Work Text:
Gerimis sore yang mengguyur Bandung seolah menolak mereda, tapi amarah di dada Sungchan jauh lebih panas daripada dinginnya cuaca. Sudah empat hari penuh Eunseok mendadak lenyap dari radar. Tidak ada pesan sela, tidak ada telepon malam seperti biasa, hanya balasan singkat setengah hati: lagi sibuk nugas, deadline numpuk.
Alasan klasik yang sudah tidak bisa lagi menenangkan kepala Sungchan yang telanjur berasumsi ke mana-mana. Puncaknya adalah hari ini, ketika panggilannya kembali berdering tanpa jawaban untuk kesekian kalinya. Tanpa pikir panjang dan dikuasai dorongan emosi yang mendesak, Sungchan menyambar jaketnya, menerobos basahnya jalanan, menempuh perjalanan jauh berjam-jam dari Bandung langsung menuju Depok.
Langkahnya tergesa menaiki koridor apartemen yang sepi. Begitu sampai di depan pintu unit Eunseok, tangan Sungchan langsung menekan kombinasi angka digital yang sudah dihafalnya di luar kepala. Pintu terbuka tanpa suara.
Suasana di dalam unit itu temaram, hanya ditemani cahaya kebiruan dari layar laptop yang masih menyala di atas meja kerja kecil dekat ruang tengah. Di atas sofa beludru abu-abu, sosok yang sedari tadi memenuhi kepalanya akhirnya tertidur dengan posisi meringkuk lelah. Kacamata Eunseok melorot setengah di batang hidung, dan napasnya terdengar teratur, menandakan betapa lelapnya ia setelah berhari-hari begadang.
Emosi yang tadinya bergejolak hebat di dada Sungchan mendadak menguap, berganti dengan rasa kesal campur gemas yang aneh saat melihat lingkaran hitam samar di bawah mata kekasihnya itu.
Sungchan melangkah mendekat tanpa suara. Ia berdiri menatap punggung Eunseok yang naik-turun perlahan, lalu tanpa ragu menjatuhkan diri menindih tubuh yang lebih ramping itu. Beban tubuh Sungchan yang tiba-tiba menimpa membuat sofa berderit pelan, namun Eunseok sama sekali tidak bergeming. Lelaki itu hanya bergumam pelan dalam tidurnya, kepalanya semakin tenggelam ke dalam bantal sofa.
Merasa diabaikan bahkan dalam keadaan tertidur lelap, Sungchan mendengus tertahan. Ia mulai menunduk, melabuhkan ciuman bertubi-tubi di pelipis, pipi, hingga rahang Eunseok dengan sengaja agar tidurnya terganggu. Namun, Eunseok justru semakin mengerjap malas, hanya menggeliat kecil tanpa membuka kelopak matanya.
Kesabaran Sungchan akhirnya habis. Rasa gemas yang membuncah membuatnya mencondongkan kepala tepat di lekukan leher jenjang Eunseok yang terekspos sempurna. Tanpa aba-aba, ia membuka bibirnya dan memberikan gigitan kecil yang cukup kuat pada kulit sensitif di sana.
Sebuah lenguhan tertahan langsung lolos dari bibir Eunseok. Tubuhnya terperanjat pelan, punggungnya melengkung secara refleks akibat sengatan rasa nyeri bercampur sensasi asing yang langsung menyerang sistem sarafnya.
"Eunseok..." panggil Sungchan dengan suara rendah dan serak tepat di telinganya, sementara tangannya mulai merangsek masuk ke balik kaus longgar yang dikenakan Eunseok, meraba kulit hangat di sana. "Bangun, atau hukumanmu malam ini bakal jauh lebih panjang dari sekadar gigitan."
Sentuhan-sentuhan kecil tadi ternyata belum cukup menggoyahkan kantuk Eunseok yang sudah mencapai batas maksimal. Alih-alih membuka mata, napas lelaki itu justru kembali teratur, seolah gigitan dan ancaman barusan hanya bagian dari mimpi buruk yang melelahkan.
Sungchan mendengus pelan, menatap wajah lelah itu dengan seringai miring yang penuh dominasi. Tidur pulas banget, ya? Bagus, biar nggak sadar waktu gue habisin di sini, batinnya licik.
Tanpa buang waktu, Sungchan kembali menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Eunseok. Kali ini ia tidak ragu menghisap kulit putih itu lebih dalam, menekan bibirnya kuat-kuat hingga menciptakan jejak merah keunguan yang kontras dan jelas terpampang di sana. Ia melumat dan menghisap titik-titik sensitif tersebut berulang kali, meninggalkan tanda kepemilikan yang mutlak di setiap jengkal kulit leher kekasihnya.
Eunseok hanya bisa mendesis pelan dalam tidurnya, kepalanya menengadah pasrah mengikuti tarikan-tarikan bibir Sungchan di lehernya.
Merasa belum puas dengan leher, mata Sungchan turun menatap bibir Eunseok yang sedikit terbuka karena desahan-desahan kecilnya. Tanpa ragu, Sungchan merangsek maju dan membungkam bibir itu dengan ciuman yang menuntut. Ia melahap belahan bibir Eunseok yang ranum, menghisapnya rakus, bahkan menyelipkan lidahnya untuk menerobos masuk dan mengabsen seluruh rongga mulut Eunseok yang masih setengah sadar.
Ciuman itu berlangsung lama, intens, dan nyaris merenggut seluruh sisa oksigen di paru-paru Eunseok.
Pasokan udara yang menipis akhirnya memaksa sistem saraf Eunseok merespons. Kelopak matanya yang terasa berat perlahan-lahan terbuka, mengerjap lambat menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.
