Actions

Work Header

Alpha's First Enigma

Summary:

Keonho itu alpha tengil.

Sudah pengetahuan umum sih, kalo hobinya itu iseng. Dia suka ngisengin nuna-nuna beta dan omega yang hateesan sama dia—entah digantung, di-ghosting, atau tiba-tiba ngilang terus tiba-tiba nongol lagi seolah nggak terjadi apa-apa.

Tapi, kayanya dia nggak berani tengil lagi deh setelah ketemu Martin, temen baru engimanya.

[ Enigma! Martin Edwards x Alpha! Ahn Keonho ]

Notes:

HALOOO AKU KEMBALI DENGAN SHIP BARU

maaf yah kok aku tiba-tiba tertarik sama ship ini /kabooor

ini still same universe as 33 year old omega tapiii jauh sbelum cerita itu kejadian yah

as always, please read tags and happy reading!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Keonho dateng ke tongkrongan dengan telapak tangan merah tercetak di pipi.

Seonghyeon, Juhoon, dan James cuma bisa memandang dia jengah.

“Kenapa lagi lu?”

Keonho nyengir. “Biasa.”

“Abis ngapain lagi?” tanya James, seolah sudah hafal dengan tingkah anak satu ini yang selalu ajaib. Ini bukan pertama kalinya ia datang ke tongkrongan dengan bekas tamparan di wajah. Mungkin ini ketiga? Keempat kalinya?

“Hehe,” Keonho masih cengar-cengir. “Tadi aku lupa kalo udah janji sama satu nuna, terus aku malah nggak sengaja bikin janji sama nuna yang lain.”

“Terus, kok bisa ditampar? Ketauan kah?” tanya Juhoon santai.

Lelaki muda itu tersenyum watados. “Aku lupa bikin janji di tempat yang sama sama nuna yang tadi.”

Tiga temannya refleks menepuk jidat. “Terus papasan?”

“Iya, hehe.”

“GOBLOK!”

“TOLOL!”

“...”

Keonho malah ketawa-ketawa ditolol-tololin sama ketiga temannya (minus Juhoon, yang tetep ngeliatin dia pake wajah judgemental). Ia malah meraih saku, mengambil rokok yang terselip di kantong jaket kulit yang ia kenakan.

“Aelah, ntar juga baikan lagi.”

Seonghyeon mencibir. “Mokondo kaya elu kenapa pada mau balik mulu sih cewek-cewek ini?”

Keonho tertawa kecil, memantik rokoknya. “Ya gimana, gue semantep ini. Ganteng, jago ngontolin juga. Gimana pada nggak mau balik ke gue?”

“Sombong banget si kontol,” cibir James, membuat gestur meludah jijik. Bercanda sih, nggak yang serius ngehina Keonho. Dia udah kebiasa sama tingkah bocah satu ini. Sampai hafal beneran. Kalau dia nongol di tongkrongan habis ditampar, berarti ketahuan selingkuh sama ceweknya. Kalau dia nongol bonyok, berarti habis dipukulin pacar HTS-nya. Simple.

“Sok iye banget lu najis,” Seonghyeon menghela nafas. “Ketemu enigma, baru tau rasa lu dikontolin.”

Keonho bergidik. “Hih! Gue nih alpha, ya, bangsat! Mana ada gue dikontolin enigma!”

“Belum tau rasa aja lu,” timpal James. “Siapa tau bottoming lebih enak daripada masukin kontol?”

Juhoon cuma senyam-senyum. “Jadi, kamu mau bilang kalo kamu nggak mungkin tertarik di bawah?”

“Nggak! Nggak bakal!” sergah Keonho, geleng-geleng. “Nggak mau gue! Di mana-mana, gue, Ahn Keonho, itu harus yang di atas!”

“Kalo ternyata ada enigma yang beneran ngontolin lu, terus lo suka, gimana?”

“NGGAK BAKAL! Gue sumpah kalo gue sampe suka dikontolin gue bakal pacarin tu enigma!”

Seonghyon sama James ketawa liat reaksi Keonho yang mencak-mencak, seolah kejantanannya terluka karena ide dia bottoming buat seorang enigma. Lucu aja liatnya, egonya kesentil dikit udah marah-marah.

“Yaelah bray, gitu doang marah,” cibir James lagi. “Oiya, betewe ini gue ada temen baru—boleh gabung nongkrong gak?”

“Sape?” tanya Juhoon, menghisap permen. Maklum, lagi puasa nikotin.

“Adalah, ketemu nggak sengaja pas gue part time di love hotel,” jawab James, membuka sandi ponselnya. “Baik kok kayaknya? Seru sih buat ngobrol. Gue ajak kesini aja yak.”

Ketiga temannya mengiyakan. Toh ini bukan pertama kalinya James atau anak tongkrongan mereka mengajak teman baru untuk ikut ngopi. Kalau ternyata orangnya asik, diajak nongkrong lagi. Kalo ternyata cupu, ya nggak diajak lagi, cukup sekali aja.

Setengah jam kemudian, teman baru yang dimaksud James datang.

