Work Text:
Tidak ada kata menyenangkan di hidup seorang Rion Harold, hidup sebagai seorang immortal sangatlah menyiksa batinnya. Tahun demi tahun, dekade demi dekade telah ia lewati. Dirinya telah melewati banyak sekali peristiwa peristiwa penting bagi umat manusia, bahkan dia pernah menjadi perilaku dalam salah satu peristiwa itu. Menyediakan bukan?
Tapi ada satu hal yang membuatnya ingin tetap menjalani kehidupannya, seorang pria yang pertama kali ia temui pada tahun 1911. Namanya Harris Forrest, saat itu Harris bekerja sebagai penjaga sebuah toko kelontong milik keluarganya. Pertemuan awal mereka terjadi dengan begitu cepat, Rion hanya melihat sekilas Harris saat membayar barangnya, begitu pula dengan Harris yang tidak begitu memperhatikan pria berambut ungu itu.
Rion sebenarnya tidak begitu peduli dengan apa yang ada disekitarnya, dia hanya ingin menjalani hidup sediam mungkin, se transparan mungkin. Ia sangat benci menjadi pusat perhatian, ia hanya ingin melewati hari harinya yang hampa ini, sambil menunggu ajalnya yang tidak tau akan datang kapan.
Tapi entah kenapa Rion menjadi sadar akan hal hal kecil yang biasa ia lewatkan setiap kali ia berbelanja di toko itu. Seperti bagaimana lampu neon di depan toko berkedip setiap beberapa saat, stok toko yang datang setiap hari Rabu, induk kucing yang merawat anak-anaknya di salah satu sudut toko, dan banyak hal lainnya. Tapi ada satu yang paling membuatnya tertarik, si penjaga toko. Orang yang berinteraksi dengannya selama ini, rambut merah bergelombang yang panjang hingga menyentuh bahu, tahi lalat yang berada dibawah mata emasnya, kalung rantai silver yang selalu menggantung di lehernya. Sepertinya Rion mulai jatuh cinta lagi.
Rion mulai mendekati Harris dengan percakapan percakapan kecil, lambat laun mereka mulai menjadi teman dekat. Harris sering bercerita tentang pelanggan pelanggan yang berbelanja di tokonya, Rion biasa menanggapinya dengan kekehan dan terkadang bercerita sedikit tentang kehidupannya.
Hubungan mereka semakin dekat setiap harinya, mereka pun mulai menjalani hubungan dengan rahasia. Menghabiskan waktu bersama dengan suasana hati yang berbunga bunga membuat hidup Rion menjadi lebih berwarna. Meskipun harus menyembunyikan hubungan mereka dari mata orang luar, mereka tetap senang bisa menemukan satu sama lain.
Hingga hari itu tiba, hari yang tidak bisa dihindari oleh makhluk mortal seperti Harris. Rion yang tak menua sedikit pun sejak mereka bertemu merasakan kesedihan yang mendalam melihat orang terkasihnya mati didekapannya. Lelah, rasanya ingin menyudahi kehidupan ini. Tapi apa daya, 1001 cara telah ia coba untuk mengakhiri hidupnya, tapi hasilnya sama— nihil, ia tak bisa mati.
Di ranjang kematiannya, Harris berjanji pada Rion —bahwa ia akan menemui Rion di kehidupan dia selanjutnya, apapun yang terjadi ia akan selalu mencari Rion dan Rion juga berjanji akan mencarinya di kehidupan Harris yang ke 100 pun.
—–·
Waktu berlalu, saat itu tahun menunjukkan angka 1964. 29 tahun setelah kematian separuh nafasnya itu dan Rion masih berduka, ia menjalani kehidupannya seperti cangkang kosong. Berpindah kesana kemari tanpa tujuan, berharap agar suatu hari nanti bisa dipertemukan kembali dengan kekasihnya. Sekarang ia memiliki identitas baru, Rion Milton. Entah ini identitas keberapa yang ia buat, ia tak ingin memikirkannya lagi.
Di suatu sore, Rion yang sedang berjalan pulang setelah seharian bekerja tidak sengaja berpapasan dengan seorang pemuda. Bukan— bukan pemuda biasa, Rion hapal betul itu siapa, penampilannya sama, bentuk wajahnya sama, bahkan warna rambutnya pun sama. Siapa lagi kalau bukan kekasih lamanya, dari rambut hingga ujung kaki semua terlihat sama.
Rion berbinar ketika bertemu dengan Harris, ia serasa dihidupkan kembali dari kegelapan yang selama ini membunuhnya. Harrisnya kembali.
Norman Harris namanya, ia bilang ia tidak tau dan tidak mengenal siapa itu Rion. Tapi ada rasa familiar dan nyaman yang ia rasakan setiap berada didekat Rion. Rion mendekati Harris secara terus menerus, tidak memberi ruang si surai merah untuk bernafas. Setiap hari Rion akan selalu mendatangi rumah Harris tanpa absen satu hari pun, Harris sebenarnya tidak terganggu dengan kehirannya. Ia senang bisa memiliki seseorang yang memperhatikan setiap gerakannya, setiap nafasnya.
Lambat laun mereka menjalin hubungan sepasang kekasih, sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan oleh apapun. Setiap hari mereka saling menyalurkan rasa cinta mereka kepada satu sama lain, setiap hari diisi oleh momen momen indah.
Mungkin bagi dunia luar, hubungan mereka adalah tabu, aib yang tak boleh keluar. Bahkan banyak sekali orang yang menganggap mereka sebagai orang pembawa penyakit, pengaruh buruk bagi bangsa dan mereka harus mati. Tapi menurut Rion dan Harris, rasa cinta itu adalah anugerah yang harus bisa dirasakan oleh semua orang, termasuk mereka.
Namun dunia tidak selamanya indah. Hubungan mereka mulai diketahui oleh orang-orang diluar sana, mereka dianggap hama oleh publik. Harris mulai dikucilkan oleh rekan kerjanya, begitupun dengan Rion. Tak jarang mereka pulang dengan keadaan babak belur, dunia memang tak adil.
Sampai suatu hari rumah Harris dimasuki oleh beberapa pria yang tak ia kenal, ia diseret keluar dan diarak menuju ke arah sebuah lapangan. Disana ia dipukuli habis habisan oleh sekelompok pria, banyak yang mengelilinginya, menonton dirinya yang sudah diambang kematian terus terusan dihajar oleh masa. Ia hanya bisa menangis dalam diam, berharap— mungkin saja Rion bisa datang dan menyelamatkannya. Tapi tidak ada yang terjadi, ia hanya bisa merasakan kesakitan yang amat sangat luar biasa disekujur tubuhnya. Tak lama kemudian dunianya pun menjadi gelap.
Rion yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung berlari ke arah tempat yang menjadi pusat keramaian itu, setelah diberi tahu salah satu temannya. Disana tubuhnya terasa sangat lemas ketika mendapati tubuh kekasihnya yang sudah tidak berbentuk dengan bekas pukulan dimana mana, dipajang ditengah lapangan. Rasanya tak karuan. Ia hanya bisa terduduk lemas melihat apa yang terjadi, dan lagi. Ia ditinggalkan sekali lagi oleh separuh nafasnya, tetapi kali ini dengan sangat tragis.
Luka yang belum sepenuhnya sembuh kini terbuka kembali, lukanya menjadi lebih lebar, lebih pedih, seolah luka terbuka itu disirami oleh alkohol. Rion hanya bisa diam. Berduka dan dimakan oleh kegelapan. Ia hidup menyendiri, hanya berinteraksi dengan manusia lain seperlunya saja.
—–·
Lalu abad ke 21 pun datang, Rion mencoba keluar dari isolasinya dan mulai berbaur dengan orang orang diluar. Ia mencoba berbagai banyak hal yang telah ia lewatkan selama ini, mencoba berbagai profesi baru. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Harris— Harrisnya, orang yang selama ini ia rindukan.
Kali ini Rion mendekati Harris dengan memilih pekerjaan yang sama dengannya. Ya, ia memilih menjadi vtuber. Perkenalan awal mereka terjadi dengan cepat, awalnya Harris terlihat malu malu saat Rion mengajaknya bicara. Namun lambat laun hubungan mereka terjalin dengan erat, rasa familiar itu mulai tumbuh lagi— seperti sesuatu yang buruk akan terjadi, seperti rasa kehilangan yang akan menyerangnya lagi. Rion tak ingin melepaskannya kali ini.
Rion menoleh kebawah dagunya, melihat surai merah yang dengan tenang bertengger di dadanya. Cantiknya sudah kembali, Rion ingin dunia berhenti sekarang juga. Ia ingin hidup di momen ini selamanya, ingin hidup bahagia dengan kekasihnya. Ia tak ingin ini cepat berakhir, tak ingin lagi kebahagiaan direnggut kembali oleh waktu.
Ia hanya mengingatkan satu hal di dunia ini, yaitu untuk hidup dan mati bersama Harris. Bersama kekasihnya, bersama separuh nafasnya, separuh jiwanya.
—fin.