Dan hal pertama yang langsung menyambut retinanya begitu ia sadar adalah sepasang bola mata Sungchan yang menatapnya tajam, lekat, dengan kilatan posesif yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Seketika itu juga kesadaran Eunseok kembali sepenuhnya. Dengan sisa tenaga yang ia punya, kedua tangannya langsung mendorong dada bidang Sungchan dengan panik.
"E-Eungh—S-Sungchan... enggh, lepas... sesak..." gerutu Eunseok di sela ciuman, terengah-engah hebat sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu bibir mereka terpaksa terlepas dengan bunyi kecipak basah.
Wajah Eunseok langsung memerah padam hingga ke ujung telinga—bukan hanya karena kekurangan oksigen, tapi juga karena rasa terkejut mendapati Sungchan sudah menindihnya begitu dekat dengan ekspisi wajah yang kelihatan ingin "menerkamnya" hidup-hidup.
Sungchan sama sekali tidak bergeming meski didorong. Ia justru menahan kedua pergelangan tangan Eunseok dengan sebelah tangannya, menenggelamkannya ke atas sofa di samping kepala lelaki itu. Seringai penuh kemenangan terukir jelas di bibir Sungchan saat melihat wajah merah padam kekasihnya yang kini tampak begitu rapuh di bawah kurungan tubuhnya.
"Udah bangun, hm? Bagus. Makanya, kalau dichat itu dibales, jangan malah ngilang bikin emosi," bisik Sungchan tepat di depan bibir Eunseok, suaranya terdengar begitu berat, serak, dan sarat akan hasrat yang tertahan.
Telapak tangan besar Sungchan yang tadinya mengunci tangan Eunseok perlahan turun. Menelusuri sisi pinggang, lalu merosot turun dengan sengaja menekan area selangkangan Eunseok yang saat itu hanya terbalut celana training longgar berwarna abu-abu.
Begitu telapak tangannya meraup dan meremas bagian tengah tubuh Eunseok dari luar kain, empunya langsung terpekik kencang. Punggung Eunseok melengkung ke atas seketika, matanya membelalak lebar karena sentuhan yang datang tanpa aba-aba itu langsung membuat pangkal pahanya terasa lemas.
"Ah! S-Sungchan, jangan... anghh!" teriak Eunseok panik, mencoba meronta kecil meski tubuhnya sudah lemas dikuasai rasa terkejut dan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuh.
Sungchan terkekeh rendah, suaranya terdengar begitu mesum dan menghanyutkan di telinga Eunseok. Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat-kalimat kotor tepat di daun telinga lelaki yang sudah kepalang salah tingkah itu.
"Gila ya, lu... pacar lu disiksa nungguin berhari-hari, sementara yang di sini malah asyik ketiduran dengan gampangnya. Tapi badan lu jujur banget, sayang..."
Sungchan sengaja menggesekkan telapak tangannya lebih kuat, meremas gundukan di balik celana training itu dengan ritme lambat yang membuat napas Eunseok kembali memburu. "...baru dipegang begini aja udah basah dan panas duluan di dalam celana. Lo kangen banget ya sama gue? Kangen ditindih kayak gini, hm?"
"N-Nggak! Sialan, lepasin... akh, jangan di situ..." racau Eunseok dengan suara bergetar, air mata kesal dan malu sudah menggenang di pelupuk matanya karena Sungchan sama sekali tidak berniat menghentikan remasannya, malah semakin menjadi-jadi mengelus bagian intimnya dari luar kain.
"Bohong. Mulut lu bilang nggak, tapi memek lu di dalem celana ini udah lemes dan ngocor basah pas gue remas gini, Seok," cerca Sungchan tanpa filter, sengaja memakai bahasa-bahasa vulgar yang membuat muka Eunseok rasanya mau terbakar habis saat itu juga. Sungchan semakin menekan ibu jarinya di lipatan paha bagian dalam, menikmati setiap desahan tertahan dan erangan putus asa yang lolos dari bibir merah Eunseok. "Sabar ya, manis. Hukuman buat lo yang hobi ngilang baru saja dimulai malam ini."
"Mulut lo tadi masih berani nolak, tapi sekarang lihat, badan lo sendiri yang mohon-mohon minta disentuh," desis Sungchan rendah, suaranya bergetar menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk.
Tanpa memberi kesempatan pada Eunseok untuk memprotes, tangan Sungchan bergerak liar menyambar tali celana training yang dikenakan kekasihnya itu. Dengan sekali sentakan kasar, simpul tali itu terlepas, dan celana serta celana dalam Eunseok ditarik turun secara bersamaan hingga membongkar seluruh bagian bawah tubuhnya yang sudah basah dan berantakan. Udara dingin malam di apartemen langsung menerpa kulit paha Eunseok yang mulus, membuat empunya mendesis kaget sambil merapatkan kedua kakinya secara refleks.
"Mau ditutup, hm? Jangan sok malu-malu sekarang, sayang," cibir Sungchan tajam, jemarinya yang besar langsung mencengkeram kuat paha bagian dalam Eunseok dan memaksanya terbuka lebar. "Buka lebar-lebar kaki lo buat gue. Biar lo sadar seberapa parah lo kangen sama sentuhan gue setelah beberapa hari ngilang."
Eunseok menggelengkan kepalanya panik, air mata malu dan lelah kini benar-benar menetes di pelipisnya. Dadanya naik-turun dengan napas memburu, menatap Sungchan dengan tatapan memohon. "S-Sungchan... jangan... ugh, jangan dilihatin gitu... ampun, udah..." racaunya parau, jemarinya meremas erat kain sofa untuk menyalurkan rasa sesak di dadanya.
