Actions

Work Header

Cicada dan Oriole

Summary:

Belalang sembah yang mengintai cicada tidak akan menyadari oriole di belakangnya. Menggunakan teknik yang sama, mereka memburu serigala. Dengan Nie Huaisang mengambil peran sebagai cicada dan Jiang Cheng menjadi oriole yang membunuh monster itu, segalanya berjalan lancar... hingga kabar yang mungkin menghancurkan pondasi dunia perburuan tiba.

Notes:

Mo Dao Zu Shi belongs to Mo Xiang Tong Xiu.
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apapun dari pembuatan fanfiksi ini
Warning: BL, AU, miss typos, OOC, etc.
Selamat membaca.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di sisi gelap kota, seorang gadis jangkung bergaun merah berjalan dengan langkah cepat. Setiap bertemu persimpangan, dia akan berhenti dan menengok HP-nya dengan pandangan bingung sebelum memilih satu jalan. Sepintas dia tampak seperti gadis baik-baik yang tersesat di daerah kumuh. Tapi, andai para pemabuk di tepi jalan mengamati, mereka akan sadar jika gadis itu sudah melewati jalan yang sama sebanyak tujuh kali.

Di kali kedelapan gadis itu lewat, dia tidak sendiri. Seorang laki-laki mengikuti sepuluh meter di belakang dengan tatapan tajam mengintai.

Laki-laki itu mengenakan celana jeans hitam, kaos putih dan sweater panjang dengan logo universitas ternama di dadanya. Berada di awal usia dua puluh, laki-laki itu tampak seperti mahasiswa terpelajar yang menghabiskan waktunya di perpustakaan universitas atau kafe-kafe bergengsi sambil membaca buku atau mendiskusikan kebijakan negara—bukan berkeliaran di sisi gelap kota yang tak terjamah pembangunan, tempat para pemabuk, pelacur dan orang-orang buangan tinggal.

Mari sekali lagi kita berandai-andai pada para pemabuk tidak berguna itu.

Andai mata mereka tidak buram akibat alkohol, mungkin mereka akan menyadari bagaimana mata laki-laki itu berkilat dengan warna emas dan rambutnya seolah memanjang dan memendek tiap detiknya.

Andai telinga mereka masih dapat mendengar dengan baik, mereka akan mendengar geraman pelan binatang buas yang lapar saat laki-laki itu lewat.

Andai insting alami mereka tidak menumpul, mereka akan merasakan bulu kuduk mereka berdiri dan keinginan untuk lari dan menjauh dari laki-laki tersebut.

Dan andai pikiran mereka masih jernih, mereka akan menyadari betapa ganjilnya situasi itu, orang-orang tampak tidak tertarik pada laki-laki yang seharusnya menjadi target sempurna pencopetan dan perampokan.

Tapi justru karena orang-orang itu yang telah kehilangan berkat alaminya, maka tempat ini menjadi tempat sempurna untuk berburu bagi mereka...

... para serigala.

Dan serigala yang satu ini, yang menyaru sebagai mahasiswa terpelajar berpenampilan rapi, telah memutuskan jika gadis jangkung bergaun merah di hadapannya akan jadi mangsanya malam ini.

.

...*...

.

[Dia sudah mengikutimu, di persimpangan berikutnya belok kanan, dua ratus meter setelahnya, setelah rumah yang sudah hangus terbakar, ambil jalan ke kiri, tidak ada orang di sana.]

Membaca pesan di ponselnya, Nie Huaisang menghela napas lega. Akhirnya dia mencium aroma parfum ini juga. Aku nyaris gila berputar-putar di jalan yang sama delapan kali dan nyaris dicopet atau diseret ke gang sebanyak dua belas kali.

Dia kembali melanjutkan perannya sebagai gadis lemah yang tersesat. Nie Huaisang mempercepat langkahnya sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan panik. Sengaja mengibarkan gaun merahnya dengan cara yang dia yakin dianggap sebagai undangan makan malam oleh si serigala.

Nie Huaisang berhenti di persimpangan, berpura-pura mengecek peta dan mengambil jalan ke kanan dengan ragu-ragu. Dia berjalan dengan tempo yang sama sampai penguntitnya berbelok di jalan yang sama. Dengan sengaja dia menoleh ke belakang, selama satu detik matanya bersirobok dengan mata emas serigala yang tidak lagi terlihat seperti mata manusia.

Nie Huaisang berlari secepat yang dia bisa.

Karena pemangsa suka mengejar hewan buruannya.

“Nona!” sang serigala memanggil, tepat seperti dugaan Nie Huaisang. “Tunggu! Jangan lari, di sana adalah daerah yang berbahaya!”

Di telinga Nie Huaisang, suara yang harusnya bernada cemas itu terdengar sedikit amatir. Si serigala nyaris tak mampu menutupi rasa laparnya

 Dia pasti belum lama menjadi serigala, pikirnya.

Tapi jika Nie Huaisang benar-benar seorang gadis normal, dia mungkin akan menganggap suara itu sehangat musim semi dan semanis madu. Dipadu dengan penampilan rapinya, pria itu seolah menjanjikan keamanan di tempat yang begitu gelap ini. Bagaimanapun juga, suara serigala menyimpan hipnotis yang cukup kuat. Menjebak seseorang gadis muda yang emosinya sedang kacau jelas bukan masalah besar.

Nie Huaisang tidak menghentikan langkahnya, namun jelas dia memperlambatnya.

Serigala itu menyukainya. Dia menyukai bagaimana suaranya mampu memengaruhi gadis itu namun sang mangsa tetap menjaga jarak di antara mereka. Dia suka mangsa yang cerdas, yang bergantung pada insting alaminya untuk kabur dari binatang buas. Melihat gaun merah yang melambai seiring dengan lari gadis itu, si serigala merasa semakin senang sekaligus semakin lapar. Bagaimana rasa lapar dan adrenali berpacu di tubuhnya, membuatnya semakin bersemangat untuk menyantap si gadis malang. Serigala itu ikut berlari, dengan langkah elegan yang mengancam. Sebenarnya mudah baginya untuk melampaui gadis itu dan langsung menerkamnya, namun apa menyenangkannya perburuan seperti itu?