Orangnya tinggi, rambutnya jabrik-jabrik yang mulai agak gondrong. Keliatan dari akar rambutnya kalau rambutnya di-bleach pirang. Dia datang pakai kaos lengan panjang dan celana jeans robek-robek, kaosnya agak cropped jadi perutnya sedikit terlihat.

“Hola!”

“Oit!” James menjabat tangan lelaki itu. “Kenalin, ini Martin! Martin, ini Seonghyeon, ini Juhoon, ini Keonho.”

Mereka bergantian bersalaman dengan Martin. Seonghyeon membantu mengambilkan satu kursi lagi supaya Martin bisa duduk dengan mereka di meja rendah melingkar itu. Keonho melirik ke Martin yang duduk di sampingnya. Wuih. Kece juga setelan si Martin ini.

“Keren bro jeansnya,” pujinya, tersenyum tipis. “Info keranjang kuning, dong!”

Martin ketawa kecil. “Makasih! Ini thrifted, vintage gitu. Brand-nya sih True Religion, mungkin masih ada kali ya kalo dicari-cari?”

“Oh,” Keonho ngangguk-angguk. “Kalo atasannya?”

“Ini punya bokap pas masih muda, gue modif sendiri,” Martin nyengir.

Cuki, pikir Keonho. Ada orang yang lebih kece dari gue!

“Mm, bagus juga selera fashion lu,” ucap Juhoon, manggut-manggut. “Kapan-kapan ajakin kita thrift, dong. Jangan di-gatekeep!”

Martin membuat gestur siap grak. “Boleh! Infoin aja mau kapan kita cari barang lama bareng.”

Percakapan mulai mengalir. Mulai dari yang bermutu sampai yang entah-entah. Bermutu, kalau yang mulai topiknya Juhoon atau Seonghyeon. Entah-entah, kalau yang mulai topiknya James atau Keonho. Martin juga beberapa kali buka topik, walaupun lebih sering menimpali karena sepertinya ingin menyesuaikan frekuensi dengan grup baru ini dulu.

“Jadi, Tin,” ucap James sambil mengunyah kentang goreng kafe. “Lo ini alpha juga yah? Apa enigma? Waktu itu ketemu lu, lu bantuin tante-tante yang mau check in di tempat gue kerja. Lo kenal kah sama tante itu?”

Martin ketawa kecil. “Coba tebak—gue nggak kenal tu tante kok. Pengen bantu aja.”

“Nggak mungkin kalo lo enigma, nggak sih,” ucap Keonho asal. Kok kesannya agak backhanded ya? Seonghyeon menyikutnya, tapi Keonho tetap cuek, mencocol kentang di saus tomat sok tidak peduli.

“Ey, lo liat lah si Martin, Cil,” James nyengir. “Badan bongsor begitu, sayang banget kalo bukan enigma cok.”

“Gue sih vote Martin enigma, ya,” ucap Seonghyeon.

“Gue juga,” timpal Juhoon.

Keonho memutar bola mata. Martin senyam-senyum aja.

“Yah, gender sekunderku terserah kepercayaan masing-masing aja lah,” jawab Martin santai. “Toh nggak begitu penting juga.”

“Jangan-jangan lo omega?” goda Keonho iseng. “Bongsor-bongsor gitu omega lucu juga.”

Ponsel Keonho bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Ia mengecek WhatsApp, dan benar saja ada bombardir lima belas pesan tak terjawab dari seorang omega—salah satu temen agak kesono dikitnya yang sudah dia tidak jawab pesannya semingguan lebih.

“Mampus, gue lupa,” Keonho menghela nafas. “Gue diomelin lagi.”

“Sama siapa?”

“Cece yang minggu lalu itu.”

Seonghyeon dan Juhoon cuma bisa menghela nafas pasrah. Martin nengok-nengok, membaca ekspresi mereka dengan bingung. Cuma dia yang belum familiar dengan tingkah Keonho di tongkrongan ini. “Kenapa tuh?”

“Jadi, si BANGSAT satu ini,” mulai James, menekankan kata pisuhannya, “Punya kebiasaan jelek, yaitu jadi BAJINGAN ke cewek-cewek beta sama omega yang dia ajak jadi HTS. Sukanya ngegantung, ngilang, gitulah.”

Martin ketawa sambil geleng-geleng. “Ada-ada aja. Kasian tuh, jangan dianggurin lah.”

“Males gue,” jawab Keonho sekenanya. “Toh juga ntar minta balikan lagi.”

“Mulai deh,” cibir Seonghyeon. “Sok paling gede aja kontol lu, jingan.”

Tiba-tiba James senyum aneh. Pasti dia nongol ide yang nggak-nggak. “Oiya! Lo gimana, Tin? Kita bertiga minus Juhoon tuh udah pernah panjang-panjangan titit. Juhoon gapunya titit soalnya dia omega. Titit lo gede nggak?”

Pertanyaan macam apa itu. Tapi Keonho jujur penasaran sih.

“Duh,” keluh Martin, mengusak rambut jabriknya. “Berapa ya, nggak pernah ngitung pake meteran gue.”

Alesan kalo titit kecil, mah, begitu, batin Keonho.

“Haish, boong,” kilah James, masih memaksa. “Ayolah. Kalo nggak coba pake tangan lo seberapa kira-kira—atau gini deh, gue jarakin tangan gue, lo bilang stop kalo udah seukuran titit lo. Siap?”

Martin cuma menghela nafas. “Okelah.”

James memberi jarak antar kedua telapak tangannya yang dibentangkan sedada. “Segini? Atau lebih?”

“Lebih.”

“Segini?”

“Lebih.”

“Segini?”

“Lebih.”

Juhoon, Keonho, Seonghyeon, James, semuanya cengo.

“Monster kah lu?”

Martin mengaduh. “Udah gue bilang gausah di-mention jir!”

“Ini…,” Juhoon menyipitkan mata. “...ada kali dua puluh senti?”

“Nggak mungkin enak kalo kegedean, nggak sih,” ucap Keonho santai. Dia masih pede kok dengan ukurannya yang pas itu. Jangan-jangan Martin ngibul lagi. Kan nggak ada yang tau, ya. “Emang bisa masuk, ya?”

“Bisa, kalau di-prep nya cukup,” Martin nyengir. “Sejauh ini belum pernah terima komplen sih.”

“Hebaat,” puji James. “Gila tuh—andaikan gue omega, pasti endul tuh. Pendapat lo gimana, Juhoon? Sebagai seorang omega, apakah kira-kira bisa masuk?”

Juhoon melirik jutek. “No komen.”

Halah. Ini pasti si Martin cuma ngibul.

 


 

Entah gimana ceritanya, Martin jadi kadang-kadang ikut tongkrongan rutin mereka bertiga kalau diajak sama James. Keonho jadi makin sebel, tapi berhubung James yang paling tua di tongkrongan itu dan anak-anak lainnya sepertinya asik aja sama Martin dia juga nggak bisa nge-veto Martin untuk nggak diajak lagi.

Makin sebel lagi pas liat Juhoon nempel-nempel sus sama Martin setelah sekian waktu. Bukan karena Keonho suka sama Juhoon apa gimana, tapi sebel aja liatnya Juhoon kaya suka salting sama Martin.

“Ngape, Jju, kok saling mulu lu sama Martin?”

Juhoon sama Martin cuma saling liat-liatan, terus senyum misterius.

“Mm, adalah pokoknya.”

Seonghyeon memandang dua orang itu jengah. “Jangan bilang you guys fucked?”

Juhoon masih senyum miring, pertanda mengiyakan. James cengo. Keonho tambah cengo. Seonghyeon juga cengo. Sejak kapan mereka deket sampe tidur bareng? Tapi lama-lama James ketawa, memukul bahu Martin.

“Waduh, akhirnya ada yang berhasil ngejebol Juhoon!” ucapnya asal. “FYI aja brok, kita di grup ini nggak ada yang berhasil ngegoda Juhoon, njir. Pake pelet apaan lu?”

“Pelet ukuran titit,” jawab Juhoon santai, kali ini membawa vape rasa ice strawberry. “Dia nggak ngibul kok yang waktu itu.”

“WOI!” Martin terlihat malu. “Jangan di spill lah!”

Keonho sama Seonghyeon masih mangap. Terutama Keonho.

Si cuki ini nggak ngibul soal ukuran titit raksasa-nya itu?

Keonho makin kaget pas suatu malam sehabis mereka party bareng di klub tiba-tiba James dan Martin ngilang entah kemana. Terus, pas besoknya mereka nongkrong bareng lagi, wajah James merah merona, wajah Martin juga. Kaya fres banget abis ngentu.

“Beneran si Martin gede euy.”

Juhoon nyengir. “Ya, kan?”

“Sejak kapan lo suka titit?” tanya Keonho ke James. “Setau gue lo doyan meki doang?”

“Ey, penasaran,” jawab James, menyenggol lutut Keonho dengan lututnya. “Toh ternyata enak, loh.”

Keonho melirik ke Seonghyeon. Seonghyeon balas meliriknya seolah paham. Ia membuat ekspresi jutek ke teman seumurannya itu.

“Nggak. Gue nggak tertarik.”

Tapi yah, namanya Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia, ujung-ujungnya sebulan kemudian Seonghyeon cerita kalo dia dan Martin ujung-ujungnya tidur bareng juga. Keonho jadi emosi betul. Satu, mereka udah temenan tiga tahun dan sekarang dinamika tongkrongan mereka berubah total. Seolah semuanya terpikat magnet pelet anti dukun dari seorang Martin. Kedua, sekarang tiga temennya itu suka salting sama Martin. Ketiga, sekarang poros tongkrongan serasa bukan di James lagi, tapi bergeser ke Martin.

Cuih, community dick kok bangga.

Keonho jadi males nongkrong bareng mereka, karena tiap kali nongkrong pasti ada aja bahasan soal titit monster punya Martin yang katanya nagih dan enak banget itu. Cukuplah guys.

“Tinggal Dedek Kono nih yang belum pernah coba,” ucap James, nyengir-nyengir. “Kamu nggak mau coba juga? Enak loh.”

