Work Text:
"woonhak!"
woonhak menghentikan langkahnya saat ia menemukan pemuda itu berdiri tidak jauh dari hadapannya. ia menampilkan senyuman khasnya dengan mata yang berkerut senang. pemuda yang akhir-akhir ini selalu berusaha menganggu pikiran woonhak, han taesan.
ia mendekat, sedikit berlari kecil agar bisa segera berdiri di hadapan woonhak, "kenapa pulangnya lama sekali? aku sudah menunggumu sejak tadi."
woonhak terkejut tentu saja. mengapa pemuda itu bisa ada di sini? sedangkan jarak antara seoul dan busan itu tidaklah dekat. ditambah suhu malam ini sangatlah dingin. tadi di radio sempat mengabarkan bahwa suhu malam ini akan mencapai minus 2 derajat. woonhak tidak tahu sudah berapa lama taesan berdiri di depan kliniknya. tapi jika dilihat dari seberapa menggigilnya pemuda itu meskipun saat ini tubuh jangkungnya telah dibalut dengan coat yang tebal, woonhak bisa menebak bahwa ia telah menunggunya cukup lama. woonhak jadi kesal sendiri sekaligus penasaran, kenapa han taesan bisa bersikap seperti orang bodoh sekarang? berdiri di luar klinik tempat woonhak melakukan praktek di tengah cuaca dingin seperti ini.
"kakak ngapain di sini?"
"kan tadi aku sudah bilang, aku menunggumu pulang."
"bukan. maksudnya... untuk apa?"
ada keheningan sejenak sebelum taesan tersenyum. ia lalu mengambil satu tangan woonhak dan menggengamnya, "aku lapar," lalu matanya menatap ke arah woonhak, berusaha memberikan rayuan melalui tatapannya yang penuh harap, "aku belum makan sejak tadi siang. seharian ini aku sibuk rapat bersama papa dan timnya. terus aku ingat, kamu pernah bilang ada udon yang enak di dekat sini. ayo kita makan udon. aku ingin sekali makan udon malam ini."
"aku tidak menerima penolakan apapun," ujarnya cepat sebelum woonhak sempat menyalangkan protes padanya.
dan di sinilah mereka sekarang. duduk saling berhadapan di salah satu kedai udon yang letaknya tidak jauh dari klinik tempat woonhak melakukan praktek.
"ngapain sih kak jauh-jauh ke sini cuman mau makan udon?"
"kan tadi aku sudah bilang, kalau aku lapar."
"tapi di seoul juga ada udon kan?"
taesan yang sedang menyantap udonnya menghentikan kegiatannya sejenak. kepulan asap dari udon yang ada di atas meja mereka sedikit menghalangi pandangan matanya untuk melihat ke arah woonhak yang kini sedang menunduk sambil mengaduk udonnya dengan gerakan lambat.
"kakak gak mungkin jauh-jauh ke sini cuman untuk makan udon. itu alasan yang gak masuk akal buatku. apalagi cuaca sekarang sedang dingin dan kakak benci kedinginan."
taesan hanya terkekeh dan kini ia menatap ke arah woonhak dengan tatapan jahilnya.
"ya sudah, aku akan mengaku kalau begitu. aku cuman pengen makan malam sama kamu, woonhak."
"han taesan!" woonhak kesal setengah mati. bisa tidak sih, pemuda itu memberikan alasan yang sebenarnya?
"kakak. gak sopan manggil orang yang lebih tua dari kamu tanpa sebutan kakak, woonhak."
woonhak merotasikan matanya malas, "baiklah, kakak," jawabnya sambil memberikan sedikit penekanan pada kata kakak, "sekarang jujur sama aku. kenapa kakak ada di sini?"
"aku sudah jujur, woonhak, dan memang itu alasannya."
woonhak menghela napas pelan. ia masih belum menyuapkan sesendok udon pun ke mulutnya. padahal perutnya juga sudah keroncongan sejak ia masih bertugas di klinik. woonhak hanya menatap lurus ke arah taesan yang sedang menyantap udonnya dengan begitu nikmat.