Dia ingin melihat buruannya terpojok.

Dia ingin melihat buruannya membeku ketakutan saat dia menyeringai untuk memamerkan taringnya.

Dia ingin buruannya merasakan keputusasaan yang membuatnya mematuhinya di saat-saat ketika dia menyadari hidupnya akan berakhir—itu akan membuat dagingnya terasa lebih manis.

Nie Huaisang sudah tiba di rumah bekas kebakaran yang dimaksud rekannya. Dia sengaja berbalik dan membuat tubuhnya gemetar. Kepalanya menoleh sekali lagi pada serigala yang mengikutinya. Nie Huaisang menelan ludah, mempersiapkan suara yang telah dilatihnya. “Siapa kau? Jangan mengikutiku!” Sial, suaranya tidak seketakutan yang dia duga. Dia mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku gaunnya dan mengambil posisi menodongkannya dengan cara yang tidak meyakinkan. “Ja-jangan mendekat! Aku memiliki senjata!”

Serigala itu tampaknya memutuskan jika berpura-pura menjadi laki-laki baik adalah cara tertepat untuk mendekati mangsanya. Dia menghentikan langkahnya dan mengangkat kedua tangannya di sisi kepala seperti seorang penjahat yang tertangkap polisi. “Jangan takut, Nona. Saya bukan orang jahat. Saya hanya khawatir pada Nona yang berjalan seorang diri di lingkungan yang berbahaya ini.” Dia mengambil dua langkah mendekat, tersenyum melihat ketakutan yang dipancarkan gadis di hadapannya. “Nona juga tidak terlihat seperti orang yang tinggal di daerah ini. Apakah Nona mencari alamat? Saya bisa membantu Anda.”

“A... aku... aku sudah menemukan tempat yang kucari. Aku hanya perlu... aku hanya perlu berbelok ke sini.” Nie Huaisang menunjuk gang di sampingnya seolah dia melakukannya dengan asal. “Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak perlu.”

Melihat gadis buruannya masuk ke dalam gang sempit dengan terburu-buru, sang serigala menyeringai. Hidungnya bergerak-gerak, jika ada yang mengamati, mungkin mereka akan menyadari jika hidung itu menjadi sedikit lebih besar dengan lubang yang sedikit lebih lebar. Serigala itu bisa mencium jika di jalan yang dituju gadis itu hanya ada dua orang manusia—satu anak kecil kotor dan satu laki-laki tua dengan aroma alkohol yang kuat.

Sempurna. Mereka bukan makanan favoritnya, tapi bisa dijadikan pembuka sebelum dia menyantap gadis manis ini.

Si serigala mengikuti gadis itu masuk ke dalam gang, masih berpura-pura menjadi laki-laki baik yang hendak menolong gadis malang yang tersesat. “Nona, saya rasa Anda salah. Tidak ada yang tinggal di sana. Tunjukkan alamatnya pada saya, saya berjanji akan membawa Anda ke sana.”

Nie Huaisang menghentikan langkahnya. Menoleh pada laki-laki itu. Dia membuat dirinya terlihat ketakutan namun sudah putus asa. Aku adalah seseorang yang tenggelam yang sedang meraih jerami, katanya pada dirinya sendiri. “Kau... kau tidak akan melukaiku?” tanyanya ragu-ragu.

“Tentu saja tidak, Nona. Saya hanya ingin membantu.”

Terbalik dengan kata-katanya yang terdengar meyakinkan. Di balik bayang-bayang gelap rumah yang terbengkalai, Nie Huaisang dapat melihat jika pria di hadapannya semakin lama semakin tidak tampak seperti manusia. Mata emasnya bersinar dengan kilau binatang buas, kuku tangannya memanjang dan melengkung menjadi cakar, wajahnya yang sebelumnya dapat dikatakan tampan menjadi semakin meruncing ke depan, mulutnya nyaris dapat dikatakan sebagai moncong dengan taring dan liur yang nyaris menetes, tubuhnya menjadi sedikit lebih membungkuk. Dan meski tidak terlihat, Nie Huaisang yakin jika bulu binatang kini sudah tumbuh di seluruh tubuhnya.

Nie Huaisang mengambil langkah mundur. “Ti-tidak perlu.” Suaranya sengaja dibuat bergetar hebat saat mengatakannya. “Aku tidak perlu bantuanmu.”

“Mengapa Nona terus menolak?”

“Karena...” Nie Huaisang tidak lagi menahan suaranya, suara tinggi khas gadis mudanya hilang digantikan suara yang lebih berat. Senyum miring timbul di wajahnya. “... rekanku sudah tiba.”

Serigala itu tidak sempat bereaksi saat sekelebat bayangan hitam melesat dari jendela salah satu rumah kosong. Hidungnya mencium aroma alkohol yang kuat, si kakek sialan itu!

Dia sudah hendak menerjang saat dia menyadari jika bayangan hitam itu sama sekali bukan kakek, melainkan seorang pria muda. Kontradiksi yang membuatnya bingung. Hidungnya masih mencium aroma pria tua tapi matanya yang menangkap sosok laki-laki dewasa dengan sebuah pedang panjang di satu tangan dan cambuk di tangan yang lain.

“Pemburu.” Suara lembut yang dia gunakan untuk merayu sang gadis lenyap, digantikan geraman liar binatang buas yang nyaris tidak dapat ditangkap maknanya.

Dia sudah masuk ke dalam jebakan. Serigala itu tahu dia harus pergi, pemburu bukan mangsa, mereka adalah orang-orang yang hidup dengan misi menghabisi para serigala. Dia memang sudah pernah mendengar kisah gemilang tentang serigala yang membunuh atau mengubah pemburu, namun dia lebih sering mendengar kisah serigala yang hilang dan diduga dibunuh oleh para pemburu.

Dia mempercepat transformasinya, saat dia berada dalam wujud serigalanya, para pemburu itu tak akan mampu mengejarnya secepat apapun mereka berlari.

Wujudnya kini sudah lebih mirip binatang dibandingkan manusia. Belum sempurna, namun cukup. Baru saja serigala memutar kakinya untuk kabur, rasa sakit yang kuat menjerat pergelangan kakinya.

Dia melolong.

Cambuk membelit kakinya, menahannya tetap di tempat. Saat dia hendak mengayunkan cakarnya untuk memutus cambuk, dia merasakan aliran listrik yang kuat di tubuhnya. Sekali lagi dia melolong. Tapi lolongannya terhenti di tengah jalan...

... mungkin karena kepalanya kini menggelinding di atas tanah, terpisah dengan tubuhnya.

Nie Huaisang mengamati bahkan setelah kepalanya berpisah dari tubuhnya, serigala itu masih dapat mengedipkan matanya, seolah tidak percaya dia mati dengan begitu mudahnya.

Dia menoleh pada rekannya, pria yang kini sedang mengibaskan pedangnya dengan jijik, membuat darah serigala muncrat ke dinding kotor di sampinnya. Bertanya, “Bisakah kau membunuhnya tanpa membuat dia menjerit-jerit? Telingaku sakit.”

Pria itu mendengus kasar. “Lakukan sendiri kalau begitu. Kita lihat apa serigala itu yang kau yang menjerit.”

.

...*...

.

Malam ini adalah malam perburuan pertama Jin Ling. Selama setahun penuh dia menelan kecemburuan setiap kali Lan Jingyi dan Lan Sizhui membicarakan perburuan mereka bersama Lan Wangji. Begitu usianya lima belas, usia minimal bagi pemburu muda untuk melakukan perburuan di bawah pengawasan pemburu senior, dia segera merengek pada ayahnya untuk diizinkan berburu.

Ayahnya ingin membimbingnya secara langsung, Jin Ling menolak. Perburuan dengan Jin Zixuan pasti terasa membosankan. Pria itu biasanya hanya mengawasi dari jauh sembari memberi komando anak buahnya untuk memojokkan serigala. Jin Ling memohon agar Jiang Cheng, pamannya, lah yang menjadi pengawasnya. Butuh dua minggu penuh sebelum Jin Zixuan menyetujuinya—meski dia terlihat masih sedih.

Berbeda dari Jin Zixuan yang melakukan perburuan secara berkelompok, Jiang Cheng lebih menyukai perburuan mandiri. Dia senang terjun langsung dan menebas leher para serigala dengan pedangnya sendiri. Reputasinya di kalangan pemburu setinggi langit, dia dikagumi sekaligus ditakuti karena kekejamannya saat melakukan perburuan. Jin Ling sudah lama mengidolakan pamannya dan berambisi menjadi pemburu dengan reputasi yang serupa.

Metode yang digunakan pamannya adalah metode belalang sembah. Nama itu diambil dari pepatah lama; 螳螂捕蝉,黄雀在后—belalang sembah yang mengintai cicada tidak akan menyadari oriole di belakangnya.

Ini adalah salah satu metode paling tua di dunia perburuan; kau berikan dia cicada, umpan, yang tidak dapat dia tolak dan kemudian kau letakkan oriole untuk menebas kepalanya. Banyak keluarga pemburu yang telah meninggalkan metode ini karena menganggapnya kurang manusiawi dan berbahaya karena para cicada biasanya adalah gadis muda yang lemah. Tidak banyak dari para cicada itu yang keluar hidup-hidup dari perburuan. Tapi keluarga Jiang berhasil mempertahankan metode ini selama berabad-abad tanpa terlalu banyak menjatuhkan korban.

Saat Jiang Yanli, ibu Jin Ling, masih muda, wanita itu adalah cicada utama keluarga Jiang, menggantikan Madam Yu. Posisinya sekarang digantikan oleh Nie Huaisang, putra bungsu keluarga Nie yang juga sejak muda dilatih untuk posisi ini oleh Madam Yu.

Jin Ling sebenarnya tidak terlalu mempercayai kemampuan Nie Huaisang. Bagaimanapun juga dia bukanlah seorang gadis, tidak lagi muda, dan sama sekali tidak memiliki kemampuan berburu yang mumpuni. Dia sangat yakin jika laki-laki itu hanya akan menjadi penghambat untuk Jiang Cheng.

Malam ini Jin Ling terpaksa mengakui dia salah. Jika tidak melihat bagaimana Nie Huaisang mengaplikasikan make up dan mengenakan gaun merah itu dengan mata kepalanya sendiri, Jin Ling juga tidak akan percaya jika gadis muda yang tampak hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu adalah pria dewasa seusia pamannya. Dan kemampuan acting-nya? Jin Ling sendiri hanya bisa terpesona, Nie Huaisang tampaknya benar-benar menguasai teknik untuk memancing serigala keluar. Setiap gerakan, tindakan, suara, dan emosi yang ditampilkannya adalah undangan makan malam bagi serigala, tidak ada satu pun gerak-geriknya yang sia-sia, semua memiliki arti—kejar aku, makan aku, aku adalah cicada lemah yang harus kau buru, wahai belalang sembah.

Tapi itu hanya berlaku di area perburuan. Di luar itu Nie Huaisang tetap adalah rekan kerja pamannya yang sedikit lambat dan agak menyebalkan.

Misalnya saat ini...

“Huh? Jin Ling tidak berlatih untuk menjadi cicada?” Nie Huaisang bertanya dengan nada kaget.

Jiang Cheng mengerutkan dahinya, andai dia tidak sedang menyetir mobil, dia pasti sudah memberikan Nie Huaisang tatapan kesal. “Sudah kuduga kau tidak mendengarkanku semalam. Dia hanya akan sekedar mengamati, dia tidak akan menjadi cicada ataupun oriole. Dia hanya akan menjadi pemburu biasa. Setelah dia puas mengamati kita, dia akan belajar teknik pengepungan keluarga Jin.”

“Aku akan menjadi oriole! Aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu, Jiujiu!” Jin Ling mengajukan protes dari bangku belakang.

“Kau tidak! Kita sudah sepakat soal itu.”

“Kita tidak sepakat. Jiujiu, kau mengancam akan mematahkan kakiku jika aku tidak bilang ya, maka dari itu aku hanya bisa menerima. Tapi aku akan tetap menjadi oriole!”

“Kalau begitu, aku benar-benar akan mematahkan kakimu sekarang juga dan kau tidak akan bisa berburu lagi selamanya!”

Jin Ling memutuskan untuk merajuk. Duduk dalam diam di bangku belakang mobil sambil memasang ekspresi masam dan menyilangkan tangan di dada. Nie Huaisang sekali lagi menyadari betapa miripnya paman dan keponakan ini. Bukan hanya wajahnya, namun juga perangainya. Andai ada orang asing diminta memilih siapa ayah Jin Ling di antara Jiang Cheng dan Jin Zixuan, dia pasti akan memilih Jiang Cheng tanpa ragu.

Untuk meredakan ketegangan yang menguar, Nie Huaisang berkata, “Kalau begitu, untuk apa aku berusaha ekstra keras malam ini? Kupikir aku akhirnya akan mendapatkan muridku sendiri, jadi aku sudah menyiapkan informasi tentang warna merah yang paling disukai serigala atau bagaimana cara berlari yang membuat mereka ingin mengejarmu.”

Jin Ling merinding membayangkan dia lah yang harus menggunakan gaun merah dan bicara dengan nada ketakutan untuk memancing serigala. Tidak, dia tidak mau. Lan Jingyi akan menertawakannya seumur hidup jika dia sampai mengambil peran cicada.

“Sekarang tidak banyak anak muda yang mau mengambil peran sebagai cicada.” Nie Huaisang menghela napas panjang. “Mungkin aku adalah pemburu terakhir yang mengambil peran ini dan segala ilmu yang kudapatkan akan mati dan hilang bersamaku.”

“Kau terlalu berlebihan!” cerca Jiang Cheng.

“Tapi itu benar!”

Awalnya Jin Ling mengira jika Nie Huaisang hanya mengeluh, namun dia menyadari apa yang laki-laki itu maksud. Kau tidak bisa menjadi oriole tanpa cicada. Dan dia menjadi semakin kesal—meski dia tahu Nie Huaisang ada benarnya. Dia bisa berkeras menjadi seorang oriole, namun tanpa ada cicada sebagai rekannya, Jin Ling hanya akan menjadi seorang pemburu biasa. Dia tidak senang dengan pemikiran itu, tapi dia juga tidak tahu apakah dia bisa mencari gadis atau pemuda yang mau menjadi oriole-nya.

“Jiang Cheng, sepertinya kita mengambil jalan yang salah. Ini bukan jalan menuju lokasi kedua.”

“Lokasi kedua?!” Jin Ling sekali lagi Jin Ling berteriak kesal. “Kau bilang hanya akan ada satu perburuan malam ini!” protesnya.

Kali ini Jiang Cheng benar-benar mengirimkan pandangan kesal pada Nie Huaisang.

Lagi-lagi kau tidak mendengarkan kata-kataku, kan?! Kira-kira itulah arti pandangannya. Nie Huaisang hanya bisa meringis, mana dia tahu jika briefing semalam akan mencangkup banyak hal penting? Dia pikir yang berbeda dari biasanya hanya Jin Ling akan ikut dengan mereka, jadi dia tidak mendengarkan sisanya.

Pada Jin Ling, Jiang Cheng berkata, “Hanya ada satu perburuan untukmu malam ini.”

“Tapi aku tidak melakukan apapun di perburuan yang tadi! Aku praktis hanya menontonmu dan Senior Nie menghabisi serigala itu sendiri! Jiujiu, kau sudah membunuh serigala itu bahkan sebelum aku sempat keluar dari tempat pengintaian!”

“Kau pikir pemburu muda akan langsung melakukan perburuan di malam pertamanya? Nona muda sepertimu hanya akan mati konyol dengan bekas cakaran di leher dan satu kaki hilang untuk makan malam serigala!” Jiang Cheng membelokkan mobilnya ke arah menuju rumah keluarga Jin, tanda dia tidak akan menerima protes apapun. “Kau hanya akan melihat dan mengamati sampai tahun depan.”

“Itu tidak adil! Jingyi bilang Lan Wangji mengizinkannya untuk...”

“Kalau begitu, ikut saja dengan Lan Wangji! Kenapa kau masih di sini?!”

Begitu sampai di rumah keluarga Jin, Jin Ling keluar dengan bersungut-sungut. Dia membanting pintu mobil sekeras yang dia bisa dan bahkan tidak mengucapkan selamat malam. Jiang Yanli yang menunggu di depan rumah hanya bisa tersenyum kecil melihat kemarahan putranya, dia melambai pada Jiang Cheng dan Nie Huaisang sebelum masuk untuk membujuk putranya.

Begitu mobil berjalan lagi, Nie Huaisang bertanya, “Jadi, mengapa kau tidak mengizinkan Jin Ling ikut bersama kita?” Nie Huaisang menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan matanya malas. “Jangan bilang kau mengkhawatirkannya. Aku masih ingat bagaimana caramu melatih pemburu lain, kau memaksa mereka untuk mengikutimu sepanjang malam tidak peduli seberapa berbahayanya itu.”

“Inilah alasan mengapa aku selalu menyuruhmu mendengarkan saat aku membicarakan perburuan,” Jiang Cheng berdecak kesal, kesabarannya pada rekannya jelas sudah nyaris sampai batasnya.

Nie Huaisang membuka mata dan menoleh untuk menatap rekannya. “Informasi apa lagi yang kulewatkan kali ini?”

“Wei Wuxian akan ikut berburu bersama kita.”

“Ah.”

Pantas Jiang Cheng tidak ingin Jin Ling ikut.

Wei Wuxian, adalah salah satu nama yang melegenda di kalangan pemburu modern—dan tidak semuanya karena alasan bagus.

Kedua orangtuanya adalah pemburu hebat, namun mereka tewas dalam penyerbuan ke ‘sarang’ serigala. Setelah itu, Wei Wuxian masuk ke dalam keluarga Jiang sebagai putra angkat. Kemampuan berburunya mengagumkan, dia dikenal sebagai prodigi muda yang ambisius. Di usia 15, dia sudah membunuh serigala yang nyaris berusia seribu tahun hanya berdua dengan Lan Wangji. Tapi setelah dewasa, dia berubah. Dia tidak lagi melakukan perburuan, dia justru melakukan penelitian.

Banyak hal gila yang dilakukan Wei Wuxian dalam rangka penelitian. Dia menangkap serigala hidup-hidup dan melakukan percobaan padanya, berusaha mengekstrak jasad para serigala, hingga menciptakan barang-barang aneh. Para pemburu mengagumi sekaligus takut padanya, menganggapnya sebagai pemburu yang telah kehilangan kewarasannya.

Sebenarnya, beberapa penemuan Wei Wuxian terbukti ampuh, salah satunya adalah parfum yang mereka gunakan untuk mengecoh serigala malam ini. Aroma parfum itu tidak akan bisa ditangkap manusia, namun hidung serigala yang tajam bukan hanya mampu mengendusnya, mereka bahkan mampu menerjemahkannya. Di hidung serigala, Jiang Cheng tercium seperti pria tua pemabuk, Jin Ling adalah bocah kotor yang sudah sebulan tidak mandi, dan Nie Huaisang adalah seorang gadis remaja yang lemah. Berkat parfum itu, Nie Huaisang masih dapat melakukan perannya sebagai cicada hingga saat ini dan bukannya pensiun di awal usia 20.

Penelitian yang dilakukan Wei Wuxian menimbulkan pro kontra di kalangan pemburu. Sebagian menganggapnya perlu bahkan cenderung memujanya. Sebagian lainnya menganggap itu tidak manusiawi. Pemburu selalu ditekankan untuk membunuh serigala dengan cepat dan sebisa mungkin tanpa rasa sakit. Penelitian Wei Wuxian yang sering kali melibatkan serigala hidup membuat mereka merasa dia tidak ada bedanya dengan serigala. Harga dari kekeraskepalaannya adalah dikeluarkan secara tidak terhormat dari asosiasi. Jiang Cheng pernah berkata masih bagus mereka tidak memasukkannya ke daftar hitam.

Tidak banyak orang yang masih berhubungan dengan Wei Wuxian setelah perubahannya. Jiang Cheng pun harus diam-diam saat melakukannya mengingat Madam Yu tidak akan senang jika tahu anaknya masih berhubungan dengan Wei Wuxian—yang bersamaan dengan dikeluarkannya dia dari asosiasi, juga dikeluarkan dari keluarga Jiang. Bukan hanya itu, Nie Huaisang juga tahu jika Jiang Cheng juga membantu penelitian Wei Wuxian, tentunya dalam batas toleransi moralnya.

Misalnya malam ini. Nie Huaisang sadar jika Jiang Cheng sengaja membunuh serigala buruannya mereka sebelum makhluk itu berubah secara sempurna. Tubuh serigala akan lebur menjadi abu jika mereka membunuhnya dalam wujud monsternya, namun jika mereka membunuhnya dalam wujud manusia, mereka akan meninggalkan jasad. Tidak ada pemburu yang mau ditangkap sebagai pembunuh, maka dari itu sebisa mungkin mereka mencari cara untuk memaksa serigala kembali ke wujud aslinya sebelum menghabisi mereka. Jiang Cheng yang membunuh serigala saat dia masih menyisakan 20% karakteristik manusianya meninggalkan beberapa botong tulang dan gumpalan daging menjijikkan yang kini berada di kantong sampah di bagasi mobil mereka. Nie Huaisang tahu siapa yang akan menyukai benda macam itu.

Secara pribadi, Nie Huaisang tidak tahu harus merasa apa pada Wei Wuxian. Tentu saja dia berterima kasih atas parfum yang membuat penyamarannya sempurna. Dia juga mengagumi kekuatan dan kecerdasannya. Tapi selain itu... entahlah, dia tidak mengerti.

Melirik kaca spion, Nie Huaisang melihat ekspresi aneh di wajahnya. Dia berusaha mengubahnya kembali menjadi senyum kecilnya yang biasa sebelum bertanya, “Apa dia akan datang sendiri atau bersama dengan kakak beradik serigala itu?”

“Hanya adiknya yang serigala,” Jiang Cheng mengoreksi. Ekspresi wajahnya juga berubah menjadi sedikit lebih keruh. “Dan ya, dia akan datang bersama mereka.”

Wei Wuxian punya banyak percobaan yang aneh atau mengerikan, dia akan dengan senang hati memamerkannya pada siapapun yang bertanya. Tapi ada satu percobaan yang ditutup rapat dari dunia perburuan. Yang membuat siapapun yang mendengarnya bergidik sekaligus tertawa saking tidak masuk akalnya. Bahkan Jiang Cheng pun sempat menentang keras penelitian yang satu ini.

Wei Wuxian ingin mengubah kembali serigala menjadi manusia.

Subjeknya adalah Wen Ning, seorang pemburu dari cabang keluarga Wen yang diubah menjadi serigala saat melakukan perburuan. Menurut peraturan, seharusnya dia dibunuh saat itu juga. Namun Wen Qing, kakak perempuan Wen Ning, menyembunyikannya dan membawa dia pergi. Menurut asosiasi, keduanya menghilang dan masuk dalam daftar hitam pemburu tapi sebenarnya mereka tinggal di rumah Wei Wuxian dan menjadi subjek penelitiannya.

“Dia masih belum menyerah?” tanya Nie Huaisang bosan. “Bukankah ini sudah hampir setahun sejak Wen Ning menjadi serigala? Dia bilang dia berhasil menekan insting serigala Wen Ning sehingga dia tidak pernah benar-benar memakan manusia. Tapi... bukankah ini sedikit terasa seperti fiktif? Jika mengubah serigala menjadi manusia semudah itu, bukankah para pemburu di era sebelumnya seharusnya sudah menemukan caranya?”

Jiang Cheng sepenuhnya setuju dengan Nie Huaisang. “Sifat keras kepala Wei Wuxian tidak pernah bisa diobati. Sekali memutuskan sesuatu, tidak akan ada yang bisa mengubah keputusan si bodoh itu.”

Nie Huaisang memandang jalan gelap di depan mereka dan mengernyitkan alis. “Membawa mereka ke dalam perburuan... bukankah itu hal yang terlalu berisiko? Asosiasi akan benar-benar memasukkannya ke daftar hitam juga jika mereka sampai tahu.”

“Itu juga yang aku pertanyakan. Si bodoh itu bukan hanya mempertaruhkan dirinya, dia juga mempertaruhkan kita!” Menyadari jika Nie Huaisang masih tidak tahu alasan mengapa mereka harus terlibat, dia menjelaskan, “Yang mengusulkan perburuan ini adalah Wei Wuxian—sepertinya dia tidak ingin ada pemburu yang mengganggu apapun yang akan dilakukannya. Tapi tentu saja dia tidak bisa mendaftarkan perburuan ke asosiasi, jadi aku yang mendaftarkannya menggunakan nama kita. Maka dari itu, setidaknya salah satu dari kita harus berada di lokasi perburuan.”

“Apa sudah terlalu terlambat jika aku memilih untuk mundur sekarang?”

“Ya, lima menit lagi kita sampai.” Jiang Cheng mendengus. “Itu alasan lain mengapa seharusnya kau mendengarkanku semalam. Kau mengiyakan saat aku menanyakan apa kau mau ikut.”

Nie Huaisang mengerang, menyesali sikap abainya yang semakin hari semakin parah.

Jiang Cheng mencengkeram stir mobil dengan begitu erat hingga tangannya memucat. Sudut bibirnya terangkat menjadi seringai marah. “Kita lihat aja apa dia punya alasan yang cukup bagus sampai berani melakukan ini pada kita. Jika tidak, kita hanya perlu mematahkan kaki dan tangannya lalu melemparkannya ke mulut asosiasi untuk diadili.”

.

...*...

.

Lokasi perburuan kedua adalah sebuah gedung bekas sekolah yang sering digunakan oleh pelacur kelas bawah sebagai tempat kerjanya.

Nie Huaisang mengamati sejenak para pelacur yang duduk di tepi jalan sambil melambai ke arah mobil sebelum memutuskan untuk memulas bibirnya dengan lipstik merah yang lebih gelap, dia melapisi  make up awalnya dengan lapisan yang lebih terang dan berwarna hingga membuatnya terlihat seperti wanita di akhir 30-an yang masih berkeras bersaing dengan gadis muda dalam menjual diri. Pengalaman bertahun-tahun sebagai cicada mengajarinya untuk membaur dengan lingkungan sekitar. Sebelumnya dia sengaja menampilkan sosok yang kontras dengan lokasi karena, berdasarkan informasi, serigala mereka tampaknya seorang gourmet yang hanya menyerang gadis muda. Tapi informasi yang didapatkannya tentang serigala kedua menyebutkan jika dia tidak terlalu pilih-pilih makanan, justru sengaja memilih pelacur yang sudah terlalu tua atau memiliki penyakit.

Jiang Cheng memperhatikan bagaimana Nie Huaisang dapat memulas wajahnya dalam gelap seolah itu adalah hal paling alami. “Sebenarnya kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak yakin mereka membutuhkan cicada untuk perburuan kali ini.”

“Mereka? Sejak kapan ini menjadi perburuan mereka?” Nie Huaisang bertanya dengan nada muram. “Nama yang terdaftar di asosiasi untuk lokasi ini adalah nama kita. Ini adalah perburuan kita, mereka hanya bergabung tanpa kita duga. Jadi kita tetap akan melakukannya dengan cara kita.”

Bukan untuk pertama kalinya Jiang Cheng terpesona pada kecepatan berpikir Nie Huaisang. Rekannya benar, mereka tidak boleh menunjukkan jika mereka tahu Wei Wuxian dan rombongannya ada di tempat ini. Bahkan jika terjadi sesuatu di luar dugaan, Jiang Cheng akan dengan senang hati mengkambinghitamkan kakak beradik Wen untuk keselamatan mereka.

Jiang Cheng mengalihkan perhatian pada gadis demi gadis yang ada di luar jendela, melambai dengan manja pada mobil yang berjalan pelan, berharap cukup beruntung dipilih oleh klien yang tampak berani membayar mahal. Satu di antara gadis-gadis itu menarik perhatiannya. Perempuan itu juga melambai ke mobil seperti para pelacur lainnya, namun wajah yang polos tanpa make up dan pakaian perburuannya jelas menunjukkan jika dia tidak datang ke sana untuk menjajakan diri.

Jiang Cheng menghentikan mobilnya di hadapan gadis itu, menurunkan jendela dan memberi kode untuk masuk ke pintu belakang. Sang gadis masuk diiringi decak iri dari gadis-gadis lain.

“Wen Qing,” Jiang Cheng memanggil nama pemburu yang kini berada di daftar hitam itu.

“Selamat malam, Jiang Cheng dan Nie Huaisang,” gadis itu menyapa dengan formal seolah mereka masih berada di naungan asosiasi dan bertemu untuk melakukan kolaborasi perburuan. Tanpa basa-basi dia menjelaskan tujuannya. “Wei Wuxian sudah menunggu di atap gedung. Ah, kalian tidak perlu mencari serigala buruan kalian. Dia sudah menangkapnya lebih dulu.”

Nie Huaisang ternyata memang tidak perlu memulas make up-nya—itu membuatnya sedikit kesal karena dia tidak bisa menunjukkan kemampuannya. Dari kaca spion dia mengamati ekspresi wajah Wen Qing. Gadis itu masih tetap terlihat seperti yang ada dalam memorinya, hanya sedikit lebih berantakan dan kurus. Namun, sebagai seseorang yang menguasai cara mengontrol ekspresi di wajahnya, Nie Huaisang dapat melihat ada berbagai emosi yang berkevamuk di balik wajah tegar Wen Qing—takut, marah, bersemangat, cemas... terlalu banyak emosi yang bercampur. “Ah, tampaknya perburuan kali ini bukan sekedar berburuan biasa, bukan? Apa serigala yang kalian tangkap adalah yang mengubah adikmu?”

Jiang Cheng melirik Nie Huaisang.

Wen Qing tampak terkejut, tapi dia segera berusaha menutupinya. “Itu benar.”

Sudah dia duga, serigala tidak mungkin mau memakan daging busuk kecuali dia sedang bersembunyi. “Kalau begitu, kau pasti sudah membunuhnya dengan brutal untuk membalas dendam, bukan? Apa keberadaan kami di tempat ini masih diperlukan?”

Wen Qing kini tampak ragu. Wei Wuxian mengatakan jika Jiang Cheng dan Nie Huaisang bisa dipercaya. Tapi Wen Qing juga tahu arti di balik kata-kata Nie Huaisang—jika bisa, dia tidak ingin terlibat dengan apapun yang sedang mereka lakukan. Dia memutuskan untuk mengikuti permintaan Wei Wuxian untuk menahan mereka di sana sebagai perlindungan tambahan. “Serigala itu masih hidup. Kami tidak bisa membunuhnya meski aku benar-benar ingin melakukannya... untuk saat ini.”

Jiang Cheng memutuskan jika dia ingin tahu lebih banyak. “Apa dia adalah serigala tingkat tinggi? Atau sudah berusia ribuan tahun?”

Nie Huaisang memutar matanya, ingin mengkritik obsesi tidak sehat Jiang Cheng pada serigala kelas atas sejak Wei Wuxian dan Lan Wangji membunuh serigala tua mereka dua dasawarsa sebelumnya. Sampai kapan dia ingin terus bersaing seperti anak-anak yang membutuhkan validasi? Nie Huaisang bertanya dalam hati.

“Bukan. Tapi karena satu-satunya cara untuk mengubah kembali adikku menjadi manusia adalah dengan menggunakan serigala yang mengubahnya.”

Saat itu Nie Huaisang hanya mengangap itu sebagai informasi yang tidak diperlukannya. Dia tidak tahu jika satu jam berikutnya, kata-kata Wen Qing akan menjadi satu-satunya harapan baginya.

.

...*...

.

Satu jam penuh Jiang Cheng mengamati Wei Wuxian melakukan hal-hal aneh yang tidak dia ketahui gunanya. Wei Wuxian tampaknya sudah memindahkan laboratorium kimia sekaligus bengkel pribadi rumahnya ke atap gedung itu. Memenuhinya dengan berbagai macam tabung kimia dan peralatan mencurigakan. Kakak beradik Wen membantunya, tampak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Di awal kedatangannya, dia tertarik mengamati betapa kuatnya rantai yang mengikat seluruh tubuh serigala yang ditawan di tengah atap. Cakar serigala cukup kuat untuk mematahkan besi dan membengkokkan baja, namun dia tampak tidak berdaya pada  rantai itu. Awalnya dia mengira rantai itu dibuat dengan logam khusus seperti yang membuat pedangnya, namun dia menyadari dia salah. Wei Wuxian tampaknya berhasil menemukan atau menciptakan sesuatu yang nyaris sama kuatnya dengan logam khusus. Jika itu benar, maka ini bisa menjadi terobosan di dunia perburuan. Senjata adalah barang yang sulit diproduksi ulang mengingat betapa langkanya logam pembentuknya, kebanyakan pedang yang digunakan pemburu setidaknya sudah berusia satu atau dua abad. Wei Wuxian bisa mendapatkan nama besar jika dia membagi informasi ini dengan asosiasi.

Jiang Cheng tidak tahu apakah dia merasa iri atau lega akan hal itu.

Dia menoleh ke arah Nie Huaisang pergi. Telepon rekannya berbunyi sepuluh menit lalu, dari keluarga Nie. Hal yang aneh karena biasanya mereka tidak pernah menelepon saat Nie Huaisang sedang berburu. Mungkin terjadi hal buruk, sempat Jiang Cheng berpikir. Tapi dia segera mengenyahkannya, kepala keluarga Nie sekarang adalah Nie Mingjue, kakak laki-laki Nie Huaisang. Berbeda dengan adiknya, Nie Mingjue adalah pemburu handal yang dicalonkan menjadi ketua baru asosiasi. Bisa dibilang dia adalah pemburu terkuat saat ini, terutama setelah Wen Rouhan mati. Tidak ada hal buruk yang bisa terjadi selama Nie Mingjue berada di posisinya.

Bosan, Jiang Cheng bertanya pada Wei Wuxian yang menyeringai pada tabung reaksinya, “Kau yakin ini akan berhasil?”

“Kemungkinannya cuma 40%, tapi lebih baik kami mencobanya sekarang juga, karena semakin lama Wen Ning menjadi serigala, semakin kecil kemungkinan dia bisa kembali menjadi manusia.”

“Aku masih tidak mengerti bagaimana teorinya. Apa itu benar-benar bisa dilakukan?”

“Ya.” Kali ini Wen Qing yang menjelaskan. “Kita semua tahu jika yang mengubah manusia menjadi serigala adalah racun dalam liur serigala yang masuk lewat luka terbuka. Tidak ada racun tanpa penawar. Meski begitu, kita tidak pernah bisa menemukan penawarnya, sehingga kita menyimpulkan jika ini memang bukan sesuatu yang bisa diobati.” Wen Qing mengambil satu tabung reaksi dari tangan Wei Wuxian dengan tidak sabar dan menggoyangkannya. “Tapi bagaimana jika selama ini kita mencari di tempat yang salah? Bagaimana jika racun dan penawarnya berada di tempat yang sama?”

Jiang Cheng tidak dapat tidak menoleh kembali pada serigala yang tidak berdaya. Di mulutnya dipasangi sebuah alat yang sebelumnya dia pikir adalah penyumbat mulut khusus. Baru dia sadari jika benda itu mengumpulkan luar sang serigala. Dia mengernyit jijik. “Kalau begitu, bukankah kalian bisa menggunakan liur serigala manapun? Mengapa harus penciptanya?”

“Awalnya kami juga berpikir begitu,” Wen Qing berkata dengan nada lelah. “Tapi tampaknya liur tiap serigala memiliki kode racun yang berbeda, hanya liur penciptanya yang bisa digunakan untuk menyembuhkan serigala.”

“Apa yang akan terjadi jika kalian gagal?”

Ekspresi Wen Qing memburuk mendengar hal itu. Dia menatap Wen Ning yang sedang merapikan beberapa alat dengan tatapan sedih, Wen Ning membalasnya dengan senyum kecil pasrah—seolah meyakinkan jika dia sudah siap menghadapi apapun. “Jika kami gagal, aku akan kehilangan adikku.”

“Kalau begitu, aku berharap semoga ini berhasil.”

Jiang Cheng menoleh ke arah suara itu. Dia melihat Nie Huaisang akhirnya kembali juga. “Kupikir kau sama sekali tidak tertarik dengan percobaan ini,” katanya.

Setelah mengatakannya, dia baru menyadari ada yang tidak benar. Ekspresi Nie Huaisang... ekspresinya kacau balau. Nie Huaisang bisa mengendalikan emosinya lebih baik dari aktris manapun. Tidak pernah ada orang yang bisa menebak perasaannya dari ekspresi di wajah pria muda itu. Kalaupun dia gagal mengontrolnya sekalipun, biasanya itu hanya bertahan sepersekian detik. Tapi kini Nie Huaisang kehilangan kendali ekspresinya. Sayangnya, Jiang Cheng bukan seseorang yang dianugerahi kemampuan membaca perasaan, dia tidak bisa menyebutkan apa tepatnya emosi Nie Huaisang.

Tapi satu hal yang dia tahu pasti...

Sesuatu yang benar-benar buruk sudah terjadi.

Nie Huaisang tertawa, tawa nanar tanpa emosi. Matanya merah, tapi tidak basah. Dua bola mata menjelajah setiap barang di tempat itu yang sebelumnya dia abaikan. “Itu karena sebelumnya percobaan ini tak ada hubungannya denganku. Sekarang berbeda.”

Jiang Cheng dapat merasakan ototnya menegang mendengar nada bicara Nie Huaisang. Hal yang terjadi bukan sekedar buruk, itu mungkin ada di level berbahaya hingga bencana. Dia mengeraskan wajahnya dan bertanya, “Apa yang terjadi.”

“Kakakku diubah menjadi serigala.”

Tiga manusia dan satu serigala terbelalak. Mereka semua tahu Nie Mingjue, laki-laki perkasa yang menjadi pilar utama asosiasi pemburu serigala yang kacau balau setelah meninggalnya Wen Rouhan. Bagaimana bisa seseorang seperti itu bisa diubah menjadi serigala? Tidak mungkin itu hanya sekedar kecelakaan atau kecerobohan—Nie Mingjue tidak mungkin melakukan keduanya.

Nie Huaisang mengabaikan tatapan empat orang itu dan melanjutkan, “Dia memintaku untuk pulang sekarang juga karena dia ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum memenggal kepalanya sendiri.”

Sekarang Jiang Cheng paham mengapa Nie Huaisang tiba-tiba berharap percobaan ini berhasil. Hubungan Nie Mingjue dan Nie Huaisang berada di antara batas dekat dan canggung. Saat Nie Huaisang mengatakan dia akan menjadi cicada, orang pertama yang menentangnya adalah kakaknya. Hubungan mereka tidak sedekat tiga bersaudara Jiang, namun Nie Mingjue selalu menyempatkan diri menelepon adiknya tiap akhir pekan untuk menanyakan latihan dan perburuannya—meski dia sebenarnya bisa mendapatkan informasi itu di asosiasi.

Jika Wei Wuxian atau Jiang Yanli yang diubah menjadi serigala... Jiang Cheng tidak ingin membayangkan hal semenakutkan itu terjadi. Tapi sedikit banyak dia bisa memahami mengapa Wen Qing melakukan semua ini.

Dan jika dia boleh jujur, Jiang Cheng juga tidak ingin Nie Mingjue mati. Asosiasi pemburu baru saja kembali stabil setelah kematian Wen Rouhan, dan orang yang berhasil melakukannya adalah Nie Mingjue. Tidak banyak orang yang bisa menyatukan dunia perburuan seperti Nie ingjue. Jiang Cheng tidak bisa membayangkan akan jadi sekacau apa jika mereka kehilangan calon pemimpin yang baru mereka dapatkan.

Dia menoleh pada Wei Wuxian dan Wen Qing, “Kalian bilang semakin cepat mengubahnya akan semakin baik bukan? Jadi Nie Mingjue memiliki presentase tinggi untuk kembali menjadi manusia.”

“Hampir 98% jika dia baru diubah malam ini, hingga dua bulan ke depan, presentasinya masih akan tetap di atas 80%,” Wen Qing menjawab cepat seolah angka-angka itu sudah dihapalnya di luar kepala.

Wei Wuxian menambahkan, “Selama kita tahu serigala yang mengubahnya, tidak akan terlalu sulit.”

Jiang Cheng kembali menoleh pada Nie Huaisang, “Apa mereka mengatakan padamu tentang serigala yang mengubahnya? Atau setidaknya ciri-ciri fisiknya?”

“Ya.”

“Katakan padaku.”

Untuk alasan yang tidak Jiang Cheng tahu, mata Nie Huaisang tertarah pada kakak beradik Wen yang berdiri di sisi lain atap gedung. Sorot matanya gelap tak terbaca. “Wen Rouhan.”

“Apa?”

“Wen Rouhan yang mengubah kakakku menjadi serigala.”

.

...END...

.

Notes:

Terima kasih sudah membaca kisah ini.

Dan ya... ini oneshot, aku tidak berniat menulis kelanjutannya. Mohon jangan bunuh aku... TTATT

Aku menulis kisah ini dalam rangka ingin mencoba berbagai AU untuk kapal ini. Kisah pemburu manusia serigala adalah satu yang paling ingin kucoba. Aku sengaja hanya menggunakan istilah serigala dan bukannya manusia serigala untuk membangun jarak antara para pemburu dan para serigala. Tapi aku nggak yakin aku berhasil.

Satu lagi, awalnya aku berniat menjadikan ini satu kisah panjang tapi... gitu. Makanya meski aku menggunakan tag pair, hubungan Jiang Cheng dan Nie Huaisang di sini masih rekan, harusnya mereka mulai ada rasa di chapter 5 dan makin intens di chapter 11 atau 12, tapi... ya, begitulah. MAAFKAN AKU!

Mohon kritik dan sarannya.

Series this work belongs to: