Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-28
Words:
3,064
Chapters:
1/1
Kudos:
18
Bookmarks:
2
Hits:
139

Love Me - JAEMREN

Summary:

Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyuman manis dan kemesraan yang membuat iri satu kampus itu, ada dua jiwa yang saling merusak, saling mengunci, dan saling mencintai dengan cara yang paling sakit dan paling indah di dunia.

Karena bagi mereka, cinta bukan tentang kebebasan.

Cinta adalah tentang memastikan bahwa tidak ada jalan untuk keluar.

Notes:

BY @MIYOVSUI
you can find me on wp.

first time uploading in ao3, despite being a long time reader here.
enjoy!

Work Text:

 

 

 

Di bawah langit sore Jakarta yang mendung tipis, parkiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis selalu menjadi tempat paling ramai untuk sekadar nongkrong, menunggu jemputan ojek online, atau meributkan jadwal revisi skripsi. Namun, perhatian sebagian besar mahasiswa sore itu seolah tersedot ke arah sudut lorong dekat perpustakaan.

 

Di sana, Na Jaemin berdiri sambil menenteng dua gelas iced americano di tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan sabar merapikan helaian rambut Renjun yang berantakan karena angin senja.

 

Renjun (dengan tas ransel hitam tersampir di satu bahu dan bibir sedikit mengerucut) membiarkan Jaemin melakukan itu. Tidak ada penolakan. Malah, sedetik kemudian, tangan lentik Renjun terulur untuk melingkar di pinggang Jaemin, menarik tubuh jangkung itu sedikit mendekat sebelum akhirnya kepalanya bersandar nyaman di dada bidang kekasihnya.

 

"Nanti malam jangan tidur malam-malam, ya," bisik Jaemin lembut, nyaris tenggelam di antara bisingnya suara kendaraan dari jalan raya luar kampus. "Tugas akuntansi kamu belum kelar, kan? Nanti aku temenin telepon sampai kamu ketiduran."

 

Renjun mendongak, matanya yang jernih menatap Jaemin lekat-lekat sebelum bibirnya tersenyum tipis. "Iya, bawel."

 

Beberapa meter dari mereka, sekelompok anak tingkat akhir yang sedang duduk di atas paving block berbisik-bisik sambil geleng-geleng kepala.

 

"Sumpah ya, itu dua orang nggak ada bosen-bosennya mesra terus," kata Jeno, menyenggol lengan Mark yang sedang fokus memainkan ponsel. "Udah tiga tahun pacaran, tapi gayanya masih kayak orang PDKT minggu pertama."

 

Mark mendengkus pelan, meneguk es teh kotaknya. "Emang gemesin sih. Si Renjun kalau lagi manja gitu keliatannya nggak punya dosa banget. Padahal ya..." Mark melirik sekilas ke arah pasangan tersebut. "Kemarin waktu tugas kelompok, Renjun ngeliatin cewek sekelompok kita kayak mau nerkam cuma karena tuh cewek minjem pulpennya Jaemin."

 

Jisung tertawa renyah. "Ah, wajar kali. Namanya juga cemburu. Renjun kan emang posesif, tapi Jaeminnya sabar banget. Coba kalau gue yang digituin, udah gue putusin dari semester dua."

 

Semua orang di kampus memang sepakat dengan kalimat itu, Jaemin adalah lambang kesabaran, dan Renjun adalah definisi pacar posesif yang manis.

*****

Malam harinya, di dalam kamar apartemen minimalis milik Jaemin yang terletak tidak jauh dari kampus, suasana hangat mendadak berubah dingin hanya karena sebuah notifikasi layar ponsel.

 

Renjun yang sedang duduk bersila di atas karpet bulu sambil merapikan laporannya tiba-tiba menghentikan gerakannya. Matanya melirik tajam ke arah ponsel Jaemin yang ditaruh di atas meja nakas. Layar itu menyala terang, menampilkan sebuah pesan masuk dari nama yang sangat dihafal oleh Renjun.

 

“Jaem, besok jadi kan kelompok kita ketemuan di perpus jam 10 pagi? Jangan ngaret ya.” dari Kirana, Divisi PDD.



Jaemin, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil menggantung di lehernya, melangkah santai ke arah dapur kecil untuk menuang air putih. Namun, langkahnya terhenti saat merasakan atmosfer ruangan yang berubah drastis.

 

Udara di dalam kamar terasa lebih dingin.