"lain kali jangan begini... atau setidaknya hubungin aku sebelum kakak ke busan. kalau aku hari ini pulangnya telat gimana? kakak bisa mati kedinginan di luar!" omelnya. woonhak jadi kesal lagi saat ia kembali mengingat han taesan yang terlihat menggigil di hadapannya 15 menit yang lalu.
woonhak menuangkan air ke dalam gelas, lalu menyerahkannya ke hadapan taesan sambil melanjutkan, "lagian kakak punya banyak teman kan? lebih baik mengajak teman-teman kakak yang lain untuk makan bersama. di seoul juga ada udon kan? kakak bisa ajak kak leehan atau kak sungho lain kali."
"tapi di seoul tidak ada kamu, woonhak." cicitnya.
sorakan pengunjung kedai menggema, meredam suara taesan yang baru saja mengungkapkan alasan sebenarnya ia rela terbang jauh dari seoul ke busan hanya untuk semangkuk udon. semua pengunjung bersuka cita saat televisi sedang menayangkan liga persahabatan sepak bola antara korea dan indonesia. satu gol yang masuk ke lubang lawan membawa kebahagiaan bagi semua pengunjung kedai. terkecuali taesan dan woonhak yang kini sedang bertarung dengan perasaan mereka masing‐masing.
"apa kak? gak kedengeran," woonhak berusaha mendekatkan telinganya pada taesan yang sedang duduk di hadapannya. ya... meskipun tidak akan menghasilkan apa‐apa karena woonhak sendiri tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya duduk. tapi setidaknya taesan tahu, kalau woonhak sama sekali tidak mendengar ucapannya barusan.
"udonnya enak. hari ini kamu yang traktir ya!?"
apa-apaan?!! padahal dia sendiri yang datang seenaknya malam ini tapi malah woonhak yang diminta mentraktirnya makan. woonhak sebenarnya ingin mengomel lagi, tapi energinya terasa habis sekarang. dan berakhir ia hanya menghela napas panjang. menyerah.
"terserahlah," ucap woonhak sebelum ia mulai menyantap udonnya.
"oh, ya! woonhak..."
"hm?"
"tadi selama perjalanan ke sini, aku sempat mencari rekomendasi restoran yang wajib kita kunjungin saat ke busan. aku sudah milih beberapa restoran yang makanannya ingin aku coba bersama kamu nanti."
woonhak hanya diam dan mendengarkan semua penjelasan dari taesan.
atau mungkin tidak?
woonhak hanya melihat bagaimana semangatnya pemuda itu menjelaskan rencana itu kepadanya tanpa benar‐benar mendengar hal apa yang sedang taesan bicarakan.
woonhak sebenarnya kesal saat melihat taesan di hadapannya malam ini. pemuda itulah alasannya meninggalkan seoul dan kembali ke kampung halaman ibunya di busan. alasan sederhananya, ia hanya ingin menghindari han taesan.
bertahun‐tahun menjalin ikatan sebagai sahabat dengannya membuat woonhak mau tak mau terjatuh ke dalam pesonanya. pesona dalam arti sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang setiap kali ia bersama taesan dan menanti hari-hari lainnya yang akan dihabiskan bersama pemuda itu. ditambah lagi bagaimana taesan selalu menempel padanya seperti perangko.
meskipun seringnya taesan selalu menjahilinya tanpa ampun. tapi taesan tidak pernah sekalipun menolak saat woonhak membutuhkan bantuannya. ia selalu menyediakan waktunya untuk woonhak, dan juga selalu menjadi tameng untuknya setiap kali woonhak terlibat masalah. bagaimana coba woonhak tidak akan jatuh cinta kepadanya?
berkali-kali orang mengira mereka adalah sepasang kekasih, dan berkali-kali pula mereka menyangkalnya, bahwa hubungan itu tak lebih dari sekadar pertemanan. tapi woonhak tidak bisa memungkiri bahwa ia telah jatuh cinta pada han taesan sejak lama.
dan mungkin karena terlalu sering mengatakan bahwa mereka hanyalah teman, woonhak mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaannya yang tumbuh untuk han taesan seharusnya tidak pernah ada.
"kamu mau kan kesini? lihat, kayaknya gukbap di restoran ini sangat enak. kamu juga suka gukbap, bukan? ratingnya juga bagus. tertulis 4,4 dan termasuk rekomendasi teratas."
seketika woonhak tersadar dari lamunannya. tidak. ini salah. jika ia benar‐benar ingin menghindari taesan tidak seharusnya ia berada di sini sekarang.
"kak... maaf. tapi aku harus pulang sekarang."
"kenapa buru‐buru? udonnya juga belum habis."
"aku harus menyerahkan laporan praktekku malam ini. kakak bisa habiskan saja makanannya. lalu menginaplah di salah satu hotel terdekat dan kembali ke seoul esok hari. kabari aku kalau kakak sudah tiba di seoul besok."
buru‐buru woonhak mengambil syal juga tasnya yang ia letakkan di kursi di sebelahnya dan segera melenggang pergi meninggalkan taesan. dengan langkah cepat woonhak meninggalkan kedai udon itu. namun sayang, langkahnya harus terhenti tidak jauh dari kedai karena taesan segera menghalangi jalannya.
"aku antar pulang, ya?"
woonhak berusaha melepaskan tangan taesan pada lengannya, "gak perlu. kakak lanjut makan aja. aku bisa pulang sendiri kok."
"kamu kenapa sih, woonhak? kamu marah, ya?"
woonhak mengepalkan tangannya, menutup kedua matanya rapat, lalu menghembuskan napasnya kasar, "kak, aku harus segera pulang. tolong biarkan aku pulang, ya?"
"jelasin dulu kamu kenapa? kenapa gak mau aku antar pulang? kamu kalau bersikap begini artinya kamu marah sama aku. aku buat kesalahan apa kali ini sampai-sampai kamu gak mau aku antar pulang?"
woonhak menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali menghembuskannya kasar dan mencicit, "iya, aku marah. aku marah sekali sama kamu, kak. aku juga marah sekali dengan diriku sendiri."
taesan menangkup wajah woonhak dengan kedua tangannya. ia usap pelan pipi gembil woonhak dengan ibu jarinya seakan ingin menenangkan anak itu yang sepertinya akan segera menangis.
"hey... aku minta maaf, ya? aku beneran gak tahu hal apa yang sudah aku lakukan sampai kamu semarah ini. kalau boleh, bilang ke aku sekarang, aku salah apa? aku pengen tahu biar aku gak akan ngulangin kesalahan yang sama."
woonhak masih terus mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menekan kuat pada telapak tangannya. terjadi pergejolakan di dalam diri woonhak sebelum ia semakin yakin dengan pilihan katakan atau tidak sama sekali.
dengan mata yang masih berkaca-kaca woonhak memberanikan diri untuk menatap ke arah mata teduh taesan.
"kenapa kakak harus hadir di hadapanku sekarang? apa kamu gak tahu, kak, kalau aku sengaja memilih pergi jauh ke busan hanya untuk ngehindarin kakak? aku mau ngelupain kamu, kak. aku gak mau terlibat perasaan suka ini sama kamu. karena aku tahu, kamu gak akan pernah bisa punya perasaan yang sama kayak aku. aku kesel. kesel banget. jauh-jauh aku kesini biar aku gak lihat kamu lagi. tapi usahaku kerasa sia-sia waktu aku lihat kamu ada di hadapanku. aku gak bisa bohong... disatu sisi, aku juga merasa senang karena bisa lihat kamu ada di sini..."
taesan hanya bisa terdiam membeku mendengar semua ucapan woonhak.
sebenarnya, taesan tahu kalau woonhak menyukainya. taesan sudah tahu itu sejak lama. ia pun punya perasaan yang sama. tapi dengan bodohnya, taesan juga menahan perasaannya hanya karena ia juga tidak ingin merusak label persahabatannya dengan woonhak.
tapi taesan tidak tahu bahwa dialah alasan mengapa woonhak kembali ke busan.
taesan tersenyum lembut. begitu lembut sampai woonhak tidak berani untuk menatapnya lagi, karena takut akan semakin jatuh hati. taesan kemudian menarik woonhak ke pelukannya. memeluk tubuh anak itu begitu erat. menumpahkan seluruh rasa lega yang ia rasakan atas segala hal yang telah woonhak ungkapkan kepadanya.
"astaga... sepertinya aku sudah membuat kesalahan yang cukup besar, ya?"
taesan tersenyum dalam pelukan itu. rasa hangat kini menjalari hatinya lalu naik merambat pada kedua pipinya.
"maafkan aku, ya? aku beneran gak tahu kalau aku lah alasan sebenarnya kenapa kamu memilih pergi jauh ke busan. tapi, bagaimana ya? hidupku rasanya sepi sekali kalau kamu tidak ada di sampingku, woonhak."
"makanya cari pasangan sana. jangan gangguin aku terus. aku bosen tahu gak digangguin terus sama kamu, kak!? aku juga perlu bekerja untuk hidup. tapi kamu selalu saja datang dengan seenaknya hanya untuk menggangguku."
"ya... sebenarnya, alasanku datang jauh ke busan sekarang juga untuk bertemu dia sih."
woonhak mendongak sedikit untuk melihat ke arah taesan.
"bertemu siapa?"
"calon pasanganku."
deg.
"ahh..."
taesan bisa menangkap ada nada kekecewaan dari respon singkat itu.
"siapa? dia tinggal di busan juga, ya? aku kenal dia gak, kak?"
"iya, dia tinggal di busan sekarang, dan harusnya kamu kenal banget sih sama dia."
"siapa?"
"kim woonhak."
"ya?"
"namanya kim woonhak."
taesan melepaskan pelukannya dan kembali menangkup wajah woonhak yang kini terasa semakin dingin dengan kedua tangannya, "aku suka sama kamu, woonhak. ah, gak. ini harusnya udah masuk fase cinta sama kamu. aku sebenarnya tahu kalau kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku. tapi tetap aja aku gak berani buat nyatain perasaanku karena aku takut merusak hubungan ini dan kehilangan kamu selamanya. tapi sekarang, aku yakin, kalau aku benar-benar butuh kamu buat ada di sampingku seumur hidup. jadi, kamu mau kan berjalan terus disampingku dan terus menjadi teman hidupku sampai kita berdua tua nanti?"
"sebentar, ini tuh... aku dilamar?"
taesan tertawa, "menurut kamu?"
woonhak berdecak kesal, "bisa gak lamarannya tuh yang bener dikit gitu? masa kamu ngelamar aku di depan kedai udon, kak?"
"emang kamu mau lamaran seperti apa? kamu mau aku lamar dengan nyanyi sambil bawa gitar? atau kamu mau aku menyusun lilin menjadi bentuk hati lalu..."
cup.
satu kecupan mendarat manis di bibir taesan. membuatnya kini terdiam dan mendadak kelu untuk melanjutkan ucapannya lagi. sedangkan woonhak hanya tertawa saat melihat taesan yang kini membeku. lalu, ia mendaratkan satu kecupan lagi di bibir taesan, dan berkata, "aku juga cinta banget sama kamu, kak."
"hey..."
"apa?"
"kamu belum jawab lho pertanyaanku..."
"pertanyaan apa?"
"itu... kamu mau kan jadi teman hidupku?"
woonhak diam sebentar sebelum kembali menatap ke arah taesan dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa ditebak oleh pemuda yang lebih tua, "aku pikir‐pikir dulu deh," jawabnya kemudian.
"kamu hanya perlu jawab iya atau tidak. kenapa harus mikir‐mikir lagi?"
"aku harus mikir dulu aku bakalan kuat gak digangguin sama kamu seumur hidupku?!"
"hey, kim woonhak."
"apa?"
"aku sudah terlalu terbiasa berada di sekitarmu. jadi, jangan harap setelah kamu menolakku aku akan pergi begitu saja. aku akan tetap mengganggumu dan membuatmu kesal seumur hidup. jadi, lebih baik menikahlah denganku. setidaknya nanti saat kamu merasa kesal kamu bisa mengeluh padaku sebagai suami kecilku. kamu mengerti kan?"
— selesai.
