Work Text:
Suara langkah anak kecil yang berlarian ke sana kemari sudah jadi hal biasa di rumah nenek Juan, apalagi kalau sedang ada acara kumpul keluarga besar. Tawa menggelegar dari ruang tamu, ruang TV, dapur, sampai halaman belakang, tak luput dari telinga dua orang yang baru saja menginjakkan kaki di rumah lama itu.
Juan sendiri sudah berkali-kali merasakan atmosfer keluarganya yang cukup ramai ini. Berbeda dengan James, yang baru kedua kalinya ikut berkumpul dengan keluarga Juan—kali ini dengan status baru sebagai suami Juan.
Juan juga sudah terbiasa saat anak-anak kecil mengabaikannya begitu saja, tak menyapa, tak minta digendong. Mereka sudah tahu permintaan itu pasti ditolak. Namun kali ini berbeda—anak-anak itu justru beralih ke suaminya.
Ada yang sudah nangkring di gendongan James.
Ada yang melingkar manja di kakinya.
Ada pula yang menarik tangannya, memintanya duduk di ruang TV untuk menemani nonton film yang sedang diputar.
Juan yang melihat itu ikut menyusul, duduk di sebelah James yang sedang menanggapi ocehan anak-anak sambil membagi perhatian ke masing-masing lewat tangannya.
“Aduh… satu-satu dong, ngomongnya,” James tertawa kecil sambil menutup telinganya. “Dira dulu, ya, nanti Luna gantian cerita.” Kedua bocah itu langsung mengangguk, mengerti untuk tidak berebut giliran. Sementara anak yang lain masih asyik memegang-megang, bahkan bergelayut manja di tubuh James.
Juan yang duduk di sampingnya nyaris tak dianggap oleh siapa pun di ruangan itu. Bahkan anak yang duduk di pangkuannya hanya menjadikannya tempat duduk, tanpa niat berinteraksi. Juan mendengus pelan, bingung harus bersikap seperti apa.
Perhatiannya teralih saat James mengaduh, berusaha melepaskan jari bocah satu tahun yang menarik kalungnya. Dengan pemahamannya yang minim soal anak-anak, Juan tanpa sadar menghempaskan tangan mungil itu dengan tenaga yang cukup kuat. Begitu genggaman terlepas, ia menatap tajam si kecil, yang balik menatapnya. Tak lama, tangisan pun pecah.
Juan panik, sementara James malah tertawa melihatnya berusaha menenangkan Reka—anak yang ada di pangkuannya—dengan meminta maaf berulang kali, lalu membuat ekspresi konyol. James menghentikan usaha itu, menepuk pelan punggung Reka, memberi afeksi lebih agar tangisnya reda.
“Juan! Sini, nak!”
Juan menyahut, lalu berjalan menjauh dari ruang TV—tak lupa mengusak surai James sebentar sebagai izin.
Begitu Juan duduk di meja makan, James kembali fokus ke gerombolan bocah itu. Dira yang tadi sibuk bercerita kini menarik lengannya, mengajak duduk lesehan di karpet. Luna, tanpa permisi, sudah menyandarkan kepala di paha James sambil memeluk boneka kelinci lusuh entah milik siapa.
Reka yang baru berhenti menangis kembali anteng di pangkuan James, sesekali mengusap sisa air mata dengan punggung tangannya sendiri. James mengusap rambut si kecil perlahan sambil tersenyum tipis.
Dari kursinya, Juan memperhatikan semua itu. Kalau dipikir-pikir, James memang punya sesuatu yang membuat anak kecil betah di dekatnya. Nada suaranya yang lembut. Gerakannya yang hati-hati. Tawanya yang halus. Sementara Juan sendiri tak pernah paham cara mengajak bicara anak kecil, apalagi membuat kehadirannya tidak dianggap sebagai ancaman.
Melihat kelakuan James pada anak-anak itu memunculkan rasa aneh di dadanya—keinginan untuk melindungi, menyayangi, yang perlahan tumbuh makin besar. Ia ingin senyum itu terus ada di wajah suaminya yang cantik.
“Kerjaan kamu aman, Jem?” celetuk seorang wanita berusia sekitar 40 tahun sambil duduk di sebelah James. Ia langsung menggeser posisinya, memberi ruang lebih. “Tante denger kalian lagi sibuk-sibuknya, ya? Juan tadi ngobrol sama Om Jamal, katanya kalian jarang ketemu belakangan ini.”
James mengangguk, membenarkan padatnya jadwal mereka. “Hehe, iya, Tan. Tapi itu udah minggu lalu, kok. Minggu ini kita udah gak hectic lagi di kantor,” jawabnya sambil menimang Reka di pangkuannya.
Tanpa disadari James, Reka sudah tertidur sejak ibunya—wanita yang barusan bertanya—duduk di sebelahnya. James hanya tersenyum geli, merasa lucu karena Reka gampang sekali terlelap.
Wanita itu terkekeh, mengusap kepala anaknya yang tertidur. “Reka biasanya susah banget tidur, apalagi sama orang baru. Kamu, kan, baru dua kali ketemu Reka, loh. Tapi dia kelihatan nyaman banget sama kamu, Jem.” Pandangannya beralih dari anaknya ke James, yang balas menatapnya. James salah tingkah, merasa kehadirannya ternyata berarti bagi keponakan Juan itu.
“Yang bener, Tan?” tanyanya tak percaya.
“Masa Tante bohong?”
Keduanya tertawa bersama sambil kembali memperhatikan Reka. Sang ibu hendak mengambil alih untuk menggendong, takut merepotkan James yang terlihat baik-baik saja. Namun anaknya justru menangis kencang dan merapatkan badan ke James, yang segera mendekapnya erat.
“Eh, gak papa, Tan. Biar Reka sama aku dulu,” ujar James sambil tersenyum, memberi tanda tidak keberatan menggendongnya sampai bangun. Sang ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang tiba-tiba manja.
“Ngomong-ngomong soal anak kecil,” wanita itu tiba-tiba nyeletuk lagi, “kamu sama Juan udah kepikiran adopsi belum, sih?”
James terdiam sesaat. Bukan karena kaget, tapi karena pertanyaan itu selalu berhasil membuatnya mikir dua kali sebelum jawab. Ia tersenyum kecil, matanya iseng mencari sosok suaminya di meja makan—masih duduk di sana, sesekali ikut tertawa kalau ada yang melempar lelucon.
“Kepikiran, sih, pasti ada, Tan,” jawabnya akhirnya, jujur. “Tapi kalau ditanya udah siap apa belum... jujur belum, deh, kayaknya. Buat sekarang.”
Tangannya mengusap poni Reka yang jatuh menutupi mata, gerakannya pelan, hampir refleks. Pandangannya sesekali beralih ke layar TV, sesekali ke wanita di sampingnya.
“Kenapa emangnya? Ada yang bikin kamu ragu?”
“Bukan ragu, sih,” James menggeleng pelan. “Lebih ke... Tante juga tau, kan, aku sama Juan masih sama-sama gila kerjaan. Aku cuma takut kalau punya anak sekarang, kita malah nggak bisa kasih perhatian yang cukup. Nggak adil buat anaknya.”
Ia diam sebentar sebelum menambahkan, lebih pelan, “Juan juga masih belum terlalu nyaman sama anak kecil. Bukan nggak suka, ya, Tan—cuma dia kayaknya masih takut. Takut nggak bisa jadi ayah yang baik.”
Wanita itu ikut diam, menimbang-nimbang ucapan James. Tatapannya berpindah dari James ke Juan yang masih asyik ngobrol di meja makan, sama sekali tak sadar sedang dibicarakan. Ia tersenyum kecil, lalu mencubit gemas pipi James.
“Dari caramu ngomong gitu aja, Tante udah tau kok anak itu bakal jadi ayah yang baik. Cuma dia aja yang belum percaya sama dirinya sendiri.”
James mengangkat wajah, sedikit terkejut mendengarnya.
“Juan beruntung banget punya kamu, tau nggak,” lanjut sang tante, nadanya lebih pelan sekarang. “Yang sabar nungguin dia, yang percaya sama dia bahkan waktu dia sendiri belum percaya.”
James tertawa kecil, malu-malu. “Aku juga beruntung punya Juan, kok, Tan,” balasnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, tak sanggup menyembunyikan rona merah yang menjalar sampai ke leher. Sang tante hanya terkekeh geli melihat tingkahnya.
Ia menepuk pelan lutut James sebelum bangkit dari duduknya, hendak kembali membaur dengan yang lain. Namun sebelum benar-benar beranjak, ia sempat berhenti sejenak, menatap James dengan tatapan yang tiba-tiba jadi lebih hangat.
“Nggak usah buru-buru soal anak, Jem. Kalian berdua aja dulu udah cukup jadi keluarga. Yang penting kalian bahagia—entah cuma berdua, atau nanti ramai kayak rumah ini.”
James mengangguk pelan, menyimpan kalimat itu baik-baik di dalam hati.
---
Malam harinya, setelah acara keluarga besar itu selesai, mereka berdua akhirnya pamit pulang.
Juan yang menyetir, sedangkan James di kursi sebelahnya sudah hampir terlelap. Kepalanya bersandar ke kaca jendela, kedua tangan masih memeluk erat tote bag berisi titipan kue dari para tante yang tak henti-hentinya menyuruhnya bawa pulang oleh-oleh.
Di tengah keheningan itu, ponsel Juan berbunyi pelan.
Dari Juni—kembaranya. Sebuah foto terkirim.
Juan hanya sempat melirik sekilas saat mobil berhenti di lampu merah. Namun sekali lihat, matanya tak bisa lepas begitu saja.
Itu foto James.
Duduk lesehan di karpet ruang keluarga, dikelilingi anak-anak kecil yang tadi sore begitu lengket dengannya. Reka duduk manis di pangkuannya sambil nyengir lebar, satu bayi lain tertidur di bahunya, sementara dua bocah yang lain sibuk menarik-narik lengan James, meminta dibacakan buku gambar.
James sendiri tertawa sampai matanya nyaris menghilang. Natural. Tanpa sadar sedang difoto.
Tak lama, Juni mengirim pesan lagi. “Lucu banget istri kita,” tulisnya, disusul satu pesan lagi. “Cocok banget dah ngemong, gw tunggu 1 dari lo.”
Juan terdiam cukup lama menatap layar ponsel itu.
Jempolnya pelan-pelan menyimpan foto tersebut ke galeri. Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Ia membuka ruang obrolan dengan James—padahal orangnya sedang duduk tepat di sebelahnya. Tapi tetap saja jarinya mengetik, mengirimkan foto yang sama beserta satu pertanyaan singkat.
“Kamu suka banget, ya, sama anak kecil?”
Tak berselang lama, ponsel James ikut berbunyi. Ia yang masih setengah mengantuk meraba-raba mencari benda itu, dan begitu melihat isi pesannya, matanya langsung terbuka lebar.
“IH, DIFOTOIN SIAPA INI?!” balasnya, disusul emoji dan satu kalimat lagi bahwa Reka memang lucu sekali, lengkap dengan emoji memelas di belakangnya.
Juan tersenyum tipis melihat reaksi itu. Namun jarinya kembali sibuk mengetik. Berhenti. Hapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Sampai akhirnya ia hanya mengirim dua kata.
“Maaf, ya.”
James yang membaca pesan itu langsung menoleh ke kursi sebelahnya. “...Kenapa minta maaf?”
Juan tetap menatap jalanan di depannya, tak langsung menjawab. Ponselnya sudah ia matikan layarnya, diletakkan begitu saja di cup holder.
“Adik sayang.” James memanggil lagi, kali ini lebih pelan, mencoba menarik perhatian suaminya yang keliatan lagi mikir keras.
Juan menghela napas. Lampu merah menyala tepat waktu—seolah memberinya sedikit jeda untuk akhirnya bicara apa yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya.
“Aku tadi liat kamu sama anak-anak,” ucapnya pelan, masih enggan menoleh. “Kamu keliatan bahagia banget, Kakak.”
James diam, menunggu Juan melanjutkan.
“Aku tau kamu suka anak kecil,” lanjut Juan, suaranya makin pelan di akhir kalimat. “Sedangkan aku, nggak. Aku takut suatu hari nanti kamu ngerasa kehilangan sesuatu... gara-gara aku.”
Setelah kalimat itu keluar, Juan kembali fokus menyetir. Mobil melaju pelan, kabin dipenuhi kesunyian yang canggung.
James tidak langsung menanggapi. Ia justru perlahan mencari tangan Juan yang sedang memegang setir. Jari-jarinya menyelip di antara jemari Juan, menggenggamnya erat.
Juan menoleh sebentar. “Kenapa?”
James tersenyum kecil. “Kamu ngomong itu serius?”
“Serius,” balas Juan singkat.
“Yaudah, dengerin aku, ya, adik.”
“Sekarang?” tanya Juan.
“Sekarang,” ujar James sambil mengelus punggung tangan Juan dengan ibu jarinya. “Dengerin aku sekarang.”
Juan hanya diam, membiarkan James melanjutkan.
“Aku emang suka anak kecil,” mulai James. “Suka banget, malah. Tapi...” Ia menoleh sebentar ke luar jendela sebelum kembali menatap Juan. “...aku lebih suka hidup sama kamu.”
Juan tak langsung menjawab, membiarkan James melanjutkan penjelasannya.
“Aku seneng main sama anak-anak. Aku seneng gendong mereka, denger mereka ketawa. Tapi itu bukan berarti aku lagi ngebayangin hidup yang harus kayak gitu.” James tertawa kecil, lalu menambahkan, “Yang aku bayangin itu, bangun pagi terus nyari kamu. Pulang kerja terus cerita ke kamu. Weekend males-malesan sama kamu. Makan malem sama kamu. Hidup sama kamu. Sesederhana itu.”
Tenggorokan Juan mulai terasa berat mendengarnya.
James menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. “Kita pernah ngobrol soal ini, kan? Aku masih inget. Kita berdua sama-sama sibuk, dan kita udah sepakat kalau kita belum siap. Aku nggak pernah berubah pikiran soal itu.”
Genggaman tangan Juan mengerat.
“Tapi kamu suka anak kecil,” gumam Juan.
“Iya. Banget,” jawab James mantap. “Terus... aku juga suka kamu. Banget. Dan sekarang aku maunya lama-lama sama kamu dulu. Nggak usah buru-buru. Kita belajar jadi pasangan yang lebih baik. Belajar dewasa. Belajar ngerti satu sama lain. Belajar pulang ke orang yang sama setiap hari.”
James menoleh, menatap Juan lekat. “Kalau suatu hari nanti kita siap, ya kita pikirin lagi. Kalau ternyata jalannya beda, ya nggak apa-apa juga. Soalnya tujuan aku gak cuma punya anak.” Ia mencubit pelan tangan Juan yang masih digenggamnya. “Tujuan aku itu... kamu.”
Mobil kembali sunyi. Juan berkedip beberapa kali, menahan panas yang mulai menjalar di hidungnya.
“Sayang.”
“Hm?”
“Kamu tuh lucu,” ujar James sambil terkekeh pelan. “Kamu takut aku kecewa. Padahal yang bikin aku bahagia dari dulu, ya, kamu.” James mengangkat tangan Juan, menciumnya sekilas. “You’re my forever home.”
Juan tak langsung bisa menjawab. Ia hanya mengangkat tangan James yang masih tergenggam erat di tangannya, lalu menciumnya balik saat mobil kembali berhenti di lampu merah. Pelan. Hampir tak terasa.
“Maaf,” gumamnya lagi, suaranya nyaris pecah.
James langsung merengut. “Lagi.”
Juan menghela napas, berusaha tersenyum tipis. Namun usahanya sia-sia—satu tetes air mata sudah lebih dulu jatuh membasahi pipinya sebelum sempat ia tahan. Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, namun yang lain sudah menyusul turun.
“Eh.” James panik seketika, tangannya yang tadi digenggam Juan kini beralih mengusap pipi suaminya. “Loh, kok, nangis? Aku salah ngomong, ya?”
Juan menggeleng cepat, meski suaranya masih tercekat. “Nggak. Bukan salah kakak.”
“Terus kenapa?”
“Nggak tau,” jawab Juan jujur, sambil menyetir dengan pandangan mengabur oleh air mata yang terus turun. “Lega aja rasanya. Sama... makasih, karena udah milih aku.”
James terdiam sesaat, dadanya ikut sesak melihat suaminya menangis. Perlahan ia mendekat, mengusap air mata di pipi Juan dengan lembut, sesekali mengecup tangannya yang masih digenggam erat olehnya.
“Aku bukan milih kamu sekali doang, Juan,” bisik James pelan. “Aku milih kamu tiap hari. Tiap bangun tidur, tiap pulang kerja, tiap malem kayak gini. Selalu kamu.”
Juan menahan napas, isakannya perlahan mereda meski air matanya belum sepenuhnya berhenti. “Kok bisa aku dapet kamu, sih?”
James tertawa kecil, meski matanya sendiri sudah ikut berkaca-kaca. “Karena aku cantik.”
Juan tertawa pelan di sela isak yang tersisa. “You’re right.”
“Emang,” balas James, mencubit gemas pipi Juan yang basah.
Beruntung, lampu merah masih menyala cukup lama. James memanfaatkan waktu itu—tangannya yang tadi mengusap pipi Juan kini berpindah ke rahangnya, menuntun wajah suaminya untuk sedikit menoleh ke arahnya.
“Sini,” bisiknya pelan.
Juan menurut. James mengecup bibirnya sekali, lembut, sebelum menarik diri sedikit—seolah bertanya apakah boleh lanjut. Juan yang menjawab duluan, memajukan tubuhnya sendiri untuk mengejar bibir James, kali ini lebih lama, lebih dalam, seakan ingin menumpahkan semua yang tak sanggup ia katakan lewat kata-kata.
Tangan James yang bebas naik, menangkup pipi Juan, ibu jarinya mengusap sisa air mata yang masih basah di sana sementara ciuman itu berlanjut. Rasa asin air mata Juan ikut terselip di antara keduanya, namun tak ada satu pun dari mereka yang peduli.
Ciuman itu baru terlepas ketika napas keduanya mulai memburu, dahi James masih menempel di dahi Juan, jarak wajah mereka nyaris tak bersisa.
“Percaya, belum?” tanya James pelan, suaranya sedikit serak, senyumnya tipis.
Juan mengangguk, suaranya nyaris berbisik. “Percaya.”
Klakson mobil di belakang menyadarkan mereka bahwa lampu sudah berganti hijau. James buru-buru duduk tegak kembali sambil terkekeh geli, sedangkan Juan—dengan wajah masih basah dan memerah—kembali fokus menyetir sambil menahan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Udah, jangan mikir aneh-aneh,” ujar James lagi, tangannya kembali menggenggam tangan Juan yang bebas. “Masih banyak waktu. Kita tumbuh pelan-pelan aja. Bareng.”
Dan untuk pertama kalinya sejak melihat foto candid itu, dada Juan terasa jauh lebih ringan—meski pipinya masih basah, dan bibirnya masih terasa hangat, sepanjang sisa perjalanan pulang.
Foto itu tetap ia simpan. Bukan sebagai pengingat akan anak-anak yang mungkin suatu hari nanti akan hadir dalam hidup mereka, melainkan sebagai pengingat bahwa di antara tawa bocah-bocah yang mengerubungi James hari itu, ada satu hal yang paling menenangkan hati Juan—
Setelah semua anak-anak itu pulang ke rumah masing-masing, James tetap pulang bersamanya.