 

Jaemin melirik Renjun. Punggung kekasihnya itu tegak dan kaku. Tidak ada suara ketikan keyboard lagi. Tidak ada gumaman kecil atau senandung pelan yang biasa Renjun lakukan saat mengerjakan tugas.

 

Jaemin meletakkan gelasnya di atas meja pantry, lalu berjalan mendekat. Ia tahu betul tanda-tanda ini. Badai kecil sedang bersiap menerjang.

 

"Udah hampir kelar laporannya?" tanya Jaemin lembut, sengaja memilih duduk di samping Renjun, mencoba merangkul bahu kekasihnya.

 

Renjun langsung menepis pelan tangan Jaemin.

 

Jaemin tidak marah. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum kecil yang nyaris tak kasat mata, yang selalu ia simpan di balik kesabarannya.

 

"Kenapa?" tanya Jaemin tenang.

 

Renjun menoleh. Mata indahnya menatap Jaemin tajam, menyiratkan bara api yang tertahan di balik bulu matanya yang lentik. 

 

"Kirana ngechat apa?"

 

"Cuma nanyain jadwal kelompok besok," jawab Jaemin jujur, tanpa ada keraguan sedikit pun di suaranya.

 

"Jam sepuluh pagi di perpus," sambung Renjun, menirukan isi pesan itu dengan nada sinis yang dibuat-buat. "Kenapa harus dia yang ngechat? Emang nggak bisa di grup aja? Kenapa harus PC pribadi? Biar apa? Biar kalian bisa ngobrol berdua?"

 

"Ren, itu cuma urusan organisasi. Kemarin kan aku udah bilang, aku jadi penanggung jawab materi...."

 

"Aku nggak peduli soal materi!" potong Renjun setengah berteriak, suaranya bergetar karena emosi yang mendadak meluap. "Aku nggak suka dia terlalu sering ngechat kamu di luar jam kampus, Jaemin! Kamu tahu kan aku paling benci kalau ada cewek yang sok akrab sama kamu?"

 

Jaemin menghela napas pelan. Ia mendekatkan wajahnya, mencoba meraih tangan Renjun yang terkepal di atas pangkuan. "Dia cuma rekan kerja kelompok, sayang. Nggak ada apa-apa."

 

"Sayang, sayang…. gampang banget ngomong gitu!" Renjun menarik tangannya kasar. Wajahnya memerah, menahan air mata kekesalan yang mendesak keluar. "Kamu tuh sengaja, kan? Biar aku cemburu? Biar aku keliatan gila di mata kamu?"

 

"Mana mungkin aku sengaja bikin kamu sedih?" Jaemin berbicara dengan nada paling lembut yang ia punya, membelai pelan pipi Renjun yang langsung ditepis lagi oleh pemiliknya.

 

"Terserah!" Renjun berdiri dengan kasar, membereskan laptopnya dengan tergesa-gesa hingga beberapa lembar kertas berserakan di lantai. "Aku mau pulang. Gila lama-lama ngobrol sama kamu."

 

Jaemin tidak bangun dari duduknya. Ia hanya mendongak, memperhatikan setiap gerak-gerik Renjun dengan tatapan yang sulit diartikan, bukan tatapan lelah, tapi tatapan seseorang yang sedang menikmati tontonan favoritnya.

 

"Udah malem, Renjun. Besok kan kuliah pagi," kata Jaemin santai.

 

"Bodo amat! Mau pagi, mau malem, aku nggak peduli!" Renjun menyambar jaketnya, lalu berjalan menuju pintu apartemen. 

 

Sebelum membuka knop pintu, ia sempat berbalik dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. "Kalau kamu betah banget dichat sama Kirana, mending pacaran aja sana sama dia!"

 

BRAK!

 

Pintu apartemen tertutup rapat. Suara dentumannya menggema di ruangan yang mendadak sunyi.

 

Jaemin sendirian di ruang tamu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. 

 

Senyum kecil yang tadinya tertahan kini terukir jelas di bibirnya. Sebuah tawa pelan lolos dari mulutnya.

 

Ia melirik jam dinding. Pukul sembilan malam.

 

Jaemin tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Siklus ini sudah berulang puluhan kali selama tiga tahun terakhir.

 

Renjun marah. 

 

Renjun pergi. 

 

Renjun merasa menang karena melampiaskan emosinya. 

 

Lalu, begitu ia sampai di jalanan sepi atau tiba di kosannya yang kosong, rasa takut itu akan menghantamnya telak. Rasa takut bahwa Jaemin benar-benar lelah dan meninggalkannya.

 

Dan Jaemin hanya perlu duduk manis di sini, menunggu waktu yang tepat.

 

*****

 

Minggu-minggu berikutnya, suasana di antara mereka tidak kunjung membaik, justru semakin meruncing menjadi ketegangan yang menyesakkan.

 

Kirana, mahasiswi baru yang menjadi bahan kecemburuan Renjun, memang tipikal orang yang supel dan aktif. Sialnya, ia dan Jaemin kebetulan berada di panitia acara puncak Dies Natalis kampus. Otomatis, frekuensi pertemuan mereka jadi meningkat.

 

Setiap kali Renjun tanpa sengaja berpapasan dengan Jaemin dan Kirana di kantin atau parkiran di gedung rektorat, dunianya seakan berhenti berputar.

 

Hari itu, di kantin utama yang penuh sesak, Renjun duduk bersama dua sahabatnya, Haechan dan Chenle. Namun, mata Renjun sama sekali tidak lepas dari meja di sudut seberang sana, tempat Jaemin sedang duduk berdua dengan Kirana di sebuah meja kecil, sibuk membicarakan berkas proposal acara sambil sesekali tertawa kecil karena sebuah lelucon.

 

"Ren, mata lo mau copot tuh," komentar Haechan sambil menyuap mie ayamnya. "Udah, biarin aja. Namanya juga rapat panitia. Mau gimana lagi?"

 

"Lo liat kan cara Kirana ngeliat dia?" suara Renjun terdengar dingin, tangannya mencengkeram erat gelas plastik es teh sampai remuk. "Dia ngeliat Jaemin sambil senyum-senyum sok manis. Risih banget."

 

"Elah, Ren. Jaemin kan emang ramah ke semua orang. Lo-nya aja yang terlalu over," timpal Chenle santai. "Temen-temen kita juga udah sering ngomongin lo, tahu. Lo tuh posesif banget akhir-akhir ini. Jaemin nggak boleh ngobrol sama cewek, nggak boleh telat bales chat lebih dari setengah jam. Kalau gue jadi Jaemin, udah dari kemarin gue kabur."

Kata-kata Chenle, meskipun diucapkan dengan nada santai bercanda, menusuk tepat di ulu hati Renjun. 



Harga dirinya merosot. 

 

Napasnya mulai memburu.

 

Tanpa aba-aba, Renjun berdiri dari bangkunya.

 

"Mau kemana lo?" tanya Haechan kaget.

Renjun tidak menjawab. Ia melangkah cepat, menghampiri meja Jaemin. Begitu sampai di dekat meja mereka, Renjun langsung menarik lengan Jaemin kuat-kuat tanpa memedulikan tatapan puluhan mahasiswa lain di kantin.

 

Jaemin terkejut, namun ia langsung berdiri saat melihat wajah Renjun yang sudah pucat pasi karena menahan amarah dan cemburu yang teramat sangat kuat.

 

"Jaemin, pulang sekarang," ucap Renjun penuh penekanan, suaranya bergetar hebat. "Atau aku yang pulang sendiri dan kita putus sekarang juga."

 

Suasana kantin mendadak sunyi seketika. Beberapa mahasiswa yang tadinya gaduh langsung menoleh ke arah mereka. Kirana, yang duduk di samping Jaemin, tampak salah tingkah dan kebingungan.

 

Jaemin menatap Renjun lama. Alih-alih marah karena dipermalukan di depan umum, Jaemin justru melihat kilatan air mata di ujung mata Renjun,

 

Ketakutan yang dibungkus dengan amarah.

 

Jaemin menoleh ke arah Kirana, lalu tersenyum sopan. "Kirana, kayaknya rapatnya kita lanjutin nanti aja ya. Pacar aku lagi nggak enak badan."

 

Tanpa menunggu jawaban Kirana, Jaemin langsung meraih pergelangan tangan Renjun, menggenggamnya erat-erat, dan membawanya keluar dari area kantin menuju parkiran motor yang lebih sepi.

 

Begitu sampai di dekat mobil Jaemin yang terparkir di ujung, Renjun langsung meronta, melepaskan cengkeraman tangan Jaemin dengan kasar.

 

"Lepas!" teriak Renjun, air matanya akhirnya tumpah juga. Ia tidak lagi peduli pada gengsinya. "Kamu seneng kan diliatin banyak orang tadi? Kamu sengaja kan bikin aku keliatan kayak orang gila di depan temen-temen kamu?"

 

Jaemin terdiam sejenak. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Renjun dengan pandangan yang tenang,

 

terlalu tenang untuk ukuran seorang pria yang baru saja diteriaki di depan umum.

 

"Kamu pikir aku sengaja?" tanya Jaemin pelan.

 

"Iya! Kamu tuh sengaja!" seru Renjun, suaranya serak. "Kamu tahu aku benci lihat kamu dekat-dekat sama Kirana, tapi kamu tetep aja ladenin dia! Kamu pengen lihat aku cemburu kan? Kamu pengen aku nangis-nangis kayak gini biar kamu ngerasa dibutuhin?!"

 

Jaemin tidak langsung membantah. Ia malah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. Jarinya yang hangat terulur untuk menghapus air mata di pipi Renjun, meski Renjun sempat mencoba membuang muka.

 

"Kalau iya, emangnya kenapa?" bisik Jaemin tepat di telinga Renjun.

 

Renjun membeku. Napasnya mendadak tercekat. Ia mendongak, menatap mata Jaemin yang kini memancarkan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya,

 

sebuah sorot mata yang gelap, dalam, dan mengerikan.

 

"Apa maksud kamu?" cicit Renjun, suaranya melemah.

 

Jaemin tersenyum tipis, ibu jarinya mengusap bibir bawah Renjun dengan lembut, namun cengkeraman tangan kanannya di pinggang Renjun mengunci pergerakan pemuda itu sepenuhnya.

 

"Kamu pikir cuma kamu yang posesif, Ren?" bisik Jaemin lagi, suaranya begitu rendah namun jelas terdengar di tengah riuhnya angin sore. "Kamu pikir aku nggak tahu kalau setiap kali aku telat bales chat, kamu ngecek kapan terakhir kali aku online? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu nyuruh teman-teman sekelas buat ngawasin aku waktu aku lagi ada urusan di himpunan?"

 

Renjun terbelalak. Seluruh darahnya terasa berhenti mengalir. "K-kamu….."

 

"Aku tahu semuanya, Renjun," potong Jaemin, senyumnya semakin melebar namun sama sekali tidak mencapai matanya. "Aku tahu setiap detail kecil tentang kamu. Aku tahu siapa aja yang nge-chat kamu, siapa aja yang ngeliat kamu terlalu lama di kampus, dan aku tahu seberapa besar kamu takut kehilangan aku."

 

Jaemin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Dan jujur, aku suka itu. Aku suka setiap kali kamu cemburu sampai mau mati. Aku suka setiap kali kamu nangis karena takut aku diambil orang lain. Karena itu buktinya kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku."

 

Renjun merasa dunianya runtuh seketika. 

 

Selama ini ia mengira dirinya adalah monster dalam hubungan ini, pihak yang toxic, yang selalu menuntut, yang posesif dan menyiksa Jaemin dengan kecemburuannya.

 

Tetapi pada malam itu, di bawah temaram lampu parkiran kampus, Renjun menyadari satu kebenaran yang jauh lebih menakutkan,

 

Jaemin tidak pernah sabar karena tersiksa.

 

Jaemin bersabar karena ia menikmati setiap detik racun yang disuntikkan Renjun ke dalam hubungan mereka.

 

Dan Jaemin jauh lebih gila daripada dirinya.

 

*****

 

Malam itu menjadi titik balik yang membungkam keduanya dalam keheningan yang panjang.

 

Renjun tidak lagi ingin berdebat. 

 

Tidak ada lagi amukan, tidak ada lagi lemparan barang atau ancaman putus. Sejak malam di parkiran itu, dinamika hubungan mereka bergeser ke fase yang jauh lebih sunyi dan mencekam.

 

Mereka tetap berjalan bersama ke kampus. 

 

Jaemin tetap dengan rutinitasnya membawakan tas Renjun. 

 

dan Renjun tetap menggandeng lengan Jaemin di kantin. 

 

Di mata orang-orang, mereka tetaplah pasangan idaman yang sempurna.

 

Namun di balik senyuman ramah itu, ada lapisan es tipis yang siap retak kapan saja.

*****

Pukul dua malam, di dalam kamar apartemen Jaemin yang gelap, Renjun terbangun karena haus. Ia meraba sisi kasur yang terasa kosong. Jaemin tidak ada di sampingnya.

 

Dengan langkah pelan dan tertatih karena kantuk, Renjun berjalan keluar menuju ruang tengah. Lampu dapur tidak menyala, namun ada cahaya kebiruan yang berpendar dari layar laptop Jaemin di atas meja kerja.

 

Jaemin duduk di kursi menghadap layar, mengenakan kaos hitam polos. Di samping laptopnya, sebuah ponsel menyala terang.

 

Renjun tadinya hendak memanggil, namun langkahnya terhenti saat melihat apa yang sedang dilakukan Jaemin.

 

Jaemin tidak sedang mengerjakan tugas kuliah. Pria itu sedang membuka sebuah folder tersembunyi di dalam laptopnya, folder dengan sandi yang menggunakan tanggal jadian mereka.

 

Renjun mendekat tanpa suara, berdiri tepat di belakang punggung Jaemin yang tidak menyadari kehadiran kekasihnya.

 

Layar laptop itu penuh dengan ratusan foto Renjun.

 

Bukan foto-foto manis yang biasa mereka unggah ke Instagram. Itu adalah foto-foto candid yang diambil tanpa sepengetahuan Renjun.

 

Foto Renjun sedang tidur dengan mulut sedikit terbuka di perpustakaan.

 

Foto Renjun sedang melotot kesal ke arah mahasiswi lain di koridor tiga minggu lalu.

 

Foto Renjun dari angle belakang saat sedang berjalan sendirian menuju gerbang kampus.

 

Bahkan ada tangkapan layar dari riwayat lokasi Google Maps milik Renjun yang aktif selama 24 jam penuh di ponsel Jaemin.

 

Di samping folder foto itu, ada sebuah dokumen teks terbuka berisi catatan-catatan harian yang ditulis oleh Jaemin. Renjun sempat membaca beberapa baris kalimat teratas sebelum matanya terbelalak ngeri,

 

12 Oktober. Hari ini Renjun ngambek lagi karena aku ngobrol sama kakak tingkat. Mukanya merah banget waktu cemburu. Lucu. Aku sengaja nggak nge-chat dia selama dua jam berikutnya biar dia makin panik. Dan benar, jam delapan malam dia udah nongol di depan pintu apartemenku dengan mata sembab.”

 

19 November. Dia takut banget aku tinggal. Padahal dia nggak perlu takut. Aku nggak akan pernah biarin dia pergi. Kalaupun suatu hari dia mau pergi, aku bakal pastiin nggak ada tempat di dunia ini yang bisa dia tuju selain kembali ke pelukanku.”

 

Napas Renjun tercekat di tenggorokan. 

 

Kakinya terasa lemas, seolah seluruh tenaga di tubuhnya mendadak menguap.

 

Ia mundur satu langkah, membuat lantai kayu di bawah kakinya sedikit berderit.

 

Jaemin langsung menoleh. Matanya menangkap sosok Renjun yang berdiri mematung dengan wajah sepucat kertas di kegelapan malam.

 

Tidak ada kepanikan di wajah Jaemin. Pria itu perlahan menutup laptopnya, lalu bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Renjun.

 

"Kamu…… sejak kapan?" suara Renjun tercekat, nyaris tak terdengar. Air matanya langsung tumpah tanpa bisa dicegah. 

 

Rasanya bukan lagi cemburu atau marah, melainkan rasa takut yang mencengkeram di dadanya.

 

Jaemin berhenti tepat di depan Renjun. Tangannya terulur, dengan lembut mengusap pipi Renjun yang basah oleh air mata.

 

"Udah lama, sayang," bisik Jaemin tenang, suaranya terdengar begitu manis, namun justru membuat bulu kuduk Renjun merinding. 

 

"Dari semester pertama kita pacaran. Waktu aku sadar kalau kamu nggak akan pernah bisa hidup tenang tanpa aku, dan aku juga nggak bisa bernapas kalau nggak ada kamu di dekat aku."

 

Renjun menggeleng perlahan, air matanya semakin deras mengalir. "Kamu sakit, Jaemin….. Kamu benar-benar sakit….."

 

Jaemin tersenyum kecil. Ia menarik tubuh Renjun ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat, seolah ingin meremukkan tulang rusuk pemuda itu ke dalam tubuhnya sendiri.

 

"Iya, aku sakit," bisik Jaemin tepat di telinga Renjun, suaranya berubah menjadi serak dan penuh penekanan. "Dan kamu obatnya, Ren. Jangan pernah coba-coba jauh dari aku. Karena kalau kamu pergi, aku nggak tahu apa yang bakal aku lakuin ke diri aku sendiri, atau ke orang-orang di sekitar kamu."

 

Renjun mencengkeram kuat-kuat kain kaos di punggung Jaemin. Di dalam pelukan yang menyesakkan itu, ia menangis sesenggukan, 

 

Tidak, ia tidak merasa tersiksa, melainkan karena di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu satu hal yang paling mengerikan,

 

Ia tidak ingin lepas dari pelukan itu.

 

*****

 

Pagi datang dengan cahaya matahari yang menembus tirai jendela apartemen, menyinari ruangan yang terasa senyap setelah badai emosi semalam.

 

Renjun duduk di tepi kasur, menatap cangkir kopi yang sudah dingin di atas nakas. Matanya sedikit bengkak karena menangis semalaman, namun ekspresinya jauh lebih tenang, atau lebih tepatnya, pasrah pada kenyataan yang terlalu rumit untuk diurai.

 

Jaemin keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggang, tetesan air masih membasahi bahu bidangnya. Ia melihat Renjun yang termenung, lalu berjalan mendekat dan berlutut di lantai tepat di hadapan kekasihnya, menyamakan tinggi mereka.

 

Jaemin meraih kedua tangan Renjun, membawanya ke bibirnya untuk dikecup pelan.

 

"Masih mau putus?" tanya Jaemin setengah bercanda, meski matanya menatap tajam, memastikan tidak ada keraguan di sana.

 

Renjun mendengkus pelan, menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap mata Jaemin lurus-lurus.

 

"Kamu benar-benar gila," suara Renjun serak.

 

"Iya," jawab Jaemin tanpa ragu sedikit pun. "Gila karena kamu."

 

Renjun terdiam beberapa saat. Ia menatap wajah pria di hadapannya ini, pria yang selalu tersenyum sabar di depan teman-teman mereka, pria yang membelikan makanan kesukaannya, pria yang merapikan rambutnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus monster yang mengunci dunianya dalam sangkar tak kasat mata.

 

Dan ironisnya….. Renjun tidak keberatan tinggal di dalam sangkar itu.

 

"Kalau kamu mau bikin aku cemburu lagi….." suara Renjun mulai tegas, meski jari-jarinya masih gemetar di genggaman Jaemin. ".....aku bakal benar-benar hancurin barang-barang di apartemen ini."

 

Jaemin tertawa kecil, tawa yang tulus, penuh kelegaan. Ia mengeratkan genggaman tangannya. "Janji. Aku nggak bakal sengaja mancing emosi kamu lagi. Tapi kalau kamu posesif berlebihan ke orang lain….." Jaemin mengangkat sebelah alisnya. ".....aku bakal hukum kamu."

 

"Hukum apa?" tantang Renjun, dagunya sedikit terangkat.

 

Jaemin berdiri, lalu menarik tubuh Renjun ke atas ranjang, mengurungnya di bawah tubuhnya sendiri dengan senyuman miring yang berbahaya.

 

"Nggak boleh keluar kamar selamanya," bisik Jaemin tepat di bibir Renjun sebelum akhirnya menciumnya dalam-dalam, menuntut, posesif, dan penuh rasa memiliki yang tak pernah kenal batas.

 

*****

 

Beberapa hari kemudian, di kantin kampus yang sama, Jeno dan Mark kembali melihat Renjun dan Jaemin berjalan berdampingan.

 

Renjun tampak sedang merapikan kerah kemeja Jaemin sambil mengomel kecil tentang tugas kuliah, sementara Jaemin mendengarkan sambil tersenyum sabar, merangkul pinggang Renjun erat-erat seolah tidak akan pernah membiarkan siapapun merebutnya.

 

"Sumpah ya," bisik Jeno pada Mark geleng-geleng kepala. "Gue kadang iri sama mereka. Hubungan mereka tuh keliatan adem ayem banget. Saling sayang, nggak pernah keliatan berantem."

 

Mark mendengkus sinis sambil melipat tangan di dada. "Lu kan cuman liat luarnya doang, Jen. Di balik itu semua, siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua."

 

Dan Mark benar.

 

Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyuman manis dan kemesraan yang membuat iri satu kampus itu, ada dua jiwa yang saling merusak, saling mengunci, dan saling mencintai dengan cara yang paling sakit dan paling indah di dunia.

 

Sebuah siklus yang tidak akan pernah berhenti.

 

Karena bagi mereka, cinta bukan tentang kebebasan.

 

Cinta adalah tentang memastikan bahwa tidak ada jalan untuk keluar.

 

END.