Namun, Sungchan sama sekali tidak peduli pada rintihan itu. Begitu pemandangan di hadapannya tersaji sempurna, napas Sungchan ikut memburu. Bibir bagian bawahnya menipis saat melihat betapa basahnya lubang nikmat Eunseok, berkilau karena cairan pelumas alami yang terus keluar akibat desakan hasrat yang terpendam.
"Anjing... liat kelakuan lo, Seok. Basah banget, bolongan lo ini bener-bener gatel minta dijamah, ya?" Sungchan melontarkan kalimat-kalimat kotor dengan nada penuh dominasi, sengaja merendahkan harga diri Eunseok yang kini sudah tak berdaya di bawah kukunya. "Lo bayangin apa sih pas ngilang kemarin? Mbayangin alat gue nongkrong di dalam sini, hm? Jawab!"
"Ngg-nggak... ah, sial... jangan ngomong yang aneh-aneh..." desah Eunseok tersengal-sengal, kepalanya menengadah ke belakang dengan mata terpejam erat, tak sanggup menatap wajah Sungchan yang tersenyum penuh kemenangan di atasnya.
Tidak sabar lagi, Sungchan langsung merendahkan wajahnya tepat di antara kedua paha Eunseok. Lidahnya yang basah langsung menjilat celah sempit itu dari bawah ke atas dalam satu gerakan panjang yang sukses membuat seluruh tubuh Eunseok melengkung ke atas, menjerit tertahan.
"Ahhh! S-Sungchan—sih, engggh!" teriak Eunseok histeris, jemarinya mencengkeram kuat rambut Sungchan, berusaha mendorongnya meski tenaganya sudah habis.
Sungchan terkekeh di tengah kegiatannya, lidahnya bermain liar, masuk dan keluar dengan ritme lambat yang menyiksa. Ia menghisap bibir bawah vagina Eunseok penuh nafsu, menjilati setiap inci kulit sensitif di sana seolah ia sedang menikmati hidangan paling lezat di dunia. Tangannya yang bebas menepuk pelan pipi pantat Eunseok dengan suara plak yang cukup nyaring, membuat pemiliknya semakin mendesah liar.
"Enak, hm? Suka dijilat sama pacar lo yang lagi marah ini?" bisik Sungchan kotor di sela kegiatannya, lalu kembali membenamkan wajahnya lebih dalam. Lidahnya menekan masuk ke dalam lubang nikmat itu, memutar dan mengaduknya perlahan, membuat Eunseok kehilangan akal sehatnya.
Sentuhan yang begitu intens dan tanpa ampun itu membuat sekujur tubuh Eunseok bergetar hebat. Sensasi nikmat yang teramat sangat berpusat di perut bagian bawahnya mendadak meledak, menciptakan gelombang kepuasan yang tidak mampu lagi ia tahan.
"Ah! Stoppp! Sungchan, gue mau... gue mau—ughhh!"
Eunseok menjerit kencang, punggungnya melengkung sempurna, dan detik berikutnya, cairan hangat menyembur keluar dari lubangnya dengan deras, membasahi seluruh dagu, bibir, hingga pipi Sungchan tanpa ampun. Sungchan yang menerima guyuran air seni bercampur cairan nikmat itu tidak sedikit pun menghindar; ia justru mendongak dengan seringai lebar yang tampak semakin liar dan penuh nafsu.
"Shit... lo ngompol di muka gue, Seok? Parah banget, lo bener-bener jalang murahan kalau lagi ditinggal lama, ya," cerca Sungchan dengan suara berat dan serak, menjilati sisa-sisa cairan yang menempel di bibirnya sendiri dengan mata yang menatap tajam penuh gairah.
Mendengar ucapan vulgar itu, tangisan malu Eunseok semakin pecah. Wajahnya tertutup kedua belah telapak tangannya karena rasa malu yang teramat sangat. "Udah... kumohon, Sungchan... jangan dibilang gitu, hiks... maluu..."
Namun, alih-alih berhenti, Sungchan justru mengangkat tangan kanannya. Dengan gestur yang mendominasi, ia mendaratkan tamparan pelan namun tegas tepat di atas bibir vagina Eunseok yang masih berdenyut lemah.
Plak!
"Masih berani nutup muka, hm? Buka tangan lo, dan lihat muka gue sekarang!" perintah Sungchan dengan nada mutlak, membuat Eunseok dengan gemetar menurunkan tangannya, menatap kekasihnya dengan mata basah penuh air mata dan napas yang masih tersengal-sengal hebat di atas sofa yang basah.
Cengkeraman tangan Sungchan di pinggang Eunseok terasa begitu kuat, menarik tubuh yang lebih ramping itu tanpa ampun dari posisi telentangnya di sofa hingga kini terduduk di atas lantai karpet yang dingin. Eunseok yang masih lemas dan gemetar hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhnya diseret begitu saja mengikuti kehendak sang kekasih.
Sungchan mengambil posisi duduk tepat di hadapan Eunseok, merenggangkan kedua kakinya agar Eunseok berada di antara kungkungannya. Dengan gerakan cepat, Sungchan membuka celana jeans dan boxer yang dikenakannya, membebaskan batang miliknya yang sudah menegang sempurna, mengeras dengan urat-urat yang menonjol jelas akibat gairah yang sudah membakar sejak tadi.
Batang panas itu langsung tersaji tepat di depan wajah Eunseok yang masih basah oleh sisa air mata.
"Nih, lihat baik-baik makanan kesukaan lo yang bikin lo lupa daratan sampai berhari-hari nggak ngabarin gue," ujar Sungchan dengan suara rendah yang terdengar begitu kotor dan merendahkan. Ia meraih pangkal batangnya sendiri, menepuk-nepuk kepala pelannya pelan ke pipi Eunseok. "Buka mulut lo sekarang, atau gue paksa masukin lewat tenggorokan lo sampai lo muntah. Cepetan isap punya gue!"