Keonho bergidik. Dia? Dimasukin kontol?

“Nggak tertarik,” jawabnya judes. “Di mana-mana gue ini alpha ya, lol tolol. Nggak ada cerita alpha dimasukin.”

“Tapi,” ucap Martin, menghela nafas hingga asap putih dari rokok mengudara. “Gue pernah kok sama alpha.”

Empat lelaki lainnya jadi penasaran. “Terus?”

“Ya, bisa aja.” Ia tertawa kecil. “Selama dipersiapin mateng.”

“Noh, Keonho,” ujar James lagi. “Bisa noh katanya. Eh, Tin. Tapi kalo lo ngontolin Keonho, mau nggak?”

Martin bertatapan dengan Keonho. Ia tersenyum tipis.

“Boleh.”

Keonho beneran merinding sebadan-badan.

“Hih! Ogah!”

 


 

Memang betul apa itu makanannya, minumannya bukan Teh Botol Sosro tapi ludah sendiri.

Soalnya, entah gimana ceritanya Keonho ujung-ujungnya penasaran. Memang bisa ya, alpha dimasukin sama alpha atau enigma lain? Emang enak? Emang endul? Tapi pertanyaan terbesarnya adalah, emangnya enak?

Dia mulai iseng gugel lewat private window, coba-coba nonton video alpha satu dan alpha lainnya bersetubuh. Tapi kok entah kenapa liatnya tetap geli, ya. Mungkin karena memang Keonho nggak suka sama alpha. Dia kan, lurus. Lurus kaya penggaris, lurus kaya pensil.

Karena saking keponya, akhirnya dia beraniin diri buat ngechat Seonghyeon.

Keonho: Yon
Seonghyeon: Yo
Keonho: emang titit seenak itu ya
Seonghyeon: ??? Lo ngechat gw buat nanya ini doang?
Keonho: soalnya
Keonho: soalnya lo udh ngentu 3x sama tu jabrik
Keonho: padahal lo beta
Seonghyeon: no komen
Seonghyeon: kalo lo penasaran ya sana ngentu sama dia

Lama-lama Keonho gerah. Seonghyeon tidak membantu, mau tanya James pasti dia di ceng-cengin, dan kalau tanya ke Juhoon pasti jawabannya enak karena dia memang omega.

Cuma ada satu cara untuk mencari tau kebenarannya

Keonho: Tin
Martin: Hoit
Keonho: mau ngentu sama gw gak?

 


 

Hari yang dijanjikan akhirnya tiba.

Keonho grogi setengah mampus—terakhir kali dia segrogi ini pas ciuman pertama waktu SMA sama Seonghyeon. Dia udah dikasih Martin instruksi buat ngapain sebelumnya—persiapan bottoming. Sumpil ini baru pertama kali seumur hidup Keonho ngerasain anehnya sensasi douching. Tapi ya udah lah ya. Cukup sekali seumur hidup, terus nggak lagi-lagi.

Mereka milih buat ketemuan di suatu hotel cinta, karena kos mereka berdua kayaknya nggak bisa dipakai untuk berhubungan badan dengan tenang. Selain itu, Keonho juga takut kegep tetangga. Mau ditaro dimana mukanya nanti?

Martin sudah datang lebih dulu, yang mana makin bikin Keonho grogi. Tingkahnya udah kaya boneka orang-orangan sawah saking groginya, kaku abis. Lelaki jangkung itu sampai ketawa liatnya.

“Ngapain kaku gitu, njir?”

“Gimana nggak?” balas Keonho, manyun. “Pertama kali brok.”

Martin tersenyum tipis. “Jadi, gue yang pertama kali nyentuh tempat itu?”

Hih. Apasih.

“Udah cepetan ih. Biar cepet selesai.”

Tapi, tidak sesuai dugaan, Martin bukannya cepat-cepat malah bergerak lambat. Seperti siput. Pertama-tama ia tarik dulu Keonho dalam ciuman berperisa mint—sepertinya memang dia makan permen dulu sebelum masuk kamar tadi. Keonho jujur rasanya gatel buat memimpin ciuman ini. Maklum, dia alpha, bos. Harus dia dong, yang memimpin.

Ia menggigit bibir Martin, memberi kode padanya untuk menurut dan membuka mulut. Tapi lelaki itu tidak mau mengalah, malah menekan tengkuk Keonho semakin dekat untuk memperdalam ciuman. Keonho juga tidak mau kalah, semakin ganas melumat bibir tipis dari lelaki blasteran yang akan menggagahinya malam ini.

Martin menarik dirinya sebentar. “Kok atos banget?”

“Apanya?”

“Kamunya,” Martin tertawa geli. “Santai aja, ikutin flow-ku.”

Keonho mendengus, tapi menurut saat Martin menariknya ke cumbuan kedua. Kali ini ia berusaha untuk lebih santai, menurunkan ego, tapi tetap rasanya pride-nya itu kesentil saat Martin memimpin cumbuan. Walaupun lama-lama luluh juga, sih. Soalnya ciuman dengan Martin ternyata enak. Setiap lumatan bibir, sapuan lidah, membuat Keonho makin lama makin melembek.

