurus ke depan.

Pintu lift terbuka di lantai unitnya.
Jiyu berjalan keluar, masih menggendong Mischa, lalu berhenti di depan pintu apartemennya.
Ia harus melepaskan satu tangan dari bawah lutut Mischa untuk mengambil kunci.
Begitu posisi tubuhnya berubah sedikit, Mischa refleks merapatkan kedua tangannya di sekitar leher Jiyu.
Jiyu langsung diam.

Tatapannya turun pada perempuan yang masih tertidur di pelukannya.
"...kebiasaan."
Entah itu ditujukan pada Mischa atau dirinya sendiri, Jiyu tidak tahu.

Ia akhirnya berhasil membuka pintu.
Lampu ruang tengah dinyalakan, dan Jiyu membawa Mischa masuk tanpa banyak suara.
Namun baru beberapa langkah, pandangannya jatuh pada sofa.
Kemudian pada kamar di ujung lorong.
Jiyu berdiri diam.

Ada banyak tempat untuk membaringkan Mischa.
Tapi entah kenapa, setelah bertahun-tahun tidak melihat perempuan itu, pilihan paling sederhana terasa seperti keputusan yang jauh lebih rumit dari seharusnya.
Akhirnya Jiyu mengembuskan napas pelan.
"Ya udahlah."

Ia membawa Mischa menuju kamar, lalu membaringkannya di atas kasur dengan hati-hati.
Tatapan Jiyu kemudian beralih pada sepatu yang masih terpasang di kedua kaki Mischa. Ia bergeser mendekat dan, dengan telaten, melepaskan heels yang dikenakan perempuan itu satu per satu.

"Masih suka pakai heels tinggi begini, ya, ternyata," gumamnya pelan. "Padahal dulu sering ngeluh pegal."

Senyum kecil tanpa sadar muncul di wajah Jiyu.
Ia masih ingat bagaimana Mischa dulu akan menggerutu sepanjang perjalanan pulang setiap kali mengenakan sepatu yang terlalu tinggi. Mengeluh kakinya pegal, bilang sepatunya tidak nyaman, lalu tetap saja memakainya lagi di kesempatan berikutnya.

Kebiasaan yang ternyata masih sama.
Setelah memastikan kedua sepatu sudah dilepas, Jiyu kembali berdiri dan menatap Mischa yang terlihat begitu pulas. Ia menarik selimut hingga hampir menutupi seluruh tubuh perempuan itu, lalu tangannya terangkat tanpa sadar.
Jemarinya mengusap lembut kepala Mischa.
Hanya sebentar.

Mischa bergerak pelan dalam tidurnya, membuat Jiyu tersadar. Tangannya langsung ditarik kembali, seolah takut sentuhan itu akan membangunkan perempuan di hadapannya.
Jiyu mengembuskan napas pelan, kemudian berbalik hendak keluar dari kamar setelah memastikan suhu AC sudah cukup nyaman.
Namun, baru saja kakinya hendak melangkah, tangannya lebih dulu ditahan.
Jiyu menoleh.

Mischa masih memejamkan mata. Perempuan itu bahkan terlihat tidak benar-benar sadar dengan apa yang dilakukannya, tetapi jemarinya menggenggam tangan Jiyu cukup erat untuk menghentikan langkahnya.

"Ji..."
Suara Mischa terdengar serak dan tidak terlalu jelas.

Jiyu diam, menunggu.

"Di sini aja..." gumamnya lagi. "Jangan ke mana-mana."

Jiyu menatap wajah Mischa beberapa saat.
Entah bagaimana, di antara gumaman yang nyaris tidak terdengar itu, ia masih bisa memahami apa yang perempuan itu minta.
Jiyu akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi.
Ia duduk di tepian kasur, masih membelakangi Mischa. Tangannya yang tadi digenggam perlahan ia biarkan tetap berada di sana.
Jiyu tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Haruskah ia membangunkan Mischa dan memintanya melepaskan tangan? Atau membiarkannya tidur dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
Belum sempat memutuskan, tubuh di belakangnya bergerak.
Lengan Mischa perlahan melingkar di pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat.
Jiyu langsung menegang.

"...Mischa."
Tidak ada jawaban.
Hanya napas teratur yang terdengar dari belakangnya.
Jiyu menunduk, menatap lengan yang melingkar di perutnya.

***

Jiyu masih diam dalam posisi itu, membiarkan Mischa memeluknya dari belakang. Beberapa detik berlalu, dan ia mulai berpikir perempuan itu benar-benar sudah tertidur.
Sampai pelukan di pinggangnya sedikit mengerat.
Jiyu menoleh setengah badan.
"Mis?"
Tidak ada jawaban.

Namun kali ini napas Mischa terdengar berbeda. Tidak lagi sedalam sebelumnya. Ada gerakan kecil di belakangnya, seperti perempuan itu sebenarnya masih menyadari keberadaan Jiyu, hanya terlalu berat untuk benar-benar membuka mata.

Jiyu mengerutkan kening.

"Kamu belum tidur?"
Mischa tidak menjawab. Kepalanya justru bergerak sedikit, pipinya bergeser di atas bantal. Jemarinya yang masih menggenggam kain baju Jiyu ikut bergerak, seolah memastikan perempuan itu benar-benar masih ada di sana.
Jiyu terdiam.
Barangkali Mischa memang tidak sepenuhnya sadar. Alkohol masih jelas memengaruhinya—ucapannya tidak jelas, gerakannya lambat, dan matanya tetap tertutup rapat.
"Mischa," panggil Jiyu sekali lagi, lebih pelan kali ini.

Kelopak mata Mischa akhirnya bergerak.
Terbuka sedikit, hanya sepersekian detik, sebelum kembali tertutup.
Tatapannya pun tidak benar-benar fokus.
"Ji..." gumamnya.

"Hm?"

Mischa tidak menjawab. Ia hanya kembali mendekat, mendudukkan dirinya, dahinya menyentuh punggung Jiyu, sementara lengannya masih melingkar di pinggang perempuan itu.

Jiyu menelan ludah.
Ada sesuatu tentang keadaan Mischa malam ini yang membuat jarak di antara mereka terasa jauh lebih tipis daripada seharusnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi malam ini, Jiyu tidak langsung berusaha menjauh.

***

Ia masih bisa merasakan napas Mischa yang hangat di belakang lehernya, juga jemari yang sejak tadi belum benar-benar melepaskan kain bajunya.
"Mischa," panggilnya sekali lagi.

"Hm..."

"Kamu sadar?"
Kali ini Mischa membuka mata sedikit. Tatapannya masih berat dan tidak sepenuhnya fokus, tetapi cukup untuk membuat Jiyu tahu perempuan itu mendengarnya.
"Sedikit," gumamnya.

Jiyu mengembuskan napas pelan. "Kamu mabuk."

"Aku tau."

"Berarti tidur."

Mischa malah menggeleng kecil.
Jiyu akhirnya memutar tubuhnya perlahan, berusaha melepaskan diri dari pelukan itu tanpa membuat Mischa kehilangan keseimbangan.

Namun begitu berhadapan, ia justru mendapati Mischa sedang menatapnya.
Lama.
Terlalu lama untuk sekadar tatapan orang yang hampir tertidur.

Jiyu diam.
Mischa juga.

Ada terlalu banyak hal yang tiba-tiba terasa familiar—jarak sedekat ini, kamar yang sunyi, cara Mischa masih memandangnya seperti dulu, seolah berbulan-bulan yang mereka habiskan tanpa satu sama lain tidak pernah benar-benar menghapus apa pun.

"Kamu masih lihat aku kayak gitu," bisik Mischa.

Jiyu menahan napas.
"Kayak gimana?"

Mischa tidak menjawab.
Jemarinya justru bergerak pelan di lengan Jiyu, seolah masih memastikan perempuan itu benar-benar ada di hadapannya. Tatapannya turun sebentar, lalu kembali bertemu dengan mata Jiyu.
Jiyu menelan ludah.

"Mischa..."

"Hm?"

"Kalau kamu masih mabuk, tidur aja."
Mischa menggeleng kecil.

"Aku nggak mau tidur."

"Terus kamu mau apa?"

Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang Jiyu maksudkan.
Mischa terdiam.
Kemudian, perlahan, ia bergeser mendekat sampai jarak di antara mereka hampir tidak tersisa. Tangannya yang tadi hanya menggenggam lengan Jiyu kini berpindah, melingkar ringan di pinggangnya.
Jiyu refleks menahan napas.
"Mis."

"Aku kangen, Ji."
Sederhana. Terlalu sederhana, sampai Jiyu tidak tahu harus menjawab apa.

Mischa menyandarkan dahinya pada bahu Jiyu. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah lagi. Mata yang masih berat karena alkohol itu kembali menemukan mata Jiyu.
Ada sesuatu yang membuat Jiyu sulit berpaling.
Mungkin karena sudah terlalu lama.
Mungkin karena selama berbulan-bulan, ia tidak pernah benar-benar mendapat kesempatan untuk berdiri sedekat ini lagi.
Atau mungkin karena Mischa malam ini masih memiliki kebiasaan lama yang paling Jiyu benci—membuatnya lupa bagaimana caranya menjaga jarak.

"Jiyu."

"Hm?"

"Jangan jauh-jauh."

Jiyu tertawa kecil, nyaris tanpa suara.
"Kamu dari dulu nyusahin."

Mischa ikut tersenyum tipis.
"Tapi kamu masih di sini."

Kalimat itu membuat senyum Jiyu perlahan hilang.
Benar. Ia masih di sini.
Dan entah sejak kapan, tangannya sendiri sudah terangkat untuk merapikan rambut Mischa yang berantakan, jemarinya berhenti terlalu lama di sisi wajah perempuan itu.
Mischa memejamkan mata sebentar saat disentuh.
Ketika membukanya lagi, tatapan mereka kembali bertemu.

Dan detik berikutnya, bibir mereka sudah bertemu.
Ciuman itu awalnya pelan dan lembut, seolah keduanya sedang menyampaikan rindu yang selama ini tidak pernah berhasil mereka utarakan dengan kata-kata. Jarak di antara mereka benar-benar terkikis. Mischa memeluk Jiyu erat, begitu erat sampai seolah tidak ingin memberi perempuan itu kesempatan untuk menjauh lagi.

Sementara itu, satu tangan Jiyu sudah berada di belakang tengkuk Mischa, menahan sekaligus memperdalam ciuman mereka. Tangan satunya menyelipkan rambut Mischa yang terurai berantakan ke belakang telinganya, gerakannya begitu familiar sampai terasa seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.
Mereka masih terus berciuman ketika Mischa perlahan bergeser, berpindah ke atas pangkuan Jiyu.

Jiyu sempat terdiam sepersekian detik, tetapi tangannya bergerak lebih dulu, spontan melingkari pinggang Mischa untuk menahannya tetap dekat.
Seolah-olah posisi itu masih sesuatu yang biasa bagi mereka.

Jiyu masih memeluk pinggang Mischa ketika ciuman mereka perlahan terputus. Hanya beberapa sentimeter jarak yang tersisa di antara wajah mereka, napas keduanya bercampur di ruangan itu.

Mischa membuka mata lebih dulu.
Tatapannya masih berat, tetapi kali ini jauh lebih terarah. Ia menatap Jiyu sejenak sebelum kembali mendekat, menyandarkan dahinya pada dahi perempuan itu.

"Kenapa?" bisik Jiyu.
Mischa menggeleng kecil.
"Nggak kenapa-kenapa."

"Terus kenapa lihat aku begitu?"
Mischa tersenyum tipis. Tangannya naik untuk menyentuh sisi wajah Jiyu, ibu jarinya mengusap pelan tulang pipinya.
"Karena aku kangen."

Jiyu terdiam.

Mischa seakan baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Tatapannya turun, tetapi Jiyu lebih dulu mengangkat dagunya pelan, membuat mereka kembali bertatapan.

"Jangan bilang begitu kalau besok kamu lupa."

"Aku nggak bakal lupa."

"Kamu mabuk."

"Aku masih tahu kamu siapa."

Jiyu menahan napas.

Mischa kembali mendekat, kali ini menyentuhkan bibirnya sebentar pada sudut bibir Jiyu sebelum mundur sedikit. Tangannya masih berada di wajah Jiyu, sementara tangan Jiyu tetap bertahan di pinggangnya.
Tidak ada yang benar-benar menjauh.
Malah, Jiyu kembali menarik Mischa mendekat.
Ciuman berikutnya terasa lebih lambat. Lebih hati-hati. Seperti keduanya sedang mencoba mengingat sesuatu yang seharusnya sudah lama mereka lupakan.

Ketika mereka kembali berpisah, Mischa masih berada di pangkuan Jiyu. Tangannya bergerak pelan, hendak membuka kancing kemeja Jiyu yang masih terpasang rapi.
Jiyu sempat menahan tangan Mischa dan menatapnya lama.

"Mis."

"Hm?"

"Kamu yakin?"

Mischa tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Jiyu beberapa saat, kemudian kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda.
Tiga kancing teratas berhasil dibukanya, membiarkan kemeja Jiyu terbuka dan menggantung longgar di kedua sisi tubuhnya.
Mischa kemudian menunduk dan mengecup leher Jiyu pelan.

Sentuhan itu cukup membuat Jiyu sedikit terkejut hingga kepalanya spontan mendongak, tanpa sadar memberi Mischa ruang lebih luas untuk mendekat.
Mischa kembali mengecup lehernya, kali ini sedikit lebih lama, sebelum perlahan makin turun meninggalkan jejak-jejak ciuman di sepanjang kulit yang terekspos.

Tangannya bergerak mengusap punggung Jiyu pelan, sementara Jiyu hanya bisa menarik napas panjang dan membiarkan perempuan itu mendekat. Lalu dengan mudah tangan itu membuka pengait bra Jiyu, menariknya ke bawah, membuat dada itu benar-benar terekspos seluruhnya.

Mischa mengecupnya pelan, setelahnya ia mulai menggoda Jiyu, menjulurkan lidahnya membasahi puncak dada Jiyu dengan cara memutar. Sementara itu tangannya yang menganggur mulai bergerak ke atas, dan memainkan sebelah dada Jiyu yang tidak terjamah oleh mulutnya.

Jangan tanya bagaimana keadaan Jiyu, karena ia masih mendongakkan kepalanya, kedua tangannya berada di samping kanan kirinya, untuk menopang badannya, serta telapak tangannya mencengkeram sprei kasur kencang.
Ah, jangan lupakan mulutnya yang terbuka lebar, dan sesekali mendesis pelan. "Misss.." gumamnya pelan.

Mischa menarik mundur sedikit kepalanya, dan mendongak menatap Jiyu, "hm? do you feel uncomfortable?"

"No," seru Jiyu sedikit kencang, "uhm, no I mean..."

Ada jeda sebentar, Jiyu seperti tidak ingin melanjutkan kalimatnya.

"apa?"

"gapapa, lanjutin aja"

Mischa tidak menjawab, ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terganggu. Kini ia turun dari pangkuan Jiyu, mendorong perempuan berambut blonde itu pelan sampai ia tergeletak di atas kasur. Kemeja dan branya kini sudah benar-benar terlepas dari badannya.
Mischa kembali menjamah dada itu dengan mulutnya, ia kecup, ia sedot kencang, dan sedikit menggigitnya pelan, membuat Jiyu reflek berteriak agak kencang.

Seolah belum puas melihat perempuan di bawahnya sudah berantakan, tangannya kini perlahan bergerak menurunkan resleting celana Jiyu, tidak benar-benar ia tanggalkan, hanya sampai tangan dapat dengan mudah masuk, dan menyelinap ke bagian celana dalamnya. lalu mengusapnya turun perlahan, sampai jarinya masuk ke belahan bibir bawah Jiyu itu, "Oh, wet already?"

"jangan ngeledek, I bet you're wet as well while do me, Mischa." gerutu Jiyu, karena sedikit malu juga sebetulnya

"Memang," aku Mischa, "I'm wet already, kakak cantik, you can taste it later. let me finish you first."
Jari tengah Mischa makin gencar di bawah sana, menusuk keluar masuk dengan tempo sedikit cepat, sedangkan jempolnya menggesek cepat klitoris Jiyu.

"Shhh, ahhh!" Suara desahan Jiyu memenuhi ruangan.

Mischa smirked, "oh, there?" Jarinya sekali lagi menusuk dalam lubang milik Jiyu kencang, dan dihadiahi suara teriakan Jiyu.

"yesssh, can you do it faster please?" Jiyu memohon sambil menatap Mischa dalam, matanya sudah berkaca-kaca, sesekali bergulir ke atas, pinggulnya sudah bergerak gelisah.

"As you wish, cantik" Jari Mischa makin bergerak keluar masuk lebih cepat, jempolnya juga bergerak lebih cepat dan sedikit berantakan dari sebelumnya, membuat pinggul Jiyu sesekali terangkat mengikuti gerak jemari Mischa yang keluar masuk.

Jiyu menarik kerah baju Mischa, "Kiss me miss, please,"

Mischa menurut, bibir mereka kembali bertemu, Jiyu mencium bibir itu kasar.
detik selanjutnya badannya bergetar hebat, karena jari Mischa tidak memberinya ampun, lalu setelahnya cairan hangat membasahi jari Mischa dan celananya.

Memang dasarnya Mischa suka menggoda Jiyu, jadi tangannya tidak berhenti bahkan setelah perempuan di bawahnya itu melakukan pelepasan.

"Stophhh please, aku masih sensitif," protes Jiyu, sambil menahan tangan Mischa.

Mischa menurut, ia menarik jarinya keluar, tapi setelahnya ia menepuk milik Jiyu kencang.

Jiyu kembali berteriak, pinggulnya ikut kembali terangkat, "udah, tolong... sebentar..."

Mischa terkekeh, pemadangan di bawahnya saat ini benar-benar membuatnya senang.

***

Posisi mereka sudah berubah sekarang.
Oh, lebih tepatnya posisi Mischa yang berpindah. Jiyu masih pada posisi tidurannya, sementara Mischa sudah memposisikan dirinya mengangkang di atas muka Jiyu.

Setelah memastikan posisi Mischa nyaman, Jiyu langsung memulai aksinya. Lidahnya ia julurkan keluar menyapu bibir vagina milik perempuan di atasnya itu. Lidahnya juga sesekali menusuk dan menggoda klitoris Mischa, membuatnya mendesah terus-menerus dan pinggangnya bergerak gelisah.

Puas menggoda Mischa, lidah panjang milik Jiyu kini benar-benar mengobrak-abrik lubang Mischa, bergerak naik-turun, keluar-masuk dengan berantakan. Cairan putih yang keluar ia sedot kencang, bahkan saking banyaknya cairan itu mengalir mengenai pipinya.

Gerakan lidah itu semakin kencang dan berantakan, membuat Mischa ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti tempo Jiyu, untuk mengejar puncaknya.

"Kakak, i can cum on your face, right?"

"Do as you please, sayang," Jawab Jiyu di sela-sela sibuknya menikmati makan malamnya itu. Jarinya bahkan sesekali ikut andil, untuk mengusak klitoris Mischa kasar.

Mendengar jawaban Jiyu, Mischa sedikit mengangkat badannya, dan menggantikan lidah Jiyu dengan jarinya sendiri. Ia kocok sebentar dengan tempo kencang, "sshh-" desisnya pelan, tubuhnya bergetar sampai akhirnya cairan itu benar-benar mengotori wajah Jiyu, dan disambut baik oleh lidahnya.

Mischa beranjak sedikit, kini duduk di atas perut Jiyu. Ia menundukkan kepala, lalu kembali menemukan bibir perempuan itu. Ciuman mereka kali ini terasa lebih dalam, dibalas Jiyu dengan sedikit lebih kasar daripada sebelumnya.
Tangan Jiyu bergerak melingkari pinggang Mischa, menahannya tetap dekat.

Mischa akhirnya menarik kepalanya, memutus ciuman mereka. Ia menatap Jiyu dalam-dalam sebelum kembali mengecup bibirnya singkat.
Setelah itu, Mischa menjatuhkan kepalanya ke leher Jiyu. Ia mengendus pelan aroma parfum yang masih melekat di tubuh perempuan itu, dan untuk sesaat, semua terasa begitu familiar.
"Parfum kamu masih sama, ya," gumamnya. Suaranya terdengar begitu lirih. "Kangen banget."

Jiyu hanya menjawab dengan gumaman kecil. Lengannya melingkar di pinggang Mischa, sesekali mengusapnya pelan.
"Tidur, Mis," ujarnya.

Mischa diam sebentar.

"Aku harap kamu inget ini besok," katanya akhirnya. "Dan nggak diem-diem pergi pas pagi."

Mischa tidak menjawab.

Namun, beberapa detik kemudian, ia merasakan napas Mischa mulai teratur di lehernya.
Perempuan itu sudah tertidur.

Jiyu menunduk dan mengecup puncak kepala Mischa pelan.
"Aku juga kangen kamu," bisiknya, nyaris tidak terdengar. "Banget."

Jiyu berhenti sebentar, seolah masih ragu untuk mengucapkan kalimat berikutnya meskipun sudah tahu jawabannya sejak lama.
"I still love you, Mis."
Pelukannya mengerat.

Jiyu akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam hangat yang sudah begitu lama tidak ia rasakan.
Untuk malam ini saja, ia ingin berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah.
Bahwa mereka masih punya satu sama lain.
Dan diam-diam, Jiyu berharap pagi tidak datang terlalu cepat.

Notes:

nyam nyam semoga suka >_<