Eunseok menggeleng lemah, bibirnya bergetar hebat saat manik matanya menatap ukuran benda milik Sungchan yang tampak begitu intimidatif. "S-Sungchan... jangan... ini besar banget, tenggorokan gue bakal sakit..." racaunya memohon, air matanya kembali luruh membasahi pipi.
"Gue nggak nerima penolakan, Seok!" sentak Sungchan tajam, sebelah tangannya langsung mencengkeram rahang Eunseok dengan kuat, memaksanya membuka mulut secara paksa. "Tadi aja lo gatel minta dijamah, giliran disediain aslinya malah sok jual mahal. Pegang punya gue, cepet!"
Karena tak punya pilihan dan takut dengan tatapan tajam Sungchan, tangan Eunseok yang gemetar gemetar terulur perlahan. Jari-jarinya menyentuh batang panas itu, meremasnya pelan dengan ragu-ragu, merasakan betapa keras dan panasnya kulit milik kekasihnya tersebut.
"Nah, gitu dong dari tadi. Mainin batangnya pake tangan lo yang lemes itu, bikin dia makin berdiri tegak buat lo," cerca Sungchan penuh instruksi kotor, mendesis nikmat saat tangan Eunseok mulai mengelus batangnya naik-turun.
Merasa belum puas hanya dengan itu, Sungchan mendorong kepala Eunseok mendekat. "Sekarang masukkan semuanya ke mulut kotor lo. Telan sampai mentok ke pangkal, jangan ada yang tersisa!"
Dengan napas tercekat dan rasa malu yang membakar habis harga dirinya, Eunseok membuka bibirnya. Ia mendekatkan wajah, menjilat kepala kontol Sungchan yang berlendir sebelum akhirnya memasukkan kepala benda itu ke dalam rongga mulutnya. Sensasi penuh dan sesak langsung menyerang kerongkongannya, membuat air liurnya menetes lolos dari sudut bibir.
"Ahhh... shit, pintar banget jalang satu ini kalau disuruh ngenyot," puji Sungchan dengan nada kotor, jari-jarinya menelusup ke helai rambut Eunseok, mencengkeramnya untuk mengatur ritme. "Terus, isap yang bener! Anggap ini hukuman karena lo udah berani ngilang dari hadapan gue!"
Sungchan mulai mendorong dan menarik kepala Eunseok secara kasar, membuat lelaki itu tersedak hebat di sela-sela isapannya. Suara kecipak liur berpadu dengan erangan tertahan Eunseok mengisi ruangan yang sunyi.
Namun, siksaan itu belum cukup bagi Sungchan. Di tengah kenikmatan oralnya, kaki kanan Sungchan bergerak nakal. Tanpa ampun, ia menaikkan jempol kakinya tepat ke arah celah vagina Eunseok yang masih terbuka dan basah di lantai bawah.
Tekan!
Jempol kaki Sungchan menekan kuat-kuat klitoris dan bibir vagina Eunseok yang masih sensitif pasca klimaks tadi.
"Nghhh—!" Eunseok menjerit tertahan di dalam mulut Sungchan, tubuhnya sontak menegang kaku. Matanya membelalak lebar, air mata kesakitan bercampur kenikmatan luar biasa langsung tumpah deras membasahi pipinya karena kombinasi siksaan ganda yang ia terima. Di atas, mulutnya dipaksa menelan batang besar Sungchan, sementara di bawah, jempol kaki kekasihnya itu menggesek dan menekan titik nikmatnya tanpa belas kasihan.
"Rasain itu, hm? Mulut lo sibuk ngenyot kontol gue, tapi di bawah bagian tubuh lo juga basah dan gatel minta digesek, kan?" cerca Sungchan tanpa filter, semakin mempercepat dorongan kepalanya ke mulut Eunseok sembari memutar-mutar jempol kakinya di selangkangan bawah. "Lo emang bener-bener jalang murahan yang hobi disiksa, Seok. Makin diginiin, makin nikmat ya rasanya?"
Tekanan kuat dari jempol kaki Sungchan yang berputar di atas klitorisnya, berpadu dengan ritme oral yang menghujam tenggorokan tanpa ampun, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir Eunseok. Otak Eunseok mendadak kosong, tidak mampu lagi memproses rasa malu atau sesak yang mendera.
"Ahhhh! Uugh, Sungchan, ampun... akhh!" racau Eunseok tak karuan di sela isapannya.
Seketika itu juga, tubuh Eunseok bergetar hebat. Sensasi nikmat yang teramat pekat kembali menghantam pusat syarafnya, memicu refleks otot yang tak bisa dikendalikan. Untuk kedua kalinya malam itu, cairan hangat dari kandung kemih Eunseok menyembur keluar tanpa bisa ditahan, membasahi lantai karpet di bawah mereka sementara isapannya terlepas dengan suara basah yang nyaring.
Sungchan mendengus tertahan, menikmati pemandangan menyedihkan sekaligus erotis di hadapannya. Ia menarik mundur batangnya dari mulut Eunseok yang kini terengah-engah parah, air liur dan air mata bercampur mengalir di dagu lelaki itu.
"Udah nggak punya tenaga lagi, hm? Lemah banget baru digituin doang udah pipis lagi," ejek Sungchan dengan seringai miring penuh kepuasan. Ia berdiri dari posisinya, membiarkan batangnya yang sudah berada di ambang batas ejakulasi berdenyut hebat.
Tanpa aba-aba, Sungchan mengarahkan ujung batangnya tepat ke wajah Eunseok. Dengan sentakan kuat, cairan putih kental menyembur keluar bertubi-tubi, mendarat tepat di atas pipi, hidung, hingga bibir Eunseok yang terbuka lebar karena kelelahan.
Eunseok hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, menerima guyuran cairan itu dengan dada yang naik-turun cepat. Air matanya kembali tumpah, merasa begitu tak berdaya di bawah kendali mutlak kekasihnya.
"Buka mata lo, lihat apa yang udah lo telan dan lo terima malam ini," perintah Sungchan dengan suara berat, meraih dagu Eunseok agar menatapnya.
Tanpa membiarkan Eunseok bernapas lega, Sungchan langsung mengangkat tubuh lemas itu dan mendudukannya tepat di atas pangkuannya, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak. Eunseok menyandarkan kepalanya yang pusing ke bahu Sungchan, napasnya masih memburu hebat.
"Maaf..." cicit Eunseok pelan dengan suara parau dan bergetar, jemarinya meremas erat pundak Sungchan. "Jangan galak-galak lagi... aku beneran sibuk, bukan sengaja mau ngilang..."
Sungchan menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap punggung telanjang Eunseok dengan gerakan yang melambat, kontras dengan kekejamannya sedari tadi.
"Makanya kalau dikontak tuh bales, Seok. Jangan bikin gue setengah mati khawatir di Bandung sementara lo malah asyik sendiri di sini. Lo tahu kan gue gampang gila kalau nggak dapet kabar dari lo?"
Eunseok mengangguk lemah di ceruk leher Sungchan, membiarkan bibirnya mengecup pelan kulit di sana sebagai bentuk permohonan damai. "Iya... maaf, sayang. Nggak bakal diulangi lagi..."
Mendengar bisikan lembut itu, sudut bibir Sungchan terangkat membentuk senyum penuh arti. "Bagus kalau ngerti."
Di saat Eunseok mengira hukumannya sudah selesai dan tengah menikmati momen tenang di pangkuan kekasihnya, jari-jari tangan kanan Sungchan bergerak secara diam-diam. Tanpa peringatan, jari telunjuk dan jari tengah Sungchan langsung merangsek masuk menusuk lubang vagina Eunseok yang masih basah dan menganga lebar.
"Ahhh! S-Sungchan?!" teriak Eunseok kaget, punggungnya langsung melengkung ke belakang dengan mata membelalak lebar.
Sungchan tertawa rendah tepat di dekat telinga Eunseok, sementara jarinya mulai mengaduk dan memompa bagian dalam itu dengan ritme cepat yang langsung memicu gelombang nikmat baru. "Siapa bilang hukuman lo udah selesai, hm? Badan lo masih kangen banget sama gue, tuh buktinya langsung ngulum jari gue dalem-dalem."
"Sialan... a-ahhh, pelan-pelan... engggh, Sungchan, ampunnn!" racaunya merintih keras, tak berdaya di atas pangkuan kekasihnya yang kembali mempermainkannya tanpa ampun.
Perubahan posisi yang begitu cepat membuat Eunseok bahkan tidak sempat memproses apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, Sungchan sudah memindahkan tubuhnya kembali ke atas sofa, sementara Eunseok didudukkan menghadapnya di atas pangkuan, dengan kedua paha terbuka lebar mengapit pinggang sang kekasih.
Tanpa memberi jeda untuk bernapas, Sungchan langsung mengangkat pinggulnya dan dalam satu sodoran kuat yang dalam, batang panas miliknya menerobos masuk secara telak, menghantam bagian paling sensitif di dalam sana hingga mentok ke dasarnya.
"Arghhh! S-Sungchan... akhh, dalem banget..." teriak Eunseok histeris, kedua tangannya langsung mencengkeram erat pundak Sungchan, kuku-kukunya menancap kuat karena hantaman itu merenggut seluruh sisa kesadarannya.
Sungchan mendengus berat, merasakan dinding vagina Eunseok yang begitu panas dan ketat langsung menjepit batangnya dengan erat, seolah menyambut kepunyaannya dengan putus asa. Ia menahan pinggang Eunseok agar tidak bergerak ke mana-mana, lalu mulai menghujamkan pinggulnya dengan ritme lambat namun menekan dalam. Setiap sodoran menciptakan suara gesekan basah yang menggema di sudut ruangan apartemen yang sepi itu.
"Sialan, lubang lo emang paling juara kalau dijepit begini, Seok," bisik Sungchan parau, suaranya terdengar begitu mesum namun sarat akan rasa memiliki. Ia menarik tengkuk Eunseok, membungkam bibir kekasihnya itu dalam ciuman yang dalam dan menuntut.
Ciuman itu basah dan penuh liur, melumat bibir atas dan bawah Eunseok bergantian sementara pinggul Sungchan terus memompa tanpa ampun dari bawah. Eunseok hanya bisa terpejam erat, lidahnya dililit dan dihisap rakus oleh Sungchan hingga ia kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Oksigen di paru-parunya menipis, digantikan oleh sensasi terbakar yang menyebar dari pangkal paha hingga ke seluruh ujung saraf tubuhnya.
Di tengah ciuman panas itu, Sungchan melepaskan tautan bibir mereka, lalu menurunkan kepalanya ke dada bidang Eunseok. Dengan gerakan liar, ia membuka mulutnya dan langsung melahap salah satu puting merah Eunseok, menghisapnya kuat-kuat sementara gigi-giginya menggigit kecil permukaannya.
"Ahhh! N-Nghh... Sungchan, jangan digigit di situ... sih, ahhh!" erang Eunseok tertahan, kepalanya menengadah ke belakang, membiarkan rambutnya berantakan di atas bahu Sungchan. Punggungnya melengkung indah setiap kali Sungchan menghisap putingnya hingga kulit di sekitar dada itu berubah kemerahan.
Sungchan berpindah ke dada sebelahnya, melakukan hal yang sama dengan intensitas tinggi, membuat Eunseok semakin menggila di atas pangkuannya. Di saat yang bersamaan, sodoran di bawah sana sama sekali tidak melambat; Sungchan menghantam titik terdalam Eunseok secara konsisten, membuat sang empunya hanya bisa merengek dan mengeluarkan desahan-desahan panjang tanpa henti.
"Nikmat banget, hm? Lo suka diginiin sama gue, sayang? Suka ditusuk dalem-dalem kayak gini?" cerca Sungchan dengan nada kotor yang mendominasi, sengaja mempercepat ritme pinggulnya hingga suara hantaman tubuh mereka terdengar nyaring. "Lo emang ditakdirkan buat jadi jalang kesayangan gue, Seok. Cuma punya gue sendirian."
"A-Ahhh... iya, Sungchan... engggh, dalem banget, ya ampun... akhh!" racau Eunseok tak karuan, air matanya kembali meleleh turun karena kenikmatan yang terlalu berlebihan. Pikirannya benar-benar sudah melayang, kabur dan tidak bisa berpikir lurus akibat hantaman konstan di bagian intimnya.
Sungchan menatap wajah Eunseok yang sudah berantakan—bibir bengkak, mata berair, dan ekspresi pasrah penuh kenikmatan. Hasrat posesifnya membuncah semakin tinggi. Ia menghentikan gerakannya sejenak, membiarkan batangnya tetap tertanam penuh di dalam sana, lalu sebelah tangannya naik mengusap keringat di dahi Eunseok dengan penuh kelembutan yang kontras dengan tindakan kasarnya barusan.
"Seok... dengar suara gue," bisik Sungchan tepat di telinga Eunseok, suaranya berubah menjadi bisikan berat yang menghanyutkan. "Mau ya, dihamilin sama gue? Mau perut lo gue isi benih gue sekarang, biar lo bener-bener jadi milik gue seutuhnya dan nggak bakal berani ngilang lagi dari hadapan gue, hm?"
Eunseok, yang otaknya sudah tumpul karena kepuasan luar biasa dan kelelahan yang teramat sangat, menatap sayu ke arah Sungchan. Kesadarannya sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh kabut kenikmatan yang pekat. Tanpa berpikir panjang, ia hanya mengangguk-angguk lemah berkali-kali di atas dada Sungchan.
"I-Iya... mau... ugh, isi aja... aku punya kamu..." cicit Eunseok parau, menyerahkan dirinya seutuhnya tanpa sisa.
Mendengar persetujuan mutlak itu, seringai kemenangan yang sangat lebar terukir di wajah Sungchan. "Anak pintar," puji Sungchan penuh nafsu.
Tanpa buang waktu lagi, Sungchan kembali mencengkeram pinggang Eunseok dengan kedua tangannya, menghujamkan pinggulnya dengan kecepatan penuh dan tenaga maksimal, memburu klimaks mereka berdua di malam yang semakin panas itu.
Hantaman pinggul Sungchan yang semakin brutal dan tanpa ampun membuat seluruh ruangan dipenuhi suara decitan sofa dan hantaman kulit yang saling bertepukan. Eunseok tidak lagi peduli pada harga diri atau rasa malunya; ia sepenuhnya dikuasai oleh gelombang kenikmatan yang merusak saraf berpikirnya.
"Ahhhh! Sungchan! Shit, ya ampun... ugh, dalem banget, akhh!" Eunseok menjerit histeris, jemarinya meremas kuat pundak Sungchan hingga meninggalkan bekas kemerahan. "S-sakit... tapi enak, engggh! Ah-ah-ahhh, pelan, fuck—"
"Terus teriak, Seok! Panggil nama gue terus sambil lo jepit batangnya!" geram Sungchan, balas menghujam dengan kecepatan penuh yang membuat Eunseok melengkung sempurna di atas pangkuannya.
"Ahhh! Hah... Sungchan, stophh, udah mau keluar! Ugh, ahhh, aku mau klimaks, akhhh!" racau Eunseok dengan suara parau yang nyaris habis, napasnya tersengal-sengal hebat saat sensasi menggelitik di perut bagian bawahnya memuncak dengan liar.
Sungchan, yang merasakan dinding vagina Eunseok mulai berdenyut kuat menjepit batangnya, ikut merasakan panas yang membakar di pangkal perutnya. "Bareng, sayang! Kita keluar barengan di dalam sana!" teriak Sungchan penuh gairah, mempercepat ritme hantamannya hingga batas maksimal.
"Ahhh! A-AKHHH—!"
Eunseok menjerit kencang sekuat tenaga, matanya terpejam rapat saat klimaks pertamanya malam itu menghantam telak kesadarannya. Bersamaan dengan itu, otot-otot di sekujur tubuhnya menegang kaku, dan tanpa bisa dikendalikan, cairan hangat dari kandung kemihnya kembali menyembur keluar dengan deras dari lubangnya.
Pft-shhh!
Air kencing Eunseok memuncrat ke segala arah, membasahi paha Sungchan, permukaan sofa, hingga menciprat ke lantai akibat tekanan ejakulasi dan klimaks yang terlalu kuat.
Tepat di detik yang sama, Sungchan mendengus tertahan. Dengan erangan parau yang sarat akan kepuasan mutlak, ia mendorong pinggulnya mentok-mentok ke dalam, lalu melepaskan seluruh cairan benihnya yang hangat dan kental langsung memenuhi rongga vagina Eunseok yang basah kuyup berlumuran cairan pipis.
"Shit... akh, tumpah semua di dalam..." desis Sungchan terengah-engah, memeluk erat tubuh lemas Eunseok yang langsung terkulai ambruk di atas dadanya, napas keduanya memburu di tengah keheningan malam apartemen yang berantakan.
Napas Eunseok bahkan belum sepenuhnya tertata dan tubuhnya masih lemas gemetar akibat klimaks gila-gilaan barusan, namun Sungchan seolah tidak kenal kata cukup. Di saat tubuh Eunseok ingin merosot jatuh karena kelelahan, batang milik Sungchan yang baru saja menumpahkan benihnya justru kembali mengeras sempurna di dalam sana, berdenyut menuntut ronde baru yang lebih menyiksa.
Sungchan mendongak, menatap kekasihnya dengan seringai tajam penuh tuntutan. "Siapa bilang hukumannya udah kelar, hm? Baru sekali keluar lo udah lemas begini? Sekarang giliran lo yang kerja, hukuman buat lo karena udah bikin gue nungguin berhari-hari belum lunas, Seok."
"Hah? G-gak... Sungchan, capek banget, biarin aku istirahat sebentar... ugh," rengek Eunseok dengan suara parau, air matanya langsung menggenang di pelupuk mata karena membayangkan harus kembali bergerak di atas batang kekasihnya yang masih kokoh berdiri.
"Nggak ada istirahat. Naik, gerakin pinggul lo sendiri sekarang!" perintah Sungchan mutlak, mencengkeram pinggang Eunseok dan memaksanya menegakkan punggung di atas pangkuannya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang sudah di ujung tanduk, Eunseok menumpukan kedua tangannya di atas bahu bidang Sungchan. Perlahan-lahan, ia mengangkat sedikit pinggulnya lalu menurunkannya kembali, mulai melakukan gerakan memutar atau ngulek seperti yang diperintahkan. Gesekan antara batangnya yang besar dan dinding vagina Eunseok yang sudah bengkak menciptakan suara decitan basah yang begitu vulgar di telinga.
Satu menit... lima menit... hingga sepuluh menit berlalu dalam keheningan malam yang panas.
Eunseok sudah mendesah tersengal-sengal, keringat bercucuran membasahi pelipis dan dadanya. Napasnya memburu patah-patah, sementara pinggangnya terasa mau patah karena harus terus memutar dan naik-turun tanpa henti. Namun anehnya, batang Sungchan di dalam sana sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Milik Sungchan justru terasa semakin keras dan panas, menghantam titik-titik terdalam Eunseok setiap kali lelaki itu salah mengambil ritme.
"Sungchan... hiks, kok belum mau keluar...?" adu Eunseok dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya karena rasa lelah yang teramat sangat menyiksa fisiknya.
Eunseok menghentikan gerakannya sejenak, menatap Sungchan dengan tatapan memohon sambil terisak pelan. "Capek... pinggang aku rasanya mau patah, Sungchan... emangnya aku kurang enak? Ada yang kurang dari aku? Kenapa punya kamu nggak mau keluar-keluar dari tadi... hiks, tolong..."
Melihat kekasihnya menangis sesenggukan dengan wajah berantakan dan bibir mengerucut putus asa, pertahanan Sungchan hampir runtuh. Di balik wajah datarnya yang sok tegas, pipi bagian dalamnya digigit kuat-kuat oleh Sungchan untuk menahan rasa gemas yang teramat sangat di dadanya. Eunseok yang sedang merajuk dan menangis karena kelelahan selalu berhasil membuat Sungchan merasa bersalah sekaligus ingin semakin mengasihinya dengan cara yang brutal.
Tanpa menjawab pertanyaan Eunseok, Sungchan tiba-tiba mengangkat tubuh ramping itu dalam gendongannya. Eunseok sontak terpekik pelan, melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang Sungchan sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.
Sungchan membawa langkahnya keluar dari ruang tengah, berjalan menuju kamar tidur Eunseok yang pintunya terbuka lebar. Begitu sampai di dekat ranjang empuk, Sungchan langsung membaringkan tubuh Eunseok telentang di atas kasur dengan gerakan cepat.
Sebelum Eunseok sempat menarik napas atau memprotes, Sungchan sudah menyusul naik. Ia tidak lagi duduk di pangkuan, melainkan berdiri dengan kedua kaki mengapit sisi tubuh Eunseok di tepi ranjang, menciptakan posisi menara yang membuat Eunseok merasa sangat kecil dan tak berdaya di bawah kurungannya.
"Mau tahu kurangnya di mana, hm?" bisik Sungchan tajam tepat di depan wajah Eunseok, matanya berkilat gelap penuh hasrat yang kembali tersulut. "Kurangnya tuh karena lo masih sanggup nangis dan protes di bawah gue. Harusnya lo cuma bisa mendesah dan melayang buat gue!"
Tanpa aba-aba tambahan, Sungchan merangsek maju dan menarik kedua pergelangan kaki Eunseok, membentangkannya lebar-lebar ke sisi ranjang, lalu dalam satu sentakan bertenaga penuh, ia menghujamkan batangnya kembali menembus lubang Eunseok dari posisi berdiri di tepi kasur.
"Arghhh! S-Sungchan—akhhh, ampunnn!" Eunseok menjerit histeris, punggungnya langsung terangkat dari kasur karena hantaman itu terasa jauh lebih dalam dan bertenaga daripada sebelumnya.
Sungchan mulai menggenjot tubuh Eunseok dengan kasar dan tanpa ampun. Suara hantaman pinggul yang membentur paha Eunseok berpadu dengan jeritan dan tangisan tertahan memenuhi kamar tidur tersebut.
"Nangis terus, Seok! Rasain punya gue yang terus ngehajar lo sampai pagi!" cerca Sungchan dengan kalimat-kalimat kotor yang meluncur bebas dari bibirnya, sementara tangannya mencengkeram kuat seprai kasur di samping kepala Eunseok. "Lo milik gue! Cuma milik Sungchan seorang, dengar?!"
"Iya... akhh, Sungchan, sakit... engggh, tapi dalem banget... hiks, ampun, jangan digenjot terus..." racau Eunseok tak karuan, kepalanya menggeleng lemah di atas bantal, pasrah sepenuhnya sementara tubuhnya diombang-ambingkan oleh amukan hasrat sang kekasih di atas ranjang.
Amukan Sungchan di tepi ranjang mencapai titik paling brutal. Setiap hantamannya tidak lagi sekadar menyalurkan rasa kesal, melainkan berubah menjadi siksaan nikmat yang meremukkan seluruh pertahanan Eunseok. Kasur di bawah mereka berderit ribut, seirama dengan suara hantaman kulit yang saling bertepukan dengan nyaring di tengah ruangan yang remang.
"Ahhh! Shit—Sungchan, ugh, dalem banget, ya ampun... akh-ah-akhh!" Eunseok menjerit histeris, air matanya tumpah semakin deras membasahi pipi dan bantal di bawah kepalanya. Tangannya mencengkeram erat seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih, sementara punggungnya melengkung indah mengikuti setiap ritme kejam yang diberikan kekasihnya.
"Masih mau ngilang lagi, hm? Jawab!" cerca Sungchan dengan suara serak penuh dominasi, menghujam tanpa ampun tanpa memberi celah bagi Eunseok barang sedetik pun untuk bernapas. "Nih, rasain punyaku yang ngehajar bagian paling dalam lo! Lo cuma jalang kecilku, Seok, jalangnya Sungchan!"
"Ngg-nggak... hiks, ampun, Sungchan... sih, engggh... akh, enak banget, fuck—" racaunya tak karuan, suaranya parau tersengal-sengal di antara isakan tangis dan desahan yang saling bersahutan.
Melihat betapa hancurnya pertahanan Eunseok di bawah kukunya, tangan kiri Sungchan yang tadinya mencengkeram pinggiran kasur kini turun merangsek ke bawah. Jari-jarinya yang besar tidak tinggal diam; ia langsung menekan dan menggesek kuat-kuat bagian klitoris serta celah vagina Eunseok yang tidak terjangkau oleh batang utamanya. Kombinasi antara hantaman keras di dalam dan gesekan liar di bagian luar itu menciptakan sensasi nikmat berlapis yang langsung melumpuhkan saraf pusat Eunseok.
"A-Ahhh! Stoppp—jangan digesek di situ, ugh, aku mau... akh, ampun, Sungchan, aku mau keluar—ahhh!" teriak Eunseok histeris, tubuhnya mendadak menegang kaku di atas kasur.
Gelombang nikmat yang terlampau pekat menghantam sekujur tubuhnya tanpa ampun. Otot-otot di sekujur perut dan pangkal pahanya berkontraksi hebat, memicu refleks yang tidak bisa ia tahan lagi. Untuk kesekian kalinya malam itu, cairan hangat dari kandung kemih Eunseok menyembur keluar dengan deras dari lubangnya, memuncrat membasahi seprai, paha Sungchan, hingga menciprat ke lantai kamar tidur akibat tekanan klimaks yang luar biasa kuat.
Pft-shhh!
"Ahhh! Nghhh—!" Eunseok mengerang panjang, tubuhnya mengalami kejang hebat, matanya terpejam rapat dengan kepala menengadah ke belakang, menikmati hantaman kenikmatan yang merenggut seluruh kesadarannya.
Pemandangan di hadapannya—wajah Eunseok yang berantakan karena tangisan dan kenikmatan, tubuh yang kejang hebat, serta cairan pipis yang muncrat membasahi area intim mereka—menjadi pemicu terakhir bagi Sungchan. Pertahanan yang sedari tadi ia tahan rapat rapat akhirnya jebol seketika.
"Shit... akh, jalang sialan, lo bener-bener bikin aku gila, Seok!" maki Sungchan dengan suara parau yang sarat akan nafsu membara.
Dalam satu dorongan terakhir yang bertenaga penuh, Sungchan menghujamkan batangnya mentok-mentok ke dasar rahim Eunseok. Ia menahan pinggulnya di sana, lalu melepaskan seluruh cairan benihnya dengan debit yang sangat deras, memompa cairan kental itu langsung memenuhi setiap inci rongga vagina Eunseok yang masih berdenyut basah.
"Ahhh... ugh, panas... Sungchan, perut aku... akh, kerasa anget banget..." rintih Eunseok lemah, merasakan aliran cairan panas milik kekasihnya membanjiri bagian dalam tubuhnya dengan begitu nyata.
Sungchan mendengus berat, napasnya memburu tak beraturan di atas leher Eunseok. Tanpa sedikit pun berniat mencabut miliknya, Sungchan langsung menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke depan, merebahkan dadanya menindihi tubuh lemas Eunseok di atas ranjang yang basah dan berantakan. Batangnya dibiarkan tetap tertanam kokoh di dalam sana, berdenyut pelan seiring meredanya sisa-sisa gairah mereka.
"Jangan pernah berani coba-coba ngilang lagi dari aku, paham?" bisik Sungchan parau tepat di telinga Eunseok, mengecupi pelipis kekasihnya yang basah oleh keringat dengan sisa-sisa kelembutan.
Eunseok hanya bisa mengangguk lemah di bawah kukungan tubuh Sungchan, matanya terpejam rapat karena kelelahan yang teramat sangat. "Iya... nggak lagi... hiks, berat, Sungchan... biarin aku tidur..." cicitnya pelan, membiarkan malam itu ditutup dalam dekapan erat dan kehangatan yang menyatu di antara mereka berdua.