“Mm—that’s it.” bisik Martin di sela cumbuan. “That’s a good boy.”

Keonho mendesah pelan. Jujur dia suka kalau dipanggil begitu oleh nuna ketika mereka bercinta—tapi dipanggil good boy dengan suara bariton seorang lelaki ternyata tidak terlalu buruk. Kali ini Keonho bisa membiarkannya.

“Tiduran.”

Keonho menurut, menidurkan kepala di bantal. Ia memandangi tangan Martin yang melepas kancing kemeja santainya satu persatu hingga ia bertelanjang dada. Martin menjilat lehernya yang terekspos, membubuhkan ciuman-ciuman basah hingga Keonho merasa geli. Lalu ciuman itu turun ke sternum, lalu ke perutnya yang sedikit terbentuk berkat rutin berolahraga.

Martin menyibakkan kemeja Keonho hingga dadanya terlihat seluruhnya, lalu menjulurkan lidah, melingkari areola Keonho yang sebelumnya tak pernah ia pikir untuk sentuh—Keonho mendesah tertahan, menggigit bibir bawah untuk menahan suara karena dia gengsi.

Bibir tipis itu mengatup ke satu puting, lalu mulai menghisap. Tangan Martin memilin dan mencubit puting satunya, begitu bergantian hingga puting pucat itu berubah warna kemerahan. Martin menggigit pucuk itu gemas, membuat Keonho berjengit karena kaget.

“Liat,” ucap Martin, “Kamu setengah keras cuma karena nipple stimulation.”

Keonho melirik ke bawah. Benar saja, miliknya sudah mulai menggembung di balik celana, membentuk tenda yang menyembul di balik celana longgar itu. Ia memerah. Malu. Kok bisa dia secepat ini naik? Cuma gara-gara netein doang?

“Aku copot ya.”

Keonho mengangguk, dan Martin menarik celana beserta boxernya lepas. Berikutnya, Martin ikut mencopot kaos yang ia kenakan, melempar baju yang baru dilucuti dari dirinya sendiri dan Keonho ke lantai. Ia tidak memberi waktu bagi Keonho untuk merasa malu, karena tangannya keburu menggenggam batang kejantanan lelaki itu—mengocoknya perlahan hingga Keonho mendesis.

“Pernah di-blow?”

Keonho mengangguk. “Emang kamu mau nge-blow job cowok lain?”

Martin mengedikkan bahu. “Nggak masalah.”

Lalu, ia meludah ke puncak penis Keonho, membuat Keonho nyaris bergidik karena sensasi hangat yang tiba-tiba. Mulutnya segera mengulum penis itu, lidah bergerak melingkar di sekitar kepala jamur yang memerah. Lalu ia mulai bergerak naik turun, menghisap hingga pipinya cekung di setiap tarikan keluar.

“Ngh—hah—Martin—”

“Mm—”

Sialan. Ternyata enak banget di-blow sama cowok lain—Keonho jadi tanpa sadar ikut menggerakkan pinggulnya seirama pergerakan kepala Martin. Tapi tak lama, Martin malah melepas kulumannya, memandang mata Keonho dengan senyum tipis di bibir yang berkilat berkat saliva.

“Nakal ya, naik-naikin pinggul,” ucap Martin menggoda. “Nggak bisa diem aja kah?”

Keonho terkekeh, balas memandang si pirang dengan tatapan setengah sayu. “Hah—enak soalnya.”

“Perlukah aku pakai command supaya kamu nurut?”

Command? Pikir Keonho. Memang alpha voice bakal ngaruh di dia ya? Dia jadi penasaran. Keonho dan sifat penasarannya yang tidak pernah mati.

“Ya, coba aja kalo bisa.”

“Oh, nantang,” dengus Martin. Tapi suaranya jenaka. “Okay kalo gitu. Stay.”

Tubuh Keonho seketika mematung. Apa yang baru saja terjadi? Keonho bingung—kalau dia alpha, dan Martin juga alpha, seharusnya ini tidak terjadi—apakah benar kalau Martin itu sebenarnya enigma?

“Kamu…,” ucapnya gagu. “Kamu enigma?”

Martin hanya tertawa kecil.

“Apakah itu penting? Yang penting kamu nurut kan?”

Keonho tertawa sarkas. Tapi tawanya terhenti, beralih menjadi desahan dan erangan saat Martin kembali memberinya servis oral—kali ini lebih brutal dari pada sebelumnya. Lebih cepat, lebih ketat. Membuatnya mau tak mau harus menahan orgasme supaya tidak keluar prematur.

“Hh—udah—ngh—”

“Mau keluar?”

Keonho mengangguk cepat. “Udah—nanti—keluar—ngh—”

Alih alih berhenti, Martin malah melanjutkan aksinya. Keonho menggigit bibir, mendongak saat melihat putih dari orgasmenya datang secara tiba-tiba. Martin akhirnya melepas penisnya yang mulai melemas, melepeh sperma Keonho ke lantai.

“Makan yang bener,” tukasnya. “Pait.”

Keonho cuma terkekeh. “Salah sendiri mau nyepongin gua.”

Martin kembali menciumnya, membuat Keonho merasakan rasa maninya sendiri. Mungkin di situasi lain Keonho akan merasa jijik, tapi saat ini dia merasa tidak masalah.

“Masih bisa berdiri, kan?” tanya Martin.

“Nggak tau,” jawab Keonho jujur. Sejujurnya selama ini memang dia kalau bercinta hanya satu ronde. Itu pun juga biasanya orang yang digaulinya sudah cukup puas, karena Keonho selalu berusaha membuat mereka orgasme lebih dulu dari dirinya. Gini-gini dia juga tau diri.

“Hmm, not a problem,” jawab lelaki jangkung itu santai. “Nanti kalau udah di stimulasi prostatnya juga bisa berdiri.”

Ia menyuruh Keonho menungging, yang mana Keonho menggerutu. Malu anjing. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur basah. Sekalian aja nyebur. Maka Keonho menurut, bertumpu pada lutut dan sikunya untuk tetap tegak di posisi tersebut.

Keonho mendengar suara botol lubrikan dibuka, dan cairan dingin itu ditumpahkan ke antara belahan bokongnya. Ia bergidik karena perbedaan suhu—kenapa sih Martin seenggaknya ngomong dulu sebelum mau nuangin lube?

“Brace yourself.”

Satu jari—sepertinya jari telunjuk Martin—bergerak masuk ke dalam lubang analnya perlahan. Keonho meringis. Nggak sakit sih, tapi tetap rasanya asing dan tidak nyaman. Seperti ada penyusup yang masuk ke tempat yang tidak seharusnya disentuh oleh siapa pun.

Jari itu bergerak maju-mundur. Martin mengelus pinggulnya. “Sakit?”

Keonho menggeleng. Maka Martin menambahkan satu jari lagi. Kali ini rasanya tambah aneh—Keonho nggak ngerti enaknya di mana sampai James dan Seonghyeon berkali-kali mau lagi digagahi oleh Martin.

“Ngh—aneh—”

“Sabar sebentar.”

Dua jari itu bergerak keluar masuk, sesekali membuat gerakan menggunting untuk melebarkan lubang yang akan segera dipakai beberapa saat lagi. Udah lah. Keonho benar-benar merasa tidak nyaman. Mending mereka berhenti saja.

“Tin, kayaknya kita ber—NGH?”

Kekuatan di sikunya seolah ambrol saat Martin tiba-tiba menekuk dua jarinya, menyentuh titik di dalam sana—prostat Keonho yang tak pernah terjamah sebelumnya. Apa itu barusan? Tapi kemudian Martin terus menggoda titik itu lagi, berkali-kali menghunjamkan jari ke prostat Keonho di sela-sela gerakannya melebarkan lubang anal itu.

“Ah—ngh—Mar—tin—itu—ah!”

“Enak, kan?” tanya Martin lembut. “Ini namanya prostat. Rasanya kayak kalau G-spot disentuh.”

“Ngh—ah—”

Keonho kehabisan kata-kata, hanya erangan yang bisa mengalir deras dari bibirnya. Ia mencengkram bantal, menggertakkan gigi saat Martin malah meraih penisnya yang kembali terisi darah. Lelaki pirang itu mengocok penisnya kasar tanpa menghentikan sodokan jarinya, stimulasi ganda yang membuat Keonho tidak bisa lagi menahan suara.

“NGH—hngh—AH! Hh—”

“What a slut,” tawa Martin. “Liat, penismu udah ngeluarin precum sebanyak ini. Enak kan dikocokin sambil di stimulasi prostatnya begini?”

Keonho mengangguk cepat, tidak kepikiran untuk mengeluarkan kata-kata sarkas atau semacamnya karena sudah kepalang enak.

“Iy—ah—iya—hh—”

“Mm, I wonder if you taste good.”

“Hh—ah?”

Keonho terkejut saat ia merasakan sesuatu yang lunak, tapi kokoh, ikut menyeruak masuk ke dalam lubang analnya. Lidah Martin. Lidah tebal itu bergerak keluar saat jarinya masuk, dan bergerak masuk saat jarinya keluar. Tangan satunya tidak berhenti mengocok penis Keonho.

“Hah—nghh—ngh—ah—ah! Hh—jorok—”

Tapi Martin tidak berhenti. Tidak berhenti mengobrak-abrik analnya, tidak berhenti juga mengocok penisnya yang serasa bisa meledak kapan saja. Keonho menggigit bantal, mengatupkan mata rapat-rapat.

“Ngh! Hngh! Keluar—AH!”

Keonho klimaks untuk kedua kalinya, kali ini spermanya membasahi sprei hingga tumpah ruah. Tubuhnya bergetar, pinggulnya tak berhenti bergerak mengejar stimulasi dari tangan dan bibir si enigma yang tak berhenti memanjakannya.

Keonho nyaris ambruk ke kasur. Tangan dan kakinya terasa seperti agar-agar setelah dua kali orgasme.

“Jangan tidur dulu,” ucap Martin. “Aku belum keluar, lho.”

Lelaki yang lebih muda mendelik. “Tapi—tapi aku udah keluar dua kali!”

“Masih bisa,” cengir si jangkung. “Apa sih yang nggak bisa dengan command?”

Oh.

Oh.

Pada titik ini, Keonho akhirnya sadar.

Martin benar-benar serius akan menghabisinya malam ini.

“Ass up. Present yourself.”

Seolah dihipnotis, Keonho menurut—kembali menaikkan pinggulnya yang bergetar. Kepala ia benamkan di dalam bantal, kedua tangan membuka belah bokongnya yang sudah basah kuyup oleh lubrikan. Posisi yang memalukan. Keonho ingin mati saking malunya. Tapi entah kenapa, penisnya malah berdenyut.

Beg.”

Keonho mengerang pelan.

“Please…”

“Please what?”

“Masukin…”

“Masukin apa?”

Keonho menelan ludah. “...your dick…I want it…”

Martin terkekeh, entah sejak kapan sudah melepas celana dan dalamannya hingga bergabung dengan pakaian lain di lantai. Keonho tidak bisa melihat dari posisinya saat ini, tapi dari suaranya terdengar kalau Martin sedang melumuri miliknya dengan pelumas.

“Keonho,” ucap si enigma. “Feel it up first.”

Yang lebih muda bisa merasakan sesuatu yang tebal dan panas diletakkan di atas belahan bokongnya yang terbuka. Ia mungkin tidak bisa melihatnya, tapi ia bisa merasakan berat dari kejantanan Martin yang bersandar di bokongnya. Ia meneguk ludah. Kalau hanya dari beratnya saja, dan bagaimana Martin menggesekkan batang itu perlahan di antara bokongnya, Keonho bisa merasakan bentuk dan panjang penis itu. Bagaimana kalau ia sudah masuk?

“How’s it?”

“B-Berat…,” ucapnya kikuk. “Tebel juga…kayaknya…”

“Mm-hm,” gumam Martin, suaranya terdengar puas. “All this for you, baby.”

Lalu, Martin mulai memposisikan kepala penisnya, dan bergerak masuk. Keonho refleks mengeratkan gigi. Martin memang besar—terlalu besar. Ini ide buruk! Bagaimana kalau ia berdarah? Lecet? Luka?

“Ngh—ouch—”

“Tahan sedikit.”

Setelah apa yang terasa satu abad lamanya, Martin berhenti bergerak. Keonho menarik-keluarkan nafas yang menderu-deru. Sudah masuk semua, kah?

“Sisa setengah lagi. Mau langsung aku masukin semua apa pelan-pelan?”

Hah?

“Ah? Ng—”

“Cepet pilih. Atau aku yang putuskan.”

Keonho seolah tidak bisa berpikir. Ia kira Martin sudah memasukkan seluruh penisnya tadi—ternyata masih setengah? Ia bisa mati. Benar-benar mati karena penis Martin.

“Ng—mungkin—masukin aja langsung…”

“Okay.”

Lalu, Martin memegang kedua pinggulnya, dan dalam satu hentakan masuk, langsung melesakkan sisa kejantanannya yang masih di luar tubuh Keonho—membuat lelaki alpha itu terkesiap, reflek ambruk ke depan karena aksinya yang tiba-tiba—Keonho yakin Martin menabrak sesuatu di dalam sana, sesuatu yang seharusnya tidak tersentuh bahkan oleh penis sekalipun.

“HNGH! Gh—akh—”

“Sakit?” Martin mengelus pinggangnya yang ramping. “Kubantu supaya nggak sakit ya. I’ll make you go dumb in a second.”

“Ngh? Maksudnya—?”

“Feels good for you, isn’t it?”

Oh.

Tubuh Keonho seolah merinding sebadan-badan. Suara bariton itu seolah merayap melintas dari gendang telinganya, turun ke dada, turun lagi ke abdomen, dan berujung di penisnya yang kembali menetes. Keonho bergetar, matanya sebentar lagi akan berbalik masuk ke dalam rongga tengkorak kalau ia tidak menahan diri.

“Mm-hmm—you’re so tight,” puji Martin, masih mengelus punggung Keonho. “My little slut. Enak kan ternyata, dimasuki begini?”

Keonho mengangguk tolol. Oh. Ini pertama kalinya ia merasakan sensasi-sensasi baru—dari dirinya yang dibuat submisif, dari suara perintah Martin yang memaksanya untuk merasa enak. Dari sensasi sesak yang Martin berikan dari kejantanannya yang melesak masuk hingga menubruk ujung rektum Keonho.

Tanpa sadar, saliva Keonho sudah menetes menuruni dagu, dan membasahi bantal.

“Hngh—”

“Jawab.”

“Iy—ah—”

“Good boy.”

Martin mulai bergerak, berulang kali menggesek prostat Keonho dari setiap gerakan. Lalu, menabrak ujung rektumnya hingga mentok di ujung. Keonho sudah lupa diri, tidak bisa menahan suara jerit dan erangan nikmatnya pada setiap lesakan masuk-keluar dari monster yang memasukinya saat ini. Oh. Jadi ini apa yang James, Juhoon, dan Seonghyeon rasakan—dimanja dan disiksa pada saat yang bersamaan oleh seorang enigma bernama Martin.

“Ngah—HAH! Ah—mau—keluar—”

Belum sedetik ia bicara, Keonho kembali melihat putih, mani menyembur dari kepala penis. Tapi ia tetap tidak bisa ambruk, karena pinggulnya yang dijadikan tempat cengkraman kedua tangan Martin tetap memaksanya naik.

“Udah—ngh—AH! NGA—H! HH!”

“Fuck, you feel too good,” Martin terkekeh, menengadah saat ia merasakan Keonho merapat akibat pujiannya. “Padahal katanya alpha, tapi ternyata you’re just a bitch—hh—my bitch.”

Di situasi normal, Keonho akan marah. Marah besar. Tapi kali ini ia malah mengerang mendengar cacian dan hinaan dari Martin, malah mengeratkan analnya agar enigma-nya malam ini merasa senang dengan servis yang ia berikan.

“Jadi, lebih enak mana?” tanya si jangkung. “Lebih enak masuk, apa dimasukin?”

Keonho menggeleng cepat, tidak sanggup menjawab. “Gh—hng! Ngh—”

Satu tamparan mendarat di bokongnya. Air mata menitik di pelupuk mata Keonho, tapi ia masih bersikeras tidak mau menjawab. Egonya terlalu besar. Ia tidak sanggup mengaku, tidak pada Martin. Tidak puas, si pirang menjambak rambut kecoklatan yang sedari tadi bersandar pada bantal hingga mendongak.

“Ngah—hah—” 

“Jawab,” Martin tertawa. “Atau kamu nggak akan aku lepasin sampai kamu jujur.”

Tidak bisa. Keonho tidak bisa lagi menahan diri.

“Enak—hah—” Ia terengah-engah akibat tumbukan yang tak henti-henti di prostatnya, di ujung rektumnya. Ia benar-benar disiksa, dan tidak akan dilepaskan seperti mangsa seorang predator hingga ia mengaku dosa. “En—ak—dimasuk—in—ngh!”

“Enak kan dipake?”

“En—ak! AH! NGH!”

“Enak kan jadi lonte?”

“ENAK! AH! HAH!”

Martin tertawa sarkas, gerakannya jadi semakin kasar seiring dengan orgasmenya yang semakin mendekat. “Kupake sampai hamil, mau ya? Nggak usah main alpha-alpha-an lagi… jadi alpha nggak becus—hh—jadi omega-ku aja, mau?”

Bodo amat. Dengan konsekuensi dari Martin keluar di dalam, dengan Keonho benar-benar dijadikan salah satu dari koleksi mainan Martin. Ia rela. Rela kalau setiap hari akan diperlakukan seperti boneka seperti ini, diberi nikmat sebanyak ini, disiksa hingga keluar berkali-kali seperti ini.

“MAU! MAUUU! NGHHHH!”

Keonho kembali orgasme, kali ini membuat pandangannya memutih dan bergetar sebadan-badan. Martin menggeram saat merasakan anal lelaki itu merapat luar biasa, menghentakkan pinggul sekali, dua kali, tiga kali, sebelum melesakkan knot-nya masuk—menutup jalur kabur terakhir Keonho. Hangat menyembur masuk ke dalam abdomen lelaki berambut coklat itu, seolah tanpa henti.

Keonho ambruk. Martin menggeser posisi mereka hingga tiduran menyamping, mengecupi tengkuk dan rambut Keonho yang basah oleh peluh. Tangannya mengusap perut Keonho yang sedikit menggembung karena masih terisi penis dan sperma.

 


 

Kali berikutnya mereka nongkrong berlima, situasi jadi sedikit berubah. Karena kali ini, Keonho ikut nempel-nempel ke Martin sampai tiga temannya heran. Padahal dulu Keonho selalu mau duduk jauh-jauhan dari si pirang jangkung.

“Jadi, kalian ngentu?”

Keonho mengangguk, nyengir. “Iyoi bro.”

“Terus?” tanya Juhoon retorik. “Enak?”

“Enak,” jawab Keonho. “Enak sampai malam ini mau lagi.”

James mendelik. “Loh, malam ini harusnya jatahku!”

“Ya sudah, aku mau slot besok buatku,” tukas Juhoon cepat. Seonghyeon gantian melotot.

“Besok Itu jatahku!”

“Terus jatahku kapan?” tanya Keonho gusar.

Martin cuma bisa ketawa-ketiwi.

Notes:

NGOAAA gak kerasa sekali duduk dapet 4.3k words??? gila juga heuh...

buat yg kemaren minta tulis anal ini sy akhirnya nulis anal... maap yh sy males nulis anal soalnya harus di prep dulu?? malas menjelaskan maunya asal jebolin aje...

NGOAHAHA MAKASIH SUDAH BACAAA /kabur

Series this work belongs to: