Work Text:
Wowo, President Konoha, sudah 1 tahun dikenal sebagai bos paling tone deaf, sekaligus orang yg paling disayang sama Raja Solo. Badannya tambun, pipinya selalu merah kalau lagi marah presentasi meleset, dan dia punya kebiasaan aneh: kalau stres, dia selalu menggebrak meja sambil ngomel "ATEK-ATEK ASING!" atau "dnas mu" dengan lembut di depan jutaan orang.
Yang tahu persis semua kebiasaan itu cuma satu orang (dunia), Bunda Teddy, atau biasa di sering Bunna, merupakan (mantan) bodyguard pribadinya sejak tujuh tahun lalu dan sekarang sudah menjadi Sekretaris Kabinet (Seskab). Meski begitu, badan Bunna tetap besar dan berisi, lengannya seukuran paha orang normal, tapi anehnya dia paling sabar menghadapi bos yang moody itu.
---
Sore itu hujan deras. Rapat berlalu sampai jam tujuh malam, dan seperti biasa, Wowo keluar ruang meeting dengan wajah kusut.
"Bunna, mobil di mana?"
"Diparkir agak jauh, Pak. Ada demo di depan gedung, jalur ditutup." Bunna sudah berdiri di lobi, membawa payung besar berwarna hitam. "Sini, saya antar."
Wowo mendengus, tapi tetap berjalan mendekat. Payung itu cuma cukup untuk satu orang sebenarnya, tapi entah kenapa, setiap hujan turun, Bunna selalu berhasil membuat mereka berdua muat di bawahnya, dengan cara memiringkan tubuhnya sedikit ke luar supaya Wowo yang lebih basah kena air.
"Kamu itu, kenapa selalu miring gitu badannya? Basah kan bahumu."
"Nggak apa-apa, Pak. Saya kan lebih berisi, tahan dingin."
Wowo diam. Ada rasa hangat aneh yang menjalar di dadanya setiap kali Bunna bilang begitu, seolah tubuh besar itu memang diciptakan untuk jadi tempat berlindung.
---
Mereka berjalan pelan menuju parkiran, suara hujan menutupi suara langkah. Di tengah jalan, Wowo tiba-tiba berhenti.
"Bunna."
"Ya, Pak?"
"Aku... gendut ya?"
Bunna menoleh, kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Kenapa nanya begitu, Pak?"
"Tadi di rapat, ada klien bisik-bisik. Katanya aneh, Presiden kok badannya kayak gini." Wowo tertawa kecil, tapi matanya nggak ikut tertawa.
Bunna berhenti jalan. Payung diam di atas kepala mereka berdua, hujan makin deras di sekelilingnya.
"Pak," katanya pelan, "saya nggak tahu klien itu ngomong apa. Tapi buat saya, badan Bapak itu... pas. Pas buat dipeluk, pas buat dilindungi, dan—" Bunna berhenti sebentar, seperti ragu mau lanjut atau enggak, "—pas buat saya suka."
Wowo mendongak. "Apa?"
"Saya suka Bapak, dari dulu. Bukan cuma karena tugas jaga. Saya suka caranya Bapak joget gemoy buat dapatin hati saya, suka caranya Bapak teriak atek atek asing tapi tetep keluar negeri pakai pajak negeri, lalu bersiteguh bahwa Mbg akan lanjut sesuai mimpi yg Bapak ceritakan setiap pagi. Saya suka badan Bapak yang katanya orang aneh itu, karena buat saya itu yang bikin saya pengen terus di samping Bapak."
Hujan makin deras, tapi keduanya berdiri diam di bawah satu payung yang sama, jarak yang biasanya dijaga rapi oleh profesionalitas kini menghilang begitu saja.
Wowo ketawa gugup, pipinya yang tembam memerah, kali ini bukan karena marah. "K-Kamu... nembak aku di tengah hujan, di parkiran istana, sambil bawa payung?"
" Hehe, Kayaknya iya, Pak."
"Nggak romantis sama sekali, hmp! "
"Tapi Bapak nggak nolak, kan?"
"..."
Wowo diam sebentar, lalu melangkah lebih dekat, sampai bahu mereka bersentuhan di bawah payung yang sama. "Nggak," katanya pelan. "Nggak nolak." Senyum tipis kini bersandir si bawahnya yg bulat.
Bunna tersenyum lebar, tangan besarnya perlahan menggenggam tangan Wowo yang lebih kecil. Untuk pertama kalinya, payung hitam itu berhasil melindungi mereka berdua dengan sempurna, tanpa ada yang perlu miring, tanpa ada yang perlu basah sendirian.
"Mulai sekarang," kata Bunna, "biar saya yang jagain Bapak. Bukan cuma sebagai Sekertaris Kabinet saja."
Wowo mengangguk kecil, menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Bunna yang besar dan hangat. "Ya udah. Tapi jangan cerita ke siapa-siapa dulu di istana."
"Siap, Pak Bos."
Hujan perlahan mereda, tapi keduanya masih berdiri di sana sebentar lebih lama dari yang seharusnya, menikmati momen di mana bos yang chubby dan (mantan) bodyguard yang berisi itu, untuk pertama kalinya, saling menggenggam bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai dua orang yang akhirnya jujur soal perasaan masing-masing.
*Tamat.*
