Work Text:
Rumor di internet bilang, aktor Sim Jaeyun terlihat masuk ke kediaman Jay, si penyanyi rock yang tengah naik daun itu. Penghuni internet gempar, penggemar marah-marah akan isu keduanya tengah menjalin hubungan. Hubungan entah bagaimana awalnya karena selama ini baik Jay dan Jaeyun tidak pernah sekalipun terlihat bersama di layar kaca.
Dan itu taunya ikut berlaku pula untuk orang-orang di balik layar kaca, Giselle terutama.
"Gue tuh gapapa banget kalo ternyata lo pacaran sama Jay, tapi ya kasih tau gue gitu loh Yun! Gue menajer lo bisa-bisanya pengatahuan gue soal lo sama kayak netizen. Dimana letak privillage-nya!"
Giselle sering terlihat mengamuk, untuk hari ini dia terlihat sangat mengamuk. Bukan karena dia benci pada Jaeyun, bukan juga karena amukannya didasari amarah tapi lebih kepada gemas karena meskipun menghabiskan waktu lebih dari dua puluh empat jam sehari bersama, taunya masih ada hal dalam diri Jaeyun yang masih saja luput dari pemantauan Giselle.
Selama ini Giselle lah yang bertanggungjawab akan semua kegiatan yang Jaeyun jalani, bahkan di saat tertentu Giselle jugalah yang mengatur cemilan untuk artisnya itu. Tapi bisa-bisanya Giselle masih kecolongan dan berakhir kelimpungan ketika rumor yang menimpa Jaeyun lagi-lagi malah dia ketahui dari internet.
Giselle sedikit sedih juga sebenarnya, berpikir dirinya tak cukup memperhatikan artisnya itu; dalam artian lain Giselle tak cukup baik dalam pekerjaannya.
"Musti gue ulang berapa kali lagi sih kak, kita ga punya hubungan apa-apa. Jangankan pacaran, ngobrol aja ga pernah?" Jaeyun sudah bosan menyangkal. Sudah kali berapa dalam satu jam ini dia membantah namun taunya masih tak cukup membuat Giselle percaya juga.
Giselle masih menatap dengan pandangan sangsi serupa.
"Ya trus kenapa lo bisa di rumahnya Jay?"
"Kan!" Jaeyun memutar bola mata jengah. "Itu rumah gue, rumah yang gue beli dari awal tahun ini buat bonyok. Mana gue tau kalo dulunya itu rumah Jay?"
"Emang agen propertinya ga ngasih tau?"
"Ya engga?" Jaeyun mendelik. "Dia ngasih list rumah yang kayak gue pengenin dan kebetulan aja yang paling sesuai itu rumahnya Jay yang emang lagi dijual."
Mata Giselle menyepit nyaris segaris, "bener kayak gitu?"
Jaeyun memutar bola mata lagi. "Cape banget jujur udah muak!" Jaeyun juga bisa mengamuk jika Giselle ingin tau.
Giselle masih tidak percaya sebenarnya namun berakhir dalam kekehan melihat reaksi Jaeyun yang cemberut.
Giselle tak lagi berkacak pinggang berganti duduk di sebelah Jaeyun. Satu botol minum protein dia buka dan mengangsurkan minuman itu kepada artisnya. "Gue serius btw sama yang tadi gue bilang..." Katanya.
"Apa?"
"Gapapa banget kalo lo emang ada apa-apa sama Jay."
Jaeyun mendengus keras sembari menerima botol itu dan menegaknya sampai bersisa setengah tanpa memberikan respon apapun lagi.
Minimal bikin rumor tuh yang masuk akal bjir, ga pernah keliatan bareng bisa-bisanya dirumorin pacaran?
Ga mungkin pacaran percaya dah sama gue, si Jay kan punya komitmen issue palingan sebulanan juga ditinggalin itu si Jaeyun
Lagian kok pada tau-tauan kalo itu rumahnya Jay?
Anjay playboy omega tiap gang nambah koleksi lagi
Lebih masuk akal kalo Jaeyun cinlok sama Riki noh
Pelipis Jay berkedut sepanjang mata membaca reteten komentar pada layar ponselnya. Matanya seolah dilapisi lem tak berpindah seinci pun menggeluti layar sejak foto buram Jaeyun yang terlihat keluar dari rumahnya tadi malam tersebar di internet. Lalu rumor akan hubungan keduanya merebak, diikuti dengan amukan dari penggemar yang berusaha keras membantah gosip itu.
Agensi Jay memutuskan untuk tak memberikan konfirmasi apapun, lagipula bukan kali pertama ini Jay diterpa rumor kencan ini itu, tak sampai seminggu rumor-rumor itu akan menghilang dengan sendirinya. Maka, diam selalu menjadi solusi, kali ini pun sama.
Pagi-pagi tadi, Jay sudah datang ke rumah Sunghoon lalu diam sepanjang matahari naik menyelami internet. Dari arah dapur, pada meja makan Sunghoon dan Sunoo menikmati sarapan mereka tanpa berpikir mengajak Jay untuk bergabung. Tau betul takkan ada gunanya, si pemeran utama gosip heboh pagi ini hanya akan peduli pada isi internet saja.
"Makanya pacaran tuh jangan sesirkel!" Sunoo menyeletuk dalam kunyahan. Garpunya berdenting ribut menusuk mangkuk keramik, sudah jengah menelan makanan tanpa garam sejak kemarin berkat tensi darahnya yang terus saja naik. Sekarang emosinya juga ikutan naik dan Sunoo hanya ingin marah-marah saja walaupun tidak memiliki alasan .
"Koreksi Yang," Sunghoon sama sekali tak menyembunyikan tawa, bahkan sampai terbahak menunjuk dagu Jay yang buang muka. "Mantanan."
Nah, sekarang Sunoo malah semakin tak memiliki alasan agar bisa marah, alih-alih ikut tertawa bersama Sunghoon sampai suaranya memantul menyebalkan dalam gendang telinga Jay.
"Mantan apa tuh?"
"Mantan suami jiahhhhkk!"
Jay berdecak jengah, berusaha keras untuk tidak peduli tiap ejekkan yang terlontar untuknya. Dia meringkuk seperti janin pada sofa dengan ponsel panas tak juga lepas dalam genggaman.
"Lagian kalo dipikir-pikir ya," suara Sunghoon menggema lagi, Jay sudah tau ucapan selanjutnya akan lebih menyebalkan dari sebelumnya. "Mereka kan ga pernah pacaran." Kan!
"Oh iya, kan nikahnya karna ke-"
"Hoon." Tegur Jay memotong ucapan Sunoo begitu saja. Kepala Jay keluar diantara sofa dan lutut berganti pada Sunghoon tanpa ingin melihat Sunoo meskipun pematik kesalnya berasal dari laki-laki yang paling muda diantara mereka bertiga itu. Jay kesal dan dia hanya ingin melimpahkan kepada Sunghoon saja.
"Jaeyun itu juga temen lo. Jauh sebelum lo kenal sama gue dan Sunoo, lo yang duluan kenal Jaeyun. Lo ada disana juga liat semuanya, harusnya disini lo yang paling paham gimana." Jay buang nafas. "Gausahlah jadiin ini bahan jokes lo yang cuman pengen buat Sunoo ketawa, ampas banget cara lo tau ga?"
Rahang Sunghoon kontan terkatup sedang mangkuk nyaris kosong mendadak menarik mata Sunoo.
"Lo juga dek," Jay berganti kepada Sunoo, nadanya lebih rendah tak ingin Sunoo menganggapnya tengah marah meskipun itu memang benar. "Gue tau lo masih marah sama Jaeyun, but it's been ten years already. Gue dan Jaeyun sama-sama udah berdamai sama kejadian itu, kita juga udah temenan lagi sekarang kayak dulu. Jadi tolong ya, udahan..."
Sunoo tak menjawab, mungkin ujung garpunya bisa tumpul terus saja dia gesek pada mangkuk.
"Sunoo." panggil Jay meminta respon.
Sunoo berdecak sebagai jawaban, namun tetap enggan untuk melirik kepada kakaknya itu.
"Ingat, lo lagi hamil, kontrol emosi jangan apa-apa dibawa marah mulu." Sambung Jay.
Sunoo menekan kepalanya lebih dalam pada mangkuk sedang kaki di bawah meja menendang kaki Sunghoon meminta bantuan. Masalahnya, Sunghoon juga sama takut pada tempatnya. Lebih baik Jay marah-marah seperti bocah tantrum daripada dengan suara tenang seperti ini, mental Sunghoon ciut menghadapinya.
Bukan karena Jay adalah kakak iparnya, jauh saat hubungan mereka masih sebatas teman saja, Sunghoon tak pernah memiliki keberanian menghadapi Jay yang seperti ini. Jay bahkan tidak memaki dengan suara meledak-ledak, tidak juga sampai menggunakan fisik.
Suasana kediaman itu menjadi canggung dan Jay jelas tau dialah penyebabnya. Dia berakhir menghela nafas, bangkit dari sofa dan meninggalkan Sunghoon dan Sunoo tanpa mengatakan apapun lagi. Jay tak memiliki jadwal apapun sampai jam makan siang nanti dan rencananya dia akan menghabiskan waktu disana sekedar rebahan saja namun kini mendadak tak ingin tinggal lebih lama.
Jay pergi, masuk ke dalam mobilnya lalu lagi pandangi ponsel.
Jay sudah keluar dari lini masa dunia maya berganti pada ruang obrolan. Nama Jaeyun berada pada sematan teratas dengan panggilan terakhir kemarin malam menjadi interaksi terakhir mereka.
Jay mengetuk ragu kemudi, sesaat menimbang haruskah dia menghubungi Jaeyun sekedar berbasa-basi menanyai keadaan aktor itu. Agensi Jaeyun juga tidak memberikan konfirmasi apapun, memutuskan untuk mendiaminya saja sampai rumor itu reda dengan sendirinya.
Menit berlalu, Jay putuskan untuk menghubungi.
"Hei," sapa Jay pertama kali saat sambungan mereka terhubung.
"Hei," balas Jaeyun. "I'm doomed."
"Dimarahin?"
"Diomelin Kak Giselle." Keluh Jaeyun. "Aku cerita nanti, ada orangnya di sebelah."
Jay tertawa, tawanya yang pertama hari ini. Dia bisa membayangkan betul bagaimana Jaeyun yang mungkin tengah menerima panggilannya sembunyi-bunyi sembari mata awas mengawasi Giselle agar tak ketahuan, saraf tubuhnya yang sempat tegang sejak pagi itu perlahan mengendur. Mengherankan bagaimana penyabab dan penyembuh itu berasal dari orang yang sama.
"Kamu lagi dimana?" Tanya Jaeyun. "Tempat Sunghoon?" Terkanya.
"Iya, tapi sekarang mau langsung ke studio."
Seloroh Jaeyun terdengar pada sambungan. "Je..." Panggilnya.
"Iya?"
"Maaf, harusnya aku dengerin kamu buat stay aja semalam jadinya hal kayak gini ga bakal kejadian." Jaeyun meringis oleh sesal, "ujung-ujungnya kamu kena lagi dikatain playboy yang omeganya ada tiap gang."
Jaeyun mendengus, kentara sekali kesal atas tudingan pengguna internet terhadap Jay itu. "Padahal kan aslinya ga gitu..." Cicit Jaeyun.
Ujung bibir Jay berkedut dalam senyum. "Yang penting kan kamu tau aku aslinya ga gitu." Balas Jay lembut berusaha menenangkan. "Aku sekarang jadi mikir buat nyari rumah yang garasinya di basement."
Jay coba alihkan obrolan tak ingin Jaeyun larut terlalu jauh dalam sesal. Jay bisa mengatakan ribuan kali bahwa tudingan-tudingan itu tidak dipicu oleh Jaeyun, kenyataannya memang bukan. Pesonanya sudah jelek dari dulu, Jaeyun bukan orang pertama yang bersenggolan rumor dengannya seperti ini. Di tahun pertama Jay debut, rumor miring sudah berdampingan dengan namanya.
Jaeyun mendengus lagi, "Iya deh yang duitnya banyak."
Jay terkekeh. "Hari ini kamu ada pemotretan kan? Udah sampe?"
"Udah, ini mau siap-siap buat di make-up in."
Ada jeda lagi kali ini dari Jay. "Nanti malam aku yang mampir ke tempat kamu?"
"Boleh. Aku masih gatau balik jam berapa, nanti kamu langsung masuk aja ya. Aku pastiin Kak Giselle ga mampir malam ini."
Jay tertawa lagi, "okay..." Ponsel dalam genggaman tangannya teremas tanpa sadar. "Yun..." Panggil Jay.
Ada jeda seperkian sekon, Jaeyun selalu punya dugaan untuk lanjutan yang akan Jay katakan disetiap penghujung sambungan mereka namun dirinya terlalu takut untuk menghadapi.
"See you tonight, Je." Dan dia memutuskan untuk lari.
Sambungan itu berakhir temani Jay dengan layar yang menampilkan ruang obrolan kembali.
Alpha itu menahan nafas kecewa. Layar ponselnya dia pandangi sendu bersama lidah bergelung pada pangkal tenggorokan berusaha keras menelan apapun yang selalu ingin dia ungkapan kepada Jaeyun.
Ungkapan yang Jay tau akan membebani Jaeyun. Ungkapan sama yang kian banyak menumpuk tak pernah bisa Jay ungkapkan; sama besar membebaninya pula.
Suara desis air terdengar nyaring dari dalam katel yang panasnya telah maksimal. Jay mematikan api cepat lalu membuka kabinet yang menyimpan mug dan persediaan berbagai macam teh milik Jaeyun. Ada teh hitam yang paling umum sampai teh arang yang Jay sendiri tak yakin bahwa jenis teh ini memang layak untuk dikonsumsi. Jaeyun sangat menyukai teh dan dia selalu terbuka untuk mencoba berbagai macam varian baru lalu menumpuknya banyak dalam rak kabinet dapurnya.
Satu diantara tumpukan jar kaca itu, satu yang paling familiar menarik perhatian Jay. Dia mengambil satu kantung dan mulai menyeduhnya dengan air panas di dalam mug.
Air bening berasap itu perlahan berganti warna biru, tak cukup kental untuk menutupi dasar.
"Kamu pengen kopi atau teh?"
Jay ikut membawa pandangan pada layar ponsel Jaeyun yang tengah menampilkan laman menu pesan antar. Ada kafe yang baru saja buka minggu lalu dekat taman kota, suasananya ramai sampai antrian terlihat mengular keluar menjadi alasan, meskipun penasaran ingin mencoba Jaeyun putuskan untuk menahan diri dan memilih pesan antar saja seperti ini.
Jaeyun memilih teh chamomile yang telah masuk dalam keranjang dan tengah mempertimbangkan makanan manis apa yang ingin dia tambahkan.
"Aku mau yang butterfly pea." Jay menunjuk pada pilihan teh yang lain yang sempat bergulir ke atas.
"The blue one?"
"Iya."
"Bluejays." Gumam Jaeyun. Jarinya mengetuk layar menambahkan teh pilihan Jay itu pada keranjang pesanan. Jay mengendus dalam respon untuk asal sebut Jaeyun yang terkadang pelakunya sendiri tak sadar melakukannya.
"It kinda looks purple tho." Kata Jaeyun lagi.
"Huh?"
Jay merenung, menggali ingatan akan warna bunga butterfly pea, sepanjang pengetahuannya bunga yang dijadikan minuman herbal itu berwarna biru, foto minuman pada laman sebelumnya juga berwarna biru dengan tambahan frappe menjadikan warna biru itu sedikit lebih pudar dari aslinya--atau memang ada kombinasi ungu, atau warna alami yang dihasilkan oleh bunga itu memang hanya berwarna ungu? Jay tiba-tiba berubah sangsi tak mempercayai penglihatannya sendiri.
"Maybe you're right, it's purple." Gumam Jay.
Gumaman itu hasilkan semburan tawa Jaeyun. Omega itu menatap Jay setengah tak percaya juga konyol berbaur satu.
"Je, ini kalo tadi aku bilang warnanya kuning kamu bakal iyain juga?"
Jay berkedip menyadari Jaeyun menipunya semudah itu. Kulit wajahnya kontan meremang oleh sisipan malu yang mendera. Gawat, pasti pesona kerennya jadi minus satu di mata Jaeyun!
Tetapi Jaeyun yang tertawa senang seperti ini taunya ikut menulari Jay pula dalam rasa senang yang sama. Wajah kikuknya berganti cepat dengan senyum lembut, satu tangan menopang wajah dan Jay biarkan binarnya tatapi Jaeyun leluasa.
"Iya." Aku Jay apa adanya.
Tawa Jaeyun berganti senyum, binar Jay balas dia tautkan dengan miliknya.
Jaeyun sudah melihat Jay ribuan kali, detail wajahnya telah hapal luar kepala dia ingat pula. Ribuan kali dan Jaeyun masih dapati dirinya kagumi paras itu lagi dan lagi.
Jay tau karena ribuan kali yang Jaeyun miliki merupakan ribuan kali yang sama yang juga dia miliki terhadap omega Sim itu.
Lalu senyum Jaeyun pudar, jernih matanya meredup oleh gejolak tak menyenangkan tiba-tiba merasuki pangkal tenggorokannya.
Jaeyun membawa pandangannya pada layar kembali, menyesaikan pesanannya dan temukan bayang wajahnya sendiri layar ponsel yang padam.
"Jeje..." Panggil Jaeyun pelan.
"Hm?"
Jaeyun tautan binarnya kembali pada Jay, selami sosok yang sudah ribuan kali dia tatapi itu berikut dengan dengung suara yang terlampu pelan dia ucapkan. "I'm pregnant."
Jay masih pada posisi yang sama, metoriknya tak berpindah seinci pun kecuali kelopak mata membeliak sebagai responnya. Sesaat dunia seperti mengabur, tubuhnya bak dipasak paku; mengaku dalam terkejut. Dan Jaeyun melihatnya, lalu perlahan rasa takut yang pikirnya sudah cukup dalam dia timbun itu serta merta menguasainya lagi.
Senyum Jaeyun menghilang sudah sedang bibir bergetar dalam tanya. "Kita harus gimana, Je?"
Dan suara serak Jaeyun seolah lonceng peringatan mengembalikan Jay pada realita seketika. Jay terkejut dan itu merupakan reaksi yang wajar namun disini ada hal yang lebih utama, Jaeyun dan kalut yang mungkin telah menguasai laki-laki itu entah sejak kapan.
"Hei," kedua tangan Jay lekas meraih Jaeyun dalam genggaman. "Yun, look at me." Pinta Jay.
Jaeyun menurut dan dia temukan wajah Jay berbayang pada matanya.
"Aku disini," kata Jay. "Kita, sama-sama disini... Hm?"
Lelehan pertama Jaeyun tumpah dan Jay menggantinya dengan pelukan erat.
Orang dewasa akan mengutuk mereka yang masihlah remaja tak tau apa-apa, kenyataannya itu memang benar karena baik Jay dan Jaeyun sama sekali tak tau apa yang harus mereka lakukan.
Manusia paling bodoh di dunia pun tau berhubungan intim akan menghasilkan kehidupan baru bukannya kulkas empat pintu.
Minggu kedua pada semester pertama kuliah itu terjadi bersamaan dengan siklus heat yang menyerang Jaeyun. Hari pertama pikirnya bisa dia tekan dengan suppressant seperti biasa, hari kedua Jaeyun juga masih menghadari kelas, hari ketiga Jaeyun dapati dirinya berdiri di unit apartemen Jay.
Jaeyun tak sempat melihat seperti apa penampilannya, sekacau apa dirinya dengan hasrat melambung tinggi minta dipuasi, wajahnya seperti bara api; merah padam dengan bulir keringat bak hujan turun pada sela wajah. Mungkin logikanya juga ikut turun bersama dengan peluh itu, atau memang kewarasannya sudah tidak ada lagi.
Jay membuka pintu pada gedoran yang tak ingat sudah berapa kali Jaeyun lakukan.
Dua kawan sebaya itu berhadapan, menekan ruang udara yang rasanya kian tercekik entah karena apa. Jaeyun pikir itu karena dirinya namun merah padam dengan bulir keringat serupa pada wajah Jay menjelaskan tanpa tanya bahwa alpha itu sama kacaunya akan masalah serupa.
Jay sudah nyaris sinting oleh rut yang dia alami sejak semalam. Dia tak ingin bertemu siapapun, terlebih Jaeyun. Jay mencengkram kenop kuat dan Jaeyun memaksa dirinya masuk melewati daun pintu itu.
Mungkin setelah ini Jay takkan mau berteman dengannya lagi, jika Sunghoon tau mungkin alpha itu juga akan ikut menghindarinya. Lingkar pertemanan mereka bertiga akan berakhir dan Jaeyun masih ingat dirinya sempat pertimbangkan resiko itu.
Jaeyun tau itu sangat mungkin terjadi, namun Jaeyun tetap dapati dirinya menubruk Jay dalam pangutan. Beliak mata Jay adalah respon paling munafik karena didetik selanjutnya, pangutan itu berbalas sama.
Bantingan pintu tertutup sama sekali tak terdengar, gesekan kaki kasar pada lantai juga sama.
Kamar Jay berantakan dan selimutnya tergeletak pada lantai ketika mereka masuk. Jaeyun menginjaknya sembarang dan nyaris terjatuh sebelum Jay menangkapnya dalam gendongan. Pinggang Jay erat sekali kaki Jaeyun ikat, tapi hanya sesaat saja sebelum tempat tidur semula kosong berderit ketika dua tubuh itu isi di atasnya.
Setelah apa yang terjadi hari itu, Jay masih tak berandai untuk menjadi orangtua.
Tapi kini, di balik bahu Jaeyun yang tengah dia dekap dengan dua gitar miliknya yang berdiri di sudut dengan poster-poster band rock yang penuhi dinding kamar, suatu hari nanti, Jay akan menjadi rockstar seperti dalam poster itu. Berdiri di atas panggung dengan ribuan orang yang akan bersama menyanyikan lagu ciptaannya.
Atau Jay bisa mengedit poster itu sendiri lantas memajang dalam rumah kecilnya bersama Jaeyun dengan latar suara tangisan bayi di kamar sebelah; entah karena lapar atau karena popoknya penuh atau karena dirinya bosan saja dan memutuskan menangis sepanjang hari untuk membuat orangtuanya pusing.
Gambaran kehidupan itu tak pernah sekalipun Jay bentuk dalam skenario sebelum tidurnya, tetapi jika hidupnya tiba-tiba berganti plot, Jay tak masalah untuk menjalaninya toh dia tidak sendiri, Jaeyun ada bersamanya juga.
Jaeyun... Tapi bagaimana dengan Jaeyun?
"Kapan kamu tau?"
"Tiga hari yang lalu."
Itu berarti sudah tiga hari ini Jaeyun dalam luputan rasa takut sedang Jay menjalani harinya seperti biasa tanpa memiliki beban apapun. Rasa bersalah melumat saraf terkecil ulu hatinya dan Jay marah terhadap dirinya sendiri tak merasa cukup peka belakangan ini.
"Kamu udah ngasih tau orangtua kamu?" tanya Jay lagi.
Jaeyun menggeleng, menunduk menyembunyikan wajahnya. "Kamu orang pertama yang aku kasih tau."
Kenyataan itu tak cukup mengusir rasa bersalah yang Jay rasakan. Helai rambut Jaeyun yang menjuntai jatuh di depannya dia tatapi sedih, Jay biarkan tangannya tenggelam diantara helai itu, mengusapnya lembut seolah bisa menebus tiga hari kekalutan Jaeyun.
"Jaeyun..." panggil Jay. Tangannya yang lain mencari dagu Jaeyun guna bersitatap dengannya lagi. Jaeyun tak menolak dan biarkan binar mereka tertaut kembali disana. "Yun..."
"Hm..."
"You want this?"
Ada dentuman yang menyapa rongga dada Jaeyun akan pertanyaan itu. Di detik pertama saat Jaeyun tau dirinya mengandung, pertanyaan pertama yang terlintas dalam kepalanya; apa yang harus dia lakukan, Jaeyun terlalu takut untuk ajukan tanya lain; apakah dia menginginkan bayi ini? Bayinya bersama Jay?
Hanya tiga detik yang Jay butuhkan untuk otaknya menciptakan skenario kehidupannya bersama dengan bayi mereka, tiga hari yang Jaeyun miliki dan kehidupan itu taunya tak terlintas sedikitpun darinya. Menjadi orangtua diumur mereka yang bahkan belum menanjak kepala dua?
Tiga hari terlalu singkat dan Jaeyun membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi untuk bisa menanyakan hal itu.
"Aku... gatau..." aku Jaeyun. "You want this?" Kali ini berganti Jaeyun yang ajukan tanya yang sama.
"It's your body Yun, bukan keinginan aku yang harus kamu pertimbangin, tapi keinginan kamu."
Pelupuk Jaeyun panas lagi, Jay kembali mengabur dalam penglihatannya.
Jaeyun memiliki kuasa 100% atas tubuhnya, atas hidupnya. Jay bahkan memberinya validasi untuk hal itu, namun taunya masih belum bisa munculkan rencana masa depan seperti apa yang dia inginkan dalam kepalanya.
"Takut." Ungkap Jaeyun.
"I know..." Jay rengkuh pundak Jaeyun hati-hati dan biarkan kepala itu bersandar pada dadanya. Pacuan jantung Jay terdengar jelas pada indera Jaeyun, pacuannya terasa cepat, lebih cepat dari yang biasa dia rasakan ketika memeluk Jay hari lalu. Ketika Jaeyun raih tangan Jay dalam genggaman, telapak tangan yang selalu terasa hangat itu bak bongkahan es beku merayapi kulitnya.
Pada titik itulah Jaeyun sadar bahwa Jay juga sama takut dan bingung akan dirinya. Bahwa disini bukan hanya dirinya saja yang butuh ditenangkan, tapi Jay pun.
Punggung tangan Jay itu Jaeyun kecup, sekali dua kali sebelum dia labuhkan pada pipinya. Mengusaknya disana seolah itu bisa hantarkan hangat yang sebenarnya juga tak Jaeyun miliki. Anehnya, malah ketenangan itu Jaeyun dapati untuk dirinya sendiri.
Jay tidak melakukan apapun, tidak juga menuang sejumput kalimat puitis untuk luluhkan pertahanannya, Jay hanya ada disana; bersama Jaeyun, temani Jaeyun. Jaeyun memberitahu Jay pertama kali bukan hanya karena alpha itu bertanggungjawab terhadapnya, karena jika seandainya Jaeyun tak menginginkan bayi itu, maka dia tak akan memberitahu Jay dan mengurus semuanya seorang diri.
Karena jauh di lubuk hatinya, Jaeyun tau dia datang karena menginginkan kepastian yang lain. Kepastian untuk membuatnya yakin.
Tentang ini; mereka dan masa depan.
"Jeje..."
"Iya Jaeyun?"
Ada jeda sunyi dalam ruang unit itu yang terasa seperti dengung ruang kosong. Hampa.
Jaeyun mendongak dapati Jay yang menatapnya teduh. Remasan tangan Jaeyun pada tangan Jay menguat.
"Kamu ga akan pergi kan? Kamu akan bareng sama aku terus kan?" Tanya Jaeyun itu lebih kepada tuntutan, tuntutan untuk penuhi validasi yang dia harapkan.
Jeda yang sama terulang lagi. Dengungnya terasa lebih memuakkan dan remasan yang kian menguat itu gambaran kalut yang mendera Jaeyun. Jay yang paling tau dan dia takkan membiarkan Jaeyun berlarut dalam asa itu lerlalu lama.
Dia menunduk, bibir keringnya menyapa kening Jaeyun dalam kecupan.
"Aku janji akan selalu bareng kalian berdua."
Gelitik berhamburan penuhi perut Jaeyun. Rasanya aneh, tidak familiar, terlampau beda dengan gelitik yang Jaeyun rasakan sebelumnya.
Jaeyun dan Jay hanyalah teman yang kemudian terperangkap pada situasi butuh dan membutuhkan. Mereka tidak berkencan, tidak pernah sekalipun ungkapkan perasaan cinta untuk satu sama lain. Namun keduanya paling tau betapa mereka menginginkan presensi masing-masing.
Mereka menikah pada bulan yang sama. Tidak ada prosesi lamaran, masih tidak ada juga ungkapan cinta yang tertuang. Hanya ucapan janji sumpah suci yang disaksikan oleh para orangtua, Sunoo, Sunghoon juga Layla anjing Bordie Collie milik keluarga Jaeyun. Tidak ada juga pesta perayaan, hanya acara makan siang yang meja besarnya terisi oleh dua keluarga yang kini menjadi besan.
Lalu setelah makan siang itu selesai, Jay dan Jaeyun mampir ke kafe dan menikmati masing-masing dua ember besar es krim menghadap persimpangan jalan sibuk di balik kaca dinding transparan. Hanya seperti itu saja dan mereka resmi menjadi pasangan.
Di hari yang sama itu juga Jaeyun pindah ke unit Jay, mengisi kamar milik Jay yang kini menjadi kamarnya juga, menggelikan akan kilas balik ingatan bahwa di kamar itulah menjadi awal mula semuanya terjadi.
Dan itu terjadi satu dekade lalu.
Isi mug Jay telah dingin dengan sisa setengah ketika Jaeyun pulang. Alpha itu lekas bangkit dari sofa, melangkah lebar menuju pintu menyambut kepulangan si pemilik rumah dengan senyum lebar. Jaeyun balas tersenyum, membuka topi dan jaket untuk dia sampirkan pada lemari penyimpanan di sebelah pintu sebelum hampiri Jay dalam pelukan.
"Kapan kamu sampe?" Tanyanya.
"Dua jam-an yang lalu?" Sekarang jam sudah menunjuk angka dua belas lewat, hari baru sudah dimulai kembali dengan wajah tanpa riasan Jaeyun yang terlihat mengantuk.
"Mau mandi dulu?" Tanya Jay.
Jaeyun mengangguk.
Jay menghabiskan sisa teh miliknya seraya masuk kembali ke dapur. Air dalam katel kembali dia panaskan dan menyiapkan segelas teh chamomile untuk Jaeyun.
Sayup suara air dalam shower masih terdengar ketika Jay masuk ke dalam kamar. Teh itu dia letakkan pada meja nakas Jaeyun sebelum naik ke atas tempat tidur dan membaringkan dirinya disana.
Selagi menunggu Jaeyun selesai, Jay habiskan waktunya menjelajahi linimasa kembali. Nama keduanya masih berada pada daftar teratas pencarian. Ada artikel baru dari media resmi terunggah beberapa jam yang lalu, isinya tak jauh berbeda dengan artikel-artikel yang pertama kali muncul pagi tadi, sisanya lebih banyak didominasi oleh akun gosip yang dipenuhi ribuan komentar dari pengguna internet.
Tak sedikit orang coba membuktikan keduanya memang berkencan, jejak digital lalu digali sampai ke hari debut masing-masing, namun hasilnya nihil. Jay dan Jaeyun tidak pernah sekalipun terlihat bersama di publik. Keduanya bahkan tidak memiliki jadwal yang saling bersinggungan seperti acara penghargaan akhir tahun atau acara brand dengan mereka yang menjadi daftar tamu, atau sekedar Jaeyun yang merekomendasikan salah satu lagu Jay atau Jay yang sempat membahas drama atau film yang Jaeyun bintangi.
Jadi sebenarnya Jay sendiri juga paham mengapa Jaeyun yang terlihat keluar dari rumah pribadinya menjadi konsumsi heboh.
Memandangi foto mereka berdua secara berdampingan dalam kolase seperti itu sedikit banyak kedutkan senyum Jay. Diantara resah dan cemas, Jay tak bisa memungkiri adanya rasa senang yang dia rasakan. Seolah foto-foto seperti ini berikan validasi jika mereka memang sesuatu yang benar terjadi.
Tapi harus sampai kapan Jay mampu berpuas hati sebatas ini?
Semerbak aroma harum menyeruak bersama pintu kamar mandi yang terbuka. Jaeyun terlihat di balik sana, menggunakan jubah mandi dengan rambut hampir kering tengah dia sisir jari. Mug yang berisikan teh buatan Jay menjadi hal selanjutnya dia lakukan, menyesap isinya tenang sebelum akhirnya ikut bergabung di atas tempat tidur.
Jaeyun beringsut lebih dekat pada Jay, setengah berbaring ajukan pandangan pada layar yang tengah alpha itu minati, membuat Jaeyun segera ingat tentang cerita yang ingin dia bagi kepada Jay sebelumnya,
"Diomelin Kak Giselle tuh karna akunya ga cerita apa-apa ke dia." Ucap Jaeyun pelan. Layar ponsel Jay padam dengan fokus alpha itu lekas berganti pada Jaeyun sepenuhnya kini.
"Katanya ya," sambung Jaeyun lagi, "karna dia menajerku udah seharusnya dia punya privillage buat paling pertama tau."
Jay sembunyikan senyum. Bagian ini Jay juga paham mengapa Giselle marah. "You can tell her, you know." Sahut Jay.
Jaeyun mendelik dalam penolakan, "engga ah, bisa senam jantung karna kaget Kak Giselle nanti."
Rambut Jaeyun yang menjuntai pada wajahnya Jay usap lembut dan menyimpannya pada belakang telinga. Daun telinga Jaeyun terasa dingin sekali menyapa kulit tangan Jay. Jay berganti usap tulang rawan itu hasilkan sensasi menyenangkan yang Jaeyun rasakan.
"Aku ga masalah kalo kamu mau go public." Pelan suara Jay menguar lagi seperti gumaman. Pelan sekali namun taunya mampu buat saraf kendur Jaeyun kontan menegang diikuti beliak mata dalam pelototan.
"Go public what?" Jaeyun tertawa kering.
Usapan Jay terhenti. Matanya bertemu dengan binar Jaeyun yang resah coba menghindari dirinya.
Jay berdehem. "Hubungan kita. Ga harus ke publik, ke teman-teman kamu aja, atau orang-orang di agensi kamu."
Tawa Jaeyun mengeras, bukan tawa lepas lebih seperti kelakar akan sarat tak percaya. Apakah teh butterfly pea yang Jay minum sebelumnya mengandung alkohol?
"Hubungan apa Jay? Kita gaada hubungan apa-apa."
Jay seperti tertohok ludahnya sendiri. Ada denyutan halus pada rongga dadanya, begitu halus sampai Jay tak memiliki kesempatan untuk merasa terluka. Dia kecewa, tatapan matanya yang selalu terlihat penuh intimidasi itu isyaratkan kekecewaan.
Jaeyun tau, mungkin dialah yang paling tau.
Sisa tawa omega itu menghilang, dia menyugar rambut canggung. "We are just this, Jay." Dia menepuk tempat tidur dengan ringan.
Denyutan yang sama itu terasa lagi, kali ini diikuti dentuman pula. Padahal Jay juga tau, dialah yang paling tau.
Jay menatap tangan Jaeyun tanpa cahaya. Tapi harus sampai kapan Jay mampu berpuas hati sebatas ini? Gema yang sama itu penuhi diri Jay lagi.
"Just this, huh?" Gumamannya teredam dalam pangkal lidah. Jay menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Jaeyun katakan sekaligus mengerti bahwa hubungan mereka memang takkan kemana-mana. "You're right."
Jay berpaling dari tangan Jaeyun lalu turun dari tempat tidur. Memutuskan untuk segera menghentikan topik itu. Kamar Jaeyun terasa mencekik dan Jay butuh udara segar guna dinginkan pikirannya.
"Jay..." Keluh Jaeyun. "Please don't be like this."
Jay tak menanggapi, jaket yang tadi dia kenakan dia gantung pada lemari penyimpanan pada pintu utama. Langkahnya Jay bawa kesana tak menghiraukan Jaeyun sama sekali.
Jaeyun mendesah kuat, nyaris melompat dari sana guna mengejar Jay pada bibir pintu.
"Don't walk away like this." Jaeyun cengkram lengan Jay menahannya tak pergi.
"Kenapa? Are you in heat? You want to have sex right now?"
"Jay!"
"It's what we are, right? Nothing else but partners in need."
Itu bukan tudingan bukan juga cemoohan karena memang itulah mereka. Jaeyun yang menarik garis itu dan Jay menyanggupi karena itulah satu-satunya kesempatan agar dia bisa bersama Jaeyun lagi.
Jaeyun menatap Jay sedih seolah Jay menyakitinya. Seolah Jay adalah manusia paling egois yang tak pernah bisa memahami posisinya. Tapi, apakah Jaeyun pernah memikirkan posisi Jay?
Jay membuang nafas berat, "are you ashamed of me, Yun?" Tanya Jay.
"Kamu tau kita kerja di dunia kayak apa Jay, aku cuman gamau hubungan pribadi kita jadi konsumsi publik."
Jay menggeleng tak setuju. "Nah, kamu udah kayak gini bahkan sebelum kita debut. Dulu, setelah kita nikah kamu juga selalu ngewanti-wanti buat ga ngasih tau siapapun. Kenapa? Kamu malu dengan pernikahan kita?"
Rahang Jaeyun menggertak dalam mulutnya. Jaeyun mungkin tengah kelelahan atau memang emosilah yang mendominasinya saat ini. Jaeyun tak pernah suka topik pernikahan mereka, hubungannya dengan Jay setelah bercerai adalah lembar baru dan Jaeyun sudah tak mau membuka lembar lama itu lagi.
"Iya!" Teriak Jaeyun. "Aku emang gamau orang lain sampe tau aku harus nikah karna hamil. Aku malu!" Suaranya menggema penuhi seisi kamar.
Jaeyun menatap Jay nyalang seolah tak ingin lagi menahan apapun yang selama ini dia pendam seorang diri.
"I'm not ashamed of you, I'm ashamed of myself. Because I'm a fool, too naive dan jadi penyebab ini semua terjadi!"
Matanya panas dan Jaeyun mulai menangis, bukan karena dia sedih tapi karena dia marah. Marah pada masa lalunya, marah pada dirinya.
"My parents hate me, your parents hate me."
"That's not true-"
"And it's true, i ruined your life!" Lolong Jaeyun.
Jay menggeleng, membantah apa yang Jaeyun katakan berikut hal-hal yang tengah dia pikirkan dalam kepalanya sendiri.
Seharusnya mereka sudah bergelung dalam mimpi saat ini jika saja Jay tidak egois membawa hal yang dia tau sangat Jaeyun benci. Jaeyun memiliki jadwal seharian ini, dia bertemu banyak orang yang mungkin diam-diam ikut berbisik di belakangnya dan ketika dia bisa keluar dari situasi itu Jay malah membuatnya semakin buruk.
Sesal menggeluti Jay segera dengan panik berusaha tenangkan Jaeyun.
"Jaeyun I'm so sorry, let's stop talking about this, hm? I'm sorry..." Jay raih Jaeyun dalam dekapan namun Jaeyun menepisnya dalam penolakan.
Jay tergugu.
Jaeyun masih tatapi Jay dengan amarah yang sama dengan nafas bergulung kasar.
"Gara-gara harus nikahin aku, kamu harus lepasin mimpi kamu. Semua itu cuman untuk pernikahan yang malah ga sampe setahun karna aku malah keguguran!"
"Stop saying that! Kamu ga pernah hancurin hidup aku, faktanya I'm living my dream now, aku berhasil debut, aku masih aktif bermusik sampai sekarang."
"Gimana kalo nanti orang-orang tau? Kamu pikir keadaan masih akan tetap sama? Penggemar bakalan tetap stay dukung kamu? Dengerin lagu-lagu kamu? Kamu pikir masih ada akan brand yang mau kerjasama sama kamu? You are delusional shit!"
"Yun-"
"Kamu bahkan hampir mati gara-gara aku, itu yang kamu maksud aku sama sekali ga ngehancurin hidup kamu?!"
Suara Jaeyun bak gema memantul dalam tiap inci indera Jay. Desah nafas tak beraturannya membuat ruang besar kediaman itu mencekik Jay dalam keterpakuan.
Cita-cita pertama Jay saat kanak-kanak adalah menjadi penulis. Jay suka duduk diam seorang diri sedang pikiran penuh oleh sambut sahut gambar yang ada dalam otaknya saja. Jay pikir itu adalah imajinasi dan pikirnya itu akan menjadi sebuah dunia baru yang akan dia ciptakan dalam tulisan.
Namun kemudian Jay menyadari bahwa ingatan itu bukanlah imajinasi. Ingatan-ingatan itu adalah lintas lalu kejadian yang memang benar dia lalui, semuanya nyata, benar ada dalam dunia yang dia huni. Jay bukanlah penghayal handal dan cita-citanya sebagai penulis, pupus begitu saja bahkan sebelum dia memulai cerpen pertamanya. Lantas terlupakan ketika Jay mulai mengemari musik saat masuk sekolah dasar, dan cita-cita menjadi musisi itu benar terwujudkan saat dia dewasa.
Sambut sahut gambar dalam ingatannya itu masih ada, lembarannya banyak memenuhi kepala Jay akan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Hal kecil yang tidak berarti, sampai hal besar yang menjadi titik balik yang membentuk siapa dirinya kini.
Lembaran itu tidak terhitung jumlahnya; tokoh-tokohnya, interaksinya, berikut frekuensinya yang bermacam pula silih berganti penuhi lembar hidup Jay. Silih berganti yang didominasi oleh orangtuanya, Sunoo, Sunghoon, petinggi agensi, producer, manajer, para penggemar yang telah mendukungnya sejak debut, juga Jaeyun.
Jaeyun mengisi lembar-lembar itu terlalu banyak dengan ingatan Jay akan omega itu selalu sejernih tinta baru.
Jay mengenal Jaeyun pertama kali dari Sunghoon yang merupakan teman semejanya di sekolah menengah atas. Ibu Jaeyun dan Sunghoon berteman dekat dan keduanya sering terlibat dalam hangout orangtua dan secara natural menjadi teman karena itu. Seiring hari, Jay dan Jaeyun menjadi teman pula dan ketiganya bak sushi kemasan dalam rak minimarket selalu terlihat bersama kemana-mana.
Menghabiskan masa remaja bersama, berlanjut sampai mereka dewasa kini taunya masih banyak hal yang luput Jay pahami akan Jaeyun. Mungkin dirinya yang tidak peka atau itu memang Jaeyun yang memperumit segalanya.
"Kamu maunya gimana Yun?" Jay melirih letih nyaris berada pada puncak pasrah. "Bilang, akan aku turutin..."
Hal lain yang tidak Jay ketahui dari Jaeyun, sifat Jay inilah yang paling Jaeyun benci. Bentuk cinta Jay yang selalu menempatkannya sebagai nomor satu, memprioritaskan dirinya untuk semua hal; semua hal meskipun Jay harus mengorbankan dirinya sendiri.
Jaeyun sudah lama berhenti meromantisasikan hal itu. Dia sudah muak, muak karena Jay harus berkorban lagi dan lagi.
"Kenapa lagi-lagi harus maunya aku Jay? Maunya kamu kapan?"
Jay tidak mengerti dan Jaeyun frustasi karena tak bisa mengungkapkannya bagaimana.
"Sekali aja, ga bisa ya ungkapin apa yang sebenarnya kamu mau? Ga bisa ya kalo kamu jujur samaku; sebenarnya kamu mau aku gimana? Kamu mau kita gimana?"
Jay tau apa maunya, terlebih maunya untuk mereka. Tapi Jay tak bisa katakan itu, selimut takut masih setebal dulu membungkusnya dan meskipun peluh telah sebesar kenari basahi kulit, Jay tetap akan membiarkan ketakutan itu membelitnya lebih erat lagi. Awal pertengkaran mereka malam ini adalah bukti untuk hasil jika Jay coba renggangkan belitan itu.
Keterdiaman Jay hasilkan frustasi Jaeyun yang lain. Bibir bawahnya dia gigiti gusar.
"Dulu..." Lirih Jaeyun, "apa kamu juga mau kita cerai?"
Tidak, Jay tidak pernah menginginkan perceraian mereka. Jay adalah orang di garda terdepan menolak perceraian itu namun memilih menjadi garda terdepan pula wujudkan permintaan Jaeyun.
Jaeyun ingin bercerai dan Jay wujudkan hal itu karena Jaeyun selalu menjadi prioritas utamanya, berikut semua keinginan omega itu bahkan jika itu adalah perpisahan mereka.
Bentuk cinta Jay terhadap Jaeyun selalu berbentuk seperti itu. Cinta yang sama pula yang membuat Jaeyun tak ingin bersama Jay lagi.
Jaeyun mendekat, meraih wajah Jay dalam tangkupan telapak tangannya. "Tolong Je..." Mohon Jaeyun, "jujur samaku... perceraian kita dulu, apa kamu juga mau itu?"
Bola mata Jay bergulir resah, dia berkedip terlalu takut menghadapi Jaeyun secara langsung. Kelopaknya terpejam, berusaha menghindari Jaeyun dengan sebuah jawaban dalam gelengan yang terlalu pengecut untuk dia suarakan.
Jaeyun tak tau perasaan apa yang dia rasakan untuk jawaban itu. Tetapi Jaeyun tidak terkejut, seolah instingnya sudah memberitahunya jauh hari. Bahkan di hari yang sama ketika Jaeyun ajukan cerai, dirinya tau Jay tak sepenuhnya menginginkan itu. Tapi Jaeyun tetap melakukannya.
"Tapi kenapa kamu setuju?"
Jay menggigit lidah dalam mulut. Kelopaknya menganak sungai dan paras Jaeyun dalam yang sangat dekat dengannya itu malah buram pada penglihatannya.
"Karna kamu adalah orang yang paling sakit saat bayi kita meninggal," Suara Jay serak mengais kata. "You're blaming yourself for what happened, thinking it's all your fault our baby is gone. You won't eat, talk, and you even refused to see me. You went through hell during those months of grieving dan permintaan pertama yang kamu minta ke aku setelah itu adalah cerai, trus gimana caranya aku nolak, Yun?
Duka yang aku rasakan dulu gaada apa-apanya dengan duka yang kamu rasakan. Dan aku gatau harus lakuin apa untuk bisa sedikit aja ambil duka kamu itu; biar kamu bisa sedikit merasa lebih baik, biar kamu ga lagi ngerasa sakit. Dan kalo ternyata bercerai dari aku bisa bantu ngembaliin diri kamu yang dulu, I'd do it for you in a heartbeat."
"Even though you're hurt?"
"Even if I'm bleeding out, I'd still do it over and over for you Jaeyun."
Jaeyun tidak suka jawaban ini. Dia benci jawaban ini.
"Kamu mau tau aku mau apa? Aku mau kamu, bareng-bareng kamu terus, entah itu sebagai suami atau pacar atau cuman teman--apapun Yun, apapun itu asal aku bisa terus bareng kamu." Jay mengusap wajah frustasi. "Tapi dari semua itu, aku lebih mau kamu tetap jadi Sim Jaeyun, aku lebih mau kamu bahagia, entah itu bareng aku, atau kamu dengan orang lain."
Jay tak pandai ungkapkan perasaannya. Pelatihan panjang sebagai trainee membantunya banyak bagaimana mengatur ekspresi di atas panggung. Hasilnya, lagu-lagu yang dibawakan itu tersampaikan sebagai mustinya.
Kali pertama Jay perlihatkan isi hatinya dan Jaeyun berharap jika itu hanyalah lakon panggung saja.
Tapi cinta Jay terhadap Jaeyun memang selalu berbentuk seperti ini, Jaeyun sendiri yang paling tau.
"Tapi setelah kita cerai, aku malah cari kamu lagi." Jaeyun menatap penuh sesal karena lagi untuk kesekian kalinya dia memporak-porandakan hidup Jay. "Like, what was even the point of putting us in such a ridiculous situation?"
Jay tidak setuju. Perpisahan mereka berperan besar dalam fase penyembuhan Jaeyun, hari-hari itu berat namun sebanding dengan Jaeyun yang berhasil menemukan dirinya kembali dan Jay akan melakukan itu ribuan kali lagi meskipun dengan proses berat yang sama lagi dan lagi.
Jaeyun mengalami keguguran di usia kandungan ke enam. Perutnya terlihat lebih kecil dari ukuran seharusnya, bahkan nyaris tak terlihat dengan berat badannya terus turun berbungkus pakaian tiga lapis yang menjadi gaya sehari-harinya kini. Jaeyun juga tak bisa menghadiri kelas satu semester penuh. Dia mendapat minus disemua mata perkuliahan dan seolah tak cukup membuat hidupnya berantakan, alasan itu malah meninggal tanpa sempat dia lahirkan.
Jaeyun mau tak mau harus mengambil cuti lagi di semester selanjutnya untuk masa pemulihan. Dukanya dia lewati dengan berdiam diri di kamar, Jaeyun bisa tidur sampai seharian bahkan tak makan sampai berhari-hari. Dia tidak bicara lagi, satu-satunya suara yang dia keluarkan adalah rintihan oleh sakit fisik yang menderanya selama berbulan-bulan itu.
Dan Jay ada disana melihat itu semua. Dia seperti bayangan Jaeyun mengikuti kemanapun Jaeyun melangkah; mengajaknya bicara, menarik topik lama dalam nostalgia dan Jaeyun hanya mendengarkan tanpa reaksi. Tapi Jay masih ada disana bersamanya.
Minggu ketiga pada jatah cuti yang masih Jaeyun miliki itu, dia putuskan kembali ke kampus. Jaeyun tidak ke kelas melainkan auditorium dan habiskan waktu sampai malam melihat para mahasiswa berlatih untuk penampilan panggung. Dan Jay menunggu pada lorong untuk menemani Jaeyun pulang ke kediaman mereka kembali.
"Kita cerai aja ya Jay." Bulan ke delapan pernikahan mereka, dua bulan dalam duka kehilangan, merupakan hal pertama yang Jaeyun pinta adalah perceraian mereka.
Jay masih sangat ingat lembar ingatan itu. Dia ingat bagaimana oksigan seolah terenggut hilang dalam paru, keterkejutannya bukan apa-apa, hujaman dalam dadanya juga bukan apa-apa. Di depan Jay ini ada Jaeyun yang kembali memutuskan bicara padanya, itu yang paling penting, bukan perasaannya, bukan juga pernikahan mereka.
"Aku mau kembali kuliah, aku akan ikut ujian ulang masuk fakultas seni, mungkin akting atau bekerja di balik panggung, masih belum terlambat buat ulang semuanya kembali dari awal kan?"
"No, it's not." Geleng Jay. Pipinya basah cepat-cepat dia usap.
Jaeyun selalu terlihat letih hingga tatapan sedihnya pada Jay hari itu terlihat sama dengan hari lalu. Jaeyun bahkan terihat seperti patung tanpa ekspresi.
"You should play guitar again, Je."
Je, Jeje... Panggilan Jaeyun yang dia berikan untuk Jay. Kapan terakhir kali panggilan itu menyapa indera Jay, betapa dia rindu. Dan Jay terisak sampai sekujur tubuhnya bergetar.
Jaeyun memeluknya disana, memberikan celah pundaknya untuk Jay basahi, berikan belitan kedua tangannya pada punggung Jay dalam usapan. Jay mendekap Jaeyun lebih erat, terlampau erat sampai tulang punggung belakang Jaeyun terasa menusuk tangannya.
"Goodbye Jeje..."
Dan perpisahan mereka berupa itu.
Jaeyun pindah dari unit Jay dan melanjutkan kuliah di kampus yang lain. Dia gagal masuk pada tahun itu dan mencobanya lagi di tahun selanjutnya, menjadi mahasiswa fakultas seni seperti yang dia inginkan dan coba menata keping hidupnya satu persatu.
Jaeyun melibatkan diri pada banyak kegiatan mahasiswa, kegiatan teater paling sering sekedar membantu di belakang panggung sampai mencoba peruntungan untuk peran kecil. Pengalaman akting pertamanya menjadi cameo tanpa naskah pada acara ulangtahun kampus, pengalaman kedua Jaeyun mendapat sebaris dialog dan itu menjadi titik awal rasa percaya dirinya tumbuh untuk mencoba audisi di luar kampus.
Jumlah audisi yang Jaeyun ikuti tak terhitung jumlahnya, brosur audisi menumpuk banyak pada laci kamar dan Jaeyun mengisi laci yang lain untuk tumpukkan kertas iklan itu. Tahun keempat perkuliahannya Jaeyun berhasil mendapat peran pembantu pada drama di salah satu stasiun tv nasional dan karir aktingnya pun resmi dimulai disana.
Bekerja di dalam dunia hiburan serta terlibat langsung dalam semua kegiatan hari-harinya, Jaeyun pikir kehidupan lamanya benar telah dia tinggalkan di belakang sana. Sudah tidak ada lagi Jay, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memikirkan Jay juga seporsi ruang untuk alpha itu dalam hidupnya. Jaeyun pikir dia berhasil melakukannya, dia harus berhasil melakukannya... Sampai sosok itu mengisi layar kaca di atas panggung dengan gitar terpanggul pada pundak.
Jay berhasil debut, sekarang dia berada di atas panggung, bernyanyi sembari memetik gitar sesuai dengan apa yang sejak kanak-kanak dia impi-impikan.
Dan empat tahun yang Jaeyun pikir cukup lari dari masa lalunya seketika ambruk oleh retetan ingatan lama yang nyatanya tak pernah berhasil dia kubur.
Ribuan brosur audisi dia baca, berbagai macam naskah sudah dia hapal taunya cerita lama itu tetap ada disana. 4 tahun melarikan diri, tak sampai 4 bulan Jaeyun dapati dirinya di depan apartemen Jay lagi.
Jaeyun deja Vu, situasinya bukan main serupa dengan dirinya yang masih belasan tahun berdiri di depan pintu Jay kembali. Jay ada di hadapannya membuka pintu dan Jaeyun mengulang situasi itu dengan situasi yang sama pula. Omega itu buta untuk sekedar memahami reaksi Jay, tidak ada sapaan terucap pula kecuali Jaeyun yang menubruk Jay dalam pelukan.
Jaeyun terisak nyaris serupa akan Jay pada hari perpisahan mereka. Isak tangis Jaeyun mengisi seluruh ruangan, lalu tenggelam ketika Jay balas dalam pelukan. Hangatnya masih sama, dekap eratnya juga masih serupa dulu. Dua orang yang sudah mengucap perpisahan itu taunya sama memandu rindu.
"3119."
"Huh?"
"My passcode, in case kamu mau mampir lagi."
Jaeyun sembunyikan senyum malu memalingkan wajahnya dari Jay. Jaeyun tidak bawa apa-apa saat mampir, hanya jaket dan topi yang dia kenakan ditemani ponsel dan kunci mobil.
Di luar sana langit masih gelap. Kota masih tidur dan Jaeyun harus kembali sebelum manajernya sadar dirinya pergi tanpa bilang.
"3119." Ulang Jaeyun.
Jaeyun tak gamblang berkata tapi Jay tau omega itu akan datang lagi dan Jaeyun memang benar melakukannya.
Satu minggu pertama baru dimulai sejak mereka saling berhubungan kembali, dalam minggu yang sama itu pula Sunoo tau bahwa Jaeyun telah kembali untuk memporak-porandakan hidup kakaknya lagi.
Jaeyun datang selesai jadwalnya selesai hari itu, sedang Jay masih dalam perjalanan selepas berolahraga di kantor agensi. Jay tidak ada, dan Jaeyun tak siap menghadapi Sunoo berikut amarah yang selalu dampingi mantan adik iparnya itu terhadap dirinya.
"What the fuck you doing here?!" Pintu tertutup dalam bantingan diikuti gesekan kasar kaki pada lantai menggema. Sunoo seperti angin menerjang Jaeyun dan mendorong tubuhnya kasar pada tembok. "Bajingan, lo ngapain di rumah kakak gue?!" Kerah baju Jaeyun, Sunoo cengkram kasar buat nafas Jaeyun tercekat bukan main.
Jaeyun masih belum bisa merespon dan tulang punggungnya serasa remuk menabrak tembok. Rengisannya menguar dan nafas berat mengais oksigen.
"Noo-" Jaeyun mencengkram tangan Sunoo berusaha melepaskan diri. Namun emosi kepalang menguasai jadikan tenaga Sunoo seolah berkali lipat mendominasi.
Jaeyun dan Sunoo tidak dekat. Interaksi mulai terjalin ketika Jaeyun menikah dengan Jay dan tak lama kemudian Sunoo berkencan dengan Sunghoon. Beberapa kali di hari lalu mereka sempat double date sekedar habiskan akhir pekan bersama, dan selama kali itu terjadi Jaeyun dan Sunoo tak pernah memiliki masalah apapun. Jay sering bilang Sunoo cerewet, jika udara tengah terik Sunoo lebih sering naik darah, tapi dia sangat baik dan Jaeyun sendiri pun tidak pernah melihat Sunoo dalam mode naik darah itu.
Namun Sunoo di depannya ini bak hewan buas mengamuk, kabar buruknya Jaeyunlah pemicu itu semua.
Sunoo gelap mata. Bencinya memupuk terlalu banyak pada mantan kakak iparnya dan melihatnya secara langsung terlebih di dalam apartemen Jay seperti ini membuat ledakkan emosi yang tak pernah sempat Sunoo luapkan hari lalu itu tumpah ruan tanpa ingin dia tahan lebih lama lagi.
"Gatau diri!" Maki Sunoo. "Masih belum puas lo hancurin hidup kakak gue, hah?! Mau lo siksa Kak Jay gimana lagi Sim Jaeyun!"
Jaeyun terbatuk, wajahnya merah padam.
"Jawab!" Tuntut Sunoo.
"We bonded-"
"Hah?"
"We bonded!" Sunoo terpaku, matanya berkedip linglung dengan cengkraman pada kerah pakaian Jaeyun ikut mengendur. Inderanya pasti salah menangkap dengar atau Jaeyun yang hanya menyebar kebohongan saja.
Jaeyun meraup kasar oksigen. Lututnya menjeli oleh ketakutan yang mendera, serta merta buatnya terduduk pada lantai tanpa berani menghadapi Sunoo.
"Ga mungkin..." Gumam Sunoo. Dia berdecih dalam gelengan tak bisa mempercayai apa yang Jaeyun katakan.
"Lo pergi gitu aja tinggalin kakak gue dan sekarang lo balik sesuka hati dengan alasan karna kalian udah bonding?! 4 tahun Sim Jaeyun! Stop making shit up!"
Jaeyun menduduk menatap lututnya sendiri menyedihkan.
"Kita juga baru sama-sama tau." Jaeyun membela diri. "Mungkin udah dari dulu sebelum kita pisah, atau... atau it happened recently..."
Jawaban itu tidak membuat Sunoo merasa lebih baik.
Sunoo berdecak lebih keras. Betapa dia sangat ingin menghacurkan layar tiap kali Jaeyun terlihat dan betapa ingin dia mencabik habis sosok itu dengan tangannya sendiri sekarang. Betapa dia bersiap untuk lagi menyumpahi omega itu jika saja Jay tak kembali.
Tak butuh waktu lama untuk Jay segera menyadari apa yang terjadi. Dia berlari, secara otomatis membantengi Jaeyun di depan Sunoo--seolah bisa menebak hal gila apa saja yang bisa Sunoo lakukan.
Jay bersimpuh di depan Jaeyun, memeriksa sekujur tubuh Jaeyun berharap laki-laki itu tidak terluka. Tapi memar pada lehernya terlihat begitu jelas dan bagian itu Jay usap berulang seraya tuturkan maaf dalam panik.
Sunoo mencelos tak percaya dengan apa yang dia lihat. Bahkan, pikir Sunoo, jikapun bonding itu tidak terjadi Jay akan tetap melakukan ini; menerima Jaeyun sebegitu mudahnya tanpa peduli setaga apa Jaeyun terhadapnya.
"How pathetic you're Kak." Cemooh Sunoo.
"Let's talk inside, hm?" Ajak Jay, dia tak menunggu persetujuan lekas menyeret Sunoo masuk pada ruangan lain di apartemen itu. Sunoo menepis tangan Jay dalam sentakkan, emosinya naik lagi dan lengkingan suaranya menggema sampai ke telinga Jaeyun yang masih terduduk bodoh pada lorong.
"Anjing Kak don't you fucking realize you are being manipulated by him, hah?!" Sunoo meledak. "Gue ga nyangka lo ternyata sebego ini! Lo liat apasih di dia?!"
"Sunoo lower you voice-" tegur Jay.
"Kenapa? Lo takut dia denger sebusuk apa dia aslinya?"
"Sunoo!"
"Apa!" Sunoo tak gentar, menantang seolah tak tau seperti Jay saat alpha itu marah. "I'm the one who found you dying from a fucking OD, while he's the one who caused it!"
Lengkingan suara Sunoo bak petir menyambar Jaeyun. Otaknya beku sedang patahan ucapan Sunoo itu bak kaset rusak berputar tanpa henti dalam kepalanya.
Jay... pernah overdosis? Kapan? Apakah saat perceraian mereka?
Jaeyun tidak tau... bahkan dirinya tak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Jay menangis di hari perpisahan mereka, reaksi yang wajar karena Jaeyun pun sama. Tapi hanya sebatas itu saja, perpisahan itu sekaligus menjadi kali terakhir pertemuan mereka.
Jaeyun tak pernah mencari tau apapun tentang Jay lagi, Jay pun tak pernah menghubunginya. Itulah mengapa selama ini Jaeyun pikir keduanya sama berusaha untuk menutupi lembar masa lalu mereka.
"Adek..." Suara Jay seperti desisan angin diantara badai yang menerpa Sunoo dalam amarah. "I love him so much..."
Jaeyun tak mendengar sisa percakapan dua saudara itu, dia masih berada tempat yang sama bahkan setelah Sunoo pergi, berjalan melewatinya penuh penghakiman dan si dungu Jaeyun hanya terduduk disana tak tau harus melakukan apa.
Tangan lebar Jay menangkup wajah Jaeyun yang penuh air mata. Dia mengusapnya hati-hati, terlampau sayang takut menyakiti meski hanya semili. "You come back for me." Ucap Jay.
Kembali terdengar terlalu baik sedang kenyataannya Jaeyun memang tidak tau diri melesakkan diri dalam bagian hidup Jay. Tapi ya... Jaeyun memang kembali kepada alpha itu, dengan versi dirinya yang lebih baik.
"Bonding's sucks." Keluh Jaeyun. Bagian itu Jay tak membantah karena ya, terikat secara batin yang sedang proses itu sendiri bahkan tak keduanya sadari tiba-tiba terjadi begitu saja memang merepotkan.
Merepotkan karena usaha apapun untuk saling memisahkan diri taunya mengikat mereka kembali lagi dan lagi. Ikatan yang taunya baru mereka ketahui ketika resmi bercerai yang kemudian membuat mereka secara naluriah bergantung terhadap satu sama lain. Membutuhkan presensi masing-masing meskipun tanpa status hubungan yang jelas, resmi tidak resmi nyatanya disinilah Jay dan Jaeyun berada.
"Can we just stay this way Je? Backstreet atau apakah sebutannya itu... I'm still not ready to go public." Jempol kaki Jaeyun di balik selimut bergerak kecil mengenai jari kaki Jay. Dia melirik takut meskipun tau Jay takkan marah atau sesuatu.
"Aku bakal ngasih tau Kak Giselle... One day, I promise." Sambungnya lagi.
Jay mengubah posisi berbaring menghadap Jaeyun sepenuhnya kini. "Okay..." Jawab Jay. Dia setuju bukan karena itu merupakan permintaan Jaeyun, tapi karena pada sisi hatinya yang lain ikut membenarkan apa yang sempat Jaeyun katakan sebelumnya. Pekerjaan yang mereka tekuni didasari atas perhatian publik, sesederhana bergerak kanan ke kiri, publik juga tertarik untuk tau. Bertahun sudah bergelut taunya masih tak cukup membuat terbiasa.
Jaeyun benar, kehidupan pribadi mereka cukuplah mereka saja yang tau, publik tidak harus ikut campur.
"Can I hear the magic spell?"
"What magic spell?"
Jay menunggu berharap Jaeyun berhenti menggodanya dalam tingkah tidak tau apa-apa. Dan Jaeyun memang tau apa maksud Jay itu dan dia memang tengah menggodanya berpura-pura tak tau.
"I'm sorry Jeje..." Kata Jaeyun.
"Bukan yang itu."
"Tau, aku cuman mau minta maaf."
"Permintaan maaf diterima, can I hear the magic spell now?"
Jaeyun mendengus. Wajahnya maju seperkian senti pada Jay dan berikan ciuman singkat pada bibir alpha itu. "Alphaku..."
Bibir Jay berkedut dalam senyum. Bibir Jaeyun dia ambil kembali ciuman yang lain.
"Omegaku, Sim Jaeyun."
